cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
Distribusi Ukuran Kerang Bakau Isognomon ephippium Linnaeus 1767 pada Ekosistem Mangrove Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai Andi Nur Samsi; Sharifuddin Bin Andy Omar; Andi Niartiningsih; Eddy Soekendarsi; Rusmidin Rusmidin
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.758 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kaya akan organisme moluska yaitu salahsatunya kerang bakau Isognomon ephippium Linnaeus, 1767. Penelitian ini bertujuan memaparkandistribusi ukuran cangkang I. ephippium. I. ephippium ditemukan melimpah di ekosistemmangrove di Desa Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai. Pengambilan sampel dilakukan secararandom dengan menggunakan plot ukuran 1 meter x 1 meter tiap stasiun penelitian. Pengambilansampel dilakukan saat air laut surut. Data dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi.Panjang cangkang 4,2806 ± 0,6683 cm, lebar cangkang 4,5742 ± 0,7139 cm, tebal cangkang0,6754 ± 0,1997 cm, dan berat 6,1558 ± 2,5470 cm. Panjang cangkang yang dominan yaitu antara4,2271 – 4,7028 cm. Lebar cangkang yang dominan yaitu antara 4,7128 – 5,1585 cm. Tebalcangkang yang dominan yaitu antara 0,6657 – 0,7942 cm. Berat kerang yang dominan yaitu antara3,0485 – 4,5571 gr. Panjang, lebar, tebal cangkang, dan berat kerang saling berkorelasi dengannilai signifikan sama dengan 0,00 dengan taraf signifikan 0,01.Kata kunci : distribusi ukuran, Isognomon ephippium, Tongke-tongke.
Analisis Kebijakan Pengembangan Ekowisata Bahari yang Berkelanjutan di Kawasan Konservasi Perairan Selat Pantar dan Laut Sekitarnya-Kabupaten Alor Imanuel Lamma Wabang
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.707 KB)

Abstract

Selat Pantar adalah salah satu kawasan area konservasi laut di Kabupaten Alor yang berpotensitinggi menjadi salah satu tujuan wisatawan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untukmenentukan faktor lingkungan internal dan eksternal dalam pengembangan ekowisata bahari.Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai Oktober 2018. Metode yangdigunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan purposive sampling sebanyak 50orang wisatawan dan 14 orang yang expert di bidang pariwisata baik pengambil kebijakan maupunmasyarakat lokal yang berada di sekitar lokasi wisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa matrixInternal Factors Analysis Summary (IFAS) adalah 0.594 dan matrix Eksternal Factors AnalysisSummary (EFAS) adalah 0.237. Dengan demikian hasil analisis SWOT memperlihatkan bahwaposisi kuadran berada pada kuadran I, antara peluang eksternal dan kekuatan internal (0.5;0.2).Posisi ini menandakan bahwa pemanfaatan ekowisata bahari di Kawasan Konservasi PerairanSelat Pantar memiliki kekuatan dan berpeluang untuk dikembangkan. Analisis AHP menunjukan10 skala prioritas kebijakan untuk pengembangan ekowisata bahari yaitu : 1). Peningkatankapasitas sumberdaya manusia pariwisata, 2).Cluster wilayah pengembangan pariwisata, 3).Pengembangan obyek wisata unggulan dan produk wisata 4). Peningkatan akses transportasiinfrastruktur sarana dan prasarana, 5). Peningkatan kerjasama antar stakeholder, 6). Peningkatanpromosi wisata bahari, 7). Penguatan kelembagaan dan peraturan,Kata kunci : Kebijakan pengembangan ekowisata bahari, KKP Selat Pantar.
Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Pesisir di Kabupaten Pulau Morotai Erna Ratnawati; Ruzkiah Asaf; Tarunamulia Tarunamulia
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.486 KB)

