cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 3 November 2024" : 32 Documents clear
The Challenge in Differentiating Acute Fatty Liver of Pregnancy from Other Hepatic Disorders in Parturient Women – A Case Report Santoso, Tiffanie Almas; Andrea, Demirel; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.752

Abstract

Introduction: Liver disorder during pregnancy can arise from pregnancy-related factors or other underlying causes. One significant example is Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP), a rare but life-threatening obstetric emergency that typically occurs in the third trimester or early postpartum period. Diagnosis of AFLP is carried out using the Swansea criteria, and its clinical management varies depending on the severity of the condition.Case Illustration: A 23-year-old woman, at 33-34 weeks of gestation in a multifetal pregnancy, presented with abdominal contractions and jaundice. The patient was diagnosed with AFLP using the Swansea criteria, Following the diagnosis, the patient delivered twins and received multidisciplinary care. After seven days of inpatient care, jaundice improved, symptoms resolved, and there were no signs of coagulation disorders.Discussion: AFLP is a rare condition that normally occurs in the third trimester, with risk factors including multiple pregnancies and metabolic disorders. Symptoms can be nonspecific but may lead to acute liver failure, thereby timely diagnosis and management are crucial. Treatment primarily involves prompt delivery and supportive care to manage complications such as hypoglycemia and renal failure.Conclusion: Early identification of AFLP can be challenging due to its similarities with other conditions, but the Swansea criteria can help assess its severity and potential complications for both mothers and fetuses.Tantangan dalam Membedakan Acute Fatty Liver dalam Kehamilan dengan Penyakit Hati Lainnya pada Wanita Parturien – Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Penyakit hati selama kehamilan dapat berkaitan dengan kehamilan atau memiliki penyebab lain. AFLP, sebuah keadaan darurat obstetri yang langka dan mengancam jiwa yang terjadi pada trimester ketiga atau periode postpartum awal, didiagnosis menggunakan kriteria Swansea dan memerlukan penanganan klinis yang bervariasi karena spektrum keparahannya. Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun pada usia kehamilan 33 - 34 minggu dengan kehamilan multifetal datang dengan kontraksi abdomen dan jaundice. Pasien terdiagnosis acute fatty liver of pregnancy (AFLP) dengan menggunakan kriteria Swansea. Pasien melahirkan bayi kembar dan menerima perawatan multidisiplin pascasalin. Setelah tujuh hari perawatan rawat inap, jaundicenya membaik, dan gejalanya menghilang, tanpa tanda-tanda gangguan koagulasi. Diskusi: AFLP adalah kondisi langka yang biasanya terjadi pada trimester ketiga, dengan faktor risiko termasuk kehamilan ganda dan gangguan metabolik. Gejalanya tidak spesifik, tetapi dapat menyebabkan gagal hati akut sehingga diagnosis dan penanganan yang tepat waktu sangat penting. Perawatan utamanya melibatkan persalinan yang cepat dan perawatan suportif untuk menangani komplikasi seperti hipoglikemia dan gagal ginjal.Kesimpulan: Identifikasi dini AFLP bisa menjadi tantangan karena kesamaannya dengan kondisi lain, tetapi kriteria Swansea dapat membantu menilai keparahan dan komplikasi potensial bagi ibu dan janin.Kata kunci: Acute Fatty Liver pada Kehamilan; Diagnosis ; Parturien; Penyakit Hati
Cesarean Scar Pregnancy: Case Series Munizar, Munizar; Yolanda, Febrina; Utami, Niken Asri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.745

Abstract

Tujuan: Kehamilan bekas luka sesar (CSP) merupakan kehamilan ektopik yang serius, dengan embrio tertanam pada jaringan parut dari operasi caesar sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan empat kasus CSP dan membahas penanganannya.Metode: Kasus yang dilaporkan melibatkan empat wanita dengan usia kehamilan 13-14 minggu yang mengalami perdarahan pervaginam dan nyeri abdomen. Diagnosis CSP dilakukan melalui ultrasonografi transvaginal. Penanganan melibatkan laparatomi eksplorasi, hysterotomi segmental, dan reseksi jaringan abnormal.Hasil: Semua pasien didiagnosis dengan CSP berdasarkan temuan USG yang menunjukkan jaringan abnormal dan hipervaskularisasi pada bekas luka sesar. Prosedur bedah dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, dan setelah operasi, kondisi pasien stabil.Kesimpulan: CSP merupakan kondisi yang semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah persalinan sesar. Diagnosis awal melalui USG transvaginal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang serius, seperti plasenta akreta. Penanganan bervariasi dari terapi medikamentosa hingga prosedur bedah, tergantung pada kondisi pasien. Edukasi mengenai risiko CSP pada kehamilan berikutnya sangat dianjurkan.
Diagnosis and Management of Utero-Sigmoid Fistula Cases: Case Report Arwan, Berriandi; Rinaldi, Andi; Sasotya, R. M. Sonny; Achmad, Eppy Dharmadi; Sukarsa, Moch. Rizkar Arev
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.698

