Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN DENGAN TERJADINYA HIPERVOLEMIA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HEMODIALISA: Fluid Restriction Compliance and Hypervolemia in Chronic Kidney Disease Patients Undergoing Hemodialysis Dewi, Desak Putu Risna; Lestari, Ni Luh Putu Lely; Oktavyanti, Dwi; Arisudhana, Gede Arya Bagus
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v3i1.38

Abstract

Latar Belakang: Gagal Ginjal Kronik dapat didefinisikan sebagai kerusakan fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat pulih kembali,sehingga tubuh kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan peningkatan ureumia. Pasien Gagal Ginjal kronik yang menjalani hemodialisa diketahui bahwa paling banyak mengalami kelebihan cairan sehingga terjadi perubahan berat badannya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kepatuhan pembatasan cairan terhadap terjadinya hipervolemia pada pasien gagal ginjal kronik di ruang Hemodialisa. Metode : Penelitian ini menggunakan diskriptif korelasi pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjalkronik yang menjalani hemodialisa di RS Balimed Denpasar. Jumlah sampel sebanyak 90 responden dengan menggunakan teknik quota sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner untuk keparuhan pembatasan cairan, dan alat ukur untuk kejadian hipervolemia menggunakan lembar catatan pengukuran berat badan. Hasil: Kepatuhan pembatasan cairan kategori kurang patuh sebanyak 65 responden (72,2%) dan kejadian hipervolemia kategori hipervolemia ringan sebanyak 71 responden (78,9%). Hasil uji korelasi menunjukkan nilai p = 0,019 (< α 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pembatasan cairan terhadap terjadinya hipervolemia pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa. Pasien gagal ginjal kronis dalam lingkup rumah sakit, perawat bisa memeberikan pendidikan maupun konseling kesehatn mengenai pembatasan cairan dapat berupa diskusi atau menggunakan audio visual dengan demosntrasi sehingga pasien HD tidak hanya mendengar tetapi juga bisa langsung mempraktekannya.
Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Shivering Pasca Operasi Di Ruang Operasi: Factors Associated with the Occurrence of Postoperative Shivering in the Operating Room Dwipayana, Kadek Ary; Arisudhana, Gede Arya Bagus; Sudiarta, I Ketut
Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jaki.v2i1.67

Abstract

Latar Belakang: pembedahana merupakan salah satu tatalaksana pengobatan kuratif melalui proses interprofesi. Pembedahan memiliki komplikasi yang mungkin terjadi diantaranya shivering. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor pendukung. Kondisi shivering ini sering terjadi pasca pembedahan dilakukan. Beberapa faktor penyebab perlu dilakukan pengkajian lebih jauh sehingga dapat dilakukan pencegahan pada kondisi yang lebih buruk. Tujuan: penelitian ini memilki tujuan utama untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan shivering pada pasien post operasi menggunakan teknik spinal anestesi. Metode: Penelitian merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 67 pasien post operasi, diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji multivariat regresi linier ganda. Hasil: Uji terhadap variabel independen menunjukkan korelasi antara variabel usia dengan kejadian shivering (nilai p = 0,004), indeks masa tubuh berkorelasi dengan kejadian shivering (nilai p = 0,005), variabel lama operasi memiliki korelasi dengan kejadian shivering (nilai p = 0,000). Kesimpulan: Tatalaksana bedah merupakan intervensi yang kompleks melibatkan interprofesi, sehingga pemantauan terhadap kondisi pasien demi keselamatan menjadi penting, terutama ketika pasien mengalami kondisi hipotermi dan shivering. Berdasarkan temuan penelitian terdapat beberapa faktor seperti usia, indeks massa tubuh dan lama operasi yang berkorelasi dengan shivering pada pasien pasca operasi.
Pengaruh Pemberian Akupresur Terhadap Mual Muntah Pasca Operasi Pasien Dengan Anestesi Umum : The Effect of Acupressure on Postoperative Nausea and Vomiting in Patients Undergoing General Anesthesia Ganda Sari, Ni Ketut Dwi; Arisudhana, Gede Arya Bagus
Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jaki.v2i2.69

Abstract

Latar Belakang: Mual muntah pasca operasi menjadi perhatian utama pasien dengan anastesi umum. Hal ini terjadi akibat stimulasi terhadap chemoreseptor trigger zone ke pusat rangsang mual muntah di medula oblongata. Akupresur pada akupoin PC6 mampu membantu menstimulasi endorfin sebagai antiemetik alami. Tujuan: Penelitian ini bertujaun untuk mengetahui pengaruh pemberian akupresur terhadap mual muntah pasca anestesi umum. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah one-group pre-test post-test. Sampel berjumlah 32 orang dipilih dengan teknik purposive sampling. Akupresur dilakukan selama 30 tekanan dengan waktu getaran 15-20 detik. Penekanan dapat dihentikan sejenak setelah 3 menit penekanan dan kemudian diteruskan hingga lama total penekanan 15 menit dengan 1 kali pengulangan. Alat yang digunakan mengumpulkan data adalah lembar observasi. Analisa data menggunakan uji wilcoxon sign rank. Hasil: Skor mual muntah sebelum intervensi memiliki rata-rata 2,66, nilai median 3. Setelah intervensi akupresur diberikan, rata-rata  skor mual muntah menjadi  1,19, dengan median 1. Uji hipotesis dengan wilcoxon sign rank diketahui nilai Zhitung = 5,092 > Ztabel = 1,96 dan nilai p = 0,001 (α<0,05). Kesimpulan: Akupresur dapat meningkatkan pelepasan neurotransmiter seperti serotonin dan endorfin, yang berperan dalam regulasi mual dan muntah. Setelah diberikan intervensi akupresur menunjukkan ada pengaruh terhadap mual muntah pasca anestesi umum.