cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Analysis of Heavy Metal Content of Mercury (Hg) and Cadmium (Cd) in Frozen Tuna (Thunnus sp.) Iftachul Farida; Anis Khairunnisa; Gusti Ngurah Putu Paksi Kencana
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.1

Abstract

Tuna fish is one of the fishery resources that has high potential. The fish is very active and vulnerable to chemical contamination because marine waters include areas that have a lot of contact with humans such as accretion, fish processing industries, and metal smelting. This study aims to: (1) analyze the content mercury and cadmium in frozen tuna; (2) analyze the effect of fish sample weight on Hg and Cd content. Destructive principle method with Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) used for analyzing the Hg and Cd content. Heavy metal analysis used 5 samples of frozen tuna fish. The samples were taken from a Tuna fish freezing company from the Denpasar area, Bali. Linear regression analysis was used to determine the sample weight effect on heavy metal content in tuna fish. The heavy metal test results showed that all samples contained less than 1.0 ppm of Hg and less than 0.5 ppm of Cd. It shows that heavy metal which contains in all the samples still under the threshold by SNI 7387:2009. Data analysis showed that there was no significant effect of sample weight on Hg content (p>0.05), while weight of sample had a significant effect on Cd metal (p<0.05).
Uji Toksisitas Akut Ibuprofen pada Ikan Cere (Gambusia affinis): Acute Toxicity Test of Ibuprofen on Mosquitofish (Gambusia affinis) Yamindago, Ade; M. Arif As’adi; Widi Nugroho; Evania Balqis Haris; Rosella Ayu Loviana Devi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.8

Abstract

Senyawa anti nyeri merupakan salah satu kelompok senyawa baru yang ditemukan mencemari perairan. Senyawa ini dapat dikonsumsi dengan atau tanpa resep, sehingga penggunaannya tidak terpantau dengan baik. Hal ini berpotensi meningkatkan konsentrasi kelompok senyawa ini di perairan, dan berdampak buruk bagi organisme akuatik terutama ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak letal dan subletal ibuprofen (IBU) pada Ikan Cere (G. affinis). Nilai konsentrasi letal median (LC50) IBU pada Ikan Cere yaitu 151 mg/L, 104.7 mg/L, 115.6 mg/L, dan 67.7 mg/L setelah paparan 24, 48, 72 dan 96 jam. Peningkatan konsentrasi IBU dapat menurunkan sintasan, tetapi meningkatkan mortalitas Ikan Cere. IBU meningkatkan konsumsi oksigen terlarut secara signifikan pada paparan IBU dengan konsentrasi 2 mg/L setelah 8 jam, dan 13 mg/L setelah 4 jam dan 8 jam. IBU menyebabkan peningkatkan konsumsi oksigen terlarut secara signifikan pada konsentrasi 2 mg/L setelah 8 jam, dan 13 mg/L setelah 4 jam dan 8 jam. Selain itu, IBU juga dapat menyebabkan gangguan sistem koordinasi tingkah laku makan. Ikan Cere menunda waktu mendekati makanannya setelah dipuasakan selama 48 jam dengan rata-rata sebesar >50 detik setelah 48 jam, >150 detik setelah 72 jam, dan >100 detik setelah 96 jam. Penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa IBU berdampak letal pada konsentrasi yang tinggi. IBU juga meningkatkan konsumsi oksigen terlarut yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas motorik dan menurunkan selera makan ikan cere pada konsentrasi yang relatif rendah.Pain relievers are one of emerging contaminants which are found in aquatic ecosystems. This compound can be consumed with or without prescription, so its use is not well monitored. This could potentially increase the concentration of this group of compounds, and have negative impacts on aquatic organisms, especially fish. This study aimed to analyze the lethal and sub-lethal effects of ibuprofen (IBU) on the mosquitofish (G. affinis). Median lethal concentration (LC50) values of IBU in the fish were 151 mg/L, 104.7 mg/L, 115.6 mg/L, and 67.7 mg/L after 24, 48, 72 and 96 h, respectively. Their survival and mortality rates increased along with increasing of IBU concentration. IBU also caused significant disturbances in oxygen consumption levels at 2 mg/L after 8 h and 13 mg/L after 4 h and 8 h, respectively. Furthermore, IBU interfered coordination of feeding activity. This study showed that the exposed fish delayed in finding their food (foraging behavior) after an average of >50 sec after 48 h, >150 sec after 72 h, and >100 sec after 96 h. This study suggests that IBU induces lethal at high concentrations, and increases oxygen consumption that links to high motoric activity, but disrupts foraging activity of the mosquitofish at relatively low concentrations.
Pengembangan Efisiensi Perikanan Skala Kecil Berkelanjutan bagi Nelayan Danau Tempe: Development of Sustainable Small Scale Fishery Efficiency for Lake Tempe Fishermen Kurniawan B, Agus; Wahyu Andy; Sau, Tenri; Haerunnisa, Haerunnisa; Junaidi Aziz; Jufry, Ady
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.8

