cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 159 Documents
Representation of Social Actor in the News Reporting of Aljazeera Arabic and BBC Arabic on Gaza War Oct 7, 2023: Theo van Leeuwen’s Critical Discourse Analysis Nasaruddin, Nasaruddin; Atikurrahman, Moh
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3206

Abstract

Abstract: This article discusses the news coverage of the Gaza conflict presented in Arabic. News narratives are understood as ideological, political, non-neutral discourse practices and so on. This study is a critical discourse analysis of news from two mainstream news agencies representing the Middle East (Al-Jazeera Arabic) and the West (BBC Arabic) regarding the war that has been going on since October 7, 2023. The paradigm used in this study is socio-semantics initiated by Theo van Leeweun. News narratives, for van Leeweun, are a field for social actors to seize the public discourse stage. There are two main strategies called (a) exclusion and (b) inclusion that are always carried out by the editorial team in their journalistic work. The findings that can be concluded are that BBC Arabic, as a representation of Western society, tends to side with Israel and ignores Palestinian civilians. On the other hand, Al-Jazeera Arabic is more proportional (balanced) in telling the story of the events involving Palestine-Israel. Al-Jazeera Arabic is also more humanistic as seen from how they focus more on the weak side, namely the Gaza civilians who are the real victims of the war.Keywords: Gaza, BBC Arabic, Al-Jazeera Arabic, Critical Discourse Analysis, Theo van LeeweunAbstrak: Artikel ini membahas pemberitaan konflik Gaza yang disajikan dalam bahasa Arab. Narasi berita dipahami sebagai praktik wacana yang ideologis, politis, tidak netral dan sebagainya. Penelitian ini merupakan analisis wacana kritis (critical discourse analysis) terhadap pemberitaan yang bersumber dari dua kantor berita arus utama yang mewakili Timur Tengah (Al-Jazeera Arabic) dan Barat (BBC Arabic) seputar perang yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 silam. Paradigma yang diteladani dalam studi ini adalah sosio-semantik yang digagas oleh Theo van Leeweun. Narasi berita, bagi van Leeweun, adalah medan aktor-aktor sosial merebut panggung publik wacana. Terdapat dua strategi utama yang disebut (a) eksklusi dan (b) inklusi yang senantiasa dilakukan oleh redaksi dalam kerja jurnalisme mereka. Temuan yang bisa disimpulkan BBC Arabic, sebagai representasi masyarakat Barat cenderung berpihak ke Israel dan mengabaikan warga sipil Palestina. Sebaliknya, Al-Jazeera Arabic lebih proposional (berimbang) dalam mengisahkan peristiwa yang melibatkan Palestina-Israel tersebut. Al-Jazeera Arabic juga lebih humanis dilihat dari bagaimana mereka lebih menitikberatkan pada pihak yang lemah, yakni masyarkat sipil Gaza yang menjadi korban sesungguhnya dari perang tersebut.Kata Kunci: Gaza, BBC Arabic, Al-Jazeera Arabic, Analisis Wacana Kritis, Theo van Leeweun
Patterns of Relations between Adolescents and Parents and Their Impact on Religious Moderation Attitudes (Case Studies in Bali and Madura) Sahari, Sahari; Gunawan, Edi; Aisa, Siti; Tohis, Reza Adeputra
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3421

Abstract

Abstract: This study aims to examine the patterns of relationships between adolescents and parents and their influence on the attitudes toward religious moderation among student adolescents in Bali's multicultural society and Santri adolescents in Madura's religious and homogeneous society. This research employs a quantitative research method with a survey approach. The results indicate that the relationship between parents and adolescent students in Bali and Madura shows a very good pattern, with an average score of 53.88. There are differences in the patterns of relationships between adolescents and parents in Madura and Bali. In Madura, the adolescent-parent relationship demonstrates authoritarian and democratic patterns, while in Bali, it shows permissive and neglectful patterns. The democratic relationship pattern has the highest average value compared to other relationship patterns. Overall, relationship patterns have a significant positive correlation with religious moderation among adolescents in Madura and Bali.Keywords: Relationship Patterns; Adolescents and Parents; Religious Moderation; Multicultural Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji pola relasi remaja dan orangtua serta pengaruhnya terhadap sikap moderasi beragama remaja pelajar pada masyarakat Bali yang multikultural dan remaja santri pada masyarakat Madura yang religius dan homogen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei. Hasil penelitian menunjukan bahwa relasi antara orang tua dan remaja pelajar di Bali dan Madura memiliki pola yang sangat baik dengan skor rata-rata 53,88. Terdapat perbedaan pola relasi remaja dan orang tua pada masyarakat Madura dan Bali. Di Madura relasi remaja-orang tua menunjukkan pola otoriter dan demokratis, sedangkan di Bali menunjukan pola permisif dan abai. Pola relasi demokratis memiliki nilai rata-rata paling tinggi dari pola relasi yang lain. Secara keseluruhan pola relasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan moderasi beragama pada remaja di Madura dan Bali.Kata Kunci: Pola Relasi; Remaja dan Orang Tua; Moderasi Beragama; Multikultural
ORAL HISTORY: AN ALTERNATIVE OF ISLAMIC HISTORIOGRAPHY IN BOLAANG MONGONDOW Mashud, Imam
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v8i2.2775

