cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 507 Documents
OPTIMASI FORMULASI TABLET SUSTAINED-RELEASE NIFEDIPIN KOMBINASI NATRIUM ALGINAT DAN HPMC K15M SEBAGAI MATRIKS MUKOADHESIF SECARA SIMPLEX LATTICE DESIGN Rizqi Fitria Yanuar; T.N. Saifullah Sulaiman; Ilham Kuncahyo
Majalah Farmaseutik Vol 11, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.755 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v11i3.24128

Abstract

Nifedipin digunakan untuk obat angina dan hipertensi dengan waktu paruh yang singkat (2-4 jam) dan terabsorbsi baik di lambung sehingga cocok dibuat sediaan tertahan di lambung dengan sistem mukoadhesif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan interaksi Na alginat dan HPMC K15 M terhadap sifat fisik dan pelepasan obat serta menentukan proporsi optimum kombinasi Na alginat dan HPMC K15M sebagai polimer bioadhesif. Pembuatan tablet menggunakan metode granulasi kering dengan perbandingan berbagai perbandingan Na alginat (A) dan HPMC K15M (B) dengan model simplex lattice design. F1 (100% A), F2 (75% A : 25% B), F3 (50% A : 50% B), F4 (25% A : 75% B), dan F5 (100% B). Setiap tablet mengandung 20 mg nifedipin dengan bobot total 250 mg dan dilakukan uji sifat fisik granul dan tablet serta uji disolusi. Waktu alir, kekerasan, daya mukoadhesif, dan DE360 sebagai parameter formula optimum yang diolah dengan software Design Expert versi 8.0. Hasil penelitian untuk waktu alir dari interaksi antara Na alginat dan HPMC K15M dapat meningkatkan waktu alir, menurunkan kekerasan, meningkatkan daya mukoadhesif, dan peningkatan pelepasan obat. Proporsi formula optimum diperoleh pada Na alginate 10,00 – 33,75 mg dan HPMC K15M 36,25 – 60,00 mg. Hasil disolusi menunjukkan bahwa kombinasi dari Na alginat dan HPMC K15M dapat meningkatkan obat terlepas. kinetika pelepasan obat mengikuti orde nol dengan model pelepasan higuchi. Verifikasi formula optimum didapat pada daerah 21 mg Na alginat dan 49 mg HPMC K15M menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara data prediksi dengan percobaan pada parameter optimum yang digunakan.
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KEBERADAAN ALKALOID DALAM SIRUP FRAKSI ALKALOID Mimiek Murrukmihadi; Subagus Wahyuono; Marchaban Marchaban; Sudibyo Martono
Majalah Farmaseutik Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1938.429 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v7i1.24027

Abstract

Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai peluruh dahak secara tradisional. Telah diisolasi alkaloid dalam kembang sepatu sebagai senyawa penanda (marker) dan telah diduat sebagai sediaan sirup. Oleh karena itu perlu diteliti pengaruh suhu penyimpanan terhadap keberadaan alkaloid dalam sirup fraksi alkaloid. Fraksi alkaloid hasil fraksinasi ekstrak alkaloid dari bunga kembang sepatu dibuat sediaan sirup kemudian disimpan dalam suhu kamar, suhu 40, 55, dan 70 0C selama 4 minggu. Keberadaan alkaloid dalam sirup setelah penyimpanan ditentukan dengan KLT-Densitometri dengan menggunakan kurva baku isolat (alkaloid) hubungan antara kadar dan AUC. Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa alkaloid dalam sediaan sirup fraksi tidak dapat ditentukan secara KLT-densitometri. Harga hRf senyawa penanda pada fraksi yang telah diformulasikan dalam sediaan sirup mengalami perubahan. Dilihat dari nilai hRf yang nampak, maka senyawa penanda mengalami peningkatan polaritas.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN EKSTRAK AIR DAUN BANDOTAN (AGERATUM CONYZOIDES, L.) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Harti Astuti
Majalah Farmaseutik Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.225 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v11i1.24118