Abstract

Aktivitas penangkapan ikan di Danau Tempe merupakan mata pencaharian utama bagi banyak nelayan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penangkapan ikan di Danau Tempe menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan. Salah satu permasalahan utama adalah penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Mei 2023 untuk mengkaji efesiensi teknis nelayan skala kecil dan tingkat keramahan lingkungan pada penggunaan alat penangkapan ikan di Danau Tempe. Data dianalisis menggunakan metode survey dan selanjutnya menggunakan metode analisis produktifitas, komposisi dan analisis data indeks keramahan lingkungan untuk mengetahui secara langsung penggunaan dari masing-masing alat tangkap. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan selama 1 trip penangkapan dengan menggunakan alat tangkap Jaring Insang, Pancing Rawai, Jala Tebar, dan Anco diperoleh 7 jenis ikan hasil tangkapan yang dominan yaitu ikan Mujiar, ikan Tawes, ikan Sapu-sapu, ikan Nila, ikan Bungo, ikan Betutu, ikan Patin. Identifikasi hasil tangkapan alat tangkap jaring insang (Gill Net) menangkap sebanyak 5 spesies, alat tangkap rawai (Long Line) menangkap sebanyak 2 spesies, alat tangkap jala tebar (Cast Net) menangkap sebanyak 5 spesies, alat tangkap Anco (Lift Net) menangkap sebanyak 4 spesies. Dan alat tangkap Anco (Lift Net) menangkap sebanyak 4 spesies. Terdapat inefisiensi yang mempengaruhi dari total hasil tangkapan yang diperoleh pada masing-masing alat tangkap selama penangkapan. Dari hasil tingkat keramahan lingkungan alat tangkap yang digunakan nelayan Danau Tempe yaitu dari jaring insang (Gill Net) menghasilkan skor sebesar 31,1%, rawai (Long Line) skor sebesar 31%, jala tebar (Cast Net) skor sebesar 32,5%, dan anco (Lift Net) skor sebesar 32%, berdasarkan skor tersebut semua alat tangkap yang gunakan termasuk kategori ramah lingkungan menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO.   Fishing activities in Lake Tempe are the main livelihood for many fishermen and make a significant contribution to the local economy. However, in recent years, fishing in Lake Tempe has faced various challenges and problems. One of the main problems is the use of fishing equipment that is not environmentally friendly. This research was conducted from January to May 2023 to examine the technical efficiency of small-scale fishermen and the level of environmental friendliness in the use of fishing equipment in Lake Tempe. The data was analyzed using the survey method and then using the productivity analysis method, composition and environmental friendliness index data analysis to find out directly the use of each fishing gear. Based on the results of the research, it shows that during 1 fishing trip using Gill Net, Longline Fishing, Tebar Net and Anco fishing gear, 7 dominant types of fish were obtained, namely Mujiar fish, Tawes fish, Sapu-sapu fish, Tilapia fish, Bungo fish, fish Betutu, Patin fish. Identification of catches by gill net fishing gear (Gill Net) caught as many as 5 species, longline fishing gear (Long Line) caught as many as 2 species, cast net fishing gear (Cast Net) caught as many as 5 species, Anco fishing gear (Lift Net) caught as many as 4 species. And the Anco fishing gear (Lift Net) catches as many as 4 species. There are inefficiencies that affect the total catch obtained from each fishing gear during fishing. From the results of the level of environmental friendliness of the fishing gear used by Lake Tempe fishermen, namely gill nets (Gill Net) resulting in a score of 31.1%, longlines (Long Line) a score of 31%, cast nets (Cast Net) a score of 32.5% , and anco (Lift Net) score of 32%, based on this score all fishing gear used is included in the environmentally friendly category according to the FAO standard international statistical classification.
Inventarisasi Teripang pada Perairan Socah Bangkalan, Madura: Inventory of Sea Cucumbers in the Socah Waters of Bangkalan, Madura Ainnun Innaya; Rizka Rahmana Putri; Indah Wahyuni Abida
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.13

