cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Estimasi Stok Karbon Sedimen pada Padang Lamun di Pulau Kedumpit, Teluk Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur: Estimation of Seagrass Sediment Carbon Stock in Kedumpit Island, Balikpapan Bay, East Kalimantan Province Hasanah, Nur; Paputungan, Mohammad Sumiran; Ritonga, Irwan Ramadhan; Rahmawati, Susi; Dharmawan, I Wayan Eka; Renyaan , Jeverson; Nurdiansah, Doni
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.11

Abstract

Investigasi terhadap kondisi lamun di perairan Teluk Balikpapan telah dilakukan, namun perhitungan stok karbon di sedimen lamun yang berada di perairan estuari tersebut belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi cadangan karbon pada sedimen lamun di Pulau Kedumpit yang berlokasi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Masing-masing sampel sedimen diambil pada 3 titik stasiun yang berbeda, dengan titik stasiun (0, 50 dan, 100 meter) dari daerah lamun yang dekat dengan dataran menuju ke arah laut. Pengambilan sampel sedimen menggunakan pipa PVC berdiameter 2,5 inch dengan kedalaman sampel 0 – 50 cm dan dipotong dengan interval 5 cm. Kandungan karbon organik dianalisis dengan metode Loss on Ignition (LoI). Hasil studi menemukan terdapat dua jenis lamun yaitu Halodule sp. dan Halophila sp. Berdasarkan visualisasi sampel sedimen bahwa jenis substrat di lokasi penelitian cenderung pasir berlumpur. Konsentrasi karbon organik sedimen pada tiga stasiun berkisar antara 0,34-2,64% dengan rata-rata 1,24±0,37 %. Nilai stok karbon sedimen per lapisan sedimen berkisar 63 hingga 114 MgC/ha dan rata-rata total simpanan karbon sebesar 95±27,6 MgC/ha pada kedalaman sedimen 0-50 cm. Terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai bulk density, karbon organik sedimen, dan stok karbon dalam sedimen (p-value < 0,05) antar stasiun dan kedalaman.   Seagrass in Balikpapan Bay estuary already investigated, however its carbon stock have not been measured. The objective of this study was to estimate the carbon stock in seagrass sediments in Kedumpit Island, located in Balikpapan Bay estuary. Each sediment sample was taken at 3 different sites (0, 50 and 100 meters) from the seagrass area near to the land towards the sea. Sediment samples were taken using a 2.5 inch diameter PVC core with a depth of 0 - 50 cm and were sliced at 5 cm interval. Organic carbon content was analysed using the Loss On Ignition (LOI) method. Study results showed that two seagrass species were found in the study site, such as Halodule sp and Halophila sp. Based on visual observation at sediment samples, the substrate type in the study site tends to be muddy sand. Sediment organic carbon concentration at three stations ranged from 0.34-2.64%, with average at 1,24±0,37%%. Sediment carbon stock values of sediment layers ranged from 63 to 114 MgC/ha and the total average carbon storage was 95±27,6 MgC/ha. The value of bulk density, sediment organic carbon, and carbon stock in sediment were significantly different (p-value < 0.05) between the sites and the depth of sediment layers.
Analisis Delineasi Garis Pantai dengan Metode Object-Based Image Analysis di Kabupaten Malang Menggunakan Citra Satelit Planetscope: Analysis of Shoreline Delineation Using Object-Based Image Analysis Method in Malang Regency with Planetscope Satellite Imagery Saphira, Shada; Setyawan, Fahreza Okta; Fuad, M. Arif Zainul; Rijal, Seftiawan Samsu
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.3

