cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Uji Daya Hambat Ekstrak Kasar Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) terhadap Bakteri Aeromonas Hydrophila secara in Vitro: In Vitro Inhibitory Test of Telang Flower (Clitoria Ternatea L.) Crude Extract Against Aeromonas Hydrophila Bacteria Aprilyanti, Salsabila; Andayani, Sri; Suprastyani, Heny
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.11

Abstract

Penyakit pada ikan sering menjadi kendala dalam kegiatan budidaya. Salah satu jenis bakteri patogen yang sering menginfeksi ikan air tawar yaitu bakteri Aeromonas hydrophila yang merupakan bakteri patogen yang menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS). Upaya pengobatan menggunakan antibiotik dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan residu dan resistensi bagi bakteri. Pengobatan alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan senyawa bioaktif pada bahan alami yang bersifat antibakteri. Senyawa tersebut dapat ditemukan pada beberapa jenis tumbuhan, salah satunya yaitu bunga telang (Clitoria ternatea). Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh dari ekstrak kasar bunga telang (C. ternatea) terhadap daya hambat bakteri A. hydrophila secara in vitro serta untuk menentukan dosis yang efektif dari ekstrak bunga telang. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, 3 ulangan dan 2 kontrol dengan uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan uji cakram. Dosis ekstrak kasar bunga telang (C. ternatea) yang digunakan yakni 125 ppm, 150 ppm, 175 ppm, 200 ppm, dan 225 ppm. Penelitian ini menggunakan kontrol berupa antibiotik tetracycline dengan dosis 30 ppm dan kontrol negatif hanya berupa akuades. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini ialah pemberian ekstrak kasar bunga telang (C. ternatea) berpengaruh terhadap daya hambat bakteri A. hydrophila secara in vitro. Hasil tertinggi pada penelitian ini diperoleh pada dosis 225 ppm dengan rerata zona hambat 10,80 mm dengan persamaan y = 4,0713 + 0,0309x.   Fish diseases are often an obstacle in aquaculture activities. One type of pathogenic bacteria that often infects freshwater fish is Aeromonas hydrophila, which is a pathogenic bacteria that causes Motile Aeromonas Septicemia (MAS). Treatment efforts using antibiotics in the long-term will cause residues and resistance for bacteria. Alternative treatment that can be done is by utilising bioactive compounds in natural materials that are antibacterial. These compounds can be found in several types of plants, one of which is telang flower (Clitoria ternatea). This study aims to investigate the effects of crude extract from telang flower (C. ternatea) on the inhibition of A. hydrophila bacteria in vitro, as well as to determine the effective dosage of telang flower extract. The method used in this study is the experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments, 3 replications, and 2 controls with the MIC (Minimum Inhibitory Concentration) test and disc test. The doses of crude extract from telang flower (C. ternatea) used were 125 ppm, 150 ppm, 175 ppm, 200 ppm, and 225 ppm. The study utilized tetracycline antibiotic as a control at a dose of 30 ppm, and a negative control consisting solely of distilled water (aquades). The results obtained from this study indicate that the administration of crude extract from telang flower (C. ternatea) significantly affects the inhibition of A. hydrophila bacteria in vitro. The highest result in this study was achieved at a dose of 225 ppm with an average inhibition zone of 10,80 mm, described by the equation y = 4,0713 + 0,0309x.
Analisis Strategi Bisnis dalam Meningkatkan Daya Saing dan Permintaan Ekspor Produk Perikanan di Startup Digital X: Business Strategy Analysis for Increasing Competitiveness and Export Demand for Fishery Products in Digital Startup X Aulia, Renita; Nurhayati, Atikah; Andriani, Yuli; Maulina, Ine
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.9

