Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan antara Mekanisme Koping dengan Ide Bunuh Diri pada Remaja Sholekhah, Sholekhah; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i1.5887

Abstract

Mekanisme koping adalah strategi untuk pemecahan masalah, sementara ide bunuh diri merupakan mekanisme pertahanan maladaptif yang berkembang dari pikiran untuk bunuh diri menjadi bunuh diri yang sebenarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara mekanisme koping dengan ide bunuh diri pada remaja, serta untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 224 responden, didapatkan sempel sebanyak 144 responden dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner, selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan bahwa responden terbanyak dalam penelitian ini berusia 20 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Mayoritas responden menunjukkan mekanisme koping yang adaptif, dan sebagian besar dari mereka tidak memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Melalui uji chi-square ditemukan adanya hubungan antara mekanisme koping dan ide bunuh diri pada remaja. Nilai keeratan korelasi (r) menunjukkan bahwa hubungan antara mekanisme koping dan ide bunuh diri pada remaja adalah sedang, dengan arah korelasi yang positif. Hal ini berarti bahwa mekanisme koping yang adaptif dapat mengurangi pemikiran untuk bunuh diri.
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Strategi Koping pada Pasien Hemodialisa Putri, Mayshella Reghita; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i1.5888

Abstract

Strategi koping adalah reaksi perilaku dan pemikiran terhadap stres yang dilaksanakan secara sadar dengan menggunakan sumber daya dan lingkungan individu dan ditujukan untuk meringankan masalah internal dan eksternal serta meningkatkan kehidupan seseorang Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping pada pasien hemodialisa. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 93 responden dalam populasi, dengan sampel sebanyak 83 responden yang diperoleh dari Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dan data dikumpulkan melalui kuesioner yang kemudian di analisis secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data yang diolah menggunakan Uji Somers’d mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan strategi koping pada pasien hemodialisis, dengan nilai P-Value sebesar 0,000 (p<0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping pada pasien hemodialisa.
Hubungan antara Dampak Bullying dengan Perkembangan Sosial pada Siswa MTs Negeri Haq, Baihaqi Izzul; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i1.5889

Abstract

Bullying merupakan prilaku agresif yang dapat berdampak negatif pada perkembangan sosial individu. Bullying dapat menyebabkan rendahnya kepercayaan diri, kesulitan dalam berinteraksi, serta peningkatan resiko isolasi sosial. Siswa yang mengalami bullying cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami kecemasan dan memiliki hambatan dalam membangun hubungan yang sehat. Dampak jangka panjangnya meliputi gangguan emosional dan psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial mereka di masa depan. Bullying memiliki korelasi negatif dengan perkembangan sosial siswa, oleh karena itu diperlukan intevensi dari sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung agar siswa dapat berkembang secara sosial tanpa hambatan. Tujuan dari penelitian ini mengetahui hubungan antara dampak bullying dengan perkembangan sosial pada siswa mts negeri 1 demak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross sectional. Sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 170 responden dari 296 total siswa yang diperoleh dari metode purposive sampling. Data diperoleh dengan mengaplikasikan lembar kuesioner yang diisi oleh responden secara sukareladan tanpa paksaan. Penelitian ini menerapkan uji korelasi spearman rank untuk mencari korelasi antara variabel. Hasil dari penelitian ini sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki dengan usia 13 tahun terbanyak. Hampir sebagian siswa MTs Negeri 1 Demak adalah mengalami tingkat bullying sedang. Hasil analisis juga menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dampak bullying dengan perkembangan sosial (r = 0,956, p 0,001 < 0,5). Dari hasil uji statistic dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara dampak bullying dengan perkembangan sosial pada siswa.
Hubungan Kualitas Tidur dengan Kualitas Hidup pada Remaja SMK Lindawati Lindawati; Wigyo Susanto; Dwi Heppy Rochmawati
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Imu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v3i2.3617

Abstract

To maintain one's physical, mental, and emotional balance, sleep is a necessary but not sufficient condition. Adolescents' quality of life is profoundly affected by the effects of poor sleep on both their physical and mental health. This research aims to discover how the quality of sleep affects the overall well-being of teenagers enrolled in vocational institutions. The study used a cross-sectional design and was conducted in Banjarnegara's SMK Ma'arif NU 01 Al-Mubarok. The information used in this study came from a survey that was sent out to people. Using the complete sample approach, this research surveyed 90 participating individuals. Data analysis makes use of both bivariate and univariate tests; the latter makes use of the Spearman correlation test in particular. A total of 56 respondents (or 62.2% of the total) reported sleep quality, according to the results of the univariate analysis on the topic of best sleep quality. At the top of the list is quality of life, as 45.6% of the total, or 41 people, said it makes a big difference. According to the presentation, 33 out of the 90 respondents were 16 years old. around 36.7%. With 60 female replies (66.7% of the total), the bulk of the respondents are bezienis. A p-value of 0.000, which is less than 0.005, indicates a significant association between sleep quality and sleep quality, according to the findings of the bivariate analysis using the Spearman rank correlation test. A good night's sleep is strongly correlated with a high quality of life.
Hubungan antara Tingkat Frustasi dengan Perilaku Kekerasaan pada Remaja” Tyas, Lutvi Mahendra Ning; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Journal of Language and Health Vol 6 No 1 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i1.5901

