cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Aplikasi Bakteri Probiotik Bacillus Spp. terhadap Pembentukan Biofilm dan Kualitas Air: Studi Eksperimental pada Media Kultur Budidaya Udang Vaname: Application of Probiotic Bacteria Bacillus Spp. on Biofilm Formation and Water Quality: an Experimental Study on Vaname Shrimp Cultury Media Moehammad, Khibar Syiar; Kurniawan , Andi; Faqih, Abd. Rahem
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh aplikasi probiotik Bacillus spp. terhadap pembentukan biofilm dan kualitas air pada media budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan akuarium berkapasitas 12 liter yang dilengkapi substrat HDPE sebagai media pembentukan biofilm. Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan amonia (NH₃). Pengukuran dilakukan secara berkala selama 168 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi probiotik Bacillus spp. secara signifikan memengaruhi penurunan kadar amonia dan peningkatan ketebalan biofilm. Suhu dan pH berada dalam kisaran optimal, yaitu 28–30°C dan 7,5–8,5, yang mendukung pertumbuhan udang vaname dan aktivitas probiotik. Penurunan kadar amonia terlihat sangat signifikan, dari kondisi awal 3,9 mg/L menjadi <1 mg/L pada perlakuan probiotik. Pembentukan biofilm yang signifikan pada substrat HDPE menunjukkan bahwa probiotik mendukung terciptanya habitat mikroorganisme yang stabil, sehingga efektif dalam proses degradasi senyawa toksik seperti amonia. Pembentukan biofilm yang stabil dan Bacillus spp. mendukung proses bioremediasi serta menjaga kualitas air, sehingga menciptakan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan dan produktivitas udang vaname. Stabilitas biofilm ini juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem mikroba pada media budidaya. Penelitian ini menegaskan bahwa aplikasi probiotik Bacillus spp. memiliki potensi dalam meningkatkan kualitas air dan mendukung pengelolaan limbah seperti amonia, dalam sistem budidaya udang vaname. Temuan ini menunjukkan bahwa probiotik Bacillus spp. berpotensi dalam mendukung produktivitas budidaya.   This study aims to explore the effect of probiotic Bacillus spp. application on biofilm formation and water quality in vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) culture media. The study was conducted experimentally using a 12-liter aquarium equipped with HDPE substrate as a medium for biofilm formation. Water quality parameters observed included temperature, pH, dissolved oxygen (DO), salinity, and ammonia (NH₃). Measurements were taken periodically for 168 hours. The results showed that the application of probiotic Bacillus spp. significantly affected the decrease in ammonia levels and the increase in biofilm thickness. Temperature and pH were within the optimal range of 28-30°C and 7.5-8.5, which favored vaname shrimp growth and probiotic activity. A significant decrease in ammonia levels was observed, from the initial condition of 3.9 mg/L to <1 mg/L in the probiotic treatment. Significant biofilm formation on HDPE substrate indicates that probiotics support the creation of a stable microorganism habitat, making it effective in the degradation process of toxic compounds such as ammonia. Stable biofilm formation and Bacillus spp. support the bioremediation process and maintain water quality, creating an optimal environment for vaname shrimp growth and productivity. This biofilm stability also plays a role in maintaining the balance of the microbial ecosystem in the culture medium. This study confirms that the application of probiotic Bacillus spp. has a positive effect on the growth of vaname shrimp.
Kladistik Genera Famili Leiognathidae melalui Penelusuran Morfologi Eksternal dan Otolith: Cladistic Genera of Family Leiognathidae Based on External Morphology and Otolith Samuel, Pratama Diffi; Wiadnya, Dewa Gede Raka; Anam, M. Choirul; Setyanto, Arief; Khamidah, Nur; Yasmin, Delviega Aisyah; Astuti , Septiana Sri
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.15