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis strategi bisnis pada Startup Digital X melalui identifikasi faktor internal dan faktor eksternal perusahaan sebagai bahan pertimbangan untuk merealisasikan kebijakan penting dalam bisnis perikanan. Penelitian ini dilaksanakan di Startup Digital X selama bulan Mei 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi kasus dengan menggunakan data primer dan data sekunder yang menggunakan teknik purposive sampling sebagai teknik pengambilan data. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis SWOT. Hasil yang didapatkan yaitu analisis faktor internal memiliki nilai sebesar 3,72 yang menunjukkan bahwa Startup Digital X berada di atas rata-rata dari keseluruhan posisi strategisnya. Sedangkan, analisis faktor eksternal memiliki nilai sebesar 3,49 yang menunjukkan bahwa Startup Digital X berada pada posisi eksternal diatas rata-rata. Hasil analisis matriks SWOT menunjukkan adanya sembilan alternatif strategi yang digolongkan berdasarkan empat (4) tipe strategi yaitu integritas kebelakang penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk. Hasil analisis matriks IE (Internal-Eksternal) menunjukkan bahwa Startup Digital X berada pada posisi kuadran satu yaitu strategi yang diperlukan untuk perusahaan saat ini adalah grow and build strategy.   The purpose of the study is to analyze the business strategy of Digital Startup X through the identification of internal factors and external factors of the company as a consideration to realize important policies in the fisheries business. This research was carried out at Digital Startup X during May 2024. The method used in this study is a case study using primary data and secondary data that uses the purposive sampling technique as a data collection technique. The data analysis used was quantitative descriptive data analysis using SWOT analysis. The results obtained are internal factor analysis has a value of 3,72 which shows that Digital Startup X is above average of its overall strategic position. Meanwhile, the external factor analysis has a value of 3,49 which shows that Digital Startup X is above average of its overall external position. The results of the SWOT matrix analysis show that there are nine alternative strategies classified based on four (4) types of strategies, namely integrity behind market penetration, market development, and product development. The results of the IE (Internal-External) matrix analysis show that Digital Startup X is in the first quadrant, namely the strategy needed for the company today is the grow and build strategy.
Sustainability Analysis and Development Strategy for Catfish Cultivation in Tulungagung, East Java Ambarwati, Widya; Yuliana, Ernik; Mudzakir, Abdul
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.5

Abstract

Tulungagung Regency, located in East Java Province, is a region with significant fisheries potential, encompassing both marine capture and aquaculture. With 12,220 cultivators actively engaged in aquaculture, Tulungagung stands out as a key area for freshwater fish farming, particularly for species such as catfish, gourami, and tilapia. However, for these cultivators to succeed, it is crucial to assess the sustainability of their operations and develop effective business strategies. This research focuses on identifying the gaps in current cultivation practices and offering solutions to ensure both sustainability and profitability, especially in the catfish farming sector. Using a quantitative approach, the study surveyed 71 catfish cultivators across five prominent sub-districts in Tulungagung Regency. Data were gathered through observations and questionnaires distributed to the respondents in the January – April 2024 range. The sustainability of the catfish farming business was evaluated using a Likert scale, which assessed four key dimensions: technological, ecological, economic, and social. Additionally, a SWOT analysis was conducted to determine the most appropriate strategies for business development. The findings revealed that the combined index for the four sustainability dimensions was 72.78%, indicating that the catfish farming industry in Tulungagung Regency is relatively sustainable. The SWOT analysis positioned the business development strategy in quadrant II, suggesting a diversification approach that leverages the business's internal strengths to mitigate external threats.
Indeks Trofik-Saprobik pada Bivalvia Sebagai Indikator Status Pencemaran di Perairan Pesisir Desa Lamu, Kabupaten Gorontalo: Trophic-Saprobic Index Based on Bivalves Diversity as an Indicator of Pollution Status in the Coastal Waters of Lamu Village, Gorontalo Regency Wonopati, Cindy Trisnawaty; Kadim, Miftahul Khair; Panigoro, Citra; Kasim, Faizal; Pasisingi, Nuralim
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.7

