Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENDAMPINGAN KELOMPOK PETERNAK UDANG GALAH DI DESA BEDULU BLAHBATUH GIANYAR lestari, kadek dwipayani; Lestari, Kadek Dwipayani
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v7i2.11863

Abstract

Prospek pengembangan  budidaya udang galah diperkirakan lebih baik dari pada ikan konsumsi dan jenis udang lainnya. Peluang inilah yang dilihat oleh Bapak I Wayan Gunawan dan Bapak Putu Agus Ciptayasa peternak tambak udang galah di Banjar Margasengkala, Desa Bedulu, Blahbatuh Gianyar Bali. Daerah Banjar margasengkala Desa Bedulu, banyak lahan sawah yang sudah tidak produktif, maka bendesa adat setempat berinisiatif untuk membuat kelompok ternak udang galah. Ternak udang galah mulai dimulai sejak tahun 2010 hingga sekarang, dan kelompok ini aktif mensuplai udang galah kepada tengkulak, yang akan dipasarkan di restoran – restoran di wilayah Gianyar (Gianyar kota, ubud, tegalalang dan lainnya). Kelompok udang galah ini pun semakin menjamur di wilayah ini, banyak yang mengikuti untuk menjadi peternak udang yang sekarang menjadi 2 kelompok yang diketuai oleh Bapak I Wayan Gunawan dan Bapak Putu Agus Ciptayasa .Kendala utama yang dihadapi oleh peternak udang galah di Banjar Margasengkala yaitu bibit udang yang tidak membesar sesuai dengan ukuran penjualan sebelumnya yaitu hingga mencapai 40 gram. Pengetahuan tentang budidaya udang galah masih minim dan kesediaan alat untuk membantu kegiatan operasional pun masih kurang. Solusi dari hasil diskusi dengan kelompok mitra dan tim IbM yaitu pendampingan teknik budidaya pembesaran udang galah yang tepat dari segi syarat kolam dan kualitas air dan tanah, pemilihan bibit udang yang tepat. Kedua,pendampingan transfer ilmu mengenai pemilihan pakan udang galah yang tepat dan pakan alami alternatif serta vitamin. 
PENDAMPINGAN KELOMPOK PETERNAK UDANG GALAH DI DESA BEDULU BLAHBATUH GIANYAR lestari, kadek dwipayani; Lestari, Kadek Dwipayani
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v7i2.11863

Abstract

Prospek pengembangan  budidaya udang galah diperkirakan lebih baik dari pada ikan konsumsi dan jenis udang lainnya. Peluang inilah yang dilihat oleh Bapak I Wayan Gunawan dan Bapak Putu Agus Ciptayasa peternak tambak udang galah di Banjar Margasengkala, Desa Bedulu, Blahbatuh Gianyar Bali. Daerah Banjar margasengkala Desa Bedulu, banyak lahan sawah yang sudah tidak produktif, maka bendesa adat setempat berinisiatif untuk membuat kelompok ternak udang galah. Ternak udang galah mulai dimulai sejak tahun 2010 hingga sekarang, dan kelompok ini aktif mensuplai udang galah kepada tengkulak, yang akan dipasarkan di restoran – restoran di wilayah Gianyar (Gianyar kota, ubud, tegalalang dan lainnya). Kelompok udang galah ini pun semakin menjamur di wilayah ini, banyak yang mengikuti untuk menjadi peternak udang yang sekarang menjadi 2 kelompok yang diketuai oleh Bapak I Wayan Gunawan dan Bapak Putu Agus Ciptayasa .Kendala utama yang dihadapi oleh peternak udang galah di Banjar Margasengkala yaitu bibit udang yang tidak membesar sesuai dengan ukuran penjualan sebelumnya yaitu hingga mencapai 40 gram. Pengetahuan tentang budidaya udang galah masih minim dan kesediaan alat untuk membantu kegiatan operasional pun masih kurang. Solusi dari hasil diskusi dengan kelompok mitra dan tim IbM yaitu pendampingan teknik budidaya pembesaran udang galah yang tepat dari segi syarat kolam dan kualitas air dan tanah, pemilihan bibit udang yang tepat. Kedua,pendampingan transfer ilmu mengenai pemilihan pakan udang galah yang tepat dan pakan alami alternatif serta vitamin. 
Studi Timbulan Sampah Dan Peran Serta Masyarakat Dalam Mendukung Konsep Banjar Pintar Berbasiskan Lingkungan (Studi Kasus : Desa Belatungan Kabupaten Tabanan Bali) Adisanjaya, Nyoman Ngurah; Lestari, Ni Kadek Dwipayani
Jurnal Media Sains Vol 2, No 2 (2018): JURNAL MEDIA SAINS
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jms 3.v2i2.430

