cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan Rahmat Widiyanto; Wahono Sumaryono; Djoharsjah Djoharsjah
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.789 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel citra merek dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan sehingga berdampak pada loyalitas pelanggan umum di Apotek Farmarin Bidakara. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif ini mengambil 275 pelanggan umum Apotek Farmarin Bidakara sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability dengan pendekatan incidental sampling, dan data dianalisis dengan regresi binary logistic menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel citra merek dan kualitas pelayanan berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel citra merek dan kualitas pelayanan secara bersama-sama (simultan) berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil analisis secara parsial menunjukkan bahwa variabel citra merek berpengaruh signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan sedangkan variabel kualitas pelayanan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kepuasan pelanggan berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel loyalitas pelanggan (p=0,05). Indikator yang perlu ditingkatkan untuk variabel kepuasan pelanggan adalah kepuasan pelanggan mendapatkan solusi pemecahan masalah yang dimilikinya.
Kinerja Karyawan Klinik Syifa Medical Center Jakarta Ditinjau dari Kompensasi, Motivasi Kerja, dan Budaya Organisasi M. Fathan Nugrah Utama; Sampurno Sampurno; Djoharsyah Djoharsyah
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.833 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48716

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh variabel kompensasi, motivasi kerja dan budaya organisasi untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja karyawan di Klinik Syifa Medical Center. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 152 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu nonprobability sampling dan purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan pengukuran skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 22.2%, variabel motivasi kerja memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 31.1%, variabel budaya organisasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 18.4%, pengaruh variabel kompensasi, motivasi kerja dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan berpengaruh secara signifikan sebesar 32.6%.
Studi Perbandingan Disolusi In-Vitro Pada Formula Tablet Levofloksasin Immediate-Release Menggunakan Variasi Kadar Disintegran Sodium Starch Glycolate Shesanthi Citrariana; Endang Lukitaningsih; Akhmad Kharis Nugroho
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.539 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48941

Abstract

Levofloksasin merupakan antibiotik yang digunakan dalam terapi Community Acquired Pneumonia (CAP) dengan prevalensi cukup tinggi di Indonesia. Sodium starch glycolate (SSG) merupakan eksipien yang berfungsi sebagai disintegran. SSG direkomendasikan dalam formula tablet dengan konsentrasi 1-4% karena konsentrasi yang lebih tinggi dapat mengurangi kemampuan disintegrasinya. Kinetika pelepasan obat memiliki nilai yang sangat penting dalam pengembangan dan kontrol kualitas obat. Perubahan kualitatif dan kuantitatif eksipien dalam formula dapat mengubah kinetika pelepasan dan kinerja in-vivo. Peneliltian ini bertujuan untuk melakukan studi perbandingan kinetika pelepasan obat pada tablet levofloksasin yang diformulasikan menggunakan berbagai konsentrasi SSG. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa konsentrasi SSG 1,33-5,33% dalam formula tidak memberikan perbedaan model kinetika pelepasan obat. Hal ini terlihat dari nilai f1 (3,12-8,50) dan f2 (56,16-77,43) yang berada pada rentang kriteria. Tablet levofloksasin Immediate-release (IR) yang diformulasikan, mengikuti pemodelan First-Order kinetik dengan kriteria nilai R2_adj tertinggi, MSE dan AIC terkecil, serta MSC terbesar dibandingkan dengan model kinetika lainnya. Pemodelan menggunakan Korsmeyer-Peppas memperlihatkan bahwa mekanisme transport dari tablet levofloksasin mengikuti persamaan Fickian semu (n<0,5) sehingga menggambarkan pelepasan obat dari matriks non-swellable.
Pengaruh pH Terhadap Stabilitas Alpha Arbutin dalam Gel Niosom Dea Pertiwi; Rise Desnita; Sri Luliana
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.347 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.49446

