cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
HUBUNGAN ANTARA IgM ANTI-CYTOMEGALOVIRUS (CMV), DNA CMV SALIVA DAN URIN PADA BAYI DENGAN MANIFESTASI KLINIS INFEKSI CMV KONGENITAL Lucida, Maria Inge; Ratridewi, Irene; Santosaningsih, Dewi
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.282 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.2

Abstract

 Human cytomegalovirus merupakan penyebab utama infeksi kongenital di seluruh dunia. Infeksi     kongenital cytomegalovirus (CMV) berkontribusi terhadap morbiditas, mortalitas, dan kualitas hidup bayi. Diagnosis tidak dapat ditegakkan berdasarkan klinis saja, namun diperlukan juga deteksi laboratoris. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan manifestasi klinis infeksi CMV kongenital pada bayi dengan pemeriksaan serologi (IgM) dan pemeriksaan DNA CMV pada spesimen urin dan saliva. Penelitian cross-sectional ini melibatkan bayi dengan gejala mengarah pada infeksi CMV. Pemeriksaan IgM anti-CMV     dilakukan pada sampel darah dengan teknik µ capture dan  DNA CMV pada sampel urin dan saliva diperiksa dengan metode PCR. Data dianalisis secara statistik menggunakan SPSS versi 22. Terdapat 32 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan ikterus tidak behubungan dengan IgM anti-CMV (p = 0,228). Pneumonia dan necrotizing enterocolitis (NEC) berhubungan dengan IgM anti-CMV dengan nilai p berturut-turut 0,002 dan 0,034. Manifestasi klinis CMV kongenital tidak berhubungan dengan DNA CMV urin maupun saliva. IgM anti-CMV berhubungan signifikan dengan DNA CMV urin (p = 0,002) dan DNA CMV saliva (p = 0,000).  Sensitivitas pemeriksaan IgM anti-CMV terhadap DNA saliva dan urin berturut-turut sebesar 80% dan 75%, sedangkan spesifitas 92,6% dan 89,3% pada bayi dengan manifestasi klinis infeksi kongenital. Dapat disimpulkan bahwa ikterus tidak berhubungan dengan IgM anti-CMV, sedangkan pneumonia dan NEC berhu-bungan dengan IgM anti-CMV. Manifestasi klinis CMV kongenital tidak berhubungan dengan DNA CMV pada bayi. Didapatkan IgM anti-CMV memiliki hubungan dengan DNA CMV. Dan didapatkan nilai sesnsitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif dan nilai prediktif negatif yang lebih rendah pada pemeriksaan IgM . 
HUBUNGAN ANTARA PRESTASI BELAJAR DENGAN SKABIES PADA SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN AN-NUR 2 PUTRI AL-MURTADLO, MALANG Widasmara, Dhelya; Sanata, Panji; Tamadi, Virginia Rosa
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.369 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.6

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh parasit atau tungau Sarcoptes scabiei. Tungau Sarcoptes scabiei ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan bantuan alat mikroskop. Penyebaran penyakit skabies ini bisa dengan kontak langsung ataupun secara tidak langsung melalui sprei, pakaian, handuk, dan lainnya. Penyakit skabies lebih sering menyerang komunitas atau daerah dengan padat penduduk seperti pesantren, asrama, lembaga pemasyarakatan yang kebersihan diri dan lingkungannya kurang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui demografi di pondok pesantren An-Nur 2 Putri Al-Murtadlo Bululawang, Malang dan untuk mengetahui hubungan antara skabies dengan prestasi belajar santriwati. Jenis penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang di antaranya 30 golongan skabies negatif dan 30 lainnya skabies positif. Pemilihan sampel dengan teknik purpose sampling berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data diperoleh dengan kuisioner dan nilai rapor. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna, uji Chi-square menunjukan nilai rapor  sebelum dan sesudah 6 bulan terakhir dengan p-value = 0,000, frekuensi mendapatkan 10 besar di kelas selama tinggal di pesantren didapatkan p-value = 0,001, hasil analisis nilai rapor dengan skabies menunjukkan  p-value = 0,000. Kesimpulannya terdapat pengaruh antara prestasi belajar dengan skabies. 
EFEK EKSTRAK DAUN KENCANA UNGU (Ruellia tuberosa) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHIDA (MDA) USUS TIKUS YANG DIINDUKSI INDOMETASIN Mayangsari, Elly; Kalsum, Umi; Pragiwaksana, R. Galih Agung
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.714 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.3