Abstract

Tingkat frustasi dan perilaku kekerasaan pada remaja sangat penting karena dapat memberikan wawasan mendalam faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan kalanga remaja. Frustasi yang bisa timbul dari berbagai faktor seperti kegagalan akademis, masalah keluarga, tekanan sosial, atau ketidakpuasaan emosional, sering kali menjadi salah satu pemicu utama perilaku kekerasaan. Penelitian ini dapat membantu dalam merancang program pencegahaan yang lebih efektif dan sangat penting untuk mengidentifikasi cara-cara untuk menangani frustasi secara lebih sehat pada remaja, mengurangi kencenderungan mereka untuk terlibat dalam perilaku kekerasaan, sehingga dapat menciptakan masyarakat yang lebih aman dan mendukung. Penelitian ini bertujuan menggambarkan hubungan antara frustasi dengan perilaku kekerasan pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain korelasi, dengan pendekatan cros sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu remaja SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang sebanyak 150 responden. Teknik pengambilan sampel adalah menggunakan Teknik purposive sampling. Kriteria inklusi penelitian ini adalah remaja yang berusia 15-18 tahun. Alat ukur menggunakan lembar kuesioner Tingkat frustasi dengan perilaku kekerasaan. Analisis yang digunakan yaitu analisis bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian Sebagian responden mendapatkan Tingkat frustasi dengan presentase 43,3%, presentase perilaku kekerasaan sebanyak 74,0% terdapat hubungan Tingkat frustasi dengan perilaku kekerasaan, Dimana p value sebesar 0,041 (sig < 0,05). Dapat diasumsikan bahwa Tingkat frustasi dengan perilaku kekerasan ada hubungan. Terdapat hubungan antara Tingkat frustasi dengan perilaku kekerasaan pada remaja.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Gejala Depresi pada Remaja Aslam, Putri Latifa; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Journal of Language and Health Vol 6 No 1 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i1.5902

Abstract

Masa remaja adalah tahap dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai proses perkembangan ditandai dengan berbagai perubahan pesat dalam aspek fisik, emosi, dan kognitif. Perubahan ini berpotensi memunculkan permasalahan psikologis, salah satunya adalah depresi. Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga, teman sebaya, serta lingkungan sekitar berperan penting dalam menekan risiko terjadinya depresi. Sebaliknya, kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan tekanan psikologis dan memperparah gejala depresi yang dialami oleh remaja.Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji keterkaitan antara dukungan sosial dengan tingkat gejala depresi pada remaja.Metode: Studi ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 150 siswa SMA yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Data diperoleh melalui kuesioner yang menilai tingkat dukungan sosial serta gejala depresi berdasarkan instrumen Beck Depression Inventory (BDI). Analisis data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS dengan menggunakan uji spearmen Hasil: Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan tingkat gejala depresi pada remaja. Remaja yang mendapatkan dukungan sosial yang lebih tinggi cenderung memiliki gejala depresi yang lebih rendah. Sebaliknya, individu dengan tingkat dukungan sosial yang rendah lebih berisiko mengalami gejala depresi yang lebih berat.Kesimpulan: Dukungan sosial memainkan peran krusial dalam mengurangi dan mencegah munculnya gejala depresi pada remaja. Oleh sebab itu, keterlibatan aktif keluarga, teman, dan lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk memberikan dukungan yang memadai guna membantu remaja dalam menghadapi tantangan emosional serta psikologis mereka
Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kecanduan Judi Online pada Dewasa Awal Ulumuddin, Muhammad Ikmal; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Journal of Language and Health Vol 6 No 1 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i1.5900

Abstract

Stres adalah respons psikologis dan fisik terhadap tekanan hidup yang meningkat, terutama pada dewasa awal. Jika tidak dikelola, stres dapat berdampak negatif secara fisik dan mental. Judi online sering dijadikan pelarian dari stres, namun dapat memicu kecanduan dan memperburuk tekanan. Judi online menarik perhatian karena peluang keuntungan, meski hasilnya tidak pasti. Studi pendahuluan menunjukkan 9 dari 10 mahasiswa Fakultas X Universitas X mengalami stres yang terkait kecanduan judi online akibat masalah ekonomi. Tujuan: Mendeskripsikan hubungan antara tingkat stres dengan kecanduan judi online pada dewasa awal. Metode: Penelitian kuantitaif dengan pendekatan cross sectional. Partisipan penelitian direkrut dari mahasiswa angkatan 2021yang terdaftar dari Fakultas X Universitas X. Sampel menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 137 responden. Uji korelasi yang digunakan adalah uji chisquare Hasil: Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa dari 137 responden penelitian sebagian besar memiliki karakteristik usia 22 tahun sebanyak 59,9% dengan karakteristik tingkat stres berat sebanyak 67,2%. Hasil penelitian juga menunjukan 16,1% responden kecanduan judi online ringan, 17,5% responden kecanduan judi online sedang, dan 66,4% responden kecanduan judi online berat.Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kecanduan judi online pada dewasa awal (p value<0,05).
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Quarter Life Crisis pada Mahasiswa Keperawatan Noviana, Aini Niswatun; Rochmawati, Dwi Heppy; Susanto, Wigyo
Journal of Language and Health Vol 6 No 1 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i1.5919

Abstract

Setiap individu mengalami tahapan perkembangan dari masa awal hingga akhir kehidupan, masing-masing membawa tanggung jawab dan tantangan tertentu. Salah satu tahapan penting adalah masa transisi dari remaja akhir ke dewasa awal, yang sering ditandai dengan fase quarter-life crisis. Fase ini ditandai dengan perasaan tidak stabil, ketidakpastian, tekanan hidup, dan gangguan emosional seperti frustrasi, kecemasan, dan depresi. Hal ini terutama dirasakan oleh mahasiswa yang berada di usia 18-29 tahun. Self-efficacy (kepercayaan diri untuk mengatasi tantangan) memiliki peran penting dalam menghadapi quarter-life crisis. self-efficacy yang tinggi dapat menurunkan tingkat quarter-life crisis. Sebaliknya, self-efficacy yang rendah membuat individu lebih rentan terhadap krisis ini. Tujuan penelitian ini adalah Untuk untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan quarter-life crisis pada mahasiswa keperawatan UNISSULA. Metode peneilian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa aktif Angkatan 22 Fakultas Keperawatan UNISSULA. Teknik yang digunakan adalah stratified sampling sebanyak 144 responden dari total 216 mahasiswa. Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil Analisa Univariat Self-efficacy tinggi dengan 81,3% responden, dan untuk quarter-life crisis rendah dengan 63,2% responden. Dari 144 responden penelitian sebagian besar memiliki karakteristik umur 20 tahun sebanyak 52,8%, dengan jenis kelamin yang lebih dominan yaitu perempuan sebanyak 72,2%. Hasil bivariat uji spearman’s rho hubungan antara self-efficacy dengan quarter-life crisis didapatkan hasil p value = 0,000, serta dengan nilai r = 0,719. Kesimpulan penelitian ini yaitu Ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan quarter-life crisis, dengan p value = 0,000 (p value < 0,05).
Hubungan Kualitas Tidur dengan Kesehatan Mental pada Perawat di RS Sari Asih Cipondoh Umi Lailatussa’adah; Wigyo Susanto; Betie Febriana
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v3i4.3320

Abstract

The nursing profession is a shift-based profession. Night shifts can impact sleep quality, which in turn disrupts sleep quality. Seven factors influence sleep quality, most commonly experienced by nurses. Poor sleep negatively impacts mental health. This study aims to explore the relationship between sleep quality and mental health among nurses at Sari Asih Cipondoh Hospital. This study was quantitative with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using probability sampling and simple random sampling, with a total of 111 respondents. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-Square Test, with a significance level of p<0.05. Respondent characteristics indicate that the majority were women aged 25 to 35, working in inpatient units with less than five years of work experience. Most nurses at Sari Asih Cipondoh Hospital reported poor sleep quality. The mental health of nurses at Sari Asih Cipondoh Hospital was within the normal range. There is a relationship between sleep quality and mental health of nurses at Sari Asih Cipondoh Hospital using the Chi Square Test, a P value of 0.000 (<0.05) was obtained. There is a relationship between sleep quality and mental health of nurses at Sari Asih Cipondoh Hospital using the Chi Square Test, a P value of 0.000 (<0.05). Therefore, this study can provide suggestions for nurses to be able to implement sleep pattern strategies so that sleep quality is in the good category.
Hubungan antara Tingkat Stres dengan Beban Kerja Perawat di Rumah Sakit Semarang Ika Chandra Putri; Dwi Heppy Rochmawati; Wigyo Susanto
Nursing Applied Journal Vol. 3 No. 3 (2025): July : Nursing Applied Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/naj.v3i3.840

Abstract

Nurses are healthcare workers who have a high workload because they are in direct contact with patients 24 hours a day. Complex tasks, limited manpower, and high service demands often cause work stress. Unresolved stress can affect nurses' health, reduce performance, and even impact patient safety. This study aims to investigate the relationship between stress levels and workloads among nurses at Semarang General Hospital. The study design employs a cross-sectional approach with a quantitative methodology. The study population consists of all nurses in the inpatient ward of Semarang General Hospital, with a sample size of 80 respondents selected using proportional random sampling. The research instruments used the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire to measure stress and the NASA-TLX questionnaire to measure workload. Data analysis was conducted using the Spearman Rank test. The results of the study show that most nurses are in the moderate stress category (65%), while the highest workload is in the high category (58.8%). Bivariate analysis yielded a p-value of 0.001 (p < 0.05) with a correlation coefficient of r = 0.412, indicating a significant positive relationship between stress levels and nurses' workload. The higher the workload of nurses, the higher the stress levels they experience. Hospitals are encouraged to implement effective workload management, including proportional task distribution, additional staff, and stress management programs for nurses.