Abstract

Alpha arbutin merupakan salah satu agen pencerah kulit yang terdegradasi dalam sediaan larutan pada pH kurang dari 3,0 dan pH lebih dari 6,5. Sistem penghantaran niosom dapat meningkatkan stabilitas alpha arbutin dalam sediaan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH terhadap stabilitas gel niosom alpha arbutin. Uji stabilitas dilakukan menggunakan formulasi gel alpha arbutin dan gel niosom alpha arbutin yang dibuat dalam pH sediaan 6, 7 dan 8 selama 28 hari. Pengukuran kadar alpha arbutin menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan waktu kadaluarsa gel alpha arbutin dengan sistem niosom lebih lama dibandingkan tanpa sistem niosom pada setiap pH. Sediaan gel niosom alpha arbutin dan gel alpha arbutin pada pH 7 memiliki kestabilan lebih baik daripada sediaan gel pH 6 dan 8. Gel niosom alpha arbutin dan gel alpha arbutin pada pH 7 tidak mengalami perubahan organoleptis selama penyimpanan 28 hari. Hasil uji analisis Independent-Sampel T Test dengan nilai p<0,05 menunjukkan pada pH 7 berbeda signifikan antara formula gel alpha arbutin dan gel niosom alpha arbutin. Waktu kadaluarsa sediaan gel alpha arbutin pH 7 dengan sistem niosom dan tanpa sistem niosom masing-masing selama 24 hari dan 14 hari. Kesimpulannya adalah sistem niosom dapat meningkatkan stabilitas alpha arbutin pada rentang pH yang diteliti. 
Dampak Merokok Terhadap Kematian Dini Akibat Kanker di Indonesia: Estimasi Years of Life Lost (YLL) Pia Rika Puspawati; Susi Ari Kristina; Chairun Wiedyaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.062 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.49790

Abstract

Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian dini di dunia. Seseorang yang merokok tembakau mendapat paparan lebih dari 7000 zat kimia mematikan, dimana 70 diantaranya bersifat karsinogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini yang terjadi karena penyakit kanker yang disebabkan oleh merokok di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif menggunakan estimasi berdasarkan prevalence-based dengan data angka kematian penyakit kanker berdasarkan data Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2018. Penelitian ini mengkaji jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini yang terjadi karena penyakit kanker akibat merokok yang dinyatakan dalam nilai Years of Life Lost (YLL). Hasil dari penelitian ini, nilai YLL tertinggi adalah pada penyakit kanker paru-paru (31.820 orang tahun), kanker hati (11.700 orang tahun) dan kanker kandung kemih (2.873 orang tahun). Pada pria, urutan nilai YLL yang paling tinggi adalah kanker paru-paru (27.213), kanker hati (11.412), dan kanker kandung kemih (2.703,74). Pada wanita nilai YLL tertinggi adalah kanker paru-paru (4.507,7), pada urutan kedua adalah kanker serviks (1.782,41), dan kanker ovarium (1.442,99) pada urutan ketiga. Secara keseluruhan, penyakit kanker akibat merokok menyebabkan 59.071,60 tahun yang hilang akibat kematian dini di Indonesia. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pembuatan kebijakan terkait merokok dengan basis ilmiah
Nilai Antioksidan dan Spf dari Kombinasi Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum L.) dan Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Yanthy Susanti; Anny Victor Purba; Deni Rahmat
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.108 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.52243

