Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PERBANDINGAN CADEXOMER IODINE DAN SILVER PADA PENDERITA DIABETIC FOOT ULCER DI PRAKTIK MANDIRI PERAWATAN LUKA DAHLIA [A COMPARISON OF CADEXOMER IODINE AND SILVER ON THE HEALING OF DIABETIC FOOT ULCERS AT THE DAHLIA CLINIC] Gede Arya Bagus Arisudhana; Ni Made Nila Dwi Partiwi; I Wayan Artana; Si Putu Agung Ayu Pertiwi Dewi
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 10, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v10i2.5451

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases with an increasing number of reported sufferers. The Indonesian Ministry of Health stated that the number of sufferers (DM) reached 10.7 million people with a prevalence of 11.3%. One of the problems often faced by DM patients is gangrene wounds caused by skin damage and microorganisms. This study aimed to determine the difference in time to reduce wound infection using cadexomer iodine compared to silver in diabetic foot ulcer patients. The method used in this research is time series control. The population in this study were all patients with diabetic wounds who received treatment at the Dahlia Clinic. The sampling technique used was purposive sampling. The number of samples in this study was 9 people in each group. Data analysis used an independent T-test and a 2-group difference test using paired T-test. The results of this study showed that the average score for diabetic foot ulcers in the treatment group was 1.66 and 0.88 in the control group. The results of the paired t-test obtained P-value = 0.000. There is a difference between cadexomer iodine and silver on wound healing time. Both types of antimicrobials,  cadexomer iodine and silver, were able to reduce the rate of infection in wounds. Based on the healing time, the use of silver in wound care is suitable. However, based on considerations of cost, comfort, and safety for the patient, cadexomer iodine is the most appropriate type for diabetic foot ulcers, which is recommended for middle-income people.BAHASA INDONESIA ABSTRAK Diabetes mellitus (DM) menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang dilaporkan semakin banyak. Kemenkes RI menyebutkan jumlah penderita (DM) mencapai 10,7 juta jiwa dengan prevalensi 11,3%. Salah satu masalah yang sering dihadapi pasien DM adalah luka gangrene yang diakibatkan oleh kerusakan kulit dan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan waktu penurunan infeksi luka menggunakan cadexomer iodine dibandingkan dengan silver pada pasien diabetic foot ulcer. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah  control time series. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien dengan luka diabetes yang melakukan pengobatan di Klinik Dahlia. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel penelitian ini adalah 9 orang pada masing-masing kelompok. Analisa data menggunakan uji T-independen dan uji beda 2 kelompok menggunakan T-berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata skor dibetic foot ulcer pada kelompok perlakuan adalah 1,66 dan pada kelompok kontrol 0,88. Hasil uji T-berpasangan didapatkan nilai P = 0,000. Terdapat perbedaan antara cadexomer iodine dan silver terhadap waktu penyembuhan luka. Kedua jenis antimikroba baik cadexomer iodine dan silver mampu mengurangi tingkat infeksi pada luka. Berdasarkan waktu penyembuhan dapat direkomendasikan penggunaan perawatan luka jens Silver. Namun, berdasarkan pertimbangan biaya, kenyamanan dan keamanan terhadap pasien maka cadexomer iodine paling tepat untuk jenis luka diabetic foot ulcers yang dapat di rekomendasikan penggunannya untuk kalangan masyarakat ekonomi menengah.
Korelasi Stigma dengan Lost To-Follow Up pada Orang Dengan HIV dan AIDS : The Correlation Of Stigma and Lost To-Follow Up in People With HIV and AIDS Gede Arya Bagus Arisudhana; Luh Putu Novi Artati
Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA) Vol. 1 No. 3 (2022): Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA)
Publisher : Yayasan Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/nrpm.v1i3.24