Abstract

Abstract: Today's Islamic historiography in Bolaang Mongondow, North Sulawesi, has not been thoroughly investigated in order to show the existence of Islamic history in Bolaang Mongondow. The lack of written sources in developing Islamic historiography is one of the challenges recognized by Islamic historiography. The majority of Islamic historiography in Bolaang Mongondow continues to employ colonial material as a primary basis to construct how Islamic history is told. Nevertheless, the legitimacy of colonial data/historiography must still be questioned. Furthermore, the reconstruction of Islamic Historiography in Bolaang Mongondow can be described as unmoved, with the historical narrative limited to discussions based solely on written sources. Oral history is offered as an alternative to exploring Islamic history through interviews. As a consequence, Islamic historiography, particularly in the Bolaang Mongondow region, will present an innovative interpretation of Indonesian-centric Islamic historiography by emphasizing the roles of ordinary citizens rather than notable figures in its historical story. Key Words : Historical Approach, Oral Method, Decolonization Abstrak: Historiografi Islam di Bolaang Mongondow Sulawesi Utara saat ini masih belum massive digali untuk menampilkan jejak Sejarah Islam di Bolaang Mongondow. Salah satu permasalahan Historiografi Islam yang dihadapi adalah kurangnya sumber-sumber tertulis dalam Menyusun historiografi Islam tersebut. Sebagian besar historiografi Islam di Bolaang Mongondow masih bergantung data kolonial sebagai sumber primer untuk menyusun bagaimana Sejarah Islam di narasikan. Padahal data/historiografi kolonial masih perlu dikritisi dan pertanyakan kembali keabsahannya. Akhirnya rekonstruksi Historiografi Islam di Bolaang Mongondow bisa dikatakan stagnan dengan narasi Sejarah yang terbatas pada pembahasan-pembahasan yang memiliki data tertulis saja. Sejarah lisan hadir sebagai alternative untuk menggali Sejarah Islam dengan metode wawancaranya. Hasilnya Historiografi Islam khusunya di wilayah Bolaang Mongondow akan menampakan wajah baru mengenai Historiografi Islam yang Indonesia sentris dengan menampilkan peran orang biasa daripada peran-peran orang besar dalam narasi sejarahnya.  Kata Kunci : Pendekatan Sejarah, Metode Lisan, Dekolonisasi 
Religious Materialism in Sachet Packaging Al-Qur'an Sales on The @Quranfi_ Account on Tiktok Maula, Merdita Rizqia Nikma
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3120