Abstract

Anggota famili Leiognathidae atau Peperek termasuk dalam kategori minor commercial, berfungsi sebagai komoditas ketahanan pangan sehingga kurang mendapat perhatian untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hipotesis penemuan seluruh genera dari Leiognathidae pada perairan Pantai Jawa Timur. Sampel ikan dikoleksi dari hasil tangkapan nelayan dengan alat penangkapan ikan; Jaring Tarik, Cantrang, dan Mini-Trawl dari Januari 2023 sampai Oktober 2024. Analisis genus dilakukan melalui deskripsi morfologi eksternal, morfometri, dan penyelidikan otolith. Studi otolith dilakukan melalui koleksi sagittae dari tulang telinga di belakang otak. Analisis morfometri untuk memperjelas definisi bentuk tubuh menggunakan perangkat lunak TpsDig. Total 12 variabel morfologi digunakan untuk menjelaskan masing-masing kerabat pada genus. Sementara deskripsi otolith dianalisis dengan menggunakan 15 variabel bentuk, cekungan, dan tonjolan dari otolith. Dendogram dihasilkan dari analisis morfologi dan otolith untuk memisahkan kekerabatan di antara genus. Hasil analisis membuktikan bahwa terdeskripsi total 10 genera dari famili Leiognathidae yaitu; Leiognathus, Aurigequula, Eubleekeria, Photopectoralis, Nuchequula, Karalla, Gazza, Deveximentum, Equulites, dan Photolateralis. Genus Gazza ditemukan pada seluruh lokasi sampling. Namun genus Karalla hanya ditemukan pada lokasi sampling di Selatan Barat Jawa Timur (Pantai Dangkal Pacitan, dan Prigi Trenggalek). Hasil analisis dendogram berhasil menempatkan Equulites satu kerabat dengan Photolateralis, namun tidak berhasil memisahkan antara Leiognathinae dengan Gazzinae. Sebaliknya, analisis menggunakan morfologi otolith tidak berhasil menempatkan Equulites satu kelompok dengan Photolateralis, namun bisa memisahkan antara sub famili Leiognathinae dengan Gazzinae. Kondisi lingkungan geografis mungkin menjadi faktor utama terjadinya adaptasi morfologi eksternal dan otolith yang berbeda. Deskripsi morfologi dan otolith bisa digunakan sebagai indikator apomorfi genus. Analisis genetik melalui DNA barcoding masih diperlukan untuk menelusuri kekerabatan diantara genus.   Members of family Leiognathidae are included in the minor commercial category, functioning as a food security commodity so that they have received less attention for research. The study aims to prove the hypothesis of the discovery of all genera of Leiognathidae within coastal waters of East Java. Fish samples were collected from the catches of fishermen using fishing gear; Beach Seine, modified Danish Seine, and Mini-Trawl, from January 2023 to October 2024. Genera analysis was carried out through external morphological descriptions, morphometry, and otolith investigations. Otoliths were collection of sagittae from the ear bones behind the brain. Morphometric analysis to clarify the definition of body shape were using TpsDig software. A total of 12 morphological variables were used to describe each genus within family. While the otolith description was analyzed using 15 variables of shape, depression, and protrusion of the otolith. Each dendrogram was generated from morphological and otolith analysis to separate the clade among genera. The results of the analysis proved that all 10 genera of Leiognathidae were described, consisting of: Leiognathus, Aurigequula, Eubleekeria, Photopectoralis, Nuchequula, Karalla, Gazza, Deveximentum, Equulites, and Photolateralis. The genus Gazza was found in all sampling locations. However, the genus Karalla was only described in two sampling locations in Southwest of East Java (Pantai Dangkal Pacitan, and Prigi Trenggalek). The results of dendogram analysis succeeded in placing Equulites in the same clade as Photolateralis, but failed to separate Leiognathinae from Gazzinae. On the other hand, the analysis using otolith morphology failed to place Equulites in the same group as Photolateralis, but could separate Leiognathinae from Gazzinae. Geographical barriers and environmental factors might be the main factor in the occurrence of different morphological and otolith adaptations. Genera can be distinguished through external morphology and otolith description. Genetic analysis through DNA barcoding is still needed to trace the lineage among genera of Leiognathidae.
Analisis Potensi Ekonomi Regional Sektor Perikanan di Kabupaten Penajam Paser Utara: Regional Economic Potential Analysis of the Fisheries Sector in Penajam Paser Utara Regency Fitriyana, Fitriyana; Rifai, Muhamad
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.6

