cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam
ISSN : 26210452     EISSN : 26210460     DOI : -
Core Subject : Education,
TA‘LIM: Jurnal Studi Pendidikan Islam published by Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Darul' Ulum Lamongan. TA‘LIM Journal that focus studies on Islamic Education. This journal is published twice a year in January and July.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
PERAN GURU AGAMA ISLAM DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA PRESPEKTIF ISLAM WASATHIYAH DI SMP AL - ISLAH BUNGAH GRESIK Muhammad Bagus Ishaqi; Qomaruddin; Dina Dwi Mazidatur Rizkiyah
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penguatan moderasi beragama perspektif Islam wasathiyah di SMP Al-Islah Bungah Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi guru PAI dan peserta didik. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama di SMP Al-Islah Bungah Gresik telah diimplementasikan melalui integrasi nilai Islam wasathiyah dalam pembelajaran PAI, keteladanan guru, serta pembiasaan budaya sekolah. Nilai tasamuh (toleransi), i’tidal (keadilan), dan tawazun (keseimbangan) diintegrasikan dalam proses pembelajaran melalui pendekatan dialogis, diskusi, dan studi kasus yang berkaitan dengan kehidupan sosial peserta didik. Keteladanan guru PAI berperan penting dalam membentuk sikap moderat peserta didik melalui sikap adil, terbuka terhadap perbedaan, serta penyelesaian konflik secara musyawarah. Selain itu, nilai moderasi beragama juga diinternalisasikan melalui budaya sekolah yang menekankan kebersamaan, kerja sama, serta keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Implementasi tersebut juga berkontribusi dalam mencegah berkembangnya paham radikal di lingkungan sekolah dengan menumbuhkan sikap kritis, selektif terhadap informasi keagamaan, serta menghargai perbedaan. Dengan demikian, peran guru PAI tidak hanya sebagai penyampai materi ajar, tetapi juga sebagai agen pembentuk karakter yang menanamkan nilai-nilai moderasi beragama secara komprehensif dalam kehidupan peserta didik.
REKONSTRUKSI DASAR TEOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA DIGITAL: Indonesia Rizki Imanudin; Dayat Indra Hidayat; Dede Sulaeman; Adang Hambali; Andewi Suhartini
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly transformed the landscape of education, creating new opportunities as well as complex challenges such as information distraction, individualistic tendencies, and a crisis of meaning among learners. This study aims to reconstruct the theological foundations of Islamic education in responding to the challenges of the digital era. Using a qualitative library research approach, this study analyzes classical and contemporary Islamic educational thought to formulate a theological framework based on three philosophical dimensions: ontological, epistemological, and axiological. The ontological foundation emphasizes tawhid as the ultimate reality that underlies all educational activities. The epistemological dimension highlights the integration of revelation and reason as complementary sources of knowledge in Islamic education. Meanwhile, the axiological dimension focuses on the cultivation of moral character and tazkiyatun nafs as the ultimate goals of education. The findings indicate that reconstructing theological principles within Islamic education can provide meaningful orientation, strengthen digital ethics, and foster a sense of global responsibility among learners. Therefore, theological-based Islamic education offers a holistic framework to guide the use of knowledge and technology toward ethical and spiritually grounded human development.
INTERNALISASI NILAI ISLAM MODERAT DI SMP SEMEN GRESIK Putri Diana Manzil; Ah. Haris Fahrudi
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses internalisasi nilai-nilai Islam moderat serta mengidentifikasi nilai-nilai yang dikembangkan di SMPN 1 Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai dilakukan melalui tiga tahap, yaitu transformasi, transaksi, dan transinternalisasi nilai. Proses tersebut diwujudkan melalui pembelajaran agama yang inklusif, kebijakan sekolah yang adil bagi seluruh siswa, kegiatan ekstrakurikuler lintas agama, serta pembiasaan dalam budaya sekolah. Nilai-nilai Islam moderat yang dikembangkan meliputi tasamuh (toleransi), tawassuth (sikap tengah), i’tidal (keadilan), qudwah (keteladanan), dan i’tiraf al-‘urf (penghormatan terhadap budaya lokal). Proses bertahap ini efektif karena mengintegrasikan pemahaman kognitif, interaksi sosial, dan pembiasaan perilaku, sehingga nilai tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi terinternalisasi menjadi sikap dan tindakan nyata siswa. Dengan demikian, internalisasi nilai Islam moderat berkontribusi dalam membentuk lingkungan sekolah yang inklusif, harmonis, serta memperkuat pendidikan karakter yang berkelanjutan.