Abstract

Kabupaten Pulau Morotai salah satu dari 92 pulau terpencil di Indonesia, pertumbuhan budidayalautnya, sangat lambat meskipun memiliki kualitas air yang tinggi serta area yang potensial.Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik sosial ekonomi masyarakat pesisir, peran danstatus pengembangan akuakultur laut. Pengumpulan data dilakukan melalui diskusi kelompokterarah (FGD), wawancara mendalam dan observasi lapangan. Dari total 33 responden, 16pembudidaya rumput laut, 11 petani akuakultur dan 6 responden lainnya mewakili lembaga yangbertanggung jawab untuk pembuatan kebijakan pengembangan budidaya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kegiatan budidaya perikanan yang beroperasi saat ini kurang menarik bagimasyarakat lokal dibandingkan kegiatan utama sebagai nelayan karena dianggap kurangmenjanjikan sebagai bisnis alternatif. Faktor yang menyebabkan rendahnya produksi sertaaktivitas dalam budidaya laut yaitu modal usaha yang terbatas, kurangnya sumber daya manusiayang terampil serta dukungan kelembagaan dan yang lebih penting lagi kurangnya informasitentang teknologi akuakultur (benih yang berkualitas, pengendalian hama dan proses produkpasca panen). Faktor penghambat lainnya kurangnya ketersediaan infrastruktur pendukungbudidaya. Dari hasil analisis rantai pasar rumput laut tidak ada alternatif pengolahan lokaluntuk produk rumput laut mentah, namun hasil ikan (terutama kerapu) dapat dipasarkan secaralocal ke pasar lokal atau restoran. Untuk itu pemerintah (setempat dan pusat) harusmengalokasikan anggaran yang cukup untuk membangun "model percontohan" yangmemastikan kelancaran transfer teknologi akuakultur ke masyarakat pesisir, serta melakukanpendidikan dan pelatihan untuk pengembangan sumber daya manusia.Kata Kunci : Karakteristik, Nelayan pesisir, Pulau Morotai, Sosial-Ekonomi.
Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea Distrik Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua Usman Pakasi; Dirk Veplun; Annita Sari; Agus Sofyan
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.278 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisa strategi pemberdayaan masyarakat yang berdomisili didaerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, distrik Tami, Kota Jayapura. Tujuan penelitian iniadalah untuk menciptakan model pemberdayaan yang dapat meningkatkan taraf hidup dankesejahteraan masyarakat perbatasan. Studi ini dilakukan menggunakan sebuah pendekatankualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam fenomena yang sedang dipelajari.Sumber data didapatkan melalui observasi, interview, FGD dan dokumentasi. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat yang berdomisili di tempat tersebut rendahdan masih berada pada garis kemiskinan. Terdapat banyak program pengembangan yang telahdilakukan oleh pemerintah dan potensi sumberdaya alam yang tersedia cukup melimpah, tetapibelum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui model dan strategi peningkatan,dengan perubahan pada pola dan sistem pertanian, dari tradisional ke sistem dan pola pertanianyang lebih modern. Perubahan pada pola pertanian dimaksudkan untuk mengelola pertanian secaraefisien, efektif dan produktif, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraanmasyarakat. Perubahan pada pola pertanian difokuskan pada budidaya komoditas pertanian yangmemiliki nilai jual tinggi dan budidaya ikan air tawar. Model pendekatan pemberdayaan adalahsebuah strategi langsung, yang didukung oleh bantuan modal bisnis dan penyuluhan untukmelaksanakan program tersebut.Kata kunci: strategi, pemberdayaan, pertanian, masyarakat, perbatasan
Karakterisasi Spasio-Temporal Kualitas Air di Tambak dan Perairan Sekitar Kawasan Pertambakan Minapolitan Kamariah Kamariah; Tarunamulia Tarunamulia; Hasnawi Hasnawi
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.766 KB)

Abstract

Kualitas air merupakan salah satu variabel yang menentukan kualitas lahan. Selain sebagai mediautama budidaya, air merupakan tempat tumbuhnya pakan alami dan terjadinya berbagai reaksikimia yang kemungkinan menjadi faktor pembatas, untuk itu kualitas air baik di tambak maupundi perairan sekitar tambak perlu diketahui. Kualitas air sangat sensitif dengan perubahan musimsehingga informasi kualitas air berbasis spasial sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui karakteristik spasio-temporal kualitas air di tambak dan di perairan laut yang menjadisumber air tambak. Pengambilan sampel dan pengukuran langsung dilakukan pada 10 titikmengikuti metode purposive sampling yakni dengan memilih unit tambak dan lokasi perairan yangmemiliki karakteristik spesifik seperti warna air dan kegiatan budidaya. Pengukuran kualitas airdilaksanakan pada musim hujan, peralihan dan kemarau untuk mengetahui pengaruh musimterhadap kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kualitas air utamanya padaperairan laut dekat muara sungai dandi mulut saluran pembuangan tambak. Nilai DO didapatkanmencapai nilai kritis (2 mg/L) untuk kegiatan budidaya dimuara sungai pada musim kemarau,dengan nilai NO 3 lebih tinggi dari standar kualitas air budidaya pada musim hujan. Nilai totalammonia nitrogen (TAN) rata-rata lebih tinggi juga ditemukan pada mulut saluran tambak padamusim hujan dan musim kemarau dibandingkan pada lokasi lain. Dengan hasil demikian,kondisioptimum atau musim tanam yang baik untuk budidaya udang didapatkan pada musim peralihanyakni pada bulan Mei sampai dengan Juli setiap tahunnya.Kata kunci: Spasio-temporal, kualitas air, tambak, perairan.
Karateristik dan Peramalan Pasang Surut di Perairan Pagar Jaya, Lampung M Iskandar Wijaya T; Yanuar Yanuar
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.669 KB)

