Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA EKSTRAK METHANOL BATANG KEMANGI (Ocimum bacilicum L): IDENTIFICATION OF SECONDARY METABOLYTE IN METHANOL EXTRACT OF BASIL STEMS (Ocimum bacilicum L) Andiarna, Funsu; Kumalasari, Mei Lina Fitri; Tyastirin, Esti; Pribadi, Eko Teguh; Khoiriyah, Romyun Alvy; Oktorina, Sarita
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.420

Abstract

Tanaman kemangi (Ocimum bacilicum L) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang paling banyak dikembangkan di negara Indonesia. Tanaman kemangi memiliki banyak manfaat seperti mengobati demam, diare, batuk, pusing, mual, dan lain sebagainya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada batang tanaman kemangi. Ekstrak kemangi menggunakan pelarut metanol 96%. Batang daun kemangi dilakukan proses penyarian dengan metode maserasi. Ekstrak kemangi selanjutnya dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada batang tanaman kemangi terdapat kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, tannin, alkaloid dan saponin. Hal ini dapat menjelaskan bahwa ekstrak kemangi memiliki potensi yang kuat dalam aktivitas antioksidan yang memiliki peran penting dalam pemanfaatan obat tradisional. Senyawa flavonoid paling umum dijadikan sebagai antioksidan. Selain itu beberapa jenis senyawa alkaloid, tanin dan saponin juga mempunyai efek antioksidan. Kata Kunci: Kemangi,  Metanol,  Ocimum bacilicum L, Senyawa metabolit sekunder   The basil plant (Ocimum bacilicum L) is one of Indonesia's most developed traditional medicinal plants. Basil plants have many benefits, such as treating fever, diarrhea, cough, dizziness, nausea, etc. The study aims to identify secondary metabolite compounds in the stem of basil plants. Basil extract uses 96% methanol solvent. Stems of basil leaves carried out the process of expulsion by maceration method. The phytochemical test was conducted through basil extraction to determine the secondary content of metabolite compounds. The results of this research show that the stem of the basil plant is a secondary metabolite compound, namely flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins. It can explain that basil extract has a strong potential for antioxidant activity that has an essential role in traditional medicine. Keywords: Methanol, Ocimum bacilicum, Secondary metabolites compounds, Stem basil
Monitoring Macroinvertebrates as Bioindicators and Water Physicochemical Parameters in the Tambak Rejo River, Sidoarjo. Robbi, Adinda Atthiyatur; Munfarida, Ida; Oktorina, Sarita; Suprayogi, Dedy; Setyowati, Rr Diah Nugraheni
Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2024): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol16.iss1.art3

Abstract

Sungai Tambak Rejo merupakan sungai yang berada di desa Tambak Rejo, Kabupaten Sidoarjo. Merupakan sungai utama yang mengaliri tiga kelurahan yaitu tambak sumur, tambak rejo dan tambak sawah. Ketiga lokasi aliran sungai menjadikan sungai Tambak Rejo memiliki berbagai karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah domestik, limbah industri dan limbah pertanian. Hal ini tentunya dapat menyebabkan penurunan kuaitas air sungai, apabila limbah yang dihasilkan tidak diolah dengan benar. Pemantauan makroinvertebrata sebagai bioindikator kualitas air sungai merupakan tujuan penelitian ini, dimana biota ini dapat digunakan sebagai indikator biologis karena adanya habitat dan keberadaannya sangat dipengaruhi secara langsung di dalam perairan. Pengukuran parameter fisik-kimia air juga dilakukan untuk menyesuaikan kualitas air sungai dengan baku mutu yang telah ditetapkan, paramet yang diukur ialah pH, Suhu, TSS, BOD, COD dan Mn. Analisis makroinvertebrata menggunakan dua metode yakni, metode indeks biotilik dan metode indeks biotik, metode indeks biotilik menunjukkan kualitas air sungai Tambak Rejo dikategorikan sebagai sungai tercemar sedang pada stasiun I-II dan tercemar ringan pada stasiun III. Pada indeks biotik BMWP-ASPT, Sungai Tambak Rejo dikategorikan sebagai tercemar sedang pada stasiun I dan III, dan pada stasiun II dikategorikan sebagai tercemar berat. Hasil laboratorium parameter fisik-kimia didapatkan beberapa parameter di tiap staisuan yang melebihi baku mutu air sungai kelas II siantaranya, BOD dan COD ketiga stasiun memiliki  nilai yang melebihi baku mutu, BOD pada pada titik berkisar 10,5 mg/l - 11,36 mg/l, BOD pada staisun II berkisar 10,58 mg/l - 12,04 mg/l, BOD pada stasiun III berkisar 11,4 mg/l - 11,9 mg/l. COD stasiun I berkisar pada 37,95  mg/l - 39,2 mg/l, pada stasiun II 51,88 mg/l  - 58,67 mg/l,  pada stasiun III sebesar 28,61 mg/l, hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan Sungai Tambak Rejo diperlukan pengelolaan pencemaran perairan lebih lanjut.
Prebiotic Potential of Gembili, Dahlia, and Yacon Tuber Flours Tyastirin, Esti; Oktorina, Sarita; Febriyanti, Ikke Arina
Journal of Health Science and Prevention Vol. 8 No. 2 (2024): JHSP Vol 8 No 2 – 2024
Publisher : State Islamic University of Sunan Ampel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/jhsp.v8i2.1259

