cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Bingkai Teologi Hospitalitas Pentakostal Nunuk Rinukti; Harls Evan R. Siahaan; Agustin Soewitomo Putri
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i2.711

Abstract

Abstract. This manuscript is a study considering to the phenomenon of gender discrimination that still occurs in Christianity. The purpose of this study was to construct the idea of gender equality and justice within the framework of Pentecostal Hospitality Theology. The method used in this research was descriptive analysis and constructive argumentative using literature data related to Hospitality Theology, especially, the Pentecostalism’s response to the issue of gender equality and justice. As a result, Hospitality Theology is a theological construction that expresses openness to all differences equally and fairly. In conclusion, Pentecostal Hospitality Theology cannot be separated from the event of the outpouring of the Holy Spirit. It departs from the narrative virtues of the early church which welcomed different and foreign identities in equality and justice.Abstrak. Naskah ini merupakan sebuah kajian yang memperhatikan fenomena diskriminasi gender yang masih terjadi di kekristenan. Tujuan kajian ini adalah mengonstruksi ide kesetaraan dan keadilan gender dalam bingkai Teologi Hospitalitas Pentakostal. Metode dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan argumentatif konstruktif dengan menggunakan data literatur yang terkait dengan Teologi Hospitalitas, khususnya sikap Pentakostalisme terhadap isu kesetaraan dan keadilan gender. Hasilnya, Teologi Hospitalitas merupakan konstruksi teologis yang mengekspresikan keterbukaan pada segala perbedaan secara setara dan berkeadilan. Sebagai kesimpulan, Teologi Hospitalitas Pentakostal tidak dapat dilepaskan dari peristiwa pencurahan Roh Kudus dan berangkat dari virtue naratif jemaat mula-mula yang menyambut identitas berbeda dan asing dalam kesetaraan dan keadilan.
Melawan Ritual Pengurbanan Manusia: Kritik Naratif Kejadian 22:1-19 dari Perspektif Spiritualitas Pro Hidup Edward Jakson Turalely; Margaretha Martha Anance Apituley
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.644

Abstract

Abstract. The narrative of Genesis 22:1-19 has been the object of debate among Old Testament scholars. Even in this context, Genesis 22:1-19 is often used to legitimize actions that are not pro-life. Therefore, this paper aimed to reinterpret Genesis 22:1-19 using narrative criticism with a pro-life spirituality perspective. In this study, it was found that Genesis 22:1-19 narrative intends to emphasize the idea of pro-life, which was initiated by God. In the threat of religious rituals, God reveals His work of salvation. In the end, the pro-life idea in the Genesis 22:1-19 narrative can provide today’s inspiration in struggling for life for the entire creation.Abstrak. Narasi Kejadian 22:1-19 telah menjadi salah satu bahan perdebatan di kalangan ahli Perjanjian Lama. Bahkan, dalam konteks masa kini, teks tersebut sering dijadikan legitimasi terhadap tindakan yang tidak pro hidup. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menafsir kembali Kejadian 22:1-19 menggunakan kritik naratif dengan perspektif spiritualitas pro hidup. Dalam kajian ini ditemukan bahwa Kejadian 22:1-19 hendak mempertegas gagasan pro hidup, yang dipelopori oleh Allah. Di tengah-tengah ancaman ritual-ritual keagamaan, Allah menyatakan karya keselamatan-Nya. Pada akhirnya, gagasan pro hidup dalam narasi Kejadian 22:1-19 dapat memberikan inspirasi dalam konteks masa kini tentang pentingnya memperjuangkan hidup seluruh ciptaan.
Menalar Tuhan di Tengah Situasi Penderitaan Karel Martinus Siahaya; Ismiah Ismiah; Elisa Elisa
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i2.707

Abstract

Abstract. Suffering can make people begin to doubt and question the existence of God. Why did suffering occur in the world He created himself? These questions need to be answered through reasoning, although it is recognized that human reason is limited in finding the overall truth. The method used in this research was literature study. Through this study it was found that faith cannot be separated from ratio. Irrational faith will cause humans to fall into a fatalistic attitude when experiencing suffering.Abstrak. Penderitaan dapat membuat manusia mulai ragu-ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Mengapa penderitaan terjadi di dunia yang Ia ciptakan sendiri? Pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui penalaran, meskipun diakui bahwa akal manusia terbatas untuk menemukan kebenaran yang menyeluruh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Melalui kajian ini ditemukan bahwa iman tidak dapat dilepaskan dari rasio. Iman yang tidak rasional akan mengakibatkan manusia jatuh pada sikap fatalistik ketika mengalami penderitaan.
Menghormati Penulis dan Mengakui Pembaca: Pendekatan Rekonsiliatif Eric J. Douglass dalam Metode Reader’s Response Junifrius Gultom
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i2.697