Abstract

Perairan Socah merupakan perairan yang kaya akan biota laut, yang berasal dari kolom air hingga dasar perairan. Biota yang ditemukan di perairan ini salah satunya dari Filum Echinodermata yaitu teripang atau yang biasa disebut dengan timun laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis spesies teripang pada Perairan Socah dengan cara mengidentifikasi morfologi, anatomi, dan bentuk spikula. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling berdasarkan informasi yang diperoleh dari nelayan setempat mengenai titik lokasi pada Perairan Socah yang banyak ditemukan teripang. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai informasi awal mengenai biodiversitas teripang di Perairan Socah, Bangkalan Madura. Hasil menujukkan bahwa ada lima jenis teripang yang ditemukan di Perairan Socah yaitu jenis Colochirus quadrangularis dengan bentuk spikula tables, Phyllophorus sp. dengan bentuk spikula tables, Phyllophorella spiculata dengan bentuk spikula barbed wire rod, Acaudina leucoprocta dengan bentuk spikula tipe C-shaped spiracle, dan Paracaudina australis dengan bentuk spikula tipe C- shaped spiracle. Parameter kualitas air yang diukur antara lain suhu, DO, pH, salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Hasil kualitas air yang diperoleh adalah suhu sebesar 29,73º, DO 6,12 mg/L, salinitas 26 ppt, pH 7,65, kecerahan 55,3 cm, dan kedalaman 106 cm. Pengamatan plankton air sebagai makanan teripang menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10× didapatkan beberapa jenis fitoplankton dan zooplankton antara lain Skeletonema costatum, Synedra sp., Pinnularia sp., Biddulphia sp., Barnacles larvae, Daphnia sp., Rhizosolenia styliformis, Nitzschia sp., Pseudo-nitzschia sp., dan Diatom coscinodiscus.   Socah waters are waters that are rich in marine biota, which comes from the water column to the bottom of the waters. One of the biota found in these waters is from the Phylum Echinodermata, namely sea cucumbers or what are usually called sea cucumbers. This research was conducted to determine the types of sea cucumber species in Socah Waters by identifying the morphology, anatomy and shape of spicules. The method used in this research is descriptive qualitative with a random sampling technique based on information obtained from local fishermen regarding location points in Socah Waters where sea cucumbers are often found. The purpose of this research is to provide initial information regarding sea cucumber biodiversity in Socah Waters, Bangkalan Madura. The results show that there are five types of sea cucumbers found in Socah waters, namely the Colochirus quadrangularis type with spicule tables, Phyllophorus sp. with a tables spicule shape, Phyllophorella spiculata with a barbed wire rod spicule shape, Acaudina leucoprocta with a C-shaped spiracle type spicule shape, and Paracaudina australis with a C-shaped spiracle type spicule shape. Water quality parameters measured include temperature, DO, pH, salinity, brightness and depth. The water quality results obtained were a temperature of 29.73º, DO 6.12 mg/L, salinity 26 ppt, pH 7.65, brightness 55.3 cm, and depth 106 cm. Observing water plankton as food for sea cucumbers using a microscope with 10× magnification, several types of phytoplankton and zooplankton were found, including Skeletonema costatum, Synedra sp., Pinnularia sp., Biddulphia sp., Barnacles larvae, Daphnia sp., Rhizosolenia styliformis, Nitzschia sp., Pseudo -nitzschia sp., and Diatom coscinodiscus.
Studi Sebaran Klorofil-A Kaitannya dengan Kecepatan Arus pada Daerah Teluk Kendari: Study of Chlorophyl-A Distribution in Relation to Current Velocity in The Kendari Bay Area Samdin, Samdin; Ma’ruf Kasim
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.1