Abstract

Abstract: This study aims to examine the phenomenon of using the Qur'an in the form of sachet packaging which is often utilized for independent ruqyah, as part of the study of the Living Qur'an. This phenomenon reflects the adaptation and integration of sacred texts in the lives of modern people in order to obtain blessings, protection, or healing. This research uses a qualitative approach, involving social research steps to obtain descriptive data in the form of words and pictures. Data sources consist of primary data obtained from the comments of followers of the @Quranfi_ TikTok account and secondary data from related scientific works. Three questions that will be discussed First, how is the application of ruqyah in the use of sachet packaged Qur'anic verses. Second, how is the meaning of the word shifa as a medicine in the Qur'an. Third, how Tiktok social media users respond to the sale of Qur'anic verses on the @Quranfi_ account. As a result, TikTok as a popular social media, provides profitable business opportunities. The @Quranfi_ account utilizes TikTok to market the Qur'an in sachet form which has caused various reactions from netizens. Indonesian-speaking netizens generally see this sale as a form of commercialization of religion, causing debate. In contrast, English-speaking netizens gave positive reviews, pointing out the satisfaction and benefits of the product. This difference in response may be influenced by cultural differences.Keywords: Living Qur'an, Ruqyah, TiktokAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena penggunaan al-Qur'an dalam bentuk kemasan sachet yang sering dimanfaatkan untuk ruqyah mandiri, sebagai bagian dari kajian Living Qur'an. Fenomena ini mencerminkan adaptasi dan integrasi teks suci dalam kehidupan masyarakat modern guna memperoleh berkah, perlindungan, atau penyembuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan langkah-langkah penelitian sosial untuk memperoleh data deskriptif berupa kata-kata dan gambar. Sumber data terdiri dari data primer yang diperoleh dari komentar pengikut akun TikTok @Quranfi_ dan data sekunder dari karya ilmiah terkait. Tiga pertanyaaan yang akan menjadi pembahasan Pertama, bagaimana penerapan ruqyah dalam penggunaan ayat al-Qur’an kemasan sachet. Kedua, bagaimana pemaknaan kata syifa sebagai obat dalam al-Qur’an. Ketiga, bagaimana respon Pengguna media sosial Tiktok terhadap penjualan Ayat-ayat al-Qur'an di akun @Quranfi_. Hasilnya, TikTok sebagai media sosial yang populer, memberikan peluang bisnis yang menguntungkan. Akun @Quranfi_ memanfaatkan TikTok untuk memasarkan al-Qur’an dalam bentuk sachet yang menimbulkan berbagai reaksi dari netizen. Netizen berbahasa Indonesia umumnya melihat penjualan ini sebagai bentuk komersialisasi agama, menimbulkan perdebatan. Sebaliknya, netizen berbahasa Inggris memberikan ulasan positif, menunjukkan kepuasan dan manfaat dari produk tersebut. Perbedaan respon ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan budaya.Kata Kunci: Living Quran, Ruqyah, Tiktok
Appreciate but not Acknowledge: (State Construction Towards Religion and Regulations with Discriminatory Nuances) Indara, Rona; Mantu, Rahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i2.3470

Abstract

Abstract: The meaning and recognition of religions in Indonesia are closely related to politics. Political sentiment during the transition of power from the old order to the new order affects how the State interprets religion in the constitution. Especially during the New Order period, minority religions or beliefs received discriminatory treatment, this fact was evidenced by various regulations that were impartial and protected minority religions and until now these policies continue to be used. The state, in this case, the government is intensively campaigning for the idea and practice of diversity, tolerance, and religious moderation, along with which there are many cases of violence and discrimination based on religious backgrounds. Using a socio-juridical approach, the author then found many regulations related to religion and beliefs that are still discriminatory and do not protect all citizens of the nation, as mandated by the 1945 Constitution.Keywords: Religion, Regulation, Discrimination, Diversity, Government.Abstrak : Pemaknaan dan pengakuan Agama-agama di Indonesia sangat berkait erat dengan Politik. Sentimen politik saat peralihan kekuasaan dari orde lama ke orde baru berpengaruh terhadap bagaimana Negara memaknai Agama di dalam konstitusi. Terlebih di masa Orde baru agama atau kepercayaan minoritas mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, fakta itu dibuktikan dengan berbagai macam regulasi yang tidak berpihak dan melindungi agama minoritas dan sampai sekarang kebijakan-kebijakan tersebut terus digunakan. Negara dalam hal ini pemerintah sedang gencar mengkampanyekan gagasan dan praktik kebhinekaan, toleransi, serta moderasi beragama, seiring dengan itu muncul banyak kasus kekerasan dan diskriminasi berlatar belakang agama. Dengan menggunakan pendekatan sosio-yuridis penulis kemudian menemukan  banyak regulasi-regulasi berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang masih bernuansa diskriminatif dan tidak melindungi segenap warga bangsa, sebagaimana amanat UUD 1945.Kata Kunci: Agama, Regulasi, Diskriminatif, Kebhinekaan, Pemerintah.
Discoursing and Mobilizing Religious Moderation in Indonesia 2022-2024: A Critical View Zuhri, Zuhri; Ahyunadi, Ahyunadi; Yahya, Padli Pawaid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v10i1.3494

