cover
Contact Name
Ali Mashuri
Contact Email
mediapsi@ub.ac.id
Phone
+628976322223
Journal Mail Official
mediapsi@ub.ac.id
Editorial Address
Department of Psychology Building A, 4th Floor Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Malang, 65145, East Java - Indonesia Phone: +628976322223 Email: mediapsi@ub.ac.id
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
MEDIAPSI
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24776459     EISSN : 25492004     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.mps
MEDIAPSI accepts original research papers covering all areas of psychology including: general and experimental, industrial and organizational, social, developmental, educational, and clinical. Unfortunately, we currently do not accept review articles to be published in MEDIAPSI.
Articles 255 Documents
Pengasuhan Ibu dan Nenek-Kakek: Keterkaitannya dengan Penyesuaian Keluarga dan Perilaku Bermasalah Anak Sumargi, Agnes Maria; Prasetyo, Eli; Andriono, Maria Angela
Mediapsi Vol 6 No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2020.006.01.2

Abstract

As working mothers increase, more children are taken care of by their grandparents. At present, only a few studies have investigated the impact of grandparenting on young children’s misbehaviours. To fill this void, in this research we aimed to test the effect of maternal parenting and grandparenting on children’s misbehaviours. We also investigated the effect of family adjustment (i.e., stress, family relationships, caregivers’ teamwork) on maternal parenting and grandparenting. Participants were 188 pairs of caregivers (mothers and grandparents) who had 2-6 years old children. Results showed that mothers’ authoritarian parenting and grandparents’ permissive parenting significantly contributed to children’s misbehaviours. Maternal stress and family relationships were significant predictors of mothers’ authoritarian parenting, whereas grandparental stress was a significant predictor of grandparents’ permissive parenting. Dengan semakin meningkatnya jumlah ibu yang bekerja, semakin banyak anak diasuh oleh nenek-kakeknya. Saat ini belum banyak penelitian yang mengungkap dampak pengasuhan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak usia dini. Untuk menutupi kekurangan ini, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengasuhan ibu dan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji sejauh mana faktor-faktor penyesuaian keluarga (yaitu: stres, relasi keluarga, kerjasama antar pengasuh) mempengaruhi pengasuhan ibu dan nenek-kakek. Partisipan penelitian adalah 188 pasang pengasuh (ibu dan nenek-kakek) yang memiliki anak atau cucu berusia 2-6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan otoriter ibu dan pengasuhan permisif nenek-kakek memberikan sumbangan yang signifikan bagi masalah perilaku anak. Stres ibu dan relasi keluarga menentukan munculnya pengasuhan otoriter ibu. Pada nenek-kakek, stres menjadi prediktor utama bagi pengasuhan permisif. 
Apa Saya Khawatir Karena Fear of Negative Evaluation? Sebuah Studi Pada Remaja Putera, Kokoh Dwi; Yuniardi, Muhammad Salis; Masturah, Alifah Nabilah
Mediapsi Vol 6 No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2020.006.01.3

