cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
TEKNIK KULTUR FITOPLANKTON CHLORELLA VULGARIS SEBAGAI PAKAN ALAMI IKAN KERAPU CANTANG: PHYTOPLANKTON CHLORELLA VULGARIS CULTURE TECHNIQUE AS NATURAL FEED FOR CANTANG GROUPER Alyaniazy, Silviana; Putri Rahayuning Tiyas; Nur Ikhsan Ma’arif; Annisa Novita Sari
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 7 No. 3 (2023): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2023.007.03.10

Abstract

Ketersedian pakan alami pada kegiatan budidaya perikanan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan budidaya. Pakan alami menjadi sumber nutrisi paling penting pada stadium awal perkembangan organisme (larva ikan, udang, kepiting, serta budidaya perikanan lainnya). Salah satu pakan alami fitoplankton yang digunakan untuk budidaya ikan yaitu C.vulgaris. Namun, pemberian C.vulgaris bukan sebagai pakan pada larva, melainkan digunakan untuk sebagai pakan rotifera, Green Water System untuk menjaga keseimbangan kualitas air, dan meningkatkan kadar oksigen terlarut dari hasil fotosintesis. Tujuan dari  Praktek  Kerja Lapang ini adalah untuk mengetahui teknik kultur fitoplankton C.vulgaris sebagai pakan alami larva ikan kerapu cantang dan memahami serta engetahui kendala dalam teknik kultur fitoplankton C.vulgaris sebagai pakan alami larva ikan kerapu cantang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. Metode kerja yang digunakan adalah  deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan data meliputi data primer diperoleh dari kegiatan observasi secara langsung dan  data sekunder dilakukan melalui pengumpulan data sekunder berupa informasi yang didapat dari jurnal, buku, dan studi pustaka lainnya yang berkaitan dengan teknik Kultur Fitoplankton C.vulgaris  sebagai pakan alami larva ikan kerapu. Teknik kultur  C.vulgaris dilakukan  dengan metode  bertingkat. Hasil yang diperoleh selama kultur  C.vulgaris menunjukan bahwa pola pertumbuhan  C.vulgaris sesuai dengan pola pertumbuhan pada  pertumbuhan fitoplankton secara umum.  Kemudian hasil dari kultur  C.vulgaris secara bertingkat  dapat dilakukan pemanenan dengan mengalirkan langsung ke bak-bak pembenihan larva ikan kerapu cantang dan pengendapan untuk penyimpanan maupun pengangkutan.   The availability of life feed in aquaculture activities is one of the factors that determines the success of aquaculture activities. Life feed is the most important source of nutrition in the early stages of organism development (fish larvae, shrimp, crabs, and other aquaculture). One of the natural phytoplankton feeds used for fish farming is C.vulgaris. However, the provision of C.vulgaris is not used as feed for the larvae but also used for the Green Water System to maintain a balance of water quality, as feed for rotifers, and increase dissolved oxygen levels from the results of photosynthesis. The purpose of this Field Work Practice is to find out the phytoplankton culture technique C.vulgaris as a natural food for cantang grouper larvae and to understand and know the constraints in the phytoplankton culture technique C.vulgaris as a life food for cantang grouper larvae. The work method used is descriptive quantitative with data collection techniques including primary data obtained from direct observation activities and secondary data carried out through secondary data collection in the form of information obtained from journals, books, and other literature related to the Phytoplankton C.vulgaris Culture technique as natural feed for grouper fish larvae. The C.vulgaris culture technique used a stratified method. The results obtained during the culture of C.vulgaris showed that the growth pattern of C.vulgaris was by the growth pattern of phytoplankton growth in general. Then the results can be harvested in stages by flowing directly into cantang grouper larvae hatching and left to be stored and transportation.
ANALISIS TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP BUBU LIPAT DI PERAIRAN LAUT JAWA KABUPATEN BANGKALAN: ANALYSIS THE LEVEL OF ENVIRONMENTAL FRIENDLINESS OF FISHING GEAR COLLAPSIBLE TRAP IN THE WATERS OF THE JAVA SEA OF BANGKALAN REGENCY Susanto, Hery; Sugiarti, Teti; Akhmad Farid
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 7 No. 3 (2023): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2023.007.03.6