Abstract

ABSTRAKSampah merupakan produk sisa dari hasil kegiatan manusia yang sangat sulit untuk diatasi. Permasalahan sampah tidak pernah lepas dari jumlah sampah yang semakin banyak dan tidak diiringi dengan konsep pengolahan dan pengelolaan yang baik. Lokasi penelitian mengambil tempat di Desa Belatungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali dikarenakan lokasi desa tersebut memerlukan studi, penanganan dan penciptaan konsep sistem pengelolaan sampah guna mendukung konsep banjar pintar berbasiskan masyarakat yang dicanangkan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan Banjar Munduk Gawang terdiri atas 17 KK menghasilkan sampah seberat 2.53 kg/KK/hari atau ? 0.5 kg/orang/hari dan untuk volume sampah sebesar 8.36 liter/KK/hari atau 1.67 liter/orang/hari. Untuk Banjar Delod Ceking untuk total 33 KK menghasilkan sampah seberat 2.09 kg/KK atau ? 0.4 kg/orang/hari dan volume 4.28 liter/KK/hari atau ? 0,85 liter/orang/hari. Komposisi sampah di Banjar Munduk Gawang adalah sampah organik yang bersumber dari sampah dedaunan, sampah sayur-mayur dan sampah sisa hasil upacara keagamaan (canang) sedangkan di Banjar Delod Ceking didominasi oleh sampah organik, sisa canang, sisa sayuran dan buah yaitu sebesar 80 % dan yang terkecil adalah sampah tekstil sebesar 2%. Berdasarkan hasil analisis statistik variabel antara karakteristik internal individu dengan faktor eksternal dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga dalam penelitian diperoleh berpengaruh tidak nyata (p-value<0,05) atau tidak signifikan. Sedangkan, antara variabel karakteristik internal individu dengan variabel persepsi masyarakat desa berpengaruh nyata (p-value< 0,05) atau signifikan. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa keinginan peran serta masyarakat tinggi untuk mengelola sampah namun tidak didukung sarana dan prasarana serta tingkat pengetahuan yang memadai.Kata Kunci : Pengelolaan Sampah, Kompos, Pupuk Cair, Banjar PintarABSTRACT Garbage is a waste product from human activities which is very difficult to overcome. Waste problems are never separated from the increasing amount of waste and are not accompanied by the concept of good processing and management. The research location took place in Belatungan Village, Pupuan District, Tabanan Regency, Bali because the location of the village required study, handling and creation of the concept of a waste management system to support the concept of community-based smart banjar that was proclaimed earlier. The results of the study showed that the Munduk Gawang Banjar consisted of 17 families producing waste 2.53 kg / KK / day or ? 0.5 Kg / person / day and for the volume of waste of 8.36 Liters / KK / day or 1.67 liter / person / day. Banjar Delod Ceking consiste of 33 families, producingwaste 2.09 kg / KK or ? 0.4 kg / person / day and the volume was 4.28 Liter / KK / day or ? 0.85 liter / person / day. The composition of garbage in Banjar Munduk Gawang is organic waste sourced from leaf waste, vegetable waste and waste from the results of religious ceremonies (canang) while in Ceking Banjar Delod is dominated by organic waste, leftover canang, remaining vegetables and fruit by 80% and the smallest is textile waste by 2%. Based on the results of statistical analysis of variables between the internal characteristics of individuals with external factors and community participation in the management of household waste in the study obtained no significant effect (p-value <0.05) or insignificant. Meanwhile, between the variables of internal characteristics of individuals with perceptions of the village community have a significant effect (p-value 0.05) or significant. Based on the result can be concluded that the desire for high community participation for processing waste is not supported by facilities and infrastructure and an adequate level of knowledgeKeywords: Waste Management, Compost, Liquid Fertilizer, Smart Banjar
Pengaruh Kolkhisin dan Gliberilin pada Periode Pembungaan Anggrek Dendrobium sp Lestari, Ni Kadek Dwipayani; Deswiniyanti, Ni Wayan
Jurnal Media Sains Vol 3, No 1 (2019): JURNAL MEDIA SAINS
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.109 KB) | DOI: 10.36002/jms 3.v3i1.718

