cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Keragaman Ikan di Perairan Ekosistem Mangrove Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu Heru Setiawan; Mursidin Mursidin; Dian Purbarani; Tri Astuti Wulandari
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.466 KB)

Abstract

Mangrove merupakan sumberdaya laut yang memiliki fungsi dan peran sangat penting bagi biotalaut, terutama sebagai tempat tinggal sementara atau tetap, tempat mencari makan, migrasi,bereproduksi, memijah dan membesarkan anak bagi berbagai jenis ikan yang berasosiasi denganhabitat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan padaekosistem mangrove hasil rehabilitasi masyarakat Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, JawaBarat. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif. Metode pengumpulan datadilakukan dengan observasi, pengukuran langsung, dan wawancara (depth interview). Analisisdata dilakukan dengan analisis diskriptif kuantitatif, analisis indeks keragaman jenis, indekskekayaan jenis, indeks dominansi jenis dan indeks kemerataan jenis. Hasil penelitianmenunjukkan, komposisi jenis ikan di perairan mangrove Desa Karangsong terdiri atas 35 jenisyang digolongkan dalam 22 suku. Beberapa jenis ikan dengan kelimpahan tertinggi adalah ikanserinding (Ambassis nalua), ikan gelodok tinggil (Periophthalmodon schlosseri), ikan pethek(Leiognathus equulus) dan ikan longgo (Gobius paganellus). Hasil analisis indekskeanekaragaman Shanon-Wiener (H‘) menyatakan bahwa indeks keanekaragaman jenis ikan diperairan mangrove Desa Karangsong sebesar 2,261 yang termasuk dalam kategori "Sedang".Indeks kekayaan jenis ikan termasuk dalam kategori “Tinggi” dengan nilai indeks kekayaan jenissebesar 5,882. Indeks dominansi jenis ikan di perairan mangrove Desa Karangsong termasukdalam kategori “Rendah” (0,228). Indeks kemerataan jenis termasuk dalam kategori “Tinggi”dengan nilai indeks kemerataan sebesar 0,636.Kata kunci: keragaman ikan, ekosistem mangrove, Desa Karangsong.
Produksi Lamun Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Tanjung Tiram, Poka, Teluk Ambon Dalam Charlotha Irenny Tupan; Mintje Wawo
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.763 KB)

Abstract

Lamun memiliki produktivitas organik yang tinggi sehingga mampu menunjang keanekaragamanbiota suatu perairan. Produktivitas lamun berhubungan erat dengan laju pertumbuhan, dimana lajupertumbuhan yang tinggi akan menghasilkan produktivitas yang tinggi pula. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis pertumbuhan, produksi dan biomassa lamun T. hemprichii padasubstrat yang berbeda di perairan pantai Tanjung Tiram, Poka, Teluk Ambon Dalam. Penelitianini dilakukan pada 2 stasiun penelitian yaitu stasiun 1 dengan substrat dasar perairan campuranpasir dan kerikil dan stasiun 2 dengan substrat dasar pasir berlumpur. Metode yang digunakanadalah metode penandaan pada daun. Penandaan dilakukan pada 30 tegakan T. hemprichii dalamselang waktu 5 hari selama 20 hari pada masing-masing stasiun. Laju pertumbuhan lamun T.hemprichii diperoleh berkisar antara 0.24±0.24 – 0.38±0.45 cm.hr-1. Produksi berkisar antara10.13 - 19.55 gbk.m-2hr-1 dan biomassa berkisar antara 11.88 – 21.70 gbk.m-2. Pertumbuhan,produksi dan biomassa T. hemprichii lebih tinggi pada substrat pasir berlumpur (St 2) yangdidukung dengan tingginya kandungan fosfat dan nitrat sedimen, serta memiliki kecepatan pulihyang berkisar antara 9.0 – 9.16 %.Kata kunci: Biomassa, Pertumbuhan, Penandaan, Substrat.
Zona Potensial Penangkapan Ikan Pelagis Besar di Perairan Teluk Bone Safruddin Safruddin; Baso Aswar; Rachmat Hidayat Hidayat; Saiful Saiful; Yashinta Kumala Dewi; Moh. Tauhid Umar; St. Aisjah Farhum; Mukti Zainuddin; Achmar Mallawa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.196 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menyediakan informasi tentang zona potensial penangkapan ikan (ZPPI)pelagis besar di Teluk Bone berdasarkan pola hubungan antara fluktuasi hasil tangkapan ikan poleand line dan dinamika kondisi oseanografi secara spatial dan temporal yang ditemukan selamapenelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan model kombinasi fishingperformance-oceanographic preferences dan dipetakan dengan menggunakan GeographicInformation System (GIS) dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember atau dalam siklussatu (1) tahun. Dinamika spasial dan temporal parameter oseanografi seperti suhu permukaan lautdan densitas klorofil-a berbeda dalam skala bulanan dan musiman sehingga ZPPI pelagis besarjuga berubah dalam skala tersebut. Zona potensial penangkapan ikan pelagis besar di PerairanTeluk Bone yang paling produktif terbentuk pada bulan April s.d September. Sedangkan bulanlainnya (Desember s.d Maret ) ditemukaan bahwa ikan pelagis baru bergerak masuk ke perairanTeluk Bone dari arah Selatan. Pada Bulan Oktober dan November, ikan pelagis besar membentukformasi yang besar di bagian Selatan Teluk Bone- Laut Flores. Berdasarkan hal tersebut di atas,strategi pengelolaan alat tangkap di Perairan Teluk Bone seharusnya diterapkan berdasarkan petadaerah potensial penangkapan ikan pelagis besar. Informasi ini sangat dibutuhkan nelayan danstakeholders untuk pengaturan kalender penangkapan ikan dalam rangka optimalisasi pemanfaatanpotensi ikan pelagis besar yang sudah dipetakan.Kata kunci: Ikan pelagis besar, ZPPI, Teluk Bone.
Kajian Kesesuaian Lingkungan Perairan untuk Budidaya Rajungan dalam Karamba Jaring Ditenggelamkan di Perairan Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan Ihsan Ihsan; Asbar Asbar; Asmidar Asmidar
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.402 KB)