Abstract

Teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan merupakan suatu teknologi penangkapan ikan dengan menggunakan alat  tangkap yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Bubu merupakan alat tangkap ikan yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan, jenis bubu yang dipakai adalah jenis bubu lipat untuk menangkap rajungan.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu observasi langsung dilapangan dan wawancara kepada nelayan dan data sekunder dilanjutkan penentuan populasi sampel serta pengambilan sampel secara acak (random sampling).  Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa variabilitas, selektivitas dan menentukan tingkat keramahan lingkungan alat tangkap jenis bubu lipat di Perairan Laut Jawa  Kabupaten Bangkalan. Hasil penelitian diperoleh variabilitas dan  selektivitas hasil tangkapan bubu lipat dengan hasil tangkapan utama (main catch) adalah rajungan (Portunus pelagicus) sebanyak 297 kg atau 92,5 % dari total hasil tangkapan dan hasil tangkapan sampingan  (by catch) adalah kepiting (Scylla sp.)  sebanyak 24 kg atau  7,5 % dari total hasil tangkapan sedangkan hasil tangkapan terbuang (discard) tidak ada.  Tingkat keramahan lingkungan alat tangkap jenis bubu lipat diperoleh skor hasil penilaian sebesar 33 yang menunjukkan bahwa alat tangkapan jenis ini tergolong kedalam alat tangkap Sangat Ramah Lingkungan.Environmentally friendly and sustainable fishing technology is afishing technology using fishing gear that does not hurt the environment. Bubu is a fishing gear that is operated passively at the bottom of the waters, The type of bubu used is the type of Collapsible Trap to catch crabs.  The method used in this research is a descriptive method, namely direct observation in the field and interviews with fishermen and secondary data followed by determining the sample population and random sampling.  The purpose of this study was to analyse the variability, selectivity and determine the level of environmental friendliness of collapsible trap fishing gear in the Java Sea Waters of Bangkalan Regency. The results obtained variability and selectivity of the folding trawl catch with the main catch is crab (Portunus pelagicus) as much as 297 kg or 92.5% of the total catch and by-catch is crab (Scylla sp.) as much as 24 kg or 7.5% of the total catch while the discarded catch does not exist.  The level of environmental friendliness of folding bubu type fishing gear obtained an assessment score of 33 which indicates that this type of fishing gear is classified as very environmentally friendly fishing gear.
Persepsi Nelayan Mengenai Penangkapan Ikan dengan Dampak Rendah dan Hemat Bahan Bakar di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur: Fisherman's Perception Regarding Life (Low Impact and Fuel Efficient) Fishing in Brondong Fishing Port Lamongan East Java Lelono, Tri Djoko; Fuad, Fuad; Gatut Bintoro; Destiana Hermanita; Mihrobi Khalwatu Rihmi; Anung Widodo; Mahiswara, Mahiswara
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.3

