cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Pemanfaatan Pengolahan Big Data secara Analisis Korespondensi Berganda dalam Pemetaan Profil Penggunaan Antibiotika pada Masyarakat Desa Beradolu, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Bili, Juita Putrinda; Hartayu, Titien Siwi; Riswanto, Florentinus Dika Octa
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.84961

Abstract

Analisis korespondensi berganda (AKB) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menganalisis data secara statistika melalui pengubahan variabel ke dalam bentuk yang lebih sederhana dengan dukungan visualisasi untuk mempermudah proses yang diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode AKB dalam evaluasi profil penggunaan antibiotika pada masyarakat dengan menggunakan kuesioner yang diberikan secara daring melalui media sosial (Whatsapp/ Facebook/Instagram).Jenis penelitian ini termasuk deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 96 orang dengan 10 variabel penelitian meliputi lima jenis antibiotik dan lima jenis penyakit/gejala yang dialami pasien. Data yang diperoleh kemudian dicatat dan diolah menggunakan AKB untuk menghasilkan pemetaan profil penggunaan antibiotika.Hasil penelitian yang diperoleh yaitu dari antara lima antibiotika, amoxicillin merupakan yang paling banyak digunakan. Antibiotika yang paling jarang digunakan adalah chloramphenicol. Pemetaan profil penggunaan antibiotika telah berhasil dilakukan untuk analisis data individual, variabel, korelasi, evaluasi visual, serta ditunjang dengan data deskripsi dimensi.
Pengukuran Perilaku Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Hipertensi dengan Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS) Putra, Juniawan Akbar Karisma; Wiedyaningsih, Chairun; Widayanti, MPH., Apt., Ph.D., Anna Wahyuni
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.85126

Abstract

Hipertensi masih menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hipertensi menjadi penyakit yang paling sering muncul. Pengobatan hipertensi memerlukan jangka waktu yang panjang sehingga sangat dipengaruhi oleh kepatuhan. Beberapa kuesioner telah dikembangkan untuk mengukur kepatuhan pasien, salah satunya adalah Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS). Identifikasi hubungan berbagai faktor dengan kepatuhan diperlukan untuk memaksimalkan regimen terapi di masa datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi. Penelitian non-eksperimental dipilih dengan pendekatan kuantitatif secara cross-sectional. Jumlah sampel sejumlah 125 responden diambil dari 10 Puskesmas di DIY pada rentang Januari 2023 – April 2023. Hasil skor ProMAS menunjukkan mayoritas memiliki tingkat kepatuhan tinggi (38,4%) dan sedang-tinggi (52%). Analisis statistik menunjukkan usia berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan (p=0,02). Analisis lebih lanjut menghasilkan tidak adanya perbedaan signifikan antara kepatuhan pada usia <40, 40-60, dan >60 tahun. Faktor demografi lainnya seperti total jumlah obat (p=0,912), jumlah frekuensi obat (p=0,401), jenis kelamin (p=0,152), jenis pembayaran (p=0,647), pendidikan terakhir (p=0,366), status pekerjaan (p=0,658), dan bantuan seseorang dalam pengobatan (p=0,854) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan. Hasil ini menunjukkan mayoritas pasien hipertensi di DIY sudah termasuk patuh dalam pengobatan. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan hipertensi di DIY dapat terjadi pada usia berapapun.
Kajian Pustaka Sintesis Nanopartikel Perak dari Berbagai Tanaman Nusantara dan Aplikasinya Sebagai Antibakteri Tri Nanda, Yogie Andika; zai, Khadijah
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.85186

Abstract

Nanopartikel perak merupakan suatu partikel yang berukuran 1-100 nm. Nanopartikel perak memberikan potensi aplikasi yang luas. Dalam bidang kesehatan, nanopartikel perak telah digunakan sebagai agen antimikroba yang efektif untuk melawan infeksi bakteri. Proses sintesis nanopartikel perak umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya dan merugikan lingkungan. Kajian ini bertujuan untuk menyajikan informasi terkait metode sintesis nanopartikel perak yang aman bagi manusia dan lingkungan melalui pendekatan biologis berbasis bahan alam (sintesis hijau) yang terdapat di Indonesia. Senyawa di dalam tanaman dapat berperan sebagai reduktor dalam sintesis nanopartikel perak. Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa ekstrak tanaman dapat digunakan sebagai bioreduktor untuk sintesis nanopartikel perak dan terbukti berpotensi sebagai antibakteri pada berbagai jenis bakteri.
patient awareness at the Umbulharjo I Health Center Yogyakarta towards handling unused drugs. Woro Supadmi, S.Si., Apt.; Faqihuddin Najib; Dwi Hastuti
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.85351