Abstract

Introduction: Intrauterine devices (IUDs) are a common form of contraception due to their affordability and effectiveness. But they can also result in migration into the myometrium, which can cause utero-sigmoid fistulas. Utero-sigmoid fistulas is a rare but dangerous side effect of intrauterine device migration, which can make diagnosis and device retrieval challenging. Here, we present a case report that highlights the diagnosis and the management of utero-sigmoid fistula.Case Presentation: A 63-year-old woman came to the hospital due to feces appearing from her vagina. Later, it was confirmed from vaginal touch examination. On US examination, the IUD was found to have migrated to the deeper part of the uterus and a defect was confirmed as a fistula between the sigmoid colon and the uterus by contrast-enhanced abdominal MSCT. The patient then underwent a joint surgery consisting of wedge reesection of the uterus + fistula repair by the digestive surgery team, and hysterotomy + bilateral salpingectomy by the obgyn team. The procedure was success, and the fistula was closed, however the IUD was not retrieved during surgery. The patient had no early post-operative problem.Conclusion: The management of utero-sigmoid fistulas varies greatly and is not standardized. The diagnosis can be confirmed by hysteroscopy or surgical exploration, although non-invasive imaging techniques like MRI can aid in the process. Even though utero-sigmoid fistulas are uncommon, physicians need to be aware of this possible IUD complications.Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Fistula Utero-Sigmoid: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan bentuk kontrasepsi yang umum digunakan karena harganya terjangkau dan efektif. Namun, AKDR dapat bermigrasi ke dalam miometrium yang dapat menyebabkan pembentukan fistula utero-sigmoid. Fistula utero-sigmoid adalah efek samping yang jarang terjadi tetapi berbahaya akibat migrasi AKDR. Migrasi AKDR dapat menjadi tantangan untuk diagnosis penyebab fistula utero-sigmoid dan penyulit saat prosedur pengambilan AKDR. Laporan kasus ini akan membahas mengenai diagnosis dan penanganan fistula utero-sigmoid.Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 63 tahun datang ke rumah sakit mengeluhkan feses yang keluar dari vaginanya. Kemudian, hal itu dikonfirmasi saat pemeriksaan vagina. Pada pemeriksaan USG ditemukan IUD yang berpindah ke bagian uterus yang lebih dalam dan suatu defek yang terkonfirmasi sebagai fistula antara kolon sigmoid dan uters melalui MSCT abdomen dengan kontras. Kemudian pasien menjalani operasi bersama yang terdiri dari wedge reesection pada rahim + repair fistula oleh tim bedah digestif, dan histerotomi + salpingektomi bilateral oleh tim obgyn. Prosedur berjalan dengan baik dan fistula berhasil ditutup, namun AKDR tidak diambil pada saat operasi. Tidak didapati komplikasi akut pascaoperasi.Kesimpulan: manajemen fistula utero-sigmoid sangat bervariasi dan belum terstandardisasi. Diagnosis dapat dikonfirmasi melalui histereskopi atau eksplorasi pembedahan, namun teknik pencitraan non-invasif seperti MRI dapat membantu proses diagnosis. Meskipun fistula utero-sigmoid jarang terjadi, klinisi tetap harus waspada akan komplikasi ini akibat dari IUDKata kunci: AKDR, Diagnosis, Fistula utero-sigmoid, manajemen,
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Jurnal, Obgynia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.777

Abstract

Profile and Pregnancy Outcome in Preeclampsia with and Without Cardiac Abnormalities Complication Aqilah, Nurjihan Syarifah; Pribadi, Adhi; Cool, Charlotte Johanna; Aziz, Muhammad Alamsyah; Pramudyo, Miftah; Astuti, Astri; Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.742

