Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH RANGE OF MOTION EXERCISE TERHADAP KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE DI WILAYAH PUSKESMAS SIDOTOPO SURABAYA Kristiani, Rina Budi
JURNAL NERS LENTERA Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v5i2.1796

Abstract

The weakness muscle is the biggest impact on patients with stroke, to the practice Range of Motion Exercise with the aim is to maintain or preserve muscle strength, to maintain mobility joints and simulate circulation. With an increase in the incidence of stroke and disability, if the practice Range of Motion Exercise is not implemented it will be a significant decrease in muscle strength, cause muscle kontraktur and a decubitus. The study aims to find his Range of Motion Exercise of muscle strength in patients with stroke in the Puskesmas Sidotopo Surabaya. This study uses Pra-Eksperimental One-Group Pra-Post Test Design. Population in this study is a stroke patient who live in the Puskesmas Sidotopo Surabaya and sampels 32 of responden. The sample by using techniques purposive sampling. Variables independent in this study is Range of Motion Exercise and the variables dependent is muscle strength. The intstrumen used in the collection of data is an observation to the strength of muscles. The results showed an increase in strength of muscle strength from scale 3 to scale 4 and from scale 4 to scale 5 after the Range of Motion Exercise. The t-test statistic test shows that p value 0.000 (α
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA “BUGAR” RW 08 KELURAHAN MOJO KECAMATAN GUBENG SURABAYA Kristiani, Rina Budi
JURNAL NERS LENTERA Vol. 6 No. 2 (2018): September
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v6i2.2485

Abstract

Pendahuluan: Gangguan tidur pada seseorang dapat berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah. Tidur dapat mengubah fungsi sistem saraf otonom, hal ini dapat mempengaruhi tekanan darah. Kualitas tidur yang buruk dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Kualitas tidur yang buruk dapat juga terjadi pada lansia yang dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kualitas tidur, tekanan darah dan menganalisis hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional dengan sample 70 responden lansia di Posyandu Lansia RW 08 Kelurahan Mojo Kecamatan Gubeng Kota Surabaya diambil menggunakan tehnik sampling total sampling. Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). Tekanan darah diperoleh dari observasi menggunakan sphygmomanometer. Hasil: Data dianalisis dengan program SPSS 16.0 menggunakan uji korelasi Pearson’s didapatkan p value = 0,000 (α < 0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia (H0 ditolak, H1 diterima). Kesimpulan: Implikasi hasil penelitian ini adalah semakin bagus kualitas tidur lansia maka semakin dapat mengontrol tekanan darah
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Pada Pasien Pneumonia Dengan Masalah Keperawatan Pola Nafas Tidak Efektif Kristiani, Rina Budi; Qomariah, Siti Nur; Wardani, Rossalina Kusuma; Yobel, Sosilo
PROSIDING KONFERENSI NASIONAL ILMU KESEHATAN STIKES ADI HUSADA 2023 Vol 2 No 1 (2024): Prosiding Konferensi Nasional Ilmu Kesehatan STIKES Adi Husada
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/prosiding.v2i1.595

Abstract

Latar Belakang: Pola nafas tidak efektif merupakan suatu kondisi dimana inspirasi dan/atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi yang adekuat, salah satunya adalah pneumonia. Pneumonia merupakan peradangan yang terjadi pada paru-paru sehingga menyebabkan paru-paru membutuhkan oksigen lebih banyak. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan asuhan keperawatan medikal bedah pada pasien pneumonia dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif. Metode. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan kasus-kasus yang ditatalaksana secara sistematis. Hasil: Evaluasi hasil asuhan keperawatan yang dilakukan selama 3 hari pada kedua pasien menunjukkan hasil sebagai berikut: dispnea menurun, frekuensi nafas membaik RR 20x/menit, penggunaan otot bantu nafas menurun. Dari 3 kriteria hasil yang ditetapkan, masalah keperawatan tercapai sebagian. Kedua pasien menunjukkan keluhan sesak nafas berkurang dan diharapkan kedua pasien mempertahankan pola hidup sehatnya. Saran: Diharapkan kedua pasien meminum obatnya secara teratur. Diharapkan kedua pasien dan keluarga dapat mengetahui tindakan keperawatan apa saja yang dilakukan dan dapat menerapkan anjuran yang telah diberikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan pasien.
Peningkatan Motivasi Rutin Kontrol Lansia Penderita Hipertensi Orizani, Chindy Maria; Kristiani, Rina Budi; Yobel, Sosilo
PROSIDING KONFERENSI NASIONAL ILMU KESEHATAN STIKES ADI HUSADA 2023 Vol 1 No 1 (2023): Prosiding Konferensi Nasional Ilmu Kesehatan STIKES Adi Husada
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/prosiding.v1i1.513