Abstract

Kabupaten Penajam Paser Utara secara geografis wilayahnya didominasi wilayah laut dan pesisir, sehingga sektor perikanan menjadi sektor utama penggerak roda perekonomian masyarakat. Besarnya potensi di sektor perikanan tersebut tentu harus ditelaah dengan akurat untuk menentukan prioritas pembangunan yang tepat sasaran dalam mengembangkan perekonominan wilayah. Adapun tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dari sektor perikanan yang berpotensi untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara. Metode analisis yang diterapkan dalam riset ini antara lain Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Tipologi Klassen, dan Shift Share Analysis (SSA). Data time series produksi sektor perikanan dalam satuan ton selama 5 tahun terakhir dari tahun 2018 hingga 2023 digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan proses analisis data yang telah dilakukan hasil menunjukkan bahwa sektor budidaya tambak sederhana adalah sektor utama atau sektor unggulan. Sektor perikanan tangkap di laut memiliki pola dan struktur pertumbuhan ekonomi yang paling baik di antara sektor lainnya. Kedua sektor tersebut memiliki potensi, daya saing dan prospek yang lebih unggul jika dibandingkan dengan sektor perikanan lainnya untuk dikembangkan dalam menunjang pembangunan daerah Kabupaten Penajam Paser Utara.   Penajam Paser Utara Regency is primarily dominated by marine and coastal areas, therefore the fishing industry is the main catalyst for the local economy. The vast potential in the fisheries industry must, of course, be carefully evaluated in order to identify development goals that are appropriate for the development of the local economy. The objective of this study is to determine the comparative and competitive advantages of the fisheries industry that can be developed in the Penajam Paser Utara Regency. The analytical approaches employed in this study include Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Klassen Typology, and Shift Share Analysis (SSA). This study employs time series data on fisheries sector production in tons over the last five years, specifically from 2018 to 2023. Based on the findings of the data analysis procedure, the basic pond cultivation sector is either the base or leading sector. The marine catch fisheries sector has the best economic growth pattern and structure of any other sector. When compared to other fishing sectors that will be promoted to help regional development in Penajam Paser Utara Regency, these two have the most potential, competitiveness, and prospects.
Manajemen Produktivitas Ikan Nila Berdasarkan Indikator Sosial Ekonomi (Studi Kasus di Provinsi Jawa Barat, Indonesia): Management of Tilapia Fish Productivity Based on Socio-Economic Indicators (Case Study in West Java Province, Indonesia) Nurhayati, Atikah; Herawati, Titin; Suryana, Asep Agus Handaka
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.13