Abstract

Abstract: Building religious behavior in society that fosters social sensitivity, sensitivity towards others, and national awareness still requires the participation of many parties, including contributions in thought, ideas, political policies, and societal momentum. As a nation with a society rich in social, religious, cultural, and political diversity, developing a narrative and discourse on religious moderation is absolutely necessary. This study critiques the ideas and movements of religious moderation in Indonesia, both in academic and political contexts, as well as what is being done by society and in the realm of digital platforms. With data and the process of diversifying patterns of discourse and movements, as well as the critical analysis conducted by the researcher, the discourse and movement of religious moderation still prioritize pragmatic interests rather than building a fundamental narrative. It is as if this movement must be accepted and practiced in daily life without realizing that such a narrative should be part of ethical religious descriptions. This means that if ethical and epistemological awareness is constructed in such a way within society, then moderate religious discourse will naturally emerge from self-awareness, without the need for it to be campaigned by the state or certain groups with significant costs. Keywords: Religion, Moderation, Episteme, Sociology, and Indonesia   Abstrak: Membangun perilaku beragama di masyarakat yang menumbuhkan kepekaan sosial, kepekaan terhadap sesama, dan kesadaran berbangsa tetap memerlukan peran serta banyak pihak, termasuk sumbangan pemikiran, gagasan, kebijakan politik, dan momentum kemasyarakatan. Sebagai bangsa yang masyarakatnya kaya akan keberagaman sosial, agama, budaya, dan politik, membangun narasi dan wacana moderasi beragama mutlak diperlukan. Kajian ini mengkritisi gagasan dan gerakan moderasi beragama di Indonesia, baik dalam konteks akademis maupun politik, serta apa yang tengah dilakukan oleh masyarakat dan di ranah platform digital. Dengan data dan proses diversifikasi pola wacana dan gerakan, serta analisis kritis yang dilakukan peneliti, wacana dan gerakan moderasi beragama masih lebih mengutamakan kepentingan pragmatis ketimbang membangun narasi yang fundamental. Gerakan ini seolah-olah harus diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa menyadari bahwa narasi semacam itu seharusnya menjadi bagian dari deskripsi keagamaan yang etis. Artinya, apabila kesadaran etika dan epistemologi sudah terkonstruksi sedemikian rupa dalam masyarakat, maka wacana keagamaan yang moderat akan lahir dengan sendirinya dari kesadaran itu sendiri, tanpa perlu dikampanyekan oleh negara atau kelompok tertentu dengan biaya yang tidak sedikit.Kata Kunci: Agama, Moderasi, Episteme, Sosiologi, dan Indonesia 
Identity, Expression and Preferences of Muslim Youth Towards Da`Wah Content: Study on Podcasts at Islamic University of Bandung Aldreka, Ridfiazhi; Muhtadi, Asep S.; Fardiah, Dedeh
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v10i1.3586

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology has transformed communication and information access, including Islamic propagation (da'wah). This study explores Universitas Islam Bandung (Unisba) students' preferences for digital da'wah content, particularly podcasts, using Berger and Luckmann's Social Construction of Reality theory and the bilisani qaumihi principle. Through qualitative methods, including in-depth interviews and observations targeting students aged 18-24, findings reveal preferences short, engaging, and visually appealing content for entertainment and long-form, educational content for deeper understanding. Platforms like TikTok, Instagram, and YouTube Shorts cater to short-form needs, while YouTube podcasts provide extensive and systematic discussions. Students favor relatable themes such as self-development, mental health, and daily Islamic practices, delivered in a relaxed, humorous, and relatable tone. The study concludes that digital da'wah must integrate entertainment with education to adapt to Generation Z's preferences, ensuring message relevance and effective Islamic value internalization in daily life.Key Words: Digital Da'wah, Student Preferences, Podcast, Social Media, Social ConstructionAbstrak: Perkembangan teknologi digital mengubah cara komunikasi dan akses informasi, termasuk dakwah Islam. Penelitian ini mengkaji preferensi mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap konten dakwah digital, khususnya podcast, dengan menggunakan teori Konstruksi Sosial atas Realitas dari Berger dan Luckmann serta prinsip bilisani qaumihi. Melalui metode kualitatif, termasuk wawancara mendalam dan observasi dengan target mahasiswa berusia 18-24 tahun, hasil penelitian menunjukkan preferensi konten singkat, menarik, dan visual untuk hiburan, serta konten panjang dan edukatif untuk pemahaman mendalam. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts memenuhi kebutuhan konten singkat, sementara podcast di YouTube memenuhi kebutuhan diskusi mendalam dan sistematis. Mahasiswa menyukai tema relevan seperti pengembangan diri, kesehatan mental, dan praktik Islami sehari-hari, dengan gaya penyampaian santai, humoris, dan relatable. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah digital harus mengintegrasikan hiburan dan pendidikan untuk beradaptasi dengan preferensi generasi Z, memastikan relevansi pesan, dan memungkinkan internalisasi nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: Dakwah Digital, Preferensi Mahasiswa, Podcast, Media Sosial, Konstruksi Sosial
MERARIQ TRADITION: NEGOTIATION COMMUNICATION OBTAINING A WALI NIKAH IN NORTH LOMBOK Tamrin, Andi; Ridho, Ali; Sari, Afna Fitria; Ilaihi, Wahyu
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3102