Abstract

Pengelolaan perikanan merupakan komponen penting dari pengelolaan sumber daya perairan (stok spesies, dan lingkungannya). Sumber daya perikanan memiliki definisi yang komprehensif dan, secara umum, merujuk pada semua hewan yang sebagian besar menghuni habitat perairan dan ditangkap oleh manusia. Berkurangnya  stok disebabkan tingginya produktifitas penangkapan, yang dipenggaruhi penggunaan armada alat tangkap. Armada alat tangkap harus dapat memperhitungkan setidaknya tiga dampak utama, yaitu: (1) dampak lingkungan, (2) dampak terhadap kelimpahan sumber daya dan (3) dampak pada target stok sumberdaya ikan. Penelitian ini dilakukan bulan Maret – Juni 2023 di Pelabuhan Brondrong. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan cara wawancara, observasi, dokumentasi Tujuan Penelitian ini mengetahu informasi nelayan sebagai pengguna langsung terhadap  keberadaan sumberadaya  ikan tentang  Penangkapan ikan dengan dampak rendah dan hemat bahan bakar (LIFE (Low impact and Fuel Efficient) FISHING. Berdasarkan  hasil penelitian Low Impact (Dampak Rendah), alat tangkap yang memiliki kontribusi paling besar terhadap lingkungan perairan yaitu cantrang dengan nilai 34%, alat tangkap payang sebesar 41%, pancing ulur 65%, dan rawai sebesar 64%. Jadi, alat tangkap yang memiliki kontribusi paling rendah adalah rawai dan pancing ulur, kemudian payang dan cantrang. Berdasarkan fuel efficient (efisiensi bahan bakar), alat tangkap yang memiliki tingkat efesiensi bahan bakar paling baik yaitu alat tangkap rawai dan pancing ulur dengan nilai 67%, kemudian payang dengan nilai 59%, dan cantrang dengan nilai 42%. Hal tersebut dikarenakan pengaruh ukuran kapal, jarak trip, dan lama trip kapal rawai dan pancing ulur dan rawai lebih sedikit dari alat tangkap payang dan cantrang  . Hasil penelitian ini merekomidasi penggunaan alat tangkap rawai dan pancing dikarenakan ramah lingkungan dan efeisiensi bahan bahar.Fisheries management is essential to aquatic resource management (species stocks and their environment). Fisheries resources have a comprehensive definition and generally refer to all animals that predominantly inhabit aquatic habitats and are caught by humans. Stock depletion is caused by high fishing productivity, which is influenced by the use of fishing gear fleets. Fishing gear fleets must be able to take into account at least three main impacts, namely: (1) environmental impacts, (2) impacts on resource abundance, and (3) impacts on target stocks of fish resources. This research was conducted from March to June 2023 at Brondrong Harbor. The research methodology employed in this study is descriptive, utilizing interviews, observations, and documentation. The purpose of this study is to determine the information of fishermen as direct users of the existence of fish resources about Fishing with low impact and fuel-efficient LIFE (Low impact and Fuel Efficient) FISHING. Based on the Low Impact study results, the fishing gear with the most significant contribution to the aquatic environment is cantrang with a value of 34%, payang gear with 41%, handline with 65%, and longline with 64%. So, the fishing gear with the lowest contribution is longline and handline, then payang and cantrang. Based on fuel efficiency, the fishing gear with the best fuel efficiency is longline and hand line fishing gear with a value of 67%, then payang with a value of 59%, and cantrang with a value of 42%. This refers to the influence of vessel size, trip distance, and trip length of longline and handline and longline vessels which are less than payang and cantrang fishing gear. The study suggests using longline and fishing gear due to their environmental friendliness and material efficiency.
PEMETAAN ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN SEBAGAI PENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PERAIRAN SELAT OMBAI, KAWASAN PERBATASAN INDONESIA DAN TIMOR-LESTE: MAPPING OF FISHERY POTENTIAL ZONES TO SUPPORT FOOD SECURITY IN THE WATERS OF THE OMBAI STRAIT, INDONESIA AND TIMOR-LESTE BORDER AREA Harahab, Nuddin; Puspitawati, Dhiana; Isdianto, Andik; Caesar, Nico Rahman; Atmaja, Albertus Aldo Danar; Fathah, Aulia Lanudia; Putri, Berlania Mahardika; Setyanto, Arief; Wardana, Novar Kurnia; Supriyadi, Supriyadi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 7 No. 3 (2023): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2023.007.03.8