DIGITAL LITERACY AND RELIGIOUS IDENTITY: PARENTAL MEDIATION OF TECHNOLOGY USE IN ISLAMIC EDUCATION FOR GENERATION ALPHA IN INDONESIA Hepi Ikmal; Ahmad Hanif Fahruddin; Sholihah
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines parental mediation of technology use as an integrated strategy for transmitting Islamic religious identity to Generation Alpha children in rural Indonesia. Drawing on a qualitative case study conducted in Blajo Village, Kalitengah Sub-District, Lamongan, East Java, the research addresses three questions: the nature of the challenges parents face in sustaining Islamic education amid digital disruption; the strategies families employ to navigate those challenges; and how aqidah, ibadah, and akhlak-based Islamic education is operationalized as a digital character formation framework. Data were collected through semi-structured in-depth interviews with seven parent informants and three child informants, twelve non-participant observation sessions, and document analysis, and analyzed using Miles et al.'s interactive model. Guided by Ulwan's tarbiyah framework, Livingstone and Helsper's parental mediation typology, and Potter's media literacy model, the findings identify three challenge dimensions—temporal disruption of Islamic educational rhythms, individualization of prayer practice, and the reflexive effect of parental digital modeling—and four mediation strategy clusters: active temporal structuring, Islamic content facilitation, exemplary digital self-regulation, and communal religious socialization. Two original theoretical contributions are advanced: "Islamic digital parenting" as a culturally embedded mediation concept integrating tarbiyah with contemporary mediation theory, and "digital akhlak" as the extension of the classical aqidah-ibadah-akhlak framework into the ethical terrain of digital life. The study's single-village scope is its primary limitation; multi-site comparative research is recommended.
THE PARADOX OF PROGRESS: AI SUPREMACY, SPIRITUAL CRISIS, AND AN ATTEMPT AT RECONCILIATION Ana Maulida Sabila; Benny Prasetya; Khoiriyah
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the fact that today’s civilization has entered a post-normal era characterized by complexity, chaos, and contradiction. This research aims to look at the other side of scientific and technological advances that impact the dimension of human spirituality. This research adopts a qualitative design, where all data sources are obtained from related literature and analyzed using content analysis techniques. The findings reveal that the supremacy of artificial intelligence (AI) is paradoxical, offering various conveniences on the one hand, but harboring a ‘dark side’ that can harm humans. When viewed from an Islamic perspective, AI has the potential to lead to the alienation of spirituality that can reduce the role of humans and their relationship with God. A possible reconciliation of Islam and AI depends on developing and applying AI ethically while prioritizing humanity and Islamic values.
PENDEKATAN DEEP LEARNING BERBASIS TEAM GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PELAJARAN SKI SISWA MTs MATHLA'UNNAJAH SUMEDANG Putri Nur Azizah; Gilang Maulana Jamaludin; Encu Mulya Syamsul
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya pemahaman siswa Madrasah terhadap materi Sejarah Budaya Islam (SPA) telah menjadi masalah mendasar yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan konvensional yang telah lama mendominasi ruang kelas. Studi ini bertujuan untuk mengintegrasikan pendekatan Deep Learning berbasis Teams Games Tournament (TGT), didukung oleh media kartu dan puzzle edukatif, sebagai strategi inovatif yang dirancang untuk menciptakan pembelajaran SPA yang aktif, bermakna, dan menyenangkan. Dengan menggunakan desain Classroom Action Research (CAR) berdasarkan model Kemmis dan McTaggart yang dilakukan dalam dua siklus, studi ini melibatkan 18 siswi kelas tujuh Madrasah Tsanawiyyah Mathla'unnajah Sumedang sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa: rata-rata kelas meningkat dari 46,61 pada pra-siklus menjadi 77,55 pada Siklus I, dan mencapai puncaknya pada 91,55 pada Siklus II, dengan kelengkapan klasik meningkat secara dramatis dari 11,11% menjadi 94,44%. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi prinsip-prinsip Deep Learning yang penuh perhatian, bermakna, dan menyenangkan dengan dinamika kompetitif-kolaboratif TGT mampu mengubah ruang kelas dari sekadar ruang transfer informasi menjadi arena pembangunan pengetahuan yang bermakna dan berkelanjutan. Studi ini menegaskan pentingnya penerapan pendekatan TGT berbasis Deep Learning sebagai model pembelajaran yang inovatif, relevan, dan efektif untuk dikembangkan lebih lanjut dalam SKI dan mata pelajaran lainnya di tingkat Madrasah Tsanawiyyah .
ANALISIS KEBUTUHAN GURU TERHADAP GAME BASED LEARNING NON-DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAHDENGAN KEBIJAKAN RESTRIKSI GAWAI: PERSPEKTIF MODEL ARCS Safira Puspa Nugraha; Udin Supriadi; Achmad Faqihuddin
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2026): July
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi ideal pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menuntut partisipasi aktif siswa, namun temuan empiris menunjukkan adanya penurunan drastis tingkat konsentrasi akibat keletihan fisik dan mental pada penjadwalan jam rawan (siang hari). Di sisi lain, upaya inovasi pedagogis pendidik melalui Game-Based Learning (GBL) digital terhambat oleh regulasi sekolah yang membatasi penggunaan gawai oleh peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi aktual penggunaan media PAI terhadap tingkat fokus siswa, (2) mengidentifikasi kendala regulasi gawai, dan (3) menganalisis tingkat kebutuhan perancangan media permainan non-digital. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui inkuiri wawancara mendalam terhadap Guru PAI di salah satu SMAN di Kota Bandung, dan dianalisis menggunakan kerangka ARCS Model of Motivational Design. Hasil penelitian menunjukkan adanya tingkat kebutuhan yang tinggi dari pendidik terhadap pengembangan media GBL non-digital. Fenomena ini dilatarbelakangi oleh inefisiensi metode stimulasi konvensional di jam siang, diferensiasi krisis kepercayaan diri siswa terutama diantara materi Sejarah Islam dan Tajwid/Al-Qur’an, serta kebutuhan efisiensi stamina mengajar pendidik. Penelitian ini merekomendasikan tindak lanjut berupa perancangan purwarupa permainan edukatif fisik yang praktis, mengakomodasi mekanika kegagalan berisiko rendah, dan mengintegrasikan penanaman nilai adab Islami secara organik ke dalam aturan permainannya
PENERAPAN PENDEKATAN DEEP LEARNING PADA PEMBELAJARAN PAI UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMK NEGERI TENGARAN Maula Devina Yahya; Rika Purnamasari; Yusrina Putri Novia; Muhammad Rizki Ramadhan; Muhammad Aji Nugroho
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2026): January
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/talim.v9i1.11272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan deep learning dalam pembelajaran PAI di SMK Negeri Tengaran sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendekatan deep learning dalam pembelajaran PAI terdiri atas tiga tahapan utama, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru berupaya mengintegrasikan prinsip-prinsip pedagogis modern seperti kolaboratif, kontekstual, dan reflektif terhadap nilai-nilai, melalui penerapan strategi pembelajaran diferensiasi yang disesuaikan dengan keragaman kemampuan siswa. Pada tahap pelaksanaan, terlihat adanya peningkatan dalam partisipasi aktif siswa, keberanian mengemukakan pendapat, serta kemampuan mengaitkan ajaran Islam dengan konteks kehidupan nyata. Adapun pada tahap evaluasi, guru menerapkan penilaian autentik yang meliputi tugas proyek, presentasi, serta penulisan jurnal reflektif, yang berfungsi menumbuhkan kemampuan analitis, evaluatif, dan moral siswa. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan deep learning mampu memperkuat kemampuan berpikir kritis dan reflektif peserta didik, sekaligus menumbuhkan karakter islami serta kesadaran spiritual yang relevan dengan tantangan kehidupan modern.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN APLIKASI BERBASIS ANDROID SEBAGAI SARANA BELAJAR SHALAT UNTUK MUALAF Hamdan Syah Alam; Hotni Sari Harahap
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2026): January
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/talim.v9i1.12039

Abstract

Abstract This study aims to analyze the effectiveness of Android-based applications as a learning medium for prayer (shalat) among converts (mualaf) at the Mualaf Center Community of Medan Region. This research employed a qualitative descriptive approach using a case study design involving 20 converts selected through purposive sampling, supported by participatory observation, semi-structured interviews, and documentation. The results indicate that the use of Android-based applications significantly improves participants’ understanding of prayer pillars, movements, and recitations, with an average improvement rate of 92%. Visual, audio, and Latin transliteration features facilitate learning for converts with limited Arabic literacy, while also enhancing learning autonomy and consistency in performing prayers. These findings suggest that the effectiveness of the application is driven by flexible access, user-friendly features, and opportunities for repetitive self-directed learning. It can be concluded that Android-based prayer learning applications are effective as alternative and complementary learning media for converts, contributing positively to the quality of religious practice and strengthening technology-based Islamic education. Keyword: Android Application, Prayer Learning, Converts, Islamic Education Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan aplikasi berbasis Android sebagai sarana belajar shalat bagi mualaf di Komunitas Mualaf Center Regional Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, melibatkan 20 orang mualaf yang dipilih secara purposive, serta didukung oleh data observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi berbasis Android mampu meningkatkan pemahaman mualaf terhadap rukun, gerakan, dan bacaan shalat secara signifikan, dengan peningkatan rata-rata pemahaman mencapai 92%. Media visual, audio, dan teks latin dalam aplikasi membantu mualaf yang belum lancar membaca huruf Arab serta mendorong kemandirian belajar dan konsistensi pelaksanaan shalat. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas aplikasi disebabkan oleh fleksibilitas akses, kemudahan penggunaan, dan kemampuan belajar berulang secara mandiri. Disimpulkan bahwa aplikasi pembelajaran shalat berbasis Android efektif sebagai media alternatif dan pelengkap pembinaan tatap muka bagi mualaf, serta berdampak positif terhadap kualitas praktik ibadah shalat dan penguatan proses pembelajaran keagamaan berbasis teknologi. Kata Kunci: Aplikasi Android, Pembelajaran Sholat, Mualaf, Pendidikan Islam
THE EFFECTIVENESS OF USING PERKINS AND BLYTHE TEACHING MODEL IN ACQUIRING PHILOSOPHICAL CONCEPTS AMONG ELEVENTH GRADE SECONDARY STUDENTS Ismael Ibrahim Ahmed
TA'LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2026): January
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/talim.v9i1.12283

Abstract

This experimental study investigated the effectiveness of the Perkins and Blythe Teaching for Understanding framework in enhancing philosophical concept acquisition among eleventh-grade students in Kurdistan Region, Iraq. Seventy-two male students from Sêmêl Preparatory School participated in this quasi-experimental design with partial control during the 2024-2025 academic year. The experimental group (n=37) received instruction usFbating the Perkins and Blythe model, while the control group (n=35) followed conventional teaching methods. The study covered three chapters from the Grade 11 Philosophy textbook: Introduction to Philosophy, Logic and Critical Thinking, and Ethics and Moral Philosophy. A 30-item concept acquisition test measuring definition, discrimination, and application levels was administered as pre-test and post-test. Independent samples t-test revealed statistically significant differences (p<0.05) favoring the experimental group in post-test comparison (t=7.528). Paired samples t-test showed significant improvement within the experimental group between pre-test and post-test (t=19.842). The experimental group demonstrated superior performance across all three concept acquisition levels. These findings suggest that the Perkins and Blythe framework promotes deeper understanding of philosophical concepts compared to traditional methods, supporting its integration into philosophy curricula and warranting professional development programs for secondary teachers.