Abstract

Adolescence is a period characterised by teenagers’ feelings that problems in life are much more complicated than the periods that come before (childhood) or after it (adulthood). This is the case particularly because adolescence lasts quickly and many changes occur during the period. One of the prevalent disorders commonly experienced by adolescents is generalized anxiety disorder (GAD). We assumed in the present research that fear of negative evaluation (FNE) may influence the GAD. Building upon this assumption, the goal of this research was to examine the extent to which FNE explains GAD. Participants were 475 students from 9 high schools in Malang, who were recruited based on probability or random sampling. The data were then analysed quantitatively using simple linear regression. The results showed that FNE was a significant positive predictor of GAD, implying that the high levels of FNE were related to high levels of GAD, and, vice versa, low levels of FNE were related to low levels of GAD. Masa remaja adalah masa dimana setiap problematika hidup terasa lebih berat daripada masa-masa sebelum (kanak-kanak) atau setelahnya (dewasa). Hal ini dikarenakan masa remaja berlangsung dengan cepat dan ditandai dengan banyak perubahan. Salah satu gangguan yang prevalensinya cukup tinggi yang dialami oleh remaja adalah generalized anxiety disorder (GAD). Peneliti mengasumsikan bahwa fear of negative evaluation (FNE) dapat mempengaruhi GAD tersebut. Mengacu pada asumsi ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sejauh mana FNE dapat mempengaruhi GAD. Subjek penelitian adalah 475 siswa dan siswi dari 8 SMA di Kota Malang, yang direkrut atas dasar probability sampling.  Data kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan regresi linear sederhana (simple linear regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNE menjadi prediktor positif yang signifikan dalam menjelaskan GAD.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi FNE maka akan semakin tinggi juga GAD, begitupun sebaliknya jika semakin rendah FNE maka akan semakin rendah juga GAD.
Body Dissatisfaction dan Keterkaitannya dengan Subjective Well-Being pada Perempuan Masa Emerging Adulthood Kurnia, Yemima Carolina; Lestari, Sumi
Mediapsi Vol 6 No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2020.006.02.2

Abstract

In this research, we aimed to examine the relationship between body dissatisfaction and three aspects of subjective well-being, which included life satisfaction, positive affect, and negative affect. Drawing from accidental sampling, participants were 306 women between the ages of 18 and 25 years who were in the period of emerging adulthood and domiciled in Malang, East Java. Designed as a correlational survey, results in this research revealed that high levels of body dissatisfaction corresponded with low levels of life satisfaction and positive affect. Conversely, high levels of body dissatisfaction corresponded with high levels of negative affect. We explain the theoretical implications of these empirical findings in the discussion section, which also highlights the limitations of the present work as well as recommendations for follow-up studies to overcome these limitations. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body dissatisfaction dan tiga aspek subjective well-being, yang mencakup kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif. Subjek penelitian adalah 306 perempuan berusia 18-25 tahun yang berada pada masa emerging adulthood dan berdomisili di Kota Malang, Jawa Timur, yang direkrut atas dasar accidental sampling. Studi korelasional dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya body dissatisfaction berkaitan dengan rendahnya kepuasaan hidup dan afek positif. Sebaliknya, tingginya body dissatisfaction berkaitan dengan tingginya afek negatif. Implikasi teoritis dari temuan-temuan empiris ini dielaborasi di bagian diskusi, yang juga membahas kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini serta rekomendasi studi lanjutan untuk menutupi kelemahan-kelamahan tersebut. 
Budaya Berbusana Batik pada Generasi Muda Sanjaya, Fony; Yuwanto, Listyo
Mediapsi Vol 5 No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2019.005.02.3

Abstract

Batik is the world's cultural heritage that is recognized as originating from Indonesia. Nowadays batik becomes a lifestyle for the young generation. Batik lifestyle behavior can be explained through the theory of planned behavior. The aim of this study was to investigate the intentions of using batik among members of the younger generation based on their attitudes towards batik, subjective norms about batik, and control of batik lifestyle behavior. The study was conducted by giving an opened questionnaire to 30 respondents consisting of 7 men and 23 women in the East Java area. This step is accompanied by a semi-structured interview that was conducted with two respondents. The results of the questionnaire show that there are several factors that encourage the younger generation to dress in batik, including aesthetics, prestige, fashionable, national identity, and flexibility. The aesthetic value of batik is the main intention to dress batik among members of the younger generation, which is driven by their attitudes towards batik and control of batik lifestyle behavior. The current research also shows that family is the driving factor (subjective norm) for the young generation to dress in batikBatik merupakan warisan budaya dunia yang diakui berasal dari bangsa Indonesia. Dewasa ini batik menjadi gaya hidup berbusana generasi muda. Perilaku berbusana batik dapat dijelaskan melalui theory of planned behavior (teori perilaku terencana). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensi berbusana batik pada generasi muda yang didasari oleh sikap terhadap batik, norma subyektif tentang batik, dan kontrol terhadap perilaku berbusana batik. Penelitian dilakukan dengan memberikan angket terbuka kepada 30 orang responden yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 23 orang perempuan di area Jawa Timur. Setelah itu dilakukan wawancara semi terstruktur kepada 2 orang dari responden tersebut. Hasil angket menunjukkan faktor-faktor yang mendorong generasi muda berbusana batik yaitu nilai estetika, prestise, fashionable, identitas bangsa, dan fleksibilitas. Nilai estetika pada batik merupakan intensi utama menggunakan pakaian batik pada generasi muda yang diprediksi oleh sikap terhadap batik dan kontrol terhadap perilaku berbusana batik. Penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga adalah faktor pendorong (norma subyektif) generasi muda menggunakan batik
Efektivitas Pelatihan Kebermaknaan Kerja untuk Meningkatkan Keterikatan Karyawan pada Perawat Juniartika, Rifa; Sari, Erita Yuliasesti Diah; Widiana, Herlina Siwi
Mediapsi Vol 6 No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2020.006.01.4