Abstract

Inulin is a type of prebiotic which is generally produced from artichoke plants (Helianthus tuberosus). Considering the diversity of tubers in Indonesia, in this study the prebiotic potential of inulin was tested from various tubers, namely gembili tubers (Dioscororea esculenta), dahlia tubers (Dahlia Pinnata L.) and yakon tubers (Smallanthus sonchifolius). In this study, the prebiotic activity of tubers was tested against bifidiobacterium bacteria. Bacterial growth was carried out on MRS media, which is added with inulin from each tuber as much as 1% b/v gram. In addition to that negative control group and positive control group (comercial inulin) were added. During the incubation time of 24 hours, 48 and 92 hours, all varian group has positive correlation with the growth of Bifidiobacterium. The bigger correlation was found in Gembili tuber group with R = 0,9 and had the maxiumun bifidiobacterium colony which reached 14.4 x 108 CFU/ml.
Analisis Intensitas Kebisingan Lingkungan Kerja pada Pembangunan Twin Tower UINSunan Ampel Surabaya Oktorina, Sarita; Aprilia, Bella Sri; Anjarsari, Ikhfany
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2017): March
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/alard.v2i2.123

Abstract

Menurut Suma’mur (1996) kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang sering dijumpai di lingkungan kerja. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, ditetapkan sebesar kurang dari 85 dBA. Kebisingan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industrilisasi karena hampir semua proses produksi di industri akan menimbulkan kebisingan. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan survey terhadap daerah pembangunan Twin Tower Uin Sunan Ampel Surabaya. Survey dilakukan dengan cara mengukur kebisingan dengan menggunakan sound level meter. Pengukuran di lakukan di beberapa titik pembangunan. Pada tiap titik pengukuran dilakukan empat kali pengukuran. Pada saat pengukuran terdapat hasil yang melebihi nilai ambang batas yaitu sebesar 85,6 dB. Hal ini dikarenakan pada titik tersebut terdapat aktivitas penggalian lubang. Nilai rata-rata terkecil pada area luar gedung yaitu 64,26 dB sedangkan nilai rata-rata terbesar yaitu 78,43 dB. Pada area dalam gedung nilai rata-rata terbesar yaitu 84,23 dB sedangkan nilai rata-rata terkecil yaitu 66,63 dB. Sehingga jika merujuk pada pengukuran nilai rata-rata, terjadi pencemaran suara pada pembangunan Twin Tower Uin Sunan Ampel Surabaya. Upaya pengendalian kebisingan yang direncanakan adalah dengan pemasangan vibration isolation, partial enclosure, muffler, pengendalian secara administrasi dan pengendalian bising pada pekerja (pemakaian earplug dan earmuff).
KEBIJAKAN REKLAMASI DAN REVEGETASI LAHAN BEKAS TAMBANG (STUDI KASUS TAMBANG BATUBARA INDONESIA) Oktorina, Sarita
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2018): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/alard.v4i1.411

