cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Pembuatan N-Asetilglukosamin dari Limbah Udang (Penaeus monodon) dengan Bantuan Kapang Beauveria bassiana Ratna Handayani; Fabiola Fabiola
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.355 KB)

Abstract

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan jenis udang yang paling banyak diekspor oleh Indonesia, sehingga limbah yang berupa kulit, kepala, dan ekor mengalami peningkatan. Di dalam kulit udang, terkandung 15-20% kitin. Kitin dapat dihidrolisis menggunakan enzim kitinase untuk menghasilkan N-asetilglukosamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu optimum, pH optimum dan waktu fermentasi optimum dalam pembuatan N-asetilglukosamin dari limbah kulit udang dengan bantuan kapang Beauveria bassiana. Kitin dibuat dengan terlebih dahulu melakukan demineralisasi dan deproteinasi terhadap serbuk kulit udang. Produksi N-asetilglukosamin menggunakan fermentasi substrat padat, dengan kitin sebagai substrat padat. Dari penelitian ini, kondisi optimum yang dipilih dalam produksi N-asetilglukosamin dengan bantuan kapang Beauveria bassiana ialah pada suhu 25°C, pH 7, dan waktu fermentasi pada hari ke-7. Kata Kunci: Beauveria bassiana, Kitin, N-asetilglukosamin 
Budidaya Ikan Bandeng dalam Keramba Jaring Apung di Muara Sungai Borongkalukua, Kabupaten Maros Erfan A. Hendrajat
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.88 KB)

Abstract

Ikan bandeng merupakan komoditas perikanan yang bersifat euryhalin (memiliki toleransi yang luas terhadap salinitas) dan dapat ditebar dengan kepadatan tinggi sehingga dapat dibudidayakan dalam keramba jaring apung (KJA) di laut dan muara sungai. Budidaya ikan bandeng dalam keramba jaring apung di muara sungai Borongkalukua sudah dilakukan sejak tahun 2.000 hingga sekarang. Unit KJA terdiri dari jaring dengan mesh size 1 inchi yang dipasang pada rangka rakit terbuat dari kayu kumia/bayam berukuran 4x4 m2 per petak yang diikatkan pada drum plastik sebagai pelampung. Penebaran benih ikan bandeng dengan berat awal 10 gr/ekor dilakukan pada bulan Maret dengan padat penebaran 2.500 ekor/petak. Pakan yang digunakan adalah mie apkir dan pakan komersil (pakan terapung) yang diberikan pada pagi dan sore hari. Panen dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 bulan dengan sintasan 85% dan berat akhir 250 gr/ekor atau produksi mencapai 540 kg/petak KJA dengan keuntungan per siklus sebesar Rp. 6.567.500. Kata kunci: Ikan bandeng, keramba jaring apung, muara sungai, Borongkalukua 
Re-Formulasi Pengembangan Daya Saing Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Bone (Studi Kasus, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone) Andi Adri Arief; Harnita Agusanty; Muh. Dalvi Mustafa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.826 KB)

Abstract

Jurnal ini mendiskusikan tentang faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap pengembangan budidaya rumput laut, dan (3) menentukan strategi pengembangan budidaya rumput laut di Kecamatan Tanete Riattang Timur. Dasar penelitian ini adalah studi kasus. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dan participatory rapid appraisal. Data dianalisis secara kualitatif. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling pada 45 orang responden di 6 kelurahan pantai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap pengembangan budidaya rumput laut adalah tersedianya lahan 85,9 % dengan kondisi layak, tenaga kerja , kelayakan usaha sebesar 1,34 berdasarkan analisis OI/Ratio, akses permodalan, pemasaran hasil, penanganan pascapanen, dan kebijakan pemerintah daerah. Strategi pengembangan yang dapat dilakukan adalah penataan lahan dan desain konstruksi metode budidaya, penerapan metode long line dan rakit apung pada perairan lepas pantai, mengaktifkan penyuluhan sistem “laku” (latihan dan kunjungan), pengaturan jadwal tanam, bimbingan teknis budidaya dan manajemen usaha, membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB), perencanaan lokasi budidaya dengan melibatkan stakeholders, membuat zonasi wilayah pesisir dan laut, membentuk kemitraan antara pembudidaya dengan pengusaha, dan memberikan bantuan permodalan dengan sistem bergulir dan kredit dengan subsidi bunga. Kata Kunci: Rumput Laut, Budidaya, Pengembangan 
Pengaruh Kombinasi Dosis dan Frekuensi Pemberian Pakan Terhadap Rasio Konversi Pakan Juvenil Udang Vaname di Tambak Zainuddin Zainuddin; Siti Aslamyah; Hasni Y. Azis; Hadijah Hadijah
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.95 KB)

