cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Comparison Among Proton Pump Inhibitor Inducing Pneumonia in Hospital: Narrative Review Sari, Juwita Permata; Nugroho, Agung Endro; Widyati, Widyati
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.88612

Abstract

Critically ill patients requiring intensive care unit (ICU) are highly vulnerable to the emergence of stress-related gastrointestinal bleeding, a condition closely associated with unfavorable clinical outcomes. Despite advancements in preventive measures, antimicrobial therapies, and supportive medical care, ventilator-associated pneumonia (VAP) and hospital-acquired pneumonia (HAP) continue to effect morbidity and mortality rates significantly. Hospital-acquired pneumonia (HAP) is characterized as a form of pneumonia that does not manifest during the period of hospital admission but rather emerges 48 hours or later after the patient has been admitted. In contrast, VAP occurs after 48 hours of having an endotracheal tube in place. Proton pump inhibitors (PPIs) are used prophylactically to manage stress ulcers in critically ill patients. However, recent scholarly literature has drawn attention to a potential link between using acid-suppressing medications and an increased susceptibility to pneumonia. The precise mechanism through which these acid suppressors might elevate the risk of pneumonia remains unclear. The primary objective of this study was to assess the prevalence of pneumonia associated with different types of proton pump inhibitors. We conducted an extensive literature search using keywords such as "(omeprazole or pantoprazole or lansoprazole or esomeprazole or rabeprazole), ICU, Pneumonia" on two prominent electronic databases: Scopus and PubMed. We identified fourteen articles meeting our inclusion criteria, which were categorized into four groups based on the type of proton pump inhibitor: omeprazole, esomeprazole, lansoprazole, and pantoprazole. The results of this narrative review revealed varying risk levels associated with using different proton pump inhibitors for pneumonia. Esomeprazole had the highest risk level, at 48.84%, followed by lansoprazole at 27.85%, omeprazole at 22.5%, and pantoprazole at 19.94%.
Efektivitas H2-Receptor Antagonist dan Proton Pump Inhibitor sebagai Profilaksis Stress Ulcer pada Pasien dengan Ventilator Mekanik Saroh, Muya; Nugroho, Agung Endro; Pramantara, I Dewa Putu
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.88994

Abstract

Pasien kritis lebih berisiko mengalami stress ulcer yang dikarenakan oleh perubahan perfusi mukosa lambung, penurunan faktor pelindung mukosa dan peningkatan asam lambung, sehingga menyebabkan risiko perdarahan saluran pencernaan bagian atas. Pemberian profilaksis stress ulcer direkomendasikan pada pasien yang memiliki faktor risiko terjadinya perdarahan stress ulcer, terutama pasien dengan penggunaan ventilator mekanis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efikasi PPI dan H2RA sebagai profilaksis stress ulcer pada pasien dengan penggunaan ventilator mekanis.Pada studi kohort retrospektif ini, data diperoleh dari rekam medis pasien ICU dengan penggunaan ventilator mekanis di RSUD Kabupaten Temanggung dari bulan Juni 2021 hingga Mei 2023. Sebanyak 153 pasien menenuhi kriteria inklusi yang terbagi menjadi 81 pasien pada kelompok H2RA dan 72 pasien pada kelompok PPI. Efikasi profilaksis stress ulcer dinilai berdasarkan kejadian perdarahan saluran pencernaan, dikatakan memiliki efikasi yang baik jika tidak terjadi perdarahan. Kejadian perdarahan saluran cerna pada kelompok H2RA adalah 19 (23,5%) dan kelompok PPI adalah 15 (20,8%). Secara statistik tidak terdapat perbedaan efikasi profilaksis stress ulcer H2RA dan PPI dalam mencegah kejadian perdarahan saluran cerna bagian atas pada pasien dengan penggunaan ventilator mekanis (RR 1,126; 95% CI 0,619-2,047; p=0,697).
Kajian Efek Samping Pada Pasien Kanker Payudara Dengan Regimen Paclitaxel-Epirubicin-Fluorouracil di RSUD Kabupaten Temanggung Kustanto, Satya Prima; Murwanti, Retno; Nugroho, Agung Endro
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.89064