Abstract

 ABSTRACTUnused drugs have adverse economic, environmental and health impacts. Behavioral awareness of handling unused drugs can be influenced by the environment, information obtained and one's habits. The purpose of this study was to determine the relationship between the characteristics of respondents and patient awareness at the Umbulharjo I Health Center Yogyakarta towards handling unused drugs.The study design was observational cross sectional with data collection using questionnaires. The number of samples determined based on Lemeshow's formula was obtained 69 of purposive sampling technique. The study sample was patients who visited Puskesmas Umbulharjo 1 who met the inclusion criteria. Research instruments in the form of questionnaires on the characteristics and awareness of patients towards handling unused drugs, questionnaires have been tested for reliability and validity. Data analysis using chi-square test through SPSS v.16.0 for Windows.The results of the study based on patient characteristics were 71.0% aged 18-30 years, female 55.1%, high school education reached 50.7% and worked 69.6%. There were no significant associations between age (p = 0.491) and sex (p = 0.272) and occupation (p = 0.465) with awareness of unused drug handling. There was a significant relationship between education (p = 0.019) and awareness of handling unused drugs.The conclusion of this study is a relationship between patient education at Puskesmas Umbulharjo I and awareness of handling unused drugs.
In Situ Gel Termosensitif sebagai Sistem Penghantaran Obat Pintar: Formulasi dan Aplikasi Nakhil, Umaimatun; Martien, Ronny; Adhyatmika, Adhyatmika
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.85641

Abstract

Sistem penghantaran obat menggunakan gel mulai banyak berkembang salah satunya in situ gel. Bentuk sediaan ini menarik untuk dikembangkan karena hanya melibatkan transisi bentuk (sol-gel) sederhana tanpa adanya reaksi kimia. In situ gel termosensitif merupakan jenis sediaan in situ gel yang berbentuk larutan pada suhu ruang namun berubah menjadi gel pada suhu tubuh. Polimer basis yang digunakan pada formulasi in situ gel memiliki karakteristik khas yakni bersifat termosensitif. Artikel review ini bertujuan untuk membahas berbagai jenis polimer termosensitif dan mekanisme gelasinya serta aplikasi bidang medis dari in situ gel termosensitif. Polimer termosensitif memiliki sifat reserve gelation atau mengalami gelasi pada peningkatan suhu karena pengaruh kesetimbangan gugus hidrofil dan hidrofob dalam strukturnya. Sediaan in situ gel memberikan keleluasaan penggunaan dan modifkasi profil pelepasan obat dibandingkan sediaan konvensional. Beberapa karakteristik penting yang perlu diperhatikan pada desain sediaan ini diantaranya adalah suhu gelasi, mukoadesivitas, dan reologi. Sediaan in situ gel telah dikembangkan untuk sistem penghantaran berbagai obat seperti bukal dan sublingual, nasal, dan okular.
Forecasting Drug Demand Using The Single Moving Average At Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Hospital Yuniarti, Endang
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.86207

Abstract

Problems that often occur in inventory planning are excess and shortages of drug supplies. The single moving average (SMA) forecasting smooths drug demand data fluctuations. This study aims to see the potential and magnitude of errors using the SMA method based on the MAPE values. This research is non-experimental descriptive research. The study sample was the seven highest order drug items based on category A of the ABC analysis results in 2020 and 2021. The sampling technique was purposive sampling using retrospective data. The results obtained were highly accurate forecasting (MAPE <10%) for four drug items, namely Human Albumin 20% Injection 100 mL (MAPE = 2%), Eksemestan 25 mg tablets (MAPE = 3%), Trastuzumab 440 mg/20 mL injection (MAPE = 4%), Deferasirok 500 mg tablets (MAPE = 3%); Good forecasting (MAPE = 10-20%) for one drug item, namely Nilotinib 200 mg capsules (MAPE = 16%), and Reasonable forecasting (20-50%) for two drug items, namely Ifosfamide injection 1 gram (MAPE = 35%), Fentanyl injection 100 mcg / 2 mL (MAPE = 23%) with an average MAPE value of 12%. This study concluded that Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Hospital could use the SMA forecasting method.
Gambaran Terapi dan Luaran Klinik pada Pasien COVID-19 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Astuti, Rini Budi; Andayani, Tri Murti; Puspitasari, Ika
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.74826