Abstract

One of the important human resources in hospital is nurses. Nurses with high employee engagement are expected to be able to provide excellent services to patients so that they can increase public trust in hospitals as health care. When demonstrating low sense of  engagement with their job in a hospital, nurses tend to be less friendly towards patients, causing complaints from patients. One effort to increase employee engagement is by providing work meaningfulness training. To this end, the purpose of this study was to examine the effectiveness of work meaningfulness training to improve employee engagement among nurses in hospitals. Participants were 16 nurses who were randomly assigned to either an experimental group or control group. The research design in this study was pretest-posttest control group design. The result showed a significant effect of work meaningfulness training on the level of employee engagement. Perawat adalah salah satu sumber daya penting dalam rumah sakit. Perawat dengan keterikatan karyawan yang tinggi diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima terhadap pasien sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Keterikatan karyawan yang rendah pada perawat di rumah sakit menimbulkan perilaku kurang ramah perawat kepada pasien sehingga menyebabkan komplain dari pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterikatan karyawan tersebut ialah memberikan pelatihan kebermaknaan kerja. Tujuan penelitian ini ialah untuk menguji efektivitas pelatihan kebermaknaan kerja dalam meningkatkan keterikatan karyawan pada perawat di rumah sakit. Subjek dalam penelitian adalah 16 orang perawat di sebuah rumah sakit yang secara random terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Desain penelitian adalah pretest-posttest control group design. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan pelatihan kebermaknaan kerja terhadap tingkat keterikatan karyawan.
Gangguan Mental Emosional dan Kesepian pada Mahasiswa Baru Prasetio, Clement Eko; Rahman, Tiffani Amalia; Triwahyuni, Airin
Mediapsi Vol 5 No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2019.005.02.4

Abstract

In the transition period from high school to college, freshmen have to deal with the new environment, which makes them vulnerable to experience symptoms of mental  disorders. The aim of the current study was to examine the role of loneliness as a predictor of symptoms of mental disorders among freshmen. Using a convenience sampling, 151 first-year undergraduate students from one faculty at Universitas Padjadjaran took part in the current study. The respondents completed a self-report questionnaire consisting of WHO Self-Report Questionnaire (SRQ) to assess symptoms of mental disorders and UCLA Loneliness scale to assess loneliness. The result showed that loneliness significantly predicted  symptoms of mental disorders among freshmen. Theoretical implications of these empirical findings are discussed, as are practical implications highlighting the suggestions for the university stakeholders to implement an intervention that is effective in tackling freshmen’s mental disorders such as social skill training, increasing social support, and increasing probability of social contactPada masa transisi dari sekolah menengah atas ke perkuliahan, mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Akibatnya, pada masa ini mahasiswa sering mengalami gejala-gejala gangguan mental emosional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji peran perasaan kesepian dalam memprediksi gangguan mental emosional di kalangan mahasiswa baru. Melalui penarikan sampel yang bersifat convenient, sebanyak 151 mahasiswa baru  pada salah satu fakultas di Universitas Padjadjaran berpartisipasi dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yaitu Self Report Questionnaire (SRQ) untuk mengukur gejala gangguan mental emosional dan UCLA Loneliness Scale untuk mengukur tingkat kesepian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesepian dapat menjadi prediktor gangguan mental emosional pada mahasiswa baru. Implikasi teoretis dari temuan ini kami diskusikan, dan juga implikasi praktis yang menekankan pada pentingnya bagi pihak universitas untuk menerapkan sebuah intervensi yang efektif dalam menangani gangguan mental emosional di kalangan mahasiswa baru, seperti pemberian pelatihan keterampilan sosial, peningkatan dukungan sosial serta kontak sosial
Front Matters Vol. 5 No. 1 Mediapsi, Mediapsi
Mediapsi Vol 5 No 1 (2019): JUNE
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2019.005.01.6

