cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Kajian Stok Karbon Mangrove di Bebanga Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat Muhammad Syukri; Supriadi Mashoreng; Shinta Werorilangi; Rantih Isyrini; Rastina Rastina; Ahmad Faizal; Akbar Tahir; Sulaiman Gosalam
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.392 KB)

Abstract

Percepatan pemanasan global dan perubahan iklim terutama disebabkan oleh aktifitas manusia. Salah satu strategi untuk mitigasi pemanasan global dengan memanfaatkan ekosistem, misalnya ekosistem mangrove untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Penelitian dilakukan untuk mengkaji stok karbon mangrove dilaksanakan pada bulan Mei 2016 di Kelurahan Bebanga Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Metode yang digunakan adalah non-destructive dengan pendekatan biomassa melalui persamaan allometrik. Asumsi yang digunakan adalah stok karbon sebesar 50% dari nilai biomassanya. Sampling dilakukan pada empat stasiun dengan kerapatan mangrove yang berbeda, mulai dari kategori jarang sampai kategori padat. Selain stok karbon juga dilakukan pengamatan tutupan kanopi menggunakan metode hemisperical photograph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan enam jenis mangrove di lokasi penelitian, yaitu Rhizophora mucronata, R. apiculata, Sonneratia alba, Avicennia alba, A. marina, dan Bruguiera Gymnhorriza. Jenis mangrove yang mendominasi Stasiun 1 adalah R. apiculata dan S. alba, Stasiun 2 dan Stasiun 3 oleh jenis R. mucronata, sedangkan Stasiun 4 adalah jenis S. alba. Secara berturut-turut, total stok karbon pada Stasiun 1, 2, 3 dan 4 adalah: 342,86 ton C/ha, 689,29 ton C/ha, 1202,54 ton C/ha dan 357,25 ton C/ha. Jenis mangrove Rhizophora mucronata mempunyai kontribusi terbesar terhadap total stok karbon pada semua stasiun kecuali pada Stasiun 1 yang didominasi oleh Sonneratia alba. Hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa stok karbon dan tutupan kanopi mangrove tidak menunjukkan hubungan yang erat. Kata Kunci: biomassa mangrove, stok karbon mangrove, tutupan kanopi mangrove, mamuju. 
Penggunaan Bubuk Daun Ketapang (Terminalia catappa) dengan Dosis dan Suhu Inkubasi Berbeda Terhadap Embriogenesis dan Penetasan Telur Ikan Cupang (Betta splendens) Abd. Waris; Kasim Mansyur; Rusaini Rusaini
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.309 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu jenis ikan hias yang dibudidayakan di Indonesia. Kegiatan budidaya ikan umumnya terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pemeliharaan induk sampai pemeliharaan benih hingga mencapai ukuran pasar. Tahap awal dari pemeliharaan benih adalah proses penetasan. Selama proses penetasan, embrio sangat rentan terkena serangan bakteri, jamur atau mikroorganisme patogen lainnya. Sehingga diperlukan bahan yang dapat menjaga embrio agar terhindar dari serangan mikroorganisme patogen. Salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai antiparasit, antibakteri dan antijamur adalah daun ketapang. Hal ini disebabkan kandungan bahan aktif daun ketapang yang dapat berfungsi sebagai antimikroba seperti alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid. Faktor penting lain yang harus diperhatikan saat inkubasi embrio adalah suhu air. Suhu sangat mempengaruhi metabolisme embrio dan berdampak pada perkembangan embrio, laju penetasan dan tingkat penetasan telur. Diharapkan melalui penelitian ini diperoleh kombinasi perlakukan yang baik untuk embriogenesis, lama penetasan dan tingkat penetasan telur untuk meningkatkan produksi benih ikan cupang. Organisme uji yang digunakan dalam penelitian yaitu telur ikan cupang sebanyak 30 butir/wadah. Penelitian didesain dalam rancangan acak lengkap pola faktorial (RALF) dengan tiga taraf dosis bubuk daun ketapang kering per liter media pemeliharaan (0 g/L, 0,25 g/L, 0,50 g/L) dan tiga taraf suhu media inkubasi (24oC, 27oC, 30oC). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan dosis bubuk daun ketapang 0,50 g/L dan suhu inkubasi 30oC memberikan hasil paling cepat terhadap embriogenesis dan lama penetasan telur, serta tingkat penetasan telur (HR) tertinggi pada B. splendens. Kata kunci: Ikan cupang, daun ketapang, suhu, embriogenesis, penetasan telur. 
Strategi Pengembangan Teknologi Penangkapan Ikan Set Net di Kabupaten Bone Rosmaladewi Rosmaladewi; Muhammad Kurnia; Sudirman Sudirman
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.159 KB)