Abstract

Coronavirus Disease 19 (COVID-19) adalah infeksi virus yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang muncul di Wuhan, Cina dan menyebar ke seluruh dunia. Terapi pada pasien COVID-19 berbeda – beda untuk tiap negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran terapi obat dan luaran klinik berupa mortalitas dan length of stay (LOS) pada pasien COVID-19 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien COVID-19 yang dilakukan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta pada periode Januari  sampai Maret 2021. Data penelitian bersumber data sekunder yakni catatan medik. Analisis data dilakukan dengan cara penyajian data dalam bentuk tabel kemudian dhitung persentase berdasarkan jumlah sampel. Sebanyak 97 pasien terpilih selama periode Januari – Maret 2021.  Sebanyak 88,7% pasien berusia antara 18 – 59 tahun. Jumlah pasien perempuan (63,9%) lebih banyak dibanding dengan laki – laki (37,1%). Komorbid yang paling banyak diderita pasien adalah hipertensi (13,4%) dan diabetes melitus (DM) tipe 2 (16,5%). Sebanyak 90,7% pesien menerima antivirus. Antivirus yang paling banyak digunakan adalah favipiravir (60,8%). Sebanyak 94,8% pasien menerima terapi antibiotik dimana 100% pasien COVID-19 derajat berat dan kritis menerima antibiotik. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah azitromisin (72,2%). Sebanyak 93,8% pasien COVID-19 mendapatkan vitamin C. Sebanyak 57,7% pasien COVID-19 di RSUD dr. Moewardi mendapat terapi antikoagulan. Antikoagulan yang paling banyak diberikan adalah enoksaparin (32,9%). Sebanyak 21,6% pasien COVID-19 menerima terapi kortikosteroid. Sebanyak 15,5% pasien meninggal dunia. Rata – rata LOS pasien adalah 8,9 ± 4,2 hari.
Identification of Potentially Inappropriate Medications (PIMs) by Beers Criteria in Geriatric Patients at RSA UGM Yogyakarta Ejaz, Sundas Ejaz; Rahmawati, Fita; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.75186

Abstract

PIM (Potentially Inappropriate Medications) is one of the primary concerns leading to adverse health outcomes, higher risk of Adverse Drug Reactions (ADEs), decreased therapeutic effects, hospitalization, and unnecessary healthcare costs in the geriatric population. Therefore, this study aimed to determine the prevalence PIMs, and to identify the most common PIMs prescribed to hospitalized geriatric patients admitted at RSA UGM, Yogyakarta based on Beers Criteria 2019. A cross sectional study using electronic medical records data was conducted in geriatric patients aged >60 years admitted to the internal medicine ward. PIMs were identified using the Beers criteria 2019. Descriptive statistics were used to describe patient and drug characteristics. Total 70 geriatric patients met the inclusion criteria. The results revealed that the geriatric patients who received PIM were male (65.71%), in the age group of 60-65 years (51.42%), had comorbidities and polypharmacy between 5-9 (48.5%) and 61.42% respectively. The overall prevalence of PIMs was 77.1%, followed by prevalence of PIMs to be used with caution (70 percent), and PIMs avoided in geriatric patients (62.8%). The most commonly prescribed PIMs were diuretics (48.5%) and sliding scale insulin (24.2%). A high prevalence of PIMs was found in this study, which is alarming. The prescription of PIMs can be overcome by encouraging strategies, such as close monitoring of the patient's condition for potential ADEs, gender and pharmacokinetic/pharmacodynamic consideration when prescribing drug therapy to geriatric patients.
Pengaruh Pemberian Inhalasi Budesonid/Formoterol Fumarat Dibandingkan Dengan Flutikason Propionat/Salmeterol Xinafoat pada Rehospitalisasi Pasien PPOK di RS Paru Respira Yulianti, Eni; Probosuseno, Probosuseno; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.75256