Abstract

ABSTRAKUpaya mendapatkan tanaman dan bunga yang bermutu tinggi diperlukan tehnik pengelolaan tanaman yang memadai. Kunci keberhasilan pembudidayaan dan membuat bunga tanaman anggrek dendrobium tetap indah dan cantik salah satunya ditentukan oleh teknik dan intensitas perawatan pada tahap fase pembungaan. Terdapat empat jalur regulasi pembungaan yaitu fotoperiode, otonom, vernalisasi, dan menggunakan zat pengatur tumbuh (GA/BA). Maka dari penelitian ini diharapkan mendapat konsentrasi hliberilin dan kolkhisin yang tepat untuk mempercepat periode pembungaan. Sampel diambil secara acak dengan membeli 30 bibit anggrek dendrobium dalam fase generative. Penyemprotan GA dan kolkhisin dilakukan pada saat sore hari pada pukul 15.00 Wita pada saat stomata daun terbuka. Hasil yang diperoleh Pemberian giberilin 0,1% efektif untuk mempercepat umur pembungaan, jumlah kuntum bunga, panjang tangkai bunga dan tinggi tanaman, namun tidak efektif untuk mempengaruhi ukuran luas daun anggrek Dendrobium sp. Pemberian kolkishin 0,1% efektif untuk mempengaruhi ukuran luas daun, namun tidak efektif untuk mempercepat umur pembungaan, jumlah kuntum bunga, panjang tangkai bunga dan tinggi tanaman anggrek Dendrobium sp.Kata kunci : Dendrobium sp., Gliberilin, Kolkhisin, PembungaanABSTRACTEfforts to obtain high-quality plants and flowers require adequate crop management techniques. The key of success of cultivation and to make beautiful dendrobium orchid flowers is one of them is determined by the technique and intensity of treatment at the flowering phase. There are four flowering regulatory pathways, photoperiod, autonomic, vernalization, and using growth regulators (GA / BA). Therefore, this study it is expected to get the right concentration of Giberellin (GA) and kolkhisin to accelerate the flowering period. Samples were taken randomly by 30 dendrobium orchids in the generative phase. Spraying GA and kolkhisin in the afternoon at 3:00 p.m. when the leaf stomata opens. The Result obtained by 0.1% giberelin were effective to accelerate flowering age, number of flowers, length of flower stalks and plant height, but were ineffective in influencing the size of Dendrobium Orchid leaves. It is not effective to speed up flowering age number of flowers, length of flower stalks and height of Dendrobium sp. orchid plants.Keywords: Dendrobium, Giberellin, Colchisin, flowering
KOMPATIBILITAS PERSILANGAN SELF DAN INTERSPESIFIK ANGGREK Phalaenopsis pulcherrima (Lindl.) J. J. Smith Lestari, Ni Kadek Dwipayani; Deswiniyanti, Ni Wayan
Jurnal Media Sains Vol 1, No 1 (2017): JURNAL MEDIA SAINS
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.804 KB) | DOI: 10.36002/jms 3.v1i1.193

