cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Narative Review: Kejadian Dan Mekanisme Kardiotoksisitas Pada Pasien Kanker Payudara Setelah Penggunaan Trastuzumab Sari, Laras Ratna; Murwanti, Retno; Rahmawati, Fita
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.97047

Abstract

Kardiotoksisitas adalah terjadinya disfungsi jantung sebagai kerusakan listrik atau otot, yang mengakibatkan jantung menjadi lebih lemah dan tidak efisien dalam memompa darah. Kardiotoksisitas dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti agen kemoterapi, pengobatan radioterapi, komplikasi dari anoreksia nervosa, efek samping dari asupan logam berat. Kardiotoksisitas juga terjadi pada pasien kanker payudara yang diberikan terapi trastuzumab. Tujuan dari tinjauan artikel ini yaitu untuk mengetahui kejadian kardiotoksisitas setelah penggunaan trastuzumab dan mekanisme efek kardiotoksisitas trastuzumab pada pasien kanker payudara. Metode yang digunakan pada artikel ini yaitu menggunakan beberapa pencarian menggunakan PubMed, ScienceDirect dan Google Cendekia untuk penelitian yang membahas efek kardiotoksisitas trastuzumab pada pasien kanker payudara dari tahun 2018 sampai dengan 2023. Dari total 171 artikel, yang kemudian dievaluasi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Sebanyak 157 artikel dikeluarkan dan 14 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Mekanisme terjadinya kardiotoksisitas oleh trastuzumab melalui mekanime penghambatan HER2 dan autophagy. Kesimpulannya, Pemilihan trastuzumab sebagai pilihan terapi pada pasien kanker payudara harus dipertimbangkan dengan cermat dan diperlukan pemantauan fungsi jantung.  
Perbandingan Efektivitas Antihipertensi pada Terapi Stroke Iskemik : Kajian Literatur Ivanka, Luna; Ikawati, Zullies; Andayani, Tri Murti
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.97086

Abstract

Stroke merupakan penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal dan atau global, yang munculnya mendadak, progresif dan cepat. Gangguan fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Hipertensi merupakan salah satu faktor dengan kejadian stroke. Penanganan hipertensi pada pasien stroke iskemik diharapkan dapat meningkatkan atau memperbaiki outcome klinis pada pasien.  Rekomendasi obat antihipertensi untuk pasien stroke antara lain alfa-2-adrenoreseptor agonis, ACEI, ARB, BB, CCB dan diuretik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan antihipertensi pada pasien stroke iskemik dengan metode tinjauan naratif menggunakan artikel dari database Cochrane, Pubmed, dan Scopus. Pencarian artikel menggunakan kata kunci, antihypertensive, clinical outcome, stroke ischemik, case study, cohort dan Randomized Control Trial (RCT), yang terbit antara tahun 2014 hingga 2024. Hasil penyaringan didapatkan 7 artikel studi yang masuk kriteria inklusi dan eksklusi. Antihipertensi golongan CCB dan ARB lebih direkomendasikan, dengan luaran klinik pasien membaik. Kesimpulan pada studi tinjauan naratif ini, terapi antihipertensi pada pasien stroke iskemik selama rawat inap disesuaikan dengan kondisi klinik pasien. Antihipertensi golongan CCB dan ARB lebih direkomendasikan karena efektivitasnya terhadap penurunan tekanan darah dan perbaikan luaran klinis pasien stroke iskemik.
Analyzing the Potential of Herbal Plant Research for Alzheimer's Disease in Diabetes: A Bibliometric Approach Marzuki, Ahmad; Rahmayani, Almira; Khafi, Muhammad; Hertiani, Triana; Murwanti, Retno
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.97209