Abstract

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2021, hasil produksi perikanan tangkap di perairan NTT (Nusa Tenggara Timur) mencapai 190.594 ton dan berpotensi naik setiap tahunnya, sehingga diperlukan pemetaan zona potensi penangkapan ikan di Selat Ombai. Metode yang digunakan adalah metode pembobotan untuk melihat area yang berpotensi dan tidak berpotensi menjadi zona penangkapan ikan. Waktu penelitian dilakukan selama bulan September hingga Oktober 2023 di Perairan Selat Ombai. Data yang digunakan adalah data sekunder Suhu Permukaan Laut (SPL) dan klorofil-a  dari citra Aqua-MODIS Level 3 dengan pendekatan pengindraan jauh dan sistem informasi geografi.Waktu penelitian dilakukan selama bulan September hingga Oktober 2023 di Perairan Selat Ombai. Perbedaan peta zona potensi penangkapan ikan dapat dilihat dari parameter suhu permukaan laut, klorofil-a, musim dan sumber data yang diperoleh. Persebaran area potensi tangkapan ikan terjadi di area pesisir pantai di Pulau Timor dan Pulau Flores. Selama tahun 2022, pada bulan Februari hingga Oktober 2022 merupakan waktu dengan zona potensi penangkapan ikan sangat kuat, sedangkan pada bulan Januari, November dan Desember merupakan waktu dengan zona potensi penangkapan ikan yang sangat lemah.   According to BPS (Central Statistics Agency) data in 2021, catch production in NTT (East Nusa Tenggara) waters reached 190.594 tons and is potentially rising every year, so it is necessary to map potential fishing zones in the Ombai Strait. The method used is a weighting method to see areas that have and do not have the potential to become fishing zones. The data used is secondary data on Sea Surface Temperature (SST) and chlorophyll-a from Aqua-MODIS Level 3 imagery using a remote sensing approach and geographic information system. The research was conducted from September to October 2023 in the waters of the Ombai Strait. Differences in fishing potential zone maps can be seen from parameters such as sea surface temperature, chlorophyll-a, seasons, and data sources obtained. The spread of potential fishing areas occurred in the coastal areas of Timor Island and Flores Island. During 2022, February to October 2022 was a time with a very strong fishing potential zone, while January, November, and December had very weak fishing potentials.
Pengaruh Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Lobster Air Tawar (Cherax Quadricarinatus) Menggunakan Alat Tangkap Bubu di Danau Maninjau Kabupaten Agam Sumatera Barat: The Effect of Type of Bait on the Results of Catching Fresh Water Lobsters (Cherax Quadricarinatus) Using Garments in Lake Maninjau, Agam District, West Sumatra Citra Noeraini; Noferdiman, Noferdiman; Fauzan Ramadan; Lisna, Lisna; Mairizal, Mairizal; Farizal, Farizal
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.3

Abstract

Penangkapan menggunakan alat tangkap bubu diperlukan umpan dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan secara optimal. Tujuan penelitian untuk mempelajari penggunaan umpan yang paling efektif digunakan nelayan untuk melakukan penangkapan lobster air tawar di Danau Maninjau Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 Mei sampai dengan 21 Mei 2023 dengan metode Experimental Fishing dan perlakuan umpan TU = tanpa umpan, KM = keong mas, IN = ikan nila, KP = kerang pensi. Pada 2 nelayan menggunakan 20 alat tangkap bubu dengan pengulangan 10 kali penangkapan. Data yang dihimpun meliputi jumlah, berat, panjang serta parameter lingkungan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), jika berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah (ekor), berat (gr), dan panjang (cm) lobster air tawar. Hasil tangkapan lobster air tawar menggunakan tanpa umpan sebanyak 3 ekor dengan berat 58 gr, kemudian dengan umpan keong mas sebanyak 56 ekor dengan berat 1802 gr, selanjutnya menggunakan umpan bangkai ikan nila 47 ekor dengan berat 1674 gr, dan umpan kerang pensi mendapatkan 7 ekor dengan berat 242 gr. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan umpan keong mas dengan menggunakan alat tangkap bubu akan menghasilkan tangkapan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) lebih banyak dibandingkan dengan umpan ikan nila dan kerang pensi.   Catching using trap gear requires bait in an effort to increase the catch optimally. The purpose of the research was to study the use of the most effective bait used by fishermen to catch crayfish in Lake Maninjau, West Sumatra. The research was conducted on May 1 to May 21, 2023 with Experimental Fishing method and bait treatment TU = without bait, KM = gold snail, IN = tilapia, KP = pensi shell. In 2 fishermen using 20 bubu fishing gear with repetition of 10 times fishing. Data collected included number, weight, length and environmental parameters. This study uses a Randomized Group Design (RAK), if it has a real effect, it is continued with the Duncan test. The results showed that different types of bait had a very significant effect (P < 0.01) on the number (tails), weight (gr), and length (cm) of crayfish. The catch of crayfish using no bait is 3 tails weighing 58 gr, then with gold snail bait as many as 56 tails weighing 1802 gr, then using tilapia carcass bait 47 tails weighing 1674 gr, and pensi shell bait gets 7 tails weighing 242 gr. The conclusion of this study is that the use of gold snail bait using bubu fishing gear will produce more crayfish (Cherax quadricarinatus) catches compared to tilapia bait and pensi shells.
Pencegahan Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) dengan Kombinasi Madu dan Patikan Kerbau (Euphorbia hirta): Prevention of Aeromonas hydrophila Bacteria Infection in Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) by Ccombination of Madu and Patikan Kerbau (Euphorbia hirta) Jumina, Maksima; Yuliana Salosso; Asriati Djonu
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.10

