cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 538 Documents
PENGARUH PEMBERIAN AIR SIWALAN (Borassus flabellifer L.) KEMASAN DAN AIR KELAPA (Cocos nucifera L.) KEMASAN TERHADAP STATUS HIDRASI DENGAN INDIKATOR PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN PADA MAHASISWA UNIVERSITAS GAJAH MADA, YOGYAKARTA Penggalih, Mirza HST; Niamilah, Ibtidau; Ramadhani, Mahayu Firsty; Kamarga, Zainab Kamarga AP; Liana, Novriska Oky; Muslichah, Rahadyana; Pasaribu, Elita Oktorina
GIZI INDONESIA Vol 38, No 2 (2015): September 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v38i2.186

Abstract

ABSTRACTFootball is a stop-and-go sport which causes great amount of sweat excretion. Therefore, water and electrolytes replacement is necessary. Sports drinks based on natural compounds, such as coconut water (Cocos nucifera L.), has been highly developed because of its high electrolytes and carbohydrate content. Palmyra saps, as well as coconut water, contains electrolytes and carbohydrate. The ability of palmyra saps water to rehydrate body fluid is still scientifically unproved. This study was conducted using cross-over design. Eighteen male students took part in this study. Each subject drank 250 ml of solution before the exercise and 300 ml of solution every 20 minutes during the 2 hours rehydration phase. Blood collections were done 3 times; before exercise, after exercise, and after 2 hours of rehydration. Urine collections were done 3 times; in the morning, after 1 hour of rehydration, and after 2 hours of rehydration.  No significant difference (p≥0,05) in palmyra saps brand (ASK) and coconut water brand (AKK) group for blood osmolality and hematocrit. Urinary Na+ and K+ value after 2 hours rehydration phase in ASK and AKK group have significant difference (p0.05). Urinary Na+ value and urine osmolality after 2 hours rehydration phase in palmyra saps brand and coconut water brand group have significant difference (p0.05). Significant difference in volume, urine specific gravity and urine color from 2 groups is found between 1 hour after rehydration phase and 2 hours after rehydration phase.Keywords: palmyra saps, coconut water, hydration status, sport drink ABSTRAKSepak bola merupakan olahraga stop and go yang dapat memicu pengeluaran keringat dalam jumlah banyak sehingga penggantian cairan dan elektrolit tubuh harus diperhatikan. Minuman olahraga berbasis bahan alami, seperti air kelapa (Cocos nucifera L.), telah banyak dikembangkan karena kandungan elektrolit dan karbohidratnya tinggi. Seperti air kelapa, air nira siwalan juga mengandung elektrolit dan karbohidrat yang penting untuk proses rehidrasi. Namun, kemampuan air nira siwalan untuk merehidrasi belum terbukti secara ilmiah. Penelitian menggunakan desain cross-over dengan subjek 18 mahasiswa laki-laki yang mengikuti UKM sepak bola atau futsal UGM. Kelompok kontrol diberikan air kelapa kemasan (AKK), kelompok perlakuan diberikan air siwalan kemasan (ASK). Subjek diberikan 250ml minuman sebelum latihan dan 300ml setiap 20 menit fase rehidrasi selama 2 jam. Pengambilan darah dilakukan 3 kali yaitu sebelum dan setelah latihan serta 2 jam setelah fase rehidrasi. Pengumpulan urin dilakukan 3 kali yaitu pagi hari, setelah 1 jam fase rehidrasi, dan setelah 2 jam fase rehidrasi. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p≥0,05) hasil osmolalitas darah dan hematokrit kelompok ASK dan AKK, namun terjadi penurunan nilai osmolalitas darah dan hematokrit lebih besar pada kelompok ASK. Nilai Na+ dan K+ antara kelompok ASK dan AKK berbeda signifikan pada 2 jam fase rehidrasi (p0,05). Perbedaan signifikan (p0,05) kelompok ASK dan AKK terdapat pada kadar Na+ urin setelah 2 jam rehidrasi. Osmolalitas urin antara pemberian ASK dengan AKK terdapat perbedaan signifikan pada 2 jam fase rehidrasi (p0,05). Fase setelah 1 jam rehidrasi hingga fase 2 jam rehidrasi terdapat perbedaan signifikan (p0,05) pada volume, berat jenis, dan warna urin.
STATUS GIZI KURUS ANAK USIA (24-59) BULAN DENGAN DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Analisis Data Surkesda NAD 2006 Muljati, Sri; ., Sandjaja
GIZI INDONESIA Vol 31, No 2 (2008): September 2008
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v31i2.56