Abstract

Salah satu fenomena alam yang rentan terjadi di wilayah pantai adalah perubahan garis pantai, karena sifat pantai yang dinamis, mengakibatkan wilayah pantai selalu mengalami perubahan. Oleh karena itu, delineasi garis pantai penting untuk dilakukan secara berkala agar garis pantai dapat dipantau secara terus menerus untuk mencegah terjadinya abrasi maupun akresi, juga delineasi garis pantai merupakan hal yang esensial dalam pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan. Penelitian ini berfokus pada delineasi garis pantai berdasarkan metode penginderaan jauh menggunakan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) di Kabupaten Malang, dimana perubahan garis pantai terjadi wilayahnya. Delineasi garis pantai dilakukan dengan menggunakan metode integrasi dari model deep learning, Convolutional Neural Network (CNN), dan Object Based Image Analysis (OBIA). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan mengevaluasi garis pantai dari metode yang digunakan. Didapatkan garis pantai hasil metode OBIA Kabupaten Malang di bagian barat 34.49 km, tengah 51.21 km, dan timur 67.81 km. Nilai overall accuracy yang didapatkan sebesar 83.62% di barat, tengah 80.79%, dan timur 85.06%. Jarak antara garis pantai hasil ekstraksi dan tracking dibandingkan dan didapatkan nilai RMSE di barat sebesar 4.91 meter, tengah 6.62 meter, dan timur 3.68 meter. Hasil tersebut membuktikan bahwa integrasi metode CNN dan OBIA berhasil menciptakan garis pantai dengan akurasi yang baik.   One of the natural phenomena commonly occurring in coastal areas is shoreline change, driven by the coast’s dynamic nature, resulting in coastal areas always experiencing changes. Therefore, delineation of the shoreline is important to be carried out periodically so that the shoreline can be monitored continuously to prevent abrasion and accretion, also delineation of the shoreline is essential in the management of sustainable coastal areas. This research focuses on shoreline delineation based on remote sensing method using High Resolution satellite imagery in Malang Regency, where shoreline changes occur. Shoreline delineation is performed using an integrated method of deep learning models, Convolutional Neural Network (CNN), and Object Based Image Analysis (OBIA). This research aims to obtain and evaluate the shoreline of the method used. The shoreline obtained from OBIA method in Malang Regency is 34.49 km in the west, 51.21 km in the central, and 67.81 km in the east. The overall accuracy value achieved in the western part is 83.62%, the central part is 80.79%, and the eastern part is 85.06%. The distance between the extracted and the tracking shoreline was compared and an overall average RMSE value of 4.91 meters in the western part, 6.62 meters in the middle part, and 3.68 meters in the eastern part. These results prove that the integration of CNN and OBIA methods can successfully create shoreline with good accuracy.
Uji Viabilitas Kandidat Vaksin Bakteri Aeromonas Hydrophila Menggunakan Metode Formalin-Killed dengan Konsentrasi Berbeda: Viability Assay of Aeromonas Hydrophila as Candidate Vaccine Using Formalin-Killed Method at Different Concentration Herlina, Cucun; Maftuch, Maftuch; Fadjar, Mohamad
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.7