Abstract

Potensi pengembangan budidaya ikan nila di Jawa Barat dilakukan dalam upaya pemenuhan permintaan pasar dengan harga yang bersaing sehingga memberikan manfaat bagi pembudidaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen produktivitas ikan nila berdasarkan indikator sosial ekonomi (Studi Kasus di Provinsi Jawa Barat, Indonesia).  Metode penelitian menggunakan survei dengan deskripsi kuantitatif.  Lokasi penelitian di Jawa Barat, meliputi Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang  merupakan daerah sentra produksi ikan nila. Waktu penelitian Agustus 2023 – Januari 2024. Sumber data menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan kuesioner kepada responden yaitu pembudidaya ikan nila sebanyak 40 responden dengan menggunakan purposive sampling berdasarkan pengalaman produksi budidaya ikan nila. Alat analisis yang digunakan regresi liner berganda dan matriks indikator sosial ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian faktor yang mempengaruhi manajemen produktivitas ikan nila (Y) berdasarkan uji F seluruh variabel berpengaruh secara simultan terhadap produktivitas budidaya ikan nila yaitu  usia pembudidaya (X1) , luas lahan budidaya (X2) , harga jual per musim tebar (X3), jumlah produksi per musim tebar (X4), harga pakan (X5), jumlah pakan per musim tebar  (X6), harga benih (X7), jumlah benih per musim tebar (X8), dan masa budidaya (X9). Berdasarkan uji T secara parsial variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas budidaya ikan nila (Y) yaitu usia pembudidaya (X1), luas lahan(X2), Harga Pakan (X5) dan jumlah pakan (X6). Indikator sosial ekonomi pembudidaya ikan nila meliputi kemampuan beradaptasi terhadap fluktuasi harga pakan sedangkan faktor luas lahan menjadi tanggungan resiko tertinggi,  sehingga diperlukan kebijakan pemerintah daerah untuk melakukan tata kelola lahan potensial yang berkelanjutan.   The potential for developing tilapia cultivation in West Java is carried out to fulfill market demand at competitive prices to provide benefits to fish farmers. This research aims to analyze tilapia productivity management based on socio-economic indicators (Case Study in West Java Province, Indonesia). The research method uses surveys with quantitative descriptions. The research locations are in West Java, including Tasikmalaya City, Bandung Regency, and Subang Regency, a central area for tilapia fish production. The research period will be August 2023 – January 2024. Data sources use primary and secondary data. Primary data uses a questionnaire to respondents, namely 40 tilapia fish farmers using purposive sampling, based on tilapia fish farming production experience. Based on the results of the study, factors that influence tilapia productivity management (Y) based on the F test, all variables simultaneously influence tilapia cultivation productivity, namely the age of the farmer (X1), the area of ​​cultivation land (X2), the selling price per stocking season (X3), the amount of production per stocking season (X4), the price of feed (X5), the amount of feed per stocking season (X6), the price of seeds (X7), the number of seeds per stocking season (X8), and the cultivation period (X9). Based on the partial T-test, the variables that influence tilapia cultivation productivity (Y) are the age of the farmer (X1), the area of ​​land (X2), the price of feed (X5), and the amount of feed (X6). The socio-economic indicators of tilapia farmers include the ability to adapt to fluctuations in feed prices, while the land area factor is the highest risk bearer, so regional government policies are needed to implement potential sustainable land management.
Identifikasi Spesies dan Estimasi Nilai Produksi Ikan Kerapu (Epinephelus spp.) di Pelabuhan Tangkahan Kandangsemangkon: Analisis Data Perikanan yang Tidak Tercatat: Identification of Species and Estimation of Production Value of Grouper Fish (Epinephelus spp.) at Tangkahan Kandangsemangkon Port: Analysis of Unreported Fisheries Data Lelono, Tri Djoko; Bintoro, Gatut; Tumulyadi, Agus; Fuad, Fuad; Yulianto, Eko Sulkhani; Sutjipto, Darmawan Okto; Waliyuddin, Achmad; Hidayah, Lisa Nur; Widodo, Anung; Mahiswara, Mahiswara
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies kerapu (Epinephelus spp.) serta mengestimasi volume produksi hasil tangkapan kerapu yang tidak tercatat di Tangkahan Kandangsemangkon, Lamongan. Data primer diperoleh melalui identifikasi spesies hasil tangkapan, dan pencatatan volume produksi di Tangkahan Kandangsemangkon. Data sekunder berupa data produksi resmi di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong. Analisis data menggunakan identifikasi visual spesies, kategorisasi spesies pendukung perikanan kerapu berdasarkan Unit of Assessment (UoA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga spesies target utama, yaitu Epinephelus fuscoguttatus, Plectropomus maculatus, dan Epinephelus areolatus. Volume produksi yang tidak tercatat selama periode penelitian mencapai 12,33% dari total produksi kerapu di wilayah tersebut. Spesies pendukung yang teridentifikasi terdiri dari enam spesies primer utama, empat spesies primer minor, satu spesies sekunder utama, dan lima spesies sekunder minor. Hasil ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif nelayan dalam   pengumpulan data spasial serta pencatatan produksi secara partisipatif berperan penting dalam memperbaiki akurasi data perikanan untuk mendukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.   This research aims to identify grouper species (Epinephelus spp.) and estimate the volume of unrecorded grouper catch production at Tangkahan Kandangsemangkon, Lamongan. Primary data were obtained through the identification of landed species and the recording of production volume at Tangkahan Kandangsemangkon. Secondary data consisted of official production data from the Brondong Fishing Port. Data analysis involved visual species identification and categorization of supporting species for the grouper fishery based on the Unit of Assessment (UoA). The research results indicate the presence of three main target species: Epinephelus fuscoguttatus, Plectropomus maculatus, and Epinephelus areolatus. The unrecorded production volume during the research period reached 12.33% of the total grouper production in the area. The supporting species identified consisted of six major primary species, four minor primary species, one major secondary species, and five minor secondary species. These findings suggest that the active involvement of fishermen in spatial data collection and participatory production recording plays a crucial role in improving the accuracy of fisheries data to support sustainable resource management.
Pemetaan Kerentanan Tsunami di Kawasan Wisata Pantai: Studi Kasus di Pulau Merah, Banyuwangi-Indonesia: Tsunami Vulnerability Mapping in Coastal Tourism Areas: A Case Study of Merah Island, Banyuwangi - Indonesia Fuad, Mochamad Arif Zainul; Kurniasari, Diah; Dewi, Citra Satrya Utama
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.2

