cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
EVALUASI PROFIL PERESEPAN OBAT RACIKAN DAN KETERSEDIAAN FORMULA OBAT UNTUK ANAK DI PUSKESMAS PROPINSI DIY Ria Widyaswari; Chairun Wiedyaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 8, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.96 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v8i3.24079

Abstract

Ketersediaan formula obat untuk anak di Indonesia masih terbatas sehingga pemberian obat racikan, terutama puyer merupakan alternatif pengobatan yang diberikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola peresepan puyer untuk anak dan ketersediaan formula obat untuk anak yang diresepkan berdasarkan MIMS, ISO 2010/2011, dan daftar generik formula untuk anak di puskesmas di Propinsi DIY periode 2010. Jenis obat yang diresepkan racikan juga dievaluasi berdasar EML for Children 2007 untuk mengetahui persentase obat yang semestinya tersedia formulanya untuk anak. Jenis penelitian ini adalah survei potong lintang dengan pengumpulan data secara retrospektif. Analisis data meliputi gambaran karakteristik subyek penelitian, pola peresepan obat, dan ketersediaan formula obat untuk anak. Hasil menunjukkan bahwa puyer banyak diresepkan untuk anak di bawah lima tahun. Umumnya, sebanyak tiga zat aktif yang diracik dalam satu sediaan puyer (dengan rata-rata 2,8 zat aktif). Obat yang paling sering diracik untuk menjadi sediaan puyer adalah chlorfeniramin maleat, glyceril guaikolat, vitamin C, paracetamol , vitamin B12, dan vitamin B kompleks. Evaluasi terhadap ketersediaan formula obat untuk anak berdasarkan MIMS dan ISO 2010/2011 menunjukkan bahwa sebanyak 62,5% obat yang diracik sebenarnya sudah tersedia formulanya untuk anak meskipun dengan nama dagang. Dari 40 obat yang diracik puyer di puskesmas DIY, ada sebanyak 19 item obat yang semestinya sudah harus tersedia formulanya untuk anak berdasarkan daftar yang termuat dalam EML for Children 2007.
INPATIENT SATISFACTION ANALYSIS OF THE NATIONAL HEALTH INSURANCE USERS IN QUALITY SERVICES IN WARD OBSTETRICS AND GYNECOLOGY HOSPITAL YOGYAKARTA SLEMAN Shanendra Ulfa F; Abdul Karim Zulkarnain
Majalah Farmaseutik Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.4 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v12i2.26451

Abstract

Along with the expanding world of health, the hospital’s role has grown into a service industry that is strongly influenced by the market. Consumers have become one factor in determining the existence of the service industry. Customer satisfaction becomes an important thing that needs to be considered in order to sustain the industry from fierce competition. The purpose of this study was to measure the level of satisfaction of the patients on the National Health Insurance in obstetrics and gynecology hospital ward Yogyakarta Sleman, especially in terms of quality of service. Samples are selected patients with accidental sampling method with a number of 100 respondents. Research instrument used was a questionnaire with closed questions. Data were processed descriptively and analyzed to determine the level of compatibility between performance and expectations along with paired t test, gap test, chi square test and contingency coefficient. Based on Cartesian diagram the service performance of assurance, empathy, and tangibles dimensions have been implemented well and its performance should be maintained. While the dimensions of reliability and responsiveness is considered less important for the patient. Patients are not satisfied on the dimensions of reliability, responsiveness, assurance, and empathy. While the patients had been satisfied in tangibles dimension, characteristics of age and education did not significantly influence patient satisfaction. Whereas, the employment and income characteristics significantly influence patient satisfaction.
PENINGKATAN EFEK BAKTERISIDA DISPERSI PADAT AMPISILIN–POLI-ETILEN GLIKOL–TWEEN 80 (PT) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Riswaka Sudjaswadi; Maria D J; Tri W
Majalah Farmaseutik Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.965 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v6i2.24040

