Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP PASIEN SKIZOFRENIA : LITERATUR REVIEW Tunjung Sri Yulianti
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2021): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.631 KB) | DOI: 10.37831/kjik.v9i2.220

Abstract

Latar Belakang: skizofrenia merupakan suatu hal yang melibatkan banyak sekali faktor. Faktor tersebut adalah perubahan struktur fisik otak, perubahan struktur kimia otak dan faktor genetik. Skizofrenia merupakan penyakit neurologis yang mempengaruhi persepsi klien, cara berfikir, bahasa, emosi, dan perilaku sosialnya.Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia. Karena itu, mengetahui faktor kualitas hidup pasien skizofrenia sangat penting dimana dapat dijadikan acuan untuk mengidentifikasi kualitas hidup pasien skizofrenia dan faktor yang mempengaruhinya. Tujuan penelitian: untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia. Metode: desain penulisan adalah literatur review. Populasi diambil dari seluruh jurnal penelitian dengan topik kualitas hidup pasien skizofrenia. Sampel pada penelitian ini adalah 5 jurnal tentang kualitas hidup pasien skizofrenia yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: hal-hal yang terkait dengan kualitas hidup pasien skizofrenia yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, lingkungan kesehatan dan sosial, fungsi sosial, kepatuhan minum obat dan kepatuhan berobat. Kesimpulan: faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia mencakup fungsi keluarga dan dukungan keluarga, stigma diri, harga diri, daya tilik diri. Kata kunci: skizofrenia, kualitas Hidup FACTORS AFFECTING THE QUALITY OF LIFE OF SCHIZOPHRENIC PATIENTS : LITERATURE REVIEW Tunjung Sri Yulianti Abstract Background: schizophrenia is a multi-factor issue. These factors are changes in the physical structure of the brain, changes in the chemical structure of the brain and genetic factors. Schizophrenia is a neurological disease that affects the client's perception, way of thinking, language, emotions, and social behavior.There are several factors that can affect the quality of life of schizophrenic patients. Therefore, knowing the quality of life factors of schizophrenia patients is very important which can be used as a reference. So this study was conducted to find appropriate prevention efforts so that the quality of life of schizophrenia patients was not low. The aim of the study: to determine the factors that affect the quality of life of schizophrenic patients. Method: the writing design is a literature review. Literature review is the process of research or writing scientific papers, where literature is used as a data source. The population was taken from all journals of quality of life for schizophrenia patients. The samples in this scientific paper were 5 journals of quality of life for schizophrenia patients that met the inclusion criteria. Result: things related to the quality of life of schizophrenic patients, namely physical health includes: daily life activities, dependence on drugs and medical assistance, psychological health includes: body image and appearance, negative feelings, feelings of spirituality / religion / personal beliefs, thinking, relationships. social includes: personal relationships, social support and sexual activity. Environment includes: financial resources, freedom, physical security, health and social services: affordability and quality, home environment. Conclusion: factors that affect the quality of life of schizophrenic patients include physical health, psychological health, social and environmental relationships Keywords: schizophrenia, quality of life.
KECEMASAN, DEPRESI DAN MEKANISME KOPING PERAWAT PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Tunjung Sri Yulianti; Dewi Kristiana
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2022): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v10i2.240