Abstract

THE PREVALENCE OF WASTINGOF CHILDREN AGE 24-59 MONTHS IN NANGGROE ACEH DARUSSALAMSurkesda NAD 2006 as post tsunami household health survey and covering all 21 districts/citieshad assessed child nutritional status (wasting), with cut-off point -2.00 SD for age 24-59 months.A total sample of 922 children was included in the assessment. The objective of this study is toanalyze child nutritional status and factors related to the status in NAD after tsunami. The studyrevealed that the prevalence of wasting in NAD was 16.7% (ranges from 5.9%-31.3%). Theprevalence of wastingin NAD were higher than those of Indonesia. Multivariate analysis identifiedvarious factors that associated with the prevalence of wasting. Higher risk of wasting wasidentified for children (24-59 months) with absence of BCG immunization (OR=1.63), and thoseattending out-patient clinics for treatment of their illnesses (OR=1.47). It is recommended thatintensive nutrition program be implemented in high areas of wasting through exclusive breastfeeding promotion, proper complementary food distribution, growth monitoring and promotion, IECfor nutrition and child caring practices.Keywords: child nutritional status, tsunami, Aceh, balita
DETERMINAN OBESITAS PADA WANITA PASCA MENOPAUSE DI KOTA BOGOR TAHUN 2014 Riyadina, Woro; Kodim, Nasrin; Madanijah, Siti
GIZI INDONESIA Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v40i1.226

Abstract

In Indonesia, the trends of the prevalence of obesity is incresing from year to year, especially in the group of postmenopausal women. Further analysis purposes determine the primary determinant of obesity in postmenopausal women in the city of Bogor A number of samples analyzed 888 postmenopausal women from subset data of research "Risk Factors Cohort Study of Non-communicable Diseases" follow-up of 2 years (2011-2013 and 2012-2014). Data were collected by interview, measurement and examination in 5 villages in the city of Bogor. Obesity is determined based on BMI ≥25. Determinant included demographic, health status and risk behavior. Data were analyzed with multiple logistic regression. The prevalence of obesity in postmenopausal women 57.2 percent. The main determinant of obesity are sufficient levels of carbohydrate aOR 4.6 (95% CI 2.55 to 8.23) than less. Other factors include abnormal hypertriglyceride aOR 3.2 (95% CI 1,85- 4.93) than normal levels, less physical activity aOR 1.6 (95% CI 1.08 to 2.38) than enough activities, the adequacy of excessive protein and family history of obesity with aOR 0.23 (95% CI 0.15 to 0.36) and aOR 0.42 (95% CI 0.28 to 0.61), respectively. Lifestyle modification by limiting carbohydrate intake, walking every day and aerobic exercise at least 1 times a week for one hour and monitor blood triglyceride levels are expected to prevent obesity and decrease overweight. ABSTRAK Di Indonesia, kecenderungan prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada kelompok perempuan pasca-menopause. Tujuan analisis lanjut untuk menentukan determinan utama obesitas pada perempuan pasca-menopause di Kota Bogor. Analisis lanjut pada 888 perempuan pasca-menopause yang merupakan subset data penelitian “Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular” follow-up 2 tahun (2011-2013 dan 2012-2014). Data dikumpulkan dengan metode wawancara, pengukuran dan pemeriksaan di 5 kelurahan Kota Bogor tahun 2011– 2014. Obesitas berdasarkan IMT ≥25. Determinan meliputi faktor demografi, status kesehatan dan perilaku berisiko. Data dianalisis dengan uji regresi logistik ganda. Prevalensi obesitas pada perempuan pasca-menopause 57,2 persen. Determinan utama obesitas adalah tingkat kecukupan karbohidrat berlebih aOR 4,6 (95% CI 2,55 – 8,23) dibandingkan kurang. Determinan lain meliputi trigliserida abnormal aOR 3,2 (95% CI 1,85– 4,93) dibandingkan normal, aktivitas fisik kurang aOR 1,6 (95% CI 1,08 – 2,38) dibandingkan aktivitas cukup, tingkat kecukupan protein berlebih dan riwayat keluarga obesitas masing-masing aOR 0,23 (95% CI 0,15 – 0,36) dan aOR 0,42 (95% CI 0,28 – 0,61). Modifikasi gaya-hidup melalui pembatasan asupan karbohidrat, jalan kaki setiap hari dan senam aerobik minimal 1 kali seminggu selama 1 jam serta memantau kadar trigliserida darah diharapkan mencegah dan menurunkan kegemukan. Kata kunci:  determinan, obesitas, pasca-menopause 
FAKTOR RISIKO OBESITAS SENTRAL PADA ORANG DEWASA DI DKI JAKARTA: Analisis Lanjut Data RISKESDAS 2007 Sugianti, Elya; ., Hardinsyah; Afriansyah, Nurfi
GIZI INDONESIA Vol 32, No 2 (2009): September 2009
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v32i2.73

