cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 129 Documents
ANALISIS ISI PESAN PENDIDIKAN PARENTING DISIPLIN POSITIF PADA MEDIA SOSIAL TIKTOK @RENSIA_SANVIRA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FOTO Viki Yana; Ansar Suherman; Hastuti Hastuti
specta Vol 9, No 2 (2025): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v9i2.17826

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis pesan edukasi pola asuh disiplin positif yang disampaikan Rensia Sanvira di akun media sosial TikTok miliknya.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang menggunakan model analisis isi untuk analisis konten.  Akun TikTok @rensia_sanvira secara efektif membagikan pesan-pesan edukasi pola asuh disiplin positif melalui banyak konten edukasi. Simpulan bentuk pesan edukasi pola asuh disiplin positif difokuskan pada empat konsep utama disiplin positif: menentukan tujuan jangka panjang, memberikan kehangatan dan struktur, memahami cara anak berpikir dan merasa, dan menyelesaikan masalah. Akun ini juga dikenal sebagai akun imbalan imbalan imbalan imbalan imbalan imbalan imbalan imbalan. Konten yang diunggah tidak hanya memberikan pemahaman teoritis tentang disiplin yang bermanfaat, tetapi juga memberikan contoh praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
ESTETIKA FLARE DALAM FOTOGRAFI KONTEMPORER: SEBUAH PENDEKATAN FENOMENOLOGIS Mahendradewa Suminto; Syaifudin Syaifudin; Tanto Harthoko
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.17959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai estetika flare (suar lensa) dalam praktik fotografi kontemporer melalui pendekatan fenomenologi. Dalam pandangan konvensional, flare sering diposisikan sebagai cacat optik yang harus dihindari. Namun, kajian ini menunjukkan bahwa anomali cahaya tersebut telah diadaptasi menjadi elemen visual yang sengaja dimanfaatkan untuk membangun pengalaman estetika dan makna subjektif. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan Analisis Fenomenologis Interpretatif (AFI) terhadap sumber kepustakaan serta karya fotografi kontemporer. Hasil analisis memperlihatkan bahwa flare hadir sebagai penanda kehadiran fisik manusia yang mengalami di balik penciptaan citra. Fenomena ini mengaktifkan pengalaman indrawi visual dan berfungsi sebagai penanda waktu, sehingga mampu mengembalikan sensasi murni/asli ke dalam sebuah citra. Pada tataran estetika postmodern, pemanfaatan flare mewakili praktik estetika ketidaksempurnaan (aesthetics of imperfection / aesthetic of failure) yang melawan tuntutan kesempurnaan teknis, dan kerap bertindak sebagai simulacrum dalam ekosistem digital. Selain itu, flare berperan sebagai perangkat naratif yang menandai situasi liminal untuk memicu kedalaman emosional. Temuan terpenting dari kajian ini adalah penjelasan bagaimana flare secara paradoks mampu merekonstruksi "aura" pada citra yang diproduksi secara mekanis. Sebagai kesimpulan, flare bukan sekadar sisa cacat teknis, melainkan entitas yang memperkaya wacana keilmuan fotografi, khususnya terkait cara kita memahami persepsi dan representasi medium.
ETIKA DAN INOVASI: JURNALIS FOTO INDONESIA MERESPONS GENERATIVE AI Brenda Aurelia Zefanya; Taufan Wijaya
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.16552

Abstract

Hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terutama Generative Artificial Intelligence (GAI)  memberikan dampak pada berbagai aspek, salah satunya foto jurnalistik. Dampak itu meliputi proses produksi berita sampai profesi jurnalis foto. Dari fenomena tersebut, perlu ada penelitian untuk mengungkap persepsi jurnalis foto, dampak, serta respons jurnalis foto terhadap kehadiran GAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang sesuai untuk mengeksplorasi secara mendalam suatu permasalahan. Studi kasus ini melibatkan enam jurnalis foto yang dipilih secara sengaja melalui organisasi Pewarta Foto Indonesia, untuk memastikan bahwa informan adalah jurnalis foto aktif. Enam informan yang dipilih berasal dari daerah yang berbeda, pengalaman kerja 8-21 tahun, dan media yang berbeda. Hasil penelitian mengungkap bahwa GAI dianggap sebatas menjadi alat bantu. Temuan berikutnya menunjukkan dampak GAI memunculkan kekhawatiran meningkatnya misinformasi/disinformasi dan perubahan kebijakan perusahaan. Sedangkan respons yang muncul adalah jurnalis foto menerima GAI digunakan sebatas ilustrasi, dan menolak penggunaan GAI menggantikan fungsi foto jurnalistik.
EVOLUSI NARASI FOTO JURNALISTIK DALAM FOTO STORY, SERI FOTOGRAFI, DAN ESAI FOTOGRAFI Handry Rochmad Dwi Happy; Elfa Olivia Verdiana
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.17942

Abstract

Artikel ini membahas evolusi narasi fotografi jurnalistik melalui tiga format utama: foto story, seri fotografi, dan esai fotografi. Kajian ini menyoroti perbedaan karakteristik, struktur narasi, dan implikasi masing-masing format terhadap desain komunikasi visual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten, artikel ini mengintegrasikan teori narasi visual, semiotika, dan framing media untuk memperkuat pemahaman tentang bagaimana foto jurnalistik membangun makna. Hasil kajian menunjukkan bahwa foto story bersifat linear, seri fotografi lebih tematik dan reflektif, sedangkan esai fotografi menggabungkan visual dan teks untuk menciptakan argumen mendalam. Implikasi penelitian ini penting bagi fotografer dan desainer komunikasi visual dalam memilih strategi bercerita yang efektif.
BUDAYA VISUAL DAN KONVERGENSI DALAM EKOSISTEM MEDIA DIGITAL ASIA TENGGARA: STUDI KOMPARATIF LES’ COPAQUE DAN VISINEMA Reza Zulfiqar Rivalda; Filosa Gita Sukmono
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.20997

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana budaya konvergensi membentuk praktik budaya visual di Asia Tenggara melalui analisis komparatif terhadap karya visual yang dikembangkan oleh Les’ Copaque (Malaysia) dan Visinema (Indonesia). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif komparatif dengan analisis tematik terhadap wawancara mendalam, observasi konten visual digital, dan dokumentasi sekunder untuk menganalisis pembentukan identitas visual, praktik distribusi lintas media, serta partisipasi audiens dalam proses produksi makna visual. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua pola konvergensi yang berbeda. Les’ Copaque merepresentasikan konvergensi organik yang tercermin melalui konsistensi identitas visual, kedekatan kultural, serta keterlibatan audiens yang berkembang secara alami sehingga memperkuat resonansi visual dan emosional. Sebaliknya, Visinema merepresentasikan konvergensi strategis yang mengintegrasikan perancangan identitas visual, distribusi lintas platform, dan promosi digital secara terencana untuk memperluas jangkauan serta memperkuat pengalaman visual audiens. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut menawarkan strategi yang berbeda dalam membangun budaya visual, legitimasi kultural, dan keberlanjutan representasi visual di era media digital. Penelitian ini merekomendasikan model konvergensi hibrida yang mengombinasikan kekuatan identitas visual, resonansi budaya, dan strategi komunikasi visual yang terintegrasi guna memperkuat keberlanjutan ekosistem media visual di Asia Tenggara.
INTEGRASI SOSIAL–KULTURAL DALAM ARSIP DIGITAL DI KLAB AMATIR FOTO Regina Octavia Ronald; Nanang Ganda Prawira; Zakaria Sukarya Soeteja; Tri Karyono; Rahmadi -
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.19461

Abstract

The digital transformation of recorded media art has created new opportunities for photo communities to adapt while preserving their cultural values. This article examines how the Bandung Amateur Photo Association, Perhimpunan Amatir Foto Bandung (PAF), develops digital archiving practices that integrate social, cultural, and educational functions within a socio-cultural framework. Using a qualitative case study approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and analysis of physical and digital archives. The findings reveal that PAF’s digital archive functions not only as a repository of photographic works, but also as a space for visual cultural interaction where photographic traditions, collective ethics, and digital technologies continuously negotiate. The archive also serves as a medium for non-formal photography learning by connecting different generations through practices of sharing, curating, and reflecting on photographic works. The socio-cultural integration highlighted in this study demonstrates how digital media extends community-based cultural practices that have evolved alongside PAF’s development. This article contributes to recorded media art studies by positioning digital archival practices as participatory and collaborative forms of visual cultural inheritance rooted in community culture.
KRITIK SOSIAL TERHADAP MALE GAZE MELALUI FOTOGRAFI SUREALISME Adelia Rahmasari Putri; Arti Wulandari
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.18977

Abstract

Male gaze merupakan representasi perempuan yang mengeksploitasi dan menggambarkannya sebagai sekadar objek seksual melalui sudut pandang laki-laki heteroseksual untuk memenuhi fantasi laki-laki. Fotografi surealisme adalah seni yang bersifat enigmatik atau penuh dengan teka-teki dan memiliki ambisi, hasrat, atau merupakan sebuah kritik sosial. Penciptaan karya ini berfungsi sebagai kritik visual terhadap male gaze dalam budaya seni visual melalui pendekatan surealisme. Metode penciptaan karya melalui tiga tahapan, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Selain itu, teknik digital imaging berupa seleksi subjek, montase, dan shading digunakan untuk menciptakan visual yang bersifat surealis dan simbolis. Penciptaan karya ini menghasilkan visual akan perjuangan figur perempuan melawan pendindasan dan superioritas pandangan laki-laki. Fotografi surealisme terbukti mampu digunakan sebagai instrumen representasi kritik sosial male gaze melalui penggunaan narasi visual resistensi simbolik figur perempuan terhadap objektifikasi gender, menggunakan unsur-unsur surealisme, seperti repetisi, metamorfosis, permainan ukuran, dan tindakan yang mustahil.
TRANSFORMASI VISUAL TAMAN NASIONAL UJUNG KULON DALAM PENGEMBANGAN TATA RIAS FANTASI BERBASIS MODEL ADDIE Laelani Safa Azalia; Taofan Ali Achamdi
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.19601

Abstract

Kajian Penelitian ini bertujuan mengembangkan tata rias fantasi berbasis transformasi visual Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development). Validasi dilakukan oleh tiga ahli tata rias dan 15 responden menggunakan instrumen skala Likert 1-5 yang mencakup enam indikator penilaian. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan rumus presentase kelayakan. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat pencapaian 88,7% (kategori “Baik”), sedangkan responden memberikan penilaian sebesar 90% (kategori “Sangat Baik”). Temuan ini menunjukkan bahwa teansformasi visual kawasan konservasi dapat diolah secara sistematis menjadi karya tata rias fantasi yang memiliki daya tarik estetis dan relevansi konseptual.
REPRESENTASI VISUAL DAN FRAMING MEDIA ONLINE TERHADAP FENOMENA KULINER VIRAL DONAT MOCHI CLOUD CAKES Prasetyo Adinugroho
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.21017

Abstract

Fenomena kuliner viral di media digital dibentuk melalui perpaduan antara narasi pemberitaan dan representasi visual yang memengaruhi persepsi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi visual dan framing media online terhadap fenomena kuliner viral Donat Mochi Cloud Cakes di Blok M, Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing Robert Entman terhadap pemberitaan pada Kompasiana, Insertlive, IDN Times, Kumparan, Beautynesia, dan Detik Food. Analisis difokuskan pada hubungan antara narasi berita dan elemen visual yang membangun makna mengenai viralitas kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media merepresentasikan Cloud Cakes melalui visual antrean panjang, antusiasme konsumen, dan tampilan produk yang memperkuat citra eksklusivitas serta mendorong fenomena fear of missing out (FOMO). Framing media mengonstruksi viralitas sebagai peluang promosi UMKM sekaligus persoalan kepadatan ruang publik dan strategi pemasaran berbasis kelangkaan. Perbedaan representasi antarmedia memperlihatkan kontestasi makna antara inovasi kuliner, budaya konsumsi digital, dan isu krisis reputasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa representasi visual dan framing media saling melengkapi dalam membentuk konstruksi makna terhadap fenomena kuliner viral, sekaligus memperkuat kajian budaya visual dan media digital kontemporer.

Page 13 of 13 | Total Record : 129