Abstract

Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit pada ikan yaitu menumbuhkan kekebalan seperti vaksinasi karena kekebalan tubuh yang meningkat pada ikan dapat mencegah infeksi penyakit. upaya telah dilakukan untuk mengembangkan program imunisasi yang efektif dengan menggunakan vaksin yang dibuat dari sel utuh bakteri yang diinaktivasi menggunakan formalin dan/atau pemanasan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil uji viabilitas dan hasil uji adhesi sel epitel usus menggunakan vaksin inaktif formalin dengan konsentrasi berbeda. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan (A=2%, B=3%, dan C=4%) dan kontrol dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian diperoleh hasil kandidat vaksin inaktif bakteri A.hydrophila sebanyak 9 ml/tabung falcon. Infeksi bakteri A. hydrophila dengan kepadatan 109 cfu/ml sebanyak 0,1 ml dengan masa pemeliharaan 1 minggu ditandai terjadi pengerasan di bagian perut dan terdapat kerusakan pada sirip punggung pada hari ketujuh. Hasil uji viabilitas menunjukkan tidak terdapat pertumbuhan koloni bakteri A. hydrophila dibandingkan dengan kontrol. Hasil uji adhesi sel epitel usus pada kontrol dan perlakuan A, B, C diperoleh rata-rata 10.3, 0.73, 0.43, dan 0.23 bakteri/10 sel epitel. Analisis uji ANOVA diperoleh nilai uji F Hitung > F Tabel, artinya perlakuan memberikan pengaruh sangat berbeda signifikan antar semua perlakuan. Hasil analisa regresi diperoleh (R2) sebesar 0.66 bahwa hubungan keterkaitan antara vaksin inaktif konsentrasi formalin berbeda dengan jumlah bakteri A. hydrophila yang menempel pada sel epitel sebesar 66%.   One preventive effort to tackle diseases in fish is by boosting immunity, such as through vaccination, as increased immunity in fish can prevent disease infections. Efforts have been made to develop effective immunization programs using vaccines made from whole bacterial cells inactivated using formalin and/or heat. The objective of this study was to determine the results of viability tests and intestinal epithelial cell adhesion tests using formalin-inactivated vaccines with different concentrations. The method used in this study was an experimental approach with a completely randomized design (CRD) consisting of three treatments (A=2%, B=3%, and C=4%) and a control, each with three replications. The study results showed that the candidate inactivated vaccine of A. hydrophila bacteria was obtained at 9 ml/falcon tube. A. hydrophila bacterial infection with a density of 10⁹ CFU/ml at 0.1 ml and a maintenance period of one week was characterized by abdominal hardening and dorsal fin damage on the seventh day. The viability test results showed no bacterial colony growth of A. hydrophila compared to the control. The intestinal epithelial cell adhesion test results for the control and treatments A, B, and C showed average bacterial adhesion of 10.3, 0.73, 0.43, and 0.23 bacteria/10 epithelial cells, respectively. ANOVA test analysis showed that the calculated F-value was greater than the table F-value, indicating a highly significant effect among all treatments. Regression analysis resulted in an R² value of 0.66, suggesting that 66% of the variation in the adhesion of A. hydrophila bacteria to epithelial cells was associated with different formalin concentrations in the inactivated vaccine.
The Effect of Different Types of Mechanical Filters in the Recirculation System on the Growth and Survival rates of Tilapia (Oreochromis niloticus) Rahmawati, Aulia; Sianturi, Andre Soaloon; Yuniarti, Ating; Supriatin, Febriyani Eka
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.6

Abstract

Tilapia is one of the leading fishery commodities with high market demand. Therefore, the productivity of tilapia cultivation for consumption must be driven intensively. The aim of this research is to evaluate which types of mechanical filters are best for recirculation systems and the survival rate of tilapia fish. The research was carried out for 30 days at the Fish Reproduction Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Brawijaya, Malang. The experimental method used was a completely randomized design. With coconut fiber, dacron and gravel treatment. The main parameters observed were survival rate (SR), specific growth rate (SGR), absolute weight gain, total dissolved solid (TDS), and total suspended solid (TSS). For supporting parameters such as pH, temperature of dissolved oxygen (DO) and ammonia. From the results of the research that has been carried out, it can be seen that the use of different filter media for rearing red tilapia (Oreochromis niloticus) in fresh water using a recirculation system has an influence on absolute weight growth, specific growth rate and survival rate. The research data obtained was that the dacron filter had an absolute weight growth of 4,46 g, TDS 348 mg/L, TSS 7,25 mg/L, pH 7,55, temperature 25,5 °C, DO 7,41 ppm and ammonia 0,017 ppm. Coconut fiber absolute weight 4,46 g, TDS 374 mg/L, TSS 7,25 mg/L, pH 7,69, temperature 25,2 °C, DO 7,52 ppm and ammonia 0,014 ppm. Gravel absolute weight 3,87 g, TDS 387,5 mg/L, TSS 8,25 mg/L, pH 8,33, temperature 25,2 °C, DO 7,52 ppm and ammonia 0,014 ppm
Profil Luas Glomerulus Ginjal Tikus Wistar Jantan (Rattus Novergicus) Hipertensi yang Diberi Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan Gabus (Channa Striata): The Profile of the Glomerular Area in Male Wistar Rat Kidneys (Rattus Novergicus) with Hypertension Given Collagen Hydrolysate from Snakehead Fish Skin (Channa Striata) Tambunan, Jeny Ernawati; Suprayitno, Eddy; Djamaludin, Heder; Kayanti, Nadila Putri Dwi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.12