Abstract

Introduction: This study was conducted to determine the profile of maternal characteristics and outcomes, as well as neonatal outcomes of mothers giving birth with preeclampsia and complications of cardiac abnormalities compare to preeclampsia without complications of cardiac abnormalities.Methods: This study used a descriptive cross-sectional research method with purposive sampling.Results: Out of 78 samples, there were 10 pregnant women with cardiac abnormalities. The predominant age is in the 18 - 35 years range at 51 (65.4%) samples. Comorbidities found were eclampsia 8 (10.3%) and HELLP syndrome 3 (3.8%). There was no maternal mortality. The major method of delivery was perabdominal in preeclampsia with cardiac abnormalities 10(100.0%). The neonatal outcome obtained APGAR scores of 7-10 as many as 57 (73.1%) babies, 8 (10.2%) babies with score 4-6, and 13 (16.7%) babies with score 0-3. There were 16 (20.5%) babies born with SGA, 58 (74.4%) with AGA, and 4 (5.1%) with LGA. Most neonatal born with normal APGAR score (58 babies or 74.4%). In the PE group with heart defects, there was 1 (10.0%) baby with severe asphyxia as in stillbirth. While in preeclampsia without cardiac abnormalities 11 (16.2%) babies were born with severe asphyxia and 8 (10.2%) stillbirths.Conclusion: The maternal outcomes were (1) comorbidities of eclampsia and HELLP syndrome, (2) the majority of delivery methods being caesarean section., and in neonatal outcomes, most babies were born with normal APGAR score and appropriate gestational age (AGA).Profil dan Luaran Kehamilan pada Preeklamsia dengan dan Tanpa Komplikasi Kelainan JantungAbstrakPendahuluan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil karakteristik dan luaran maternal, serta luaran neonatal ibu melahirkan dengan preeklamsia dengan komplikasi kelainan jantung dan preeklamsia tanpa komplikasi kelainan jantung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif potong lintang dan pengambilan sampel penelitian purposif.Hasil: Dari 78 sampel, didapatkan 10 ibu hamil dengan kelainan jantung. Usia paling banyak ada pada rentang usia 18 - 35 tahun 51(65.4%) sampel. Penyakit pernyerta didapatkan eklamsia 8(10.3%) dan sindrom HELLP 3(3.8%). Tidak ditemukan kematian ibu. Metode persalinan terbanyak yaitu perabdominal pada PE dengan kelainan jantung 10(100.0%). Hasil luaran neonatal kelahiran bayi tunggal, didapatkan skor APGAR 7-10 sebanyak 57(73.1%) bayi, 8(10.2%) bayi dengan skor 4-6, dan 13(16.7%) bayi dengan skor 0-3. Terdapat 16(20.5%) bayi lahir dengan SGA, 58(74.4%) dengan AGA, dan 4(5.1%) dengan LGA. Hasil luaran neonatal terbanyak dengan kondisi APGAR normal (58 bayi atau 74.4%). Pada kelompok PE dengan kelainan jantung ditemukan 1(10.0%) bayi dengan luaran asfiksia berat begitu pun dengan stillbirth. Sedangkan pada PE tanpa kelainan jantung sebanyak 11(16.2%) lahir dengan asfiksia berat dan 8(10.2%) stillbirth.Kesimpulan: Luaran kehamilan yang ditemukan yaitu (1) penyakit penyerta berupa eklamsia dan sindrom HELLP, (2) metode persalinan terbanyak yaitu caesarean section, dan hasil luaran neonatal terbanyak adalah dengan kondisi APGAR normal dan AGA.Kata kunci: Luaran kehamilan; Luaran neonatal; Preeklamsia dengan kelainan jantung
Reduction of Maternal Calponin 1: Evidence to Support Natural Progesterone Superiority to Nifedipine in the Treatment of Uncomplicated Premature Contraction Madjid, Tita Husnitawati; Judistiani, Tina Dewi; Heryawan, Iwan; Effendi, Jusuf
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.661