Abstract

Alzheimer’s disease is a progressive neurologic dementia disorder and the fifth leading cause of death among elderly individuals. Its pathogenesis is closely linked to diabetes-induced brain insulin resistance, which accelerates beta-amyloid accumulation, exacerbating disease severity. This condition significantly impacts quality of life and healthcare costs, necessitating effective treatment strategies. Medicinal plants offer a promising avenue, with bibliometric analysis identifying trending active compounds for potential development as therapies for diabetic Alzheimer’s. This study analyzed 200 articles from the Scopus database, employing Scopus and VOSviewer 1.6.20 to visualize bibliometric trends by publication, country/territory, subject area, and keyword co-occurrence. Results indicate a recent decline in research activity, with China leading in publications across pharmacology, medicine, and biochemistry. Notably, flavonoids like “quercetin,” “kaempferol,” and “gallic acid” emerged as prominent topics.Keywords: Alzheimer’s diabetes, Bibliometrics, Herbal medicine, Extracts
Current Self-Medication Practices and Literacy among People in Yogyakarta Province, Indonesia: A Cross-Sectional Study Ekasari, Marlita Putri; Kristina, Susi Ari; Yuliani, Rizka Prita
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.98598

Abstract

In developing countries, self-medication is now becoming a common lifestyle as primary health care. Despite the benefits, the current challenges of inappropriate self-medication practices have potential risks for drug abuse and can lead to drug resistance. Therefore, the aim of this descriptive cross-sectional study was to assess the practice of self-medication related to public knowledge and health literacy in Yogyakarta Province among a sample of 954 respondents who consented to fulfill a validated questionnaire. A convenience sampling approach was applied. Descriptive analysis was performed to describe knowledge and practice of self-medication, and a chi-square test was used for bivariate analysis (p<0.05). The majority of respondents are female (62.58%) with age more than 50 years old (32.91%), and have chronic diseases (38.26%). Moreover, 43.29% of respondents have a low educational background. The results showed predominantly of the respondents had poor knowledge (51.39%) and lack of medicine literacy (53.88%). It seems educational background and chronic medical conditions are associated with the poor practice of self-medication. In conclusion, respondents in Yogyakarta had low knowledge and health literacy level of self-medication and it performs a poor practice. Health education of self-medication should be considered to improve the appropriate practices, especially among individuals with chronic diseases.
Penetapan Rendemen dan Kandungan Kimia Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Kurnia Handayani, Christina Elma; Azzahra, Fara
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.79153

Abstract

Daun pepaya memiliki beberapa kandungan senyawa kimia antara lain alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, tanin, enzim papain, vitamin C dan E serta glikosida. Penarikan senyawa kimia dari daun pepaya dilakukan menggunakan pelarut etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pelarut terhadap rendemen dan kandungan kimia ekstrak daun pepaya. Jenis penelitian ini yaitu eksperimental posttest only design. Maserasi daun pepaya dilakukan selama 3x24 jam, menggunakan pelarut etanol 70% dan 96%. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dengan cara dianginkan, hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian dilakukan perhitungan rendemen dan analisis menggunakan Independent sample t-test dan dilanjutkan dengan skrining fitokimia. Hasil dari skrining fitokimia menunjukan bahwa ekstrak daun pepaya pada kedua konsentrasi pelarut mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan fenolik. Perbedaan hasil skrining terlihat pada etanol 96% tidak menunjukkan senyawa saponin dan steroid. Perolehan rendemen pada ekstrak etanol 70% sebesar 9,63±0,42%; etanol 96% sebesar 7,93±0,47%. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna yaitu nilai P (<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari perbedaan konsentrasi pelarut terhadap rendemen dan kandungan kimia ekstrak daun pepaya.
Efektivitas Biaya Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Klinik X Sragen Akhyani, Nur; Pambudi, Risma Sakti; Khusna, Khotimatul
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.85941