Abstract

Penetapan daya hambat dispersi padat ampisilin–poli-etilen glikol–tween 80 (PT) telah dilakukan untuk mengetahui peningkatan efek obat akibat PT. Uji dilakukan menurut metode difusi (kertas cakram) pada fraksi mol obat 0,5; 0,7; dan 0,9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dispersi padat ampisilin–PT meningkat daya hambat obatnya dari 104,63% (efektivitas 1,1) hingga 118,16% (1,7) terhadap Staphylococcus aureus, dan dari 106,46% (1,3) hingga 116,62% (1,9) terhadap Escherichia coli, dibandingkan terhadap ampisilin murni (fraksi mol dan efektivitas 1,0). Kenaikan daya hambat berbanding lurus dengan jumlah PT yang digunakan, perlu diteliti lebih lanjut dengan antibiotika dan fraksi mol yang lain.
PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. KARIADI SEMARANG MM Woro Endah Tyashapsari; Abdul Karim Zulkarnain
Majalah Farmaseutik Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.921 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v8i2.24068

Abstract

Prevalensi hipertensi di Indonesia diperkirakan 4,8 – 18,8%, sedangkan angka prevalensi di Taipeh (6,2%) dan di Amerika Serikat (10 – 15%). Menurut WHO, selama 10 tahun terakhir jumlah penderita hipertensi di Semarang meningkat lebih dari 10 kali lipat. Dari 50% orang yang diketahui hipertensi, hanya 25% yang mendapatkan pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati secara baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat, mengevaluasi penggunaan obat antihipertensi, serta mengetahui outcome/luaran pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2005. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medik pasien. Pada 100 kasus yang diperoleh dilakukan analisis deskriptif evaluatif untuk memperoleh gambaran pola penggunaan obat, evaluasi penggunaan obat, dan outcome/luaran pasien. Evaluasi penggunaan obat dilihat dari tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis dibandingkan dengan Standar Pelayanan Medik RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2005 dan The JNC 7 Report tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah kaptopril (73%). Evaluasi penggunaan obat antihipertensi menunjukkan 98% tepat indikasi, 81% tepat obat, 62% tepat pasien, dan 95% tepat dosis. Pasien yang berhasil mencapai tekanan darah target saat keluar dari rumah sakit adalah 50 pasien (50%).
PENERAPAN KONSEP HARGA OBAT UNTUK MENETAPKAN POLA TARIF JASA PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN KUDUS Vinska Adistapramesti; Marchaban Marchaban
Majalah Farmaseutik Vol 11, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.31 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v11i3.24126

Abstract

Apoteker adalah profesi yang salah satu cirinya adalah memberikan jasa berupa pelayanan kefarmasian kepada pasien di fasilitas pelayanan kefarmasian. Namun hingga saat ini, belum diterapkan penarikan tarif jasa pelayanan kefarmasian untuk apoteker di apotek. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkiraan tarif jasa pelayanan kefarmasian untuk obat non resep yang dapat diambil oleh apoteker di apotek tanpa memberatkan pasien. Penelitian mengumpulkan data berupa omzet dan jumlah penjualan obat non-resep dari empat apotek di Kabupaten Kudus selama periode Januari-Maret 2015, serta cara penentuan harga obat pada tiap-tiap apotek. Analisis dilakukan dengan mengkonversi laba yang diperoleh dari penjualan obat non resep menjadi tarif jasa pelayanan kefarmasian untuk apoteker. Hasil analisis kuantitatif dari keempat apotek menunjukkan bahwa rata-rata tarif jasa pelayanan kefarmasian yang dapat diambil oleh apoteker untuk tiap obat non resep yang dijual adalah sebesar Rp 1.081,99. Simulasi penerapan tarif jasa pelayanan kefarmasian dengan metode cost plus fixed fee pricing membuat 13 dari 30 sampel obat mengalami penurunan harga, sedangkan 17 obat lainnya mengalami kenaikan harga.
RASIONALITAS PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (COMMON COLD) DI PUSKESMAS X KOTA YOGYAKARTA Satibi Satibi; Indra Gunawan
Majalah Farmaseutik Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v7i1.24026

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Atas (common cold) merupakan sepuluh penyakit terbesar di Puskesmas, sehingga perlu adanya suatu ketepatan evaluasi terapi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang rasionalitas pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (common cold) di Puskesmas X Yogyakarta selama periode Juli-Desember 2005, lalu mengevaluasinya dengan pedoman pengobatan dasar yang diterbitkan Departemen Kesehatan RI Tahun 2001. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif menggunakan bahan berupa buku status pasien yang berisi nomor indeks, nama, jenis kunjungan, jenis kelamin, diagnosa, pengobatan, frekuensi, dosis, dan rute penggunaan obat semua pasien yang terdiagnosa Infeksi Saluran Pernafasan Atas (common cold) selama periode Juli-Desember 2005. Ukuran sampel yang digunakan sebanyak 244 pasien. Jenis penelitian ini adalah non eksperimental deskriptif evaluatif. Berdasarkan hasil penelitian, obat yang digunakan untuk terapi ISPA (common cold) yaitu; antibiotik 20,08%, analgetik-antipiretik 71,72%, antihistamin 78,28%, obat batuk 89,75%, vitamin 46,72%, dan penggunaan obat-obat lain (kortikosteroid, dekongestan nasal, antasida, obat asma, antidiabetes, dan antihipertensi) sejumlah 39,75%. Sedangkan evaluasi rasionalitas pengobatannya yaitu tepat indikasi 75,00%, tepat pasien 80,74%, tepat obat 76,64%, dan tepat dosis (takaran, frekuensi dan lama pemberian) untuk parasetamol 100%, dekstrometorfan 100%, efedrin 100%, kaptopril 100%, furosemid 0%, hidroklortiazid 0%, nifedipin 100%, glibenklamid 100%, metformin 100%, serta antasida 100%.
KARAKTERISTIK FISIK DAN PENERIMAAN RASA SEDIAAN CHEWABLE LOZENGES EKSTRAK RIMPANG KUNYIT(CURCUMA DOMESTICA VAL.) DENGAN KOMBINASI PEMANISHIGH FRUCTOSE SYRUP DAN SUKROSA Christriana Kusumawati; Mufrod Mufrod; Mutmainah Mutmainah
Majalah Farmaseutik Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.987 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v11i1.24117

Abstract

Kunyit memiliki banyak kegunaan dalam pengobatan, salah satunya pengobatan inflamasi yang sering diderita anak-anak seperti gusi bengkak dan radang tenggorokan sehingga kunyit merupakan pilihan tepat karena alami tanpa efek toksik. Ekstrak rimpang kunyit dibuat menjadi sediaan chewable lozenges karena lebih praktis dan menarik untuk anak-anak, namun ekstrak rimpang kunyit memiliki rasa yang pahit sehingga perlu adanya pemanis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisik dan penerimaan rasa chewable lozenges kombinasi pemanis High Fructose Syrup (HFS) dan sukrosa. Ekstrak diperoleh dari maserasi dengan etanol 96%, ekstrak diuji pendahuluan, Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dan bebas etanol. Ekstrak dibuat menjadi chewable lozenges menggunakan metode tuang dengan kandungan pemanis HFS : sukrosa yaitu formula 1 (5:95), formula 2 (10:90), dan formula 3 (15:95). Sediaan kemudian diuji karakteristik fisiknya meliputi uji organoleptik, keseragaman bobot, kekerasan, kekenyalan, dan pH. Dilakukan juga uji penerimaan rasa, identifikasi kurkumin, dan Angka Lempeng Total (ALT) terhadap sediaan. Data penerimaan rasa dianalisis secara deskriptif dan data karakteristik fisik dianalisis anova 1 jalan. Hasil kekerasan tertinggi yaitu formula 2 dengan perbandingan HFS : sukrosa (10:90). Sediaan formula 1 memiliki pH paling asam. Kekerasan dan kekenyalan dari ketiga formula tidak berbeda signifikan (p > 0,05). Formula yang paling disukai yaitu formula 2 dan sediaan mengandung kurkumin dengan ALT < 106 sehingga memenuhi syarat.
KOMPOSISI MINYAK ATSIRI RIMPANG KUNYIT PUTIH (CURCUMA MANGGA VAL.) DARI BEBERAPA DAERAH DI DIY DENGAN GCMS Harti Astuti
Majalah Farmaseutik Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.76 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v9i1.24107

Abstract

Kunyit putih (Curcuma mangga Val.) banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit misalnya demam, mengurangi rasa sakit sewaktu haid, sebagai penenang, sakit perut (kolik), memacu kontraksi otot perut, memacu sekresi empedu, hepatoprotektor, dan dikembangkan pula kemungkinan sebagai obat antikanker. Minyak atsiri merupakan komponen utama kunyit putih disamping amilum, tanin, dan damar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan komposisi minyak atsiri rimpang kunyit putih yang berasal dari beberapa daerah di DIY yaitu Kulonprogo, Bantul dan Gunung Kidul. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengisolasi dan menentukan kadar minyak atsiri Curcuma mangga Val. dari daerah Kulonprogo, Bantul dan Gunung Kidul DIY dengan destilasi uap, lalu dilanjutkan dengan penentuan indeks bias dan kelarutannya secara kualitatif, serta melakukan analisis komponen masing-masing minyak atsirinya melalui profil kromatogram Gas chromatography mass spectrometry (GCMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolasi minyak atsiri dari daerah Kulonprogo, Bantul, dan Gunung Kidul DIY dengan cara destilasi uap memberi-kan hasil kadar minyak atsiri yaitu berturut-turut sebesar 1,87% v/b, 1,25% v/b, dan 1,06% v/b. Data hasil analisis GCMS menunjukkan bahwa minyak atsiri dari daerah Kulonprogo, Bantul, dan Gunung Kidul DIY mengandung komponen minyak atsiri yang bervariasi untuk masing-masing daerah, namun ada kesamaan kandungan diantara ketiganya yaitu ketiga daerah tersebut mengandung sineol, bergamiol, pinen, mirsene, geraniol, 4-(4-metilpent-3-enil)-3,6-dihidro-1,2-dithiin,dan 1,6-oktadien-3-ol,3,7-dimetil-propanoat, dengan kadar relatif sineol antara 2,00 s.d. 8,40 % v/v.
KAJIAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OPAK, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Santoso, Djoko; Wahyuono, Subagus; Riyanto, Sugeng; Widyastuti, SM
Majalah Farmaseutik Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang keanekaragaman jenis tumbuhan obat di darah aliran sungai Opak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis-jenis tumbuhan obat, distribusi dan potensi pengembangan sebgai bahan baku herbal.Area kajian dibagi menjadi 6 lokasi berdasarkan ketinggian tempat, yaitu wilayah Kecamatan Cangkringan (CNK), Ngemplak (NPL), Prambanan (PRB), Kalasan (KLS), Imogiri (IMO), dan Pundong (PDO).  Setiap lokasi diletakkan plot kuadrat berukuran 2x1 m sebanyak 30 plot. Di dalam plot kuadrat dihitung jenis tumbuhan dan cacah individu setiap jenis tumbuhan.Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebanyak 79 jenis tumbuhan yang dikelompokkan dalam 27 suku. Berdasarkan kontribusi jenis di dalam lingkungan dan studi literatur Eupatorium riparium,  Andrographis paniculata, dan Scoparia dulcis merupakan jenis-jenis tumbuhan yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal. 
PERBANDINGAN PROFIL DISOLUSI TABLET METOKLOPRAMID HIDROKLORIDA GENERIK BERLOGO DAN BERMEREK Laila Syarie Rahmawatie; T.N. Saifullah Sulaiman; Okti Ratna M
Majalah Farmaseutik Vol 6, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.352 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v6i3.24045

Abstract

Metoklopramid HCl merupakan salah satu obat antiemetik. Bentuk sediaan yang beredar dipasaran dalam jenis obat generik berlogo dan generik bermerek, keduanya memiliki perbedaan dalam hal formulasi dan fabrikasi. Metoklopramid HCl memiliki kelarutan sangat tinggi dalam air dan memiliki permeabilitas rendah dalam usus sehingga dikategorikan dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas III. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji ekivalensi secara in vitro (uji disolusi terbanding) untuk memastikan kemiripan kualitas produk obat generik berlogo dan generik bermerek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tablet metoklopramid HCl generik berlogo dan bermerek memenuhi persyaratan uji disolusi serta mengetahui kemiripan profil disolusi(f2). Penelitian ini menggunakan 5 tablet metoklopramid HCl terdiri dari dua jenis produk generik bermerek (A,C) dan tiga jenis produk generik berlogo (B,D,E). Uji disolusi menggunakan alat disolusi, dengan alat tipe 2 (dayung), kecepatan rotasi 50 rpm dalam 900 ml buffer fosfat pH 6,8 , dengan suhu pada 37 ± 0,5 ° C. Parameter yang diamati adalah profil disolusi dan faktor kemiripan (f2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara produk inovator dan produk uji dapat memenuhi persyaratan uji disolusi, sedangkan untuk nilai faktor kemiripan (f2) untuk beberapa produk yang menunjukkan ekivalensi yaitu produk A - B yaitu 57,89; produk A - C yaitu 50,94; produk A - D yaitu 65,64; produk C – B yaitu 56,56; dan produk B – D yaitu 50,81.

Page 5 of 49 | Total Record : 488