Abstract

RISK FACTORS OF CENTRAL OBESITY AMONG ADULTS IN DKI JAKARTAObesity is now considered as a major public health problem, afflicting both developed anddeveloping countries including Indonesia. Recently, central obesity, measured by waistcircumference, draw a greater attention than overall obesity, measured by body mass index, sincemore risks have been proved to be associated with central obesity. The objective of the study is toanalyzed risk factors associated with central obesity in DKI Jakarta. The study used secondary dataof Basic Health Research (RISKESDAS) conducted in 2007 in DKI Jakarta. A Total of 11805 men andwomen age 15 year old or above excluding pregnant women were used for the analyses. Logisticregression analyses were used to measure the association between central obesity and existingvariables in the data on the characteristic of subject. The result showed that significant risk factorsassociated with central obesity are age 35 year, sex (women), marital status (married), education(high school), occupation (entrepreneur/ tradesman/ services/ housewife), per capita income(quintile-5), fatty foods and mental disorders. Among those risk factors, sex (women) is the mostdeterminant risk factor.Keywords: central obesity, risk factors, BasicHealth Research (RISKESDAS)
STUDI EFFEKTIVITAS KEFIR BENING DAN MENIRAN (Philanthus niruri) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA HEWAN TIKUS WISTAR HIPERGLIKEMIA DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN ., Judiono; Hadisaputro, Soeharyo; Djokomoeljanto, RRJ; Laksono, Budi; W, Theophilus
GIZI INDONESIA Vol 33, No 2 (2010): September 2010
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v33i2.89

Abstract

EFFECTIVITY STUDY OF PLAIN KEFIR AND MENIRAN (PHILANTUS NIRURI) ON BLOOD GLUCOSE LEVELS ON HYPERGLYCEMIA WISTAR RATS INDUCED STREPTOZOTOCINTraditional medicines and functional foods used for diabetes therapy increased in Indonesia. Bioactive components play an important role in decreasing blood glucose. The study aims to prove the effectiveness of plain kefir and Meniran (Philanthus niruri) to decrease blood glucose levels in wistar rats with streptozotocin-induced hyperglycemia. The study design was randomized pre – post test control group. A number of 60 male rats aged 2.5-3 months, 150-250 g were made hyperglycemia by induced streptozotocin (STZ) 40 mg / kg berat badan. The hyperglycemic rats were grouped into: (1) treated with 0.76 UI insulin /day, (2) treated with 3.6 mL plain kefir /day, (3) treated 2.7 mL meniran / day, (4) positive control group of hyperglycemic rats, and (5) negative control group (standard diet ad libitum). The ratswere given feed refers to the AIN 93. Fasting glucose levels before and after treatment were measured by Super (Glucocard II) enzimatic method. The results showed that body weight increased in all treatments, except meniran, however the increaments were not differ significantly. Changes in body weight of insulin group were 13.800 + 16.104 g, kefir treatment amounted to 13.812 + 21.294, and meniran increased about 18.394 + 16.225. Changes in blood glucose in the insulin group about -118.571+55.815 mg/dL, kefir treatment at -102.875+60.454, while meniran group -66,625+37,784. In contrast, the positive control group tended to increase glucose levels. Conclusion In vitro, plain kefir and meniran potentially lowered blood glucose levels. However, kefir showed lowered glucose level better than meniran. Futher research needs to study bio- molecular mechanisms of the decline in the future.Key words: diabetes mellitus, meniran, plain kefir, streptozotocin (STZ), hyperglycemic rat
ANALISIS KONSUMSI LEMAK, GULA DAN GARAM PENDUDUK INDONESIA ., Hardinsyah
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i2.105