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang dapat disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan dapat diterapi dengan menggunakan obat antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan potensi peningkatan kejadian bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan dapat meningkatkan biaya perawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya penggunaan antibiotik pada pengobatan pasien demam tifoid di Klinik Pratama Gumilang Larasati Sragen tahun 2022. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu mengambil data secara retrospektif melalui data rekam medis yang berisi data seluruh pasien demam tifoid tahun 2022 yaitu sebanyak 96 rekam medis. Metode analisis biaya yang digunakan adalah Cost Effectiveness Analysis (CEA) dan metode Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) untuk menganalisis terapi pengobatan demam tifoid yang paling cost effective. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan terapi pasien demam tifoid di Klinik Pratama Gumilang Larasati Sragen tahun 2022 menggunakan terapi antibiotik injeksi cefotaxime dengan nilai ACER Rp. 18.513, injeksi ceftriaxone dengan nilai ACER Rp. 21.306 dan infus levofloxacin dengan nilai ACER Rp. 32.446. Kesimpulan dari penelitian ini adalah obat yang dinilai paling cost effective adalah penggunaan antibiotik injeksi cefotaxime dengan nilai ACER Rp. 18.513.
Cost Effectiveness Analysis of Anticoagulants as The Therapy of Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Saputra, Andy Kurniawan; Andayani, Tri Murti; Trisnawati, Ika
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.86807

Abstract

Hypercoagulation is a condition characterized by increased thrombosis and is caused by various factors, one of which is SARS-CoV-2 virus infection. Anticoagulants are the main therapeutic options such as heparin and enoxaparin. The administration of these two drugs can reduce coagulation parameters such as D-dimer, PT, and fibrinogen values. The purpose of this study was to analyze the cost-effectiveness comparison of heparin and enoxaparin as anticoagulants in severe and critical COVID-19 patients. This study is an analytical observational study with a retrospective cohort design from a provider perspective. The research subjects were severe and critical COVID-19 patients who met the inclusion and exclusion criteria at Dr. Sardjito General Hospital in the period January 2021 - January 2022. The effectiveness of anticoagulants was seen through a decrease in the D-dimer value to a value of < 500 ug/ml on day 14 in medical records, safety was assessed from the incidence of bleeding recorded in medical records, while the average direct cost data during the patient's hospitalization was studied to determine cost-effectiveness with the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). The achievement of D-dimer value < 500 μg/ml for the heparin group was 39.5% while the enoxaparin group was 48.4%, the result showed no significant difference (p=0.293). All subjects did not experience bleeding. The average direct medical cost of the heparin group was Rp. 31,296,577 and enoxaparin was Rp. 55,205,810. The ACER calculation of heparin and enoxaparin was Rp. 79,233,841 and Rp. 114,061,591 with an ICER of Rp. 2,686,431 for a decrease in D-dimer value reaching < 500 ug/ml. This shows that enoxaparin is better at reducing D-dimer values despite having a higher cost than heparin. 
Perbedaan Gambaran Klinis dan Hasil Laboratorium antara Pasien COVID-19 dengan komorbid PPOK dan non-PPOK Nurjanna, Sitti; Ikawati, Zullies; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.88530

Abstract

Coronavirus disease-19 adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut parah Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Salah satu penyakit yang dikaitkan dengan resiko tinggi perparahan penyakit COVID-19 adalah orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) karena COVID-19 mempengaruhi system pernafasan, kondisi kerusakan paru-paru pada pasien PPOK dapat menjadi penyebab akibat paru-paru sulit untuk melawan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik pasien COVID-19 non PPOK dengan pasien COVID-19 komorbid PPOK yang dirawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) Yogyakarta pada tahun 2020 hingga 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cohort retrospektif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan sumber rekam medis beserta nilai laboratorium pasien. sampel yang memenuhi kritera inklusi dalam penelitian ini sebanyak 67 pasien yang dipilih dengan metode consecutive sampling. Hasil penelitian adanya perbedaan signifikan pada jenis kelamin (P = 0,002) dengan didominasi laki-laki (78,1%) pada kelompok PPOK dan paling banyak perempuan pada pasien non-PPOK (60%). Rentang usia pasien non-PPOK 40-60 tahun (51,4%) sedangkan pada kelompok komorbid PPOK lebih banyak berusia ≥60 tahun (93,8) (P = 0,000). Gambaran perbedaan karakteristik klinis dan temuan laboratorium kelompok pasien nonPPOK menunjukkan gejala paling umum adalah batuk (74,3), demam (57,1%), mual (45,7%) dan sesak (42,9%), sedangkan pasien dengan komorbid PPOK menunjukkan gejala paling umum ditemukan adalah sesak (90,6%), batuk (87,5%), demam (65,6%) dan lemas (50%). Terdapat perbedaan signifikan pada gejala lemas (P = 0,021) dan sesak (P = 0,000). Pada temuan nilai laboratoium pada kedua kelompok uji pasien non PPOK dan pasien dengan komorbid PPOK ditemukan paling banyak penurunan limfosit (80%; 100%), diikuti dengan kenaikan peningkatan jumlah neutrofil (85,7%; 93,8%) dan peningkatan angka leukosit (60%; 50%). Ditemukan perbedaan signifikan pada hasil laboratorium anemia               (P = 0,018), pneumonia (P = 0,004) dan Limfositopenia (P = 0,008). 
THE EFFECT OF FUROSEMIDE IN CRITICALLY ILL ADULT PATIENTS – A NARRATIVE REVIEW Putri, Cyndi Yulanda; Nugroho, Agung Endro; Widyati, Widyati
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i3.88784