Abstract

ABSTRAKKompatibilitas berbagai jenis anggrek terutama jenis-jenis anggrek asal Indonesia tidak banyak diketahui. Informasi tentang kompatibilitas suatu jenis anggrek sangat penting dikuasai untuk dapat memaksimalkan perolehan biji sebagai bahan perbanyakan. Phalaenopsis pulcherima merupakan anggrek asli Indonesia, maka dapat diperkirakan bahwa jenis ini tentu memiliki keunikan tersendiri dalam hal perilaku berbunga hingga berbuah juga. Pendekatan eksperimental sangat diperlukan untuk mengetahui kompatibilitas anggrek-anggrek endemik Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kompatibilitas persentase keberhasilan persilangan secara self dan interspesifik Phalaenopsis pulcherrima. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan satu faktor yaitu metode persilangan dengan dua taraf yaitu persilangan self dan persilanagn interspesifik antara P.pulcherima dengan P. amabilis sebanyak 6 kali ulangan. Parameter yang diamati yaitu persentase keberhasilan silangan, umur terbentuk buah, dan panjang buah Hasil menunjukkan persilangan self P. pulcherima dengan persentase keberhasilangan silangan sebesar 0%, persilangan interspesifik sebesar 100% dengan rata- rata hari terbentuk buah 5,1 hari dan panjang buah sebesar 6,7 cm.Kata Kunci : Kompatibilitas, P. pulcherima, P. amabilis, self, interpsesifik, persilangan.ABSTRACTCompatibility of different types of orchids, especially the types of orchids from Indonesia are not widely known. Information about the compatibility of a very important species of orchids can be controlled to maximize the seed as propagation material. Phalaenopsis pulcherima is native to Indonesia, it can be estimated that this type of course is unique in terms of the behavior of flowering to fruit well. The experimental approach is needed to determine the compatibility of orchids endemic to Indonesia. The purpose of this study was to determine the compatibility of the percentage of successful interspecific crosses by self and Phalaenopsis pulcherrima. The method used in this study is completely randomized design (CRD) using a factor which is the method of crossing with two levels self and interspecific crosses between P.pulcherima and P. amabilis with as many as six repetitions. Parameters observed that the percentage of success of crosses, age formed fruit, and fruit length. Results showed self crosses P. pulcherima with cruciferous success percentage of 0%, interspecific crosses of 100% with an average of 5,1 days today formed fruit and fruit length by 6,7 cm.Key words : Compatibility, P. pulcherima, P. amabilis, self, interpsesifik, cross polination
PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI BUNGA PACAR AIR DI DESA BAKAS KLUNGKUNG lestari, kadek dwipayani
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.176 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v9i1.21006

Abstract

Kelompok tani bunga pacar air (Impatiens balsamina) di desa bakas kabupaten klungkung yang terdiri dari 10 orang diketuai oleh Bapak Made Sudiarta (52) ini sudah selama 5 tahun bertani bunga pacar air yang sebelumnya kelompok ini bertani padi. Namun, karena terus mengalami kegagalan dan harga saing di pasar yang tidak sesuai membuat para petani beralih ke tanaman bunga pacar air. Khususnya di Bali bunga pacar air  sangat diperlukan untuk pembuatan canang atau banten untuk setiap hari pemujaan dipura, sehingga mudah untuk dipasarkan seperti padi yang dijadikan konsumsi setiap hari. Penanganan dalam penanaman yang lebih mudah di lapangan dibanding padi para petani beralih ke petani bunga. Namun saat ini, terdapat masalah dalam hal berkurangnya produksi bunga, penanganan pasca panen bunga agar tidak mudah membusuk, pengetahuan penggunaan bahan kimia pertanian peningkatan kualitas bunga yang minim, masih kurangnya peralatan pertanian, belum adanya manajemen pengelolaan, Maka kami dari tim dosen Universitas Dhyana Pura akan membantu memberikan solusi dari setiap permasalahan yang telah dikemukan tersebut. Solusi yang akan diberikan yaitu 1). Rehabilitasi tanah untuk memperbaiki kualitas tanah untuk meingkatkan produksi 2). Pendampingan perbaikan kualitas bunga dengan menggunakan pupuk dan benih pacar air tumpuk 3). Pendampingan pelatihan pembuatan pupuk alami 4).Pemberian dan pendampingan penggunaan alat semprot hama dan teknik penanggulangan hama.
PKM SEKOLAH BERBASIS KESEHATAN DAN LINGKUNGAN DI SD NEGERI 5 SINGAKERTA UBUD GIANYAR BALI Lestari, Ni Kadek Dwipayani; Adisanjaya, Nyoman Ngurah; Rosiana, I Wayan
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v11i1.32438