Abstract

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa asupan lemak yang tinggi, terutama lemak jenuh, gula dan garam adalah faktor risiko terjadinya berat badan lebih,  hiperglikemia, hipertensi, dan hiperkolesterol. Studi ini bertujuan untuk menganalisa asupan total lemak, lemak jenuh, gula dan garam pada penduduk Indonesia dari  data  sekunder  SUSENAS.  Hasil  analisis  menunjukkan  bahwa  rerata  asupan  lemak  adalah  58,1 g/kap/hr tahun 2002 dan meningkat menjadi 61,5 g/kap/hr pada tahun 2007 dan 64,7 g/kap/hr tahun 2009, di mana sekitar setengahnya merupakan lemak nyata dan dua pertiga-nya (62.6%) merupakan lemak jenuh. Rerata asupan gula nyata 28,3 g/kap/hr pada tahun 2002, 26,2 g/kap/hr tahun 2007 dan 23.8 g/kap/hr tahun 2009. Rerata asupan garam adalah 6,31 g/kap/hr padatahun 2002, 5,6 g/kap/hr tahun 2007 dan 5.7 g/kap/hr pada tahun 2009. Estimasi yang rendah terjadi pada  asupan gula dan garam. Asupan energi dari lemak jenuh dan asupan garam lebih tinggi dari rekomendasi WHO (2003). Asupan energi dari gula sama dengan tambahan asupan gula yang direkomendasi pedoman umum gizi seimbang, tetapi beberapa asupan gula lebih tinggi dari rekomendasi. Strategi kebijakan dan program promosi dalam mengurangi asupan lemak jenuh,  gula,  dan  garam  yang  terintegrasi  dalam  promosi  gizi  seimbang  dan  pola  hidup  sehat  sangat diperlukan menuju masyarakat Indonesia yang sehat. Kata kunci: analisis konsumsi, lemak, gula, garam
HUBUNGAN PROGRAM KELOMPOK PENDUKUNG IBU TERHADAP PENGETAHUAN DAN PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Susilo, Joko; Kurdanti, Weni; Siswati, Tri
GIZI INDONESIA Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i1.121