Abstract

Kulit ikan gabus (Channa striata) memiliki kandungan kolagen sekitar 13,60% yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk nutraceutical. Hidrolisat kolagen kulit ikan gabus (Channa striata) diketahui memiliki aktivitas antihipertensi dengan aktivitas penghambatan Angiotensin Converting Enzyme (ACE) sebesar 78%. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Maret hingga Mei 2024 di Laboratorium Advance Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Laboratorium Perekayasaan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, dan Laboratorium Uji Hewan Farmakologi Universitas Brawijaya. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan jumlah sampel hewan model sebanyak 24 ekor dengan 6 level kelompok perlakuan yakni Kelompok Normal (N); Kelompok Kontrol Positif (K+); Kelompok Kontrol Negatif (K-); Kelompok Perlakuan Dosis Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan (P1, P2, P3). Penelitian ini terdiri atas 2 tahap yakni tahap 1 dan tahap 2. Tahap 1 berupa pembuatan dan karakterisasi hidrolisat kolagen kulit ikan gabus (Channa striata) sedangkan tahap 2 berupa analisis aktivitas antihipertensi hidrolisat kolagen kulit ikan gabus (Channa striata) melalui hewan model secara in vivo. Pemberian hidrolisat kolagen kulit ikan gabus (Channa striata) dapat mencegah terjadinya peningkatan luas glomerulus ginjal hewan model serta mencegah terjadinya disfungsi endotel dan injury pada sel endotel dan podosit yang dapat mencegah terjadinya sklerotik glomerulus.   Snakehead fish skin (Channa striata) contains about 13.60% collagen, which can be utilized as a raw material for nutraceutical products. Collagen hydrolysate from snakehead fish skin (Channa striata) has been shown to have antihypertensive activity, with an Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibition activity of 78%. The research was conducted from March to May 2024 at the Advance Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, the Fishery Product Engineering Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, and the Pharmacological Animal Testing Laboratory of Brawijaya University. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) with 24 animal model samples divided into 6 treatment groups: Normal Group (N), Positive Control Group (K+), Negative Control Group (K-), and Treatment Groups with Collagen Hydrolysate from Fish Skin (P1, P2, P3). This study consists of two stages: Stage 1 involves the preparation and characterization of collagen hydrolysate from snakehead fish skin (Channa striata), while Stage 2 involves analyzing the antihypertensive activity of the collagen hydrolysate from snakehead fish skin (Channa striata) in vivo using an animal model. The administration of collagen hydrolysate from snakehead fish skin (Channa striata) can prevent an increase in the glomerular area of the animal model’s kidneys, as well as prevent endothelial dysfunction and injury in endothelial and podocyte cells, which could help prevent glomerulosclerosis.
Profil Kadar Nitric Oxide (NO) dan Patologis Jantung Tikus Wistar Jantan (Rattus Novergicus) Hipertensi dengan Pemberian Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan Gabus (Channa Striata): Profile Of Nitric Oxide (NO) Levels and Heart Pathology in Hypertensive Male Wistar Rats (Rattus Novergicus) Administered Collagen Hydrolysate from Snakehead Fish (Channa Striata) Skin Suprayitno, Eddy; Tambunan, Jeny Ernawati; Djamaludin, Heder
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.9