Abstract

Klorofil-a adalah zat hijau daun yang terdapat pada fitoplankton dan merupakan zat aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peranan penting dalam proses fotosintesis di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran klorofil-a di perairan Teluk Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2023. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode survei secara langsung (Insitu). Lokasi penelitian yang dibagi menjadi enam titik stasiun pengamatan. Hasil dari penelitian ini menunjukan pola arus yang saling bertolak belakang antara arus pasang dan surut yang dipengaruhi oleh arus pasang surut. Sehingga arus saat pasang bergerak kearah Barat dan Barat Daya saat surut bergerak kearah Timur dan Timur Laut, dengan kecepatan rata-rata 0,122 m/s. Nilai kandungan klorofil-a saat pasang berkisar antara 0,434-1,134 mg/m³, sedangkan nilai kandungan klorofil-a saat surut berkisar antara 0,739-1,981 mg/m³. Hasil dari uji Regresi linear sederhana dalam  melihat hubungan antara kecepatan arus dan sebaran klorofil-a diperoleh nilai regresi sebesar 0,155 nilai tersebut masuk kategori tingkat hubungan yang rendah. Dimana kecepatan arus memiliki pengaruh kecil dalam mendisribusikan sebaran klorofil-a. Tingginya sebaran klorofil-a menuju surut terjadi karena adanya limpasan air sungai dan kanal-kanal yang bermuara di pesisir Teluk Kendari yang berasal dari daratan dan membawa kandungan nutrien. Rendahnya kandungan klorofil-a menuju pasang terjadi karena masuknya air yang berasal dari luar teluk yang kurang senyawa nutrien. Berdasarkan dari hasil analisis sebaran klorofil-a di perairan Teluk Kendari selama penelitian yaitu tergolong rendah (ologotrofik) sampai cukup (mesotrofik).   Chlorophyll-a is a green leaf substance found in phytoplankton and is an active substance in plant cells which has an important role in the process of photosynthesis in waters. This research aims to determine the distribution of chlorophyll-a in the waters of Kendari Bay. This research was conducted in June 2023. Data collection in this research was a direct survey method (Insitu). The research location is divided into six observation stations. The results of this research show contradictory current patterns between tidal and ebb currents which are influenced by tidal currents. So the current at high tide moves towards the West and Southwest, while at low tide it moves towards the East and Northeast, with an average speed of 0.122 m/s. The chlorophyll-a content value at high tide ranges between 0.434-1.134 mg/m³, while the chlorophyll-a content value at low tide ranges from 0.739-1.981 mg/m³. The results of a simple linear regression test in looking at the relationship between current speed and chlorophyll-a distribution obtained a regression value of 0.155, this value is in the category of low level of relationship. Where the current speed has a small influence in distributing the distribution of chlorophyll-a. The high distribution of chlorophyll-a towards low tide occurs due to runoff from rivers and canals that empty into the coast of Kendari Bay which originates from the mainland and carries nutrient content. The low chlorophyll-a content during high tide occurs due to the influx of water from outside the bay which lacks nutrient compounds. Based on the results of the analysis of the distribution of chlorophyll-a in the waters of Kendari Bay during the research, it was classified as low (ologotrophic) to sufficient (mesotrophic)
Kondisi Tutupan Turf Algae dan Kualitas Perairan di Selat Sempu, Malang: Condition of Turf Algae Coverage and Water Quality in the Sempu Strait, Malang Isdianto, Andik; Syarief, Salsabila Nazmie Putri; Gibran, Khalil; Putra, Muhammad Naufal Eka; Pattisahusiwa, Annisa Shafira P.; Ishaq, Syafrial Yanuar; Saputra, Tedy Eko; Nizery, Sefhanissa Puspa Retno; Asadi, Muhammad Arif; Setyanto, Arief; Putri, Berlania Mahardika; Fathah, Aulia Lanudia; Wardana, Novar Kurnia; Supriyadi, Supriyadi; Luthfi, Oktiyas Muzaky
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.11