Abstract

Pantai selatan Jawa merupakan kawasan yang rentan terhadap tsunami karena berbatasan langsung dengan zona subduksi antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Australia. Kejadian tsunami telah melanda beberapa wilayah di Indonesia dan menyebabkan kerugian yang cukup besar, baik korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Oleh karena itu, upaya mitigasi risiko bencana perlu diterapkan di wilayah-wilayah rawan bencana di Indonesia, salah satunya melalui pemetaan kerentanan tsunami dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan wilayah pesisir pariwisata di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi terhadap tsunami berdasarkan beberapa parameter, yaitu kemiringan lahan, elevasi daratan, penggunaan lahan, serta jarak dari garis pantai dan sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan lahan di wilayah penelitian berkisar antara 3-5%, yang termasuk dalam kategori rentan terhadap genangan tsunami, dengan elevasi kurang dari 10 meter. Penggunaan lahan di wilayah ini didominasi oleh kawasan hutan yang dikategorikan tidak rentan. Namun, terdapat sungai yang bermuara di laut, yang memungkinkan gelombang tsunami menjangkau lebih jauh ke daratan melalui aliran sungai. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Weighted Overlay Analysis, wilayah pesisir Desa Sumberagung diklasifikasikan ke dalam kategori kurang rentan(48.2%), rentan (28.6%), dan sangat rentan (11.0%). Meskipun wilayah dengan kategori sangat rentan memiliki luas yang lebih kecil, area ini merupakan kawasan yang padat penduduk dan menjadi penunjang destinasi wisata utama di Banyuwangi, yaitu Pulau Merah.Hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap potensi kejadian Tsunami di wilayah resiko tinggi seperti di lokasi kajian.   The southern coast of Java is highly susceptible to tsunamis due to its direct adjacency to the subduction zone between the Eurasian and the Australian Plates. Indonesia has faced multiple tsunami events, resulting in severe casualties and extensive damage to infrastructure. Therefore, it is imperative that effective disaster risk mitigation strategies are implemented in vulnerable regions in Indonesia, particularly through comprehensive tsunami vulnerability mapping using Geographic Information Systems (GIS). This study decisively evaluates the vulnerability of coastal tourism areas in Sumberagung Village, Pesanggaran District, Banyuwangi Regency, to tsunamis. The analysis is based on critical parameters, including land slope, elevation, land use, and distance from the coastline and rivers. The results show that the land slope in the study area ranges from 3-5%, categorizing it as vulnerable, with elevations under 10 meters. The predominant land use consists of forest areas, classified as not vulnerable, however, the existence of rivers flowing into the sea significantly increases the risk of tsunami-invading rivers. Employing the Weighted Overlay Analysis method, we classified the coastal areas of Sumberagung Village into three categories: less vulnerable (48.2%), vulnerable (28.6%), and very vulnerable (11.0%). Notably, despite the relatively small size of the very vulnerable category, it is densely populated and includes Pulau Merah, one of Banyuwangi’s premier tourist destinations. This analysis underscores the urgent need for informed planning and effective disaster preparedness in these high-risk areas.
Edible Film Berbahan Eucheuma Spinosum/Sargassum Filipendula/Chitosan dengan Rasio Berbeda Terhadap Kualitas Fisik: Edible Film Based on Eucheuma Spinosum/Sargassum Filipendula/Chitosan with Different Ratios Toward Physical and Mechanical Quality Setijawati, Dwi; Yahya, Yahya; Nursyam, Happy
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.5