Abstract

Potensi dari aktivitas biologis pada kolagen dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara hidrolisis enzimatis. Oleh karena itu, dilakukan pengujian hidrolisat kolegan kulit ikan gabus secara in vivo pada hewan model tikus wistar jantan dan selanjutnya dilakukan analisis kadar NO hewan model. Tujuan dari penelitian yaitu diharapkan dapat menganalisis adanya potensi dan pengaruh perbedaan level dosis pada hidrolisat kolagen kulit ikan gabus sebagai antihipertensi terhadap tekanan darah dan peningkatan kadar NO tikus wistar jantan hipertensi yang diinduksi NaCl dan Prednison. Metode penelitian ini menggunakan RAK dengan jumlah sampel 24 ekor dengan 6 level kelompok perlakuan, Kelompok Normal (N); Kelompok Kontrol Positif (K+); Kelompok Kontrol Negatif (K-); Kelompok Perlakuan Perbedaan Level Dosis Hidrolisat Kolagen kulit ikan gabus (P1,P2,P3). Penelitian terdiri dari dua tahap yakni tahap satu pembuatan dan identifikasi hidrolisat kolagen kulit ikan gabus, sedangkan tahap dua pengujian hidrolisat kolagen kulit ikan gabus melalui hewan model secara in vivo. Tahap 1 karakterisasi hidrolisat kolagen menggunakan enzim bromelin 1% diperoleh rendemen 12%, kadar protein 49,2mg/L, derajat hidrolisis 40,63%, berat molekul 15-180 kDa, dan memiliki 17 profil asam amino. Tahap 2, diperoleh hasil pengukuran tekanan darah hewan model meningkat menggunakan NaCl 2% + Prednison 1,5mg/kgBB dan menurun pada perlakuan berbeda tiap kelompok. Penelitian tahap 2 diperoleh kadar NO tertinggi oleh kelompok K+ 134,81 μmol/L, sedangkan kadar NO terendah oleh kelompok K- 38,67 μmol/L. Pemberian hidrolisat kolagen ikan gabus P3 (140 mg/200 g BB tikus) berpengaruh terhadap pengurangan kerusakan sel di area arteri pulmonalis jantung tikus wistar dan terjadinya dilatasi endotel jantung tikus wistar hingga sebesar 26 μm.   The potential biological activity of collagen can be enhanced through enzymatic hydrolysis. Therefore, this study conducted in vivo testing of snakehead fish (Channa striata) skin collagen hydrolysate on male Wistar rats and subsequently analyzed nitric oxide (NO) levels in the animal models. The aim of the study was to assess the potential and impact of different dosage levels of snakehead fish skin collagen hydrolysate as an antihypertensive agent on blood pressure and NO levels in hypertensive male Wistar rats induced with NaCl + Prednisone. The research used a completely randomized design (CRD) with 24 samples divided into six treatment groups: Normal Group (N), Positive Control Group (K+), Negative Control Group (K-), and Treatment Groups with different dosage levels of snakehead fish skin collagen hydrolysate (P1, P2, P3). The study consisted of two stages: stage 1 involved the production and identification of snakehead fish skin collagen hydrolysate, while stage 2 involved in vivo testing of the hydrolysate on animal models. In stage 1, the collagen hydrolysate was characterized using 1% bromelain enzyme, resulting in a yield of 12%, protein content of 49.2 mg/L, degree of hydrolysis 40.63%, a molecular weight range of 15–180 kDa, and profiles of 17 amino acid. In stage 2, blood pressure measurements showed an increase in the animal model induced with 2% NaCl + 1.5 mg/kg BW Prednisone, which decreased with different treatments in each group. The results of stage 2 showed that the highest NO level was found in the K+ group (134.81 μmol/L), while the lowest NO level was observed in the K- group (38.67 μmol/L). Administration of snakehead fish collagen hydrolysate P3 (140 mg/200 g BW rats) significantly reduced cellular damage in the pulmonary artery area of the heart and caused endothelial dilation in the heart of Wistar rats, reaching 26 μm.
Studi in Vitro Potensi Antibakteri Ekstrak Kasar Daun Ketapang (Terminalia Catappa) terhadap Bakteri Patogen Penyebab Vibriosis pada Budidaya Udang Vaname: In Vitro Antibacterial Activity of Crude Extracts from Ketapang Leaves (Terminalia catappa) Against Pathogenic Bacteria Causing Vibriosis in Vannamei Shrimp Farming Rangkuti, Rizky Fadilla Agustin; Sanoesi, Ellana; Suprastyani, Heny; Meilinda, Novia Shely; Amanda, Bethrin
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.13