Abstract

Pasang surut adalah peristiwa alam tentang naik turunnya permukaan air laut yang terjadi secaraberulang-ulang dan teratur karena adanya gaya gravitasi benda – benda di langit terutama bulandan matahari terhadap massa air laut di bumi. Karateristik dan peramalan pasang surut dapatdiketahui dengan cara perhitungan mengenai data amplitudo dan beda fase yang merupakankomponen pasang surut. Peramalan pasang surut ditujukan untuk memperoleh informasi tinggimuka air laut di masa mendatang pada saat dan lokasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui karateristik pasang surut dengan metode Admiralty meramalkan pasang surut denganmenggunakan software World Tide dan mengetahui kedudukan muka air laut di perairan DesaPagar Jaya, Lampung selama 5 tahun ke depan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 April –22 April 2019 di Perairan Desa Pagar Jaya Lampung. Data yang digunakan dalam penelitian iniadalah data pasang surut pengamatan pada lokasi penelitian dan koordinat lokasi penelitian.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dimana dalam penelitianini data penelitian berupa angka yang dianalisa secara kuantitatif dengan metode Admiralty danWorld Tide yang akan menghasilkan karateristik pasang surut di perairan berupa nilai koefisienyang akan digunakan untuk mengetahui tipe pasang surut, LLWL dan HHWL di suatu perairan.Hasil penelitian dengan mengunakan metode Admiralty menunjukan bahwa tipe pasang surut diPerairan Desa Pagar Jaya, Lampung adalah tipe pasang surut campuran condong ke harian gandaatau mixed tide prevailing semidiurnal dengan nilai Formzahl sebesar 0,52. Nilai Mean Sea Level(MSL) sebesar 96 cm, nilai Higest High Water Level (HHWL) sebesar 167 cm, dan nilai LowestLow Water Level sebesar 25 cm. Peramalan pasang surut menggunakan World Tides dengan nilaiMRE sebesar 0,3% menunjukan bahwa HHWL tertinggi terjadi di bulan Desember 2021 dengannilai sebesar 178 cm dan LLWL terendah terjadi di bulan Juni 2021 dengan nilai sebesar 19 cm.Kata kunci: pasang surut, peramalan, admiralty, world tides, Lampung
Nilai Tambah (Value Added) Ikan Tuna di Kabupaten Bulukumba Firman Firman; Hasri Liyani; Darmawansyah Darmawansyah; Syuhardiman Bachtiar
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.067 KB)

Abstract

Ikan tuna menjadi salah satu produk perikanan yang memiliki nilai tambah pada rantai pasok. Baiktuna segar sampai pada tuna produk beku. Nilai tambah tuna produk beku pada setiap rantai pasokdimulai pada saat ikan didaratkan, pedagang perantara dan perusahaan pengolahan Penelitian inibertujuan memetakan rantai pasok komoditas tuna, mulai dari penyediaan bahan baku, produksisampai ke pemasaran, menganalisis nilai tambah rantai pasok komoditas tuna pada lembagapedagang dan pengolah ikan tuna. Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari dan Maret 2019di Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini menggunakan instrumen dalammelakukan metode analisis rantai pasok pada komoditas tuna, dengan mengadopsi frameworkFood Supply Chain Network (FSCN) dan digunakan dalam memetakan dan menganalisis rantaipasok mulai dari penyediaan bahan baku, pemasaran, hingga kualitas dan kuantitas usaha. Analisisnilai tambah menggunakan metode Hayami (1987) dalam Chatrin, dkk (2017). Hasil penelitianmenunjukkan; 1) rantai pasok komoditas tuna sangat pendek, a) dari nelayan→pedagangpengumpul→eksportir, b) dari nelayan →pedagang pengumpul→pengolah ikan asap. 2) nilaitambah komoditas ikan tuna sangat dipengaruhi oleh a) asal sumber bahan baku, b) kualitas danharga bahan baku yang fluktuasi c) biaya produksi yang meningkat d) jumlah pasokan bahan bakurentan terhadap musim.Kata kunci: tuna, rantai pasok, nilai tambah produk,
Pengembangan Teknologi Light Fishing yang Berkelanjutan Sudirman Sudirman
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.342 KB)

Abstract

Setelah manusia mengetahui cara membuat api, mereka juga menemukanbahwa beberapa jenis ikan tertarik oleh cahaya. Penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan biasa disebut dengan Light Fishing. Penggunaan alat bantu cahaya dalam proses penangkapan ikan telah lama digunakan oleh para nelayan, mulai dari penangkapan ikan tradisional sampai dengan penggunaan penangkapan ikan yang modern. Namum tidak diketahui dengan pasti kapan manusia memulai penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya (Yami, 1987).Pada mulanya penggunaan lampu untuk penangkapan, masih terbatas padadaerah-daerah tertentu dan umumnya dilakukan hanya di tepi-tepi pantai dengan menggunakan jaring pantai (beach seine), serok (scoop net) dan pancing (handline). Pada tahun 1953 perkembangan penggunaan lampu untuk tujuan penangkapan ikan tumbuh dengan pesat bersamaan dengan perkembangan bagan (jaring angkat, liftnet) untuk penangkapan ikan. Saat ini pemanfaatan lampu tidak hanya terbatas pada daerah pantai, tetapi juga dilakukan pada daerah lepas pantai yang penggunaannya disesuaikan dengan keadaan perairan seperti alat tangkap payang, purse seine dan sebagainya .Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertamakali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah perang dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun 1948 (Nikonorov, 1975).Namun demikian penangkapan dengan menggunakan alat bantu cahaya,bukanlah tanpa masalah. Beberapa masalah yang ditimbulkan antara lain bahwa cahaya yang digunakan tidak dapat menyeleksi ukuran dan jenis ikan tententu yang datang disekitar alat tangkap (catchable area). Akibatnya hampir semua jenis ikan pelagis kecil dari ukuran yang paling kecilpun akan tertarik oleh cahaya dan akhirnya akan tertangkap dengan alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan (Sudirman dkk 2013; Sudirman dkk, 2019). Dengan kata lain, salah satu masalah yang ditimbulkan adalah selektivitas alat tangkap. Masalah lainnya adalah penggunaan cahaya yang yang besar membutuhkan energi Bahan Bakar Minyak yang besar pula, sehingga banyak yang menilai bahwa pemanfaatan dengan menggunakan cahaya cenderung boros.
Struktur Ukuran dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Gabus (Channa striata) di Danau Tempe Kabupaten Wajo Andi Wakiah; Achmar Mallawa; Faisal Amir
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.34 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran dan ukuran pertama kali matang gonadikan gabus yang ada di Danau Tempe. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan mulaiSeptember 2018 – Februari 2019. Metode pengambilan ikan contoh menggunakan metoda acakbertingkat. Struktur ukuran dan ukuran pertama kali matang gonad dianalisis dengan metodeBhattacharya dan Spearman Karber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan gabus yangdiperoleh sebanyak 1.594 ekor terdiri dari 515 ekor jantan dan betina 1.079 ekor. Kisaran panjangikan gabus jantan 19 – 57 cm dan untuk ikan gabus betina 16 – 57,7 cm. Frekuensi tertinggi ikangabus gabungan, jantan dan betina berada pada tengah kelas panjang 29 cm. Ikan gabus di DanauTempe memiliki ukuran yang lebih panjang dibanding daerah-daerah lain. Ukuran pertama kalimatang gonad ikan gabus jantan sebesar Lm = 23,523 cm dan ikan gabus betina sebesar Lm =22,332 cm.Kata Kunci :Danau Tempe, ikan gabus, struktur ukuran, ikan pertama kali matang gonad.
Kepadatan Bakteri Simbion Rumput Laut (Eucheuma spinosum) yang Berasal dari Perairan Puntondo, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Rahmayanti S; Arniati Massinai; Supriadi Mashoreng
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.28 KB)

Abstract

Umumnya organisme yang hidup di laut bersimbion dengan bakteri, termasuk rumput lautEucheuma spinosum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan bakteri simbionrumput laut Eucheuma spinosum yang dibudidayakan di perairan Puntondo, Kabupaten Takalar.Pengambilan sampel dilakukan pada 5 stasiun disepanjang pantai perairan Puntondo. Inokulsisuspensi bakteri dengan metode tuang, perhitungan jumlah bakteri dengan metode angka lempengtotal. Hasil perhitungan didapatkan kepadatan bakteri simbion rumput laut Eucheuma spinosumsecara berurutan dari jumlah yang tinggi ke rendah stasiun 4 (2,49 x 10 5 cfu/g), stasiun 2 (2,48 x10 5 cfu/g), stasiun 5 (2,34 x 10 5 cfu/g), stasiun 3 (1,62 x 10 5 cfu/g) dan stasiun 1 (1,23 x 10 5 cfu/g).Berdasarkan morfologi koloni yaitu bentuk, elevasi, tepi, tekstur dan warna didapatkan 5 isolatbakteri yang berbeda.Kata kunci: bakteri simbion, rumput laut, Eucheuma spinosum.

Page 6 of 19 | Total Record : 184