Abstract

Latar Belakang: Kesadaran lansia penderita hipertensi untuk rutin kontrol ke pelayanan kesehatan masih rendah. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang erat kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi, budaya penggunaan obat tradisional dan kepatuhan pasien. Penelitian ini mengidentifikasi pengaruh metode konseling, penjadwalan dan pemeriksaan terhadap motivasi kontrol rutin pada lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan desain one group prepost test. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di RT 01 RW 07 Donokerto Kec. Simokerto Surabaya dan jumlah sampelnya adalah 23 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik totalsampling. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket motivasi kontrol rutin dengan pertanyaan tertutup oleh Ayuningtyas (2016). Peneliti melaksanakan metode konseling, penjadwalan and kontrol (Conseling, Schedulling and Check-Up Method/ CSCM) dengan menggunakan media Papan Motivasi STIASA (PaMoSa). Hasil: Karakteristik responden terbanyak adalah berusia 61-70 tahun, berjenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SLTA, bekerja sebagai ibu rumah tangga. Hasil penelitian diperoleh sebelum dilakukan tindakan (pretest) sebanyak 15 responden (65%) mempunyai motivasi kurang, 8 responden (35%) mempunyai motivasi baik dan setelah diberikan tindakan (posttest) sebanyak 23 responden (100). %). Uji statistik menunjukkan p = 0,000 dan α < 0,05 menunjukkan terdapat perbedaan nilai pretest dan posttest sehingga terdapat pengaruh CSCM dengan media Papan Motivasi STIASA (PaMoSa) terhadap kontrol rutin. motivasi pada lansia penderita hipertensi. Saran: Oleh karena itu, metode CSC melalui metode PaMoSa mampu menjadikan lansia penderita hipertensi meningkatkan
PERUBAHAN PERSEPSI DAN POLA DIET PADA KLIEN DIABETES MELLITUS MELALUI RATIONAL EMOTIVE THERAPY Maria Orizani, Chindy; Kristiani, Rina Budi; Qomariah, Siti Nur
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 12 No 1 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i1.329

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan kondisi kronis yang membutuhkan perawatan seumur hidup, termasuk pengaturan diet yang tepat. Namun, mengubah persepsi dan perilaku diet pada klien DM bukanlah hal yang mudah. Rational Emotive Therapy (RET) dapat membantu klien mengidentifikasi dan mengubah keyakinan irasional terkait diet sehingga mereka dapat memiliki pandangan yang lebih positif dan menerapkan pola makan yang sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Rational Emotive Therapy terhadap perubahan persepsi dan pola diet pada klien Diabetes Mellitus. Subyek dan metode: Sampel penelitian ini pasien DM tipe 2 yang berjumlah 40 orang. Penelitian ini merupakan pra experimental design dengan satu kelompok perlakuan yang dilakukan pre-tes dan post-tes setelah diberikan RET selama 4 minggu. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner persepsi diet dan pola diet. Data dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank test. Hasil penelitian menunjukkan perubahan persepsi dan pola diet pada klien DM dengan hasil uji antara sebelum dan sesudah yaitu p=0,001 untuk persepsi diet dan p=0,005 untuk pola diet. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Rational Emotive Therapy berpengaruh terhadap perubahan persepsi dan pola diet pada klien Diabetes Mellitus.   Kata kunci: Diabetes Mellitus, diet, persepsi, pola, Rational Emotive Therapy   Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic condition that requires lifelong treatment, including proper diet management. However, changing perceptions and dietary behavior in DM clients is not an easy thing. Rational Emotive Therapy (RET) can help clients identify and change irrational beliefs related to diet so they can have a more positive outlook and adopt healthy eating patterns. The research aimed to analyze the influence of Rational Emotive Therapy on changes in perceptions and diet patterns in Diabetes Mellitus clients.  Subject and method: The research sample consisted of 40 patients of type 2 DM. This research was a pre-experimental design with one treatment group undergoing pre-test and post-test after being given RET for 4 weeks. Data collection was carried out using diet perception and diet pattern questionnaires. Data were analyzed using Wilcoxon Signed Rank test. The results of the research showed changes in perception and diet pattern in DM clients with test results between before and after of intervention, result of p=0.001 for diet perception and p=0.005 for diet pattern. The conclusion showed that Rational Emotive Therapy influences changes in perceptions and dietary patterns in Diabetes Mellitus clients.   Keywords: Diabetes Mellitus, dietary, perception, pattern, Rational Emotive Therapy.
The Effect of Behavioral Therapy with Modeling Techniques on Changes in the Adherence of Diabetes Mellitus Patients Caturia Sasti Sulistyana; Rina Budi Kristiani
Journal of Ners and Midwifery Vol 8 No 3 (2021)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v8i3.ART.p360-367

