cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Journal of Government and Civil Society
ISSN : 25497669     EISSN : 2579440X     DOI : -
The Journal of Government and Civil Society (JGCS) (p-ISSN 2579-4396, e-ISSN 2579-440X) is an academic journal published by Government Science Study Program, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Muhammadiyah Tangerang, Indonesia in collaboration with Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM). Journal of Government and Civil Society (JGCS) published twice in a year. The focus and scope of Journal of Government and Civil Society (JGCS) are about local and regional government, governance, public services, politics, democracy and elections, civil society, and public policy.
Arjuna Subject : -
Articles 135 Documents
The Implementation Of Pertisun As A Policy Innovation In Absorbing Public Aspirations In Merangin Regency Pahrudin HM; Agus Mustawa; Riant Nugroho; Abdul Halim
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 1 (2022): Journal of Government and Civil Society (April)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i1.5599

Abstract

ABSTRACTThis study aims to analyze the implementation of Pertisun as a policy innovation in Merangin Regency. The autonomy performance gives the regions sufficient flexibility in managing their territory. Its form is regional development programs based on community inputs. Various studies show that many people’s desires are not accommodated in conventional mechanisms, thus requiring innovative ways. Merangin Regency has Pertisun as a mechanism to pick up people’s aspirations, especially in remote areas. Innovation is an idea, product, information technology, institution, behaviour, values, and new practices or objects that individuals or society perceive as something new. According to van Metter and van Horn, six the performance of public policy implementation, namely: policy size and purpose, resources, characteristics of implementing agents, attitudes and variables affect tendencies of the implementers, inter-organizational communication and implementing activities, and economic, social and political environment. This study was conducted using a qualitative research approach in Merangin Regency. This study found that the implementation of the Pertisun program has been going well as innovative policy in absorbing people’s aspirations. The Pertisun program has been able to increase the role of the community in development activities, especially public aspiration in the development planning stage. Keywords: Policy implementation, policy innovation, local government, Pertisun ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Pertisun sebagai inovasi kebijakan di Kabupaten Merangin. Kinerja otonomi memberikan keleluasaan yang cukup bagi daerah dalam mengelola wilayahnya. Wujudnya adalah program pembangunan daerah yang berbasis masukan masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keinginan banyak orang tidak terakomodasi dalam mekanisme konvensional, sehingga membutuhkan cara-cara yang inovatif. Kabupaten Merangin memiliki Pertisun sebagai mekanisme penampung aspirasi masyarakat khususnya di daerah terpencil. Inovasi adalah ide, produk, teknologi informasi, institusi, perilaku, nilai, dan praktik atau objek baru yang dirasakan oleh individu atau masyarakat sebagai sesuatu yang baru. Menurut van Metter dan van Horn, enam kinerja implementasi kebijakan publik, yaitu: ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, karakteristik agen pelaksana, sikap dan variabel yang memengaruhi kecenderungan pelaksana, komunikasi antarorganisasi dan kegiatan pelaksana, serta ekonomi, lingkungan sosial dan politik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif di Kabupaten Merangin. Kajian ini menemukan bahwa implementasi program Pertisun telah berjalan dengan baik sebagai kebijakan inovatif dalam menyerap aspirasi masyarakat. Program Pertisun mampu meningkatkan peran masyarakat dalam kegiatan pembangunan, khususnya aspirasi masyarakat dalam tahap perencanaan pembangunan. Kata Kunci: Implementasi kebijakan, inovasi kebijakan, pemerintah daerah, Pertisun
Muhammadiyah Social Movement: Networking and Philanthropy in Handling Covid-19 in Indonesia Dian Eka Rahmawati; Cahya Wulan Wulan
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 1 (2022): Journal of Government and Civil Society (April)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i1.4177

Abstract

ABSTRACTThe government’s limited resources in dealing with the Covid-19 pandemic require civil society organizations (CSOs). Since the first outbreak of Covid-19, Muhammadiyah has become one of the CSOs active in handling Covid-19 in Indonesia. Muhammadiyah’s experience and resources are a tremendous asset to sustain the country’s limitations. One of these assets is Muhammadiyah’s philanthropic and network strength. Therefore, this study aims to find and analyze the philanthropic movement and the Muhammadiyah network. This research uses qualitative research methods, with interview and documentation data collection techniques. Interviews were conducted with several sources from MCCC and Lazismu and previous studies. The study results indicate that the extent of the network and public trust in Muhammadiyah are potent modalities for obtaining and managing resources, especially assistance. In various forms, the help of Muhammadiyah members shows a strong sense of brotherhood during the pandemic across religious, ethnic, and economic class boundaries. Assistance from various domestic and foreign donor agencies shows the trust and confidence of Muhammadiyah to manage its trust. With it, we can reach and distribute it to the grassroots level. In addition to the resources that Muhammadiyah has, many philanthropic social movements carried out during the pandemic are supported by these resources. This proves that in limitations during the Covid-19 pandemic, Muhammadiyah, as a CSO, can fill the country’s restrictions through philanthropic movements in health, economy, religion, and education. Keywords: Civil society organization (CSO), Muhammadiyah, networking, philanthropy movement ABSTRAKKeterbatasan sumber daya pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 membutuhkan organisasi masyarakat sipil (ORMAS). Sejak pertama kali mewabahnya Covid-19, Muhammadiyah menjadi salah satu CSO yang aktif dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Pengalaman dan sumber daya Muhammadiyah adalah aset yang luar biasa untuk mempertahankan keterbatasan negara. Salah satu aset tersebut adalah kekuatan filantropi dan jaringan Muhammadiyah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis gerakan filantropi dan jaringan Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan beberapa sumber dari MCCC dan Lazismu dan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejauh mana jaringan dan kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah adalah modalitas yang kuat untuk memperoleh dan mengelola sumber daya, terutama bantuan. Dalam berbagai bentuk, bantuan anggota Muhammadiyah menunjukkan rasa persaudaraan yang kuat selama pandemi melintasi batas-batas agama, etnis, dan kelas ekonomi. Bantuan dari berbagai lembaga donor dalam dan luar negeri menunjukkan kepercayaan dan keyakinan Muhammadiyah untuk mengelolanya dengan amanah. Dengan itu, dapat menjangkau dan mendistribusikannya ke tingkat akar rumput. Selain sumber daya yang dimiliki Muhammadiyah, banyak gerakan sosial filantropis yang dilakukan selama pandemi didukung oleh sumber daya tersebut. Hal ini membuktikan bahwa dalam keterbatasan di masa pandemi Covid-19, Muhammadiyah sebagai CSO dapat mengisi keterbatasan negara melalui gerakan filantropi di bidang kesehatan, ekonomi, agama, dan pendidikan. Kata Kunci: Organisasi masyarakat sipil (OMS), Muhammadiyah, jejaring, gerakan filantropi
Non-Pharmaceutical Intervention Policies in Overcoming COVID-19 in Aceh: A Cross-Sectional Online Survey Saddam Rassanjani; Aryos Nivada; Ratnalia Indriasari; Iqbal Ahmady
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 1 (2022): Journal of Government and Civil Society (April)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i1.5618

Abstract

ABSTRACTCOVID-19, which transmitted rapidly from China, has crossed all the lands in the world, infecting people in every corner. This phenomenon has shocked the public on a large scale, ranging from the mass media; government; to individuals. This study seeks to assess the perceptions of the Acehnese regarding government policy in dealing with COVID-19 in the local realm, especially related to the implementation of non-pharmaceutical interventions (NPIs). An online survey was conducted using a semi-structured questionnaire using a non-probability snowball sampling technique to answer the abovementioned problem. Finally, the questionnaire distributed online collected as many as 264 respondents. In general, the results of the study report that respondents have a high level of compliance with the policies taken by the government in fighting the Coronavirus. Most of them claim to be ready to help their neighbors who have problems with loss of livelihood during the implementation of NPIs that require people to work at home. Interestingly, even though the community has shown willingness to follow government guidelines on quarantine and social distance, most people reject the call to worship at home. Therefore, in formulating the best policy, a comprehensive socio-economic study and cooperation from community leaders, especially religious leaders, are needed to equalize the public’s perception. Keywords: Non-pharmaceutical intervention, public policy, Covid-19, Aceh ABSTRAKCOVID-19 yang menular dengan cepat dari Cina telah melintasi seluruh daratan di dunia, menjangkiti manusia di setiap sudut. Fenomena ini telah menghebohkan publik secara besar-besaran, mulai dari media, pemerintah, hingga individu. Kajian ini berupaya mengkaji persepsi masyarakat Aceh mengenai kebijakan pemerintah dalam menangani COVID-19 di ranah lokal, khususnya terkait penerapan intervensi nonfarmasi (NPIs). Untuk menjawabnya, dilakukan survei online dengan menggunakan kuesioner semi terstruktur dengan teknik non-probability snowball sampling, dan akhirnya berhasil mengumpulkan sebanyak 264 tanggapan. Secara umum responden memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap kebijakan yang diambil pemerintah dalam memerangi virus corona. Sebagian besar dari mereka mengaku siap membantu tetangganya yang bermasalah dengan hilangnya mata pencaharian selama penerapan NPIs. Menariknya, meski masyarakat telah menunjukkan kesediaan untuk mengikuti pedoman pemerintah tentang karantina dan menjaga jarak, kebanyakan orang menolak ajakan untuk beribadah di rumah masing-masing. Oleh karena itu, dalam merumuskan kebijakan yang terbaik, diperlukan kajian sosial ekonomi yang komprehensif dan kerjasama dari tokoh masyarakat, khususnya tokoh agama, untuk menyamakan persepsi masyarakat. Kata Kunci: Non-pharmaceutical intervention, kebijakan publik, Covid-19, Aceh
Analysis of the Impact of Policy and Political Economics in The Development of The Rattan Craft Industry in Cirebon Haryono Haryono; Titik Sumarti; Didin S Damanhuri; Sofyan Sjaf
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 1 (2022): Journal of Government and Civil Society (April)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i1.5043

Abstract

ABSTRACTThe rattan handicraft industry is growing rapidly, supported by government policies in the rattan trading system and people who have expertise and skills in managing rattan into household handicraft products. The presence of this industry creates a pattern of relations in it as a symptom of political economy, where the pattern of relations which generally involves business and political relations develops into a pattern of relations between actors in the economy itself. These actors take advantage of the rattan industry for profit (rent-seeking) improperly or through transaction processes outside the economy. The results showed that the dynamics of the rattan industry development were highly dependent on government policies in the raw rattan trading system. The production process involves exporters, pengesub, raw material traders, and local traders. The rattan industry creates a relationship pattern in the form of exploitation and cooperation with three types of socio-economic-political relations between actors in the rattan handicraft industry. Rent-seeking can be categorized into local, national, and global rent-seeking.Keywords: rattan handicraft industry, political economy, rent-seeking actorsABSTRAKIndustri kerajinan rotan berkembang dengan pesat didukung oleh kebijakan pemerintah dalam tataniaga rotan dan masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam mengelola rotan menjadi produk-produk kerajinan rumah tangga. Hadirnya industri ini menimbulkan pola relasi di dalamnya sebagai suatu gejala ekonomi politik, dimana pola relasi yang pada umumnya melibatkan relasi bisnis dan politik berkembang menjadi pola relasi antar aktor dalam ekonomi itu sendiri. Aktor- aktor ini memamfaatkan industri rotan untuk mendapatkan keuntungan (rent-seeking) dengan tidak wajar atau melalui proses transaksi di luar ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika perkembangan industri rotan sangat tergantung dari kebijakan pemerintah dalam tataniaga rotan mentah. Proses produksi melibatkan aktor-aktor eksportir, pengesub, pedagang bahan baku dan pedagang lokal. Industri rotan menimbulkan pola relasi yang berbentuk eksploitasi dan juga Kerjasama dengan tiga tipe sosial ekonomi politik relasi aktor dalam industri kerajinan rotan. Rent seeking dapat dikategorikan ke dalam rent seeking lokal, nasional dan global.Kata Kunci: Industri kerajinan rotan, ekonomi politik, aktor rent-seeking
National Program, Local Response: Dynamic of Unconditional Cash Transfer Distribution to Poor Families in Maros Regency, Indonesia Jaelan Usman; Muhammad Rusydi; Mahnoor Farooq
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.6150

Abstract

This study aims to explore the implementation of social assistance programs in improving the welfare of the poor affected by Covid-19 in Maros Regency. This is based on the consideration that the Family Hope Program is a conditional social assistance program, namely Beneficiary Families in supporting the improvement of the welfare of the poor between generations. We investigated the contribution of various possible pathways to the program’s overall impact, including education, health, consumption, caregiver stress levels and life satisfaction, perceived social support, and participation in hard and unpleasant work. The method used is qualitative-explorative with a phenomenological approach, to explore the Unconditional Cash Transfer (BLT) program to help the poor during the COVID-19 pandemic in Maros Regency, data analysis using Nvivo 12 Pro to interpret phenomena more deeply to get the best findings. The results of this study underline that unconditional cash grants are used on a scale that is getting bigger as part of Indonesia’s national social protection system. Unconditional Cash Transfer (BLT) distributed to poor families in Maros Regency aims to ease the economic burden due to Covid-19 Pandemic. Then the Maros Regency Government integrated social programs in collaboration with the Central Government, Regional Social Institutions, and Ombudsman to help poor families avoid economic, health, and education difficulties during Covid-19 Pandemic in Maros Regency. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasikan pelaksanaan program bantuan sosial dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin yang terdampak akibat Covid-19 di Kabupaten Maros. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa Program Keluarga Harapan adalah program bantuan social yang bersyarat, yaitu Keluarga Penerima Manfaat dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin antar generasi. Kami menyelidiki kontribusi berbagai kemungkinan jalur untuk dampak program secara keseluruhan, termasuk pendidikan, kesehatan, konsumsi, tingkat stress pengasuh dan kepuasan hidup, dukungan sosial yang dirasakan, dan partisipasi dalam kerja keras dan tidak menyenangkan. Metode yang digunakan kualitatif-eksploratif dengan pendekatan fenomenologi, untuk mengeksplorasikan program bantuan langsung tunai (BLT) untuk membantu masyrakat miskin di masa pandemi covid-19 di Kabupaten Maros, analisis data menggunakan Nvivo 12 Pro untuk menginterpertasikan fenomena lebih mendalam untuk mendapatkan temuan terbaik. Hasil penelitian ini menggarisbawahi bahwa hibah tunai tanpa syarat, yang digunakan dalam skala yang semakin besar sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial nasional di Indonesia. Bantun Langsung Tunai (BLT) yang disalurkan untuk keluarga miskin di Kabupaten Maros bertujuan untuk meringankan beban ekonomi akibat pandemi covid-19. Kemudian Pemerintahan Kabupaten Maros melalukan integrasi program sosial yang bekerjasama dengan pemerintah pusat, lembaga social daerah, dan Ombusman untuk membantu keluarga miskin terhindar dari kesulitan ekonomi, Kesehatan dan pendidikan selama pandemi Covid-19 di Kabupaten Maros.
Strengthening Pancasila in Religious Life: Pioneering a New Form of Relations between Islam and Pancasila Ma'mun Murod; Ali Noer Zaman; Djoni Gunanto; Usni Usni
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.5910

Abstract

This article has the main discussion on the relationship between Islam and Pancasila. This article aims to find out more about the opinions of Islamic mass organizations leaders about the relationship between Islam and Pancasila. In addition, this article aims to map the views and thoughts of religious leaders about Pancasila in religious life. This article uses explorative interpretive quantitative and qualitative methods. Quantitative data was collected by surveying 40 Muhammadiyah figures, 40 NU figures, and 20 other Islamic mass organizations. The survey was conducted randomly on the figures of Islamic organizations with a random selection of respondents at the national and provincial levels. This survey uses purposed random sampling. This study describes and explains a phenomenon that occurs by using an interpretive understanding approach to reality or the object of research. Through this study it was found that as many as 21% of respondents strongly agree and 79% agree that Pancasila is the basis of the state. Although support for Pancasila as the state ideology is very high, in the related survey there are inconsistencies, namely as many as 33% still crave the presence of the Jakarta Charter in the constitution, while 67% reject related matters. In general, this article argues that the relationship between Islam and Pancasila today is better than before because the majority of Muslims have accepted Pancasila as the basis of the state constitution. it was found that as many as 21% of respondents strongly agree and 79% agree that Pancasila is the basis of the state. Artikel ini memiliki pembahasan utama tentang hubungan antara Islam dan Pancasila. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pendapat para tokoh ormas Islam tentang hubungan Islam dan Pancasila. Selain itu, artikel ini bertujuan untuk memetakan pandangan dan pemikiran para pemuka agama tentang Pancasila dalam kehidupan beragama. Artikel ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif interpretatif eksploratif. Data kuantitatif dikumpulkan dengan mensurvei 40 tokoh Muhammadiyah, 40 tokoh NU, dan 20 tokoh ormas Islam lainnya. Survei dilakukan secara acak terhadap tokoh-tokoh ormas Islam dengan pemilihan responden secara acak di tingkat nasional dan provinsi. Survei ini menggunakan purposed random sampling. Penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan suatu fenomena yang terjadi dengan menggunakan pendekatan pemahaman interpretative terhadap realitas atau objek penelitian. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 21% responden sangat setuju dan 79% setuju bahwa Pancasila adalah dasar negara. Meski dukungan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara sangat tinggi, dalam survei terkait terdapat inkonsistensi, yakni sebanyak 33% masih mendambakan kehadiran Piagam Jakarta dalam konstitusi, sedangkan 67% menolak hal terkait. Secara umum, artikel ini berpendapat bahwa hubungan Islam dan Pancasila saat ini lebih baik dari sebelumnya karena mayoritas umat Islam telah menerima Pancasila sebagai dasar konstitusi negara. Ditemukan bahwa sebanyak 21% responden sangat setuju dan 79% setuju bahwa Pancasila adalah dasar negara.
The Global Role of Cities Government on Tackling Covid-19 Dyah Estu Kurniawati; Eko Priyo Purnomo; Ali Roziqin; Rizka Zahrotun Khairina
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.6075

Abstract

Decentralization have encouraged substate actors to take the opportunity to conduct international relations and cooperation in an effort to combat the negative impacts of Covid-19. The method of this study is a literature review of 20 journal articles from Google Scholar and ResearchGate with paradiplomacy, the global role of cities, and the handling of covid-19 as keywords. The study also used sources from credible news websites. Data analysis using MAXQDA with coding methods. The codes are classified based on the categories of journals and articles that have been collected. As a result, the world’s city governments have some aggressive responses to combat Covid-19. The responses are cooperation through sister city schemes, global city networks, partnerships with NGOs, partnerships with IGO, seeks to promote dialogue in diplomatic tensions, partnerships with foreign military forces and conducting foreign missions. The current article aims to support future research in this growing field by highlighting some of the most important findings, questions, and approaches, focusing on how paradiplomacy creates a pattern of communication between cities, especially during difficult times such as a pandemic. Studi ini menggambarkan bagaimana peran global pemerintah kota dalam menanggulangi Covid-19 dengan paradiplomacy. Globalisasi dan Desentralisasi telah mendorong para pelaku substate untuk mengambil kesempatan melakukan hubungan dan kerja sama internasional dalam upaya untuk memerangi dampak negatif Covid-19. Metode dari penelitian ini adalah tinjauan literatur dari 20 artikel jurnal dari Google Scholar dan ResearchGate dengan kata kunci paradiplomasi, peran global kota, dan penanganan covid-19. Studi ini juga menggunakan sumber-sumber dari situs web berita yang kredibel. Analisis data menggunakan MAXQDA dengan metode coding. Kode-kode tersebut diklasifikasikan berdasarkan kategori dari jurnal dan artikel yang telah dikumpulkan. Hasilnya, pemerintah kota di dunia memiliki beberapa respons agresif untuk memerangi Covid-19. Respon tersebut antara adalah kerjasama melalui skema sister city, jaringan kota global, kemitraan dengan LSM, kemitraan dengan IGO, berusaha untuk mempromosikan dialog dalam ketegangan diplomatik, kemitraan dengan pasukan militer asing dan melakukan misi asing.
Government Capacity Gap in Handling Covid-19 in Lampung Province Robi Cahyadi Kurniawan; Dodi Faedlulloh; Arizka Warganegara; Dedy Hermawan
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.5204

Abstract

As a transit area for economic activities between the islands of Sumatra and Java, Lampung Province has a high risk of becoming a point of virus transmission. Local governments must be able to deal with Covid-19. This study aims to assess the capacity of the Lampung Provincial Government in dealing with Covid-19. Government capacity is essential for crisis management, such as during a pandemic. The research approach used is a qualitative method that includes primary and secondary data and focuses on reviewing literature from reliable sources. The findings reveal that the capacity of the Lampung Provincial Government in terms of fiscal capacity, infrastructure, operational capacity, and political capacity is still lacking. The implication is that the Lampung Provincial Government needs to evaluate and prioritize capacity building, especially political capacity in terms of responsive political communication to maintain public trust. Provinsi Lampung sebagai wilayah transit kegiatan ekonomi antara pulau Sumatera dan Jawa berisiko tinggi menjadi titik penularan virus. Pemerintah daerah harus mampu menangani Covid-19. Kajian ini bertujuan untuk menilai kapasitas Pemerintah Provinsi Lampung dalam menangani Covid-19. Kapasitas pemerintah merupakan aspek penting untuk manajemen krisis seperti saat pandemi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang mencakup data primer dan data sekunder dan difokuskan pada tinjauan pustaka dari sumber yang dapat dipercaya. Hasil temuan mengungkapkan bahwa kapasitas Pemprov Lampung dalam hal kapasitas fiskal, kapasitas infrastruktur dan operasional, serta kapasitas politik masih kurang. Implikasinya, Pemerintah Provinisi Lampung perlu melakukan evaluasi dan melakukan prioritas pengembangan kapasitas, khususnya kapasitas politik dalam hal komunikasi politik yang responsif untuk menjaga kepercayaan publik.
Human Ecosystem Approach to The Dynamics of Sustainable Development in Komodo National Park, Indonesia Imelda Masni Juniaty Sianipar; Aarce Tehupeiory; Arthuur Jeverson Maya; Huynh Le Anh Huy; Huynh Quoc Tuan; I Wayan Koko Suryawan
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.6733

Abstract

This article aims to present the dynamics of sustainable development in Komodo National Park (KNP) using a human ecosystem model. The Human Ecosystem model is a coherent system of biophysical and social factors capable of adaptation and sustainability over time. A rural village in Komodo island, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara, Indonesia can be considered a human ecosystem because it has identifiable boundaries, essential ecosystem functions, resource flows, social structures, social processes (including adaptive responses to changed conditions), and dynamic continuity over a period. In 2020, the “Jurassic Park” tourism project in Komodo National Park has become a hot topic on social media after a photo of a Komodo dragon blocking a truck popped up. The project’s rejection became the most popular topic on Twitter with the hashtag #savekomodo. Various groups believe that the project will destroy the Komodo dragon’s natural habitat, evict the local population, and be carried out solely for financial gain. As a result, it is critical to understand the current situation there. The HEM helps us identify the critical resources and the social systems, as well as the key flows that contribute to the dynamic of the human ecosystem in KNP. This article yields three important findings that should be considered in the future management of KNP. First and foremost, the Komodo dragon population is still stable, but it has the potential to decline in the long term due to changes in spatial planning, an increase in tourists, a decrease in food, and poaching. Second, expanding large-capital corporations that can replace local businesses such as boat rentals, car rentals, homestay businesses, restaurants, souvenirs, and tour guides/rangers will reduce local people’s income from tourism. Third, kinship relationships between Komodo dragons and the clan of Ota Moda are eroding because of fewer encounters between Komodo dragons and the island’s indigenous tribal communities. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan dinamika pembangunan berkelanjutan di Taman Nasional Komodo (TNK) dengan menggunakan model human ekosistem. Model human ekosistem adalah system koheren dari faktor biofisik dan sosial yang mampu beradaptasi dan berkelanjutan dari waktu ke waktu. Sebuah desa di pulau Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia dapat dianggap sebagai human ekosistem karena memiliki batas-batas yang dapat diidentifikasi, fungsi ekosistem esensial, aliran sumber daya, struktur sosial, proses sosial (termasuk respons adaptif terhadap kondisi yang berubah), dan kontinuitas dinamis selama suatu periode. Pada tahun 2020, proyek wisata “Jurassic Park” di Taman Nasional Komodo menjadi topik hangat di media sosial setelah muncul foto Komodo yang menghalangi truk. Penolakan proyek tersebut menjadi topik paling populer di Twitter dengan tagar #savekomodo. Berbagai kalangan percaya bahwa proyek tersebut akan menghancurkan habitat alami komodo, menggusur penduduk setempat, dan dilakukan semata-mata untuk keuntungan finansial. Akibatnya, sangat penting untuk memahami situasi saat ini di sana. HEM membantu untuk mengidentifikasi sumber daya penting dan sistem sosial, serta arus utama yang berkontribusi pada dinamika human ekosistem di TNK. Artikel ini menghasilkan tiga temuan penting yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan TNK di masa mendatang. Pertama dan terpenting, populasi komodo masih stabil, tetapi berpotensi menurun dalam jangka panjang karena perubahan tata ruang, peningkatan wisatawan, penurunan makanan, dan perburuan liar. Kedua, ekspansi perusahaan modal besar yang dapat menggantikan usaha lokal seperti persewaan kapal, persewaan mobil, usaha homestay, restoran, cinderamata, dan pemandu wisata/ranger akan mengurangi pendapatan masyarakat lokal dari pariwisata. Ketiga, hubungan kekerabatan antara komodo dan klan Ota Moda terkikis karena lebih sedikit pertemuan antara komodo dan komunitas suku asli pulau itu.
Home Care Dottoro’ta As a Development Program Smart City in Makassar City, Indonesia Wahdania Suardi; Titin Purwaningsih; Ihyani Malik; Ahmad Taufik
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 2 (2022): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i2.4104

Abstract

The purpose of this article is to see the extent to which the Dottoro’ta home care is carried out as part of the smart city development program in Makassar City. The method used is a descriptive-qualitative approach which carries a literature study and uses the VOSviewer application in supporting dottoro’ta assembled research mapping. The result of this study is that the relationship between smart cities and technology is a support for the presence of Home Care Dottoro’ta in Makassar City. This is the latest innovation implemented in Makassar City. The home care service program or dottoro’ta is the first health service in Makassar that serves patients at the patient’s home, by calling service 112 and connected to the home care service or dottorot’ta. Services that are on standby and handled by professional health workers, help with adequate medical measures, administration of medicines according to the patient’s illness ambulance service refers to the hospital. By providing 48 units of Home Care cars complete with medical equipment placed in 46 Public Health Centers (PUSKESMAS) and health offices in Makassar City, it is a fairly helpful first step even though it is not optimal in facilities and infrastructure, especially makassar city has 16 sub-districts and related to Dottoro’ta is closely related to implementation, home care services, health service innovation, smart city, doctors and the best price. Tujuan artikel ini adalah untuk melihat sejauh mana terlaksananta home care Dottoro’ta sebagai bagian dari program pengembangan smart city di Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif yang mana mengusung sebuah studi pustaka dan menggunakan aplikasi VOSviewer dalam mendukung pemetaan riset terakit Dottoro’ta. Hasil dari penelitian ini ialah keterkaitan smart city dengan tekhnologi menjadi pendukung hadirnya Home Care Dottoro’ta di Kota Makassar. Hal ini menjadi inovasi terbaru yang dilaksanakan di Kota Makassar. Program layanan home care atau dottoro’ta merupakan layanan kesehatan pertama di Makassar yang melayani pasien di rumah pasien, dengan menelpon ke layanan 112 dan dihubungkan pada layanan home care atau dottorot’ta. Layanan yang siaga dan ditangani oleh petugas kesehatan professional, pertolongan dengan tindakan medis memadai, pemberian obat obatan sesuai dengan penyakit pasien pelayanan mobil ambulance merujuk ke Rumah Sakit. Dengan menyediakan 48 unit mobil Home Care lengkap dengan perlatan medis yang di tempatkan di 46 Public Health Centers (PUSKESMAS) dan dinas kesehatan Kota makassar, menjadi langkah awal yang cukup membantu meskipun belum maksimal dalam sarana dan prasarana, terlebih kota makassar memiliki 16 kecamatan dan terkait dengan Dottoro’ta sangat erat kaitannya dengan, implementasi, layanan home care, inovasi layanan kesehatan, smart city, dokter dan harga terbaik.

Page 8 of 14 | Total Record : 135