Abstract

Abstract: Merariq tradition is a sacred tradition to obtain a wali nikah in marriage for the people of Genggelang, North Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesian. In the process, it contains complicated negotiation communication between the two families of the prospective bride and groom. This research uses negotiation communication theory and the method applied is qualitative with a phenomenological approach. Data were obtained from interviews, observations, documentation and books and journals of national and international repute.  The formulation of the problems in this study are (1) why the Genggelang community conducts negotiation communication in the Merariq tradition; (2) how negotiation communication is carried out by the two families of the prospective bride to get a wali nikah. The result of the research is that in the implementation of the merariq tradition, a negotiation communication model is applied between the two families of the prospective bride and groom with the type of principled negotiation. Thus, the bargaining position of the two families of the bride and groom emphasizes the basis of kinship and togetherness. The use of integrative and distributive strategies to produce an agreement. Submission of ajikrama and pisuka as a sign that the bride and groom are getting married. However, the impact of compulsive negotiation communication causes ongoing conflict between the two families, this is contrary to the values of Islamic preaching. Keywords: Merariq, Tradition, Negotiation, CommunicationAbstrak: Tradisi Merariq adalah tradisi sakral untuk mendapatkan wali nikah dalam pernikahan bagi masyarakat Genggelang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dalam prosesnya, terdapat komunikasi negosiasi yang rumit antara kedua keluarga calon mempelai. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi negosiasi dan metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan buku-buku serta jurnal bereputasi nasional dan internasional.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) mengapa masyarakat Genggelang melakukan komunikasi negosiasi dalam tradisi Merariq; (2) bagaimana komunikasi negosiasi yang dilakukan oleh kedua keluarga calon mempelai untuk mendapatkan wali nikah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan tradisi merariq diterapkan model komunikasi negosiasi antara kedua keluarga calon mempelai dengan jenis negosiasi berprinsip. Dengan demikian, posisi tawar kedua keluarga calon mempelai lebih mengedepankan asas kekeluargaan dan kebersamaan. Penggunaan strategi integratif dan distributif untuk menghasilkan kesepakatan. Penyerahan ajikrama dan pisuka sebagai tanda bahwa kedua mempelai akan menikah. Namun, dampak dari komunikasi negosiasi yang bersifat kompulsif menyebabkan konflik yang berkelanjutan antara kedua keluarga, hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Islam.Kata Kunci : Merariq, Tradisi, Negosisasi, Komunikasi
POLITIK SEBAGAI JALAN PRAKTIK TASAWUF: TELAAH TERHADAP KONSEP ASFAR AL-ARBA’AH MULLA SHADRA Salam, Andi Muhammad Ikbal; Nizar, Nizar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2702