Abstract

Minyak wijen dan minyak biji bunga matahari yang mengandung Vitamin E dan β-Karoten dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan dan tabir surya. Penelitian aktivitas tabir surya pada minyak wijen memberi hasil nilai SPF sebesar 1,77. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi minyak wijen dan minyak biji bunga matahari yang memiliki aktivitas antioksidan dan nilai SPF yang optimal. Metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas, nilai SPF diperoleh dengan menghitung harga AUC kurva hubungan antara panjang gelombang dengan serapan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan minyak wijen memiliki aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 267 µg/mL dan nilai SPF sebesar  1,46 pada konsentrasi 125µg/mL, minyak biji bunga matahari memiliki aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 88,37 µg/mL dan nilai SPF 1,14 pada konsentrasi 125µg/mL, kombinasi kedua minyak memiliki aktivitas antioksidan sebesar (IC50) sebesar 118,04 µg/mL dan nilai SPF 1,78 pada konsentrasi 125µg/mL.
Optimasi Carbomer, Propilen Glikol, dan Trietanolamin Dalam Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia) Amira Fawwaz Tsabitah; Abdul Karim Zulkarnain; Mae Sri Hartanti Wahyuningsih; Dwi Aris Agung Nugrahaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.45666

Abstract

Ekstrak etanol daun kembang bulan atau Tithonia diversifolia telah diteliti memiliki kemampuan sebagai anti keloid yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula gel dengan sifat fisik dan stabilitas yang baik. Metode yang digunakan dalam optimasi ini adalah Simplex Lattice Design. Formula optimum gel dibuat dari bahan carbomer, propilen glikol, dan trietanolamin. Parameter yang diukur adalah viskositas, pH, daya sebar, freeze and thaw cycles, dan sineresis. Hasil uji kemudian dianalisis menggunakan paired t-test.Hasil penelitian menunjukan bahwa formula optimum gel terdiri dari 0,81% carbomer, 5,9% propilen glikol, dan 0,58% trietanolamin dengan viskositas 155,96 d.Pas, daya sebar 4,06 cm, pH 5,50, dan sineresis 0,64%. Basis gel yang dihasilkan bening, memiliki viskositas 156,10 ± 2,87 d.Pas, daya sebar 3,95 ± 0,07 cm, pH 5,50 ± 0,00, dan sineresis 0,46 ± 0,00 %. Sediaan basis gel stabil dalam uji stabilitas fisik. Gel ekstrak etanol daun kembang bulan yang dihasilkan memiliki viskositas 77,70 ± 2,30 d.Pas, daya sebar 4,55 ± 0,21 cm, pH 5,32 ± 0,01, dan sineresis 1,42 ± 0,28 %. Sediaan gel ekstrak etanol daun kembang bulan kurang stabil dalam uji stabilitas fisik pada viskositas yang mengalami penurunan, daya sebar yang mengalami kenaikan, pH yang mengalami kenaikan, dan sineresis yang meningkat.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empirik dan Profil Antibiotik Pasien Multi-Drug Resistant Acinetobacter baumannii di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Avanilla Fany Septyasari; Titik Nuryastuti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.643 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.47912

Abstract

Resistensi antibiotik menjadi salah satu masalah yang dihadapi pada penyakit infeksi saat ini, dan salah satu bakteri yang mengalami resistensi adalah Acinetobacter baumannii. Bakteri Acinetobacter baumannii merupakan bakteri yang banyak dijumpai pada infeksi nosokomial. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang poten terhadap infeksi MDR Acinetobacter baumannii pada pasien rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2016 – 2018, secara observasional dan metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data secara retrospective. Penggunaan antibiotik empiris pada pasien dievaluasi kesesuaiannya, kemudian antibiotik yang sesuai dianalisis prediksi kadar antibiotik, untuk mengetahui apakah antibiotik yang diberikan memenuhi kadar minimal dalam tubuh. Analisis dilakukan dengan membandingkan prediksi kadar antibiotik empiris dengan MIC antibiotik literatur (di bawah MIC atau di atas MIC) terhadap outcome klinis pasien menggunakan analisis Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil antibiotik yang poten yaitu amikasin (62,9%), meropenem (56,9%), cotrimoksazol (42,5%), ampisilin-sulbaktam (29%), levofloksasin (20,7%), dan gentamisin (20,5%). Hubungan antara prediksi kadar antibiotik empiris di atas MIC terhadap outcome klinik tidak berbeda signifikan dengan di bawah MIC dibandingkan dengan outcome klinik (nilai p: 0,337). 
Production of Compact Powder Blush on from Secang Wood (Caesalpinia sappan L.) Extract Rety Setyawaty; Mela Dwiyanti; Dewanto Dewanto
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.212 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.48583