Abstract

Kajian kesesuaianlingkungan perairan untul budidaya rajungan dalam karamba jaringditenggelamkan di perairan Kabupaten Pangkep, bertujuan mengkaji kesesuaian lingkunganperairan terkait fisika dan kimia oseanografi untuk budidaya rajungan dan mengkaji kesesuaianlokasi budidaya rajungan di perairan Kabupaten Pangkep. Penelitian di laksanakan di perairanKabupaten Pangkep pada A p r i l s / d Desember 2017. Bahan dan alat yang digunakan meliputicurrent meter, handrefraktor meter, DO meter, kamera bawah air,thermometer, global positioningsystem,label, alattulis, dan seichidisk.Data dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Dataprimer diperoleh dengan cara pengukuran langsung dilapangan terhadap potret kondisisumberdaya rajungan,benih rajungan,biogeofisik perairan dan lingkungannya.Data sekunderdikumpulkan pada instansi terkait. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif yakni untukmenentukan kesesusian lingkungan perairan dan analisis kesesuaian lokasi budidaya rajunganmenggunakan sistem informasi geografis, metode ArcView, dengan perangka tkeras, danlunak.Hasil pengukuran aspek fisika dan kimia oseanografi, menunjukan adanya perbedaan nilaiparameter fisika dan kimia oseanografi yang terukur berdasarkan topografi perairan dengankisaran nilai antara lain: oksigen terlarut 5,1 - 10,7mg/l, salinitas 7 – 35 ‰, suhu 32 - 34,4 0 C danpH 7 – 8, sesuai kriteria parameter kualitas air ini layak untuk budidaya rajungan. Selanjutnyahasil analisis spasial kesesuain perairan untuk kegiatan budidaya rajungan dalam karamba jaringditenggelamkandengan menggunakan indikator suhu, salinitas, oksigen, pH dan kecerahandiperoleh 3 kriteris kesesuaian meliputi: sesuai luasnya 89.131,37 ha; cukup sesuai luasnya109.164,87 ha; dan tidak sesuai luasnya 4.577,56 ha.Kata kunci : lingkungan; perairan; kesesuaian;  budidaya; rajungan; karamba jaring ditenggelamkan; Pangkep. 
Kualitas Kesehatan Ekosistem Benua Maritim Indonesia untuk Keberlanjutan Sumber Daya Ikan Akbar Tahir
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.79 KB)