Abstract

Di Indonesia terdapat beraneka ragam jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat, di antaranya daun Bandotan yang dapat digunakan sebagai obat penyakit kulit ringan dan berat, radang telinga, sakit tenggorokan, diare, dan penyakit infeksi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji aktivitas antibakteri terhadap ekstrak etanol dan ekstrak air daun Bandotan. Serbuk daun Bandotan berturut-turut diekstraksi dengan pelarut etanol 80% menggunakan alat soxhlet, kemudian dengan pelarut air menggunakan panci infus. Ekstrak etanol kental dan ekstrak air kental diuji aktivitas antibakterinya. Uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25923 dilakukan dengan metode dilusi cair untuk mengetahui kadar hambat minimal (KHM) ekstrak etanol dan ekstrak air daun Bandotan. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai KHM berturut-turut adalah 12,5 mg/mL dan 25 mg/mL. Ekstrak air juga menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan nilai KHM berturut-turut adalah 50 mg/mL dan 100 mg /mL. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan ekstrak air daun Bandotan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
PENGARUH SURFAKTAN NON-IONIK TERHADAP PERMEABILITAS USUS TIKUS PADA TRANSPOR SULFAMETOKSAZOL Siti Aminah; Nusratini Nusratini
Majalah Farmaseutik Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1511.718 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v7i3.24059

Abstract

Surfaktan non-ionik merupakan bahan yang sering digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat yang sukar larut pada sediaan per oral. Salah satu obat yang banyak digunakan pada berbagai infeksi dan kelarutannya kecil adalah sulfametoksazol. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh beberapa surfaktan non-ionik dengan berbagai panjang rantai karbon gugus hidrofobik terhadap kelarutan sulfametoksazol dan pengaruhnya terhadap permeabilitas dinding usus pada transpor sulfametoksazol. Penelitian ini dilakukan dengan menentukan kelarutan sulfametoksazol dalam dapar fosfat pH 6,5 dengan penambahan polisorbat 20, polisorbat 40, polisorbat 60 rentang konsentrasi 10 sampai dengan 40 mg% b/v pada suhu 37º C. Percobaan transpor sulfametoksazol dalam dapar fosfat isotonik pH 6,5 menggunakan Everted Small Intestine Sac Technique dengan penambahan polisorbat di bawah dan di atas harga CMC. Pemeriksaan kadar sulfametoksazol menggunakan spektrofotometer UV pada λ 258 nm. Hasil menunjukkan bahwa penambahan polisorbat 20, 40, 60 meningkatkan kelarutan sulfametoksazol (p
OPTIMASI SUHU DAN WAKTU PENGERINGAN GRANUL TABLET KUNYAH BEE POLLEN Marisa Hadi; Mufrod Mufrod; Endang Diyah Ikasar
Majalah Farmaseutik Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.84 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v10i1.24108

