cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Evaluasi Perencanaan Dan Pengadaan Obat Di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang Pada Masa Pandemi Covid-19 Rabianti, Lussi; Satibi, Satibi; Puspandari, Diah Ayu
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.84984

Abstract

Pengelolaan obat yang efektif dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat. Ketidaktepatan perencanaan dan hambatan pengadaan obat mengakibatkan masalah ketersediaan obat selalu terjadi pada tiap Kabupaten/Kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perencanaan dan pengadaan obat di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan dan pengadaan obat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif-kualitatif terhadap 40 obat indikator nasional. Data kuantitatif diperoleh secara restrospektif melalui penelusuran dokumen pengelolaan obat tahun 2020-2021 dan dianalisis dengan membandingkan hasil pengukuran indikator dengan nilai standar. Data kualitatif diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara mendalam yang dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari enam indikator terdapat empat indikator yang belum memenuhi standar  yaitu indikator kesesuaian item dengan Fornas, kesesuaian dengan pola penyakit, ketepatan perencanaan, serta indikator kesesuaian permintaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan dan pengadaan obat yaitu ketidakjelasan koordinasi akibat belum optimalnya fungsi TPOT dan bagan struktur organisasi pengadaan, terbatasnya sumber daya manusia Kefarmasian dan tenaga yang bersertifikat pengadaan obat, inefisiensi anggaran pengadaan, serta belum optimalnya Sistem Informasi Manajemen (SIM).
Karakteristik Klinis dan Profil Terapi Pasien Rawat Inap COVID-19 di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Periode Maret – Agustus 2020 Maturbongs, Graciano Aristides; Ikawati, Zullies; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.84987

Abstract

Coronavirus Disease (COVID-19) muncul sebagai sebuah pandemi yang menjadi masalah kesehatan global. Terapi untuk mengobati COVID-19 hingga saat ini masih berkembang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik, regimen terapi, dan luaran pasien COVID-19 yang dirawat pada periode Maret – Agustus 2020 di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan serial kasus yang dilakukan secara retrospektif. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi adalah 24 pasien dengan 18 pasien laki-laki dan 6 pasien perempuan. Derajat keparahan pasien COVID-19 dalam penelitian ini terdiri dari tanpa gejala (25%), ringan (37,5%), sedang (29,2%), dan berat (8,3%). Batuk merupakan gejala yang paling banyak dialami oleh pasien (62,5%) diikuti demam (37,5%). Gejala lain yang juga dialami oleh pasien antara lain sesak (16,7%), pilek (12,5%), pusing (8,3%), sakit tenggorokan (8,3%), mual (8,3%), dan myalgia (11,1%). Data laboratorium menunjukkan nilai hitung leukosit dan limfosit cenderung normal namun nilai NLR cenderung meningkat. Regimen terapi yang diperoleh pasien adalah adalah antibiotik (91,7%), antivirus (4,2%), hidroksiklorokuin/klorokuin (75%), kortikosteroid (12,5%), antikoagulan (16,7%), suplemen (100%). Lama rawat inap semua pasien dalam penelitian ini adalah 9-15 hari dengan status luaran klinis pasien sembuh sebesar 20,8% dan membaik sebesar 79,2%. 
Hubungan Persepsi Telemedicine dengan Kesediaan Menggunakan Telemedicine Pada Mahasiswa Farmasi Yogyakarta Banowati, Autsan Dwi; Kristina, Susi Ari; Puspandari, Dyah Ayu
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85001

