cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Underrated fruit: Round green avocado's hidden nutrients against obesity and comorbidities Nyono Dedi Prabowo; Diah Kurnia Mirwati; Setyo Sri Rahardjo
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 11 ISSUE 3, 2023
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2023.11(3).160-173

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Alpukat merupakan tanaman buah bernilai gizi tinggi yang tersedia secara luas, terjangkau, dan melimpah, khususnya di Jawa Tengah. Round green adalah varietas alpukat terbesar di Indonesia. Sebagai sumber makanan alami, alpukat kurang dihargai dan kurang populer dibandingkan buah-buahan lainnya, sedangkan kandungan nutrisi kompleks yang tersembunyi kurang dipelajari. Penelitian ini dilakukan karena banyaknya kandungan nutrisi alpukat dan kecenderungannya untuk obesitas.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyembunyikan kandungan nutrisi yang tersembunyi dari alpukat hijau bulat dan kemampuannya melawan penyakit penyertanya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Varietas alpukat yang dipilih berwarna hijau bulat. Analisis proksimat dilakukan mengikuti AOAC, dan kandungan asam lemak diukur menggunakan kromatografi gas dengan detektor ionisasi nyala (GC-FID) . Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis proksimat buah alpukat hijau bulat adalah kadar air (87,66-87,71%), abu (0,65-0,71%), lemak (5,88%), protein (1, 62-1,73%), karbohidrat (4,03-4,13%). , jumlah serat makanan (5,47-5,63%), lemak jenuh dan tak jenuh masing-masing (3,02 dan 96,98%) /100 g. Nutrisi tersembunyi utama dari alpukat hijau bulat adalah serat makanan yang tidak larut dan asam lemak tak jenuh, terutama α-linolenat. Menurut literatur, keduanya berpotensi melawan obesitas dan penyakit penyertanya.Kesimpulan: Studi kami menunjukkan komponen nutrisi tersembunyi yang paling penting dari alpukat hijau bulat adalah makanan dan lemak tak jenuh. Keduanya memiliki kemampuan untuk mengurangi obesitas sekaligus menghindari dan memperbaiki penyakit penyertanya.
Risk factors of undernutrition among under-two children in West Java (SSGI 2021) Batubara, Fithriani; Dwiriani, Cesilia Meti; Riyadi, Hadi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).49-58

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah populasi balita tertinggi di Indonesia. Permasalahan gizi di Jawa Barat masih tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 prevalensi stunting, wasting dan underweight di Jawa Barat yaitu 20.5%. 5.3% dan 15%. Faktor risiko yang mempengaruhi kekurangan gizi beragam dan berpotensi berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, sangat penting untuk menilai arus status gizi untuk meninjau kesenjangan dalam faktor risiko.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko stunting, wasting, dan underweight pada baduta di Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan studi cross sectional menggunakan data sekunder dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang terdiri dari 1203 subjek baduta usia 6-23 bulan di Jawa Barat. Faktor risiko stunting, wasting, dan underweight dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil: Prevalensi stunting, wasting, dan underweight pada baduta usia 6-23 bulan berturut-turut sebesar 20.5%, 5.7% dan 11.6%. Faktor risiko stunting adalah usia 12-23 bulan (AOR=3.10 CI 95% 2.16-4.45), panjang lahir pendek (AOR=1.85 CI 95% 1.30-2.62), tingkat pendidikan ibu rendah (AOR=1.97 CI 95% 1.45-2.68) dan tidak menyusui (AOR= 0.46 CI 95% 0.31-0.68) sebagai faktor protektif. Faktor risiko wasting adalah tingkat pendidikan Ibu yang rendah (AOR=0.5 CI 95% 0.34-0.94) sebagai faktor protektif. Faktor risiko underweight adalah usia 12-23 bulan (OR=1.92 CI 95% 1.25-2.95) dan tidak ASI eksklusif (AOR=0.54 CI 95% 0.35-0.83) sebagai faktor protektif. Kesimpulan: Faktor yang memengaruhi stunting yaitu usia, panjang lahir, tingkat pendidikan ibu, dan status menyusui. Faktor yang memengaruhi wasting yaitu tingkat pendidikan ibu. Faktor yang memengaruhi underweight yaitu usia dan riwayat ASI eksklusif. KATA KUNCI: baduta; faktor risiko; gizi kurang; Jawa Barat; SSGI ABSTRACTBackground: West Java is the province with the highest under-five population in Indonesia. Nutritional problems in West Java are still high in number. According to the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) the prevalence of stunting, wasting and underweight in West Java are stated as 20.5%. 5.3% and 15% whereas the risk factors affecting malnutrition are diverse and have the potential to change over time. Therefore, it is very important to assess current nutritional status to review gaps in risk factors. Objectives: This research was conducted to analyze the risk factors for stunting, wasting and underweight in under-two children of West Java. Methods: This research is a cross-sectional study using secondary data from the Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) 2021 which consists of 1203 subjects (6-23 months) in West Java. Risk factors of stunting, wasting. and underweight were analyzed using logistic regression. Results: The prevalence of stunting, wasting and underweight among children aged 6-23 months were 20.5%, 5.7% and 11.6%, respectively. The risk factors for stunting are age 12-23 months (AOR=3.10 CI 95% 2.16-4.45), short birth length (AOR=1.85 CI 95% 1.30-2.62), mother’s low education level (AOR=1.97 CI 95% 1.45-2.68) and not breastfeeding (AOR= 0.46 CI 95% 0.31-0.68) as a protective factor for stunting. low maternal education level (AOR=0.5 CI 95% 0.34-0.94) as a protective factor for wasting. The risk factor for underweight is age 12-23 months (OR=1.92 95% CI 1.25 -2.95) and does not have exclusively breastfed (AOR=0.54 CI 95% 0.35-0.83) as a protective factor for underweight. Conclusions: Influential factors to stunting are age, birth length, mother's education level, and breastfeeding status. Factor influences wasting is the education level of the mother. Factors influence underweight are age and history of exclusive breastfeeding. KEYWORDS: risk factors; SSGI; undernutrition; under-two children; West Java 
Dietary diversity on complementary feeding by maternal employment status during COVID-19 Pandemic Rahayu, Herwinda Kusuma; Paratmanitya, Yhona; Herawati, Herni Dwi; Nguyen, Esther M; Nuryani, Rindi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 2, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(2).104-114

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Praktik pemberian Makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat selama pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri karena kebijakan pemerintah untuk mengurangi penularan virus di tempat kerja seperti perubahan status pekerjaan termasuk bekerja dari rumah. Perubahan status pekerjaan, khususnya bagi ibu bekerja, berkaitan dengan keragaman pola makan dalam praktik pemberian MPASI.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak status pekerjaan ibu terhadap Keanekaragaman Gizi Minimum (MDD) selama pandemi COVID-19.Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan dan online self-administered questionnaires digunakan untuk mengumpulkan data dari 403 ibu yang memiliki anak usia 6-23 bulan yang tinggal di Jawa, Indonesia.Hasil: Secara keseluruhan, 91,1% anak memenuhi kriteria MDD. Dalam model yang disesuaikan, anak-anak dengan ibu yang bekerja di luar rumah dikaitkan dengan penurunan peluang mengalami MDD (AOR: 0.85, 95%CI: 0.42-0.98). Faktor yang berhubungan dengan MDD pada praktik pemberian MPASI adalah daerah tempat tinggal (AOR: 0.12; 95%CI: 0.03-0.54), usia anak (AOR: 2.93; 95%CI: 1.12-7.67), dan usia ibu (AOR: 1.39 ; 95%CI: 1,16-3,93).Kesimpulan: Praktik pemberian makanan pendamping ASI dipengaruhi oleh status pekerjaan ibu selama pandemi. Namun demikian, strategi lain untuk meningkatkan keragaman pangan MPASI diperlukan untuk mencegah malnutrisi pada anak dengan meningkatkan pengetahuan ibu terkait gizi anak, khususnya pada ibu bekerja.KATA KUNCI: pemberian makanan pendamping ASI; COVID-19; keanekaragaman pangan minimum; status pekerjaan ibu ABSTRACTBackground: Appropriate complementary feeding practices during the COVID-19 pandemic are challenging due to government policies to reduce the virus transmission in workplace such as changes of employment status including working from home . The changes of employment status, especially for working mothers was related to the dietary diversity of complementary feeding practice.Objectives: This study aimed to analyze the impact of maternal employment status on Minimum Dietary Diversity (MDD) during the COVID-19 pandemic.Methods: A cross-sectional study was conducted, and online self-administered questionnaires were used to collect data from 403 mothers of children ages 6-23 months who live in Java, Indonesia.Results: Overall, 91.1% of the children met the criteria for MDD. In the adjusted model, children with mothers who work outside of home were associated with a reduced odds of meeting MDD (AOR: 0.85, 95%CI: 0.42-0.98). The factors related to MDD on complementary feeding practices were area of residence (AOR: 0.12; 95%CI: 0.03-0.54), child's age (AOR: 2.93; 95%CI: 1.12-7.67), and maternal ages (AOR: 1.39; 95%CI: 1.16-3.93).Conclusions: Complementary feeding practices were impacted by maternal employment status during pandemic. However, other strategies to increase dietary diversity of complementary feeding are needed to prevent child malnutrition by increasing maternal knowledge related to child nutrition, especially for working mothers.KEYWORDS: complementary feeding; COVID-19; Minimum Dietary Diversity; maternal employment status
Anthropometric knowledge and measurement evaluation among female volunteer community health workers in Depok Sufyan, Dian Luthfiana; Arini, Firlia Ayu; Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul; Marjan, Avliya Quratul; Fatmawati, Iin
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 2, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(2).159-164

Abstract

Background: At the community level, assessment for children nutritional status is measured by female volunteer community health workers (FVCHW) through integrated health post (Posyandu). Based  on  initial  observation,  volunteers  have  sufficient  knowledge  of  anthropometric measurement however, to put it into practice, common pitfalls remain found.Refreshment on basic knowledge and practical training on anthropometric assessment is needed.Objectives:  As  part  of  Kampung  Caraka  Project  that  attempts  to  empower  locals  to  be deliberately  aware  of  community  health  and  well-being,  this  particular  study  aims  to  evaluate knowledge of FVCHW as well as their accuracy and precision on anthropometric assessment.Methods: This study is a quasi-experimental study with pre-posttest with control group design. The sample was purposively selected and 54 overweight adolescents were divided into a control group and two intervention groups. Education using healthy snacks quartet was conducted for 21 days  from  September  to  October  2023  in  Makassar  City.  Data  analysis  was  performed  using Wilcoxon singed ranks test.Results:  Results  showed  women  with  good  precision  for  MUAC,  height,  head  circumferences and length measurement were 23.1%, 23.1%, 53.8% and 33.3%, respectively. In contrast, only 7.7% of women had good accuracy on MUAC measurement. There is a significant difference of knowledge score before and after the education given (p-value 0.02, CI 95%).Conclusions:  The  cadre  had  good  precision  yet  poor  accuracy,  implying  the  necessity  of standardized procedure and regular equipment calibration prior to anthropometric measurement. There is a difference in mean scores before and after the education given, yet still denoted as low capacity. Further comprehensive education is highly required.  
The potential of pisang raja as a functional food in reducing body mass index and fat percent in hypertension patients Prapdika Sari, Sophia Denta; Nurwati, Ida; Febrinasari, Ratih Puspita
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 3, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(3).210-216

Abstract

ABSTRACTLatar Belakang: Pangan fungsional merupakan satu atau lebih komponen makanan dengan nutrisi penting untuk pertumbuhan atau perkembangan tubuh. Pisang merupakan contoh pangan fungsional dengan kandungan kalium, serat dan pati resisten yang dapat membantu terapi pasien hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pisang raja terhadap IMT dan persen lemak tubuh dengan intervensi pemberian buah pisang yang berbeda. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-post test with control group dengan subjek penderita hipertensi yang mengikuti posbindu dan bertempat tinggal di Kabupaten Klaten. Subjek dibagi menjadi empat kelompok yaitu K-, K+, I1, dan I2 dan dilakukan penelitian selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan program SPSS versi 26 dan dikatakan signifikan apabila p<0,05. Hasil: Setelah 14 hari, terjadi penurunan IMT secara signifikan pada kelompok K+, I1 dan I2. Pada kelompok K+ dan I2 setelah 14 hari mengalami penurunan persen lemak tubuh secara signifikan. Kesimpulan: Pemberian pisang raja sebanyak 1x per hari atau 2x per hari dapat menurunkan IMT secara signifikan. Pemberian pisang raja sebanyak 1x per hari tidak dapat menurunkan persen lemak tubuh secara signifikan dan pemberikan pisang raja sebanyak 2x per hari dapat menurunkan persen lemak tubuh secara signifikan. Kata kunci : Pangan Fungsional, Hipertensi, Indeks Massa Tubuh, Persen Lemak Tubuh.
Correlation of macronutrient intake and body fat precentage with menstrual cycle Nurdi, Nadya Khaira; Desmawati, Desmawati; Afriani, Nita
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 11 ISSUE 1, 2023
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2023.11(1).22-29