Abstract

Studi ini menguji strategi yang dilakukan untuk mengembangkan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan set net yang dioperasikan di perairan Teluk Bone Kabupaten Bone. Analisis data menggunakan analisis SWOT yang mencakup aspek teknologi, biologi, dan manajemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dan upaya yang menjadi prioritas utama dalam peningkatan produktivitas hasil tangkapan set net di perairan Teluk Bone adalah meningkatkan pengkayaan stok terkait kesuburan perairan berupa pembuatan terumbu karang buatan disusul secara berurutan adalah meningkatkan jumlah hasil tangkapan, memperbaiki manajemen alat tangkap set net dengan melakukan periodisasi pemeliharaan dan perawatan bagian-bagian set net dan menentukan fishing ground yang tepat untuk pemasangan set net. Kata kunci: Pengembangan Set Net, Analisis SWOT. 
Pembuatan Glukosamin dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) Melalui Hidrolisis dengan HCl Teknis dan Pemanasan Hardoko Hardoko; William Soegiharto; Eveline Eveline
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.394 KB)

Abstract

Udang windu (Penaeus monodon) mempunyai kandungan kitin dalam jumlah cukup besar pada cangkangnya sehingga berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan glukosamin. Pembuatan glukosamin dari kitin dapat dilakukan dengan hidrolisis kimia menggunakan asam klorida (HCl). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi penggunaan HCl teknis pada konsentrasi, suhu dan lama pemanasan dalam produksi glukosamin. Tepung cangkang udang diperoleh dengan mengeringkan kulit udang dengan sinar matahari dan kemudian dikecilkan ukurannya. Kitin diperoleh dengan melakukan proses demineralisasi dan deproteinisasi pada tepung cangkang udang. Glukosamin diperoleh dengan menghidrolisis kitin dengan perendaman dalam larutan HCl teknis berkonsentrasi 23, 30, dan 37% dengan perbandingan 1: 9 (b / v) pada suhu 90 °C selama 4 jam. Hasil konsentrasi terbaik selanjutnya digunakan untuk menentukan suhu dan waktu pemanasan terbaik dari perlakuan 60, 70, dan 80 °C dan waktu pemanasan 2, 3, dan 4 jam. Penentuan konsentrasi terbaik dan suhu dan waktu pemanasan dipilih berdasarkan tingkat glukosamin tertinggi. Hasilnya menunjukkkan bahwa penggunaan konsentrasi HCl teknis 37% dipilih sebagai perlakuan terbaik dengan kadar glukosamin 7511,46 mg /kg. Penggunaan suhu pemanasan 80°C dan waktu pemanasan 4 jam teripilih sebagai perlakuan terbaik dengan kadar glukosamin mencapai 10519,79 mg/kg. Glukosamin yang dihasilkan mempunyai kelarutan 89,65%, pH 3,82 dan berwarna kuning kemerahan (oHue 77,16). Kata kunci: Udang windu, kitin, glukosamin, HCl teknis 
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan V Universitas Hasanuddin, Makassar, 5 Mei 2018 73 Gerakan Heaving Kapal Pancing Tonda Pada Gelombang Following Seas di Kabupaten Sinjai A. Armynsyah Pangera; St. Aisjah Farhum; Alfa Nelwan
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.836 KB)