Abstract

Vibriosis merupakan penyakit yang menginfeksi udang disebabkan oleh bakteri genus Vibrio. Vibrio vulnificus dan Vibrio alginolyticus merupakan spesies bakteri penyebab Vibriosis yang mampu menyebabkan kematian organisme hingga 80% dalam kurun waktu 24-72 jam. Upaya pengobatan menggunakan antibiotik dapat menyebabkan resistensi dalam jangka waktu lama. Alternatif yang dapat digunakan adalah pemanfaatan bahan alami, seperti daun ketapang (T. catappa) yang mengandung senyawa antibakteri, seperti tanin, saponin, fenolik, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri serta menentukan konsentrasi daya hambat ekstrak kasar daun ketapang terhadap bakteri V. vulnificus dan V. alginolyticus. Pengujian daya hambat ekstrak kasar daun ketapang terhadap bakteri V. vulnificus dan V. alginolyticus dilakukan melalui uji MIC dilanjutkan dengan difusi cakram. Konsentrasi ekstrak kasar daun ketapang yang digunakan pada uji MIC yaitu kontrol negatif (DMSO 10%), kontrol positif (Oxytetracycline 30 µg), A (62,5 ppm), B (125 ppm), C (250 ppm), D (500 ppm), dan E (1000 ppm) inkubasi 24 jam, sedangkan konsentrasi ekstrak kasar daun ketapang yang digunakan pada uji difusi cakram yaitu kontrol, A (500 ppm), B (725 ppm), dan C (1000 ppm), inkubasi 24 dan 48 jam. Parameter utama penelitian ini adalah nilai konsentrasi hambat minimal (MIC) dan diameter zona hambat. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar daun ketapang berpengaruh signifikan terhadap bakteri Vibrio vulnificus dan V. alginolyticus dengan konsentrasi penghambatan minimal (MIC) sebesar 500 ppm. Ekstrak kasar daun ketapang konsentrasi 500 ppm menghasilkan diameter zona hambat terkecil pada bakteri V. alginolyticus sebesar 7,18 ± 0,15 mm dan 8,50 ± 0,50 mm terhadap bakteri Vibrio vulnificus. Diameter zona hambat tertinggi terdapat pada konsentrasi 1000 ppm.   Vibriosis is a disease commonly infecting shrimp, caused by bacteria from the genus of Vibrio. Vibrio vulnificus and Vibrio alginolyticus are two of the Vibrio species responsible for Vibriosis, causing mortality rates of up to 80% within 24-72 hours. The treatment of bacterial diseases using antibiotics can lead to long-term resistance. An alternative approach is the use of natural materials, such as ketapang leaves (Terminalia catappa), which contain antibacterial phytocompounds such as tannins, saponins, phenolics, and alkaloids. This study aims to examine the antibacterial activity and determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of crude ketapang leaf extract against Vibrio vulnificus and Vibrio alginolyticus. The inhibitory effect of ketapang leaf crude extract on Vibrio vulnificus and Vibrio alginolyticus was tested through Minimum Inhibitory Concentration (MIC) assays followed by disk diffusion tests. The concentrations of ketapang leaf crude extract used in the MIC test included a negative control (10% DMSO), a positive control (30 µg Oxytetracycline), and treatments A (62.5 ppm), B (125 ppm), C (250 ppm), D (500 ppm), and E (1000 ppm) with 24 hours of incubation. For the disk diffusion test, the concentrations included a control, A (500 ppm), B (725 ppm), and C (1000 ppm), with incubation periods of 24 and 48 hours. The main parameters in this study were the MIC value and the diameter of the inhibition zone. The study showed that ketapang leaf crude extract significantly affected Vibrio vulnificus and Vibrio alginolyticus, with a minimum inhibitory concentration (MIC) of 500 ppm. At a concentration of 500 ppm, the crude extract also produced the smallest inhibition zone diameter against V. alginolyticus (7.18 ± 0.15 mm) and V. vulnificus (8.50 ± 0.50 mm). The largest inhibition zone diameter was observed at a concentration of 1000 ppm.
Dinamika Kualitas Air pada Kolam Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) dengan Media Air Laut Buatan dan Perlakuan Dosis Fermentasi Bekatul yang Berbeda: Dynamics of Water Quality in Cultivating Ponds for Vannamei Shrimp (Litopenaeus Vannamei) Using Artificial Sea Water and Treatment with Different Rice and Fermentation Doses Suryanto Hertika, Asus Maizar; Musa, Muhammad; Arfiati, Diana; Risjani, Yenny; Rahardjo, Seto Sugianto Prabowo; Supriatin, Febriyani Eka; Nurdiani, Rahmi; Andayani, Sri; Utami, Tiwi Nurjannati; Putra, Renanda Baghaz D.S.; Ertikasari, Nuning; Kurnianingsih, Asmiyati; Alfarisi, Muhammad Asnin; Savira, Riza; Aisyah, Jumrotul; Patresna, Laelatul Nisa
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.14