Abstract

The health and environment program is a program that focuses on the school's commitment to preventing disease during a pandemic and maintaining cleanliness and preserving the environment. This program is in line with the government's goals to jointly protect the environment amid the Covid-19 pandemic. The choice of primary school is not only because basic education is accepted here, it is also possible to instill environmental awareness as early as possible in school children to care more about the surrounding environment and instill the importance of health protocols. Singakerta 5 State Elementary School is located on Jalan Raya Br. Tunon No. 4 Singakerta Ubud Gianyar Bali, where this school has been accredited A. The number of male students is 52 students and 54 girls and has 9 teachers. This school is led by I Wayan Metro as the Principal of the School. From the results of field observations, 3 main problems were obtained, namely 1) Environmental Health in particular how to provide knowledge about personal health for elementary school children, prevention of viruses and bacteria and provision of adequate health facilities, 2) Problems in the field of Information Technology (Computer), in accordance with the circular of the Governor of Bali to hold E-Learning in their respective homes during school holidays, so that knowledge and training are needed for teachers and students about the system, 3) Problems in the field of Biology, according to the objectives of environment-based schools, are appropriate training and assistance, especially in the field of Biology. Activities in the field of Environmental Health include the provision of health protocol facilities, assistance in the management of health protocols, procurement of garbage bins, assistance for sorting waste and composting. And in the field of information technology, namely assistance in the use of E-learning such as Google meet and Google classroom. Meanwhile, in the field of Biology, training and assistance in the maintenance and cultivation of plant nurseries will be conducted. Each activity is measured the level of progress of its success by conducting tests both before and after the activity, monitoring and evaluating scheduled.
PENCEGAHAN BROWNING PADA EKSPLAN IN VITRO UNTUK PERBANYAKAN TANAMAN Lilium longiflorum Ni Kadek Dwipayani Lestari; Ni Wayan Deswiniyanti; Ida Ayu Astarini; Luh Made Arpiwi
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 1 (2018): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.917 KB)

Abstract

ABSTRAKTanaman Lilium longiflorum pada umumnya diperbanyak dengan menggunakan pemisahan umbi, namun terdapat kendala yaitu tanaman yang diperbanyak terbatas, memerlukan lahan dan tergantung kondisi cuaca dengan waktu yang relatif cukup lama. Maka, diperlukan metode baru yaitu salah satunya metode kultur in vitro karena metode ini tidak tergantung pada lahan, cuaca dan dapat memperbanyak tanaman dengan jumlah yang banyak dan cepat ,namun metode ini pun memiliki kelemahan yaitu adanya kontaminasi serta terjadi browning pada eksplan, maka diperlukan suatu metode untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui metode eliminasi browning yang efektif diantara perlakuan perendaman eksplan dalam asam askorbat dan asam sitrat. Pengamatan meliputi waktu rata-rata eksplan mengalami browning, intensitas browning seluruhnya atau sebagian dan persentase eksplan browning hingga 35 hari setelah tanam (HST). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perlakuan perendaman asam sitrat 500 mg/l dan asam askorbat 300 mg/l selama 30 menit dapat menurunkan waktu inisiasi browning hingga 88 % pada eksplan daun muda, 100 % pada eksplan pedicel dan 64 % pada eksplan ovarium. Menurunkan intesitas browning pada eksplan daun muda dan ovarium. Menurunkan persentase browning sebesar 80% pada eksplan daun, 0% pada eksplan pedicel dan 36% pada eksplan ovarium.Kata kunci : browning, eksplan, asam sitrat, asam askorbat, liliumABSTRACTLilium longiflorum plants are generally propagated by using bulbs, but there are some so-called limited-multiplied plants, broad conditions and depending on the conditions for a long time. So, a new method is needed, which is one of the culture methods in vitro because this method does not depend on the land, weather and can multiply plants in large and fast numbers, but this method also has weaknesses, such as mathematics and browning occurs in explants, so some things required. methods to overcome them. This study aims to eliminate the effect of effective skin color between soaking treatment in ascorbic acid and citric acid. Observations include the average time of brown, brown, or part and all explants explants to reach 35 days after planting (HST). The results obtained from soaking citric acid 500 mg / l and ascorbic acid 300 mg / l for 30 minutes can reduce browning initiation time by 88% on young leaf explants, 100% on pedicel explants and 64% on ovarian explants. Reduces browning intensity on young leaf and ovarian explants. Reducing the amount of browning by 80% on leaf explants, 0% on pedicel explants and 36% on ovarian explants.Keywords: browning, explants, citric acid, ascorbic acid, lilium
DENDROGRAM KARAKTER MORFOLOGI TANAMAN DAUN JINTEN (Coleus amboinicus L.) DENGAN GENUS LAINNYA PADA KELUARGA LAMINACEAE Ni Wayan Deswiniyanti; Ni Kadek Dwipayani Lestari; Ni Made Virginia; Kadek Eka Jaya Efendi
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 5 (2022): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.024 KB)

