Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisa Dampak Penggunaan Bagan Apungterhadap Kelestarian Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) Nuzirwan, Faisal; Damanhuri, Harfiandri; Yusra, Yusra; Kamal, Eni; Junaidi, Junaidi
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.69733

Abstract

Keberadaan alat tangkap bagan apung yang pada awalnya untuk meningkatkan hasil tangkap nelayan di selingkar Danau Singkarak, saat ini mengakibatkan ikan bilih yang berukuran kecil sebesar rinuak (2-3 cm) tertangkap karena banyaknya penggunaan bagan apung dengan bahan jaring ukuran < 5/8 inci. Penambahan bagan apung yang terus meningkat setiap tahunnya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap populasi kelestarian ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) di Danau Singkarak. Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak Provinsi Sumatera Barat pada bulan Juli hingga September 2022 meliputi Nagari Simawang, Nagari Batu Taba, Nagari Sumpu, Nagari Padang Laweh Malalo di Kabupaten Tanah Tadar dan Nagari Kacang dan Nagari Singkarak di Kabupaten Solok. Penelitian ini bertujuan untuk : menganalisa dan dampak penggunaan bagan apung terhadap kelestarian ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) di perairan Danau Singkarak. Metode pengumpulan data yaitu observasi, analisis visual, studi pustaka, dan interview (individual atau grup). Hasil yang didapatkan dari penelitian adalah (1) penggunaan alat tangkap bagan apung ini perlu di batasi dan diatur sebaik mungkin untuk mencegah terjadinya ekploitasi penangkapan ikan bilih dan tekanan terhadap populasi ikan bilih secara berlebihan sehingga dapat mengancam kelestariannya; (2) Sebaiknya bagan apung yang digunakan mempunyai ukuran mata jaring minimal 1,0 inci; (3) Diperlukan aturan yang mencegah penempatan bagan apung di daerah kawasan muara sungai, dimana daerah tersebut merupakan jalur ikan bilih buat memijah; (4) Sebaiknya pemerintah provinsi menetapkan kawasan konservasi ikan bilih di perairan Danau Singkarak, karena selama ini belum ada kawasan yang dicadangkan khusus untuk perlindungan ikan bilih sebagai ikan endemik di perairan Danau Singkarak.
Morphometric Characters Of Olive Ridley Turtle (Lepidochelys Olivacea) Hatching At Buggei Siata Beach, Betumonga Village, Mentawai Islands Regency. Sababalat, Savni Retalia; Smanungkalit, Donopan; Damanhuri, Harfiandri; Suparno; Rusli, Mohd. Uzair
Jurnal Akuakultur SEBATIN Vol. 7 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jas.7.1.1-6

Abstract

The coastal waters of Indonesia are extensive, and one of the areas is the Mentawai Islands Regency. The Mentawai Islands are a distribution area for several types of turtles, including the leatherback turtle, green turtle, hawksbill turtle, and olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea). The study focuses on the morphometric characteristics of olive ridley turtle hatchlings. Olive ridley turtles found in the Buggei Siata Turtle Conservation Area do not have complete morphometric data, so an observation of the morphometric characteristics of olive ridley hatchlings in this area was conducted. This study aims to determine the morphometric characteristics of olive ridley hatchlings and to complete the data for turtle conservation in Buggei Siata, Betumonga. The research was carried out from December 2021 to March 2022 at Buggei Siata Beach, Betumonga. The data analysis used ANOVA followed by Tukey's post-hoc test with 5 different nests and a total sample size of 35 hatchlings per nest. The results of the morphometric characteristics are as follows: carapace length (CL) ranged from 37.93 to 43.56 mm, carapace width (CW) from 28.36 to 36.35 mm, neck length (NL) from 10.08 to 14.21 mm, head width (HW) from 12.03 to 15.34 mm, front limb length (FLL) from 31.06 to 39.74 mm, plastron width (PW) from 19.74 to 29.85 mm, and weight from 13 to 18 grams. Significant differences were found between nests (p<0.05) in these measurements, while for head length (HL) from 16.98 to 19.91 mm, head height (HH) from 10.73 to 13.93 mm, rear limb length (RLL) from 11.37 to 21.88 mm, and plastron length (PL) from 23.86 to 37.21 mm, no significant differences were observed between nests (p>0.05). Based on the data, there are differences in the morphometric size of olive ridley hatchlings among the observed nests
Tingkat Penetasan Penyu Hijau di Pulau Pandan Kawasan Konservasi Pulau Pieh, Sumatera Barat Andriyatno Hanif; Harfiandri Damanhuri; Suparno Suparno; Mohd Uzair Rusli
Akuatiklestari Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i1.4696

Abstract

Kajian penelitian tingkat penetasan penyu dilakukan di Pulau Pandan, Kawasan Konservasi Pulau Pieh. Tujuan kajian untuk melihat faktor mempengaruhi keberhasilan penetasan sarang semi alami, dan melihat capaian optimal tingkat penetasan. Penelitian dilaksanakan bulan Januari – Juni 2022 dengan mengkoleksi data jumlah telur, morfometrik, kedalaman sarang, dan lama waktu inkubasi, serta data sekunder. Metode penelitian secara kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda untuk melihat pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil analisis korelasi antara jumlah telur dengan panjang karapas didapati hubungan positif dengan kategori rendah (r=0,215, t=2,253, df=26, p=0,033), sedangkan jumlah telur dengan kedalaman sarang memiliki hubungan negatif dengan kategori sangat rendah (r=0,154, t=1,684, df=26, p=0,104), sementara pengaruh panjang karapas, kedalaman sarang secara bersamaan terhadap jumlah telur didapati nilai R2 = 29,2%. penyu hijau memiliki telur tebanyak; 131 butir, dan jumlah telur sedikit; 29 butir, dengan rata-rata jumlah telur; 93,86 butir. Korelasi tingkat penetasan dengan kedalaman sarang didapati hubungan positif (r=0,019, t=2,324, df=367, p=0,021), tingkat penetasan dengan masa inkubasi hubungan posistif dengan kategori sangat rendah (r = 0,021, t=2,520, df=367, p=0,012), dan pengaruh bersamaan didapati nilai R2 = 3,6%. Tingkat penetasan telur penyu berada pada kondisi optimum ditemukan angka rata-rata; 86,67%, penyu mendarat dan bertelur dominan ukuran dewasa dengan nilai rata-rata panjang karapas; 97,10 cm, serta lama inkubasi pada rentang; 45-58 hari.