Abstract

Tenaga kesehatan termasuk perawat menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus Covid-19, baik pada awal pandemi, pada saat pandemi gelombang kedua dan resiko adanya gelombang ketiga karena teridentifikasi munculnya varian baru yaitu B.1.1.1.529 Omicron, dimana menurut WHO varian ini memiliki kecepatan penularan 4 kali lipat dari varian Delta. Perawat unit rawat jalan menjadi tenaga kesehatan yang pertama kali berinteraksi dengan pasien dan keluarga, dimana belum diketahui status kesehatannya  apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak. Resiko tinggi yang dimiliki perawat baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga memberikan dampak psikologis mulai dari kekhawatiran tertular Covid-19, kecemasan dan bahkan depresi. Mekanisme koping adaptif yang digunakan tenaga kesehatan atau perawat akan dapat membantu agar tetap dapat bekerja dengan baik meskipun merasakan kecemasan maupun depresi akibat kondisi pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan, depresi dan mekanisme koping yang digunakan perawat Unit Rawat Jalan RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO. Subyek penelitian adalah Perawat Unit Rawat Jalan RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan uji statistik univariat. Hasil penelitian menunjukkan 30,8% perawat mengalami kecemasan kategori cemas ringan, 24,2% perawat merasakan depresi ringan dan 74,7 % perawat menggunakan mekanisme koping yang adaptif. Kesimpulan penelitian adalah pada masa pandemi Covid-19, perawat mengalami kecemasan dan depresi dalam kategori ringan, serta menggunakan mekanisme koping yang adaptif.   Kata kunci: depresi, kecemasan, mekanisme koping.   Health workers including nurses are at the forefront of handling Covid-19 cases, both at the beginning of the pandemic, during the second wave of the pandemic, and the risk of a third wave due to the identification of a new variant, namely B.1.1.1.529 Omicron, which according to WHO variant it has a transmission speed of 4 times that of the Delta variant. The outpatient unit nurse is the first health worker to interact with patients and their families, where it is not known whether their health status is infected with Covid-19 or not. The high risk that nurses have both for themselves and their families has a psychological impact, starting from fears of contracting Covid-19, anxiety and even depression. Adaptive coping mechanisms used by health workers or nurses will be able to help keep them working well even though they feel anxiety or depression due to this pandemic condition. This study aimed to determine the description of anxiety, depression and coping mechanisms used by nurses in the Outpatient Unit of Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Hospital. The subjects of the study were Nurses in the Outpatient Unit of Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Hospital. This research design is Descriptive. The data obtained were analyze using the Univariate statistical test. The results showed that 30.8% of nurses experienced mild anxiety category, 24.2% of nurses felt mild depression and 74.7% of nurses used adaptive coping mechanisms. The conclusion of this research is during the Covid-19 pandemic, nurses experienced anxiety and depression in the mild category, and used adaptive coping mechanisms.   Keywords: anxiety, coping mechanisms, depression   Korespondensi : Tunjung Sri Yulianti, STIKES PANTI KOSALA, Jl. Raya Solo-Baki KM. 4. Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Email : tejeyulianti@gmail.com. 08122612061.
SCOPING REVIEW: FAKTOR RISIKO INFEKSI POST PARTUM Ditya Yankusuma Setiani; Tunjung Sri Yulianti
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2022): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v10i2.243

Abstract

AKI (Angka Kematian Ibu) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. Tingginya AKI saat ini masih menjadi masalah besar di dunia. Infeksi post partum adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas. Oleh karena itu pengendalian faktor resiko merupakan hal yang sangat penting dalam upaya menurunkan prevalensi infeksi post partum. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengidentifikasi faktor resiko infeksi post partum. Metode penelitian yang digunakan adalah Scoping Review, data elektronik diperoleh dari Google scholar, BioMed Central, Pubmed, yang dipublikasikan tahun 2016-2021. Diperoleh 367 artikel, dianalisis dengan pedoman PRISMA, hasil ada 5 artikel yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu faktor resiko infeksi postpartum meliputi kunjungan ANC, persalinan caesar, pemeriksaan vagina, diabetes mellitus gestasional, ketuban pecah dini, IMT > 25, plasenta previa, plasenta akreta, perdarahan postpartum, anemia selama kehamilan, pemeriksaan vagina, persalinan di rumah, preeklamsia dan partus lama. Kesimpulan penelitian ini adalah faktor resiko infeksi paling dominan adalah kunjungan ANC, persalinan caesar, pemeriksaan vagina, diabetes mellitus gestasional dan ketuban pecah dini.   Kata kunci: faktor resiko, infeksi post partum   MMR (Maternal Mortality Rate) is one indicator to see the success of maternal health efforts. The high AKI is still a big problem in the world. Post partum infection is all inflammation caused by the entry of germs into the genital organs at the time of delivery and puerperium. Therefore, controlling risk factors is very important in an effort to reduce the prevalence of postpartum infection. This study aims to identify risk factors for post partum infection. Research method used Scoping review, electronic data obtained from Google scholar, BioMed Central, Pubmed, published in 2016-2021. Obtained 367 articles, analyzed with PRISMA guidelines, the results are 5 articles that meet the requirements according to the inclusion criteria. Results showed that risk factors for postpartum infection included ANC visits, caesarean delivery, vaginal examination, gestational diabetes mellitus, premature rupture of membranes, BMI > 25, placenta previa, placenta accreta, postpartum hemorrhage, anemia during pregnancy, vaginal examination, home delivery, preeclampsia and old parturition. The conclusion of the study were the most dominant infection risk factors were ANC visits, caesarean delivery, vaginal examination, gestational diabetes mellitus and premature rupture of membranes.   Keywords: post partum infection, risk factors   Korespondensi: Ditya Yankusuma Setiani, STIKES PANTI KOSALA, Jl. Raya Solo-Baki KM. 4. Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Email yankusumaditya91@gmail.com. 081238757965.
HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RENAL UNIT RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Tunjung Sri Yulianti; Diyono Diyono; Unik Margiyani
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2023): KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i1.274