Abstract

Telemedicine merupakan bagian dari telehealth yang mengacu semata-mata pada penyediaan layanan perawatan kesehatan dan pendidikan jarak jauh, dengan menggunakan teknologi telekomunikasi. Apoteker dapat memberikan revolusi kemajuan telehealth untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia. Salah satunya telemedicine dan telefarmasi merupakan hal penting dalam perawatan kesehatan yang wajib dilakukan oleh apoteker. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara karakteristik responden terhadap persepsi telemedicine dan hubungan persepsi telemedicine terhadap kesediaan menggunakan telemedicine. Penelitian ini menggunakan metode survey cross sectional study untuk mengukur persepsi telemedicine dan kesediaan menggunakan terhadap telemedicine. Pengambilan sampel dilakukan di 5 perguruan tinggi Yogyakarta dengan pengambilan data melalui GoogleForm. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik convenience sampling, dengan minimal sampel 422 responden. Telah dilakukan expert judgement oleh dosen pembimbing dan face validity. Uji analisis yang dilakukan adalah deskriptif dan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki persepsi telemedicine positif (95,24%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan persepsi telemedicine dengan usia (p=0,000), tahun ajaran (p=0,000), perguruan tinggi (p=0,000). Adanya hubungan kesediaan menggunakan dengan perguruan tinggi (p=0,024), pendapatan orangtua (p=0,018), domisili (p=0,029), pernah menggunakan (p=0,000). Adanya hubungan persepsi telemedicine dengan kesediaan menggunakan (p=0,000). Diperlukan upaya bagi pemerintah mengoptimalkan implementasi telemedicine berupa kebijakan dan kesiapan bagi tenaga kesehatan terutama calon apoteker.
Evaluation of the Tuberculosis Program Drug Management at the Pharmacy Installation of the Bengkulu Provincial Health Office Kusumaningsih, Riyani; Satibi, Satibi; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85263

Abstract

Tuberculosis is currently a public health problem both in Indonesia and internationally, so it is one of the Sustainable Development Goals (SDGs) for sustainable health development. Therefore, good drug management is needed. The purpose of this study is to determine the level of suitability of the tuberculosis program drug management process at the planning, distribution, and control stages in 2020 and 2021 compared to drug management quality indicators and determine the factors that affect it. This study was conducted in October–November 2022. Descriptive observational research methods with quantitative data were obtained retrospectively, and qualitative data were obtained through observation and interviews with selected resource persons by purposive sampling. The results showed that the planning, distribution, and control of tuberculosis drugs in the Bengkulu Provincial Health Office had not met the indicator standards, which were shown by seven indicators not in accordance with drug management standards, namely the accuracy of planning, ITOR, empty stock, less stock, safe stock, excess stock, and expired. There are six indicators that meet the standards: accuracy of distribution; level of availability of drug; organization; funding; information systems; and the amount of human resources. Influencing factors are a lack of coordination in  planning, record keeping, and reporting, and a lack of operational funds and transportation tools for anti TB drugs distribution
System Usability Scale Aplikasi PharmD: Prototype Dasboard Pengelolaan Persediaan Obat Di Puskesmas Kabupaten Bengkulu Selatan Astutiany, Denny; Satibi, Satibi; Lazuardi, Lutfan
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85301

Abstract

PharmD adalah dasboard pengelolaan persediaan obat di puskesmas berbasis web online yang telah didesain dan dikembangkan berdasarkan 26 (dua puluh enam) indikator pengelolaan obat di puskesmas pada penelitian sebelumnya di beberapa puskesmas wilayah Yogyakarta. PharmD berfungsi sebagai dasboard kinerja pengelolaan obat untuk apoteker dipuskesmas dalam pengelolaan obat yang menjadi  salah satu faktor pendukung  didalam manajemen data, mempermudah dan mempercepat dalam pengelolaan obat sehingga meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan pengambilan keputusan serta kebijakan yang strategis di puskesmas. Namun sebelum aplikasi ini diluncurkan atau digunakan perlu dilakukan usability yang berkelanjutan dan harus melihat kondisi existing diberbagai wilayah di Indonesia. Peneliti tertarik untuk melakukan ujicoba aplikasi PharmD dan mengukur tingkat usability di puskesmas wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan sehingga dapat melihat apakah aplikasi sudah dapat diterapkan disana. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif deskriptif dengan 16 responden yang telah dilakukan kriteria inklusi dan ekslusi pada 14 puskesmas yang dilakukan secara observasi terkait kesiapan ujicoba di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan. Metode pengukuran usability menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS)  suatu uji yang dilakukan untuk meningkatkan kemudahan dalam pemakaian aplikasi secara menyeluruh dengan pengumpulan data menggunakan google form. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa skor SUS yang diperoleh sebesar 64,8 dengan grade masuk dalam kategori C-, nilai adjective masuk kedalam “OK” (Netral) yaitu dapat berjalan dengan pengembangan, acceptable berada pada area marginal artinya cukup memuaskan, dan net promoter score masuk area passive. Hasil yang diperoleh menempatkan Aplikasi PharmD sebagai dasboard kinerja apoteker dalam pengelolaan obat masih bisa diterima oleh end user atau apoteker tetapi perbaikan masih tetap diperlukan untuk meningkatkan kepuasan pengguna sedangkan untuk kondisi existing kefarmasian diwilayah Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukan hanya 42,8 % siap secara infrastruktur untuk menerapkan aplikasi PharmD berbasis web online dengan kendala akses internet, instalasi listrik dan ketersediaan perangkat sistem yang belum memadai. 
Gambaran Efektivitas Terapi Antiretroviral Paduan Rejimen TLD (Tenofovir + Lamivudin+ Dolutegravir) pada Pasien HIV di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Susanti, Diah; Nuryastuti, Titik; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.85457