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010 menyatakan bahwa terdapat sebanyak 13,7% wanita di Indonesia mengalami siklus menstruasi tidak teratur, 7,7% disebabkan oleh faktor pola hidup. Sumatera Barat merupakan provinsi tiga tertinggi gangguan siklus menstruasi di Indonesia, dengan prevalensi sebesar 19,1% (3).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah asupan makronutrien dan kadar lemak tubuh dengan siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada bulan November 2021-September 2022, dengan jumlah sampel sebanyak 78 orang. Sampel diperoleh secara sistematis berdasarkan interval sampel. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan cara pemeriksaan fisik dan pengisian kuesioner. Analisis bivariat dilakukan dengan uji t-independen dan analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menyatakan bahwa 42,3% mahasiswi memiliki siklus menstruasi tidak normal, rerata jumlah asupan makronutrien (kalori total, karbohidrat, lemak, protein) dan kadar lemak tubuh mahasiswi adalah 2725,40±269,90 kkal, 378,86±40,70 gram, 90,58±14,40 gram, 98,54±11,36 gram, dan 36,19±7,02%. Uji T-independen menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah asupan makronutrien (kalori total, karbohidrat, lemak, protein) dan kadar lemak tubuh dengan siklus menstruasi (p=0,000, 0,016, 0,005, 0,028, 0,000). Uji regresi logistik menunjukkan bahwa kadar lemak tubuh merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan siklus menstruasi (p=0,000).Kesimpulan: Adanya hubungan yang bermakna antara jumlah asupan makonutrien dan kadar lemak tubuh dengan siklus mentruasi. Serta, kadar lemak tubuh merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan siklus menstruasi. KATA KUNCI: asupan makronutrien; kadar lemak tubuh; siklus menstruasi ABSTRACTBackground: Indonesian Basic Health Research 2010 state that 13.7% of women in Indonesia with irregular menstrual cycles, 7,7% caused by lifestyle factors. West Sumatra is the third highest province of irregular menstruation prevalence in Indonesia, which is 19.1% (3).Objectives: The purpose of this research is to determine the relationship between macronutrient intake and body fat percentage with the menstrual cycle in female students Faculty of Medicine, Andalas University.Methods: This research type was an observational study with cross-sectional research design. This research was conducted at the Faculty of Medicine, Andalas University in November 2021-September 2022, with samples were 78 respondents. Samples were taken systematically based on sample intervals. Data were collected by physical examination and questionnaires. Bivariate analysis used an independent sample t-test and multivariate analysis used logistic regression.Results: The results of this research stated that 42,3% of respondents had irregular menstruation, the mean of macronutrient intake (calories, carbohydrate, fat, protein) and body fat percentage of respondents were 2725,40±269,90 kcal, 378,86±40,70 gram, 90,58±14,40 gram, 98,54±11,36 gram, and 36,19±7,02%. The independent sample T-test showed a significant relationship between of macronutrient intake (calories, carbohydrate, fat, protein) and body fat percentage with menstrual cycle (p=0,000, 0,016, 0.005, 0,028, and 0,000). The logistic regression test showed that body fat percentage as dominant factor of menstrual cycle (p=0,000).Conclusions: The conclusion of this research is a significant relationship between macronutrient intake and body fat percentage with the menstrual cycle. And also, body fat percentage as dominant factor of menstrual cycle.  KEYWORD:  body fat percentage;  macronutrients intake; menstrual cycle 
The analysis of factors to predict eating behavior among adolescent girls: A community-based study in Indonesia Dian Isti Angraini; Fitria Saftarina; Sofyan Musyabiq Wijaya
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 11 ISSUE 2, 2023
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2023.11(2).62-76

Abstract

Background: The eating behavior of adolescent girls is often not concerned with the nutritional content of food, consuming more fast food, causing changes in eating behavior leading to unhealthy eating behavior. The impact of unhealthy eating behavior is the emergence of obesity and underweight. Adolescent eating behavior is influenced by predisposing, supporting, and reinforcing factors.Aims: This study aims to analyze the factors to predict the eating behavior of community-based adolescent girls in Indonesia.Method: This study uses a quantitative method with a cross-sectional approach. The sample consisted of 210 adolescent girls aged 15-18 years in the city of Bandar Lampung, Indonesia. Data were taken from July to October 2022. The sample was taken using the multistage random sampling method and analyzed using the chi-square test and logistic regression.Results: As many as 75 adolescent girls (35.7%) have unhealthy eating behavior, 164 people (78.1%) have poor nutritional knowledge, 6 people (2.9%) experience early menarche, 98 people (46.7%) were malnourished, 99 people (47.1%) had an eating disorder, 74 people (35.2%) had a risky personality, 109 people (51.9%) were dissatisfied with their body image, 100 people (47.6%) had a low allowance, 109 people (51.9%) influenced by social media, 98 people (46.7%) influenced by idols, 136 people (64.8%) influenced by family, 111 people (52.9%) influenced by teachers, and 76 people (36.2%) were influenced by their peers. Statistically, the factors related to the eating behavior of adolescent girls were knowledge (p=0.016), nutritional status (p=0.000), eating disorder (p=.0.008), personality (p=0.002), body image (p= 0.006), allowance (p=0.11), social media (p=0.000), idol figures (p=0.03), family (p=0.037), teachers (p=0.048) and peers (p=0.000 ), while menarche was not related (p=0,241). The most associated factors in predicting the eating behavior of adolescent girls are nutritional status, eating disorders, personality, body image, social media, idol figures, teachers, and peers.Conclusion: The prevalence of unhealthy eating behavior in adolescent girls is 35.7% and the most associated factors in predicting the eating behavior of adolescent girls are nutritional status, eating disorders, personality, body image, social media, idol figures, teachers, and peers.
Glycemic index of a breakfast food from black rice, konjac, jack beans, and red dragon fruit in rats with type 2 diabetes Alya Suha Zhafira; Hidayah Dwiyanti; Nur Aini
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 11 ISSUE 3, 2023
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2023.11(3).114-131

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penderita DM tipe 2 memerlukan sarapan yang tepat sehingga tidak meningkatkan kadar gula darah, yang harus terbuat dari bahan-bahan dengan indeks glikemik rendah. Beras hitam, porang, kacang koro pedang dan buah naga merah memiliki komposisi bahan dengan indeks glikemik rendah sehingga pengolahannya menjadi sereal sarapan dapat menjadi alternatif yang dapat dikonsumsi penderita DM2 dengan aman.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mempelajari indeks glikemik sereal sarapan beras hitam, porang, kacang koro pedang, dan buah naga merah, dan membandingkannya dengan sereal sarapan yang sudah komersial.Metode: Penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain post test. Indeks glikemik dianalisis menggunakan metode incremental area under the blood glucose response curve (IAUC). Data indeks glikemik dianalisis menggunakan uji one way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sereal sarapan pagi mengandung total gula 13,72%, total serat pangan 33,98%, dan antosianin 35,2%, serta nilai indeks glikemik 49,75. Kadar serat pangan, antosianin pada produk hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan produk komersial, sedangkan energi lebih rendah. Kesimpulan: Produk sereal sarapan memiliki kandungan serat makanan dan antosianin yang tinggi, serta kandungan gula total dan indeks glikemik yang rendah; dapat digunakan sebagai pengganti sarapan bagi penderita diabetes melitus. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan produk ini dalam mengontrol glukosa darah puasa pada individu dengan diabetes melitus. KATA KUNCI: antosianin; beras hitam; Indeks Glikemik; sereal sarapan; serat pangan    ABSTRACTBackground: Patients with type 2 diabetes need the correct meal that has low glycemic index components in order to prevent blood sugar levels from rising. Due to the low glycemic index of black rice, konjac, jack bean and red dragon fruit, their processing into morning cereals can be a safe choice for DM2 patients.Objectives: The aim of this study was to study the glycemic index of breakfast cereals of black rice, konjac, jack bean, and red dragon fruit, and compare them with commercial breakfast cereals.Methods: This research is experimental with a posttest design. The glycemic index was analyzed using the incremental area under the blood glucose response curve (IAUC) method. Glycemic index data were analyzed using a one-way ANOVA test followed by Duncan's test.Results: The results showed that breakfast cereals contained 13.72% total sugar, 33.98% total dietary fiber, and 35.2% anthocyanins, and a glycemic index value of 49.75. The levels of dietary fiber and anthocyanins in the products of this study were higher than those of commercial products, while the energy levels were lower.Conclusions: Breakfast cereal products have a high content of dietary fiber and anthocyanins, as well as a low total sugar content and glycemic index; can be used as a substitute for breakfast for people with diabetes mellitus. Further research is needed to determine the effectiveness of this product in controlling fasting blood glucose in individuals with diabetes mellitus. KEYWORD: anthocyanin; black rice; Glycemic Index; breakfast cereal; dietary fiber
Association between body image and skipping meals behavior among premarital women of reproductive age Wardiyana, Lisa; Paratmanitya, Yhona; Purnamasari, Sintha Dewi; Faradina, Amelia; Ngan Ho, Dang Khanh
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).1-9

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Wanita usia subur (WUS) pranikah perlu memperhatikan kecukupan gizinya, karena sebagai calon ibu status gizi wanita usia subur prakonsepsi akan mempengaruhi tumbuh kembang janin, kesehatan bayi, keselamatan ibu dan bayi selama proses melahirkan. Namun pada masa pranikah ini, perhatian terhadap body image biasanya meningkat, dimana hal ini dapat mempengaruhi perilaku makan seseorang, salah satunya perilaku skipping meals. Perilaku skipping meals berdampak pada kualitas diet yang buruk yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizinya.Tujuan: Mengetahui adanya hubungan antara body image dengan perilaku skipping meals pada wanita usia subur pranikah di Kabupaten Bantul. Metode: Penelitian ini merupakan penelitan observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 132 WUS pranikah di Kabupaten Bantul yang mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama (KUA). Pengukuran body image menggunakan Body Shape Questionnaire-34 (BSQ-34) dan perilaku skipping meals diidentifikasi menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Mann-Whitney dikarenakan data tidak terdistribusi normal.Hasil: Sejumlah 30,3% responden mempunyai body image negatif. Nilai median perilaku skipping meals responden adalah 2 kali/minggu. Responden yang mempunyai body image negatif lebih sering melakukan skipping meals yaitu 4 kali/minggu dibandingkan dengan responden yang mempunyai body image positif yaitu 2 kali/minggu. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara body image dengan perilaku skipping meals p<0,001.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara body image dengan perilaku skipping meals. Disarankan bagi Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memberikan materi terkait body image dan pentingnya makan secara teratur guna mencegah masalah gizi pada masa kehamilan pada kegiatan bimbingan perkawinan. KATA KUNCI: body image; skipping meals behavior; wanita usia subur pranikah ABSTRACTBackground: Premarital women of reproductive age need to care about their nutritional adequacy, because as prospective mothers, the nutritional status of premarital women of reproductive age will affect the fetal growth and development, infant health, mother and baby safety during childbirth. But at this time, their concern of body image increases which can affect the eating behavior, one of which is skipping meals behavior. Skipping meals behavior has an impact on poor diet quality, in the long term, it can affect the nutritional status.Objectives: The aim of this research was to describe the association between body image and skipping meals behavior among premarital women of reproductive age in Bantul District.Methods: This study was an observational study with a cross-sectional design. This study was conducted on 132 premarital women of reproductive age in Bantul district who registered their marriage at the office of religious affairs. Body image measurement used Body Shape Questionnaire 34 (BSQ-34) and skipping meals behavior was measured by questionnaire. Data was analyzed with Mann-Whitney because data was not normally distributed.Results: A 30.3% of respondents had a negative body image. The median value of a respondent’s skipping meals behavior was 2 times/week. Respondents who had a negative body image more often do skipping meals 4 times/week compared to respondents who had a positive body image 2 times/week. The result of bivariate analysis showed a significant association between body image and skipping meals behavior p<0,001.Conclusions: There was a significant association between body image and skipping meals behavior. It is recommended for the office of religious affairs to provide material related to body image and the importance of eating regularly to prevent nutritional problems during pregnancy in marriage guidance activities. KEYWORDS: body image;  skipping meals behavior; premarital women of reproductive age 
Implementation of an e-pocket book to improve knowledge and perceive anemia in adolescents Wijaya, Lisa Ratna; Utami, Siti Budi; Rialihanto, Muhammad Primiaji; Siswati, Tri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).10-18

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Anemia remaja adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi dengan menggunakan e-pocket book berbasis Android dan poster.Metode: Penelitian ini merupakan quasy eksperimental dengan desain pre-test post-test with desain control group design. Penelitian dilakukan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Februari hingga April 2023. Kelompok perlakuan diberi edukasi gizi menggunakan e-pocket book, sedangkan kelompok kontrol diberi poster. Hasil yang diukur adalah pengetahuan dan persepsi sebelum intervensi, 3 hari setelah (post-test 1), dan 14 hari setelah intervensi (post-test 2). Subyek ditentukan dengan rumus Lemeshow, dengan kriteria inklusi bersedia menjadi responden, hadir saat penelitian dilakukan, memiliki data yang lengkap, dan khususnya kelompok perlakuan memiliki Android. Berdasarkan kriteria tersebut subyek sebanyak 49 remaja per kelompok. Analisis dilakukan dengan uji Mann-Whitney untuk sampel yang tidak berdistribusi normal dan independent t-test untuk sampel yang berdistribusi normal. Data diolah dengan SPSS.Hasil: Skor pengetahuan dan persepsi kelompok intervensi pada awal, post-test 1, dan 2 lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik skor pengetahuan antara post-test 1 dan 2 dan pretest. Namun, dalam hal persepsi, perbedaan signifikan hanya terdapat pada post-test 1.Kesimpulan: Media e-pocket book dan poster meningkatkan pengetahuan dan persepsi tentang anemia. Namun, e-pocket book ternyata lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja terhadap anemia dibandingkan poster. Edukasi baik menggunakan e-pooket book maupun poster memperbaiki persepsi remaja tentang anemia hanya dalam jangka pendek.KATA KUNCI: e-pocket book; poster; pengetahuan; persepsi; anemia; remaja                                             ABSTRACTBackground: The prevalence of anemia among adolescents is a serious public health problem.Objectives: This study aims to determine the effectiveness of education using an e-pocket book based on an Android poster.Methods:  A quasi-experimental study using a pre-test and post-test with a control group design. The study was conducted in Magelang Regency, Central Java, Indonesia, from February to April 2023. The treatment group focused on nutrition education using an e-pocket book, while the control group focused on posters. Outcomes measured were knowledge and perception before the intervention, 3 days after (follow-up 1), and 14 days after (follow-up 2) the intervention. Subjects were determined by the Lemeshow formula, with inclusion criteria being a willingness to be respondents, present when the study was conducted, having complete data, and specifically the treatment group having android, which amounted to 49 persons per group. The analysis was conducted with the Mann-Whitney test for non-normally distributed samples and an independent T-test for normally distributed samples. We apply SPSS.Results: Score knowledge and perception of the intervention group at baseline, follow-up 1, and 2 were higher than in the control group. There was a statistically significant difference in the knowledge scores between follow-ups 1 and 2 and the pretest. Education using both e-pooket books and posters improves adolescents' perceptions of anemia significantly only in post-test1.Conclusions: Media e-pocket books and posters increase knowledge and perceptions about anemia. Education using both e-pooket books and posters improves adolescents' perceptions of anemia only in the short term. KEYWORDS:  e-pocket book; poster; knowledge; perceive; anemia; adolescent