Abstract

Penyakit ikan adalah kendala yang sering dijumpai dalam kegiatan budidaya ikan. Bakteri Aeromonas hydrophila merupakan bakteri penyebab munculnya penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicemia). Penggunaan antibiotik merupakan salah satu cara penanggulangan penyakit ikan. Namun penggunaan antibiotik secara berlebihan dan dalam jangka panjang menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik serta tidak ramah lingkungan. Penggunaan bahan alam seperti madu dan patikan kerbau (Euphorbia hirta) sebagai imunostimulan dapat pertahanankan tubuh ikan terhadap infeksi bakteri A. hydrophila. Madu dan patikan kerbau (E. hirta) memiliki komponen antibakteri seperti flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, polifenol, hydrogen peroksida serta kandungan gula pada madu yang mampu melawan bakteri. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi madu dan patikan kerbau (E. hirta) serta perbandingan kombinasi yang baik dalam menghambat infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 3 perlakuan perbandingan kombinasi dengan ulangan sebanyak 3 kali serta serta 2 perlakuan kontrol (Negatif dan positif) sebagai pembanding. Perbandingan kombinasi yang digunakan yaitu 2 : 1 (1000 ml madu + 500 ml  air rebusan patikan kerbau), 1,5 : 1,5 (750 madu + 750 air rebusan patikan kerbau) dan 1 : 2 (500 ml madu + 1000 ml air rebusan patikan kerbau). Pencegahan dilakukan dengan merendam ikan pada setiap perlakuan perbandingan sekitar 1 - 2 menit selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukan pencegahan infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo menggunakan kombinasi madu dan patikan kerbau tidak memberikan pengaruh nyata ditinjau dari paramater hematologi (Eritrosit, leukosit dan hemoglobin), parameter kelulushidupan dan pertumbuhan mutlak.  Namun parameter gejala klinis menunjukkan pengaruh positif terlihat dari gejala klinis yang ditimbulkan pasca infeksi bakteri yang lebih ringan.Fish disease is an obstacle that is often encountered in aquaculture activities. The bacteria Aeromonas hydrophila is the bacteria that causes the disease MAS (Motile Aeromonad Septicemia). The use of antibiotics is one way to control fish diseases. However, excessive and long-term use of antibiotics causes bacterial resistance to antibiotics and is not eco-friendly. The use of natural ingredients such as honey and buffalo starch (Euphorbia hirta) as immunostimulants can defend the fish's body against infection with the A. hydrophila bacteria. Honey and buffalo starch (E. hirta) have antibacterial components such as flavonoids, tannins, saponins, terpenoids, polyphenols, hydrogen peroxide and sugar content in honey which can fight bacteria. This research was carried out with the aim of finding out the effect of giving a combination of honey and buffalo patikan (E. hirta) as well as a good comparison of the combination in inhibiting A. hydrophila bacterial infection in African catfish. The research used a Completely Randomized Design consisting of 3 treatment combinations with 3 replications and 2 control treatments (negative and positive) as comparisons. The ratio of combinations used is 2 : 1 (1000 ml honey + 500 ml buffalo patikan boiled water), 1.5 : 1.5 (750 honey + 750 buffalo patikan boiled water) and 1 : 2 (500 ml honey + 1000 ml water buffalo stew). Prevention is carried out by soaking the fish in each treatment ratio for around 1 - 2 minutes for 30 days. The results of the study showed that preventing Aeromonas hydrophila bacterial infection in African catfish using a combination of honey and buffalo starch did not have a real effect in terms of hematological parameters (erythrocytes, leukocytes and hemoglobin), survival and absolute growth parameters. However, clinical symptom parameters show a positive influence as seen from the milder clinical symptoms that arise after bacterial infection.
Pembuatan Pakan Ikan dengan Probiotik sebagai Pakan Alternatif Berstandar SNI: Development of Fish Feed With Probiotics as a Standardized Alternative Feed According to Indonesian National Standards (SNI) Fitriana, Wiwit Denny; Bakri, Bakri; Mukhamad Masrur; Anna Qomariana; Chandra Sukma Anugrah
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.4

Abstract

Dalam budidaya ikan, mencapai pertumbuhan ikan yang optimal memerlukan komposisi pakan yang seimbang antara protein, vitamin, dan nutrisi penting lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi pakan ikan yang diperkaya dengan probiotik untuk berbagai jenis ikan. Bahan-bahan umum seperti tepung ikan, tepung polar, tepung kedelai, tepung gandum, minyak ikan, campuran vitamin, dan probiotik digunakan dalam formulasi pakan ikan. Namun, proses yang ada belum tersandardisasi, sehingga menyebabkan ketidakpastian dalam menentukan proporsi bahan yang tepat. Metode yang digunakan untuk merumuskan pakan ikan adalah metode Pearsons Square.  Inovasi ini memperkenalkan komposisi yang terdefinisi dengan baik untuk pakan ikan yang diperkaya dengan probiotik yang dirancang khusus untuk ikan larva, ikan herbivora, dan ikan karnivora. Pakan ikan larva terdiri dari 25-30% tepung ikan, 25-30% tepung kedelai, 40-50% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Pakan ikan herbivora mencakup 20-25% tepung ikan, 25-30% tepung polar, 20-25% tepung kedelai, 25-30% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Pakan ikan karnivora melibatkan 20-25% tepung ikan, 25-30% tepung polar, 20-25% tepung kedelai, 20-30% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Penggunaan pakan ikan berprobiotik dapat digunakan sebagai alternatif pakan bagi para peternak ikan.   In fish farming, achieving optimal fish growth necessitates a well-balanced composition of protein, vitamins, and other essential nutrients in the feed. This study aims to establish probiotic-enriched fish feed formulations for various fish types. Common ingredients such as fish meal, polar flour, soybean flour, wheat flour, fish oil, vitamin mix, and probiotics are utilized in fish feed formulation. Nonetheless, the existing process lacks standardization, leading to uncertainties in determining precise ingredient proportions. This innovation introduces well-defined compositions for probiotic-infused fish feeds designed for larval, herbivorous, and carnivorous fish. The larval fish feed comprises 25-30% fish meal, 25-30% soybean flour, 40-50% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics. The herbivorous fish feed includes 20-25% fish meal, 25-30% polar flour, 20-25% soybean flour, 25-30% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics. The carnivorous fish feed entails 20-25% fish meal, 25-30% polar flour, 20-25% soybean flour, 20-30% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics.
Studi Kelimpahan dan Identifikasi Jenis Zooplankton di Perairan Mulut Seribu, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rotendao: The Abundance and Identification of Zooplankton Types in Mulut Seribu, Daiama Village, Landu Leko District, Rote Ndao Regency Eka, Maria Regina; Liufeto, Franchy Ch.; Pasaribu, Wesly
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.5

