cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Mengurangi Ketergantungan Impor Pakan Ikan melalui Insentif Inovasi: Rekomendasi Kebijakan untuk Sektor Perikanan Budi Daya yang Berkelanjutan: Reducing Fish Feed Import Dependency through Innovation Incentives: A Policy Recommendation for a Sustainable Aquaculture Sector Naf'an, Wazir
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.5

Abstract

Tingginya biaya pakan ikan, yang disebabkan oleh ketergantungan impor bahan baku hingga 89%, menjadi hambatan utama bagi keberlanjutan sektor perikanan budi daya di Indonesia. Volatilitas harga pakan pabrikan secara langsung mengancam profitabilitas pembudidaya skala kecil. Penelitian ini menggunakan analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dan mengevaluasi empat alternatif kebijakan berdasarkan kerangka Bardach, yang mencakup kriteria ekonomi, sosial, politik, dan kelayakan teknis. Analisis USG mengidentifikasi volatilitas harga pakan pabrikan sebagai masalah paling mendesak (skor: 15/15). Evaluasi kebijakan menunjukkan bahwa pemberian insentif fiskal untuk inovasi produksi pakan berbasis bahan baku lokal merupakan solusi paling layak (skor: 17/20), karena mendorong transformasi struktural menuju kemandirian pakan, bukan hanya mengatasi gejala jangka pendek. Kebijakan ini selaras dengan Teori Strategic Entrepreneurship, yang mendorong eksplorasi inovasi dan pemanfaatan sumber daya lokal. Artikel ini merekomendasikan agar Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Peraturan Menteri yang mengatur insentif pajak dan subsidi riset bagi produsen pakan, lembaga riset, dan kelompok pembudidaya. Dukungan kolaborasi lintas lembaga dan penerapan standar CPPIB akan memastikan efektivitas kebijakan dalam menurunkan biaya produksi, meningkatkan profitabilitas pembudidaya, serta mendukung pencapaian target nasional seperti RPJMN 2025–2029 dan program Makan Bergizi Gratis.   High fish feed costs, driven by an 89% dependency on imported raw materials, pose a major obstacle to the sustainability of Indonesia's aquaculture sector. The volatility of commercial feed prices directly threatens the profitability of small-scale fish farmers. This study employs a USG (Urgency, Seriousness, Growth) analysis to identify the most pressing issue and evaluates four policy alternatives using Bardach’s framework, which considers economic, social, political, and technical feasibility criteria. The USG analysis identifies the volatility of commercial feed prices as the most critical problem (score: 15/15). Policy evaluation reveals that providing fiscal incentives for innovation in locally-based feed production is the most viable solution (score: 17/20), as it promotes structural transformation toward feed self-sufficiency rather than merely addressing short-term symptoms. This policy aligns with the theory of Strategic Entrepreneurship, which encourages the exploration of innovation and the utilization of local resources. This paper recommends that the Ministry of Marine Affairs and Fisheries issue a Ministerial Regulation to establish tax incentives and research subsidies for feed producers, research institutions, and farming groups. Cross-institutional collaboration and the implementation of Good Practice Feed Manufacturing (CPPIB) standards will ensure the policy’s effectiveness in reducing production costs, improving farmers' profitability, and supporting the achievement of national targets such as the RPJMN 2025–2029 and the Free Nutritious Meal program.
Pengaruh Waktu Penyimpanan terhadap Mutu Gizi Kue Lidah Kucing dengan Bahan Tepung Buah Pedada (Sonneratia sp.): The Effect of Storage Time on the Nutritional Quality of Lidah Kucing Cake using Pedada Fruit Flour (Sonneratia sp.) Nirmala, Dwitha; Mustikasari, Ravanya Eca; Lutfiyah, Lailatul
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.11