Abstract

Latar Belakang: Loss to follow-up (LTFU) pada manajemen antiretroviral merupakan tantangan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat HIV/AIDS. Masalah psiko-sosiologis seperti stigma dan diskriminasi dapat menyebabkan LTFU. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan stigma dengan kejadian LTFU pada ODHA merupakan tujuan dari penelitian ini. Penelitian telah dilakukan selama lima minggu di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Indonesia. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan kohort retrospektif. Jumlah partisipan adalah 96 orang dan ditentukan menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner stigma dan data rekam medis untuk melihat catatan pengalaman LTFU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Laki-laki adalah peserta dominan dalam penelitian ini (88,5%), empat puluh enam laki-laki mengalami stigma. Sebanyak 47% peserta mengalami LTFU, sebanyak 50% peserta mengalami stigma. Hasil uji bivariat dengan nilai chi-square diperoleh 18,38 (X2 hitung > X tabel) dan p-value < 0,001 (α = 0,05). Stigma berkorelasi dengan kejadian LTFU pada ODHA. Nilai risiko relatif menunjukkan bahwa Odha yang terstigma enam kali lebih mungkin mengalami LTFU. Kesimpulan: Ada hubungan antara stigma dengan kejadian LTFU pada ODHA.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Peer Support Group dalam Meningkatkan Sumber Daya Psikologis Populasi Kunci HIV: Community Empowerment Through Peer Support Group In Improving HIV Key Population Psychological Gede Arya Bagus Arisudhana; Made Ririn Sri Wulandari; Nyoman Eta Risnawati; Desak Putu Cristine Monica
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat : Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2022): september
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.72 KB)

Abstract

Abstrak: Orang dengan HIV dan AIDS memiliki masalah kesehatan yang sangat kompleks seperti penurunan sumber daya psikologis. Diperlukan dukungan sosial untuk menjaga mempertahankan sumber daya psikologis yang baik. Bentuk dukungan sosial yang dapat dilakukan yaitu melalui pelatihan peer support group. Tujuan  pengabdian masyarakat ini adalah memberdayakan masyarakat melalui peer support group untuk meningkatkan sumber daya psikologis. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA). Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat meliputi pendidikan kesehatan tentang HIV dan AIDS, pelatihan peer leader, dan pelaksanaan peer support group seperti sesi berbagi, motivasi, dan pemecahan masalah berdasarkan pengalaman. Hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat ini yaitu rerata usia partisipan adalah 41.24 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan 60%. Tingkat pendidikan partisipan didmoniasi SMA/SMK (44%). Pekerjaan partisipan sebagian besar ibu rumah tangga (40%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan diketahui tingkat pengetahuan partisipan didominasi tingkat pengetahuan yang baik (64%). Hasil evaluasi sumber daya psikologis partisipan sebagian besar pada kategori sedang (68%). Dapat disimpulkan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat melalui peer support group memberikan dampak yang positif pada sumber daya psikologis orang dengan HIV dan AIDS. Pembentukan peer support group tidak sebatas pada populasi kunci, disarankan anggota kelompok bersifat heterogen sehingga memperoleh pengalaman menjalani kondisi HIV yang lebih variatif. Abstract: People with HIV and AIDS have complex health problems, such as decreased psychological resources. Social support is needed to maintain good psychological resources. Social support can conduct through peer support group training. The purpose of this community service is to empower the community through peer support groups to increase psychological resources. This community service implementation method uses a Participatory Learning and Action (PLA) approach. The forms of community service activities include health education about HIV and AIDS, peer leader training, and the implementation of peer support groups such as sharing sessions, motivation, and problem-solving based on experience. The result of this community service implementation is that the average age of the participants is 41.24 years, and most of them are 60% female. The education level of the participants has dominated by SMA/SMK (44%). Most of the participant's occupations are housewives (40%). After health education, the knowledge level of participants has dominated by a good level of knowledge (64%). The evaluation of participants' psychological resources was moderate (68%). The conclusion was the implementation of community empowerment through peer support groups has a positive effect on the psychological resources of people living with HIV and AIDS. The formation of peer support group members is supposed to be heterogeneous, so they gain more varied experiences of living with HIV.    
Hubungan Tingkat Spiritualitas dengan Self-Efficacy pada Pasien HIV/AIDS di Puskesmas Kuta II: Correlation Between Spirituality with Self-Efficacy On HIV/AIDS Patient in Puskesmas Kuta II I Komang Satria Indrayana; Gede Arya Bagus Arisudhana; Putu Wira Kusuma Putra
Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA) Vol. 2 No. 2 (2023): Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA)
Publisher : Yayasan Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/nrpm.v2i2.38