Abstract

Indometasin adalah salah satu NSAID yang dapat menimbulkan ulkus. Ulserasi akan terjadi di saluran cerna, terutama di lambung, dan usus halus. Dosis 30 mg/kgBB indometasin dapat menghasilkan   senyawa radikal bebas akibat ulserasi dan kerusakan atau disfungsi mitokondria pada sel enterosit dan villus. Senyawa radikal bebas ini jika berikatan dengan lemak tak jenuh akan menghasilkan senyawa baru yaitu malondialdehida (MDA). Kadar senyawa radikal bebas tersebut dapat diukur melalui indikator kadar malondialdehida. Salah satu alternatif terapi stres oksidatif adalah dari tanaman tradisional yaitu daun kencana ungu (Ruellia tuberosa) yang diduga mempunyai aktivitas antioksidan sehingga kerusakan yang terjadi akibat senyawa radikal bebas dapat dihambat. Ektraksi daun kencana ungu menggunakan metode maserasi. Sebanyak 30 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok: kelompok I kontrol negatif (K(-)) tanpa induksi indometasin dan ekstrak Ruellia tuberosa; kelompok II kontrol positif (K(+)) indometasin 30 mg/kgBB p.o; kelompok III dosis 1 (D1) indometasin 30 mg/kgBB p.o + ekstrak Ruellia tuberosa 100mg/kgBB p.o; kelompok IV dosis 2 (D2) indometasin 30 mg/kgBB p.o + ekstrak Ruellia tuberosa 150mg/kgBB p.o; kelompok V dosis 3 (D3) indometasin 30 mg/kgBB p.o + ekstrak Ruellia tuberosa 200mg/kgBB p.o. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa induksi ketiga dosis ekstrak daun kencana ungu dapat menurunkan  kadar MDA usus secara signifikan (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak daun kencana ungu dapat menurunkan kadar MDA usus tikus yang diinduksi indometasin.   
PERBEDAAN KADAR CALPROTECTIN DAN HUMAN BETA DEFENSIN 2 TINJA PADA NEONATUS PREMATUR YANG MENDAPAT ASI, SUSU FORMULA, DAN KOMBINASINYA Ningsih, Rusdian Niati; Primawardani, Putri; Sulistijono, Eko; Tjahjono, Harjoedi Adji
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.463 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.4

Abstract

Insiden enterokolitis nekrotikan (EKN) berkisar 1-5% dari setiap 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian mencapai 20-30%. Pemberian nutrisi yang optimal dapat mengurangi masalah saluran cerna. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar calprotectin sebagai protein inflamasi dan human ß-defensin 2 (hBD-2) tinja sebgai peptida antimikroba pada neonatus prematur yang mengonsumsi ASI, susu formula, maupun ASI dan susu formula. Penelitian ini terdiri dari 39 sampel yang memenuhi kriteria inklusi terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu neonatus prematur yang mengonsumsi ASI saja, susu formula saja, serta kombinasi ASI dan susu formula. Kadar calprotectin dan hBD-2 tinja diukur menggunakan metode ELISA. Hasil menunjukkan rerata kadar calprotectin tinja secara signifikan lebih rendah pada kelompok neonatus prematur yang mendapat ASI saja dibandingkan kelompok susu formula saja maupun kombinasi ASI dan susu formula (p=0,00). Rerata kadar hBD-2 tinja secara signifikan lebih rendah pada kelompok neonatus prematur yang mendapat ASI saja dibandingkan kelompok susu formula saja maupun kombinasi ASI dan susu formula (p = 0,00). Kesimpulannya, kadar calprotectin dan hBD-2 tinja neonatus prematur yang mengonsumsi ASI lebih rendah dibandingkan kelompok susu formula maupun kombinasi ASI dan susu formula. 
HUBUNGAN KADAR HBA1C DENGAN REACTIVE OXYGEN SPECIES DALAM SERUM DARAH DAN GRADASI KATARAK PADA PASIEN KATARAK DENGAN DIABETES MELITUS Handayani, Nina; Trifena, Pasenggo; Vierlia, Wino Vrieda
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.591 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.1

Abstract

Katarak merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan adanya kekeruhan pada lensa mata. Selain karena penuaan, faktor lain yang terlibat dalam pembentukan katarak adalah diabetes melitus. Kondisi hiperglikemia berasosiasi dengan stres oksidatif yang berperan dalam proses pembentukan katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1C dengan reactive oxygen species (ROS) dalam serum darah dan gradasi katarak pada pasien katarak dengan diabetes melitus.  Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan cross-sectional dan teknik consecutive sampling dengan subjek sebanyak 44 orang yang terbagi menjadi 4 kelompok berdasarkan kadar HbA1C: (1). HbA1C normal, (2).  HbA1C terkontrol baik (&lt;6,5%), (3). HbA1C terkontrol sedang (6,5-7.9%), dan (4). HbA1C terkontrol buruk (≥8%); dan 3 kelompok berdasarkan gradasi katarak. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan (p &lt; 0,05) rerata ROS pada masing-masing kelompok HbA1C. Kemudian dari hasil uji lanjut Mann-Whitney, tidak didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 2, 3, dan 4; terdapat perbedaan signifikan antara kelompok 2 dengan 3 dan 4; dan tidak didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok 3 dan 4. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan negatif yang tidak signifikan antara kadar HbA1C dengan ROS pada kelompok 1 (p = 0,958, r = -0,016) dan pada kelompok 4 (p = 0,163, r = -0,477); hubungan negatif yang signifikan pada kelompok 2 (p = 0,04, r = -0,817); dan hubungan positif yang tidak signifikan pada kelompok 3 (p = 0,518, r = 0,232). Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (p &gt; 0,05) rerata kadar ROS pada kelompok gradasi katarak II, III, dan IV. HbA1C dapat digunakan sebagai salah satu penanda peningkatan ROS pada pasien katarak diabetika, dimana tingginya kadar ROS diperkirakan akan menyebabkan peningkatan progresifitas katarak. 
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI KAPUAS HULU Firdaus, Muhammad; Suryaningrat, Windu CHN
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.919 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.5

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki pre-valensi hipertensi sebesar 36%, angka tersebut lebih tinggi dari angka prevalensi hipertensi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan aktivitas fisik dan pola makan dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah Kecamatan Semitau dan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional) yang       dilaksanakan pada bulan Maret hingga Desember 2019. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner penelitian. Penelitian ini berhasil mengumpulkan 100 pasien hipertensi yang bersedia menjadi subjek penelitian dengan rerata (SD) usia 56 (9) tahun dan didominasi laki-laki (71%), dan 10% dengan pasien hipertensi terkontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki hubungan yang bermakna dengan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi (p = 0,027); dengan rerata (SD) nilai MET pasien hipertensi terkontrol dan tidak terkontrol sebesar 5660,0 (4229,4) menit/minggu dan 5077,8 (8952,4) menit/minggu. Di sisi lain, pola makan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi (p = 1,000). Berdasarkan studi ini, dapat disimpulkan bahwa peningkatan aktivitas fisik mempengaruhi pengontrolan tekanan darah pada penderita hipertensi. 
PRODUKSI TOTAL REACTIVE OXYGEN SPECIES PADA KULTUR JARINGAN MOLA HYDATIDOSA KOMPLIT DENGAN PEMAPARAN 17-BETA ESTRADIOL Reksohusodo, Subandi; Nurseta, Tatit
Majalah Kesehatan FKUB Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2021.008.02.1

Abstract

Frekuensi kejadian mola hydatidosa yang berpotensi menjadi penyakit trofoblast ganas terus meningkat. Mekanisme patologis yang mendasari penyakit tersebut belum dapat dieksplorasi secara mendalam, terdapat pemikiran bahwa mekanismenya terkait dengan kerusakan oksidatif yang berhubungan dengan produksi reactive oxygen species (ROS). Diketahui bahwa hormon estrogen dan metabolitnya dapat memproduksi ROS, untuk itu perlu dianalisis seberapa jauh keterlibatan estrogen (17β-estradiol) dalam patomekanisme penyakit ini melalui pengukuran total ROS. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan randomized group control design. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 1 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kultur jaringan mola hydatidosa yang mendapat suplementasi estrogen (17β-estradiol) dalam 4 dosis (5 mg/ml, 10 mg/ml, 20 mg/ml, 40 mg/ml) dan tanpa suplementasi. Dari hasil penelitian didapatkan perbedaan sangat bermakna kadar ROS antara kelompok kontrol dengan kelompok 17β-estradiol 5 mg/ml dan 17β-estradiol 40 mg/ml (p = 0,000 < 0,05), antara kelompok perlakuan 17β-estradiol 10 mg/ml dan 17β-estradiol 40 mg/ml (p = 0,000 < 0,05) dan antara kelompok perlakuan 17β-estradiol 20 mg/ml dan kelompok perlakuan 17β-estradiol 40 mg/ml (p = 0,000 < 0,05). Disimpulkan bahwa pemberian 17β-estradiol 20 mg/ml dan 40 mg/ml mempengaruhi produksi total ROS pada kultur jaringan mola hydatidosa. 
PENGARUH PEMBERIAN Nigella sativa TERHADAP KADAR IGE, IL-6 PLASMA SERTA SKOR ASTHMA CONTROL TEST PADA ANAK ASMA RINGAN DAN SEDANG Mutaqin, Fadilah; Barlianto, Wisnu; Santoso, Sanarto
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.04.2

Abstract

Asma adalah penyakit saluran respiratori karena inflamasi kronis yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran respiratori. Patogenesis asma diperankan oleh keseimbangan Th1 dan Th2 yang menstimulasi produksi IgE yang ikatanya dengan sel mast dapat merangsang mediator inflamasi. Selain itu,  IL-6 yang diproduksi oleh Th17 juga berperan pada asma. Nigella sativa terbukti dapat menurunkan Th17 dan dapat memperbaiki nilai kontrol asma. Tuuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa N. sativa dapat mempengaruhi kadar IgE dan IL-6 plasma serta perbaikan skor Asthma Control Test (ACT) pada anak dengan asma ringan dan sedang. Penelitian ini berjenis eksperimental, clinical trial, pre-post control study. Populasi penelitian yaitu penderita asma ringan dan sedang yang dinilai berdasarkan kriteria GINA 2016. Subjek dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A (asma ringan, mendapat terapi short acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan N. sativa) dan kelompok B (asma sedang, mendapat terapi long acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan N. sativa), kelompok C (kontrol) (asma ringan, hanya mendapat terapi short acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah) dan kelompok D (asma sedang, hanya mendapat terapi long acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah). Pada pasien diuji kadar IgE, IL-6 dan skor ACT sebelum dan sesudah perlakuan yang diberikan perlakuan selama 8 minggu. Data dianalisis secara statistik dengan aplikasi SPSS ver 18.  Didapatkan kadar IgE pada kelompok asma sedang (B, D) lebih tinggi dibandingkan dengan asma ringan (A, C) dan didapatkan penurunan rerata kadar IgE total pada semua kelompok meskipun nilainya tidak berbeda bermakna (A: p = 0,482, B: p = 0,277; C: p = 0,18; D: p = 0,655). Didapatkan penurunan rerata kadar IL-6 pada semua kelompok meskipun nilainya tidak berbeda bermakna (A: p = 0,123; B: p = 0,338; C: p = 0,848; D: p = 0,564). Terdapat perbedaan bermakna skor ACT pada kelompok A (p = 0,016) maupun kelompok C (kontrol) (p = 003) dibandingkan dengan sebelum perlakuan. Tidak didapatkan hubungan antara kadar IgE dengan skor ACT maupun IL-6 dengan skor ACT setelah diberikan N. sativa (p > 0,05). N. sativa dapat menurunkan kadar IL-6 dan IgE plasma pada anak dengan asma ringan dan sedang serta perbaikan skor ACT pada anak dengan asma sedang meskipun nilainya tidak berbeda bermakna, tetapi sangat bermakna pada asma ringan. Tidak terdapat hubungan antara penurunan IgE dan IL-6 plasma dengan peningkatan skor ACT setelah pemberian N. sativa pada anak asma ringan dan sedang. 
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI GLASGOW OUTCOME SCALE PADA PASIEN TRAUMA KEPALA (STUDI DI IGD RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG) Indradmojo, Christyaji; Zaiyanah, Munsifah; Setijowati, Nanik; Eddy, Mochammad Istiadjid
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.03.5

Abstract

Trauma kepala yang menyebabkan cedera otak berat traumatik masih menjadi penyebab kematian tertinggi dan kecacatan jangka panjang di negara berkembang. Survival pasien dapat ditingkatkan melalui ketepatan penanganan awal, mempercepat waktu prehospital dan pencegahan kejadian hipotensi. Cedera primer hampir mustahil dicegah, tetapi cedera sekunder dapat diminimalkan bahkan dicegah. EMS  (Emergency Medical Service) berperanan penting dalam menjaga jalan nafas dan perfusi jaringan, serta mencegah kerusakan organ lain. Dengan mendapatkan gambaran yang tepat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi outcome pasien trauma kepala, diharapkan diperoleh solusi yang tepat dan menyusun strategi yang holistik untuk penanganan prahospital pasien trauma kepala di Indonesia. Penelitian ini termasuk observasional analitik dengan desain kohort pada 50 subjek untuk mengkaji faktor-faktor yang memicu terjadinya cedera sekunder dan mempengaruhi nilai GOS (Glasgow Coma Scale) pada pasien trauma kepala di IGD RSUD dr. iskak tulungagung.  Analisis hasil penelitian dilakukan dengan uji chi-square atau Mann-Whitney dan dilanjutkan dengan uji regresi menggunakan SPPS versi 24. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai GOS adalah usia,  mekanisme cedera, GCS masuk, kriteria perawatan, kualifikasi penolong dan intervensi awal (p < 0,05).  Sedangkan faktor jenis kelamin, jenis trauma dan durasi transpor tidak berpengaruh signifikan (p > 0,05) terhadap nilai GOS. Kesimpulannya, makin tinggi usia pasien akan meningkatkan peluang pasien memiliki nilai GOS rendah (Mati-SD). 
EKSTRAK ETANOL DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D.C) MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Bacillus cereus: UJI IN VITRO Nugraheni, Ridha; Noorhamdani, Noorhamdani; Hanif, Hanif
Majalah Kesehatan FKUB Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2021.008.02.2

Abstract

Hospital-acquired infections (HAIs) merupakan infeksi yang terjadi pada pasien saat menerima perawatan di rumah sakit dalam waktu lebih dari 48 jam. Sebagian besar HAIs disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Salah satu penyebabnya adalah bakteri Bacillus cereus. B. cereus memiliki dua jenis toksin yang menyebabkan gejala gastrointestinal. Pada individu immunocompromised, B. cereus dapat menyebabkan sejumlah infeksi sistemik dan lokal fatal. Upaya untuk mengurangi resistensi bakteri adalah dengan mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional, salah satunya dengan menggunakan alternatif pengobatan herbal. Daun jeruk purut (Citrus hystrix D.C) mengandung flavonoid, alkaloid, tannin, kuinon, dan terpenoid yang terbukti memiliki efek antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jeruk purut terhadap B. cereus secara in vitro. Dalam penelitian ini digunakan 7 perlakuan yaitu konsentrasi 3,125%; 6,25%; 12,5%; 25%; 50%; 100%; 0% sebagai kontrol negatif, dan antibiotik kloramfenikol 10 mg/mL sebagai kontrol positif. Pengulangan sebanyak empat kali menggunakan metode difusi sumuran. Hasil menunjukkan rata-rata terbentuknya diameter zona hambat pertumbuhan pada konsentrasi 6,25%; 12,5%; 25%; 50%; 100% berturut-turut 5,93 mm; 7,05 mm; 8,23 mm; 10,41 mm; 12,00 mm. Uji post hoc Tukey HSD menunjukkan ekstrak mulai efektif sebagai antibakteri terhadap B. cereus pada konsentrasi 6,25% (p < 0,05). Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan signifikan antara konsentrasi ekstrak terhadap zona hambat pertumbuhan (p < 0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun jeruk purut efektif sebagai antibakteri B. cereus secara in vitro dan signifikan bila dibandingkan dengan kloramfenikol.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue