Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Formulasi Masker Peel Off Antioksidan Berbahan Aktif Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata Linn.) Deasy Novia Sari; Nur Mita; Laode Rijai
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 4 (2016): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences (Prosiding Seminar Nasional Kefa
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.48 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v4i1.159

Abstract

Masker peel-off merupakan sediaan gel yang dapat mengandung senyawa antioksidan dari bahan alam yang digunakan untuk perawatan kulit wajah. Daun sirsak (Annona muricata Linn.) tergolong antioksidan sangat kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun sirsak dan stabilitas antioksidan masker peel-off ekstrak daun sirsak. Formula masker peel-off terdiri dari 0,5% ekstrak etanol daun sirsak dengan kombinasi polivinil alkohol dan hidroksi propil metil selulosa sebagai gelling agent. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 dari ekstrak etanol daun sirsak dan masker peel-off ekstrak tersebut berturut-turut adalah 41,52 ppm dan 11,87 ppm. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan masker peel-off ekstrak daun sirsak empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas antioksidan ekstrak daun sirsak.
Kajian Pengobatan Hipertensi di Puskesmas Karang Asam Samarinda Faisal Ramdani; Nur Mita; Rolan Rusli
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 4 (2016): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences (Prosiding Seminar Nasional Kefa
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.773 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v4i1.169

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang perlu diterapi dengan tepat dan terus menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Karang Asam Samarinda bulan Agustus tahun 2016. Penelitian ini bersifat deskriptif yang dilakukan secara prospektif terhadap resep obat kunjungan terakhir pasien. Pengambilan sampel 114 orang dilakukan secara purposive. Kategori usia pasien hipertensi terbanyak yaitu golongan lansia awal dengan rentang antara 45 sampai 55 tahun (62,3%). Pola terapi obat antihipertensi terdiri atas terapi tunggal (81,58%) dan kombinasi (18,42%). Pada kelompok terapi tunggal terdapat 2 golongan obat yaitu Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu Amlodipin (69,3%) dan Angiotensin Converting Enzyme inhibitor (ACE-i) yaitu Captopril (12,3%).
Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Daun Belimbing Hutan (Cnestis palala (Lour.) Merr) Chairunnisa Arbain; Nur Mita; Laode Rijai
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 5 (2017): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.132 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v5i1.223

Abstract

Belimbing hutan (Cnestis palala (Lour.) Merr) merupakan salah satu spesies tumbuhan di Kalimantan Timur banyak digunakan dalam pengobatan. Akan tetapi belum ada laporan mengenai aktivitas tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen ekstrak, aktivitas tabir surya, dan kategori tabir surya. Penelitian ini menggunakan ekstrak dengan perbedaan waktu perendaman maserasi yaitu 24 jam, 48 jam dan 72 jam kemudian dianalisis dengan spektrofotometri Uv-Vis pada ekstrak tersebut. Berdasarkan nilai %Te dan %Tp, ekstrak belimbing hutan pada waktu 24 jam, 48 jam dan 72 jam memiliki aktivitas tabir surya masuk dalam kategori sunblock dan perlindungan ekstra dalam efektivitas tabir surya.
Pegaruh Konsentrasi HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) Sebagai Gelling Agent dengan Kombinasi Humektan Terhadap Karakteristik Fisik Basis Gel Indri Pramita R; Victoria Yulita Fitriani; Nur Mita; Adam M. Ramadhan
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 5 (2017): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.173 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v5i1.230

Abstract

Sediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan cara memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah pemilihan gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) merupakan gelling agent yang sering digunakan dalam produksi kosmetik dan obat karena dapat menghasilkan gel yang bening, mudah larut dalam air, dan toksisitasnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC sebagai gelling agent dengan kombinasi humektan yaitu gliserin dan propilen glikol, yang memiliki karakteristik fisik yang sesuai dengan persyaratan. Formulasi gel dibuat dengan variasi konsentrasi HPMC 3%, 5% dan 7%, selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisik yang meliputi viskositas, pH, daya sebar, organoleptis, homogenitas. Evaluasi fisik dilakukan selama 4 minggu pada suhu kamar. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa basis gel dengan konsentrasi HPMC 3% memenuhi persyaratan dengan nilai viskositas yaitu 4,69 ± 0,14 Pa., nilai pH yaitu 5,17 ± 0,02, daya sebar yaitu 32,98 ± 0,85 cm, organoleptis yaitu berwarna bening, tidak memiliki bau dan berbentuk agak cair, serta homogen.
Eksplorasi Jenis Pisang Sebagai Penurun Keasaman Lambung Secara In Vitro Anisha Putri; Nur Mita; Laode Rijai
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 6 (2017): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.487 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v6i1.247