Abstract

Latar Belakang: Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang baru positif HIV di tahun pertama lebih rentan mengalami gangguan psikologis. Dampak dari respon emosional yang negatif dapat menimbulkan penurunan self-efficacy. Self-efficacy dapat dipengaruhi oleh faktor budaya. Self-efficacy dipengaruhi faktor budaya melalui kepercayaan. Kepercayaan akan hubungan individu dengan Tuhan, lingkungan dan sesama merupakan pengertian dari spiritualitas. Spiritualitas terdiri atas dua dimensi yaitu: sikap spiritual dan kemampuan spiritual, dimana kemampuan spiritual memiliki peran yang paling efektif dalam meningkatkan self-efficacy. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat spiritualitas dengan self-efficacy pada pasien HIV dan AIDS di Puskesmas Kuta II. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional, dan penilaian untuk tingkat spiritualitas menggunakan kuesioner Daily Spiritual Experience Scale (DSES) serta untuk pengukuran self-efficacy menggunakan kuesioner General Self-Efficacy (GSE). Teknik sampling yang dilakukan menggunakan non-probability sampling yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 73 orang. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan hasil uji hipotesis menggunakan Pearson Product Moment mendapatkan nilai p-value = 0,000 atau p-value < 0,05. Kesimpulan: Terdapat hubungan tingkat spiritualitas dengan self-efficacy pada pasien HIV dan AIDS di Puskesmas Kuta II. Disarankan kepada pasien dan keluarga agar tetap memperhatikan tingkat spiritalitas dan self-efficacy dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan.
Hubungan Tingkat Stres, Depresi, dan Kecemasan dengan Kepatuhan Minum Obat pada Lansia Hipertensi : Correlation between Stress, Depression, and Anxiety Levels with Medication Adherence in Elderly Hypertension Putra, I Putu Bagus Pradhana; Arisudhana, Gede Arya Bagus; Wijaya, I Putu Artha
Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA) Vol. 2 No. 3 (2023): Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA)
Publisher : Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/nrpm.v2i3.41

Abstract

Latar Belakang: Lanjut usia (lansia) mengalami kemunduran beberapa kemampuan terjadi baik itu fisik, kognitif, maupun mental. Masalah yang paling sering terjadi pada lansia hipertensi yaitu kepatuhan minum obat hipertensi. Kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh usia, sikap, stres, depresi, cemas dan lama menderita. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat stres, depresi, dan kecemasan dengan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi di UPTD Puskesmas Selemadeg Timur I. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pendekata cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 138 responden dan dipilih dengan metode accidental sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner DASS-42, pengukuran kepatuhan minum obat menggunakan Pill Count Adherence Ratio (PCAR). Hasil: Rata-rata usia responden 64 tahun, didominasi oleh laki-laki (52,9%), rata-rata lama menderita hipertensi 4 tahun. Sebagian besar responden mengalami stress sedang (46,4%), didominasi tingkat depresi sedang (39,9%) dan sejumlah 44,2% menderita kecemasan sedang. Didapatkan sebagian besar responden tidak patuh minum obat hipertensi (56,5%). Didapatkan hasil uji korelasi nilai p = 0,001 antara stress dengan kepatuhan, p = 0,000 antara depresi dengan kepatuhan, p = 0,000 antara kecemasan dengan kepatuhan. Kesimpulan: Terdapat hubungan tingkat stres, depresi, dan kecemasan dengan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi di UPTD Puskesmas Selemadeg Timur I. Pasien dan keluarga agar tetap memperhatikan tingkat stres, depresi, kecemasan, dan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi.  
PEMBERDAYAAN KELOMPOK REMAJA DALAM PENCEGAHAN STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS BERBASIS SERVICE-LEARNING : Empowerment of Youth Groups in Preventing Stigma and Discrimination in People Living with HIV/AIDS Based on Service-Learning Arisudhana, Gede Arya Bagus; Dewi, Desak Putu Risna; Agustini, IGA Ratih
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Yayasan Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v1i1.5