Abstract

Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah (overburden) agar tidak terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air asam tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi. Kegiatan reklamasi penting dilakukan untuk memperbaiki lahan bekas tambang. Pada umumnya tanah di lahan bekas tambang mengandung kadar unsur hara yang rendah. Reklamasi dan revegetasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisilahan pasca penambangan. (Pujawati, 2009). Dalam melaksanakan reklamasi, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan guna memastikan bahwa setiap perusahaan wajib melaksanakan reklamasi dengan benar, baik dan sungguh-sungguh, serta menyetorkan dana jaminan reklamasi. Untuk merealisasikannya, perlu dilakukan adanya perizinan, yaitu setiap perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan harus segera merencanakan bentuk kegiatan pasca tambang (reklamasi) di atas areal tambang yang digunakan paling lambat satu bulan setelah tidak ada lagi kegiatan usaha pertambangan pada lahan yang terganggu. Selain itu, perlu juga dilakukan pengendalian lahan pasca tambang dengan memadukan pembenahan lahan, dan pemilihan jenis tanaman yang tepat, yaitu dengan kriteria berjenis local pioner cepat tumbuh, tahan terpapar matahari, cepat terdekomposisi, sistem perakaran yang baik dan bersimbiosis dengan mikroorganisme tertentu, mudah dan murah dalam perbanyakan, penanaman dan pemeliharaan. Kata Kunci: reklamasi, lahan, kebijakan, perizinan.
Fitoremediasi Menggunakan Variasi Kombinasi Tanaman Kiambang (Salvinia molesta M) dan Tanaman Kayu Apu (Pistia stratiotes L) dalam Menurunkan Besi (Fe) dengan Sistem Batch Maryana, Maryana; Oktorina, Sarita; Auvaria, Shinfi Wazna; Setyowati, Rr diah Nugraheni
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2020): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/alard.v6i1.976

Abstract

The increased industrial development can cause pollution and environmental damage. Iron metal (Fe) is an essential metal whose existence is a certain amount needed by living organisms, but in excessive amounts will cause toxic effects. To overcome this problem, an environmentally friendly technology is needed, namely phytoremediation technology using kiambang plants (Salvinia molesta M) and Kayu apu plants (Pistia stratiotes L). The purpose of this study was to determine the efficiency of reducing the concentration of iron (Fe) in ground water using a combination of kiambang (Salvinia molesta M) and a combination of Kayu apu plants (Pistia stratiotes L). This research method is experimental and the research approach used is qualitative analysis. The process of phytoremediation with a batch system using a Kiambang plant (Salvinia molesta M) and wooden apu (Pistia stratiotes L) as much as 300 grams (uses a variation of the amount different from the same weight (25:75) (150:150) (75:25)) in each reactor. The results showed a decline on the 12th day. In the reactor treatment group of 1 is 0.30 mg/l and efficiency at 47%, reactor 2 is 0.06 mg/l and efficiency of 93%, and reactor 3 is 0.49 mg/l and efficiency of 9%. The highest efficiency value in decreasing the concentration of iron (Fe) in groundwater using variations in the combination of Kiambang plant (Salvinia molesta M) and the wooded plant (Pistia stratiotes L) in the reactor treatment group 2 is 93% on the 12th day.
ANALISIS PENCEMARAN E. COLI PADA AIR TANAH BERDASARKAN PENATAAN SUMUR GALI DENGAN TANGKI SEPTIK DI DESA PRASUNG, KECAMATAN BUDURAN Anastasya, Atira Salma; Oktorina, Sarita; Nilandita, Widya; Nengse, Sulistiya; Utama, Teguh Taruna
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 11 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v11i1.23746