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang banyak terjadi dan sering menyebabkan kematian tertingi pada wanita. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang direkomendasikan pada pasien kanker payudara yang dinilai efektif namun menghasilkan efek samping dan berefek toksik pada sel normal. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui gambaran kejadian efek samping obat hematologi dan non hematologi yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung pada bulan Juni-Juli 2023 dengan rancangan cohort retrospective study melalui data sekunder dari rekam medis dan data laboratorium. Dari 47 pasien yang menjalani kemoterapi mingguan dengan regimen kombinasi paclitaxel 60mg/m2, epirubicin 50mg/m2 dan fluorouracil 300mg/m2 diamati, kejadian efek samping hematologi yang paling banyak dialami oleh pasien adalah anemia sebanyak 70.2%, leukopenia 55.3%, neutropenia 27.7% dan peningkatan SGOT dan SGPT 12.8%. Efek samping non hematologi yang paling banyak terjadi adalah rambut rontok 91.5%, mual 82.9%, stomatitis 61.7%, kuku menghitam 48.9%, reaksi hipersensitivitas 46.8%, neuropati perifer 31.9%, sembelit 27.7% dan diare 10.6%.
Perancangan Desain Model Management Inventory System Apotek Doko, Karmelia Intany; Kristina, Susi Ari; Lazuardi, Lutfan
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.89120

Abstract

Salah satu standar pelayanan kefarmasian di apotek adalah pengelolaan obat dan dapat dijadikan indikator mutu pelayanan kefarmasian di apotek. Sistem informasi merupakan salah satu faktor pendukung kefektifan dan efisiensi pengelolaan obat. Sistem informasi manajemen (SIM) saat ini terbatas pada pencatatan dan pelaporan proses operasional yang ada di apotek dan belum ada fitur tambahan dalam pengelolaan obat di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model sistem informasi manajemen pengendalian persediaan obat melalui pendekatan user centered design (UCD). Penelitian ini merupakan deskriprif yaitu analisis kebutuhan pengguna menggunakan metode focus group discussion (FGD) dan observasi. Prototype didesain dapat berinteraksi langsung ke pengguna untuk dapat dilakukan perancangan lanjutan. Subyek penelitian ini berjumlah 10 orang yang terdiri dari 5 orang pemilik sarana apotek (PSA) dan 5 orang apoteker. Kebutuhan data dalam pengelolaan obat di apotek meliputi data barang, data satuan, data supplier, data penerimaan dan penjualan, data inkaso, data barang rusak dan kadaluarsa, data usulab obat baru, data pengadaan dan data stock opname. Desain sistem pengelolaan obat yang dibuat merupakan desain dalam bentuk data flow diagram (DFD). Kesimpulan penelitian ini adalah perlu dibuat desain model lanjutan pengelolaan obat yaitu entity relationship diagram (ERD), data dictionary, dan data dummy sehingga akan menghasilkan prototype sistem informasi yang bisa berjalan tanpa adanya error pada sistem.
Evaluasi Penggunaan Heparin dan Enoxaparin Sebagai Antikoagulan Profilaksis pada Pasien COVID-19 Rosnarita, Intan Adevia; Zaimatuddunia, Irma; Yasin, Nanang Munif; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.89846

Abstract

Koagulopati merupakan kondisi yang kerap dialami oleh pasien positif COVID-19. Kondisi ini berhubungan dengan resiko terjadinya trombosis serta kematian pada pasien COVID-19. Data penggunaan kedua antikoagulan profilaksis yakni heparin dan enoxaparin didapatkan di RSUD dr. Loemnono Hadi Kudus, dengan melihat nilai laboratorium yakni kadar D-dimer pasien sebagai evaluasi terkait efektivitas penggunaan obat, dan episode kejadian perdarahan sebagai evaluasi terkait profil keamanan kedua obat tersebut. Penelusuran data dilakukan secara retrospektif yakni pasien COVID-19 yang mendapatkan perawatan di rumah sakit mulai tahun 2020 hingga 2022. Metode penelitian ini adalah kohort observasional menggunakan 127 sampel yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi, dengan 55 data pada kelompok heparin dan 72 pada enoxaparin. Analisis efektivitas menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat penurunan kadar D-dimer yang signifikan pada pasien yang menggunakan antikoagulan enoxaparin  (p-value < 0.05) sedangkan pada pasien yang mendapatkan heparin tidak menunjukkan penurunan yang signifikan (p-value > 0.05). Berdasarkan evaluasi keamanan penggunaan kedua antikoagulan, enoxaparin juga memiliki insidensi kejadian perdarahan yang lebih kecil (33.3%) dibandingkan heparin (40.0%). Kondisi perdarahan yang paling sering dialami pasien COVID-19 yang menerima antikoagulan profilaksis adalah batuk darah atau hemoptisis (6.3%). Namun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian perdarahan antar kedua kelompok obat (p-value > 0.05).
Formulation and Antibacterial Activity of Coffee Ground Waste Extract Face Serum Ikhsan, Arif Nur; Suryani, Hani Nabila; Ernawati, Anik Sri; Chang, Celine Aurellia; Purwanto, Purwanto Purwanto
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.90227