Abstract

Introduction: Premature contractions precede preterm birth, which is still a challenging subject as it may contribute to neonatal mortality. Treatment is often aimed at providing some time window for lung maturation. This study aims to compare the efficacy of nifedipine versus progesterone in postponing preterm birth and to provide evidence of the biological process by changes in maternal serum calponin 1 level.Method: An oral dose of 20 mg nifedipine given three times daily was compared to a single dose of 400 mg intra-vaginal natural progesterone in a single-blinded, non-randomized controlled trial. Selected subjects were normal, singleton pregnancies between 28 - 34 weeks of gestational age with premature contraction and intact amniotic membrane. The primary outcome was a reduction in the frequency and strength of contraction, and the secondary measure was the adjustment of serum calponin before and after the intervention.Results: This finding was supported by reducing calponin levels in maternal sera. Despite the reduction of frequency and strength of contractions occurring in the nifedipine arm, serum calponin level increased, indicating that the myometrial contractility pathway was not completely deterred.Conclusion: This study revealed that natural progesterone was superior to nifedipine in treating premature contraction. It was also supported by evidence of maternal sera calponin level reduction, indicating disruption of the contraction pathway.Penurunan Serum Calponin 1 Ibu: Bukti yang Mendukung Keunggulan Progesteron Alami dibandingkan Nifedipine dalam Pengobatan Kontraksi Dini Tanpa KomplikasiAbstrakPendahuluan: Kelahiran prematur selalu didahului oleh kontraksi prematur. Hingga saai ini kelahiran prematur masih menjadi topik yang menantang karena dapat berkontribusi pada kematian neonatal. Pengobatan sering bertujuan memberikan waktu untuk pematangan paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas nifedipin versus progesteron dalam menunda kelahiran prematur dan untuk memberikan bukti proses biologis melalui perubahan kadar serum calponin 1 ibu.Metode: Dosis oral 20mg nifedipin yang diberikan tiga kali sehari dibandingkan dengan dosis tunggal 400mg progesteron alami intra-vagina dalam uji coba single-blinded non-randomized controlled. Subjek yang dipilih adalah kehamilan normal, kehamilan tunggal usia kehamilan antara 28 - 34 minggu dengan kontraksi prematur dan selaput ketuban yang utuh. Hasil utama adalah pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi dan ukuran sekunder adalah penyesuaian serum calponin sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Temuan ini didukung oleh penurunan kadar calponin dalam serum ibu. Meskipun terjadi pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi pada lengan nifedipin, kadar serum calponin meningkat yang mungkin mengindikasikan bahwa jalur kontraktilitas miometrium tidak sepenuhnya terhalang.Kesimpulan: Hasilnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa progesteron alami lebih unggul daripada nifedipin dalam pengobatan kontraksi dini. Hal ini juga didukung oleh bukti penurunan kadar serum calponin ibu yang mengindikasikan gangguan pada alur kontraksi.Kata kunci: Calponin 1, Kontraksi dini, Kelahiran prematur, Nifedipine, Progesteron
Placenta Senescence and the Genesis of Preeclampsia: Is There Any Potential Role? – A Review Nugraha, Azka Ardian; Nugrahani, Annisa Dewi; Adriansyah, Putri Nadhira Adinda; Shodiq, Ja’far; Santoso, Dhanny Primantara Johari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.706