Abstract

Produksi udang vaname di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dalam satu dasa warsaterakhir. Salah satu masalah pokok dalam budidaya udang vaname di tambak adalah tingginyapenggunaan pakan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kombinasi dosis dan frekuensipemberian pakan terhadap rasio konversi pakan (FCR) pada budidaya udang vaname di tambak.Juvenil udang vaname dipelihara di dalam hapa berukuran 1 m x 1 m x 1 m yang ditempatkan didalam tambak. Pakan yang digunakan adalah pakan dengan sumber karbohidrat tepung jagungyang disubstitusi dengan tepung ubi jalar sebanyak 50%. Rancangan penelitian yang digunakanadalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial. Faktor pertama adalah dosis 3%, 6% dan 9% danfaktor kedua frekuensi pemberian pakan 3, 4 dan 5 kali per hari. Setiap kombinasi perlakuan diberiulangan masing-masing 3 kali sehingga jumlah satuan percobaan sebanyak 27 unit. Pemeliharaanudang dilakukan selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang diterapkanmemberikan pengaruh yang positif terhadap parameter uji. FCR terbaik sebesar 1.02-1.12diperoleh pada kombinasi perlakuan dosis 3% dan frekuensi pemberian 3 dan 5 kali per hari.Kata kunci: dosis, frekuensi pakan, FCR, kombinasi, vaname.
Musim Pemijahan Ikan Tongkol Lisong (Auxis rochei Risso,1810) di Perairan Majene Sulawesi Barat Muh. Arifin Dahlan; Budiman Yunus; Moh. Tauhid Umar; Muhammad Nur
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.979 KB)

Abstract

Tongkol lisong dengan nama latin Auxis rochei merupakan salah satu ikan pelagis dari familiscombridae yang banyak ditangkap oleh nelayan di Perairan Selat Makassar terkhusus di PerairanMajene, Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan menganalisis musim pemijahan ikan tongkol diperairan Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Pengambilan sampel dilaksanakan selama enam bulansejak Mei hingga Oktober 2018 di Kel. Pangali-Ali Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat.Penangkapan ikan menggunakan alat tangkap jaring lingkar dan pancing. Ikan diukur panjang,ditimbang beratnya, dibedah, diidentifikasi jenis kelamin dan tingkat kematangannya gonadnya.Untuk menentukan musim pemijahan ikan tongkol dilakukan analisis Indeks Kematangan Gonad(IKG). Indeks kematangan gonad adalah suatu nilai dalam persen yang merupakan hasil dariperbandingan antara bobot gonad dan bobot tubuh. Berdasarkan hasil penelitian jumlah ikantongkol diperoleh selama penelitian sebanyak 372 ekor ikan (216 jantan dan 156 betina). Hasilanalisis IKG ikan tongkol lisong di pada setiap waktu pengambilan sampel k di perairan Majenemenunjukkan nilai IKG tertinggi diperoleh pada Bulan Agustus. Tingginya Nilai IKG tertinggipada bulan tersebut diduga merupakan puncak pemijahan.Kata kunci: ikan tongkol, musim pemijahan, Majene.
Perikanan Ikan Terbang dan Perikanan Lainnya di Perairan Fakfak Fanny Simatauw; Paulus Boli; Selvi Tabay; Simon Leatemia; Dedi Parenden; Andra Ananta
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.226 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya perikanan di perairan Kabupaten Fakfak, Papua Barat dilakukan olehnelayan lokal dan pendatang untuk mengumpulkan telur ikan terbang dan produk ikan pelagis dandemersal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan ikan terbang dan kapal penangkapikan lainnya, termasuk dimensi dan ukuran kapal, serta peralatan pendukung yang digunakandalam operasi penangkapan ikan untuk ikan terbang dan jenis ikan lainnya di perairan Fakfak.Penelitian ini dilakukan di daerah penangkapan ikan di perairan Fakfak dari Oktober hinggaNovember 2017. Metode pengumpulan data dilakukan secara deskriptif dengan teknik observasidan wawancara terstruktur. Untuk dimensi dan ukuran kapal, selain berdasarkan data pemeriksaanfisik kapal, dilakukan pencatatan terhadap kondisi fisik kapal dan kelengkapan peralatan kapalpenangkap ikan. Nelayan di Kabupaten Fakfak tersebar di sembilan kecamatan tetapi yangdominan adalah Kecamatan Fakfak, Kokas dan Karas. Jumlah kapal pengumpul telur yangberoperasi adalah pada tahun 2017 terdapat 170 kapal yang memiliki panjang 10-20 meter, lebar1,9 hingga 2,8 meter dan kedalaman 0,7-1,5 meter, dan ukuran tonase rata-rata 10 GT. Alatpengumpul telur ikan terbang di Fakfak adalah rumpon hanyut yang disebut bale-bale, dengansebanyak 50-100 unit per kapal. Jenis alat tangkap lain untuk menangkap ikan pelagis adalah bagan(lift net), pancing ulur (hand line), pancing tonda (troll line), huhate (pole and line), rawai (minilong line), jaring insang (gill net), pukat cincin kecil (mini purse seine) dan sero (traps). Untukikan demersal alat yang digunakan adalah dalam pancing ulur (hand line) dan jaring insang (gillnet).Kata Kunci: perikanan, kapal, alat tangkap, ikan terbang, Fakfak
Efisiensi Penyerapan Kuning Telur Pralarva Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) pada Suhu Yang Berbeda Zulfiani Zulfiani; Muhammad Iqbal Djawad; Zainuddin Zainuddin; Hamka Hamka; Iman Sudrajat
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.01 KB)