Abstract

Abstract. Reader's response method is a method of reading text that is corrective to the structuralist method. To some degree, however, the meaning and its usage this method has some flaws. In general understanding, the use of the reader’s response method creates a desire to simply ignore the voices of the author of the text itself. As a result, this may potentially create a long gap between the writer and the reader in a work of finding the meaning. This paper aimed at explaining the conventions of language and of meaning that occur between writers and readers of the text, which is taken from Eric J Douglass' reconciliatory (stabilizing) approach to the author’s voice and reader activity. Reading and writing texts that embrace the side of readers and writers will bring about a more creative and rich meaning.Abstrak. Metode reader’s response adalah metode membaca teks yang korektif terhadap metode strukturalis. Namun, pengertian dan penggunaan dalam intensitas tertentu terhadap metode ini bukan berarti tidak mengandung beberapa masalah. Dalam pemahaman umum penggunaan metode reader’s response menimbulkan hasrat untuk begitu saja mengabaikan suara-suara penulis teks itu sendiri. Hal ini menjadikan gap yang panjang antara penulis dan pembaca di dalam sebuah perjalanan pencarian makna. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang konvensi bahasa dan makna yang terjadi di antara penulis serta pembaca teks yang ditempuh dengan pendekatan rekonsiliatif (stabilisasi) Eric J. Douglass terhadap suara penulis dan keaktifan pembaca. Pembacaan dan penulisan teks yang merangkul sisi pembaca dan penulis akan menghasilkan makna-makna yang lebih kreatif dan kaya.
Mencari Eklesiologi yang Hidup Robert Setio
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.732

Abstract

Abstract. As a theological reflection on the church, ecclesiology cannot escape the reality of the complexity of the church. In order to understand the complexity of the church properly, as this study does, ecclesiology needs to be based on a living religion, namely religion as practiced by the people. To understand living religion, this study will use theories and research results from the sociology of religion. Furthermore, this study will use theological-phenomenological thinking to understand how God manifests Himself as the other. As a given, God cannot be equated with anything that already exists. Therefore, theology needs to be open to new possibilities. Such a theology is in harmony with ecclesiology which is based on the life of the people. Life must move and the movement involves various parties.Abstrak. Tulisan ini berangkat dari kesadaran akan kompleksitas gereja di masa kini. Sebagai refleksi teologis atas gereja, eklesiologi tidak dapat menghindar dari kenyataan akan kompleksitas gereja itu. Agar kompleksitas gereja itu dapat ditangkap dengan baik, maka sebagaimana dilakukan oleh studi ini, eklesiologi perlu didasarkan pada agama yang hidup, yaitu agama sebagaimana dipraktekkan oleh umat. Untuk memahami agama yang hidup, studi ini akan menggunakan teori dan hasil penelitian sosiologi agama. Selanjutnya, studi ini akan menggunakan pemikiran teologi-fenomenologi untuk memahami bagaimana Tuhan memanifestasikan diri-Nya sebagai yang lain (the other). Sebagai yang terberi (given), Tuhan tidak dapat dipersamakan dengan apa saja yang sudah ada. Karena itu teologi perlu terbuka terhadap berbagai kemungkinan yang baru. Teologi yang demikian selaras dengan eklesiologi yang didasarkan pada kehidupan umat. Hidup pasti bergerak dan gerakan itu melibatkan berbagai pihak.
Peranan Diakrisis di Dalam Kehidupan Spiritual Orang Percaya Menurut Bapa-bapa Padang Gurun Hendi Hendi; Sarah Apriliana
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.628

Abstract

Abstract. This article is an analysis of the words of the Desert Fathers regarding the important role of diacrisis in the spiritual life of believers contained in the book entitled: The Book of the Elders: “Sayings of Desert Fathers.” Diacrisis is a topic that is rarely discussed, even less studied by the Church today, so the purpose of this research is to get interesting facts about diacrisis experienced by people who have applied it in their spiritual life. The results of the analysis show that diacrisis plays an important role in the spiritual life of believers to lead to the perfection of living with God (Theosis).Abstrak. Artikel ini adalah sebuah analisis perkataan para Bapa Padang Gurun mengenai pentingnya peranan diakrisis di dalam kehidupan spiritual orang percaya yang terdapat dalam buku yang berjudul: “The Book of the Elders: Sayings of Desert Fathers.” Diakrisis ini merupakan topik yang cukup jarang dibahas bahkan kurang didalami oleh Gereja masa kini, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan fakta menarik tentang diakrisis yang dialami oleh orang-orang yang sudah menerapkannya di dalam kehidupan spiritual mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa diakrisis sangatlah berperan penting dalam kehidupan spiritual orang percaya untuk menuju pada kesempurnaan hidup bersama dengan Allah (Theosis).
Yesus Kristus sebagai Figur Guru yang Humanis Sarah Andrianti; Yemima Truly Kasseh; Lala Nokita Dewi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.650