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a disease whose prevalence is not infectious increases with changes in lifestyle. If not managed properly, it will cause various complications that reduce quality of life, increase morbidity and mortality, and harm the economy. The success of DM management is strongly influenced by the patient's adherence to medication and diet. One of the interventions to improve the adherence of DM sufferers is Behavior Therapy with modeling techniques. The purpose of this study was to analyze the effect of behavioral therapy with modeling techniques on changes in adherence of DM patients. The design of this study was quasy-experimental with pretest posttest and control group, on a sample of 40 DM patients with consecutive sampling technique. The intervention was carried out in 4 sessions for 2 weeks. The results of the statistical test paired sample t-test and independent sample t-test obtained p <0.5 (0.000), which meant that there was an effect of behavioral therapy with modeling techniques on changes in adherence DM patient. Changes in compliance that occurred between before and after the intervention was 16.95 points. Modeling technique is behavioral learning through observation of a model who has successfully controlled his illness to emphasize changes in mindset, beliefs, and commitment to a person's new positive behavior. Modeling has an impact not only on imitating, but also adding or subtracting the observed behavior, so that it can be applied to obtain new behavior, leave old negative behavior, and maintain the desired behavior.
OPTIMALISASI PERAN KADER POSYANDU MELALUI PENERAPAN THERAPEUTIC PATIENT EDUCATION BERBASIS AUGMENTED REALITY (TPE-AR DM2) DALAM MENINGKATKAN SELF-MANAGEMENT PADA MASYARAKAT DIABETES MELLITUS Fajriyah, Novita; Kristiani, Rina Budi; Susanti, Susanti
Community Development in Health Journal Volume 4, Nomor 1, April 2026
Publisher : PPM STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/cdhj.v4i1.684

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus memerlukan kemampuan self-management yang baik untuk mencegah komplikasi. Kader Posyandu memiliki peran strategis dalam edukasi berbasis komunitas, namun masih terdapat keterbatasan dalam pemanfaatan media edukasi interaktif. Penerapan Therapeutic Patient Education berbasis Augmented Reality (TPE-AR DM2) diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kader serta mendukung kemandirian pasien dalam pengelolaan penyakit. Metode: Kegiatan ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test dan post-test pada 25 kader Posyandu dan pasien DM. Intervensi berupa pelatihan dan pendampingan penggunaan TPE-AR DM2 yang mencakup peningkatan pengetahuan, keterampilan teknis, dan komunikasi terapeutik. Pengukuran pada kader dilakukan menggunakan instrumen pengetahuan, keterampilan, serta Diabetes Management Self-Efficacy Scale (DMSES) dan locus of control pada pasien. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan perhitungan normalized gain (N-gain). Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh domain kader dengan kategori N-gain tinggi, meliputi pengetahuan, keterampilan teknis, dan komunikasi terapeutik. Peningkatan kapasitas kader berdampak pada kemandirian dalam memberikan edukasi dan pendampingan. Pada pasien, terjadi peningkatan self-efficacy serta pergeseran locus of control ke arah internal, yang mencerminkan peningkatan kepercayaan diri dan kontrol dalam mengelola penyakit, termasuk pengaturan diet, aktivitas fisik, pemantauan glukosa darah, dan kepatuhan pengobatan. Kesimpulan: Penerapan TPE-AR DM2 efektif dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian kader Posyandu, serta berkontribusi positif terhadap penguatan self-management pasien Diabetes Mellitus di tingkat komunitas. Intervensi ini berpotensi menjadi model inovatif edukasi kesehatan berbasis teknologi di masyarakat.
Efektivitas therapeutic patient education berbasis augmented reality terhadap self-efficacy pasien diabetes melitus tipe 2: Studi kuasi-eksperimental: The effectiveness of augmented reality-based therapeutic patient education on the self-efficacy of type 2 diabetes mellitus patients: A quasi-experimental study Novita Fajriyah; Rina Budi Kristiani; Susanti; Sosilo Yobel
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 12 No. 1 (2026): JiKep | Februari 2026
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v12i1.3064