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air tanah terkait penecemaran bakteri Escherichia coli di Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo berdasarkan pada pengaruh penataan jarak sumur gali terhadap tangki septik. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian diare di wilayah tersebut, yang diduga disebabkan oleh pencemaran air tanah Penelitian dilakukan dengan metode survei deskriptif, menggunakan sebanyak tujuh sumur gali dengan perwakilan tiap RW yang ditentukan dengan cluster sampling sehingga didapatkan tujuh titik sampling. Data yang dikumpulkan meliputi tinggi bibir sumur, elevasi, kedalaman MAT (Muka Air Tanah), jarak antara sumur gali dan tangki septik serta pengurasan rutin dan bidang resapan pada tangki septik. Metode yang digunakan untuk pemetaan pola aliran air tanah di Desa Prasung adalah metode Inverse Distance Weighting (IDW) dengan perangkat lunak ArcGIS 10.8. Penataan jarak sumur gali dengan tangki septik yang kurang dari 10 meter ditemukan berkontribusi terhadap tingginya tingkat pencemaran Escherichia coli pada beberapa titik. Selain itu, pengurasan tidak rutin pada tangki septik, tidak adanya bidang resapan pada tangki septik, dan faktor lingkungan dapat menjadi pencemaran E. coli pada sumur gali. Pola aliran air tanah di desa ini mengalir dari barat ke tenggara, sehingga penataan tangki septik terhadap sumur gali tidak ada yang searah dan tidak menjadi faktor adanya E. coli pada sumur gali.
Evaluasi Kualitas Air Sungai Kemambang Berdasarkan Aspek Fisika-Kimia dan Makroinvertebrata sebagai Bioindikator: Indonesia Munfarida, Ida; Navratilova, Frisda Desyana; Oktorina, Sarita
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2025): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol17.iss2.art5

Abstract

Kemambang River is located in Buduran Sub-district, Sidoarjo and plays an important role in the hydrological cycle and the lives of the surrounding community. Buduran sub-district is one of the sub-districts with high population growth. The number of industries, housing, agriculture around Kemambang River can reduce the water quality of Kemambang River. The purpose of this study was to evaluate the water quality of Kemambang River based on chemical physical parameters and macroinvertebrates as bioindicators of water quality. The research used descriptive quantitative method by conducting water sampling in 3 (three) locations, laboratory tests and analyzing physico-chemical parameters (DO, TSS, BOD, and COD) based on PP 22 Year 2021 class II quality standards and biomonitoring analysis using Family Biotic Index (FBI). The results of the physico-chemical parameter analysis showed that the Biochemical Oxygen Demand (BOD) parameter exceeded the quality standard at all research locations with the highest value at point 3 with a value of 7.10 mg/L (BOD quality standard of 3 mg/L). Dissolved Oxygen (DO) did not meet the quality standards at points 2 and 3 with the lowest value at point 3 with a value of 2.68 mg/L (minimum DO quality standard of 4 mg/L). While the Chemical Oxygen Demand (COD) and Total Suspended Solid (TSS) parameters still met the quality standards at all points. Based on the FBI calculation, point 1 produced a value of 7.20 and was included in the "poor" criteria, while points 2 and 3 with values of 5.32 and 5.40 were classified as "fair" criteria. It concluded that there were significant and very significant amounts of organic pollutants in the waters. This study illustrates the need for urgent action to improve water quality in Kemambang River.
PENGARUH KOMPOSISI LIMBAH SABUT KELAPA DAN KOTORAN SAPI TERHADAP KARAKTERISTIK BRIKET SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Muhammad Fithroni Ramadhani; Sarita Oktorina; Erry Ika Rhofita
Scientific Journal of Mechanical Engineering Kinematika Vol 10 No 2 (2025): SJME Kinematika Desember 2025
Publisher : Mechanical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/sjmekinematika.v10i2.774

Abstract

Biomass residue plays an essential role in rural communities due to its abundance, affordability, and renewable nature. This study examined the influence of cow dung (KS) and coconut husk (SK) composition and particle size on briquette properties, including density, moisture, ash content, and calorific value. Briquettes were produced using three compositions (80KS20SK, 70KS30SK, and 50KS50SK) and two particle sizes (40 and 80 mesh) under a densification pressure of 10 MPa. The 70KS30SK briquette with 80 mesh particles showed the highest density (≈312.38 kg/m³) and the lowest moisture content (≈1.98%). Smaller particle size improved bonding and reduced pore formation, enhancing density. Meanwhile, the 50KS50SK mixture produced briquettes with higher calorific value (13.05–14.36 MJ/kg) and lower ash content (17.16–21.59%) than other samples, indicating that composition affects energy content and residue formation. However, the calorific value and ash content did not meet the SNI 1683:2021 standards. Overall, the results highlight the potential of cow dung–coconut husk briquettes as a sustainable waste-to-energy option for rural applications.