Abstract

Pisang (Musa sp.) merupakan buah tropis yang memiliki manfaat dalam mengurangi iritasi lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai perlakuan dan jenis buah pisang terhadap tingkat keasaman cairan lambung. Penelitian dilakukan dengan membandingkan 4 jenis pisang yaitu Mauli, Raja, Kepok, dan Ambon, dimana perlakuan uji divariasikan terhadap daging buah segar, rebusan, dan daging buah yang digunakan bersama dengan beberapa obat golongan antasida dalam bentuk sediaan tablet, serbuk, dan suspensi. Penurunan keasaman lambung dilakukan secara in vitro dengan alat uji disolusi menggunakan media cairan lambung buatan sebanyak 300 ml, dimana pH diukur setiap 15 menit selama 2 jam. Dari penelitian ini diperoleh bahwa rebusan pisang menghasilkan pH yang lebih rendah dibandingkan buah segar pada cairan lambung. Daging buah pisang raja menghasilkan kemampuan menaikkan pH cairan lambung tertinggi pada pemberian tunggal. Adapun penggunaan pisang ambon bersama gerusan tablet antasida terbukti memiliki kapasitas penurun keasaman lambung terbaik dibanding antasida tunggal, dimana dalam waktu 15 menit telah mampu mengubah pH cairan lambung buatan dari 1,3 menjadi 3,5.
Uji In Vivo Aktivitas Ekstrak Etanol Batang Brotowali (Tinospora crispa) Sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah Ruli Kuswati; Nurmita Nurmita; Laode Rijai
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 6 (2017): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.921 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v6i1.262

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol batang brotowali (Tinospora crispa) sebagai penurun kadar glukosa darah. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi menggunakan metode refluks untuk menentukan presentase rendemen dari ekstrak batang brotowali. Pengujian dilakukan dengan membagi 5 kelompok hewan coba (tikus) masing-masing terdiri dari 3 replikasi. Kelompok 1 yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok 2 yaitu kelompok kontrol positif, kelompok 3,4 dan 5 yaitu kelompok uji dengan dosis masing-masing 40,25; 80,5 dan 161 mg/kgBB. Hasil dari penelitian ini diperoleh presentase rendemen sebesar 3,52% dari berat ekstrak 8,8 gram. Terdapataktivitas antidiabetes ekstrak batang brotowali pada dosis 40,25; 80,5 dan 161 mg/dl dengan dosis terbaik yaitu dosis 161 mg/kgBB dan berpotensi sebagai antidiabetes dibandingkan dengan metformin.
Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Buah Libo (Ficus variegata Blume) sebagai Tabir Surya Syamsidar Syamsidar; Nur Mita; Rolan Rusli
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 6 (2017): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.69 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v6i1.266

Abstract

Libo (Ficus variegata Blume) merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai tabir surya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengoptimasi basis dan menghasilkan formula lotion ekstrak buah libo yang stabil secara fisik dan memiliki aktivitas tabir surya. Optimasi basis dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi trietanolamin sebagai emulgator. Lotion ekstrak buah libo diformulasi dengan menambahkan ekstrak buah libo masing-masing 0,5% dan 1% kemudian dilakukan evaluasi fisik meliputi pengukuran pH, viskositas, dan daya sebar sebanyak 2 minggu pada suhu kamar, serta uji stabilitas fisik dengan metode Freeze-Thaw sebanyak 2 siklus. Aktivitas tabir surya diuji secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basis yang paling optimal adalah B4 yaitu dengan konsentrasi trietanolamin 0,4%. Formula sediaan yang paling stabil secara fisik dan memiliki aktivitas tabir surya yang baik adalah F2, dengan kosentrasi 1% ekstrak buah libo, dengan suntan standar dan sunblock.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Stabilitas Warna Sari Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus Brriton and Rose) Eka Widiya Wati; Nur Mita; Mirhansyah Ardana
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 8 (2018): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.495 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v8i1.299