Abstract

Pengembangan budidaya kakap putih masih terkendala beberapa masalah antara lain kematianyang tinggi pada fase larva khususnya pada fase endogenous ke exogenous. Fase ini terjadi adanyaperpindahan sumber makanan dan kesenjangan pemanfaatan energi, yaitu saat kuning telur larvatelah habis, dan belum melakukan proses organogenesis secara sempurna. Suhu merupakan salahsatu parameter kualitas air yang secara langsung berperan penting dalam mempengaruhi kondisifase tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu terhadap efisiensipenyerapan kuning telur pralarva ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch). Penelitian dilakukanpada bulan Mei 2019 Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar. Penelitian ini menggunakanrancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, suhu yaitu 24°C, 28°C, 32°C, dan 36°C.Parameter yang diamati yaitu laju penyusutan kuning telur, laju pertumbuhan dan efisiensipenyerapan kuning telur. Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan laju penyerapankuning telur pada suhu yang berbedaKata Kunci : Kakap putih, suhu, penyerapan kuning telur, pralarva.
Analisis Sarana Produksi Tambak di Kawasan Inti Minapolitan Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan Admi Athirah; Ruzkiah Asaf; Tarunamulia Tarunamulia
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.291 KB)

Abstract

Permasalahan dalam usaha budidaya tambak di Kabupaten Pinrang khususnya di Kawasan IntiMinapolitan Kecamatan Suppa antara lain adalah tingginya harga saprodi dan terbatasnyapenerapan budidaya tambak ramah lingkungan serta rusaknya ekosistem lingkungan pesisir danareal pertambakan sehingga produksi tidak optimal. Kendala dan permasalahan dalam usahabudidaya tambak perlu diperhatikan, karena selain menjadi tantangan juga dapat menjadi ancamanuntuk pengembangan budidaya tambak. Oleh karena itu sarana produksi tambak di daerah Pinrangperlu analisis untuk mengetahui kebutuhan yang sesuai untuk budidaya tambak. Penelitiandilaksanakan bulan Maret – November 2018 di tambak Kawasan Minapolitan Kecamatan Suppa,Kabupaten Pinrang. Analisa kualitas air dan tanah dilakukan di Laboratorium BRPBAP3 Maros.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pengumpulan dataobservasi dan teknik sampling secara acak. Analisa data dilakukan secara deskriptif dengansoftware SPSS. Materi penelitian adalah perkembangan produksi tambak Kab.Pinrang selama 10tahun terakhir dan data kualitas air tambak baik fisik, kimia maupun biologi serta penyebarankuisioner yang melibatkan stakeholder yang terdiri dari :pembudidaya, penyuluh,distributor/penjual saprodi dan tokoh masyarakat di wilayah penelitian dan Dinas Kelautan danPerikanan Kabupaten Pinrang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usahabudidaya tambak di Kabupaten Pinrang berada pada kondisi yang relatif stabil dengan jumlahvolume dan nilai produksi yang semakin meningkat dengan komoditas andalan ikan bandeng danudang vannamei. Pengembangan budidaya tambak di Kabupaten Pinrang dapat dilakukan denganmemperhatikan kebutuhan dasar saprodi dan teknologi budidaya tambak.Kata Kunci :Analisis, Sarana Produksi, Tambak Lowita, Kabupaten Pinrang
Pola Distribusi Temporal Struktur Ukuran dan Jenis Kelamin Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Sekitar Hutan Mangrove Selat Tiworo, Sulawesi Tenggara, Indonesia Oce Astuti; La Sara; Safilu Safilu
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.41 KB)

Abstract

Perikanan rajungan di Sulawesi Tenggara dikenal sejak 3 dekade lalu. Organisme ini dieksploitasiintensif sejak 1 dekade terakhir karena harganya sangat tinggi. Populasinya menjurus pada overeksploiasi yang ditunjukan antara lain ukuran lebar karapas (LK) semakin kecil (< 6.0 cm) danjumlah rajungan betina semakin berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui poladistribusi struktur ukuran LK setiap jenis kelamin dan sex rasio rajungan di perairan sekitar hutanmangrove. Sample rajungan diperoleh setiap bulan menggunakan alat tangkap bubu. Sample yangdiperoleh diidentifikasi jenis kelaminnya, diukur LKnya menggunakan caliper (0.1 cm) danditimbang bobot tubuhnya menggunakan elektonic balance (1 g). Data yang diperolehdikelompokan dan dihitung menurut jenis kelamin dan stuktur ukuran LK, yaitu LK < 6.0 cm(juvenile), 6.0 – 8.9 cm (remaja), dan > 9.0 cm (dewasa). Signifikansi sex rasio diuji menggunakanChi-square (α = 0.05). Hasil penelitian menunjukan rajungan LK < 6.0 jantan dan betina terbanyakpada Juli, kemudian menurun dan berfluktuasi hingga Desember. Sebaliknya, rajungan jantan danbetina LK 6.0 – 8.9 cm dan LK > 9.0 cm mempunyai pola fluktuasi distribusi relatif sama, kecualirajungan betina meningkat pada Oktober kemudian menurun drastis pada November danDesember. Sex rasio jantan dan betina umumnya tidak seimbang (jantan < betina), terutama padabulan Juli, Agustus, Oktober, dan Desember. Penelitian ini menunjukan kelimpahan rajungan LK6.0 – 8.9 cm lebih dominan dibandingkan juvenile dan dewasa. Implikasi data ini menjelaskanbahwa perairan di dekat hutan mangrove disenangi rajungan juvenile dan remaja. Diperkirakansetelah mencapai ukuran dewasa, rajungan remaja tersebut akan menuju ke perairan laut dalam.Kata kunci: distribusi temporal, struktur ukuran, sex rasio, Portunus pelagicus.
Struktur Ukuran dan Performa Pertumbuhan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Didaratkan di PPI Labuan Bajo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah Nur Hasanah; Yoke Hany h Restiangsi; Sharifuddin Bin Andy Omar; Muh. Saleh Nurdin
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.104 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur ukuran, hubungan panjang berat, dan faktor kondisiikan cakalang (Katsuwonus pelamis) yang didaratkan di PPI Labuan Bajo Kabupaten Donggala.Penelitian dilakukan pada bulan Maret, Agustus dan November 2016. Sampel diambil dari hasiltangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap pancingulur dan purse seine. Hubunganpanjang berat dan faktor kondisi dianalisis sesuai formula yang digunakan oleh King. Hasilpenelitian menunjukkan panjang cagak (FL) ikan cakalang pada bulan Maret, Agustus, danNovember masing-masing diperoleh kisaran antara 28-45, 21-51, dan 21-47 cmFL dengan panjangmaksimal 51 cmFL. Hubungan panjang berat ikan cakalang jantan dan betina bersifat allometrikpositif. Faktor kondisi jantan dan betina masing-masing berkisar antara 0,9763 – 1,0517 dan0,9686 – 1,0759. Ikan betina memiliki kondisi lebih baik dari pada ikan jantan. Ikan betina belummemasuki fase pemijahan sehingga faktor kondisinya tinggi.Kata kunci: ikan cakalang, ukuran, hubungan panjang berat, dan faktor kondisi.

Page 4 of 19 | Total Record : 184