cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. cilacap,
Jawa tengah
INDONESIA
TAWADHU
ISSN : 25977121     EISSN : 25808826     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Tawadhu merupakan Jurnal Fakultas Tarbiyah IAIIG Cilacap berisi ulasan, hasil pemikiran, ataupun hasil penelitian tentang pendidikan/ Kependidikan baik lingkup Islam maupun umum meliputi: Pesantren, Sekolah/ Madrasah, Pendidikan luar Sekolah maupun Pendidikan kemasyarakatan.
Arjuna Subject : -
Articles 68 Documents
PEMBINAAN KARAKTER MANDIRI ANAK ASUH (Studi Realitas Pembinaan Karakter Mandiri Anak Asuh di Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas) Ikhwani, Ikhwani
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research has several backgrounds. First, the self reliance is one of the formulations in the goals of national education. Second, the self reliance is a national character that must be built. Third, crisis of self reliance appears in society. Fourth, not all children / adolescents receive adequate care, including fostering self reliance from the family environment. Fifth, orphanages have a significant influence in handling children / adolescents who experience neglect problems. The formulation of the problem posed is how the concept of self reliance developed by the orphanage, how is the self reliance character development process applied to foster children in orphanages, how is the impact of this self reliance character development for orphaned children in orphanages. The approach used is phenomenology approach with analytical descriptive methods. The research was focused on Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. The data collected using observation techniques and in-depth interviews with the object of research. The research produces several conclusions. First, the foster children showed a good level of self reliance. Second, the efforts of the orphanage in creating the self reliance of foster children. Third, the supporting factors. Fourth, the inhibiting factors. Fifth, the model for developing self-reliance on the orphanages
PENDIDIKAN HATI MENURUT AL-GHAZALI (Keajaiban Hati: Penjelasan Tentang Perbedaan Antara Dua Maqom) Abduloh, Agus Yosep; Ahyani, Hisam
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan hati perspektif sufisme Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Pertanyaan yang ingin diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana konsep pendidikan hati perspektif Al Ghazali? (2) Bagaimana konsep pendidikan hati perspektif Al Ghazali (Keajaiban Hati: Penjelasan tentang Perbedaan antara Dua Maqom dengan Contoh yang dapat Dirasakan)dan relevansinya dalam konteks pendidikan kekinian?. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research), maka data yang diperoleh bersumber dari literatur. Adapun referensi yang menjadi sumber data primer yaitu dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Setelah penelitian ini dilakukan, penulis memperoleh hasil bahwa Konsep pendidikan hati menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang spektakuler yaitu Ihya Ulumuddin diantaranya: (1) Menyembuhkan hati yang sakit dan meghidupkan hati yang mati: Senantiasa berdzikir, membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat malam, membangun hidup zuhud, memperbanyak ingat mati. (2) Memelihara Hati yang sehat meliputi kegiatan pemeliharaan yang dapat dilakukan melalui proses penyadaran hati melalui dzikir, adapaun proses dzikir yang rutin diharapkan akan semakin menguatkan kecerdasan dan kelembutan hati. Proses yang tidak kalah pentingnya yaitu menjaga agar terhindar daripada penyakit hati. Sementara itu, pemikiran Al Ghazali tentang konsep pendidikan hati sampai saat ini tetap relevan, hal ini dibuktikan dengan adanya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang masih mencantumkan upaya-upaya mendidik hati bangsa Indonesia pada masa modern ini. Seperti halnya Imam Al Ghazali dalam mendidik hati yang sesuai dengan zaman anak sekarang ini dan tidak bersifat yang mutlak. Dari hal ini pendidikan hati bersifat dinamis dan dapat diimplikasikan nilai-nilai dari konsep pendidikan hati tersebut pada zaman kekinian dan itu masih tetap relevan.