Abstract

Gagal ginjal kronis merupakan salah satu penyakit yang mengancam kelangsungan hidup. Terapi definitif untuk penyakit gagal ginjal belum ada selain dengan terapi pengganti ginjal, baik dengan dialisis maupun cangkok ginjal. Hemodialisa memberikan pengaruh terhadap keadaan fisik pasien seperti pruritus atau keluhan fisik yang lain. Disamping itu muncul permasalahan psikologis yaitu cemas, stres, perasaan kehilangan, ketakutan, hilangnya kepercayaan diri atau harga diri, perubahan identitas bahkan depresi. Dialisis dilakukan sepanjang hidup untuk mengatasi gejala tetapi tidak menyembuhkan gagal ginjal. Oleh karena itu diperlukan perawatan paliatif dan dukungan orang terdekat untuk mengurangi penderitaan dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian  ini adalah menganalisis hubungan harga diri dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Renal Unit  RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO. Subyek penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Renal Unit  RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO. Metode penelitian adalah analitik dengan desain korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dengan kualitas hidup, nilai p= 0.000. Kesimpulan penelitian adalah harga diri secara signifikan berhubungan dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa.   Kata kunci: harga diri, kualitas hidup   Chronic kidney failure is a disease that threatens survival. There is no definitive therapy for kidney failure apart from kidney replacement therapy, either with dialysis or a kidney transplant. Hemodialysis affects the patient's physical condition such as pruritus or other physical complaints. Besides that, psychological problems arise, namely anxiety, stress, feelings of loss, fear, loss of self-confidence or self-esteem, changes in identity and even depression. Dialysis is carried out throughout life to manage symptoms but does not cure kidney failure. Therefore, palliative care and support from the closest people is needed to reduce suffering and improve the patient's quality of life. This research was aims to analyze the relationship between self-esteem and quality of life in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis at the Renal Unit of Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Hospital. The method of this research was analytic research with correlation design. The subjects of this study were chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis at the Renal Unit of Dr. OEN KANDANGSAPI SOLO Hospital. The Results showed that there is a significant relationship between self-esteem and quality of life (p= 0.000). The conclusion was self-esteem is significantly related to the quality of life of chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis,   Keywords: self esteem, quality of life  
PEMBUDAYAAN PROTOKOL KESEHATAN (PROKES) PENCEGAHAN COVID-19 MELALUI MEDIA POSTER Diyono; Ratna Indriati; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2022): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v1i1.229