Abstract

Latar Belakang: Kepatuhan pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dalam pengelolaan penyakit sering kurang optimal akibat keterbatasan pengetahuan, kepercayaan diri, dan konsistensi perilaku. Therapeutic patient education berbasis augmented reality dikembangkan sebagai media edukasi interaktif untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam pengelolaan diabetes. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas therapeutic patient education berbasis augmented reality terhadap efikasi diri pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest–posttest kelompok kontrol. Sampel berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Instrumen penelitian menggunakan Diabetes Management Self-Efficacy Scale. Analisis perbedaan sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok menggunakan uji Wilcoxon, sedangkan perbedaan antara kelompok pada pengukuran setelah intervensi dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil: Terdapat peningkatan efikasi diri yang signifikan pada kelompok intervensi setelah pemberian therapeutic patient education berbasis augmented reality, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang signifikan. Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan bahwa skor efikasi diri kelompok intervensi pada pengukuran pascaintervensi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan: Therapeutic patient education berbasis augmented reality lebih efektif dibandingkan edukasi standar dalam meningkatkan efikasi diri pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dan berpotensi diintegrasikan sebagai media edukasi dalam pelayanan kesehatan.
HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN DENGAN MOTIVASI KERJA DI RUANG RAWAT INAP LANTAI 2 RUMAH SAKIT X SURABAYA Selvy Aulia Wirawan; Rina Budi Kristiani; Hermanto Wijaya
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60522

Abstract

Gaya kepemimpinan merupakan faktor penting yang memengaruhi motivasi kerja perawat di rumah sakit. Kepemimpinan yang efektif dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, meningkatkan semangat, tanggung jawab, dan produktivitas sehingga berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja perawat di Ruang Rawat Inap Lantai 2 Rumah Sakit X Surabaya. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 26 perawat dengan teknik total sampling. Variabel independen adalah gaya kepemimpinan (transformasional, demokratis, dan otoriter), sedangkan variabel dependen adalah motivasi kerja. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan uji Spearman Rank pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menilai gaya kepemimpinan dalam kategori cukup (92,3%) dan motivasi kerja dalam kategori sedang (62%). Uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000 (<0,05) dengan koefisien korelasi 0,683, yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja perawat. Gaya kepemimpinan demokratis memiliki hubungan paling kuat dibandingkan gaya transformasional dan otoriter. Disimpulkan bahwa semakin baik penerapan gaya kepemimpinan, khususnya gaya demokratis, semakin tinggi motivasi kerja perawat. Rumah sakit diharapkan terus mengembangkan kepemimpinan yang komunikatif, partisipatif, dan mendukung keterlibatan perawat dalam pengambilan keputusan.
Pengaruh Bermain Slime terhadap Rentang Sendi Phalang Pasien Stroke di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya Kristiani, Rina Budi; Orizani, Chindy Maria; Susanti, Susanti
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 4, No 4 (2019): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.49429

Abstract

Latar Belakang: Pasien yang menderita stroke secara mendadak akan mengalami kelemahan ekstremitas, gangguan ini dapat mengganggu kegiatan hidup sehari-hari, tindakan yang dapat dilakukan perawat adalah melakukan range of motion yang menyenangkan dengan menggunakan bermain slime.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bermain slime terhadap rentang sendi phalang pasien stroke di RS Adi Husada Surabaya.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan pre dan postt test di RS Adi Husada Surabaya selama April – Juli 2019 berjumlah 40 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling, kelompok intervensi berjumlah 20 responden dan kelompok kontrol berjumlah 20 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Bermain Slime dan variabel dependennya adalah rentang sendi phalang. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasi untuk rentang sendi phalang yang diukur dengan menggunakan geniometer.Hasil: Jenis kelamin laki-laki 67,5%, kelompok umur dewasa dengan rentang usia 21-60 tahun sebanyak 57,5%, serangan stroke sekali sebanyak 82,5% dan tidak ada dukungan keluarga sebesar 52,5%. Hasil uji beda peningkatan rentang sendi sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi(18,29o) dan kelompok kontrol (3,23o), statistik berbeda signifikan (t-independent  test  pvalue   =  0,020).  Hasil  Uji  perbedaan  rentang  sendi  pada  kelompok  intervensi sebelum intervensi (33,02o) dan sesudah intervensi (51,31o) statistik berbeda signifikan  (t-paired test pvalue = 0,003).Kesimpulan: Terdapat pengaruh antara Bermain Slime terhadap rentang sendi phalang pada pasien stroke karena bermain slime membantu melakukan latihan rentang gerak sendi phalang pada pasien stroke yang mengalami kelemahan rentang sendi phalang