HUBUNGAN ANTARA KEUTUHAN KELUARGA DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Akhirin, Akhirin
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan antara Keutuhan Keluarga dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama, Judul penelitian ini meliputi 3 (tiga) variabel yaitu keutuhan keluarga sebagai variabel bebas pertama (atau variabel X1), motivasi belajar sebagai variabel bebas kedua (variabel X2) dan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai variabel terikat (variabel Y). Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi dan tes dengan teknik korelasional. Angket digunakan untuk mengumpulkan data keutuhan keluarga, observasi untuk mengumpulkan data motivasi belajar, tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar PAI (variabel Y). Populasinya adalah siswa SD Negeri 02 Payak Cluwak Jepara yang berjumlah 77 orang, karena jumlah populasi banyak maka diambil sampel secara classter pada siswa kelas III, IV dan V yang berjumlah 30 orang dengan teknik random sampling.Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis statistik menggunakan rumus korelasi ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pengaruh keutuhan keluarga dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri 02 Payak Cluwak Pati adalah signifikan. Hasil analisis dengan rumus regresi ganda menunjukkan taraf signifikansi 5% maupun 1%. Di mana besarnya Fhit yaitu 7,5 kemudian dibandingkan dengan Ftabel dengan df = 2 : 27, pada taraf signifikansi 1% = 5,49 dan taraf signifikansi 5% = 3,35. Jadi Fhit > Ftabel. Selain itu ditemukan pula Rdeterminasi sebesar 36%, sehingga dapat dikatakan keutuhan keluarga dan motivasi belajar berpengaruh positif sebesar 36% terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Pemikiran KH. Chasbulloh Badawi) Saekhoni, Saekhoni; Alfian, Aziz
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa sekarang, pesantren harus mampu menyeimbangkan antara pendidikan formal dan non formal agar tidak ada persepsi yang keliru dikalangan masyarakat mengenai pesantren. Karena selama ini masayarakat menilai bahwa pesantren hanya berkecimpung dalam bidang keagamaan saja. Pesantren belum mampu menjembatani tuntutan masyarakat perihal akan kemana setelah lulus dari pesantren. Permasalahan inilah yang harus dijawab oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Maka peran pemikiran pimpinan pesantren sangat berpengaruh terhadap arah tujuan pendidikan pesantren. Dengan demikian, perlu adanya pembaharuan pemikiran pendidikan Islam agar tidak ada dikotomi mengenai pendidikan formal dan non formal.Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pemikiran pendidikan Islam Perspektif KH. Chasbulloh Badawi adalah pendidikan Islam seharusnya pendidikan yang mengarahkan dan membimbing peserta didik agar bisa membedakan antara yang baik dan salah, antara keliru dengan yang benar. Demi tercapainya tujuan tersebut, beliau menekankan ketika dalam proses mencari ilmu, seeorang peserta didik harus benar-benar memperdalam ilmu tersebut, sebab dengan ilmu yang sudah diperoleh dan dipelajari, peserta didik bisa mengetahui persoalan kehidupan, sehingga akan mampu membimbing, mengarahkan dan menuntun peserta didik kearah yang lebih baik, yaitu kehidupan yang bahagia di dunia maupun di akhirat.
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP PERSPEKTIF TASAWUF DI PONDOK PESANTREN ASRAMA PELAJAR ISLAM TEGALREJO MAGELANG Setyawan, Akhmad
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum merupakan salah satu aspek penting dalam berjalannya lembaga pendidikan. Tidak adanya kurikulum pada suatu lembaga pendidikan, maka lembaga pendidikan tersebut tdak akan berjalan dengn baik. Kurikulum yang baik ialah kurikulum yang mampu mencipkan lulusan yang baik dengan memiliki keterampilan hidup. Maka perlunya pengembangan kurikulum pendidikan kecakapan hidup perspektif tasawuf. Dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan hidup serta dengan nilai tasawuf menjadi bekal perserta didik terjun ke masyarakat dan bergunan bagi dirinya dan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kurikulum pendidikan kecakapan hidup perspektif tasawuf di Pondok Pesantren Asrama Pelajar Islam Tegalrejo Magelang. Adapun teknik keadsahan data menggunakan triangulasi data dan metodologis. Sedangkan analisis data dengan langkah pegumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah Pondok Pesantren Asrama Pelajar Islam Tegalrejo Magelang melakukan pengembangan kurikulum pendidikan kecakapan hidup perspektif tasawuf dengan memberikan program teknik komputer dan jaringan, mutimedia, tata busana. Perspektif tasawuf dilakukan dengan model diskrit yang dengan penambahan muatan lokal pengajaran kitab wasiatul mustofa, taisyirul kholaq, attahliyah wal targhib fit tarbiyah wat tahdzib, dengan tambahan kegiatan mujahadah.       