Abstract

Coronavirus 2019 (Covid-19) merupakan penyakit baru yang sejak kemunculan pertama pada akhir tahun 2019 telah menimbulkan dampak yang luas baik dari segi kesehatan maupun non kesehatan. Pemerintah Indonesia telah melakukan tindakan antisipasi untuk menanggulangi pandemi Covid-19 melalui protokol kesehatan 5 M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Peran serta masyarakat merupakan kunci pengendalian penularan Covid-19. Tujuan kegiatan ini adalah membudayakan 5 M dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui promosi kesehatan melalui pengabdian masyarakat dalam bentuk pendidikan kesehatan. Hasil kegiatan ini adalah: 1) Pengabdian masyarakat dalam bentuk pendidikan kesehatan dengan metode diskusi curah pendapat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang pencegahan Covid-19.  2) Poster atau spanduk protokol kesehatan pencegahan Covid-19 efektif untuk menjadikan 5 M sebagai budaya baru pencegahan Covid-19. Kesimpulan kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat dalam bentuk pendidikan kesehatan dapat meningkatkan budaya masyarakat dalam pencegahan penularan Covid-19.   Kata kunci : budaya 5 M, Covid-19, pendidikan kesehatan, poster   Coronavirus 2019 (COVID-19) is a new disease which since its first appearance at the end of 2019 has had a wide impact both in terms of health and non-health. The Indonesian government has taken anticipatory actions to tackle the COVID-19 pandemic through the 5M health protocol, namely wearing masks, maintaining distance, washing hands, avoiding crowds and reducing mobility. Community participation is the key to controlling the transmission of Covid-19. The aim of the study was Cultivating 5 M in people's daily lives by Health promotion through community service in the form of health education. The results: 1) Community service in the form of health education with the brainstorming discussion method can increase people's knowledge and attitudes about preventing Covid-19. 2) Posters or banners of the Covid-19 prevention Health Protocol are effective to make 5 M a new culture of Covid-19 prevention. The conclusion was community service in the form of health education can improve community culture in preventing the transmission of Covid-19.   Keywords : Covid-19, health education, poster, 5M culture  
SOSIALISASI PADA KADER KESEHATAN TENTANG SKRINING KESEHATAN MENTAL DI MASA PANDEMI COVID-19 Tunjung Sri Yulianti; Endang Dwi Ningsih
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2022): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v1i1.231

Abstract

Masa pandemi Covid-19 telah menyebabkan beberapa masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, gangguan pola tidur dan pola makan, bosan dan stres karena terus menerus berada di rumah terutama bagi anak-anak. Belum lagi informasi-informasi negative tentang Covid-19 yang beredar di masyarakat menambah rasa khawatir dan stress terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit kronis. Oleh karena itu diperlukan deteksi awal sebelum masalah tersebut terjadi, maka diperlukan partisipasi kader kesehatan dalam menangani hal tersebut.  Tujuan  dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan  pengetahuan kader kesehatan tentang kesehatan mental  dan mampu melakukan skrining kesehatan mental untuk mencegah gangguan mental pada masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Desa Gedangan Grogol Sukoharjo. Hasil dari kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pemahaman kader tentang kesehatan mental dan metode skrining SRQ (Self Reporting Questionnaire).   Kata kunci : penyuluhan, skrining kesehatan mental   The Covid-19 pandemic has caused several psychological problems such as anxiety, fear, disturbed sleep and eating patterns, boredom and stress due to constantly being at home, especially for children. Not to mention the negative information about Covid-19 circulating in the community adds to the feeling of worry and stress, especially for vulnerable groups such as pregnant women, the elderly and people who have a history of chronic diseases. Therefore, early detection is needed before the problem occurs, so the participation of health cadres is needed in dealing with this. The purpose of this community service program is to increase the knowledge of health cadres about mental health and be able to carry out mental health screening to prevent mental disorders in the community. This service activity was carried out in Gedangan Grogol Village, Sukoharjo. The result of this activity is that there is an increase in the understanding of cadres about mental health and the SRQ (Self Reporting Questionnaire) screening method.   Keywords: mental health screening, counseling
PEMBEKALAN MATERI PROFESI KEPERAWATAN KODE ETIK PERAWAT Ratna Indriati; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2023): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v2i1.255

Abstract

ABSTRAK. Perawat merupakan profesi yang memerlukan tanggungjawab sangat besar. Tugas seorang perawat juga sangat beresiko karena berkaitan langsung dengan nyawa pasien. Tanggung jawab perawat yang besar tersebut adalah kepada masyarakat, keluarga dan pasien. Saat ini profesi perawat masih menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat sehingga perlu ada pembekalan tentang profesi perawat bagi para siswa-siswi yang akan menjadi calon perawat. Salah satu gambaran yang dapat dijelaskan adalah kode etik perawat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan deskripsi yang jelas tentang profesi perawat melalui metode ceramah dan tanya jawab. Hasil yang diperoleh yaitu adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang profesi perawat dan kode etik perawat dari mayoritas kategori sedang meningkat menjadi mayoritas kategori tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa pembekalan materi tentang profesi keperawatan tentang kode etik perawat efektif dalam meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan mampu mendeskripsikan profesi perawat dengan baik. Kata kunci: kode etik, perawat, profesi
SKRINING KESEHATAN PADA ANAK USIA SEKOLAH Warsini Warsini; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2023): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v2i2.285