Abstract

Secang wood (Caesalpinia sappan L.) is one of the local resources that contain natural pigments, namely brazilin. Brazilin is a pigment derived from Secang wood (Caesalpinia sappan L.) that is potentially used as a natural dye. This study aims to prove that Secang Wood (Caesalpinia sappan L.) can be applied as a dye in Compact Powder Blush On.The method for obtaining Secang wood (Caesalpinia sappan L.) extract uses the maceration extraction method with a sample of Secang wood (Caesalpinia sappan L.) of 250 gram and ethanol 96% then evaporated in a water bath with a temperature below 80 0C resulting in a yield of Secang wood (Caesalpinia sappan L.) extract of 27.87%. pH during the maceration process must be kept neutral, if it is not stable then it is added citric acid or sodium bicarbonate. The components of the Compact Powder Blush On are Talcum, Kaolin, Parrafin Liquid, Okside Zinc, Isopropyl myristate, and the addition of Secang wood extract (Caesalpinia sappan L.) with a concentration of 5%, 10%, 20%. Tests on preparations made include pH test, sticky power test, topical test, and stability test.The observations show that the Compact Powder Blush On preparation at a concentration of 5%, 10%, and 20% Secang wood extract (Caesalpinia sappan L.)  is pink, easily applied, has an average adhesion of 13.83%, produces a pink color when applying, and has a pH of 7. However, using Secang wood (Caesalpinia sappan L.) as a Blush On dye does not have color stability. Based on the results of the study it can be concluded that Secang Wood (Caesalpinia sappan L.) can be used as a natural dye Compact Powder Blush On, but additional ingredients are needed so that the color remains stable during storage at room temperature.
Hubungan Penggunaan Antihipertensi Terhadap Rekurensi pada Pasien Kanker Payudara non Metastasis Widyaningrum Utami; Kartika Widayati; Fita Rahmawati
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.558 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.48603

Abstract

Hipertensi merupakan jenis komorbid yang sering terjadi pada pasien kanker payudara. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukan adanya hubungan antara antihipertensi terhadap kekambuhan (rekurensi) pasien kanker payudara, namun hasilnya belum konsisten. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara penggunaan antihipertensi terhadap kejadian atau waktu rekurensi pada pasien kanker payudara.Penelitian menggunakan desain cohort resrosppective dengan melibatkan pasien sejumlah 120 penderita kanker payudara non metastasis terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang menggunakan antihipertensi (60 pasien) dan kelompok yang tidak menggunakan antihipertensi (60 pasien) yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Sumber data penelitian diperoleh dari rekam medik pasien tahun 2015 sampai 2018. Hubungan antara antihipertensi terhadap rekurensi dianalisis menggunakan Chi-square kemudian dilanjutkan dengan analisis survival dengan Kaplan-Meier dan cox-regresion. Waktu terjadinya rekurensi ditentukan dari waktu antara diagnosis dengan saat terjadinya sel kanker payudara yang tumbuh kembali. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara obat antihipertensi dengan kejadian rekurensi pada pasien kanker payudara (HR 1.341; 95%CI 0.632-2.848, log rank test P=0.444). Begitu pula dengan jenis obat antihipertensi (ARB, CCB dan kombinasi keduanya) juga tidak berhubungan dengan kejadian rekurensi (p=0.279). Namun terdapat perbedaan mean recurrence time yaitu 40 bulan pada pasien kanker payudara dengan antihipertensi ARB tunggal (HR=1.427; 95%CI=0.527-3.859), 57 bulan dengan antihipertensi CCB tunggal (HR=0.696; 95%CI=0.257-1.884), dan 58.65 bulan dengan antihipertensi kombinasi.