Abstract

Suatu ekosistem terdiri atas tumbuhan, hewan dan mikroorganisme (komunitas biologis) yang berinteraksi satu sama lain, juga dengan lingkungan fisik dan kimia, serta dengan ekosistem sekitar dan atmosfir. Struktur dan berfungsinya ekosistem didukung oleh hasil interaksi dan umpan balik antara organisme dengan lingkungannya (biogeofisik). Pada setiap ekosistem, makhluk hidup membentuk suatu komunitas yang berinteraksi satu sama lain, dengan udara, air dan tanah/sedimen di sekitarnya. Ekosistem-ekosistem ini menyediakan sejumlah besar bahan dan jasa (jasa-jasa ekosistem) yang menopang kehidupan makhluk hidup. Jasa ekosistem adalah “manfaat yang diterima makhluk hidup (termasuk manusia) dari ekosistem, termasuk penyediaan jasa-jasa seperti bahan makanan dan air (provisioning services), pengendalian banjir dan kekeringan, degradasi lahan dan penyakit (regulating services), demikian juga dengan jasa-jasa lainnya seperti pembentukan tanah/sedimen dan siklus nutrien, serta jasa-jasa kebudayaan seperti rekreasi, spiritual, keagamaan dan manfaat non-material lainnya”. Tindakan-tindakan untuk mengkonservasi keanekaragaman hayati ini jelas akan menghasilkan perlindungan dan keberlanjutan dari barang dan jasa yang disediakan ekosistem. Sehingga upaya-upaya memelihara atau menjaga kesehatan ekosistem sangat bermanfaat dalam memperkuat konservasi keanekaragaman hayati. Penelaahan kesehatan ekosistem (ecosystem health) merupakan salah satu prioritas utama saat ini, baik oleh ilmuwan, manajer maupun pemerintahan di seluruh belahan dunia. Tekanan yang menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan ekosistem (masa kini dan masa mendatang) termasuk hilangnya habitat alami (misalnya: akibat perubahan pola penggunaan lahan, ekosistem terumbu karang semakin berkurang, rusaknya habitat dasar perairan akibat trawling), perubahan iklim, invasi spesies asing, masuknya nutrien bahan cemar, eksploitasi berlebihan (terhadap stok ikan) serta faktor-faktor lainnya. Dampak utama relatif dari tekanan-tekanan ini sangat berbeda bagi ekosistem-ekosistem yang kita ketahui, namun diyakini akan terus berkontribusi pada penurunan populasi spesies dan hilangnya keanekaragaman hayati pada beberapa dekade mendatang. Terutama apabila tidak diadakan regulasi dan pengontrolan ketat bagi kegiatan-kegiatan manusia yang mendominasi seluruh fungsi-fungsi ekologis. Ekosistem-ekosistem yang didominasi oleh aktivitas manusia, termasuk berbagai sistem biofisik mengalami tekanan sedemikian tingginya hingga mengalami disfungsi, baik pada tingkat regional maupun global. Makalah ini membahas pentingnya memelihara kondisi kesehatan ekosistem utama di Benua Maritim Indonesia (BMI) untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya ikan. Kata kunci: kesehatan ekosistem, sumberdaya ikan, BMI. 
Karakterisasi Spektral Sedimen Tersuspensi di Perairan Muara Sungai Kota Makassar Menggunakan Citra Sentinel 2A Muhammad Banda Selamat; Marzuki Ukkas; Muhammad Farid Samawi
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.171 KB)

Abstract

Keberlangsungan hidup terumbu karang di pesisir dapat terganggu dengan tingginya sedimentersuspensi di perairan. Kota Makassar memiliki dua muara sungai besar, yaitu Sungai Tallo disebelah Utara dan Sungai Jeneberang di Selatan. Kedua sungai ini berkontribusi pada kondisikekeruhan perairan yang tinggi terutama pada saat musim penghujan. Ekosistem terumbu karangdan padang lamun di pesisir kota Makassar dapat terancam dengan situasi ini sehingga perludilakukan upaya pemantauan sebaran sedimen tersuspensi secara berkala. Sentinel 2A adalahsalah satu satelit penginderaan jauh yang memiliki resolusi spasial dan temporal yang tepat untukkegiatan pemantauan lingkungan pesisir. Sampling TSS (total suspended solid) telah dilakukandi muara Sungai Tallo dan Jeneberang pada waktu yang bersesuaian dengan satelit melintas yaitupada tanggal 6 dan 21 Maret 2019. Sampel TSS di ambil menggunakan van doorm water samplerpada kedalaman secchi disk dan selanjutnya dianalisis di laboratorium. Arah dan kecepatan arusditreking menggunakan GPS drifter. Hasil analisa laboratorium memperlihatkan TSS hasilsampling di Muara Sungai Tallo berkisar antara 53,8 mg/l hingga 103,4 mg/l dengan rata-rata 68,8± 16,7 mg/l. Kadar TSS di Muara Sungai Jeneberang adalah antara 44,2 mg/l hingga 69,1 mg/ldengan rata-rata 52,7 ± 8,1 mg/l. Kedalaman secchi disk pada saat sampling di Muara SungaiTallo adalah 1,4 ± 0,6 m dan di Muara Sungai Jeneberang adalah 0,8 ± 0,4 m. Pola spektral TSSdi muara Sungai Tallo berbeda dengan di muara Sungai Jeberang sehingga algoritma citra satelityang digunakan untuk pemantauan kedua muara sungai ini secara spesifik juga berbeda.Kata kunci :total suspended solid, Sentinel 2A, Jeneberang, Tallo, Makassar
Struktur Ukuran Ikan Madidihang (Thunnus albacares) Berdasarkan Rumpon di Teluk Bone Kabupaten Luwu Femiliani Novitasari; Alfa F.P. Nelwan; Aisjah Farhum
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2144.924 KB)

Abstract

Rumpon merupakan alat bantu penangkapan yang banyak digunakan dalam penangkapan ikantuna. Kepastian penangkapan menyebabkan penggunaan rumpon semakin meningkat, hal inidikhawatirkan berdampak pada perikanan tuna di masa akan datang. Pengelolaan perikanan tunamemerlukan data atau informasi awal tentang kondisi saat ini, seperti porsi tuna yang tertangkapdalam kategori baby tuna (tuna berukuran kecil). Informasi ini dapat dijadikan rujukan dalampengelolaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuidistribusi ukuran panjang dan bobot ikan serta menghitung presentasi ikan madidihang (Thunnusalbacares) layak tangkap di daerah rumpon di teluk bone. Data yang digunakan adalah hasiltangkapan pancing ulur di lima rumpon berbeda pada bulan september – april 2019. Analisismencakup perhitungan frekuensi panjang dan berat ikan berdasarkan kategori ukuran dan beratikan, penghitungan porsi ikan yang layak tangkap berdasarkan length at firstmaturity. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa ikan madidihang yang tertangkap di daerah rumpon di dominasipanjang cagak 60 – 85 cm dan berat ≤ 10 kg dengan pola pertumbuhan allometrik positif,kelompok ikan ini sebagian besar belum layak tangkap.Kata kunci: Struktur ukuran, madidihang, rumpon, teluk bone
Serapan Karbon Lamun Thalassodendron ciliatum di Perairan Panrangluhu Kabupaten Bulukumba Propinsi Sulawesi Selatan Supriadi Mashoreng; Rahima Rahman; Nurdina A. Rahman; Fathin Nur Rahman
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.243 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019 untuk mengestimasi penyerapan karbon oleh jenisThalassodendron ciliatum pada beberapa kedalaman perairan. Sampel lamun diambil utuh,kemudian daun lamun dibersihkan dari sedimen dan epifit. Metode perubahan oksigen digunakanuntuk mengestimasi serapan karbon. Sebanyak 1 tunas T. ciliatum diinkubasi menggunakan botolkaca bening dan gelap dengan volume 270 ml. Inkubasi dilakukan pada jam 09.00-12.00 WITApada kedalaman 50, 100 dan 150 cm dengan masing-masing 5 kali ulangan setiap kedalaman.Sebelum inkubasi, dilakukan pengukuran konsentrasi oksigen terlarut di perairan sebagaikandungan oksigen awal. Pengukuran oksigen di dalam botol beningdan gelap kembali dilakukansetelah inkubasi. Sebagai kontrol, inkubasi juga dilakukan pada air laut (mengandungfitoplankton) dengan 5 kali ulangan. Daun lamun yang telah digunakan untuk pengamatan serapankarbon diukur luasnya dengan cara men-scan daun lamun dan dianalisis menggunakan softwareImage-J. Selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan oven dan ditimbang untuk mengetahuibiomassa keringnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serapan karbon per tunas berkisarantara 3,84-6,52 mgCO 2 /tunas/jam, per biomassa berkisar 28,51-48,45 mgCO 2 /gbk/jam, dan perluas daun berkisar 0,08-0,13 mgCO 2 /cm 2 /jam. Serapan karbon tertinggi didapatkan padakedalaman 150 cm, baik serapan karbon per tunas, biomass maupun luas daun. Berbeda denganpenyerapan karbon, pelepasan karbon relatif sama antar kedlaman. Pelepasan karbon per tegakanberkisar antara 3,18-3,91 mgO 2 /tegakan/jam, per biomassa daun berkisar 23,67-29,08 mgO 2 /gberat kering/jam dan per luas daun berkisar 0,30-0,034 mgO 2 /cm 2 /jam.Kata kunci: serapan karbon, lamun, Thalassodendron ciliatum, Panrangluhu Bulukumba,karbondiokasida, pemanasan global.
Studi Laju dan Pola Pertumbuhan Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) di Samudera Hindia (Kasus Penangkapan Selatan Kabupaten Malang) Agus Tumulyadi; Sunardi Sunardi; Gatut Bintoro; Hazmi Taris Abiseka; Alif Tulus Prasetyo
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.231 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui laju dan pola pertumbuhan ikan tuna sirip kuning(Thunnus albacares) di perairan Samudera Hindia Selatan Kabupaten Malang. Metode penelitianini menggunakan random sampling dimana total jumlah sampel 1712 ekor untuk analisis lajupertumbuhan dan 1672 ekor untuk analisis pola pertumbuhan, analisis yang digunakan a) analisislaju pertumbuhan ELEFAN I menggunakan program FISAT II, b) analisis pola pertumbuhanregresi linear. Hasil penelitian menjelaskan tentang koefisien laju pertumbuhan (K) sebesar0,20/tahun, L ∞ sebesar 178,95 cm, mortalitas total (Z) sebesar 1,32/tahun, mortalitas alami (M)sebesar 0,31/tahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar 1,02/tahun, nilai eksploitasi (E) sebesar0,77/tahun dan pola pertumbuhan hubungan panjang dan berat W=0,016L 3,054 dengan nilai R 2sebesar 0,993. Berdasarkan hasil penelitian nilai K = 0,20/tahun artinya mempunyai koefisien lajupertumbuhan yang cukup bagus mengingat range nilai K adalah (0,2 – 0,42)/tahun dan nilai bsebesar 3,054 menunjukkan pola pertumbuhan adalah allometrik positif pertambahan berat lebihcepat dari pada pertumbuhan panjang, sehingga perairan tersebut termasuk perairan yang subur.Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya penelitian secara periodik tentang penangkapandi Sendang Biru.Kata kunci: Ikan tuna sirip kuning, Laju Pertumbuhan dan Pola Pertumbuhan, Sendang Biru
Dampak Budidaya Rumput Laut Terhadap Sebaran dan Biodiversitas Makrozoobentos Parman Parakkasi; Chair Rani; Radjuddin Syamsuddin; Nadjamuddin Nadjamuddin; Supriadi Mashoreng
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.048 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk menganalisis dampak budidaya rumput laut terhadap sebaran dandiversitas makrozoobentos pada area budidaya dan sekitarnya. Penelitian dilakukan di PerairanPulau Karampuang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat pada bulan September-November2017. Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan sebelum dan setelah dilakukan budidayarumput laut dalam area budidaya serta 25 m dan 50 m dari area budidaya. Substrat dasar diambilmenggunakan Grab Sampler, kemudian diayak dengan sieve net (mesh size 0,5 mm) untukmemisahkan pasir dengan sampel makrozoobentos. Sampel substrat juga diambil sebanyak 200gram untuk dianalisis kandungan bahan organik total, keasaman dan potensi redoks. Sampelmakrozoobentos selanjutnya dianalisis di bawah makroskop untuk menentukan jenis dan jumlahindividunya. Perbandingan kelimpahan dan indeks keanekeragaman, antar jarak dari area budidayadan antar waktu diuji menggunakan Analisis Varians, sedangkan hubungan kelimpahan dan indekskeanekaragaman makrozoobentos dengan faktor lingkungan dianalisis menggunakan korelasipearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 67 jenis dari 3 kelas ditemukan padapenelitian ini yang didominasi oleh gastropoda. Berdasarkan waktu sampling, kelimpahan danindeks keanekaragaman makrozoobentos cenderung mengalami penurunan pada minggu ke-6budidaya, namun berdasarkan jarak dari area budidaya, tidak terlihat adanya perbedaan padakelimpahan maupun indeks keanekaragaman makrozoobentos antara area budidaya dan sekitararea buddidaya. Faktor lingkungan yang mempunyai korelasi kuat dengan kelimpahan dan indekskeanekaragaman makrozoobentos adalah kandungan bahan organik total dan potensi redokssedimen. Secara umum pada penelitian ini terindikasi adanya pengaruh perubahan terhadapmakrozoobentos setelah 1,5 bulan budidaya, dan pengaruh tersebut masih didapatkan sampai padajarak 50 meter dari area budidaya.Kata kunci: Dampak budidaya rumput laut, sebaran makrozoobentos, diversitas makrozoobentos, Pulau Karampuang  

Page 5 of 19 | Total Record : 184