Abstract

Udang vaname merupakan biota budidaya yang sangat rentan terhadap lingkungan sekitarnya. Kondisi kualitas air yang tidak ideal dapat mengakibatkan udang mengalami stress dan menghambat pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan dosis yang tepat dari pemberian fermentasi bekatul dan EM4 sebagai probiotik berdasarkan dampaknya terhadap perbaikan kualitas air kolam budidaya udang vaname. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan 3 perlakuan berbeda terdiri dari kontrol, perlakuan 1 dengan dosis fermentasi bekatul 25 g dan EM4 10 ml dan perlakuan 2 dengan dosis fermentasi bekatul 50 g dan EM4 20 ml. Parameter kualitas air yang diukur sebanyak tujuh yaitu suhu, oksigen terlarut, pH, nitrat, nitrit, ammonia, dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air kolam udang cukup ideal dan perlakuan 1 dengan dosis fermentasi bekatul 25 g dan EM4 10 ml secara konsisten lebih unggul dalam memperbaiki kondisi kualitas air dibandingkan dengan perlakuan lainnya.   Vannamei shrimp are cultured biota that are very vulnerable to the surrounding environment. Water quality conditions that are not ideal can cause shrimp to experience stress and inhibit their growth. This study aimed to determine the appropriate dose of fermented rice bran and EM4 as probiotics based on their impact on improving the water quality of vannamei shrimp culture ponds. This study was conducted by applying 3 different treatments consisting of control, treatment 1 with fermented rice bran dose of 25 g and EM4 10 ml and treatment 2 with fermented rice bran dose of 50 g and EM4 20 ml. Seven water quality parameters were measured, temperature, dissolved oxygen, pH, nitrate, nitrite, ammonia, and phosphate. The results showed that the water quality conditions of shrimp ponds were quite ideal and treatment 1 with a fermentation dose of 25 g rice bran and 10 ml EM4 was consistently superior in improving water quality conditions compared to other treatments.
Pengaruh Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-A terhadap Kelimpahan Ikan Lemadang (Coryphaena Hippurus) di Perairan Selatan Jawa: The Influence of Sea Surface Temperature and Chlorophyll-A on the Abundance of Dolphinfish (Coryphaena Hippurus) in the Southern Java Waters Mandhalika, Vianta; Semedi, Bambang; Sambah, Abu Bakar; Leksono, Amin Setyo
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.4