Abstract

ABSTRAK. Anak yang sehat akan mendukung proses belajar mengajar. Skrining kesehatan sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan anak. Anak memiliki masalah kesehatan yang kompleks antara lain masalah pada kesehatan mulut yang masih didapatkan adanya caries dentis, gigi berlubang dan adanya gigi yang tumbuh secara tidak beraturan serta masalah pada kulit dan kuku seperti dermatitis dan kuku yang kotor. Karies gigi yang tidak segera dibersihkan dan ditambal akan menjalar ke lapisan di bawahnya hingga gigi berlubang dan sampai ke pulpa yang berisi pembuluh saraf, pembuluh darah sehingga menimbulkan rasa sakit. Kebersihan kulit dan kuku yang tidak terjaga juga dapat menimbulkan masalah kesehatan sehingga akan mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui adanya gangguan pada gigi dan mulut serta kulit dan kuku pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Bulu. Strategi yang dapat dilakukan untuk memantau kesehatan anak usia sekolah adalah melalui skrining kesehatan. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat 18,13% anak yang mengalami karies gigi, 7,44% anak mengalami gigi berlubang, sebanyak 3,45% anak yang mengalami gigi tidak beraturan. 0,12% anak mengalami dermatitis serta 3,77% anak dengan kuku kotor. Kata kunci : gigi, kesehatan, kuku, kulit, mulut, skrining ABSTRACT. Healthy children will support the teaching and learning process. Health screening is very necessary to maintain the health of children. Children have complex health problems, including problems with oral health which are still found to have dental caries, cavities and irregularly growing teeth as well as skin and nail problems such as dermatitis and dirty nails. If dental caries is not cleaned and filled immediately, it will spread to the layers beneath it to the cavities and reach the pulp, which contains nerves and blood vessels, causing pain. Cleanliness of the skin and nails that are not maintained can also cause health problems that will affect the teaching and learning process in schools. This community service aims to find out if there are disorders of the teeth and mouth as well as skin and nails in school-age children in the working area of ??the Bulu Health Center. The strategy that can be implemented to monitor the health of school-age children is through health screening. The results obtained were that 18.13% of children had dental caries, 7.44% of children had cavities, and 3.45% of children had irregular teeth. 0.12% of children had dermatitis and 3.77% of children with dirty nails. Keywords: health, mouth, nails, screening, skin, teeth
EDUKASI BUDAYA 5S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KARAKTER ANAK USIA SEKOLAH Warsini Warsini; Budi Kristanto; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2024): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v3i1.319

Abstract

Persoalan karakter merupakan suatu persoalan yang mendasar dan penting. Secara eksplisit pendidikan karakter merupakan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Permasalahan yang ada adalah banyak pihak yang menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal berdasarkan fenomena sosial yang muncul yaitu kenakalan remaja dalam masyarakat. Tujuan program meningkatkan karakter anak sehingga lebih baik melalui pembudayaan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) sehingga diharapkan sejak kecil anak-anak sudah tertanam karakter yang baik. Solusi yang ditawarkan meliputi edukasi tentang 5S dan penerapan budaya 5S selama jam sekolah berlangsung. Hasil kegiatan yang didapatkan adalah peningkatan pemahaman para siswa tentang budaya 5S. Luaran yang diharapkan adalah publikasi pada jurnal pengabdian kepada masyarakat nasional ber-ISSN.   Kata kunci: anak sekolah, budaya, karakter, pendidikan, sikap   The issue of character is a fundamental and important issue. Character education is explicitly mandated by Law No. 20 of 2003 concerning the National Education System which emphasizes that national education functions to develop abilities and shape the character and civilization of a dignified nation in order to educate the life of the nation and to develop the potential of students to become human beings who believe and are devoted to God. God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent and a democratic and responsible citizen. The problem that exists is that many parties are demanding an increase in the intensity and quality of the implementation of character education in formal education institutions based on emerging social phenomena, namely juvenile delinquency in society. The aim of the program is to improve children's character so that it is better through cultivating 5S (Smile, Greet, Greeting, Polite, Courteous) so that it is hoped that from childhood children will have good character instilled. The solutions offered include education about 5S and the implementation of 5S culture during school hours. The results of the activities obtained were an increase in students' understanding of 5S culture. The expected output is publication in an ISSN community service journal.   Keywords: attitude, character, culture, education, children
PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti; Warsini
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i2.306