Abstract

Introduction: Preeclampsia is a hypertensive disorder of pregnancy and is responsible for around 800 maternal deaths. The etiologies of preeclampsia remain unidentified, although the premature senescence of the placenta is a possible cause. To date, various markers such as oxidative stress and mitochondrial dysfunction have been identified to be related to placental aging.Method: This study uses a narrative review approach; the search engines used are Scopus, PubMed, and Cochrane. The keyword combinations are placenta senescence AND aging AND preeclampsia, while excluding the results that are correspondence or not written in English.Results: The senescence of the placenta has a role in the pathophysiology of preeclampsia. The epigenetic alterations marked by the changes in the trophoblast’s telomere length as the result of the damage done by ROS to the mitochondria marked by various biomarkers can lead to accelerated cell death.Conclusion: Preeclampsia is due to premature placental aging and apoptosis, resulting in widespread blood vessel lining dysfunction.Penuaan Plasenta dan Asal Mula Preeklampsia: Adakah Peran Potensial? – Sebuah TinjauanAbstrakPendahuluan: Preeklampsia adalah gangguan hipertensi pada kehamilan yang menyebabkan sekitar 800 kematian ibu. Penyebab preeklampsia masih belum diketahui, namun penuaan dini plasenta merupakan salah satu penyebabnya. Sampai saat ini, berbagai markah seperti stress oksidatif dan disfungsi mitokondria telah teridentifikasi berhubungan dengan penuaan plasenta.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif dan mesin pencari yang digunakan adalah Scopus, PubMed, dan Cochrane. Kombinasi kata kunci yang digunakan adalah penuaan plasenta DAN penuaan DAN preeklampsia dan mengecualikan hasil yang bersifat korespondensi atau tidak ditulis dalam bahasa Inggris.Hasil: Penuaan plasenta memiliki peran dalam patofisiologi preeklampsia. ROS merusak mitokondria dengan mengubah panjang telomer trofoblas. Perubahan tersebut dapat menyebabkan percepatan kematian sel yang bisa ditandai dengan berbagai biomarkerKesimpulan: Preeklampsia disebabkan oleh penuaan plasenta dini dan apoptosis yang mengakibatkan disfungsi lapisan pembuluh darah yang meluas.Kata kunci: Perubahan Epigenetik, Stres Oksidatif, Penuaan Plasenta, Preeklampsia
Correlation of Vitamin D and Antimullerian Hormone Level in Infertile Women with Polycystic Ovary Syndrome and Obesity Usman, Fatimah; Saleh, Irsan; Effendi, Kms. Yusuf; Putra, Hadrians Kesuma; Abadi, Adnan; Siahaan, Salmon Charles Pardomuan Tua; Kesty, Cindy; Rizda, Dian Permata; Stevanny, Bella; Lestari, Peby Maulina
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.723

Abstract

Introduction: Increasing amount of research indicates that women with PCOS are more likely to have a shortage in vitamin D with abnormally high anti-Müllerian hormone (AMH) levels. This study aims to assess the correlation between vitamin D and Anti-Mullerian Hormone (AMH) levels in infertile women with polycystic ovarian syndrome (PCOS) and obesity. Method: This observational cross-sectional study examined all obese women with PCOS who sought infertility treatment at Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang from August 2021 to November 2021. PCOS diagnosis was determined using the Rotterdam criteria. All research subjects underwent a physical examination and transvaginal ultrasound to evaluate body mass index (BMI) and polycystic ovary morphology. Blood samples were collected to evaluate their testosterone, AMH, and vitamin D levels. Statistical analysis was performed using the Spearman correlation test with IBM® SPSS Statistics version 24. Results: Thirty infertile women with PCOS and obesity were included in the study, with average age of 31.17±4.48 years and average BMI of 33.45±2.67 kg/m2. The majority of the subjects had polycystic ovary morphology (86.7%) and oligomenorrhea (76.7%). No correlation between BMI and vitamin D as well as AMH levels was found in infertile women with PCOS and obesity. The Spearman test showed moderate negative correlation (p = 0.011. r = -0.458) between vitamin D and AMH levels in infertile women with PCOS and obesity. Conclusion: There is a moderate negative correlation between vitamin D and AMH levels among infertile women with PCOS and obesity. Further research is required to comprehend the role of vitamin D in female fertility.Korelasi Vitamin D dan Kadar Hormon Anti-Müllerian pada Wanita Infertil dengan Sindrom Ovarium Polikistik dan ObesitasAbstrakPendahuluan: Semakin banyak penelitian melaporkan bahwa wanita dengan PCOS cenderung mengalami defisiensi vitamin D dengan penignkatan kadar hormon anti-Müllerian (AMH). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan vitamin D dan kadar AMH pada wanita infertil dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK) dan obesitas.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang terhadap seluruh wanita infertil dengan SPOK dan obesitas yang di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Agustus 2021 hingga November 2021. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam. Seluruh subjek penelitian menjalani pemeriksaan fisik dan ultrasonografi transvaginal untuk menilai indeks massa tubuh (IMT) dan morfologi ovarium polikistik. Sampel darah dikumpulkan dari semua wanita untuk mengukur kadar testosteron, AMH, dan vitamin D. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan IBM® SPSS Statistics versi 24.Hasil: Tiga puluh wanita infertil dengan SOPK dan obesitas dilibatkan dalam penelitian ini dengan usia rata-rata 31,17±4,48 tahun dan rata-rata IMT 33,45±2,67 kg/m2. Mayoritas subjek memiliki morfologi ovarium polikistik (86,7%) dan oligomenore (76,7%). Tidak ada korelasi antara IMT dan vitamin D maupun kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Uji Spearman menunjukkan korelasi negatif sedang (p=0.011.r=-0.458) antara kadar vitamin D dan AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Kesimpulan: Kadar vitamin D berkorelasi negatif dengan kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran vitamin D pada kesuburan wanita.Kata kunci: Anti-Müllerian Hormone, Indeks Massa Tubuh, Obesitas, Sindrom Ovarium Polikistik, Vitamin D
Exploring the Intricacies of Encephalocele Case in Pregnancy: Unraveling Risk Factors, Diagnostic Difficulty, and Implications for Maternal and Fetal Health Martani, Rizky Alamsyah; Santoso, Dhanny Primantara Johari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.708