Abstract

Bee Pollen memiliki sifat higroskopis, sehingga granulasi basah adalah metode yang tepat dalam pembuatan tablet kunyah bee pollen. Pengeringan granul merupakan salah satu tahap yang penting dalam granulasi basah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengeringan menggunakan oven terhadap karakteristik fisik granul dan tablet yang meliputi kandungan lembab, kecepatan alir, kompresibilitas, kerapuhan granul, kekerasan dan kerapuhan tablet, serta mencari pengeringan optimum yang dapat menghasilkan tablet kunyah bee pollen yang baik. Persamaan factorial design digunakan untuk optimasi dengan 2 faktor (suhu dan waktu) dan 2 level (suhu : level rendah-tinggi = 50-70°C, waktu : level rendah-tinggi = 1-3 jam), sehingga terdapat 4 formula pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan waktu pengeringan masing-masing berpengaruh signifikan terhadap kandungan lembab, kecepatan alir , kompresibilitas, kerapuhan granul, serta kekerasan dan kerapuhan tablet. Interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap kekerasan tablet. Pengeringan optimum adalah suhu 57,65°C selama 3 jam dengan nilai kandungan lembab 2,88%, kecepatan alir 11,27 g/detik kompresibilitas 4,49%, kerapuhan granul 3,24%, kekerasan tablet 6,61 kg, dan kerapuhan tablet 0,32%.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN LOTION O/W PATI KENTANG (Solanum tuberosum L.) SERTA AKTIVITASNYA SEBAGAI TABIR SURYA Oktaviasari, Luky; Zulkarnain, Abdul Karim
Majalah Farmaseutik Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pati kentang memiliki sifat opaque yang tidak dapat ditembus cahaya tetapi dapat memantulkan sinar, bermanfaat untuk mencegah penetrasi radiasi sinar ultraviolet pada kulit. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh suatu produk tabir surya dari bahan alam, yaitu pati kentang dalam bentuk sediaan lotion.Percobaan menggunakan pati kentang yang dibuat sediaan lotion oil in water dengan variasi konsentrasi pati kentang 10; 12.5; 15; 17.5; dan 20% b/b. Evaluasi fisik formulasi lotion yang telah dibuat dilakukan selama penyimpanan dengan pemeriksaan mutu  fisik, homogenitas, pH, viskositas, uji daya sebar, uji daya lekat, serta stabilitas sediaan dengan siklus freeze thaw. Aktivitas tabir surya dilakukan dengan mencari nilai faktor pelindung surya atau Sun Protecting Factor (SPF) sediaan lotion pati kentang yang ditentukan secara in vivo menggunakan kelinci albino yang sebelumnya diinduksi dengan pemberian 8-MOP atau methoksalen, kemudian disinari dengan lampu UV.Variasi konsentrasi pati kentang sebesar 15% memberikan lotion yang stabil berdasarkan dari parameter organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat dan stabilitas sediaan yang dipercepat. Peningkatan konsentrasi pati kentang memberikan pengaruh terhadap stabilitas fisik selama penyimpanan. Lotion oil in water pati kentang dengan konsentrasi 15% memiliki aktivitas sebagai tabir surya dengan nilai SPF sesuai nilai standar yaitu sebesar 15.
BARIER DAN FASILITATOR PENERAPAN PHARMACEUTICAL CARE PADA FARMASI KOMUNITAS : SEBUAH TINJAUAN M Rifqi Rokhman
Majalah Farmaseutik Vol 6, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.005 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v6i3.24046

Abstract

Pharmaceutical care dianggap sebagai model untuk pelayanan apoteker di masa mendatang. Perkembangan pharmaceutical care pada farmasi komunitas ternyata lebih lambat dari yang diharapkan. Penelitan yang ada menunjukkan bahwa kecepatan penerapan pharmaceutical care dipengaruhi oleh faktor yang dapat dikelompokkan menjadi barier dan fasilitator. Barier akan menghambat penerapan pharmaceutical care sedangkan fasilitator akan mempercepat penerapan pharmaceutical care. Pendekatan penelitian sudah tidak lagi sebatas menggunakan pendekatan behavioural theory namun juga berkembang menggunakan pendekatan organisasi. Penelitian yang ada menunjukkan tidak ada satu barier dengan fasilitator tertentu yang menjadi penentu utama keberhasilan penerapan pharmaceutical care pada farmasi komunitas. Beberapa barier dan fasilitator dianggap mempunyai pengaruh yang kuat yang ditunjukkan dengan banyaknya penelitian yang mengarah kepada barier dan fasilitator tersebut. Barier tersebut berupa kurangnya sistem remunerasi untuk layanan baru, kesulitan pembagian waktu antara mengembangkan pharmaceutical care dan tugas untuk distribusi obat, kurangnya pengetahuan klinis dari apoteker, rendahnya hubungan dengan dokter, dan dukungan organisasi profesi. Fasilitator tersebut berupa perlunya pelatihan bagi apoteker, perlunya renumerasi untuk layanan, perbaikan hubungan dengan dokter, pemanfaatan SDM yang ada dengan lebih baik, dan perlunya asistensi atau dukungan dari luar.
AKIBAT PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PORTAL TERHADAP EPISODE KEJADIAN HEMATEMESIS-MELENA PADA PASIEN DENGAN SIROSIS HATI DI RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA Eka Purnomo; Djoko Wahyono; Dewa Putu Pramantara
Majalah Farmaseutik Vol 8, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.067 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v8i3.24074

Abstract

Hematemesis dan atau Melena merupakan keluhan yang sering terjadi pada penderita sirosis hati dengan varises gastroesofagus. Hematemesis dan atau Melena terjadi karena perdarahan varises. Setiap episode perdarahan membawa risiko kematian sebesar 25% - 30%. Pencegahan perdarahan varises dengan menggunakan obat anti hipertensi portal yang tepat dapat mengurangi risiko kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat antihipertensi portal serta mengevaluasi penggunaan obat antihipertensi portal yang meliputi: ketepatan dosis dan luaran terapi. Penelitian ini bersifat observasi deskriptif dan dikerjakan secara retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang menerima obat antihipertensi portal pada periode Januari 2008 hingga Desember 2010. Data yang diperoleh dikaji dan dibahas dengan acuan guidelines terbaru. Sebanyak 41 kasus inklusi menunjukkan bahwa 92,7% pasien menggunakan propranolol dan 7,3% pasien menggunakan isosorbid mononitrat. Luaran penggunaan obat antihipertensi portal berdasarkan kejadian hematemesis dan atau melena yaitu pada pasien yang menggunakan propranolol sebagai profilaksis primer terdapat satu pasien (11.1%) yang mengalami hematemesis sedangkan pada pasien yang menggunakan isosorbid mononitrat dapat mencegah terjadinya hematemesis dan atau melena. Pada pasien yang menggunakan propranolol sebagai profilaksis sekunder terdapat 11 pasien (37,9%) yang mengalami hematemesis dan atau melena sedangkan pada pasien yang menggunakan isosorbid mononitrat tidak dapat mencegah terjadinya hematemesis dan atau melena.
EVALUATION OF GOOD DISTRIBUTION PRACTICE (GDP) IMPLEMENTATION IN DRUG STORE AT MLATI, SLEMAN, YOGYAKARTA Isna Sugih Hartini; Marchaban Marchaban
Majalah Farmaseutik Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.404 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v12i1.24133

Abstract

Drug distribution is an important process in maintaining efficacy, safety, and quality of a drug after manufacturing process. Good Distribution Practices (GDP) should be implemented in distribution facilities included pharmacies. Drug quality should be main concern until the drug is administered to patients. This study is intended to determine GDP implementation and follow-up steps that should be implemented to pharmacies in Mlati, Sleman, Yogyakarta. It is a descriptive qualitative study conducted on pharmacies by reviewing the application of GDP upon the profile aspects of facilities, buildings and equipment, procurement, reception and storage, distribution, handling of product returns and expire date, etc. Primary data obtained by interviewing head of pharmacists (APA) or vice of head pharmacists using the check-list form. Subsequently, the data are analyzed qualitatively to determine the follow-up steps which should be taken to pharmacies that are not eligible to operate. The results showed that no one of pharmacy absolutely follows the GDP rule, 88.89% of pharmacies should be warned seriously, and 11,11% of pharmacies should be suspended temporarily.
ANALISIS KEBUTUHAN APOTEKER DI PUSKESMAS-PUSKESMAS KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Anna Wahyuni Widayanti; Septimawanto Dwi Prasetyo; Suwaldi M
Majalah Farmaseutik Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v6i1.24032

Abstract

Penelitian ini akan melihat apakah puskesmas-puskesmas di wilayah kabupaten Bantul, DIY membutuhkan apoteker. Analisis terhadap kebutuhan ini didasarkan pada tiga macam responden. Responden pertama adalah tenaga farmasi, yang kedua adalah pasien dan yang ketiga sebagai pendukung adalah kepala puskesmas. Pengambilan data dilakukan terhadap pasien dan tenaga farmasi dengan alat berupa kuesioner. Sedangkan pengambilan data terhadap responden kepala puskesmas dilakukan dengan pengisian kuisioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paling tidak ada 7 alasan mengapa apoteker diperlukan di puskesmas, yaitu dari aspek pengelolaan obat, pelayanan resep, tingkat beban kerja seorang Asisten Apoteker, item materi informasi obat yang diberikan kepada pasien, ketidak adanya konseling, pengadaan obat yang lebih ekonomis dan adanya share informasi obat dengan tenaga kesehatan yang lain.

Page 7 of 51 | Total Record : 507