Abstract

Kue lidah kucing merupakan kue kering yang memiliki bentuk panjang dan tipis seperti lidah kucing. Produk pangan memiliki batas waktu penyimpanan yang baik dan aman untuk dikonsumsi. Produk pangan yang dapat mengalami kerusakan ini antara lain produk kering seperti biskuit, snack, dan sebagainya. Pertumbuhan mikroorganisme tersebut dapat dihambat dengan menambahkan tepung buah pedada ke dalam produk pangan shingga menambah waktu penyimpanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyimpanan terhadap mutu gizi kue lidah kucing dengan bahan tepung buah pedada. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan percobaan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan waktu penyimpanan kue lidah kucing yaitu 0 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Penelitian ini juga menggunakan parameter utama yaitu kandungan nilai gizi dan kandungan mikroba yang ada pada kue lidah kucing serta parameter pendukung yaitu uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu penyimpanan berpengaruh terhadap mutu gizi kue lidah kucing dengan bahan tepung buah pedada. Terjadi penurunan mutu gizi seperti protein, lemak, karbohidrat, dan kadar air pada kue lidah kucing dengan bahan tepung buah pedada. Lama waktu penyimpanan optimal pada waktu 21 hari karena kue lidah kucing masih dapat mempertahankan mutu gizi.   Lidah kucing cake is a dry cake that has a long and thin shape like a cat's tongue. Food products have a good shelf life and are safe for consumption. Food products that can experience this damage include dry products such as biscuits, snacks, and so on. The growth of these microorganisms can be inhibited by adding pedada fruit flour to food products to increase the shelf life of food products. This study aims to determine the effect of shelf life on the nutritional quality of cat's tongue cake substituted for pedada fruit flour. This research method was experimental using a Completely Randomized Design (CRD) experimental design consisting of 5 treatments for the shelf life of lidah kucing cake, namely 0 days, 7 days, 14 days, 21 days and 28 days. This study also used the main parameters, namely the nutritional value and microbial content of lidah kucing cake as well as supporting parameters, namely organoleptic tests. The results showed that storage time affects the nutritional quality of lidah kucing cakes with pedada fruit flour. There is a decrease in nutritional quality such as protein, fat, carbohydrates, and water content in cat tongue cakes with pedada fruit flour. The optimal storage time is 21 days because the cat's tongue cake can still maintain nutritional quality.
Analisis Kelimpahan Mikroplastik pada Organ Insang dan Usus Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Perairan Tukad Badung, Bali: Analysis of Microplastic Abundance in the Gills and Intestines Organs of Tilapia Fish (Oreochromis niloticus) in Tukad Badung Waters, Bali Juliano, Kevin Wanang; Perwira, Ima Yudha; Saraswati, Ni Luh Gede Rai Ayu
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.6

Abstract

Mikroplastik adalah sampah plastik yang berukuran sangat kecil yaitu 1 μm – 5 mm dan sering ditemukan di permukaan kolom atau dasar badan air. Mikroplastik yang telah terakumulasi ke lingkungan akan berpotensi mengkontaminasi biota akuatik dikarenakan proses rantai makanan yang terjadi pada lingkungan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan dan karakteristik mikroplastik yang ditemukan pada organ insang dan usus ikan nila di perairan Tukad Badung, Bali. Penelitian ini dilaksanakan di Tukad Badung pada bulan Desember 2023 hingga Maret 2024. Sampel ikan nila diambil dari 3 titik yang berbeda dengan metode purposive sampling. Pengamatan partikel mikroplastik dilakukan dengan menggunakan mikroskop stereo dan bantuan software ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik lebih banyak ditemukan pada organ usus (0,077 ± 0,035 partikel/g) daripada organ insang (0,051±0,024 partikel/g). Kelimpahan mikroplastik menurut bentuknya terdapat bentuk fiber dan fragmen. Kelimpahan mikroplastik menurut ukuran terdapat ukuran < 0,5 mm hingga > 3 mm, sedangkan kelimpahan mikroplastik menurut warna terdapat warna hitam, merah, biru, hijau, putih. Dominasi mikroplastik pada organ usus lebih tinggi dari organ insang. Hal ini menunjukkan lebih tingginya mekanisme biomagnifikasi daripada mekanisme biokonsentrasi mikroplastik.   Microplastic is small-size plastic waste, ranging from 1,0 μm to 5,0 mm, and widely found in the water column. Microplastics accumulation in the environment lead to the contamination the of aquatic organisms through food chain in the environment. This study aims to observe the abundance and characteristic of microplastics found on the gill and intestine of Tilapia caught in Tukad Badung, Bali. This study was carried out from December 2023 to March 2024. Tilapia fish sample was collected from 3 different station using purposive sampling method. Microplastic particle observation was performed by using Stereo Microscope and ImageJ Software. The results showed that microplastics were more abundant in the intestine (0.077 ± 0.035 particles/g) than in the gills (0.051 ± 0.024 particles/g). The abundance of microplastics based on their shape was in the form of fibers and fragments. The abundance of microplastics based on size ranged from <0.5 mm to >3 mm, while the abundance of microplastics based on color ranged from black, red, blue, green, and white. The dominance of microplastics in the intestine was higher than in the gills, indicating a higher biomagnification mechanism than the microplastic bioconcentration mechanism.
Pathology of Silver Rasbora (Rasbora argyrotaenia) After Injection of Polyhhenol From Kappaphycus alvarezii Kumalaningrum, Dwi Retna; Mauludia, Farida; Asyabil, Alin; Wahyudi, Diki; Amalya, Tria; Prayogi , M. Fahmi Dimas
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.9