Abstract

Introduction: Encephaloceles are a type of neural tube defect that carries a significant risk of death and health complications. Ultrasonography can be utilized for the early detection of encephaloceles starting from 11 weeks of gestation. This case report describes the diagnosis of an occipital encephalocele using ultrasonography during the third trimester of pregnancy and the subsequent monitoring of the condition until delivery. This report serves as a reminder of the potential implications and the importance of ongoing research in prenatal diagnosis of encephalocele to improve diagnostic and therapeutic strategies.Case Report: A 23-year-old woman, gravida 2, para 1 (G1P0A0), presented with lower abdominal pain without uterine contractions at 38 weeks of pregnancy, was consulted in the Department of Obstetrics and Gynecology of Slamet General District Hospital. She did nine antenatal visits; and three were performed through ultrasonography by a general practitioner. The occipital posterior defect was visualized with protruding mass consistent with an encephalocele during the third trimester when she was admitted to Slamet General Hospital Garut. A baby born by cesarean section with an encephalocele died three hours later.Discussion: Encephaloceles can be detected using two-dimensional (2D) and three-dimensional (3D) sonography as early as 11 weeks; however, most instances are typically diagnosed during the second trimester. Using advanced imaging technology and skilled sonographers, an encephalocele can be diagnosed at 14 weeks.Conclusion: Prenatal screening through ultrasonography and other advanced imaging techniques plays a significant role in identifying encephalocele prenatally. Understanding potential risk factors, including genetic predispositions and environmental influences, is important to better counsel patients on preventive strategies.Eksplorasi Kasus Kehamilan dengan Ensefalokel : Faktor Risiko, Kesulitan Diagnostik, dan Implikasi untuk Kesehatan Ibu dan JaninAbstrakPendahuluan: Ensefalokel adalah jenis cacat tabung saraf yang membawa risiko kematian dan komplikasi kesehatan yang signifikan. Ultrasonografi dapat digunakan untuk deteksi dini ensefalokel mulai dari usia kehamilan 11 minggu. Laporan kasus ini menjelaskan diagnosis ensefalokel oksipital menggunakan ultrasonografi selama trimester ketiga kehamilan, dan pemantauan kondisi selanjutnya hingga persalinan. Laporan ini menjadi pengingat pada implikasi potensial dan pentingnya penelitian yang sedang berlangsung dalam diagnosis ensefalokel prenatal untuk meningkatkan strategi diagnostik dan terapeutik.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun, gravida 2, para 1 (G1P0A0), datang dengan keluhan nyeri perut bagian bawah tanpa kontraksi uterus pada usia kehamilan 38 minggu ke Departemen Obstetri dan Ginekologi di RSUD Slamet Garut. Pasien telah menjalani sembilan kali perawatan antenatal, tiga di antaranya dilakukan dengan ultrasonografi oleh dokter umum. Defek posterior oksipital divisualisasikan dengan massa yang menonjol konsisten dengan encephalocele pada trimester ketiga ketika admisi di RSUD Slamet Garut. Bayi lahir melalui operasi seksio sesarea dengan klinis encephalocele lalu meninggal tiga jam kemudian.Diskusi: Encephalocele dapat dideteksi dengan sonografi dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) sejak usia 11 minggu, namun sebagian besar kasus biasanya didiagnosis selama trimester kedua. Encephalocele dapat didiagnosis pada usia 14 minggu menggunakan teknologi ultrasonografi, tetapi deteksinya didasarkan oleh kemampuan operator. Kesimpulan: Skrining prenatal melalui ultrasonografi dan teknik pencitraan canggih lainnya memainkan peran penting dalam mengidentifikasi ensefalokel prenatal. Memahami faktor risiko potensial, termasuk faktor genetik dan lingkungan adalah penting untuk memberikan konseling yang lebih baik kepada pasien tentang strategi pencegahan.Kata kunci: Counseling, Diagnosis, Occipital Encephalocele, Risk Factors
Correlation of Early-Onset and Late-Onset Preeclampsia with Increased Lactic Dehydrogenase Serum Levels Kezia Sitorus, Lois Tabitha; Priyanto, Edy; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.711

Abstract

Introduction: Preeclampsia is a hypertensive disorder during pregnancy that is associated with 2-8% of pregnancy-related complications worldwide. Lactate Dehydrogenase (LDH) is a dominant intracellular cytoplasmic enzyme of anaerobic glycolysis and is released into the general circulation during cell death. This enzyme is increased in preeclampsia due to glycolysis and chronic anoxemia due to placental ischemia. The effect of LDH on pregnancy-related complications, such as preeclampsia, is now gaining attention. This study aims to assess the difference in LDH serum levels in early- and late-onset preeclampsia. Methods: This is an analytical observational study with a retrospective approach and cross-sectional design. The sample consists of 106 patients with early- and late-onset preeclampsia at RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo from July to December 2022. Data analyzed in this study was collected from medical records.Results: This study found that 65.09% of the subjects were less than 35-years-old, 76.42% were multiparous, 64.15% had term birth, and 77.01% had a BMI >30. The mean LDH level in early-onset preeclampsia was 292.38 + 255.05 (141–1507), while the mean in late-onset preeclampsia was 181.60 + 43.13 (103–319). The cut-off value for LDH levels in preeclampsia patients was 185.5 U/L. A significant correlation was found between mean BMI and LDH levels (p=0.0001) and between mean maternal age and LDH levels (p=0.0001).Conclusion: There was a significant relationship between the onset of preeclampsia, mean BMI, and mean maternal age and LDH levels.Hubungan antara Kejadian Preeklamsia Awitan Dini dan Lanjut dengan Peningkatan Serum Laktat DehidrogenaseAbstrakPendahuluan: Preeklamsia adalah kelainan hipertensi pada kehamilan yang berhubungan dengan 2 – 8% komplikasi terkait kehamilan di seluruh dunia. Laktat dehidrogenase (LDH) adalah enzim sitoplasma intraseluler dominan dari glikolisis anaerobik dan dilepaskan ke sirkulasi umum selama kematian sel. Enzim ini meningkat pada preeklamsia akibat glikolisis dan anoksemia kronis akibat iskemia plasenta. Pengaruh LDH terhadap komplikasi terkait kehamilan seperti preeklamsia kini mulai mendapat perhatian. Studi ini bertujuan untuk menilai perbedaan kadar serum LDH pada preeklamsia awitan dini dan lanjut.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan retrospektif dan desain potong lintang. Sampel terdiri atas 106 pasien dengan preeklamsia awitan dini dan lanjut di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo periode Juli-Desember 2022. Data diperoleh dari rekam medis.Hasil: Ditemukan bahwa 65,09% subjek berusia kurang dari 35 tahun, sebanyak 76,42% subjek multipara, sebanyak 64,15% subjek mengalami kelahiran aterm, sebanyak 77,01% subjek memiliki IMT >30. Rerata kadar LDH pada preeklamsia awitan dini ditemukan 292,38 + 255,05 (141–1507), sedangkan rerata pada preeklamsia awitan lanjut adalah 181,60 + 43,13 (103–319). Nilai cut off kadar LDH pada pasien preeklamsia ditemukan 185,5 U/L. Hubungan signifikan ditemukan antara rerata IMT dengan kadar LDH (p=0,0001) dan rerata usia ibu dengan kadar LDH (p=0,0001).Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara awitan preeklamsia, rerata IMT dan rerata usia ibu dengan kadar LDH.Kata kunci: preeklamsia, lactic dehydrogenase, preeklamsia awitan dini, preeklamsia awitan lanjut

Page 3 of 4 | Total Record : 32