Abstract

Edible film merupakan lapisan tipis atau film yang terbuat dari komponen yang dapat dimakan dan berfungsi melapisi produk pangan. Bahan pembuatan edible film adalah dari kelompok karbohidrat, lemak, protein dan bahan pengemulsi serta bahan penstabil. Rumput laut seperti Eucheuma spinosum dan Sargassum filipendula adalah biopolymer yang bersifat biodegradable. Bahan pembentuk film tidak hanya dari kelompok rumput laut akan tetapi Chitosan juga dapat dipadukan dalam pembuatan edible film. Chitosan adalah kationik. Eucheuma spinosum adalah bahan penghasil iota caragenan yang bersifat anionik. Sehingga diharapkan dari campuran bahan yang bersifat kationik dan anionik dapat memperkuat ikatan film. Pada penelitian ini didapatkan hasil kadar air berkisar antara 15,87 ± 0,35% hingga 21,23 ± 0,21%. Nilai ketebalan berkisar antara 0,04 ± 0,01 μm hingga 0,17 ± 0,00 μm. Nilai tensile strength berkisar antara 1,38 ± 0,04 MPa hingga 19,45 ± 0,06 MPa. Nilai elongasi berkisar antara 1,10 ± 0,10% hingga 8,93 ± 0,01%. Nilai transmisi uap air berkisar antara 0,00 ± 0,00 g/m2.jam hingga 0,02 ± 0,00 g/m2.jam.   Edible film is a thin layer or film made of edible components and functions to coat food products. Materials making edible films are from the group of carbohydrates, fats, proteins and emulsifying agents and stabilizers. Seaweeds such as Eucheuma spinosum and Sargassum filipendula are biodegradable biopolymers. Film-forming materials are not only from the seaweed group but also Chitosan. Chitosan is cationic. Eucheuma spinosum is an anionic which iota caragenan producing material. So it is expected that the mixture of cationic and anionic materials can strengthen the film bond. In this study, the results of water content ranged from 15.87 ± 0.35% to 21.23 ± 0.21%. The thickness value ranged from 0.04 ± 0.01 μm to 0.17 ± 0.00 μm. Tensile strength values ranged from 1.38 ± 0.04 MPa to 19.45 ± 0.06 MPa. Elongation values ranged from 1.10 ± 0.10% to 8.93 ± 0.01%. Water vapor transmission values ranged from 0.00 ± 0.00 g/m2.h to 0.02 ± 0.00 g/m2.h.
Efektivitas Program Pakan Mandiri di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur: Effectiveness of the Independent Feeding Program in Tulungagung District, East Java Alfarizi, Wildan; Sari, Mariyana; Elita, Vania Norma
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.12