Abstract

Background: Fluid overload is the common condition in the critically ill patients. This associated with the increased fluid intake and inadequate elimination. The management of fluid overload is by fluid removal with diuretic. Furosemide is a loop diuretic that frequently used as the initial therapy. However, the utilization of furosemide in the critically ill reminds a polarizing subject. The purpose of this study is to investigate the impact of furosemide on patients who are critically ill. Methods: The inclusion criteria included randomized controlled trials as well as observational cohort studies. The data sources utilized in this study were PubMed, Science Direct, ProQuest, and Cochrane.Results: We included 13 articles, of which 9 articles about generally critically ill patients with or without acute kidney injury (AKI), 2 articles about heart failure, and 2 articles about post operative. The furosemide was effective in generally critically ill patients with or without AKI, it can decrease the fluid balance, weight change, and improves the urine output. Furosemide had no harmful effect on kidney function. However, patients without oliguria were not recommended to receive high dose of furosemide. Critically ill patients with heart failure who received continuous infusion of furosemide were more susceptible to increased diuresis and greater depression of thoracic fluid content (TFC). Furthermore, it might cause the decrease of renal function. When compared to furosemide, continuous veno-venous hemodiafiltration (CVVHDF) was more successful at removing excess fluid, reducing weight, relieving symptoms, and improving hemodynamic and cardiac performance. In post operative patients, furosemide might cause metabolic alkalosis. Urinary electrolyte excretion rates were promptly altered by the use of low dose furosemide.Conclusion: Based on the patient's clinical data, furosemide use should be taken into consideration. In general, furosemide is effective to improve diuresis. Furosemide in the AKI condition with oliguria has beneficial effect. However, in heart failure condition, furosemide might affect renal function. In post operative, it might cause metabolic alkalosis. Further randomized controlled trial (RCT) is required.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Community Acquired Pneumonia Candraningrat, I Dewa Agung Ayu Diva; Andayani, Tri Murti; Sari, Ika Puspita
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.92448

Abstract

Community Acquired Pneumonia (CAP) merupakan infeksi yang terjadi di paru-paru yang didapatkan dari komunitas dan sering meningkatkan angka rawat inap di rumah sakit. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab CAP adalah Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydophila pneumoniae. Berdasarkan pada pedoman American Thoracic Society (ATS) dan Infectious Disease Society of America (IDSA), penggunaan terapi antibiotik pada pasien CAP dinilai berdasarkan stabilitas klinisnya. Ulasan artikel ini bertujuan untuk membandingkan hasil evaluasi penggunaan antibiotic yang dilihat dari stabilitas klinis dan keamanannya. Ulasan artikel bertujuan untuk membandingkan hasil penelitian yang diperoleh dari PubMed sebagai literatur dan diagram PRISMA sebagai guideline pada proses seleksi artikel. Berdasarkan hasil ulasan artikel diperoleh 10 artikel yang sesuai dengan topik dan tujuan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik golongan betalaktam atau fluorokuinolon memiliki efikasi dan keamanan yang baik untuk pasien CAP