Abstract

Coffee is one of the most popular beverages around the World, which generates over million tons of coffee ground waste each year. Using technologies, the waste can be converted into value-added products such as cosmetic. The objective from this study is to formulate the coffee ground waste extract to face serum for anti-acne treatment. Samples are collected from several coffee shops, then macerated using ethanol. Formulation consisting: HPMC, tween 80, glycerin, PEG 400, sodium EDTA, sodium benzoate and triethanolamine. Evaluation is conducted to the extract antibacterial activity, face serum bacterial activity and face serum stability. The extract exhibits 0.860 gram/mL MIC50 Cutibacterium acnes, meanwhile, the face serum provides 15.30 ± 4.03 mm inhibition zone. Ultimately, the face serum is stable after 4 weeks testing using accelerated stability test in terms of organoleptic, pH and viscosity.
Development of glibenclamide validation method using UV-Spectrophotometry for solubility test in mesoporous mannitol Kusumorini, Nindya; Adhyatmika, Adhyatmika; Biruni, Sheria Itqan; Anugrahanti, Sukmarini
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i3.90435

Abstract

This study was aimed to develop a validation method for glibenclamide in mesoporous mannitol using UV spectrophotometric method. This method was chosen because it is simple, sensitive, accurate, precise, reproducible and economical. The wavelength of glibenclamide (λ max) was obtained at 229 nm using ethanol and water in a ratio of 1:1. The linearity of glibenclamide was selected at a concentration of 5 - 17.5 µg/mL. Correlation coefficient (r) = 0.9998; intraday RSD < 1%; interday RSD < 2%, recovery 100 - 105%, LOD = 0.32 µg/mL and LOQ = 1.08 µg/mL, and has high sensitivity because the presence of mesoporous mannitol in the solution does not interfere with the reading process of glibenclamide. So it can be concluded that this method has good reproducibility based on the results of linearity, precision, and accuracy of glibenclamide and in accordance with ICH requirements, so this method can be used for routine analysis of glibenclamide compounds in mesoporous mannitol.
Evaluasi Kesesuaian Penerapan Cara Distribusi Alat Kesehatan Yang Baik Pada Penyalur Alat Kesehatan Di DIY Faluti, Dimas Rizki; Wedyaningsih, Chairun; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i1.90846

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesulitan yang dialami oleh PAK Pusat di DIY dalam mendapatkan sertifikat CDAKB dari Kemenkes RI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan distribusi PAK Pusat di DIY terhadap standar CDAKB dan memahami faktor yang memengaruhi tercapainya kesesuaian kegiatan distribusi PAK Pusat dengan standar CDAKB. Desain penelitian adalah deskriptif evaluatif pada 20 PAK Pusat secara purposive sampling di DIY selama 3 bulan penelitian. Pendekatan kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner dan pendekatan kualitatif menggunakan pedoman wawancara kepada PJT Alkes. Analisa data kuantitatif dengan perhitungan persentase tingkat kesesuaian pelaksanaan 13 aspek standar CDAKB pada PAK Pusat, kemudian dikategorikan dalam katagori sesuai dan belum sesuai, sedangkan data kualitatif disajikan dengan menarasikan faktor yang memengaruhi tercapainya kesesuaian dengan standar CDAKB. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesesuaian kegiatan distribusi PAK Pusat di DIY terhadap standar CDAKB adalah 75%, sedangkan faktor yang memengaruhi kesesuaian kegiatan distribusi PAK Pusat dengan standar CDAKB adalah karakteristik PAK Pusat, faktor manusia, faktor sistem dan faktor lingkungan. Kesimpulan penelitian, masih terdapat ketidaksesuaian kegiatan distribusi PAK Pusat di DIY dengan standar CDAKB dan faktor yang memengaruhi kesesuaian perlu ditindaklanjuti dengan usaha melaksanakan kegiatan distribusi sesuai standar CDAKB baik dari sisi ketersediaan sarana-prasarana serta dokumen pendukung.
Systematic Review: Nanopartikel dari Bahan Obat Tradisional Indonesia Pradana, Theophani Bagas; Nugroho, Agung Endro; Martien, Ronny
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.91236

Abstract

Tanaman obat di Indonesia memberikan berbagai manfaat, namun menghadapi kendala dalam aktivitas farmakologi, kelarutan dalam tubuh, dan disolusi obat yang rendah. Salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah ini adalah melalui penggunaan sediaan nanopartikel. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau penelitian sebelumnya tentang pembuatan sediaan nanopartikel dari tanaman obat di Indonesia dan manfaatnya dalam meningkatkan aktivitas farmakologi. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review dengan melakukan pencarian literatur melalui berbagai portal jurnal seperti Google Scholar, Science Direct, dan Scopus, dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jenis sediaan nanopartikel yang umum digunakan melibatkan Self-Nanoemulsifying Drug Delivery Systems (SNEDDS), nanoemulsi, dan nanosuspensi. Sediaan nanopartikel dari tanaman obat di Indonesia umumnya memiliki ukuran partikel yang memenuhi standar, berkisar antara 1-1000 nm, dan termasuk dalam golongan monodispersi dengan nilai polidispersitas <0,3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan nanopartikel ini secara signifikan meningkatkan disolusi obat dibandingkan dengan sediaan non-nanopartikel. Peningkatan disolusi obat tersebut berdampak positif pada aktivitas farmakologi dari tanaman obat di Indonesia. Dari tinjauan literatur, dapat disimpulkan bahwa tanaman obat di Indonesia dapat dikembangkan menjadi sediaan nanopartikel, dan penerapan sediaan nanopartikel ini dapat meningkatkan aktivitas farmakologi tanaman obat tersebut.
Evaluasi Perencanaan dan Distribusi Obat Program TB di Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara Carolin, Marizka; Satibi, Satibi; Puspandari, Diah Ayu
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i2.91928

Abstract

Indonesia memiliki target eliminasi TB tahun 2030 dan bebas TB tahun 2050. Keberhasilan Program membutuhkan ketersediaan dan keterjangkauan Obat TB, sehingga diperlukan manajemen pengelolaan Obat TB yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alur dan evaluasi pada proses perencanaan dan distribusi obat program TB tahun 2022 di Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara serta aspek pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengamatan yang bersifat observasi dan wawancara. Data kuantitatif diperoleh secara retrospektif melalui penelusuran data dokumen perencanaan dan distribusi Obat Program TB tahun 2022. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara secara mendalam kepada 4 informan yang menguasai perencanaan dan distribusi obat program TB yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data kuantitatif yang diperoleh diukur menggunakan indikator perencanaan dan distribusi serta dibandingkan dengan hasil penelitian, data kualitatif dianalisis isi wawancara dan disajikan dalam bentuk narasi. Hasil evaluasi menunjukan ada 5 indikator yang tidak memenuhi standar yaitu ketepatan perencanaan (113%), penyimpangan perencanaan (44%), penyimpangan jumlah obat terdistribusi (0,3%), ITOR (1,33 kali) dan rata-rata waktu kekosongan obat (30 hari), sementara terdapat 5 indikator yang memenuhi standar yaitu ketersediaan obat (12,8 bulan), penataan obat (FEFO), obat terdistribusi seluruhnya ke Kabupaten/Kota (100%), nilai obat kadaluarsa dan stok obat mati (0%). Faktor penghambat keterlambatan pencairan dana distribusi dan dropping obat dari pusat. Faktor pendukung terdapat sistem informasi TB dan data pelaporan yang valid. Masih terdapat beberapa indikator yang perlu diperbaiki.