Abstract

Kabupaten Tulungagung menerima bantuan mesin pakan ikan melalui program GERPARI, tetapi sejak 2013 hingga 2022, perkembangan kebijakan pakan mandiri di daerah ini belum terarah sehingga program ini belum dapat dikatakan efektif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk Menganalisis Efektifitas Program Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini dilakukan di Desa Kendalbulur Kabupaten Tulungagung tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang dilakukan dalam kondisi alamiah (natural setting), menggunakan peneliti sebagai instrumen utama. Teknik pengumpulan data melibatkan observasi partisipan dan wawancara mendalam. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles and Huberman dan Skala Likert. Kesimpulan dari penelitian ini yakni indikator efektivitas program yang terdiri dari indikator pencapai tujuan, integrasi, dan adaptasi bahwa ketiga indikator tersebut sudah efektif.   Tulungagung Regency received fish feed machine assistance through the GERPARI program, but from 2013 to 2022, the development of independent feed policies in this area has not been directed so that this program cannot be said to be effective. This study aims to analyze the effectiveness of the Independent Feed Movement Program (GERPARI) in Tulungagung Regency. This research was conducted in Kendalbulur Village, Tulungagung Regency in 2024. This research uses qualitative research methods, which are conducted in natural conditions (natural settings), using researchers as the main instrument. Data collection techniques involved participant observation and in-depth interviews. The data analysis method used in this research is the Miles and Huberman model and the Likert Scale. The conclusion of this study is that the indicators of program effectiveness consisting of indicators of goal achievement, integration, and adaptation that all three indicators are effective.
Pengaruh Variasi Suhu Permukaan Laut (Spl) dan Klorofil-a Terhadap Tangkapan Ikan di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur dari Tahun 2018-2022: The Impact of Variation in Sea Surface Temperature (Sst) and Chlorophyll-a on Fish Catch in Muncar Waters, Banyuwangi, East Java from 2018 To 2022 Julianinda, Yanida Azhari; Iranawati, Feni; Yona, Defri; Sartimbul, Aida
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.3

Abstract

Variabilitas Suhu Permukaan Laut (SPL) dan sebaran klorofil-a di Perairan Muncar (Selat Bali) sangat mempengaruhi hasil tangkapan ikan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar. Informasi mengenai hal ini penting untuk kajian pendugaan dinamika penangkapan ikan melalui penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabilitas parameter oseanografi pada tahun 2018 hingga 2022, serta dinamika penangkapan ikan di Perairan Selat Bali, khususnya di PPP Muncar. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi SPL dan klorofil-a dari satelit Aqua-MODIS level 3 dan data produksi ikan dari PPP Muncar selama 5 tahun. Hasil analisis menunjukkan fluktuasi SPL dan konsentrasi klorofil-a dengan keterkaitan erat antara keduanya. Selama periode tersebut, dinamika penangkapan ikan menunjukkan peningkatan produksi ikan lemuru dan layang pada tahun 2019, meskipun terjadi penurunan produksi pada tahun 2022 akibat peningkatan SPL yang berdampak pada stok ikan. Analisis hubungan antara anomali SPL dan klorofil-a menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a meningkat saat SPL menurun dengan korelasi -0.378. Fenomena penurunan SPL di perairan Selat Bali menyebabkan adanya peningkatan nilai klorofil-a di perairan yang juga mendukung peningkatan pada hasil produksi ikan. Sedangkan peningkatan SPL yang berkontribusi pada menurunnya hasil produksi ikan. Pemahaman mengenai keterkaitan antara SPL dan klorofil-a dapat digunakan salah satu pertimbangan dalam merumuskan strategi pengelolaan sumber daya ikan yang lebih berkelanjutan, guna meningkatkan produksi perikanan di wilayah tersebut di masa depan.   Sea Surface Temperature (SST) variability and chlorophyll-a distribution in the Muncar Waters (Bali Strait) have been demonstrated to significantly impact the catch of fish landed at Muncar Fishing Port. This information is crucial for the study of estimating fishing dynamics through remote sensing. The present study aims to ascertain the variability of oceanographic parameters from 2018 to 2022, as well as the dynamics of fishing in the Bali Strait Waters, with a particular focus on the Muncar Fishing Port.The study utilizes data from the Aqua-MODIS satellite level 3, which includes SPL and chlorophyll-a measurements, along with fish production data from PPP Muncar over a five-year period. The analysis revealed fluctuations in SST and chlorophyll-a concentrations, with a close relationship between the two parameters. During the observed period, fishing dynamics exhibited an increase in Bali Sardinella and Indian Scad production in 2019, followed by a decrease in 2022, attributed to an increase in SPL, which impacted fish stocks. The analysis revealed a negative correlation between SPL and chlorophyll-a anomalies, with chlorophyll-a concentrations increasing as SPL decreased, as indicated by a correlation coefficient of -0.378. The observed phenomenon of decreasing SPL in the waters of the Bali Strait is concomitant with an increase in chlorophyll-a concentration, thereby supporting an increase in fish production. Conversely, an increase in SPL is associated with a decrease in fish production. A comprehensive understanding of the intricate relationship between SPL and chlorophyll-a can inform the development of more sustainable fish resource management strategies, with the ultimate goal of enhancing fisheries production in the region.
Pengaruh Penambahan Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) terhadap Fisikokimia dan Organoleptik Siomay Ikan Kembung (Rastrelliger sp.): The Effect of Adding Red Spinach (Amaranthus tricolor L.) on the Physiochemistry and Organoleptics Content of Mackerel Fish (Rastrelliger sp.) Dumplings Nirmala, Dwitha; Fadillah, Amanda Rakhma; Pujiastuti, Dwi Yuli
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.7

Abstract

Siomay merupakan produk olahan sejenis dimsum yang biasanya terbuat dari bahan baku daging ayam yang dihaluskan, kemudian dibungkus dengan kulit pangsit. Seiring kebutuhan tubuh akan zat gizi yang meningkat, maka dilakukan pengkayaan untuk menghasilkan produk pangan yang memiliki kandungan lebih seimbang. Selain itu, supaya menghasilkan produk pangan yang memiliki tekstur yang padat dan kompak. Pengkayaan tersebut dapat diperoleh dari ikan kembung berupa protein dan penambahan sayuran bayam merah yang kaya serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bayam merah (Amaranthus tricolor L.) terhadap fisikokimia dan organoleptik produk siomay ikan kembung (Rastrelliger sp.). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dengan 5 kali ulangan. Perlakuan pada penelitian ini berupa siomay ikan kembung yang diberi penambahan bayam merah, yaitu P0 (0%), P1 (5%), P2 (10%), dan P3 (15%). Hasil penelitian menunjukkan penambahan bayam merah berpengaruh terhadap fisikokimia dan organoleptik siomay ikan kembung. Nilai fisikokimia terbaik didapat pada penambahan bayam merah 5% dengan nilai rata-rata kadar protein 5,35%, kadar lemak 2,29%, kadar air 44,96%, kadar abu 1,31%. Siomay ikan kembung dengan penambahan bayam merah berpengaruh nyata terhadap hasil uji analisis tekstur dan oragnoleptik yang menunjukkan nilai signifikasi (P<0,05).   Siomay is a processed product similar to dimsum which is usually made from ground chicken meat, then wrapped in wonton skin. As the body's need for nutrients increases, enrichment is carried out to produce food products that have a more balanced content. Apart from that, to produce food products that have a dense and compact texture. This enrichment can be obtained from mackerel fish in the form of protein and the addition of red spinach which is rich in fiber. This research aims to determine the effect of adding red spinach (Amaranthus tricolor L.) on the physicochemistry and organoleptics of mackerel (Rastrelliger sp.) dumpling products. This research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments with 5 replications. The treatment in this study was mackerel dumplings with the addition of red spinach, namely P0 (0%), P1 (5%), P2 (10%), and P3 (15%). The results showed that the addition of red spinach had an effect on the physicochemical and organoleptic properties of mackerel fish dumplings. The best physicochemical values ​​were obtained by adding 5% red spinach with an average value of protein content of 5.35%, fat content of 2.29%, water content of 44.96%, ash content of 1.31%. Mackerel dumplings with the addition of red spinach had a significant effect on the results of texture and oragnoleptic analysis tests which showed significant values ​​(P<0.05).