Abstract

Front Matters Vol. 5 No. 1
Back Matters Vol. 5 No. 1 Mediapsi, Mediapsi
Mediapsi Vol 5 No 1 (2019): JUNE
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2019.005.01.7

Abstract

Back Matters Vol. 5 No. 1
Work-Family Enrichment dan Work Engagement pada Karyawan yang Sudah Menikah Susilo, Diaz Fahmi Zakiy; Prahara, Sowanya Ardi
Mediapsi Vol 5 No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2019.005.02.5

Abstract

The current research aims to examine the relationship between work-family enrichment and work engagement among married employees. The design of the current research was a correlational survey in which the data were analysed using the Pearson’s product moment correlation. Among 39 married employees at Wisma Wisma Yogyakarta who were drawn on the basis of the purposive sampling, the result revealed as hypothesised that work-family enrichment was significantly and positively correlated with work engagement. We discuss this empirical finding in terms of theoretical and practical implications, as well as directions for future studiesPenelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara work-family enrichment dengan work engagement pada karyawan yang sudah menikah. Penelitian ini didesain sebagai survei korelasional dimana data dianalisis menggunakan Pearson’s product moment correlation. Subjek penelitian adalah 39 karyawan yang sudah menikah, yang direkrut atas dasar purposive sampling. Hasil penelitian mendukung hipotesis yang ditetapkan dimana work-family enrichmentberhubungan secara signifikan ke arah positif dengan work engagement. Temuan penelitian ini didiskusikan baik dari segi implikasi teoretis dan praktis, serta saran-saran untuk penelitian lanjutan
Intensi Melukai Diri Remaja Ditinjau Berdasarkan Pola Komunikasi Orang Tua Afrianti, Ridha
Mediapsi Vol 6 No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2020.006.01.5

Abstract

Adolescents’ tendency of self-harming continues to increase both quantitatively and qualitatively. Self-harming denotes one of the self-defence strategies to reduce psychological pain, in an attempt of individuals to regain homeostatic emotion. One factor that causes self-harming is the lack of effective communication between adolescents and their parents. Parents themselves oftentimes use various communication patterns, be they consensual, pluralistic, protective, or laissez-faire. The purpose of this study was to examine the impact of such differences in parental communication patterns on self-harming intentions among adolescents. Participants were 103 adolescents drew from an accidental sampling technique. The results showed that parental communication patterns significantly affected adolescents’ self-harming intensions. Kecenderungan remaja melukai diri terus meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perilaku melukai diri merupakan salah satu bentuk strategi perlindungan diri untuk membantu mengurangi rasa sakit psikologis, sebagai upaya individu untuk mendapatkan kembali keseimbangan emosional. Salah satu faktor yang menyebabkan perilaku melukai diri adalah kurang efektifnya komunikasi antara remaja dan orang tua mereka.  Orang tua biasanya menerapkan pola komunikasi yang berbeda-beda, mulai dari pola komunikasi yang bersifat konsensual, pluralistik, protektif ataupun laissez-faire. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pola komunikasi orang tua yang berbeda-beda tersebut terhadap intensi melukai diri pada remaja. Partisipan adalah 103 remaja yang diperoleh atas dasar sampling aksidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pola komunikasi orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap intensi melukai diri pada remaja.