Abstract

Dolutegravir (DTG) merupakan obat Antiretroviral (ARV) golongan integrase inhibitor (INSTI) terbaru yang pada tahun 2019 World Health Organization (WHO) merekomendasikannya sebagai pilihan terapi ARV lini pertama dan kedua pada pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV). Di Indonesia, DTG direkomendasikan pada Juli 2020 sebagai penyempurna pedoman rejimen ARV. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran efektivitas terapi ARV paduan rejimen TLD (Tenofovir + Lamivudin + Dolutegravir) yang merupakan rejimen pilihan dan alternatif baru pada pasien HIV di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan rancangan kohort retrospektif, menggunakan statistik univariat meliputi data karakteristik subjek dan efektivitas terapi ARV paduan rejimen TLD. Sampel penelitian ini terdiri dari 100 pasien HIV yang mulai menggunakan terapi ARV selama periode 1 April 2020 sampai dengan 30 September 2021. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien HIV baru yang mendapat terapi ARV paduan rejimen TLD dan berusia ≥18 tahun, sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien HIV yang menggunakan terapi ARV paduan rejimen TLD mengganti paduan rejimen sebelum enam bulan terapi. Pasien HIV yang menggunakan paduan rejimen TLD pada penelitian ini lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (77%), berusia produktif 20-49 tahun (89%), berpendidikan lulusan SLTA (51,8%), bekerja (68,9%), sudah menikah (48,5%) dan berasal dari luar kota Palembang (55%). Saat awal terdiagnosa HIV, pasien paling banyak pada stadium klinis satu (36,4%), status fungsional kerja (61%) dan ada infeksi oportunistik (61%). Hasil dari pemeriksaan viral load dan CD4 setelah enam bulan terapi yaitu lebih banyak pasien yang viral load < 200 kopi/ml (93,8%) dan kadar CD4 ≥ 200 mm3/sel (66,7%), hal ini menunjukkan bahwa terapi TLD efektif berdasarkan dari respon virologis dan imunologis yang baik. Namun dari hasil analisis hubungan karakteristik dengan viral load dan CD4, nilai P > 0,05 yang artinya karakteristik pasien tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil viral load dan CD4 setelah enam bulan terapi.
Alergi Nonmakanan: Pola dan Karakteristik pada Orang Dewasa Falihah, Atika Hanum; Azizah, Zulfi; Santoso, Bayu Bakti Angga; Sari, Ika Puspita; Sahid, Muhammad Novrizal Abdi
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i1.85543

Abstract

Keberagaman pola alergi dan karakteristik manifestasi klinis dipengaruhi oleh jenis interaksi gen dengan lingkungan. Di Indonesia, pelaporan hal tersebut masih tergolong sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pola alergi nonmakanan, karakteristik manifestasi klinis, serta pengaruhnya terhadap kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif berupa studi observasional cross-sectional menggunakan kuesioner online. Kriteria responden adalah orang dewasa (20-40 tahun) secara random. 48 dari 98 responden diketahui alergi terhadap alergen nonmakanan. Insidensi pada perempuan (75,5%) dan laki-laki (24,5%). Alergi ini dapat bereaksi silang dengan sesama alergen nonmakanan atau dengan alergen makanan. Kategori alergen yang dilaporkan meliputi cuaca (54,5%), serangga (5,1%), logam (2,6%) dan alergen lainnya (37,8%). Level keparahan manifestasi klinis yang terjadi meliputi level 1 (36,7%), level 2 (46,8) dan level 3 (16,5%). Manifestasi klinis paling sering terjadi pada mukosa berupa hidung tersumbat/gatal dan bersin-bersin. Pengaruh manifestasi klinis terhadap kualitas hidup pada tingkat ringan-tidak mengganggu aktivitas (51,9%), sedang (34,2%) dan berat (23,7%) (cukup mengganggu aktivitas), serta (1,3%) berat-tidak dapat beraktivitas. Kesimpulan terkait pola alergi nonmakanan pada orang dewasa meliputi; insidensi lebih tinggi pada perempuan; berpotensi mengalami reaksi silang dengan alergen lain; kategori alergi tertinggi berupa alergi dingin; level keparahan manifestasi klinis cenderung ringan-menengah; dan cenderung tidak mengganggu aktivitas.
Frekuensi Alergi Makanan Berdasarkan Survei pada Orang Dewasa di Wilayah Yogyakarta dan Jawa Azizah, Zulfi; Falihah, Atika Hanum; Santoso, Bayu Bakti Angga; Sari, Ika Puspita; Sahid, Muhammad Novrizal Abdi
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.85546

Abstract

Alergi makanan merupakan suatu kondisi hipersensitivitas akibat respon berlebih dari sistem imun terhadap paparan makanan tertentu yang dapat menyebabkan berbagai gejala klinis. Jenis makanan penyebab alergi serta frekuensi kejadian alergi makanan sangat beragam. Selain itu, insidensi alergi makanan dapat meningkat seiring waktu. Informasi mengengenai frekuensi kejadian alergi, jenis alergen, dan gejala yang ditimbulkan pada kelompok usia dewasa di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi alergi makanan, komponen makanana pemicu, serta gejala yang umum ditimbulkan pada kelompok dewasa usia 20-40 tahun di wilayah Yogyakarta dan Jawa. Penelitian dilakukan menggunakan survey online yang dilakukan selama bulan Februari-Mei 2023. Dari penelitian tersebut, didapatkan 97 responden dengan 32 orang (33%) diantarannya mengalami alergi makanan. Kejadian alergi makanan pada wanita sebesar 68.7% sedangkan pada laki-laki sebesar 31.3%. Jenis makanan yang banyak menyebabakan alergi yaitu udang (29.2%), kepiting (16.7%), kerang (14.6%) dan ikan (12.5%). Sedangkan gejala alergi makanan yang paling sering terjadi yaitu reaksi pada kulit dan saluran pencernaan. Hasil studi menunjukkan insidensi kejadian alergi makanan sebesar 33% dengan kejadian alergi makanan pada perempuan lebih besar dibandingkan pada laki-laki. Jenis makanan yang paling umum menyebabkan alergi  makanan adalah udang dan gejala yang paling umum muncul berkaitan dengan reaksi pada kulit dan saluran pencernaan. 
Evaluasi Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Paku Tanduk Rusa [Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.)] Desv. Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7 Jumaryatno, Pinus; Wardhani, Kristy Tri; Fitria, Annisa
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85592