Abstract

Kapal pancing tonda sering kali mengalami kecelakaan pada saat pengoperasian,namun hal ini tidak muncul di public dikarenakan tidak adanya pelaporan dan pencatatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai amplitudo heaving dan frekuensi encounter pada tinggi gelombang yang sering terjadi di Laut Flores. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 20 kapal pancing tonda yang diambil dari populasi dengan menggunakan teknik penarikan sampel secara purposive sampling. Peneliti mengambil 3 sampel kapal terpilih yang ukurannya berbeda yaitu kecil (15,88 m), sedang (18 m), dan besar (20,27 m). Analisis data dan pengolahan data menggunakan program Maxsurfs v.8i dan Auto Cad. Hasil penelitian menunjukkan nilai amplitudo heaving maksimum berkisar antara 0,7134 - 0,4480 m sedangkan minimum berkisar antara -0,7132 sampai dengan -0,4481 m dan frekuensi encounter berkisar antara -3,000 sampai dengan -2,230 rad/s. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kapal dengan kondisi tersebut dapat menimbulkan gerakan heaving yang besar dari arah following seas dan mendapatkan gaya yang besar dari gelombang pada frekuensi encounter. Kata Kunci: heaving, stabilitas, tonda, kapal pancing, Kabupaten Sinjai. 
Profil Asam Lemak Hepatopankreas dan Gonad Udang Windu (Penaeus monodon) yang Diberi Pakan Komersial Modifikasi dengan Suplementasi Vitamin C dan E Usman Usman; Kamaruddin Kamaruddin; Asda Laining; Ike Trismawanti; Munawir Munawir
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.528 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh suplementasi vitamin C dan vitamin E dalam pakan komersial yang dimodifikasi terhadap profil asam lemak hepatopankreas dan gonad udang windu, Penaeus monodon. Perlakuan yang dicobakan adalah pakan komersial yang dimodifikasi dan disuplementasi dengan vitamin C (500 mg/kg) dan E (300 mg/kg) (PS) dan pakan komersial yang dimodifikasi tanpa disuplementasi dengan vitamin C dan E (PK). Hewan uji yang digunakan adalah udang windu hasil budidaya dengan bobot awal 43,1±5,1 g untuk betina dan 41,9±4,4 g untuk jantan, dipelihara pada 2 petak tambak beton bekururan 1000 m2/petak dengan kepadatan 0,1 ekor/m2. Selama 3 bulan pemeliharaan di tambak diberi pakan uji sebanyak 3% biomassa. Udang windu yang telah berukuran > 90 g untuk betina dan > 70 g untuk jantan, selanjutnya dipindahkan ke bak beton untuk dimatangkan gonadnya. Selama pemeliharaan di bak beton diberi pakan uji pellet dan pakan segar (cumi-cumi) sebanyak 3% bobot kering dari biomassa dengan perbandingan pellet: pakan segar = 50% : 50%. Udang yang telah matang telur (TKG III) selanjutnya dibedah dan diambil hepatopankreas dan gonadnya untuk dianalisis profil asam lemaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hepatopankreas udang windu memiliki kandungan asam lemak: total omega-3, total omega-6, tak jenuh tunggal, tak jenuh ganda, arachidonat, dokosaheksaenoat, dan eikosapentaenoat yang lebih tinggi pada udang windu yang diberi pakan PS daripada udang windu yang diberi pakan PK. Demikian juga gonad udang windu memiliki kandungan asam lemak: total omega-3, total omega-6, total omega-9, tak jenuh ganda, arachidonat, dokosaheksaenoat, dan eikosapentaenoat yang lebih tinggi pada udang windu yang diberi pakan PS daripada yang diberi pakan PK. Suplementasi vitamin C dan vitamin E dalam pakan memberikan pengaruh dalam meningkatkan asam lemak utamanya yang bersifat esensial dalam hepatopankreas dan gonad udang windu. Kata Kunci: Fatty acid profile; gonada; hepatopancreas; tiger shrimp; vitamin C and E. 
Kemelimpahan dan Distribusi Ukuran Strombus Luhuanus Pada Perairan Pantai Berbatu Negeri Oma, Kabupaten Maluku Tengah Prulley A. Uneputty; Sara Haumahu; Yona A. Lewerissa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.765 KB)

Abstract

Strombus luhuanus dikenal sebagai strawberry conch merupakan salah satu spesies dari filum moluska laut yang bersifat tropicopolitan dan tergolong dalam famili Strombidae. Spesies ini dikenal oleh masyarakat Maluku dengan nama bia jala dan merupakan salah satu spesies moluska konsumsi yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir di Maluku termasuk negeri Oma sebagai salah satu sumber protein hewani. Intensitas pemanfaatan akhir-akhir ini semakin tinggi dimana setiap orang mengumpulkan sebanyak 100-150 individu. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya sumber daya siput jala dan terjadinya degradasi habitat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji kelimpahan dan distribusi ukuran dari S. luhuanus. Sampling dilakukan mulai dari bulan Januari sampai Maret 2018 dengan menggunakan metode acak sederhana. Pengukuran geometri cangkang yang meliputi panjang, lebar dan tebal bibir dilakukan dengan menggunakan vernier caliper ketelitian 0.01mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemelimpahan spesies ini sebesar 468 individu selama periode observasi dimana kemelimpahan individu jantan lebih tinggi dari betina sebesar 51.49% dari total populasi. Seks ratio siput jantan dan betina adalah 1:0.9. Nilai rerata panjang cangkang yang ditemukan yaitu 40.71 mm, lebar cangkang 22.00 mm dan tebal bibir cangkang 2.07 mm. Individu betina memiliki dimensi cangkang yang lebih tinggi dari jantan. Ukuran tebal bibir mengindikasikan populasi siput yang ditemukan didominasi oleh fase juvenil pada bulan Januari dan Februari sedangkan pada bulan Maret kehadiran kedua fase ini hampir sama. Hal ini berarti, S.luhuanus sementara berada dalam fase pertumbuhan. Kata Kunci: moluska, strombus, dimensi cangkang, kemelimpahan 
Pentokolan Kepiting Bakau Scylla tranquebarica pada Substrat Berbeda Burhanuddin Burhanuddin; Erfan A. Hendrajat
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.564 KB)

Abstract

Penelitian pentokolan kepiting bakau (Scylla tranquibarica) dilakukan di Instalasi tambak Percobaan Maranak, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros pada bulan Nopember sampai Desember tahun 2016, bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan tingkat kelulusan hidup benih kepiting (crablet) yang ditokolkan dalam rangka penyediaan benih tokolan kepiting. Menggunakan 9 unit bak fiber glass berukuran 1x1x0,6 m, penelitian dirancang secara acak lengkap dengan 3 perlakuan substrat yaitu : A = pasir; B = tanah 10 cm dan C = tanah + rumput laut Gracillaria sp. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Ukuran awal benih kepiting (crablet) dengan bobot rata-rata 0,051±0,075 g dan lebar karapas 4,21±0,71 mm hasil dari perbenihan. Padat penebaran 25 ekor/m2. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Setiap 7 hari dilakukan sampling pertumbuhan dan kualitas air. Tingkat kelangsungan hidup dihitung setelah akhir penelitian. Berat akhir dan kelangsungan hidup kepiting bakau selama 30 hari pemeliharaan pada perlakuan A, B dan C masing-masing 1,71 g/ekor ±0,17 dan 41% ±3,7; 1,91g/ekor ±0,25 dan 28% ±2,6 serta 1,65 g/ekor ±0,23 dan 87,0 % ±1,3. Parameter kualitas air seperti suhu, salinitas , pH, oksigen terlarut, alkalinitas, amonia, nitrat dan PO4-P masih dalam batas yang layak untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau. Kata kunci: Pentokolan, Scylla tranquebarica, substrat berbeda, pertumbuhan, kelangsungan hidup 
Prevalensi Epifit Neosiphonia sp. pada Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Varietas Coklat dan Hijau Margaretha Bunga; Gunarto Latama; Irawati Irawati
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.891 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi serangan epifit Neosiphonia sp. pada rumput laut (Kappaphycus alvarezii) varietas coklat dan hijau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan April 2016 di Perairan Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Tanaman uji yang digunakan adalah rumput laut jenis K. alvarezii varietas coklat dan hijau yang diperoleh dari Perairan Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan yaitu rumput laut varietas coklat dan hijau, dan 5 kali ulangan yaitu 5 kali pengamatan mulai pada awal tanam umur 1 hari, umur 10 hari, umur 20 hari, umur 30 hari dan umur 45 hari saat panen. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik non parametrik Chi-Square menggunakan SPSS 15. Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukkan bahwa prevalensi serangan epifit Neosiphonia sp. pada rumput laut K. alvarezii varietas coklat dan hijau tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada lima kali pengamatan.Kata kunci: Epifit Neosiphonia sp., prevalensi, rumput laut Kappaphycus alvarezii, varietas coklat dan hijau.
Konsentrasi Bahan Organik dalam Sedimen Dasar Perairan Kaitannya dengan Kerapatan dan Penutupan Jenis Mangrove di Pulau Pannikiang Kecamatan Balusu Kabupaten Barru Ayu Lestaru; Amran Saru; Mahatma Lanuru
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 5 (2018): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL V KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.873 KB)

Abstract

Penelitian telah dilaksanakan pada Agustus 2017. Lokasi penelitian Pulau Pannikiang Kabupaten Barru. Tujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan bahan organik disetiap jenis mangrove dan hubungan kerapatan dan penutupan jenis mangrove dengan kandungan bahan organik di sedimen. Pengambilan data mangrove dan sampel bahan organik berdasarkan jenis mangrove dominan di pulau pannikiang. Pengambilan data dengan menggunakan metode transek (Line transect) dengan luas plot 10 x 10 meter pada ke tiga stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jenis mangrove dominan dan tumbuh berkelompok antar jenis mangrove di pulau Pannikiang tidak berbeda kandungan bahan organiknya sedangkan stasiun jenis mangrove dengan stasiun yang tidak ditumbuhi mangrove berbeda kandungan bahan organiknya. Hal ini dikarenakan bahwa keberadaan bahan organik dipengaruhi oleh kerapatan dan penutupan jenis mangrove. Hasil pengukuran kerapatan di setiap jenis mangrove tergolong dalam kategori sedang yang berkisar antara 0,06 – 0,12 (individu/m2). Kandungan bahan organik tertinggi pada stasiun 1 jenis mangrove Rhizophora apiculata adalah 32,83% dan stasiun 3 Rhizophora stylosa 30,57%. Hubungan kerapatan jenis mangrove dengan kandungan bahan organik menggunakan analisis linear diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,353, sedangkan nilai koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,594 yang berarti berkorelasi positif antara kandungan bahan organik dengan kerapatan jenis mangrove. Kata kunci: Ekosistem Mangrove, Jenis Sedimen dan Kandungan Bahan Organik di Pulau Pannikiang 

Page 2 of 19 | Total Record : 184