Abstract

Latar belakang: upaya meningkatkan produksi ASI adalah dengan meningkatkan hormon perangsang ASI yaitu hormon prolaktin dan oksitosin serta menurunkan faktor-faktor yang menghambat produksi ASI seperti stres. Beberapa studi menunjukkan bahwa pijat dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin, prolaktin,dan menurunkan hormon kortisol. Salah satu zat gizi yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui adalah protein. Setiap 100 ml ASI mengandung 1,2 gram protein, sehingga selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein sebanyak 20 gram/hari. Meningkatnya kebutuhan protein ini untuk membentuk protein susu, sintesis hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Sumber protein nabati terbaik berasal dari sumber biji-bijian, seperti kacang tanah, kedelai, dan jagung. Dari interaksi yang dilakukan peneliti kepada salah satu ibu menyusui di kelurahan Mojosongo mengeluh produksi ASI yang sedikit dan tidak lancar sehingga menyebabkan payudara sakit dan bengkak. Hal tersebut juga mengakibatkan bayi kekurangan ASI sehingga bila terjadi terus menerus akan mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Subyek dan metode: penelitian ini merupakan penelitian pre post experimental control design untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui dengan cara membandingkan produksi ASI pada ibu sebelum dan sesudah mengkonsumsi susu kedelai. Hasil penelitian menunjukkan uji Mann-Whitney U diperoleh hasil mean pada kelompok kontrol yaitu kelompok tanpa intervensi adalah 14.67, sedangkan kelompok intervensi yaitu dengan pemberian susu kedelai selama 7 hari atau satu minggu adalah 16.33. Berdasarkan nilai perbedaan rata-rata (mean differences) adalah negatif yaitu -5.87  dapat diartikan bahwa hasil setelah diberi intervensi pemberian susu kedelai maupun tanpa intervensi dengan Asymp sig.(2-tailed) nilai p=0,557. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian susu kedelai tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI pada Ibu menyusui.   Kata kunci: Peningkatan produksi ASI, Pemberian susu kedelai   Background: efforts to increase breast milk production are by increasing breast milk stimulating hormones, namely the hormones prolactin and oxytocin and reducing factors that inhibit milk production such as stress. Several studies show that massage can increase levels of the hormone oxytocin, prolactin, and decrease the hormone cortisol. One of the nutrients that breastfeeding mothers need to pay attention to is protein. Every 100 ml of breast milk contains 1.2 grams of protein, so during breastfeeding mothers need an additional 20 grams of protein per day. The increased need for this protein to form milk protein, synthesis of the hormone prolactin and the hormone oxytocin. The best sources of vegetable protein come from whole grains, such as peanuts, soybeans and corn. From the interactions that the researchers carried out with one of the breastfeeding mothers in the Mojosongo sub-district, they complained that their milk production was small and not smooth, causing sore and swollen breasts. This also causes the baby to lack breast milk so that if this happens continuously it will interfere with the baby's growth and development process. The aims of the study was to determine the effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers. Subject and method: this research design is pre post experimental control design to know the effect of giving soy milk to increasing milk production in nursing mothers by comparing the production of breast milk in mothers before and after consuming soy milk. The result showed that after the Mann-Whitney U test, the mean in the control group, namely the group without intervention, was 14.67, while the intervention group, namely giving soy milk for 7 days or one week, was 16.33. Based on the value of the mean difference (mean differences) is negative, namely -5.87, it can be interpreted that the results after being given the intervention of giving soy milk or without intervention with Asymp sig. (2-tailed) value of p = 0.557. The Conclusion showed that there is no significant effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers.   Keywords: child character, family environment