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap stabilitas sari buah naga.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder sari buah naga merah dan mengetahui stabilitas pigmen warna dari sari buah naga terhadap pengaruh suhu dan lama penyimpanan. Identifikasi metabolit sekunder sari buah naga dilakukan dengan menguji alkaloid, flavonoid, antosianin, steroid, tanin dan saponin, pengukuran suhu dan lama penyimpanan dilakukan dengan mengukur absorbansi sari buah naga merah dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang antosianin (534 nm) pada variasi suhu dingin (14°C) dan suhu ruang (30°C) pada durasi waktu hari ke-0, 1, 2, 4, 5,6, dan 7 hari. Hasil penelitian diperoleh sari buah naga mengandung alkaloid, flavonoid, antosianin, dan saponin, dan hasil pengukuran menunjukkan stabilitas warna sari buah naga merah lebih baik pada suhu dingin (14°C) dibandingkan dengan suhu ruang (30°C).
Simulasi Docking Beberapa Senyawa Turunan 3,3',4',5,7-pentahidroksi Flavon terhadap Aktivitas Enzim COX-2 Niken Sulistyo Wardani; Nur Mita; Muhammad Amir Masruhim
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 8 (2018): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.416 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v8i1.318

Abstract

Senyawa 3,3',4',5,7-pentahidroksi Flavon (Quersetin) merupakan senyawa yang berasal dari turunan golongan flavonoid. Senyawa ini memiliki terapi sebagai anti nyeri dan antiinflamasi. Munculnya efek samping akibat penggunaan obat NSAID menyebabkan perlunya studi pencarian senyawa obat spesifik COX-2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas beberapa turunan senyawa 3,3',4',5,7-pentahidroksi flavon terhadap enzim COX-2, mengetahui nilai energi bebas (?G) yang terjadi pada beberapa turunan senyawa terhadap enzim COX-2 dan mengetahui ikatan hidrogen dan interaksi yang terjadi pada ikatan ligan-reseptor. Metodologi penelitian ini menggunakan modifikasi senyawa 3,3',4',5,7-pentahidroksi flavon yang di docking-kan pada reseptor enzim COX-2 kode PDB: 6COX dengan menggunakan aplikasi AutoDock Tools 1.5.6, RMSD yang digunakan sebesar 2,86 Å. Hasil data menunjukkan bahwa perbandingan energy skor (kkal/mol) turunan senyawa 06, 10, 09, 01, 04, 05, 03 dan 08 lebih tinggi dibandingkan dengan ligan alami dan senyawa utamanya, yaitu sebesar -1,80 kkal/mol pada NAG661 dengan tiga ikatan hidrogen, -0,18 kkal/mol pada senyawa utama dengan tiga ikatan hidrogen dan -3,16 kkal/mol pada senyawa 06 dengan satu ikatan hidrogen yang merupakan nilai ?G dengan aktivitas tertinggi. Asam amino yang berperan dalam interaksi beberapa turunan senyawa 3,3',4',5,7-pentahidroksi flavon adalah SER38 (Serin 38), GLU67 (Glutation 67) dan ASN68 (Asparagin 68).
Interaksi Metformin dan Perasan Jahe Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Organ Mencit Diabetes Kiki Riski Amelia Andi; Nur Mita; Niken Indriyanti
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 10 (2019): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.813 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v10i1.344

Abstract

Metformin dengan jahe ketika digunakan bersamaan efek antidiabetes yang dimiliki keduanya bekerja secara sinergis dalam menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat interaksi yang terjadi akibat penggunaan perasan jahe dan metformin yang dilihat dari perubahan kadar glukosa darah dan organ mencit diabetes. Mencit diabetes yang telah diinduksi alloksan dibagi menjadi enam kelompok dan diobati dengan metformin, perasan jahe, kombinasi perasan jahe dan metformin 1x1 dan kombinasi perasan jahe dan metformin 2x1 selama empat hari. Kadar glukosa darah di ukur sebelum dan sesudah pengobatan selama empat hari berturut-turut. Data berat badan yang didapatkan menunjukkan terjadi penurunan berat badan namun tidak signifikan (p>0,05) Nilai signifikansi perubahan kadar glukosa darah saat dianalisis menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai (p<0,05). Untuk, index organ hati dan lambung yang diberi perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai (p<0,05). Degenerasi pada sel hepar berkurang saat diobati dengan perasan jahe, maupun kombinasi perasan jahe dengan metformin. Penggunaan jahe dengan metformin sekali sehari dapat menurunkan kadar glukosa darah tanpa menimbulkan resiko hipoglikemik dan degenerasi sel hepar.