Abstract

Rasbora argyrotaenia is an endemic Indonesian freshwater fish with high economic value. However, its population has decreased due to overexploitation and environmental pollution. One of the sustainable aquaculture approaches that is being developed is the utilisation of natural bioactive compounds such as polyphenol from Kappaphycus alvarezii seaweed. This study aimed to evaluate the pathological impact of polyphenol extract injections from K. alvarezii at various doses on the liver of silver rasbora.  The test fish were given injections into their abdomens at doses of 5.4, 7.2, and 9.0 mg/kg body weight. Tannic acid was used as the positive control, and no injection was given as the negative control. Histopathological results revealed hepatocyte degeneration and necrosis, which worsened at a dose of 9.0 mg/kg, indicating oxidative stress as the primary mechanism of tissue damage. Water quality parameters during the study were within the optimal range for fish life. These findings suggest that while polyphenols have the potential to act as immunostimulants, their use at high doses may cause significant liver toxicity. Therefore, their utilisation in aquaculture must be carefully managed and based on optimal dosages.
Uji Daya Hambat Ekstrak Kasar Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Bakteri Aeromonas Hydrophila Secara In Vitro: In Vitro Inhibitory Test of Rosella Flower (Hibiscus sabdariffa L.) Crude Extract against Aeromonas hydrophila Bacteria Arief, Arassy Vitri; Andayani, Sri; Suprastyani, Heny
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.8