Abstract

Praktek pemberian ASI di Indonesia masih buruk, masyarakat masih sering beranggapan bahwa menyusui hanya  urusan  ibu  dan  bayinya.  Kelompok  Pendukung  (KP)  Ibu  dilakukan  untuk  meningkatkan pengetahuan tentang ASI Eksklusif dan praktek pemberian ASI  Eksklusif, serta memungkinkan petugas kesehatan  untuk  melakukan  pendampingan  teknis  yang  akhirnya  akan  meningkatkan  cakupan  ASI Eksklusif.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas program Kelompok Pendukung (KP) Ibuterhadap  perilaku  pemberian  ASI  Eksklusif.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  observas ional  dengan rancangan  Kohort  yang  dilaksanakan  pada  bulan  Juli  s.d. Desember  2011  di  wilayah  kerja  Puskesmas Kasihan  II  Kabupaten  Bantul.  Sampel   ditentukan  dengan  cara  purposive  sampling,  dengan  ketentuan bayi  usia  3-4  bulan,  masih  memberikan  ASI  saja,  tinggal  di  wilayah  kerja  Puskesmas  Kasihan  II  dan bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusinya adalah ibu dengan penyakit kronis yang mengganggu pemberian ASI  eksklusif  dan menyusui lebih dari 1 bayi (bayi kembar). Jumlah tiap-tiap kelompok subyek(KP-Ibu dan Non KP-Ibu) adalah 35 orang, dengan melakukan  matching untuk umur. Penempatan kedalam kelompok  KP  dan  Non  KP  dilakukan  secara  acak.  Data  dianalisis  dengan  t  test  dan  chi  square.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat  hubungan  yang nyata  perlakuan KP Ibu terhadap pengetahuan tentang ASI untuk responden yang berpendidikan rendah, tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga), dan yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini  (IMD). Sebaliknya untuk responden yang berpendidikan tinggi, bekerja, dan tidak mendapat Inisiasi menyusu  dini, hubungan  ini tidak nyata.  Kesimpulannya, kelompok pendukung  ibu  untuk  mensukseskan  pemberian  ASI  eksklusif  (praktek  menyusu)  sangat  bermanfaat dalam  meningkatkan  pengetahuan  ibu  tentang  ASI  pada  responden  yang  berpendidikan  rendah,  tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga saja), dan yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini. Kata kunci: KP-Ibu, pengetahuan ASI, praktek ASI eksklusif
THE RESPONSE OF BITOT’S SPOT COMMUNITY VITAMIN A DEFICIENCY CONTROL PROGRAMMES IN NEPAL AMONG CHILDREN AGED 6-120 MONTHS R.L., Tilden,; G.P, Pokhrel,; J, Gorstein,; R.P, Pokhrel,; Sommer, A, West, K.,
GIZI INDONESIA Vol 27, No 2 (2004): September 2004
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v27i2.3

Abstract

Tujuan dari studi adalah untuk mereview karakteristik dan faktor risiko untuk kasus Bitot’s spotyang tidak memberikan respon terhadap terapi yang dilakukan pada saat diagnosis dan juga padasaat pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi yang dilakukan enam bulan sekali. Faktor risiko inidibandingkan juga dengan kasus bitot’s spot yang sebelumnya diidentifikasi di tempat pelayanankesehatan. Anak-anak yang terdaftar pada Nepal Vitamin A Child Survival Projectdiperiksa setiaptahun. Analisis dilakukan dengan membandingkan anak-anak dengan bitot’s spot pada saat datadasar yang selanjutnya dipisahkan antara yang memberikan respon dan yang tidak memberikanrespon terhadap terapi yang dilakukan, serta memperhatikan karakteristik menurut individu,rumahtangga, dan masyarakat. Analisis dilakukan dengan dua cara bivariate (chi square and ttest)dan multivariate (stepwise logistic regression). Dijumpai 62% anak dengan bitot’s spot padasaat data dasar yang diperiksa 12 bulan setelah mendapat terapi kapsul vitamin A dan juga yangmendapat kapsul vitamin A dua kali setahun. Ditemukan faktor yang berpengaruh pada kasusbitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi vitamin A mempunyai karateristik padaumumnya laki-laki, kurus, tidak mendapat kapsul vitamin A yang didistribusi di tingkat masyarakat,dan bagian mata yang terkena bitot’s spot (tempotal and nasal quadrant vs temporal alone). Untukkarakteristik tingkat masyarakat, kasus bitot’s spot yang tidak memberi respon terhadap terapikapsul vitamin A pada umumnya kasus yang tidak tinggal dalam lokasi studi, tinggal di wilayahdataran rendah, dan terutama di Kabupaten Parsa. Faktor risiko yang paling berpengaruhbervariasi berdasarkan tempat tinggal dan umur. Untuk anak yang tinggal di daerah pegunungan,kurang gizi (menurut BB/U) merupakan faktor risiko yang cukup signifikan. Untuk anak yangtinggal di dataran rendah, faktor risiko yang berpengaruh adalah cara intervensi, lokasi bitot’s spot,jenis kelamin, lingkar lengan atas, dan mendapat kapsul sedikitnya dua kali. Untuk anak kurangdari 60 bulan faktor risiko yang terpenting adalah lokasi bitot’s spot di mata, sedangkan untukanak 60-120 bulan faktor risiko yang terpenting adalah tidak mendapat kapsul di lokasi studi, jeniskelamin, umur, ketebalan kulit, lingkar lengan atas, tinggi badan, berat badan menurut tinggibadan dan menerima kapsul kurang dari dua kali. Studi ini juga membenarkan faktor risikoberkaitan dengan kasus bitot’s spot yang tidak memberikan respon terhadap terapi kapsul vitaminA di pelayanan kesehatan di Indonesia terjadi juga pada pelayanan yang dilakukan langsung kemasyarakat. Studi yang dilakukan di tempat pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan 25%dari anak penderita bitot’s spot tidak memberikan respon terhadap terapi yang diberikan.Sedangkan di Nepal, dari studi ini menunjukkan lebih dari 35% kasus bitot’s spot tidakmemberikan respon terhadap terapi yang diberikan melalui disitribusi kapsul vitamin A dimasyarakat. Studi ini tidak menunjukkan bahwa umur merupakan faktor yang berpengaruh untuktidak memberikan respon, yang ditunjukkan adalah untuk kelompok umur tertentu faktor risikonyayang berbeda, dimana anak yang lebih muda lokasi bitot’s spot pada mata menentukan akanmemberikan respon atau tidak terhadap terapi yang diberikan, sedangkan untuk anak yang lebihtua faktornya adalah status gizi dan juga dosis vitamin A.Key Words:Non-responsive Bitot’s spots, vitamin A deficiency, community intervention, Nepal,vitamin A supplementation
POLA KONSUMSI ANAK UMUR 6 BULAN – 12 TAHUN DI INDONESIA Sumedi, Edith; Widodo, Yekti; Sandjaja, nFN
GIZI INDONESIA Vol 36, No 2 (2013): September 2013
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v36i2.141

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan anak berada dalam pengaruh dan pengasuhan orang tuanya, dan gizi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan, kesehatan dan perkembangan anak. Salah satu penyebab tingginya prevalensi kurang gizi di Indonesia adalah kurang baiknya pola asuh anak, pola konsumsi anak, dan ketersediaan makan keluarga. South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) di Indonesia dilaksanakan di 48 kabupaten mencakup 7211 anak 6 bulan - 12 tahun. Pola konsumsi anak menggunakan Food Frequency Questionnaires (FFQ) melalui wawancara pola kebiasaan makan satu bulan terakhir meliputi frekuensi jenis makanan sehari, seminggu atau sebulan, cara pengolahan dan cara penyajian, merek (jika ada) berdasarkan kelompok sumber zat gizi yaitu makanan pokok, protein hewani dan nabati, sayur, buah, jajanan, minuman dan susu. Analisis data deskriptif yang menurut daerah dan dibagi menjadi 5 kelompok umur 6-11 bulan, 1-2 tahun, 3-5 tahun, 6-8 tahun dan 9-12 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola konsumsi anak umur 6-11 bulan hampir sama di kota maupun di desa. Variasi bahan makanan lebih banyak dijumpai pada kelompok umur yang lebih tua dan terdapat perbedaan pola makan antara perkotaan dan perdesaan. Konsumsi makanan pokok tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan. Frekuensi makan sayur dan buah masih rendah di kedua daerah. Anak di perkotaan lebih sering mengonsumsi daging unggas, daging sapi, telur, tahu, bayam, wortel, susu/produk susu, minuman gelas/serbuk, sedangkan di perdesaan lebih sering mengonsumsi ikan laut, tempe, kangkung, jajanan ‘chiki’ dan sejenisnya. Masih diperlukan peningkatan perilaku hidup sehat dengan memperbaiki pola makan gizi seimbang.ABSTRACT FOOD PATTERN OF INDONESIAN CHILDREN 6 MONTH - 12 YEAR OF AGE Child growth and development under the nurture and care of their parents, and nutrition as a factor in growth, health and development of children. Many factors associated with high prevalence of malnutrition are caring pattern of children, inadequate food consumptions and food patterns, and household food availability. The South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) in Indonesia conducted in 48 districts collected data on food consumption pattern of 7,211 children 6 month - 12 year of age. Food consumption pattern was collected by using food frequency questionnaires (FFQ) to describe food habits based on daily, weekly, and monthly frequency of food items by interviewing mothers. Food items collected from all food groups such as foods source of carbohydrates, animal and plant proteins, vitamin and mineral source from vegetables and fruits, milk and milk products, snacks, and beverages. Descriptive analysis was used to describe food consumption pattern by residence and 5 age groups 6-11 month, 1-2, 3-5, 6-8, and 9-12 year of age. Result showed similarity of food consumption pattern in urban and rural area in youngest age group. The variety of food items consumed by older age groups is more than those in younger ones, and as also found in urban than rural areas. There was similarity in staple food and less consumption of vegetable and fruit in urban than rural areas across age groups. The frequency of white meat, red meat, egg, tofu, spinach, carrot, dairy products, and beverages was higher in urban than rural areas. The frequency of salty fish, tempeh, swamp cabbage, “chiki’ snack was higher in rural than urban areas. Healthy living and balance diet (Gizi Seimbang) promotion of all food groups particularly vegetable and fruit should be revitalized.  Keywords: food pattern, food frequency, Indonesian children
FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DI RUMAH TANGGA MISKIN Sudikno, Sudikno; Jus'at, Idrus; Sandjaja, nFN; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i1.152

Abstract

Anemia pada ibu menyusui menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko anemia pada ibu menyusui. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2011 di kabupaten Tasikmalaya dan kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Desain penelitian cross-sectional yang melibatkan 229 ibu menyusui dari keluarga miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hemoglobin pada ibu menyusui sebesar 13,28±1,56 g/dl. Prevalensi anemia pada ibu menyusui sebesar 17, 9 persen. Analisis regresi logistic multivariate menunjukkan bahwa faktor kecukupan vitamin A dan umur ibu berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu menyusui. Ibu menyusui yang kekurangan vitamin A cenderung berisiko untuk mengalami anemia sebesar 4,58 kali setelah dikontrol variable umur ibu (OR=4,58; p=0,001, 95% CI: 1,86-11,26)  dibandingkan ibu menyusui tidak kekurangan vitamin A. Rekomendasinya adalah perbaikan gizi pada ibu menyusui melalui pemberian makanan tambahan maupun penambahan mikronutrien sangat diperlukan. Di samping itu, penyuluhan tentang penundaan usia kehamilan  juga bisa menjadi program alternatif pencegahan anemia.ABSTRACT ANEMIA RISK FACTORS IN LACTATING MOTHERS AMONG POOR HOUSEHOLDS Anemia in Lactating mothers is still one of public health problem, particularly in developing countries. This study aims to determine the risk factors of anemia in lactating  women. This study was conducted from June -July 2011 in Tasikmalaya and Ciamis Districts, West Java Province. Design of the study was cross-sectional study involving 229 breastfeeding women from poor families. The result showed that the average hemoglobin in breastfeeding mothers was 13.28 ± 1.56 g/dl. The prevalence of anemia in lactating  women was 17.9 percent. Multivariate logistic regression analysis showed that factors adequacy of vitamin A and maternal age were associated with maternal anemia during breastfeeding. Lactating  women who were deficient in vitamin A tended to have anemia experience was 4.58 times after controlled by maternal variables (OR = 4.58; p = 0.001, 95% CI: 1.86-11.26) compared  to those  who were not deficient in vitamin A. It  is recommended  to improve nutrition among lactating  women through supplementary feeding with  micronutrients addition. Furthermore, the extension of delay marriage age is also an alternative programs to prevent anemia.Keywords: risk factors, anemia, lactating women

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue