cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Akumulasi Logam Pb dan Cu pada Akar, Daun dan Serasah Mangrove di Perairan Pekalongan Nirwani Soenardjo; Refinda Juliant Mentari
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i3.48984

Abstract

Pekalongan merupakan kota dengan kegiatan industri tekstil  cukup besar, terutama industri batik. Kegiatan industri ini menghasilkan limbah (salah satunya logam berat) diduga dapat mencemari lingkungan. Tembaga (Cu) dan Timbal (Pb) adalah logam berat yang   umum digunakan sebagai pewarna mordant dalam pewarnaan tekstil.  Mangrove Park di Kota Pekalongan sangat penting karena vegetasi mangrove mampu mengakumulasi logam berat.  Rhizophora mucronata digunakan sebagai fitoremediator karena dapat mengakumulasi logam berat. Tujuan penelitian ini menganalisis potensi R. mucronata sebagai agen fitoremediasi logam berat Pb dan Cu. Metode purposive sampling digunakan untuk pengambilan data dan sampel dianalisis dengan alat AAS (Atomic Absorption Spectophotometry). Hasil analisis Pb dan Cu ditemukan dalam sampel air, sedimen, daun, akar dan serasah mangrove. Konsentrasi  Pb lebih tinggi dibandingkan dengan Cu, bagian akar R.mucronata  konsentrasi Pb lebih tinggi (3,658 mg/kg). Berdasarkan  Nilai Bio Concentratiosn Factor (BCF) < 1  dan Translocation Factors (FC) < 1, maka R.mucronata adalah tumbuhan excluder yang mempunyai mekanisme Rhizofiltrasi.  Pekalongan city is widely known as a city with a fairly large-scale textile industry, especially batik industry. These industrial activities have produced wastes (one of them is heavy metal) that can pollute the environment.  Copper (Cu) and Lead (Pb) were a heavy metal commonly used as a dye mordant in textile dyeing. The existence of Mangrove Park in Pekalongan city has an important role due to mangrove vegetation ability to accumulate heavy metals. Rhizophora mucronata was fairly used as phytoremediator due to its ability to accumulate heavy metals. This research purpose was conducted to analyze the potential of R. mucronata as phytoremediator agent for heavy metals such as Pb and Cu. Purposive sampling method was used for data collection and samples were analyzed by AAS (Atomic Absorption Spectophotometry) method. The result of Pb and Cu analysis found in water samples, sediments, leaves, roots and mangrove litter. Pb concentration higher than Cu concentration, on R. mucronata roots were found that the Pb concentration as high as 3,658 mg/kg. Based on Bio Concentrations Factor (BCF) <1 and Translocation Factors (FC)<1, mangrove R. mucronata is an excluder plant that has a rhizofiltration mechanism.
Kajian Komposisi Ukuran Rajungan Betina (Portunus pelagicus) di Fishing Ground Perairan Pemalang Ria Azizah Tri Nuraini; Sri Redjeki; Hadi Endrawati; M. Amanun Tharieq
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i3.51276

Abstract

Rajungan betina memiliki peranan penting dalam keberlanjutan stok sumber daya rajungan di alam. Maraknya rajungan betina yang masih ditangkap oleh nelayan menjadi salah satu ancaman besar terhadap keberlanjutan sumber daya rajungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi rajungan betina berdasarkan kelas lebar karapas, hubungan lebar karapas dan berat tubuh, komposisi tingkat kematangan gonad (TKG), nilai fekunditas dan persentase egg berried female (EBF) pada 20 titik area fishing ground yang dilaksanakan selama bulan Mei – Agustus 2022 di perairan Pemalang. Pengambilan sampel dan penentuan titik fishing ground dilakukan secara purposive sampling dengan menyesuaikan area penangkapan nelayan rajungan Desa Danasari, Pemalang. Distribusi ukuran lebar karapas rajungan menunjukkan modus kelas lebar karapas pada 101 – 110 mm, dimana kondisi tersebut tergolong kurang baik mengingat ukuran minimum rajungan yang boleh ditangkap adalah >100 mm. Hubungan lebar karapas dan berat tubuh menunjukkan pertumbuhan rajungan betina bersifat allometrik negatif, yang berarti pertambahan lebar karapas lebih cepat dibandingkan pertambahan berat tubuh. Komposisi TKG rajungan betina didominasi pada kondisi kematangan tingkat 2 (TKG 2) dengan persentase 78%. Nilai fekunditas rajungan betina bertelur dengan rata-rata pada kisaran 301.202±131.949 butir telur. Nilai EBF tertinggi ditemukan pada titik 12 dengan persentase 1,09% dengan rajungan betina bertelur sebanyak 7 ekor. Keberadaan rajungan betina di perairan menjadi salah satu faktor kunci keberlanjutan sumber daya rajungan, sehingga diharapkan dapat dijadikan acuan dalam penentuan area perlindungan dan kawasan potensial reproduksi rajungan di perairan Pemalang dan perairan lainnya. Female blue swimming crabs have an important role in the sustainability of crab populations of natural resources. The large number of female crabs that are still caught by fishermen is one of the major threats to the sustainability of crab resources. The purpose of this study was to determine the composition of female crab based on carapace width class, carapace width and body weight relationship, composition of gonad maturity level (TKG), fecundity value and percentage of egg berried female (EBF) at 20 spots of fishing ground area during May - August 2022 in Pemalang waters. Sampling and selection of fishing ground points were carried out by purposive sampling by adjusting the fishing area of crab fishermen in Danasari Village, Pemalang Regency. The distribution of carapace width size of crab showed the mode of carapace width class at 101 - 110 mm, where the condition is not quite good considering the minimum size of crab that can be caught is >100 mm. The relationship between carapace width and body weight shows that the growth of female crabs is negative allometric, which means that the increase in carapace width is faster than the increase in body weight. The TKG composition of female crabs is dominated by the condition of 2nd maturity level (TKG 2) with a percentage of 78%. The fecundity value of egg laying female crabs with an average in the range of 301,202±131,949 eggs. The highest EBF value was found at spot 12 with a percentage of 1,09%, with the number of egg berried female crabs are 7 individuals. The presence of female crabs in the waters is one of the key factors for the sustainability of crab resources, so it is expected to be used as a reference in determining protection and potential reproduction areas of blue swimming crabs in Pemalang waters and other waters.
Populasi Mangrove Rhizophora stylosa Griff. di Desa Kuala Langsa Kota Langsa: Distribusi Geografi, Struktur Demografi, Morfometrik Organ dan Karakteristik Penciri Morfometriknya Nur Safira; Erniati Erniati; Syahrial Syahrial; Fitra Wira Hadinata; Rika Anggraini; Nur Ikhsan; Risnita Tri Utami; Hendrik V. Ayhuan; Riri Ezraneti
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i3.52267

Abstract

Kajian terhadap populasi mangrove Rhizophora stylosa di Desa Kuala Langsa Kota Langsa dilakukan pada bulan November 2021 dengan tujuan untuk mengetahui distribusi geografi, struktur demografi, morfometrik organ dan karakteristik penciri morfometriknya. Data dikumpulkan dengan menarik transek kuadran berukuran 10 x 10 m yang tegak lurus garis pantai, dimana penentuan stasiun pengamatannnya berdasarkan purposive sampling. Organ daun, buah dan bunga diambil pada 5 tegakan pohon di masing-masing plot, kemudian diukur morfometriknya. Untuk struktur demografi, pengelompokkan umurnya dianalisis menurut metode Bhattacharya dan untuk penciri morfometriknya dianalisis berdasarkan statistik Principal Component Analysis (PCA). Hasil kajian memperlihatkan bahwa distribusi geografinya tergolong berlimpah (frekuensi relatif di atas 80%) dan pengelompokkan umurnya hanya terdiri dari satu kelompak dengan kisaran nilai tengah diameter batangnya antara 2,30–12,44 cm. Morfometrik diameter buah yang dominan ditemukan adalah 1,05–1,11 cm, panjang buah 26,46–27,77 cm, lebar kelopak bunga 0,38–0,41 cm, panjang kelopak bunga 0,98–1,04 cm, lebar daun 5,50–5,77 cm, panjang daun 11,60–12,11 cm dan diameter batang 5,41–7,00 cm. Selain itu, panjang buah, panjang kelopak bunga dan diameter batang merupakan morfometrik pencirinya dengan keragaman data 82,73%. In November 2021, a study was conducted on the Rhizophora stylosa mangrove population in Kuala Langsa Village, Langsa City, with the objective of determining the population's geographical distribution, demographic structure, morphometric organs, and morphometric characteristics. The data were collected by pulling a 10 x 10 m quadrant transect parallel to the shoreline, with the observation station determined through purposive sampling. Leaf, fruit, and flower organs were collected from five tree stands in each plot and then measured morphometrically. Battachraya method was used for the demograpic structure and Principal Component Analysis (PCA) was used to determine the morphological characteristics. The study's findings revealed a widespread geographic distribution (relative frequency greater than 80%) and a single age grouping with median stem diameters ranging from 2.30-12.44 cm. The dominant fruit diameter morphometrics were 1.05–1.11 cm, fruit length 26.46–27.77 cm, petal width 0.38–0.41 cm, petal length 0.98–1.04 cm, leaf width 5.50–5.77 cm, leaf length 11.60–12.11 cm, and diameter stem 5.41–7.00 cm. Furthermore, fruit length, flower petal length, and stem diameter are all morphometric characteristics with an 82.73% data diversity.  
Isolation and Morphological Characterization of Lead Tolerant Bacteria Associated with Perna viridis Yoshua Mario Sumbodo; Fiona Aqhila Dewi; Okti Hajeng Kristiadi; Annisa Nur Ayuningtyas; Heksa Raihan; Muhammad Zainuri; Hermin Pancasakti Kusumaningrum
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i3.59350

Abstract

Lead is a heavy metal contamination that is released into sea waters and cannot be decomposed so it accumulation and magnification along the food chain. Efforts to explore bacteria that have tolerance and have the potential to become lead reduction agents are a strategic step in remediating lead contamination. One mechanism for lead bioremediation by bioaccumulation is to utilize metallothionein protein which can potentially be obtained from isolates of green mussel associated bacteria. Bacterial isolates associated with green mussels were obtained by isolating the bacteria and testing the tolerance of the bacterial isolates using Luria Bertani media which was added with Pb(NO3)2 at a concentration of 100 ppm and its multiples to determine their tolerance to lead. The bacterial isolates obtained were characterized based on colony and cell morphology. The results of the lead resistance test carried out showed that 11 bacterial isolates were obtained and 3 bacterial isolates had tolerance to lead with a lead concentration of 400 ppm. Bacterial isolates that are tolerant to lead show changes in cell morphology to reduce the impact of exposure to lead which has a lethal effect, because the resulting decrease in cell surface area can reduce lead absorption.
Karakteristik Struktur Lapisan Termoklin Di Laut Andaman Dalam 4 Monsun Selama 1 Tahun Rahmatullah, Amri; Asmoro, Nuki Widi; Azis, Muhammad; Pranowo, Widodo Setiyo; Setiyadi, Johar
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.54877