Abstract

ABSTRAKTanaman daun jinten (Coleus amboinicus L) merupakan tanaman yang berasal dari keluarga lamiaceae atau labiatae merupakan salah satu family atau keluarga tanaman yang memiliki manfaat sebagai tanaman obat tradisional. Beberapa genus famili tersebut di antaranya Coleus, Lavandula, Ocimum, Orthosiphon, Mentha, dan Rosmanirus. Karakter tanaman dari family ini memiliki kekhasan daun beraroma aromatik dan merupakan tanaman herba. Pada penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi karakter morfologi tanaman daun jinten (genus Coleus), lavender (genus Lavandula), kemangi (genus Ocimum,) Kumis kucing (genus Orthosiphon), daun mint (genus Mentha), dan daun rosemary (genus Rosmanirus), kemudian dibuat dendrogram untuk mengetahui hubungan kekerabatannya. Hasil menunjukkan Genus Coleus berkerabat dekat dengan genus Mentha dibandingkan dengan genus lainnya pada keluarga laminaceae.Kata kunci: morfologi, daun jinten, laminaceae, dendrogram
UJI AKTIFITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN LILI (Lilium longiflorum THUMB.) BERDASARKAN UMUR DAUN Ni Kadek Dwipayani Lestari; Ni Wayan Deswiniyanti; Ni Nyoman Ari Mardiati; Ni Kadek Diah Angguni
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 3 (2020): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.707 KB)

Abstract

ABSTRAKLilium longiflorum ini merupakan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi yang bermanfaat sebagaibunga potong, tanaman hias, bahan kosmetika dan obat. Kandungan metabolit sekunder daritanaman lili mengandung saponin, tannin, flavonoid dan senyawa antioksidan. Ekstrak tanaman lilidapat digunakan sebagai antioksidan maupun antimikroba, namun belum diketahui secara pastikandungan dan kemapuan efektifitas antioksidan. Maka dilakukan uji aktifitas antioksidan padadaun muda dan daun tua Lilium longiflorum. Metode yang digunakan yaitu metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-picryl Hidrazil) diukur serapan pada panjang gelombang 517 nm dan besarnya aktivitasantioksidan ditandai dengan nilai Inhibition Concentracion (IC50). Ekstrak daun lilium longiflorumdibuat dalam berbagai konsentrasi dan diuji aktivitas antioksidannya. Aktivitas antioksidan (IC50)pada ekstrak daun muda lilium longiflorum 85,29 ppm dan pada daun tua sebesar 66,86 ppmsedangkan sebagai pembanding yaitu IC50 vitamin C murni sebesar 33,71 ppm. Aktivitasantioksidan ekstrak etanol daun lili tua lebih kuat dibandingkan daun lili muda, namun lebih lemahdibandingkan vitamin C. Tingkat kekuatan aktifitas antioksidan pada daun lili muda dan tuatermasuk dalam kategori kuat.Kata Kunci : Antioksidan, lili, IC50, daun, DPPH