Abstract

ABSTRAK Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.) Desv. atau dikenal dengan Paku Tanduk Rusa merupakan tanaman yang secara tradisional biasa digunakan untuk mengobati penyakit kanker di Sumatera Utara. Namun, kemampuannya dalam melawan kanker payudara masih belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sitotoksisitas ekstrak P. coronarium terhadap sel kanker payudara MCF-7. Selain itu, skrining fitokimia terhadap ekstrak aktif juga dilakukan untuk mengidentifikasi golongan senyawa yang terkandung didalamnya. Evaluasi sitotoksisitas dilakukan terhadap akar serabut, spora, daun fertil dan daun steril P. coronarium dan ekstraknya diperoleh dengan cara maserasi yang dibantu gelombang gelombang ultrasonik menggunakan pelarut etanol 70%. Sitotoksisitas masing-masing ekstrak terhadap sel kanker payudara MCF-7 ditentukan dengan menggunakan MTT-assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ekstrak akar serabut yang menunjukkan aktivitas sitotoksik dengan nilai IC50 sebesar 427,76 ppm, sedangkan ekstrak lainnya tidak aktif. Selanjutnya senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid/steroid, saponin dan fenolik teridentifikasi pada skrining fitokimia terhadap ekstrak akar serabut. Berdasarkan penelitian ini, ekstrak akar serabut P. coronarium memiliki aktivitas sitotoksik yang lemah terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari metabolit sekunder bioaktif yang bertanggung jawab atas aktivitas sitotoksik. Kata Kunci: Kanker payudara; MCF-7; MTT-assay; Platycerium coronarium; sitotoksik  ABSTRACT Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.) Desv. or known as Paku Tanduk Rusa is a plant commonly used traditionally to treat cancer in North Sumatera. However, its capability against breast cancer remains unknown. Therefore, this study aimed to evaluate the cytotoxicity of P. coronarium extract against breast cancer cell line MCF-7. In addition, the phytochemical profile of the active extract was also screened. The cytotoxicity evaluation was conducted to the fibrous roots, spores, fertile leaves and sterile leaves of P. coronarium and the extracts of which were obtained by ultrasound-assisted maceration using ethanol 70%. Their cytotoxicity against MCF-7 cell line was determined using MTT assay. The results showed that only the fibrous roots extract exhibited cytotoxic activity with an IC50 value of 427.76 ppm, while other extracts were inactive. Furthermore alkaloids, flavonoids, triterpenoids/steroid, saponins and phenolic compounds were identified on the phytochemical screening of fibrous roots extract. Based on this study, the fibrous root extract of P. coronarium has weak cytotoxic activity against MCF-7 cell line and warrants further investigation for the search of the bioactive secondary metabolites that responsible for the cytotoxic activity. Keywords: breast cancer; cytotoxic; MCF-7; MTT-assay; Platycerium coronarium
TINDAKAN APOTEKER PADA RESEP OBAT PASIEN JKN RAWAT JALAN DI RSUD dr KANUJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN Saputro, Mokhamad Haryadi; Endarti, Dwi; Widayanti, MPH., Apt., Ph.D., Anna Wahyuni
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.85940

Abstract

Latar Belakang : Era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) telah mengubah 180 derajat wajah pelayanan kefarmasian di Indonesia. Perubahan tersebut, menempatkan apoteker praktik klinis sebagai tenaga kesehatan yang berperan dalam upaya kendali mutu dan kendali biaya terhadap pelayanan kesehatan pasien. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pentingnya tindakan yang dilakukan apoteker pada resep obat pasien JKN rawat jalan di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Obyek penelitian ini adalah resep pasien JKN rawat jalan di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan periode januari – juni 2022. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2.084 lembar resep yang dilakukan telaah dan tindakan oleh apoteker, dengan rata - rata resep yang dilakukan tindakan setiap bulannya sebanyak 347 lembar resep. Jenis tindakan yang paling banyak dilakukan adalah obat tidak diberikan karena tidak sesuai tanggal. Ini terjadi karena pasien datang sebelum tanggal yang seharusnya untuk mendapatkan obat, sementara BPJS Kesehatan mengatur bahwa pasien kronis mendapatkan obat untuk 30 hari kedepan. Kesimpulan : Telaah resep dan tindakan yang dilakukan oleh apoteker pada resep pasien JKN rawat jalan sangat penting dilakukan untuk mengurangi resiko kesalahan pemberian obat, resiko klinis, serta resiko manajerial dan finansial.