Abstract

Potensi perikanan budidaya membutuhkan asupan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam meningkatkan pertumbuhan salah satunya didukung oleh kondisi lingkungan yang ideal dengan kelimpahan pakan alami seperti fitoplankton dan zooplankton. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis dan kelimpahan zooplankton di Perairan Mulut Seribu, metode yang digunakan teknik eksplorasi identifikasi jenis zooplankton  menggunakan jaring plankton net  25 µm, penyaringan air sebanyak 100 L hasil penyaringan diawetkan menggunkan lugol 1% sebanyak 3 tetes, sampel diamati menggunakan mikroskop binokuler dengan pembesaran 10-200 kali, perhitungan kelimpahan zooplankton dilakukan pada kaca Segwick rafter. Dari hasil observasi terhadap jenis zooplankton yang ditemukan di Perairan Mulut Seribu, ditemukan 6 jenis zooplankton, pada kelas Copepoda, ditemukan 5 spesies yaitu Calanus sinicus, Neocalanus glacialis, Cosmoclanus darwini, Copila hendorffi, Sapphirina metallina sedangkan untuk kelas Maxillopoda dijumpai 1 spesies yaitu Corycaeus dahli kelas yang sering ditemukan adalah kelas Copepoda. Kelimpahan jenis zooplankton tertinggi pada jenis Copila hendorffi dan Calanus sinicus, dengan kelimpahan 2000 ind/L dan terendah pada jenis Sapphirina meallina dengan kelimpahan 500 ind/L, kelimpahan menunjukan bahwa spesies Copila hendorffi dan Calanus sinicus  lebih dominan di perairan Mulut Seribu.   The potential of aquaculture requires feed intake to meet nutritional needs in increasing growth, one of which is supported by ideal environmental conditions with an abundance of natural feed such as phytoplankton and zooplankton.this study was conducted to determine the types and abundance of zooplankton in Thousand Mouth Waters, the benefits of this study are knowing the relationship related to the type and abundance of zooplankton. In this study using exploration techniques Identification of zooplankton types using a 25 μ net plankton net, water filtration as much as 100 liters of filtration results preserved using 1% lugol as much as 3 drops, samples were observed using a binocular microscope with a magnification of 10-200 times, the calculation of zooplankton abundance was carried out on Segwick ratter glass. From the results of observations on the types of zooplankton found in the Thousand Mouth Waters, 6 types of zooplankton were found, in the Copepoda class, 5 species were found, namely Calanus sinicus, Neocalanus glacialis, Cosmoclanus darwini, Copila hendorffi, Sapphirina metallina while for the Maxillopoda class found 1 species, namely Corycaeus dahli class that is often found is the Copepoda class. The highest abundance of zooplankton species in Copila hendorffi and Calanus sinicus species, with an abundance of 2000 ind/L, and the lowest in Sapphirina meallina species with an abundance of 500 ind/L, abundance shows that Copila hendorffi and Calanus sinicus species are more dominant in the waters of the Mulut Seribu.
Pengembangan Produk Udang Kaleng: Canned Shrimp Product Development Junianto, Junianto; Siringoringo, Butet Mona Moranaga Ringo Ringo Star Osrin; Aditya Fikri Purnama; Indra Nurardiansyah; Farhan Valindra Apda; Suniyyah Azmi; Cahyaningtyas Rahma; Zidan Fachriza Adya Nugraha
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.9

Abstract

Pengembangan produk merupakan proses mencari inovasi guna menambah nilai terhadap produk lama dan mengkonversikannya ke dalam bentuk produk tersebut. Melalui pengembangan produk, dapat memungkinkan sebuah perusahaan untuk membuat produk baru sebelum daya jual produk lama menurun (decline). Tujuan artikel review ini adalah untuk mengulas pengembangan produk pangelangan udang di Indonesia mulai dari bahan baku sampai ke pemasarannya.  Metode yang digunakan adalah mensitasi artikel-artikel yang terpublikasi di jurnal-jurnal nasional terkait dengan pengembangan produk pada pengalengan udang.  Pengembangan produk pengalengan udang dapat dilakukan dengan pengembangan bahan baku seperti isian tipe fancy, standard, dan flakes. Pengembangan proses, seperti menambah varian saus sebagai medium udang kaleng. Pengembangan kemasan, dengan cara mengganti wadah kaleng dengan wadah retort pouch yang lebih praktis. Pengembangan kegiatan pemasaran produk udang kaleng dapat dilakukan dengan cara membuat strategi pemasaran yang berdasarkan elemen 4P (Product, Price, Place, Promotion).   Product development is the process of looking for innovations to add value to old products and convert them into other forms of products. Through product development, it can enable a company to create new products before the selling power of old products declines. The purpose of this review article is to review the development of canned shrimp products in Indonesia, starting from raw materials to marketing. The method used is citing articles published in national journals related to product development in canned shrimp processing. Canned shrimp product development can be done by developing raw materials such as fancy, standard and flakes types filling. Process development, such as adding sauce variants as a medium for canned shrimp. Packaging development, by replacing canned with more practical retort pouch product. And developing marketing activities for canned shrimp products can be done by creating a marketing strategy based on the 4P elements (Product, Price, Place, Promotion).
Uji Ekstrak Air, Etanol dan Metanol Caulerpa lentillifera Terhadap Bakteri Vibrio sp. (Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi dan Vibrio alginolyticus): The Potential Antibacteria Activity of Variety Extract of Caulerpa lentillifera (ethanol, methanol, water extract) Againts Vibrio sp. (Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi and Vibrio alginolyticus) Suryanto Hertika, Asus Maizar; Eka Supriatin, Febriyani; Putra, Renanda Baghaz Dzulhamdhani Surya
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.4