Abstract

Turf algae merupakan salah satu organisme yang menjadi indikator kesehatan ekosistem terumbu karang. Organisme ini bahkan dapat mendominansi suatu daerah dan menekan angka tutupan terumbu karang dalam kondisi perairan tertentu. Hal ini tentunya menjadi ancaman bagi kelestarian suatu ekosistem yang berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar melalui jumlah hasil tangkapan ikan. Maka dari itu penelitian ini dilaksanakan guna melakukan monitoring pada luas tutupan turf algae di Perairan Selat Sempu pada bulan Agustus tahun 2023. Metode yang digunakan yaitu sepuluh Underwater Photo Transect (UPT) pada kelima stasiun dengan panjang transek sejauh 100 meter yang dibantu oleh transek kuadran berukuran 1 x 1 m. Penelitian ini menggunakan beberapa data parameter perairan yang memengaruhi luas tutupan turf algae seperti suhu, salinitas, kecerahan, DO, arus, sedimentasi, pH, nitrat, dan fosfat. Hasil yang diperoleh yaitu tutupan tertinggi terjadi pada stasiun Banyu Tawar sebesar 1.3042,05 cm2 dan tutupan terendah pada stasiun Waru-Waru sebesar 488,7 cm2. Data parameter perairan yang telah diukur memiliki nilai yang optimal dengan pH yang memiliki rentang 7,5–8,1 dissolved oxygen (DO) pada rentang 6,8–7 mg/L, salinitas 34,2-34,4‰,  nitrat 0,9-2,1 mg/L, dan fosfat 0,03-0,17 mg/L, di mana nilai parameter ini mendukung pertumbuhan turf algae.Turf algae is an organism that is an indicator of the health of coral reef ecosystems. This organism can even dominate an area and suppress coral reef cover in certain water conditions. This is of course a threat to the sustainability of an ecosystem which has an impact on the economy of the surrounding community through the amount of fish caught. Therefore, this research was carried out to monitor the extent of turf algae cover in the Sempu Strait waters in August 2023. The method used was ten Underwater Photo Transects (UPT) at five stations with a transect length of 100 meters assisted by quadrant transects measuring 1 x 1 m. This research uses several water parameter data that influence the extent of turf algae cover, such as temperature, salinity, brightness, DO, currents, sedimentation, pH, nitrate and phosphate. The results obtained were that the highest cover occurred at Banyu Tawar station at 1,3042.05 cm2 and the lowest cover at Waru-Waru station at 488.7 cm2. The water parameter data that has been measured has optimal values with pH having a range of 7.5–8.1 dissolved oxygen (DO) in the range 6.8–7 mg/L, salinity 34.2-34.4‰, nitrate 0.9-2.1 mg/L, and phosphate 0.03-0.17 mg/L, where these parameter values support the growth of turf algae.
Alat Tangkap yang Ditinggalkan, Hilang, dan Dibuang: Studi Kasus Alat Tangkap Jaring Rajungan dan Bubu Rajungan pada Perikanan Rajungandi Demak Jawa Tengah: Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear: A Case Study of Swimming Crab Fisheries Tumulyadi, Agus; Setyanto, Arief; Bintoro, Gatut; Lelono, Tri Djoko; Isdianto, Andik; Setyohadi, Daduk; Amanda Rifan Fathoni; Rafif Zul Fahmi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.6

Abstract

Rajungan merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan tangkap di perairan yang ditangkap menggunakan jaring insang dan bubu / bubu lipat. Potensi hilangnya kedua alat tangkap tersebut saat dioperasikan sangat tinggi, baik disebabkan oleh faktor cuaca, kondisi dasar perairan maupun interaksi dengan alat tangkap lain. Tertinggalnya alat tangkap di perairan yang lebih dikenal dengan istilah Abandoned, Lost or Discarded Fishing Gear (ALDFG) memberikan kontribusi signifikan terhadap melimpahnya marine debris (sampah laut) di laut yang memberikan dampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya ikan, kualitas perairan dan membahayakan keselamatan pelayaran. Meskipun demikian, belum ada upaya mitigasi dan pengurangan ALDFG di perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi penyebab tertinggalnya alat tangkap pada perikanan rajungan di perairan laut.  Pengumpulan data dilakukan di kabupaten Demak, Jawa Tengah pada bulan Agustus dan September 2023 dengan metode wawancara terhadap responden yang dipilih secara sengaja di sekitar pendaratan nelayan rajungan, yang hasilnya kemudian dianalisis secara deskriptif. Studi ini menemukan bahwa sumber sampah laut yang berasal dari alat tangkap rajungan khususnya adalah disebabkan oleh alat tangkap yang hilang bukan karena sengaja dibuang ke laut. Alat tangkap yang hilang terjadi karena faktor alam (23%) dan atau diterjang oleh pengoperasian alat tangkap jenis lainnya (27%).   Blue swimming crab is one of the leading commodities in the capture fisheries sector in waters which are caught using gill nets and traps/bubu lipat. The potential for loss of these two fishing gears during operation is very high, both due to weather factors, bottom conditions of the waters and interactions with other fishing gears. Leftover fishing gear in the waters known as Abandoned, Lost or Discarded Fishing Gear (ALDFG) contributes significantly to the abundance of marine debris in the sea which has a negative impact on the preservation of fish resources, water quality and endangers shipping safety. Even so, there have been little efforts to mitigate and reduce ALDFG in marine waters. This study conducted at Demak of Central Java from August to September 2023 which aims to identify the causes of fishing gear debris in crab fisheries in marine waters. Data collection was carried out by in-depth interviews with respondents who were deliberately selected around the crab fishermen's landings, the results of which were then analyzed descriptively. This study found that the source of marine debris originating from swimming crab fishing gear was caused by lost fishing gear, not because it was intentionally thrown into the sea. Lost fishing gear occurs due to natural factors and is affected by the operation of other types of fishing gear by 23% and 27% respectively.
Pengaruh Perbedaan Padat Tebar Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias Gariepinus) Sistem Budidaya dalam Ember (Budikdamber): Effect of Different Stocking Densities Survival and Growth of Sangkuriang Catfish (Clarias Gariepinus) Budikdamber System Haifa Mustika Nitisuari; Titin Herawati; Iskandar, Iskandar
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.12