Abstract

Pencegahan rehospitalisasi terkait PPOK merupakan prioritas di dunia untuk memperlambat progresi penyakit. Pengontrol gejala PPOK yaitu kombinasi ICS/LABA sering digunakan, diantaranya adalah inhalasi budesonid/formoterol fumarat dan flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian inhalasi budesonid/formoterol fumarat terhadap kejadian rehospitalisasi pasien terkait PPOK dalam 6 bulan jika dibandingkan dengan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif ini mengggunakan sampel data RM pasien post-ranap RS Paru Respira periode KRS 1 Januari 2019-31 Desember 2020. Pengaruh penggunaan kedua obat inhalasi terhadap kejadian rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan setelah KRS dianalisis dengan survival analysis Kaplan-Meier test. Pengaruh variabel perancu terhadap outcome dianalisis dengan Cox Proportional Hazard Model. Pada penelitian diperoleh sebanyak 190 sampel yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok inhalasi Bud/Form (n=95) dan kelompok inhalasi FP/Salm (n=95).  Hasil survival analysis menunjukkan persentase yang lebih besar pada inhalasi Bud/Form (87,4%) dibanding pada inhalasi FP/Salm (83,2%) namun tidak berbeda bermakna (p value 0,442). Analisis multivariat dengan melibatkan pengaruh variabel perancu menunjukkan penurunan hazard namun tidak bermakna pada penggunaan inhalasi Bud/Form dibanding FP/Salm (HR 0,689; 95% CI 0,313-1,517; sig. 0,355). Sebagai kesimpulan, persentase ketahanan terhadap rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan pada penggunaan inhalasi budesonid/formoterol fumarat lebih besar dibanding pada penggunaan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat tanpa beda bermakna. Kedua sediaan inhalasi ICS/LABA tersebut tetap dapat direkomendasikan sebagai terapi pengontrol pada pasien dengan PPOK.
Dampak Penundaan Jadwal Kemoterapi Terhadap Rekurensi Pada Pasien Kanker payudara Mukrinin, Walit Uhkri; Nurrochmad, Arief; Rahmawati, Fita
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i1.75491

Abstract

Kemoterapi merupakan modalitas pengobatan utama pada kanker payudara bersama dengan operasi dan radioterapi. Kemoterapi memberikan manfaat dalam peningkatan ketahanan hidup pasien, namun manfaat tersebut dipengaruhi oleh kepatuhan terhadap jadwal kemoterapi. Dampak prognostik negatif dari keterlambatan dosis kemoterapi ini dapat berpengaruh pada hasil ketahanan hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penundaan jadwal kemoterapi (alasan dan durasi penundaan) serta dampaknya terhadap rekurensi. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, melibatkan 138 pasien wanita kanker payudara stadium awal (stadium I-IIB) yang mendapatkan kemoterapi. Ekposur dalam penelitian adalah penundaan jadwal kemoterapi dan durasi penundaan, sedangkan luaran penelitian adalah rekurensi kanker payudara. Data penelitian diperoleh dari rekam medik pasien di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Analisis penelitian menggunakan metode Chi-square, Kaplan-Meier serta Cox-regression untuk mengetahui Hazard Ratio dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan jadwal kemoterapi pada pasien kanker payudara berhubungan dengan meningkatkan resiko rekurensi (HR 4,718; 95% Cl: 1,533-14,520, log rank tes p=0,003). Sementara durasi penundaan jadwal kemoterapi ≤7 hari dan >7 hari tidak berhubungan dengan peningkatan resiko rekurensi (HR 1,001; 95% Cl: 0.307-3,260, log rank tes p=0,999). Keterlibatan farmasi klinis sangat diperlukan untuk mencegah dan menyelesaikan masalah terkait efek samping obat serta monitoring pengobatan sehingga luaran pengobatan menjadi optimal.