Abstract

Masalah yang sering muncul dalam kultivasi vanamei adalah serangan penyakit. Salah satu penyakit semangka yang sering menyebabkan kegagalan tanaman untuk kematian massal adalah Vibriosis. Vibriosis adalah infeksi pada kerang yang disebabkan oleh bakteri Vibrio (Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, dan Vibrio parahaemolyticus). Caulerpa ini diketahui memiliki aktivitas biologis, seperti anti-hipertensi, antioksidan, anti-kanker, dan aktivitas anti-mikroba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antibakteri masing-masing ekstrak dari Caulerpa lentillifera. Metode penelitian adalah eksperimental, desain yang digunakan adalah RAL dengan Antibakteri Aktivitas Tes, yang mencakup Uji ekstrak air, etanol dan methanol terhadap bakteri Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticus. Bakteri dalam penelitian ini adalah bakteri Vibriosis. (Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticus). Tes ini dilakukan untuk menentukan apakah pelarut telah mempengaruhi pembentukan diameter zona penghalang. Pada piring (media) untuk divaksinasi dengan bakteri uji. Sebuah kertas disk steril 8 mm ditempatkan di atas medium untuk kemudian disegel dengan ekstrak kasar 10 μl dengan konsentrasi ekstrak 25; 50; 100; 200 mg / disk. Petri cangkir dikemas dalam kemasan plastik dan disimpan di inkubator pada suhu 370 C selama 1-3 hari dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter zona hambat rata-rata tertinggi ditemukan dalam perlakuan dengan ekstrak Air, Etanol dan Metanol dari Caulerpa pada dosis 100 mg/L sedangkan hasil zona hambat terendah ditemukan pada perlakuan ekstrak Air, Etanol dan Metanol Caulerpa 12,5 mg / L.The frequent issue encountered in the cultivation of vanamei is the occurrence of disease outbreaks.   Vibriosis is one of the diseases that often leads to mass death in watermelon plants.   Vibriosis is an infection in shellfish caused by the Vibrio bacteria.   The three species are Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, and Vibrio parahaemolyticus.   Caulerpa is known to possess biological activities, such as antihypertensive, antioxidant, anticancer, and antimicrobial activities.   The research method employed was experimental, utilising a Randomised Complete Block Design (RCBD) with Antibacterial Activity Test. This test encompassed the examination of water, ethanol, and methanol extracts against Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, and Vibrio parahaemolyticus bacteria.   The bacteria used in this study are Vibriosis bacteria.   The three species are Vibrio alginolyticus, Vibrio harveyi, and Vibrio parahaemolyticus.   This es tis conducted to determine whether the solvent has influenced the formation of the barrier zone diameter.   On the plate (medium) for inoculation with test bacteria.   A sterile 8 mm disc paper is placed on the medium and then sealed with a crude extract of 10 μl with extract concentrations of 25, 50, 100, and 200 mg/disk.   The petri dishes are packaged in plastic packaging and stored in an incubator at a temperature of 370°C for 1-3 days, and this process is repeated 3 times.   The research findings indicate that the highest average inhibitory zone diameter was found in the treatment with extracts of Water, Ethanol, and Methanol from Caulerpa at a dosage of 100 mg/L, while the lowest inhibitory zone diameter was found in the treatment with extracts of Water, Ethanol, and Methanol from Caulerpa at a dosage of 12.5 mg/L.