Abstract

Abstract. This study aimed to provide an alternative for humanistic Christian Religious Education in building the students’ abilities and character so that they can live well in community. This research was carried out by using the literature study method through an in-depth study of related factual and relevant library sources. This study showed that Jesus Christ is a humanist teacher because He teached according to the context of the needs of His listeners. As the Great Teacher, Jesus should be an inspiration for Christian Religious Education Teachers in carrying out humanistic education.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang humanis dalam membangun kemampuan dan karakter peserta didik agar dapat hidup sebagaimana manusia harus berperilaku dan diperlakukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode studi pustaka melalui kajian mendalam terhadap sumber-sumber pustaka terkait yang faktual dan relevan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Yesus Kristus merupakan figur Guru yang humanis oleh karena Ia mengajar sesuai konteks kebutuhan pendengar-Nya. Sebagai Guru Agung, Yesus semestinya menjadi inspirasi bagi Guru Pendidikan Agama Kristen dalam menjalankan Pendidikan yang humanis.
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Tulah Kesepuluh? Sebuah Pertimbangan Etis-Teologis Terhadap Teks Keluaran 11-12 Emanuel Gerrit Singgih; Yushak Soesilo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.823

Abstract

Abstract. The story of the tenth plague in the narrative of the liberation of the Israelites from Egypt in Exodus 11:1-12:36, cannot be used as a paradigm that applies to all situations and conditions, including the situation when the Indonesian people were facing the impact of the Covid-19 pandemic. The text seems to be the encounter of various theological thoughts related to theodicy, monism and dualism. Therefore, what needs to be done is a close reading of the text to disclose its difficulty. Instead of spending energy trying to figure out who is responsible for calamities or pandemics, it is better to deal with them by following health protocols and using common sense.Abstrak. Kisah tulah kesepuluh dalam narasi pembebasan umat Israel dari Mesir di teks Keluaran 11:1-12:36, tidak bisa dijadikan paradigma yang berlaku bagi semua situasi dan kondisi, termasuk situasi ketika bangsa Indonesia menghadapi dampak wabah Covid-19. Teks tersebut tampaknya merupakan hasil dari pertemuan berbagai pemikiran teologis yang berkaitan dengan teodise, monisme dan dualisme. Maka yang perlu dilakukan adalah pembacaan yang cermat terhadap teks, dalam rangka memperlihatkan kesulitan ini. Daripada menghabiskan energi untuk mencari jawaban siapa yang bertanggung jawab terhadap bencana atau wabah, lebih baik menghadapinya dengan menjalankan protokol kesehatan dan memakai akal sehat.
Makna Pemberian Nama: Tinjauan Eksegesis Lukas 1:57-66 Wilhelmina Taroce Maya Tanof
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.655

Abstract

Abstract. In this article, the author examined the importance of the naming process for the person who bears that name. The story of the birth of John the Baptist represents the process of giving a name is not a trivial matter. Through exegesis of the text of Luke 1:57-66, it is revealed that naming children has a great meaning. Naming means carrying out God's mandate, which means humans carry out God-given initiatives. Therefore, the name given should reflect God's good purpose for the life of the child to whom the name is given.Abstrak. Dalam artikel ini, penulis akan mengkaji pentingnya proses pemberian nama bagi orang yang menyandang nama tersebut. Cerita kelahiran Yohanes Pembaptis merepresentasikan proses pemberian sebuah nama bukanlah perkara yang remeh. Melalui eksegesis terhadap teks Lukas 1:57-66 terungkap bahwa pemberian nama terhadap anak mengandung makna yang besar. Pemberian nama berarti menjalankan mandat Allah, yang berarti manusia menjalankan inisiatif yang diberikan Allah. Oleh karena itu, nama yang diberikan semestinya mencerminkan maksud Allah yang baik atas hidup anak yang kepadanya diberikan nama.
Gereja Eko-Misional: Sebuah Tawaran Teologi Misi Ekologi Berdasarkan Eko-Hermeneutik Terhadap Kejadian 1:27-28 dan 2:15 Grets Janialdi Apner
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i1.659

Abstract

Abstract. This paper aimed to offer a study of ecological mission to construct a theological foundation of mission that bases on ecology perspective. This is considered relevant to the condition of environmental/natural damage which is increasingly affecting all living beings. This study is conducted with an eco-hermeneutic approach to the text of Genesis 1:27-28 and 2:15. From this study, it could be stated that the realization of the ecological mission is part of the fulfillment of the church's missionary character as God's partner in missio Dei. Thus, the church must be actively involved in dealing with ecological problems as part of God's mission to bring peace and salvation to the world.Abstrak. Melalui tulisan ini penulis menawarkan sebuah kajian misi ekologi dengan tujuan menghasilkan sebuah landasan teologi misi yang berporos pada lingkup ekologi. Hal ini dianggap relevan dengan kondisi kerusakan lingkungan/alam yang semakin terasa dampaknya bagi seluruh makhluk hidup. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan eko-hermeneutik terhadap teks Kejadian 1:27-28 dan 2:15. Dari kajian tersebut dapat dinyatakan bahwa pewujudan misi ekologi merupakan bagian dari pemenuhan karakter misional gereja sebagai rekan kerja Allah dalam missio Dei. Dengan demikian, gereja harus terlibat aktif dalam penanganan persoalan-persoalan ekologi sebagai bagian dari karya misi Allah yang membawa damai dan keselamatan bagi dunia.