Abstract

Serangan penyakit merupakan salah satu kendala utama yang kerap dihadapi dalam kegiatan budidaya. Salah satu jenis bakteri patogen yang sering menyerang ikan air tawar adalah Aeromonas hydrophila. Bakteri ini diketahui sebagai agen penyebab timbulnya penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) pada ikan. Pengobatan pada ikan yang terinfeksi penyakit dengan penggunaan antibiotik sintesis dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek negatif seperti resistensi dan pencemaran lingkungan. Salah satu metode pengobatan alternatif untuk menangani penyakit akibat bakteri dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya hambat dari ekstrak kasar bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap bakteri A. hydrophila secara in vitro serta untuk mengetahui konsentrasi minimal yang dapat menghambat bakteri tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 perlakuan dan 2 kontrol yang diulang sebanyak 3 kali. Penelitian ini dilakukan dengan uji pendahuluan berupa uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan dilanjutkan dengan uji cakram. Dosis ekstrak kasar bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) yang digunakan yaitu 500 ppm, 625 ppm, 750 ppm, 875 ppm, dan 1000 ppm. Penelitian ini menggunakan kontrol positif berupa antibiotik oxytetracycline dengan dosis 30 ppm dan kontrol negatif berupa DMSO 10%. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu pemberian ekstrak kasar bunga rosella berpengaruh nyata terhadap daya hambat bakteri A. hydrophila secara in vitro. Konsentrasi minimum yang dapat menghambat bakteri A. hydrophila pada penelitian ini sebesar 500 ppm dengan rerata zona hambat 7,05 mm dan konsentrasi tertinggi sebesar 1000 ppm dengan rerata zona hambat 14,53 mm dengan persamaan y = 0,295 + 0,0127x.   Disease outbreaks are one of the main challenges frequently encountered in aquaculture activities. One type of pathogenic bacteria commonly affecting freshwater fish is Aeromonas hydrophila. This bacterium is known as the causative agent of Motile Aeromonas Septicemia (MAS) in fish. Long-term treatment of infected fish using synthetic antibiotics can lead to negative effects such as antibiotic resistance and environmental contamination. One alternative treatment method for bacterial diseases involves utilizing natural materials containing bioactive compounds as antibacterial agents. This study aims to analyze the inhibitory activity of crude extracts from rosella flowers (Hibiscus sabdariffa L.) against A. hydrophila in vitro and to determine the minimum concentration required to inhibit the bacteria. The method used in this study was an experimental method with a completely randomized design (CRD) using 5 treatments and 2 controls repeated 3 times. This study was conducted with a preliminary test in the form of a MIC (Minimum Inhibitory Concentration) test and followed by a disc test. The concentrations of crude rosella flower extract (Hibiscus sabdariffa L.) used were 500 ppm, 625 ppm, 750 ppm, 875 ppm, and 1000 ppm. This study used oxytetracycline antibiotic at a concentration of 30 ppm as a positive control and 10% DMSO as a negative control. The results obtained in this study indicate that the administration of crude rosella flower extract has a significant effect on the inhibitory activity against A. hydrophila bacteria in vitro. The minimum concentration capable of inhibiting A. hydrophila bacteria in this study was 500 ppm with an average inhibition zone of 7.05 mm, and the highest concentration was 1000 ppm with an average inhibition zone of 14.53 mm, following the equation y = 0.295 + 0.0127x.
Pengaruh Perendaman Ekstrak Kasar Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Histopatologi Hati Ikan Mas (Cyprinus Carpio) yang Diinfeksi Bakteri Pseudomonas Fluorescens: The Effect of Soaking Starfruit Leaf Extract (Averrhoa bilimbi L.) on the Histopathology of Carp (Cyprinus carpio) Liver Infected with Pseudomonas Fluorescens Nur’aini, Asy-Syfa’ Rahma; Suprastyani, Heny; Rangkuti, Rizky Fadilla Agustin
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.7

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan komoditas budidaya air tawar unggulan di Indonesia, namun rentan terhadap infeksi bakteri Pseudomonas fluorescens yang dapat menyebabkan kematian massal. Penggunaan antibiotik sebagai pengobatan menyebabkan resiko resistensi bakteri. Salah satu pengobatan alternatif alami yaitu memanfaatkan daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ekstrak kasar daun belimbing wuluh terhadap histopatologi hati ikan mas yang diinfeksi bakteri P. fluorescens. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan RAL dengan 5 perlakuan 3 ulangan, serta 2 kontrol positif dan negatif sebagai pembanding. Perlakuan pengobatan melalui metode perendaman pada penelitian ini menggunakan konsentrasi 5 ppm, 45 ppm, 85 ppm, 125 ppm, dan 165 ppm. Analisis histopatologi hati dan kelulushidupan ikan mas dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis dan dilanjutkan dengan uji Dunn’s. Sementara itu, data jumlah leukosit dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh secara signifikan memengaruhi kerusakan histopatologi hati, dengan konsentrasi optimal 125 ppm yang memberikan kerusakan paling minimal (skor kongesti 1.20; degenerasi 1.47; inflamasi 1.40; nekrosis 1.33), serta meningkatkan jumlah leukosit (12,53×104 sel/mm3) dan kelulushidupan (93,33%).   Carp (C. carpio) is a superior freshwater aquaculture commodity in Indonesia, but is susceptible to P. fluorescens bacterial infection which can cause mass mortality. The use of antibiotics as a treatment causes the risk of bacterial resistance. One of the natural alternative treatments is utilizing starfruit leaves (A. bilimbi L.). This study aims to test the effect of crude extract of starfruit leaves on the histopathology of carp liver infected with P. fluorescens bacteria. The study was conducted experimentally using RAL with 5 treatments, 3 replications, and control as a comparison. The treatment treatment through the immersion method in this study used concentrations of 5 ppm, 45 ppm, 85 ppm, 125 ppm, and 165 ppm. Histopathological analysis of the liver and the survival rate of common carp were examined using the Kruskal–Wallis test, followed by Dunn’s test. Meanwhile, leukocyte count data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed that starfruit leaf extract significantly affected histopathological liver damage, with an optimal concentration of 125 ppm which provided the most minimal damage (congestion score 1.20; degeneration 1.47; inflammation 1.40; necrosis 1.33), as well as increasing the number of leukocytes (12.53×104 cells/mm3) and survival rate (93,33%).
Karakteristik Mutu Ikan Marlin (Makaira nigricans) melalui Analisis Kadar Senyawa Volatil: Quality Characteristics of Blue Marlin (Makaira nigricans) Based on Volatile Compound Analysis Hanan, Sahirah Shafa Alifiyah; Maryana, Maryana; Jaziri, Abdul Aziz
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 3 (2025): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.03.10

Abstract

Ikan marlin (Makaira nigricans) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang rentan mengalami penurunan mutu akibat aktivitas enzim dan mikroorganisme. Penurunan kesegaran ini dapat diukur melalui parameter kimia, salah satunya Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N) dan Trimetilamin Nitrogen (TMA-N). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar TVB-N dan TMA-N pada ikan marlin sebagai indikator kesegaran. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Pusat Produksi, Inspeksi, dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Provinsi DKI Jakarta pada periode 30 Juni–18 Agustus 2025. Analisis dilakukan dengan metode destilasi dan titrasi mengacu pada SNI 2354.8:2009. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil uji terhadap standar mutu yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan kadar TVB-N sebesar 13,50 mg/100 g, masih berada di bawah ambang batas maksimum SNI (20–30 mg/100 g). Nilai TMA-N yang diperoleh sebesar 0,0108 mg/100 g, jauh lebih rendah dari batas penerimaan untuk ikan segar menurut SNI 2354.8:2009, yaitu 5 mg N/100 g. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel ikan marlin masih berada pada kategori segar dan layak dikonsumsi. Dengan demikian, uji TVB-N dan TMA-N dapat digunakan sebagai parameter penting untuk menilai mutu ikan marlin. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian pascapanen yang baik mampu mempertahankan kualitas ikan hingga tahap distribusi.   Blue marlin (Makaira nigricans) is one of the economically valuable fishery commodities that is prone to quality deterioration due to enzymatic and microbial activity. The decline in freshness can be measured through chemical parameters, particularly Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N) and Trimethylamine Nitrogen (TMA-N). This study aimed to determine the levels of TVB-N and TMA-N in blue marlin as indicators of freshness. The research was conducted at the Chemistry Laboratory of the Center for Fishery Production, Inspection, and Certification (PPISHP), DKI Jakarta Province, during the period of June 30–August 18, 2025. Analyses were carried out using distillation and titration methods in accordance with SNI 2354.8:2009. Data were analyzed descriptively by comparing the results to the applicable quality standards. The results showed that the TVB-N level was 13.50 mg/100 g, which is still below the maximum limit set by SNI (20–30 mg/100 g). The obtained TMA-N value of 0.0108 mg/100 g is far below the acceptable limit for fresh fish according to SNI 2354.8:2009, which is 5 mg N/100 g. These findings indicate that the blue marlin samples tested were still in the fresh category and suitable for consumption. Therefore, TVB-N and TMA-N analyses can serve as important parameters for assessing the quality of blue marlin. This study confirms that proper post-harvest handling can effectively maintain fish quality during distribution.
Pengaruh Perendaman Ekstrak Kasar Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Hematologi Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Diinfeksi Bakteri Pseudomonas fluorescens: Effect of Soaking the Crude Extract of Wuluh Belimbing Leaves (Averrhoa bilimbi L.) on the Hematology of Gold Fish (Cyprinus carpio) Infected with Pseudomonas fluorescens Bacteri Apriliani, Lilian Diah; Suprastyani, Heny; Arifin, Nasrullah Bai
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.1

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan komoditas air tawar unggulan, namun produksi budidayanya masih terkendala, salah satunya infeksi bakteri Pseudomonas fluorescens yang berdampak pada sistem hematologi ikan. Penggunaan antibiotik sebagai pengobatan memiliki resiko resistensi dan pencemaran lingkungan. Ekstrak kasar daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti antibiotik karena memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh serta menentukan konsentrasi optimal ekstrak terhadap hematologi ikan mas yang terinfeksi P. fluorescens. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan RAL dengan 5 perlakuan, 2 kontrol dan 3 ulangan. Perlakuan pengobatan melalui metode perendaman menggunakan konsentrasi 5 ppm, 45 ppm, 85 ppm, 125 ppm, dan 165 ppm. Hasil penelitian melalui olah data secara statistika parametrik menujukkan bahwa konsentrasi 102,77-126,08 ppm menghasilkan parameter hematologi terbaik dengan survival rate tertinggi sebesar 93,33% dengan kualitas air yang optimal selama penelitian.   Goldfish (Cyprinus carpio) is a leading freshwater commodity, but its cultivation production is still constrained, one of which is infection with Pseudomonas fluorescens bacteria which has an impact on the fish's hematological system. The use of antibiotics as a treatment has the risk of resistance and environmental pollution. Crude extract of star fruit leaves (Averrhoa bilimbi L.) can be used as an alternative to antibiotics because it has antibacterial activity. This study aims to analyze the effect and determine the optimal concentration of the extract on the hematology of goldfish infected with P. fluorescens. The research was conducted experimentally using RAL with 5 treatments, 2 controls and 3 replications. Treatment was done through immersion method using concentrations of 5 ppm, 45 ppm, 85 ppm, 125 ppm, and 165 ppm. The results of the study through parametric statistical data processing showed that the concentration of 102.77-126.08 ppm produced the best hematological parameters with the highest survival rate of 93.33% with optimal water quality during the study.
Variasi Ukuran dan Pola Pertumbuhan Ikan Kakap Cunding (Lutjanus gibbus) di Perairan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat: Variations in the Size and Growth Pattern of Cunding Snapper (Lutjanus gibbus) in Sekotong Waters, Kabupaten Lombok Barat Yuliandini, Sabira; Gigentika, Soraya; Mujib, Abd. Saddam
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.2

Abstract

Ikan kakap cunding (Lutjanus gibbus) merupakan salah satu spesies demersal penting dari famili Lutjanidae yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta bernilai ekonomis bagi masyarakat pesisir. Namun, di Perairan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, spesies ini menghadapi tekanan penangkapan yang dapat mengancam kelestariannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi ukuran panjang dan berat serta pola pertumbuhan ikan kakap cunding di Perairan Sekotong. Penelitian dilakukan pada Maret–Mei 2025 dengan metode accidental sampling, menghasilkan 1.099 individu sampel yang diukur panjang dan beratnya. Hasil menunjukkan kisaran panjang 17,67–47,19 cm dan berat 99–1.615 g. Analisis hubungan panjang-berat menghasilkan nilai b = 2,6337 yang menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif, artinya pertumbuhan panjang lebih cepat daripada berat. Sebagian besar ikan tertangkap dalam kondisi matang gonad, namun 81,71% berada di bawah batas berat minimum yang ditetapkan regulasi (500 g). Pola pertumbuhan yang tidak konsisten dikarenakan beragam faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan dan fisiologis serta ketersediaan makanan di habitatnya. Hasil ini mengindikasikan perlunya evaluasi kebijakan ukuran minimum tangkapan agar sesuai dengan kondisi biologis ikan di lapangan dan ketidak sesuaian dengan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 55 Tahun 2023 terkait ukuran minimum ikan kakap cunding yang boleh ditangkap yaitu minimal 500 gram.   The humpback red snapper (Lutjanus gibbus) is an important demersal of the Lutjanidae family that plays a role in maintaining ecosystem balance and has economic value for coastal communities. However, in the wates of Sekotong, West Lombok Regency, this species faces fishing pressure that threatens its sustainability. This study aimed to identify the size distribution and growth pattern of L. gibbus in Sekotong waters. Fieldwork was conducted from March to May 2025 using accidental sampling, with a total of 1.099 individuals analyzed resulting in 1,099 individuals measured for length and weight. The result show a length range of 17.67 to 47.19 cm and 99 to 1,615 g in weight. The length-weight relationship showed a growth exponent of b = 2.6337, indicating a negative allometric growth pattern, where length increases faster than weight. Although the majority of individuals caught were biologically mature 81.71% fell below Most individuals caught were in a mature gonadal stage, yet 81.71% were below the regulatory minimum weight limit of 500 g. These findings suggest that the current legal size regulation (500 gram) in West Nusa Tenggara Governor Regulation No. 55 of 2023 may not align with the biological maturity of the species, highlighting the need for re-evaluation and adjustment of the current minimum landing size regulation policy adjustments to support sustainable fisheries management.
Identifikasi Intrusi Air Laut Melalui Analisis Fisika-Kimia Air Tanah di Pesisir Selatan Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia: Identification of Seawater Intrusion Through Physico-Chemical Analysis of Groundwater in the Southern Coast of Cilacap, Central Java, Indonesia Shokhib, Maskhiyatus; Irayani, Zaroh; Azmi, Ulil; Ardenti, Ekalia; Aminuddin, Jamrud
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.3

Abstract

Wilayah pesisir selatan Kabupaten Cilacap berbatasan langsung dengan lautan yang dapat mengakibatkan rentannya kondisi kualitas air tanah. Sumur gali dan sumur bor sebagai sumber air bersih bagi masyarakat berpotensi terdampak intrusi air laut. Intrusi air laut merupakan proses infiltrasi air asin ke dalam akuifer air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi potensi intrusi air laut melalui pengukuran parameter fisika-kimia. Pengukuran parameter Total Dissolved Solids (TDS), daya hantar listrik (DHL), dan salinitas dilakukan pada 14 titik sampling yang tersebar di area studi. Data yang didapatkan dari survei lapangan kemudian dianalisis lebih lanjut regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan nilai TDS berkisar antara 99–1510 mg/L, dengan dua lokasi (SWI-09 dan SWI-14) menunjukkan nilai di atas 1000 mg/L. Nilai DHL bervariasi antara 199–3020 µS/cm, di mana dua lokasi yang sama memiliki nilai melebihi 1500 µS/cm. Meskipun demikian, sebagian besar sampel masih memenuhi standar air tawar berdasarkan kriteria PAHIAA (Panitia Ad Hoc Intrusi Air Asin) pada tahun 1986. Analisis regresi linear berganda mengungkapkan bahwa jarak dari pantai berpengaruh signifikan terhadap peningkatan DHL (p-value = 0,034), sedangkan kedalaman sumur tidak signifikan (p-value = 0,244). Hasil ini menunjukkan adanya indikasi awal intrusi air laut di lokasi yang sangat dekat dengan garis pantai, namun sebagian besar sumur masih layak digunakan karena masih dibawah nilai baku mutu (DHL <1.500 µS/cm, TDS <1.000 mg/L).   The southern coastal region of Cilacap Regency directly borders the ocean, which increases the vulnerability of groundwater quality. Dug wells and bore wells, which serve as clean water sources for local communities, are potentially affected by seawater intrusion. Seawater intrusion is the process of saline water infiltrating freshwater aquifers. This study aims to detect the potential for seawater intrusion through the measurement of physico-chemical parameters. Measurements of Total Dissolved Solids (TDS), electrical conductivity (EC), and salinity were conducted at 14 sampling points distributed across the study area. The data obtained from field surveys were further analyzed using multiple linear regression.The results show that TDS values range from 99 to 1510 mg/L, with two locations (SWI-09 and SWI-14) exceeding 1000 mg/L. EC values vary between 199 and 3020 µS/cm, where the same two locations recorded values above 1500 µS/cm. Nevertheless, most samples still meet the freshwater standards based on PAHIAA (1986) criteria. Multiple linear regression analysis reveals that the distance from the coastline significantly influences the increase in EC (p-value = 0.034), whereas well depth is not significant (p-value = 0.244). These findings indicate early signs of seawater intrusion in locations very close to the shoreline; however, most wells remain suitable for use as they are still below the threshold values (EC < 1500 µS/cm, TDS < 1000 mg/L).