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERMAKNA PADA ANAK USIA DINI Muzakki, Akhmad
http://issn.pdii
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moral education is the soul of Islamic religious education. Achieving perfect morals is the true goal of education. The purpose of moral education is to form people who are virtuous, hard-willed, polite in speaking and acting, noble in behavior and mannerisms, wise, perfect, polite, and civilized, sincere, honest and holy.Moral education is related to tarbiyah, because tarbiyah is instilling the main morals, noble character and noble education especially in the soul of a child, from childhood until he becomes until he becomes a person who has the power to live with his own business and energy abilities. While children are little people who have potential that still needs to be developed.In the perspective of Islam, children have a strategic place on the continuity of human life in the world and continue to build civilization. Childhood is the most important period in education, because when children receive less attention at the beginning of their lives, most of it becomes large with corrupt, lying, jealous, thief, detractor, mocking, and interference in other people's business. Such children will tend to make conspiracies, tricks and plunge others
PEMIKIRAN PENDIDIKAN AGAMA (Studi Pemikiran Imam Al-Ghazali Dan Syed Muhammad Nauqib Al-Athas) Suhada, Dodo
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Education is a learning process carried out for students so that they have a good understanding and understanding of something and later grow into a person who likes to think critically and become better, both in terms of affective, cognitive and psychomotor. Religion is an organized collection of beliefs, cultural systems, and worldviews that connect humans to the orders / orders of life.Many religions have narratives, symbols, and sacred histories intended to explain the meaning of life and / or explain the origin of life or the universe. From their beliefs about the cosmos and human nature, people derive morality, ethics, religious law or a preferred lifestyle. Religious practices can also include rituals, sermons, memorials or worship of gods, gods or goddesses, sacrifices, festivals, parties, trances, initiation, funeral services, wedding services, meditation, prayer, music, art, dance, community service or any other aspect of human culture. Religion may also contain mythology. Religious education is a key that cannot be ignored because religious education is one of the supporting factors in moral education. Humans who have faith and devotion to God cannot come into being suddenly, but through a long and long educational process. The educational process lasts for a lifetime both in the family, school, and community. The school environment itself is a good place for us to explore religious knowledge, because it is in the school environment that we can receive education that can affect the development of a human personality. Talk about religious education too, from time to time religious education has no change. The point of not having a change here is that religious education remains as it was in the beginning. In this case also the development of the era / era here, we need to know from it. This will make the way of thinking in the religious process not narrow and will always develop from both classical and modern philosophical thoughts.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERMAKNA PADA ANAK USIA DINI Muzakki, Akhmad
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moral education is the soul of Islamic religious education. Achieving perfect morals is the true goal of education. The purpose of moral education is to form people who are virtuous, hard-willed, polite in speaking and acting, noble in behavior and mannerisms, wise, perfect, polite, and civilized, sincere, honest and holy.Moral education is related to tarbiyah, because tarbiyah is instilling the main morals, noble character and noble education especially in the soul of a child, from childhood until he becomes until he becomes a person who has the power to live with his own business and energy abilities. While children are little people who have potential that still needs to be developed.In the perspective of Islam, children have a strategic place on the continuity of human life in the world and continue to build civilization. Childhood is the most important period in education, because when children receive less attention at the beginning of their lives, most of it becomes large with corrupt, lying, jealous, thief, detractor, mocking, and interference in other people's business. Such children will tend to make conspiracies, tricks and plunge others
DEKONSTRUKSI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN SEBAGAI UPAYA PERUBAHAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN (Menelaah Kembali Kepemimpinan Pendidikan Melalui Pemikiran Niesche) Afiqi, Muhammad Anis
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 1 (2020): PERUBAHAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teori kepemimpinan menekankan kepada kebutuhan untuk membuat visi kooperatif dalam lingkungan belajar yang tidak mengancam. Strategi ini sebagai pembuatan keputusan partisipasi, refleksi, dan kesadaran diri itu penting pada pandangan kepemimpinan. Kecenderungan orang mengatakan bahwa pemimipin dapat dikatakan efektif jika memiliki sifat atau ciri-ciri khusus yang sangat penting. Sebagai contoh adalah: kharisma, daya persuasi, visi, dan intensitas. Kepemimpinan telah menjadi kajian yang menarik untuk ditelaah. Richard Niesche melalui buku yang berjudul Decontructing Educational Leadership mencoba menelaah kembali makna kepemimpinan itu sendiri, khususnya kepemimpinan pendidikan. Niesche menggunakan perspektif Derrida dan Lyotard (sebagai ahli filsafat bahasa) untuk membongkar struktural pengertian kepemimpinan pendidikan. Derrida menghadirkan kesulitan dalam hal menggunakan berbagai macam permainan kata secara filosofis yang dengan sengaja membongkar teks dan gaya tulisan tradisional. Sebuah teks akan perlu dibaca berulang kali sebelum seseorang mulai memahami arti tersembunyi, interpretasi, dan dekonstruksi yang diajukan.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM ISLAM DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Lathiffuddin, Imam
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 1 (2020): PERUBAHAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter sampai saat ini masih sering dibicarakan, karena melihat kondisi masyarakat yang masih memprihatinkan. Istilah pendidikan karakter memang muncul dari dunia Barat. Namun ruhnya ternyata sama dengan konsep akhlak yang dibawa oleh Islam. Sebelum istilah pendidikan karakter muncul, jauh-jauh hari Islam telah menggaungkan dan mendidik akhlak umat manusia. Saat ini umat manusia tengah berada di era revolusi industri 4.0. Era dimana umat manusia sangat tergantung dengan internet dan teknologi serba canggih. Pendidikan karakter di era revolusi industri 4.0 sangatlah penting, agar manusia bisa selamat dalam menjalani kehidupannya, bisa eksis dalam setiap perkembangan zaman tanpa tergerus oleh zaman.