Abstract

Seiring bertambahnya populasi dan perkembangan negara dan penggunaan lahan untuk pemanfaatan teknologi dan pembanguann menjadi alasan banyaknya lahan perikanan maupun pertanian beralih fungsi. Budikdamber menjadi salah satu solusi untuk pemanfaatan lahan yang sempit. Budikdamber merupakan sistem budidaya yang memadukan budidaya ikan dan menanam tanaman air secara bersamaan dalam satu ember. Tujuan penelitian untuk mengetahui padat terbar optimal bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) dengan menggunakan sistem budikdamber. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2023. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perbedaan padat tebar yaitu 1 ekor/L, 2 ekor/L, 3 ekor/L, 4 ekor/L dan 5 ekor/L. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, Feed Convertion Rate pada ikan dan pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kelangsungan hidup optimum yaitu pada padat tebar 3 ekor/L (perlakuan C) dengan nilai 75,93±2,74% sedangkan laju pertumbuhan spesifik dan Feed Convertion Rate (FCR) yang terbaik yaitu pada padat tebar 2 ekor/L (perlakuan B) dengan nilai laju pertumbuhan spesifik 2,12±0,08% dan nilai FCR 1,31±0,27. Pertumbuhan kangkung terbaik yaitu pada padat tebar 5 ekor/L (perlakuan E) menghasilkan rata-rata tertinggi yaitu 18,10 cm dan berat panen 424,8 g.   As the population increases and the development of the country and the use of land for the utilization of technology and development are the reasons for many fisheries and agricultural land to change function. Budikdamber is one solution for the utilization of narrow land. Budikdamber is a cultivation system that combines fish farming and growing aquatic plants simultaneously in one bucket. The purpose of the study was to determine the optimal renewable density for the survival and growth of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) using the budikdamber system. This research was conducted in August – September 2023. The method used was a rancangan acak lengkap (RAL) with 5 treatments and 3 replicates. The treatment used was the difference in stocking density, namely 1 Ind/L, 2 Ind/L, 3 Ind/L, 4 Ind/L and 5 Ind/L. Parameters observed included survival, specific growth rate, Feed Conversion Rate in fish and growth. The results showed that the highest survival rate was at a stocking density of 1 Ind/L (treatment A) with a value of 81.67% while the best specific growth rate and Feed Conversion Rate (FCR) was at a stocking density of 2 Ind/L (treatment B) with a specific growth rate value of 2.12 ± 0.08% and FCR value of 1.31 ± 0.27. The best kale growth was at a stocking density of 5 Ind/L (treatment E) producing the highest average of 18.10 cm and a harvest weight of 424.8 g. The best kale growth was at a stocking density of 5 Ind/L (treatment E).
Konsep Community-Based Tourism dalam Pengelolaan Ekowisata Bahari (Studi Kasus di Clungup Mangrove Conservation, Kabupaten Malang): The Concept of Community-Based Tourism in Marine Ecotourism Management (Case Study on Clungup Mangrove Conservation, Malang Regency) Harahab, Nuddin; Puspitawati, Dhiana; Kusumaningrum, Adi; Supriyadi, Supriyadi; Wardani, Mentari Puspa; Asyifa Anandya
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.2