Abstract

Latar Belakang: Stigma dan diskriminasi menjadi salah satu masalah yang berdampak pada keterbukaan status HIV positif Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Terjadinya stigma dan diskriminasi memiliki persentase yang tinggi pada remaja. Dibutuhkan metode yang tepat dalam meningkatkan pemahaman remaja pada kondisi HIV dan AIDS. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan remaja dalam mencegah stigma dan diskriminasi pada ODHA berbasis service learning. Metode: Populasi pada pengabdian masyarakat ini adalah remaja di Banjar Sigaran Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Metode yang digunakan pada pengabdian ini adalah pendekatan service learning. jumlah partisipan pada kegiatan ini adalah 25 orang. Evaluasi dilakukan menggunakan lembar observasi pada perilaku stigma dan diskriminasi dan kusioner pengetahuan tentang HIV dan AIDS. Hasil: Sebagian besar pengetahuan remaja setelah mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat ini berada pada kategori baik (60%). Perilaku stigma pada ODHA oleh remaja setelah mengikuti kegiatan ini diketahui 80% tidak melakukan stigma dan diskriminasi. Kesimpulan: Pemberdayaan remaja menggunakan metode service learning efektif dalam mencegah terjadinya stigma dan diskriminasi.
PENDIDIKAN KESEHATAN PADA ORANG DENGAN HIV AIDS UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM DALAM UPAYA MENGHADAPI STIGMA DAN DISKRIMINASI : Health Education in People Living with HIV AIDS in Increasing Self-Esteem as an Effort to Face Stigma and Discrimination Arisudhana, Gede Arya Bagus; Dewi, Desak Putu Risna; Antarika, Gde Yasa
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v1i2.16

Abstract

Latar Belakang: Self-esteem merupakan bagian dari sumber daya psikologi yang berperan penting dalam interaksi dan komunikasi individu. ODHA harus mempertahankan self-esteem pada koindisi yang baik melalui edukasi yang terstruktur. Tujuan: kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku tentang self-esteem pada ODHA. Metode: Populasi pada kegiatan ini adalah ODHA di Banjar Kedampal, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Badung. Metode yang digunakan pada pengabdian ini adalah pendekatan direct service learning melalui ceramah. Jumlah partisipan sebanyak 18 orang. Evaluasi dilakukan menggunakan Kuisioner Rosenberg Self Esteem Scale. Hasil: Sebagian besar partisipan memiliki self-esteem pada kategori cukup. Partisipan memahami pentingnya pemahaman tentang HIV AIDS dan masalaha psikologis yang mungkin terjadi. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan mampu menunjukkan sebagian besar self esteem partisipan (67%) pada kategori cukup.
PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN LANSIA PENDERITA DIABETES MELLITUS MELALUI PENDIDIKAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN GULA DARAH : Improving Elderly with Diabetes Mellitus Health Degrees Through Health Education and Blood Sugar Examination Arisudhana, Gede Arya Bagus; Antarika, Gede Yasa; Wijaya, I Wayan Septa; Rosita, Ni Putu Indah; Putra Pemayun, Cokorda Gde
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v2i1.19

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menualr dengan angka kesakitan yang tinggi. Prevalensi DM pada lansia dilaporkan cukup tinggi sehingga perlu upaya penanggulangan dengan memberikan edukasi secara berkesinambungan. Tujuan: Tujuan Pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan lansia melalui pendidikan kesehatan dan pemeriksaan gula darah guna mewujudkan derajat kesehatan yang baik. Metode: Pengabdian ini dilaksanakan di Desa Cepaka Kabupaten Tabanan. Sasaran pengabdian ini adalah lansia sejumlah 21 orang.  Metode pengabdian ini menggunakan pendekatan adalah Participatory Learning and Action. Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan kesehatan tentang DM dan pemeriksaan gula darah  Evaluasi dilakukan menggunakan lembar kuisioner yang terdiri dari 10 pertanyaan yang dibacakan oleh tim pelaksana pengabdian. Hasil: Tingkat pengetahuan lansia didominasi (48%) memiliki tingkat pengetahuan baik. Sebagian besar 19 (90%) lansia memiliki kadar gula darah sewaktu  ≤ 200 mg/dL Kesimpulan: terdapat perubahan pengetahuan lansia tentang DM dan upaya pencegahannya.
Implementation of the Blended Learning Method to Enhance Clinical Reasoning among Nursing Students Arisudhana, Gede Arya Bagus; Martini, Ni Made Dwi Ayu
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 17 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.841 KB) | DOI: 10.20884/1.jks.2022.17.2.5079

Abstract

Clinical reasoning has an important role in nursing care. Therefore, an appropriate learning model is needed to produce great clinical reasoning among nursing students. The blended learning method is a flexible and technology-based learning model that has the potential to improve nursing students’ clinical psychomotor skills and overall performance. This study aims to determine the effect of the blended learning method on the clinical reasoning ability of nursing students. This was a quasi-experimental study that used a pretest-posttest design and a control group. The number of samples was 35 respondents in each group. The samples were recruited using a simple random sampling method. The intervention was conducted for 14 weeks in the intervention group. Clinical reasoning was measured using the Clinical Reasoning Assessment Tools (CRAT). Data were then analyzed using the Mann-Whitney test. There were differences in the clinical reasoning ability between the experimental group (p <0.001) and the control group (p = 0.128). A positive effect was found between the blended learning method and clinical reasoning ability among nursing students. Thus, a flexible learning process can provide repetition and continuity of the learning process and improve the students' critical thinking processes.
Effectiveness of Providing Non-Pharmacological Inspiratory Muscle Training Therapy on Reducing Dyspnea in Copd Patients: Systematic Review Arisudhana, Gede Arya Bagus; Hendry, Zul
South East Asia Nursing Research Vol 6, No 4 (2024)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.6.4.2024.%p

Abstract

Background: COPD is one of a group of non-communicable diseases that has become a public health problem in Indonesia. The main problem of COPD patients is dyspnea.Objective: The aim of this review is to determine the effectiveness of using non-pharmacological inspiratory muscle training therapy to reduce shortness of breath (dyspnea) in COPD sufferers.Method: Articles were obtained through searches on Medline, Scient Direct, Proquest, and Google Scholar. Inclusion and exclusion criteria in this systematic review are types of studies of non-pharmacological inspiratory muscle training therapy that have been proven to be significant and effective in alleviating dyspnea in COPD sufferers that have been published in peer-reviewed ways, and use English. The design used was an RCT, the type of respondents were adults (over 17 years of age). Published from 2015-2015. Literature assessment uses critical appraisal guidelines and casptools.Results: There were five studies that found changes in the average value of maximal inspiratory pressure (PImax), but no changes were found in lung functional capacity. Inspiratory Muscle Training has been proven to be effective in reducing dyspnea, where the inspiratory respiratory muscles are trained to restore their strength so that they can carry out maximum inspiration and have better lung tolerance for activity.Conclusion: IMT can be useful for adult COPD patients and can reduce the patient's hospital stay.