Abstract

Abstract: This research aims to find out politics as a way of practicing Sufism based on the concept of asfar al-arba'ah Mulla Shadra. The research method used is qualitative research with a literature study approach, namely by examining or interpreting written material about the concept of asfar al-arba'ah. The results showed that the concept of four journeys (asfar al-arba'ah) Mulla Shadra consists of: the journey from being to God; second, the journey in the [names of] God with God; third, the journey from God to being with God; fourth, the journey in being with God. Mulla Shadra places the fourth spiritual journey as a political journey. The substance of politics is understood as a conscious effort to uncover the realities and regulations that dominate conscious activity and lead human collective life to the desired destiny. This view necessitates the necessity of regulation for society to sustain a harmonious life through submission to God. Submission to God means submission to the rules and traditions of the sunnah, including prophetic inevitability. Therefore, Mulla Shadra understands that the purpose of the mission of the prophets is the improvement of religion and the human world through philosophical and political management.Keywords: Mulla Shadra, Sufism, Politics, Asfar al-Arba'ahAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui politik sebagai jalan praktik tasawuf berdasarkan konsep asfar al-arba’ah Mulla Shadra. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatis dengan pendekatan studi pustaka yakni dengan mengkaji atau menginterpretasi bahan tertulis tentang konsep asfar al-arba’ah. Hasil penelitian menujukkan bahwa konsep empat perjalanan (asfar al-arba’ah) Mulla Shadra terdiri atas: perjalanan dari makhluk menuju Tuhan ; kedua, perjalanan di dalam [asma-asma] Tuhan bersama Tuhan; ketiga, perjalanan dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan; keempat, perjalanan di dalam makhluk bersama Tuhan. Mulla Shadra menempatkan perjalanan ruhani keempat sebagai perjalanan politik. Substansi politik dimaknai sebagai upaya sadar menyingkap realitas dan regulasi yang mendominasi aktivitas sadar dan menggiring kehidupan kolektif manusia kepada takdir yang diinginkan. Pandangan ini meniscayakan kemestian regulasi bagi masyarakat untuk melangsungkan kehidupan yang harmoni melalui ketundukan pada Tuhan. Tunduk pada Tuhan berarti tunduk pada aturan dan tradisi sunnah, termasuk keniscayaan kenabian. Karenanya Mulla Shadra memahami bahwa tujuan misi dari para nabi adalah sebagai perbaikan agama dan dunia manusia melalui manajemen filosofis dan politik.Kata Kunci: Mulla Shadra, Tasawuf, Politik, Asfar al-Arba’ah
NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DALAM RIWAYAT PROFETIK Maemunah, Siti; Muzakki, Muhammad Asgar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2951

Abstract

Abstract: This article discusses narcissistic behavior in practicing religion as contained in prophetic history. The theme of narcissism amidst the prominence of social media can be said to be always relevant and evergreen, because narcissistic disorders can penetrate all groups. Including people who are labeled pious and diligent in worship. Interestingly, people with NPD even existed in the time of the Prophet, complete with characteristics and indicators of narcissism from modern psychology. Feeling the most right, the most entitled, arrogant, is indeed part of the “adab” chapter which is the main focus of the Islamic taching. So the Prophet taught us a way - or at least one way - to mentally forge a way to ward off the NPD disorder. Through interdisciplinary analysis that combines psychological and historical approaches, this research examines hadiths related to the NPD theme using a thematic-contextual study model. This research aims to contribute to a deeper understanding of narcissistic behavior in a religious context and offers potential solutions to reduce these tendencies.Key Words : Disorder, narcissism, humilityAbstrak Artikel ini membahas tentang perilaku narsistik dalam beragama yang termuat dalam riwayat kenabian. Tema narsisme di tengah prominennya media sosial boleh dibilang selalu relevan dan evergreen, karena gangguan narsistik bisa mempenetrasi semua kalangan. Termasuk orang yang dilabeli saleh dan rajin beribadah sekalipun. Menariknya, pengidap NPD bahkan sudah ada di zaman Nabi lengkap dengan karakteristik dan indikator narsisme dari psikologi modern. Merasa paling benar, paling berhak, angkuh, memang bagian dari bab adab yang menjadi sorotan utama agama Islam. Maka Nabi pun mengajarkan cara –atau sekurang-kurangnya salah satu cara untuk menempa mental guna menepis gangguan NPD tersebut. Melalui analisis interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dan sejarah, penelitian ini meneliti hadis-hadis berkaitan dengan tema NPD dengan model kajian tematik-kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku narsistik dalam konteks agama dan menawarkan solusi potensial untuk mengurangi kecenderungan tersebut.Kata Kunci : Gangguan, narsisme, kerendahan hati.