Abstract

Pengelolaan ekowisata yang baik adalah ketika ekowisata dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Salah satu konsep yang menjelaskan peranan masyarakat tersebut dalam pembangunan pariwisata adalah Community-Based Tourism (CBT). Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan konsep pengelolaan ekowisata bahari berbasis masyarakat. Lokasi penelitian di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur pada bulan April 2021. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan diskusi dengan responden yang ada di daerah penelitian. Informan awal penelitian ini dipilih secara purposive (purposive sampling) selanjutnya penentuan informan yang lainnya dilakukan secara snowball berdasarkan petunjuk dari informan kunci terdiri 20 responden yang memahami bidang ekowisata. Pendekatan dalam penelitian ini adalah bersifat kualitatif dengan maksud untuk memahami fenomena tentang pengelolaan ekowisata bahari berbasis masyarakat. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pengelolaan ekowisata bahari melibatkan dan menempatkan masyarakat lokal sebagai pengendali penuh dalam pengelolaannya. Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator berperan strategis dalam pengelolaan ekowisata, begitu juga pihak swasta, peneliti, dan media juga sangat diperlukan sebagai katalisator.Good ecotourism management is when ecotourism can provide benefits to the whole community. One concept that explains the role of the community in tourism development is Community-Based Tourism (CBT). The research objective is to describe the idea of community-based marine ecotourism management. The research location is in Sitiarjo Village, Sumbermanjing Wetan, Malang Regency, East Java Province, April 2021. Data collection techniques are carried out using observation, interviews and discussions with respondents in the research area. The initial informants of this study were selected by purposive sampling (purposive sampling) and then the determination of other informants was carried out by snowball based on instructions from key informants consisting of 20 respondents as experts in ecotourism. The approach in this study is qualitative with the aim of intending to understand the phenomenon of community-based marine ecotourism management. The analytical method in this study uses an interactive model. The results showed that the concept of marine ecotourism management involves and places the local community as the whole controller in its management. The government, as a regulator and facilitator, plays a strategic role in ecotourism management, as well as the private sector, researchers, and the media are also needed as catalyst.
Analisis Implementasi Kebijakan Pengembangan Pakan Mandiri di Kabupaten Tulungagung: Analysis of the Implementation of Self-Reliant Feed Development Policy in Tulungagung Regency Riyanto, Andi; Sinung Rahardjo; Lilik Sulistyowati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.13

Abstract

Kegiatan budidaya merupakan usaha untuk memperoleh ataupun membesarkan ikan yang salah satu faktor pendukung utama yaitu pakan, khususnya pada pakan buatan. Pemerintah pusat telah menciptakan program GERPARI (Gerakan Pakan Ikan Mandiri) yang bertujuan untuk menekan biaya pakan hingga kurang dari 60% sehingga mampu mewujudkan budidaya perikanan yang tangguh dan mandiri. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Menganalisis implementasi program GERPARI; 2) Menganalisis persepsi pembudidaya ikan dan stakeholder; 3) Menganalisis faktor pendukung dan penghambat dari program GERPARI di Kabupaten Tulungagung. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Narasumber dalam penelitian yaitu kelompok pembudidaya ikan yang memperoleh bantuan GERPARI sebanyak 22 responden serta stakeholder (dinas perikanan) sebanyak 3 responden. Alat analisis menggunakan indikator policy output dan policy outcome. Hasil kesimpulan sebagai berikut : Terjadi ketidakberhasilan atas implementasi dari Program Pakan Mandiri (GERPARI). Persepsi yang timbul dari pembudidaya ikan dan stakeholder (dinas perikanan) 100% menyatakan paham terkait GERPARI karena memiliki kelebihan dan kekurangan dari penerapannya.Cultivation activities are efforts to obtain or raise fish, with one of the main supporting factors being feed, especially artificial feed. The central government has created the GERPARI program (Movement for Independent Fish Feed) aimed at reducing feed costs to less than 60%, thus enabling the realization of robust and independent fisheries cultivation. The objectives of this research are: 1) Analyzing the implementation of the GERPARI program; 2) Analyzing the perceptions of fish cultivators and stakeholders; 3) Analyzing supporting and inhibiting factors of the GERPARI program in Tulungagung Regency. The sampling method was done purposively. The informants in the study were a group of fish cultivators who received GERPARI assistance, totaling 22 respondents, and stakeholders (fisheries department) totaling 3 respondents. The analysis tool uses indicators of policy output and policy outcome. The conclusions are as follows: There is a failure in implementing the Independent Feed Program (GERPARI). The perceptions arising from fish cultivators and stakeholders (fisheries department) are 100% aware of GERPARI because its application has advantages and disadvantages.