Abstract

Hubungan antara kondisi oseanografi dan kelimpahan ikan lemadang (Coryphaena hippurus) di Perairan Selatan Jawa merupakan aspek penting dalam memahami dinamika habitat dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a terhadap kelimpahan ikan lemadang di wilayah tersebut. Studi ini didasarkan pada analisis data penangkapan ikan selama periode 2019-2023 dan dinamika parameter lingkungan di Perairan Selatan Jawa. Observasi SPL dan klorofil-a dilakukan melalui teknologi penginderaan jauh. GAM dipilih untuk mengidentifikasi ambang batas dari masing-masing parameter dan hubungan empirisnya dengan CPUE ikan lemadang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPL dan klorofil-a memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelimpahan ikan lemadang. Kisaran optimal SPL dan klorofil-a untuk ikan lemadang masing-masing adalah 25,5-30,57° C dan 0,04-1,33 mg/m3. Dengan demikian, temuan ini dapat memberikan wawasan mengenai preferensi habitat ikan lemadang di Perairan Selatan Jawa.   The relationship between oceanographic conditions and the abundance of dolphinfish (Coryphaena hippurus) in the Southern Java Waters is essential in understanding habitat dynamics and sustainable fisheries management. This study aims to analyze the effects of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a concentration on the abundance of dolphinfish in the region. The study is based on the analysis of fish catch data from 2019 to 2023 and the dynamics of environmental parameters in the Southern Java Waters. SST and chlorophyll-a observations were conducted using remote sensing technology. The generalized additive model (GAM) was chosen to identify the thresholds of each parameter and their empirical relationship with the dolphinfish CPUE. The results show that SST and chlorophyll-a significantly influence dolphinfish abundance. The optimal ranges for SST and chlorophyll-a for dolphinfish are 25.5–30.57 °C and 0.04–1.33 mg/m³, respectively. These findings provide valuable insights into the habitat preferences of dolphinfish in the Southern Java Waters.
Penentuan Musim Penangkapan Ikan Ekor Kuning (Blonch, 1791): Studi Perairan Karimunjawa, Indonesia: Determination Fishing Seasonal of Yellowtail (Blonch, 1791): Case Study of Karimunjawa Waters, Indonesia Putra, Pranata Candra Perdana; Wahyudi, Setyo Tri; Sambah, Abu Bakar; Sartimbul, Aida
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.8

Abstract

Ikan ekor kuning (Caesio cuning) merupakan komoditas unggulan bagi nelayan di Karimunjawa karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun, produksi tangkapan yang fluktuatif mengakibatkan pendapatan nelayan menjadi tidak stabil, menimbulkan tantangan ekonomi di sektor ini. Pengelolaan tingkat pemanfaatan ikan ini perlu dioptimalkan dengan memperhatikan etika lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah penentuan indeks musim penangkapan, yang mempertimbangkan pola penangkapan agar kegiatan penangkapan dapat berlangsung efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan menentukan indeks musim penangkapan ikan ekor kuning yang optimal menggunakan metode rata-rata bergerak (moving average) berdasarkan analisis runtun waktu, sehingga penangkapan dapat dioptimalkan secara berkelanjutan. Data yang digunakan meliputi produksi tangkapan ikan ekor kuning dari alat tangkap panah, bersumber dari statistik perikanan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karimunjawa antara Tahun 2017 - 2023. Hasil menunjukkan bahwa ikan ekor kuning memiliki musim puncak penangkapan yang terjadi pada musim barat (Jan dan Feb) dan musim transisi I (Mar, Apr, Mei) dengan IMP > 100%, sementara indeks terendah terjadi pada musim transisi II (Sep, Okt, Nov) yang menjadikan bulan tersebut dalam kategori tidak musim penangkapan (IMP<100). Nilai indeks tersebut menunjukkan pola fluktuasi musim penangkapan yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan, guna meningkatkan efektivitas penangkapan dan keberlanjutan ikan ekor kuning serta mendukung kesejahteraan nelayan di Kawasan Karimunjawa.   Yellowtail (Caesio cuning) is a leading commodity for fishermen in Karimunjawa because it has high economic value. However, fluctuating catch production results in unstable income for fishermen, creating economic challenges in this sector. The management of the utilization level of this fish needs to be optimized by considering environmental ethics. One approach that can be applied is determining the fishing season index, which considers fishing patterns so that fishing activities can occur effectively and efficiently. This study aims to determine the optimal yellowtail fishing season index using the moving average method based on time series analysis to optimize fishing sustainably. The data used includes the production of yellowtail catches from spearfishing fishing gear, sourced from the Karimunjawa Fishing Port (PPP) fisheries statistics between 2017 to 2023. The results are that yellowtail have a peak fishing season that occurs in the Northwest monsoon season (Jan and Feb) and transition I (Mar, Apr, May) with an (FSI>100%), while the lowest index occurs in transition II (Sep, Oct, Nov) which makes the month in the category of non-fishing season (FSI<100). The index value shows the pattern of fishing season fluctuations that can be used as a basis for decision-making in sustainable fisheries management to increase the effectiveness of fishing and the sustainability of yellowtail and support the welfare of fishermen in Karimunjawa.