Abstract

Perairan Pantai Desa Lamu merupakan salah satu pantai potensial di Teluk Tomini karena memiliki keanekaragaman hayati penting. Aktifitas antropogenik disekitar perairan pantai berpotensi memberikan dampak pencemaran kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status pencemaran di Perairan Pesisir Desa Lamu Kabupaten Gorontalo menggunakan indeks trofik-saprobik berdasarkan keanekaragaman bivalvia. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Mei 2024. Penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling dengan menggunakan kuadran yang berukuran 1×1 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16 spesies bivalvia yang mewakili 12 famili ditemukan di lokasi penelitian, dimana Caloarca tenella menjadi spesies yang paling melimpah. Berdasarkan keanekaragaman Bivalvia yang ditemukan, spesies penyusun saprobik tersusun atas 3 kelompok yaitu Polisaprobik, ꞵ Mesosaprobik, dan Oligosaprobik. Nilai SI berkisar antara -0,50 hingga 1,36 dan TSI berkisar antara 1 hingga 1,96 yang menunjukkan bahwa perairan Desa Lamu berada pada kondisi tercemar ringan sampai berat.   The coastal waters of Lamu Village represent one of the potential beaches in Tomini Bay due to their significant biodiversity. Anthropogenic activities in the surrounding coastal areas have the potential to impact water quality through pollution. This study aims to assess the pollution status in the coastal waters of Lamu Village, Gorontalo Regency, using the trophic-saprobic index based on bivalves diversity. The research was conducted from February to May 2024. The study employed a purposive random sampling method using 1×1 meter quadrants. The results showed that 16 bivalvia species representing 12 families were found at the research site, with Caloarca tenella being the most abundant species. Based on the bivalves diversity found, the saprobic species were composed of 3 groups: Polysaprobic, ꞵ Mesosaprobic, and Oligosaprobic. The SI values ranged from -0.50 to 1.36, and TSI values ranged from 1 to 1.96, indicating that the waters of Lamu Village are in a state of light to severe pollution.
Komposisi dan Dinamika Sampah Laut di Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya: Composition and Dynamics of Marine Debris in the Wonorejo Mangrove Ecotourism Area, Surabaya Isdianto, Andik; Yanuhar, Uun; Lelono, Tri Djoko; Susilo, Edi; Ramadhanti, Nur Fa'izah Fitri; Nizery, Sefhanissa Puspa Retno; Fathah, Aulia Lanudia; Batoro, Jati; Putri, Berlania Mahardika; Wardana, Novar Kurnia; Puspitasari, Intan Dwi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.12

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh muson dan arus laut terhadap distribusi dan komposisi sampah di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Dengan menggunakan metode survei garis pantai di lima lokasi penelitian, data sampah dikumpulkan pada Maret, Mei, dan September 2024. Analisis terfokus pada pengukuran jumlah dan berat sampah terutama plastik, karet, kain, dan bahan lainnya. Hasil menunjukkan bahwa sampah plastik adalah yang paling dominan, mencapai 95,33% dari total berat sampah pada September, sedangkan pada bulan Maret dan Mei, jumlahnya juga sangat tinggi. Lonjakan signifikan dalam sampah karet tercatat pada Mei, kemungkinan disebabkan oleh kegiatan rekreasi yang meningkat selama musim liburan. Pola perubahan sampah menunjukkan bahwa muson barat (Desember-Maret) yang membawa curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan akumulasi sampah di pantai, terutama plastik dan karet, karena aliran permukaan yang membawa sampah dari daratan ke pesisir. Sebaliknya, pada muson timur (Juni-September), yang umumnya lebih kering, terjadi penurunan jumlah sampah yang terakumulasi, terutama plastik, karena arus laut yang bergerak menjauh dari pantai mengurangi penumpukan sampah di pesisir. Mangrove berperan penting sebagai filter alami, menangkap dan mengurangi sampah yang masuk ke ekosistem pesisir. Berdasarkan temuan ini, disarankan peningkatan fasilitas pengelolaan sampah dan edukasi publik tentang pengurangan penggunaan plastik sekali pakai untuk mengurangi dampak negatif sampah pada ekosistem mangrove.   This study was conducted to understand the influence of monsoons and ocean currents on the distribution and composition of waste in the Wonorejo Mangrove Ecotourism, Surabaya. Using a shoreline survey method at five locations, waste data was collected in March, May, and September 2024. The analysis focused on measuring the amount and weight of waste, especially plastic, rubber, cloth, and other materials. The results showed that plastic waste was the most dominant, reaching 95.33% of the total weight of waste in September, while in March and May, the amount was also very high. A significant spike in rubber waste was recorded in May, possibly due to increased recreational activities during the holiday season. The pattern of waste changes showed that the west monsoon (December-March) which brought high rainfall caused an increase in the accumulation of waste on the beach, especially plastic and rubber, due to surface flow carrying waste from the mainland to the coast. Conversely, in the east monsoon (June-September), which is generally drier, there was a decrease in the amount of accumulated waste, especially plastic, because the ocean current moving away from the coast reduced the accumulation of waste on the coast. Mangroves play an important role as natural filters, capturing and reducing waste that enters the coastal ecosystem. Based on these findings, it is recommended to improve waste management facilities and public education on reducing the use of single-use plastics to reduce the negative impact of waste on the mangrove ecosystem.
Analisis Perbandingan Fluktuasi Produktivitas Primer Mingguan Kolam Beton dengan Kolam Tanah: Comparative Analysis of Weekly Primary Productivity Fluctuations of Concrete Ponds with Traditional Ponds Amrillah, Attabik Mukhammad; Amin, Abd. Aziz; Salamah, Lutfi Ni’matus
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.13

Abstract

Produktivitas primer merupakan indikator utama kesehatan ekosistem akuatik, karena mencerminkan kemampuan perairan dalam menghasilkan biomassa. Penelitian ini dilakukan di kolam budidaya ikan UPT Laboratorium Sumberpasir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan profil mingguan produktifitas primer antara kolam beton dan kolam tanah dengan pengambilan sampel mingguan selama delapan minggu, dan mengukur parameter seperti suhu, pH, oksigen terlarut (DO), nitrat, fosfat, klorofil a. Metode pengukuran produktivitas primer diukur menggunakan metode botol terang dan botol gelap. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kolam beton cenderung mengalami fluktuasi yang lebih besar dalam suhu dan pH dibandingkan dengan kolam tanah. Suhu pada kolam beton lebih tinggi, sedangkan kolam tanah lebih stabil. Tingkat DO di kolam tanah juga lebih tinggi, menunjukkan ketersediaan oksigen yang lebih baik untuk organisme air. Kolam beton menunjukkan kadar nitrat yang lebih tinggi pada awal pengukuran, yang secara bertahap menurun. Sebaliknya, kadar nitrat pada kolam tanah lebih stabil, namun lebih rendah secara keseluruhan. Demikian pula, konsentrasi fosfat dan klorofil-a pada kolam beton umumnya lebih tinggi, produktivitas primer pada kolam tanah awalnya lebih tinggi, namun kolam beton menunjukkan peningkatan produktivitas primer pada titik-titik tertentu. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kolam tanah cenderung memberikan lingkungan yang lebih stabil bagi ikan, sedangkan kolam beton dapat mendukung produktivitas primer yang lebih tinggi dengan manajemen nutrisi yang tepat. Hasil ini memberikan wawasan penting bagi praktik budidaya ikan dalam memaksimalkan produktivitas dengan memperhatikan karakteristik masing-masing jenis kolam.   Primary productivity serves as a principal indicator of the health of aquatic ecosystems, as it reflects the capacity of these ecosystems to produce biomass. The present study was conducted in the fish farming ponds of the Sumberpasir Laboratory. The objective of this study was to compare the weekly profile of primary productivity between concrete ponds and earthen ponds. To this end, samples were taken on a weekly basis for a period of eight weeks, and a range of parameters were measured, including temperature, pH, dissolved oxygen (DO), nitrate, phosphate, and chlorophyll a. The primary productivity measurement method employed was the light bottle and dark bottle method. The results of the measurements demonstrated that the concrete ponds exhibited greater fluctuations in temperature and pH compared to the earthen ponds. The temperature in the concrete ponds was observed to be higher, while the soil ponds demonstrated greater stability. Furthermore, the earthen ponds exhibited higher levels of dissolved oxygen (DO), which indicates enhanced oxygen availability for aquatic organisms. The initial nitrate levels in the concrete ponds were higher than those in the earthen ponds, but they subsequently decreased. In contrast, nitrate levels in the earthen ponds exhibited greater stability, although they were overall lower. Similarly, phosphate and chlorophyll-a concentrations in concrete ponds were generally higher, primary productivity in earthen ponds was initially higher, but concrete ponds showed increased primary productivity at certain points. Overall, this study suggests that earthen ponds tend to provide a more stable environment for fish, while concrete ponds can support higher primary productivity with propernutrient management. These results provide important insights for fish farming practices in maximizing productivity by considering the characteristics of each pond type.
Karakteristik Biologi dan Potensi Sumberdaya Ikan Layang Deles (Decapteraus Macrosoma) di Perairan Prigi Jawa Timur: Biological Characteristics and Resource Potential of Layang Deles (Decapteraus Macrosoma) in Prigi Waters,East Java Sari, Wahida Kartika; Utami, Ririn; Aisyah, Berdita Nur; Setyohadi, Daduk; Lelono, Tri Djoko
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.15

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi merupakan salah satu pusat kegiatan perikanan tangkap terbesar di Jawa Timur yang terletak di perairan Samudera Hindia dan masuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI 573). Perairan ini didominasi oleh sumberdaya ikan pelagis seperti ikan layang deles (Decapterus macrosoma). Tingginya tingkat pemanfaatan ikan layang di Prigi menunjukkan potensi ekonomi yang besar, namun juga mengindikasikan ancaman terhadap keberlanjutan sumberdaya jika tidak dikelola secara bijak. Penelitian ini perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih dalam mengenai aspek biologi ikan layang deles, mengingat tingginya tingkat pemanfaatan yang berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan jika tidak dikelola dengan baik. Fokus utama penelitian meliputi hubungan panjang-berat, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan nisbah kelamin ikan layang deles. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel secara acak sederhana dari ikan yang didaratkan nelayan menggunakan alat tangkap purse seine. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan ikan layang deles adalah allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,038, yang mengindikasikan pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan berat. Tingkat kematangan gonad menunjukkan variasi dari TKG I hingga V, dengan nilai indeks kematangan gonad betina lebih tinggi dibandingkan jantan. Analisis nisbah kelamin menunjukkan proporsi ikan jantan dan betina cenderung seimbang dengan hasil uji chi-square yang tidak signifikan. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengelolaan perikanan berkelanjutan di WPP-NRI 573.   Prigi Perikanan Nusantara Port (PPN) is one of the largest capture fisheries centres in East Java, located in the waters of the Indian Ocean and included in the State Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPP-NRI 573). These waters are dominated by pelagic fish resources such as deles (Decapterus macrosoma). The high level of kite fish utilisation in Prigi indicates great economic potential, but also indicates a threat to the sustainability of the resource if not managed wisely. This research needs to be conducted to provide a deeper understanding of the biological aspects of deles swallow, given the high utilisation rate that could potentially threaten the sustainability of fisheries resources if not managed properly. The main focus of the research included length-weight relationship, gonad maturity level (TKG), gonad maturity index (IKG), and sex ratio of deles flyfish. The study used descriptive quantitative method with simple random sampling of fish landed by fishermen using purse seine gear. The results showed that the growth pattern of Deles flyfish is negative allometric with a b value of 2.038, which indicates that length growth is more dominant than weight. The level of gonad maturity showed variations from TKG I to V, with a higher gonad maturity index value for females than males. Sex ratio analysis showed that the proportion of male and female fish tended to be balanced with non-significant chi-square test results. This research is expected to contribute to sustainable fisheries management in WPP-NRI 573.
Pengaruh Jenis Kelamin dan Sumber Bibit terhadap Produksi Kepiting Cangkang Lunak: The Impact of Sex and Broodstock on Soft-Shelled Crab Production Pohan Panjaitan; Sihombing, Bandung; Manullang, Herlina Mariance
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.16

Abstract

Saat ini terjadi peningkatan konsumsi kepiting secara global. Peningkatan konsumsi global memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia, namun produksi kepiting hasil tangkapan dari perairan Indonesia, termasuk wilayah Kabupaten Langkat, masih rendah. Salah satu strategi untuk mengatasi permasalahan terbatasnya produksi kepiting hasil tangkapan laut adalah dengan pengembangan industri budidaya kepiting cangkang lunak atau soft shell crab. Ada beberapa jenis kepiting yang dapat dijadikan kepiting cangkang lunak dan dapat dibudidayakan misalnya kepiting bakau dan jenis lainnya antara lain Portunus pelagicus dan Callinectes sapidus. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang mengkaji secara ilmiah pengaruh jenis kelamin  dan sumber bibit terhadap produksi kepiting cangkang lunak. Maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh jenis kelamin dan sumber benih terhadap produksi kepiting lunak. Penelitian ini dilaksanakan di unit tambak  selama empat bulan yaitu pada bulan Agustus sampai dengan November 2020 yang berlokasi  di Desa Tanjung Ibus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara yang terletak di unit tambak  milik peneliti. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 (dua) faktor perlakuan. Faktor perlakuan pertama adalah jenis kelamin (K) yang terdiri dari 3 jenis yaitu betina dengan perut berbentuk V (K1), betina dengan perut berbentuk U (K2) dan jantan (K3).  Faktor perlakuan kedua adalah sumber benih (S) yang terdiri dari hasil tangkapan langsung dari laut (S1) dan dari hasil pendederam sebelumnya di unit tambak  S (S2). Setiap kombinasi perlakuan diulang   3 (tiga) kali.Parameter uji yang digunakan untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan pada penelitian ini meliputi: persentase kelangsungan hidup, total produksi dan kualitas air (suhu, pH, salinitas dan konsentrasi oksigen terlarut). Uji ragam pada percobaan faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok pada penelitian ini menunjukkan bahwa faktor perlakuan sumber benih dan faktor perlakuan jenis kelamin benih mempunyai pengaruh yang nyata terhadap produksi kepiting lunak  namun   interaksi antara perlakuan sumber benih dengan perlakuan jenis kelamin benih. tidak berpengaruh nyata terhadap produksi kepitimg lunak. Jenis kelamin dan sumber benih kepitimg lunak berpengaruh nyata, namun interaksi kedua faktor perlakuan tidak nyata terhadap produksi kepitimg lunak. Kepiting betina berbentuk V mempunyai produksi kepiting lunak yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepiting betina berbentuk U dan kepiting jantan.  Kepiting betina berbentuk V mempunyai produksi kepiting lunak yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepiting betina berbentuk U dan kepiting jantan.   Currently there is an increase in global consumption of crabs. The increase in global consumption has had a positive impact on the Indonesian economy, but the production of crabs caught from Indonesian seas, including the Langkat Regency area, is still low. One strategy to overcome the problem of limited production of sea-caught crabs is the development of a soft-shell crab or soft-shell crab cultivation industry. There are a number of crab species that can be made into soft shell crabs and can be cultivated for example mud crabs and other species include Portunus pelagicus and Callinectes sapidus. This article is the result of research that scientifically examines the influence of gender and seed source on the production of softshell crabs. So this research aims to obtain information about the influence of gender and seed source on soft crab production. This research was carried out in a brackish water pond for four months, namely from August to November 2020, located in Tanjung Ibus Village, Secanggang District, Langkat Regency, North Sumatra Province, located in the researcher's Inot pond. This research is a factorial experiment in a Randomized Group Design with 2 (two) treatment factors. The first treatment factor is gender (K) which consists of 3 types, namely females with a V-shaped stomach (K1), females with a U-shaped stomach (K2) and males (K3). The second treatment factor is the source of seeds (S) which consists of caught directly from the sea (S1) and from a brackish water pond that have been previously raisedS (S2). Each treatment combination was repeated 3 (three) times.The test parameters used to evaluate the effect of treatment in this study include: survival percentage,  total production and water quality (temperature, pH, salinity and dissolved oxygen concentration).The test of variance in the factorial experiment with a Randomized Block Design   in this study showed that the seed source treatment factor and the seed sex treatment factor had a significant influence on soft crab production but the interaction between the seed source treatment and the seed sex treatment had no significant effect on production of soft crab. Gender and source of crab seeds had a significant effect, but the interaction between the two treatment factors was not significant on soft crab production. V-shaped female crabs have a higher production of soft crabs compared to U-shaped female crabs and male crabs.  V-shaped female crabs have a higher production of soft crabs compared to U-shaped female crabs and male crabs.
Pengaruh Perbedaan Tadah Air Hujan dan Tadah Air Tawar terhadap Tingkat Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) di Desa Randusanga Wetan Kabupaten Brebes: Effect Of Differences with Rainwater Containers and Freshwater Containers on the Growth Rate of Tila Fish (Oreochromis Niloticus) in Randusanga Wetan Village, Brebes District Karina Farkha Dina; Yudo, Lukman Pranoto; Mulatsih, Sri; al-jabri, Muhammad; Hartanti, Ninik Umi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.5

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang digemari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein hewani karena memiliki daging yang tebal serta rasa yang enak. Ikan nila juga merupakan ikan primadona ekspor yang terus meningkat dibuktikan dengan jumlah permintaan yang terus meningkat tiap tahunnya. Dalam upaya untuk meningkatkan produksi ikan nila, maka perlu dilakukan pengujian Media air yang sesuai dengan kebutuhan ikan nila agar dapat meningkatkan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media air yang lebih baik antara air hujan atau air tawar terhadap tingkat pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan yang berbeda, 3 kali ulangan. Variabel perubahan adalah variabel air hujan, air tawar dan kontrol yaitu: Perlakuan A1 (air tawar yang difilter), A2 (air hujan yang di filter), K1 (kontrol 1, air tawar yang tidak di filter) dan K2 (kontrol 2, air hujan yang tidak di filter). Kualitas air dalam hubungannya dengan parameter fisika (suhu dan oksigen terlarut) serta parameter kimia (pH, salinitas, Ca, Mg, CO3, HCO3, PO4, NO2, amonia dan TOM). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara pada media air hujan tidak berbeda nyata (P ˃ 0,05) dengan yang dipelihara pada air tawar.   Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the fishery commodities that is popular with the public to meet their animal protein needs because it has thick flesh and a delicious taste. Tilapia is also a favorite export fish which continues to increase as evidenced by the number of requests which continues to increase every year. In an effort to increase tilapia production, it is necessary to test suitable and good water media in order to increase the growth of tilapia (Oreochromis niloticus). This research aims to determine which water medium is better, rainwater or freshwater, on the growth rate of tilapia (Oreochromis niloticus). The method used in this research was a Completely Randomized Design (CRD) with two different treatments, 3 repetitions. The change variables were rainwater, freshwater and control variables, namely: Treatment A1 (filtered freshwater), A2 (filtered rainwater), K1 (control 1, unfiltered freshwater) and K2 (control 2, water unfiltered rain). Water quality in relation to physical parameters (temperature and dissolved oxygen) and chemical parameters (pH, salinity, Ca, Mg, CO3, HCO3, PO4, NO2, ammonia and TOM). The results of the study showed that the growth rate of tilapia (Oreochromis niloticus) kept in rainwater was not significantly different (P ˃ 0.05) from that kept in fresh water.
Performa Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelulusan Hidup Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus Fuscoguttatus X Epinephelus Lanceolatus) Tahap Pendederan: Growth Performance and Survial Rate of Cantang Grouper (Epinephelus Fuscoguttatus X Epinephelus Lanceolatus) in Nursury Stage Ningrum, Sri Indah Puspito; Hapsari, Larasati Putri; Priyadi, Hermawan Gatot
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.10

Abstract

Kerapu cantang merupakan hasil perkawinan silang antara indukan kerapu macan betina (Epinephelus fuscoguttatus) dengan indukan kerapu kertang jantan (Epinephelus lanceolatus) dengan tujuan untuk mendapatkan varietas baru yang pertumbuhannya lebih cepat dari pada induknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pertumbuhan, nilai Survival Rate, dan kondisi parameter kualitas air benih kerapu cantang pada fase pendederan. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan penentuan pengambilan sample menggunakan metode Simple Random Sampling dengan mengukur berat dan panjang ikan. Data diperoleh melalui pengamatan selama 4 minggu. Setiap sampling ikan kerapu cantang diambil 10 ekor kemudian diukur panjang dan beratnya. Data yang disajikan dalam bentuk gambar, tabel dan diagram. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata nilai panjang mutlak sebesar 3,88 cm, rata-rata nilai berat mutlak sebesar 10,23 gram, Survival Rate sebesar 85,94%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa performa ikan kerapu cantang cukup baik dengan tingkat kelulushidupan yang juga masih diatas baku mutu yaitu ± 80%. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu (28-29ºC), salinitas (33-34 ppt), pH (8,13-8,30), dan DO (5,32-5,96 mg/L), hasil pengukuran kualitas air tergolong baik, sebab masih dalam baku mutu air untuk budidaya benih kerapu cantang berdasarkan SNI. Nilai pertumbuhan ikan kerapu cantang masih sesuai dengan SNI 8036.2: 2014 untuk fase pendederan, dengan tingkat kelulushidupan yang cukup tinggi disebabkan oleh faktor daya tahan tubuh benih ikan kerapu cantang.   Cantang grouper is the result of crossbreeding between female tiger grouper parents (Epinephelus fuscoguttatus) with male tiger grouper parents (Epinephelus lanceolatus) with the aim of obtaining a new variety that grows faster than its parent. This research aims to determine the growth performance, Survival Rate value, and condition of water quality parameters for cantang grouper seeds in the nursery phase. The method used is a survey method by determining sampling using the Simple Random Sampling method by measuring the weight and length of the fish through observations for 4 weeks. For each sampling, 10 cantang grouper fish were taken and then their length and weight were measured. Observation results are presented in the form of pictures, tables and diagrams. The observation results show that the average absolute length value is 3.88 cm, the average absolute weight value is 10.23 grams, the survival rate is 85.94%. Based on these results, it can be seen that the performance of cantang grouper fish is quite good with a survival rate that is still above the quality standard, namely ± 80%. Water quality parameters measured include temperature (28-29ºC), salinity (33-34 ppt), pH (8.13-8.30), and DO (5.32-5.96 mg/L), the results of quality measurements The water is classified as good, because it is still within the water quality standards for cultivating cantang grouper seeds based on SNI. The growth value of cantang grouper is still in accordance with SNI 8036.2: 2014 for the nursery phase, with a fairly high survival rate due to the body resistance factor of cantang grouper seeds.