Abstract

Suhu air laut menjadi salah satu parameter penting dalam bidang oseanografi. Salah satunya adalah termoklin, yaitu lapisan perairan dengan perubahan suhu yang cepat diantara lapisan yang berbeda. Karakteristik laut Andaman banyak yang belum diulas terutama pengaruh periodisitas monsun terhadap struktur lapisan termoklin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan data model dari Copernicus. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik struktur lapisan termoklin di laut Andaman. Hasil pengolahan data menunjukkan lapisan termoklin dalam 4 monsun secara menyeluruh. Sebaran batas atas termoklin berada pada kisaran kedalaman 13,47-109,73 m dan suhu antara 29,87-20.36˚C. Sebaran batas bawah berada pada kisaran kedalaman antara 130,67-155,85 m dan suhu antara 23,85-16,83˚C. Karena didominasi pengaruh monsun sehingga batas atas termoklin terdangkal ditemukan pada monsun Peralihan I dan batas bawah paling dalam pada monsun Timur dan Peralihan II.  Struktur lapisan termoklin berada pada rentang ketebalan termoklin dari 17,4-80,28 m dan rata-rata ketebalan termoklin sebesar 47,18 m. Ketebalan maksimum ditemukan pada monsun Peralihan I dengan ketebalan hingga 80,28 m. Peningkatan ketebalan termoklin pada Monsun Peralihan I terjadi akibat pengaruh angin, SPL yang meningkat  dan masuknya Equatorial Jet yang membawa arus lebih hangat dan East Indian Current (EIC) yang berputar tetap searah jarum jam di Utara Laut Andaman.The sea temperature is one of the important parameters in oceanography. One of them is the thermocline, which is a layer of water with rapid temperature changes between different layers. Many characteristics of the Andaman Sea have not been reviewed, especially the effect of monsoon periodicity on the structure of the thermocline layer. This research uses descriptive quantitative research methods with model data from Copernicus.  This study aims to identify and analyze the characteristics of thermocline layer structure in the Andaman Sea. The results of data processing show the thermocline layer in 4 monsoons as a whole. The distribution of the upper boundary of the thermocline is in the range of 13.47-109.73 m depth and temperature between 29.87-20.36˚C. The lower boundary distribution is in the range of depths between 130.67-155.85 m and temperatures between 23.85-16.83˚C. Due to the dominant influence of monsoon, the shallowest upper thermocline was found in the first monsoon and the deepest lower thermocline in the second monsoon.  The thermocline layer structure ranges in thermocline thickness from 17.4-80.28 m, with an average thermocline thickness of 47.18 m. The maximum thickness is found in the Transitional I monsoon with a thickness of up to 80.28 m. The increase in thermocline thickness in Monsoon Transitional I occurs due to the influence of winds, increased SPL and the entry of the Equatorial Jet which brings warmer currents and the East Indian Current (EIC) which rotates clockwise in the North of the Andaman Sea.
Variasi Spasial Karakteristik Pasang Surut di Laut Jawa Berbasiskan Model Pasut Global TPXO9v5 Windupranata, Wiwin; Nusantara, Candida Aulia De Silva; Nuraghnia, Alqinthara
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.59689

Abstract

Pasang surut (pasut) merupakan fenomena periodik naik turunnya air laut yang berpengaruh besar terhadap seluruh aktifitas manusia di wilayah pesisir dan laut. Tulisan ini menganalisis variasi spasial dari karakteristik pasut yang terjadi di Laut Jawa. Karakteristik pasut tersebut dipetakan dari empat komponen pasut utama (K1, O1, M2 dan S2) dari model pasut global TPXO9v5 dan diverifikasi menggunakan 14 stasiun pasut dari Badan Informasi Geospasial. Hasil verifikasi menunjukkan kesesuaian yang baik antara data model dengan data pengukuran dengan rata-rata nilai RMS 0,8 – 2,2 cm untuk komponen pasut dan 7,6 cm untuk tunggang pasut, sementara tingkat kesesuaian untuk tipe pasut adalah 93%. Nilai amplitudo komponen pasut pada kelompok harian (K1 dan O1) memiliki nilai lebih besar sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok harian ganda (S2 dan M2). Sementara untuk nilai fase, hanya gelombang O1 yang penjalarannya ke arah timur, sementara gelombang lainnya menjalar ke arah barat. Secara spasial, tunggang pasut di Laut Jawa bervariasi dari 0,3 m di bagian tengah pada bujur 108-110° BT dan bertambah tinggi ke arah barat dan timur sampai 1 m. Pengetahuan mengenai variasi spasial karakteristik pasut ini penting dalam mempelajari pola pasut, bidang referensi ketinggian atau kedalaman, atau untuk kerekayasaan seperti manajemen pelabuhan dan instalasi infrastruktur lepas pantai.  Tides are a periodic rising and falling sea level phenomenon that significantly impact all human activities in coastal and maritime regions. This paper discusses the spatial variations of tidal characteristics tides in the Java Sea. The characteristics are mapped from four main tidal components (K1, O1, M2, and S2) extracted from the TPXO9v5 tide model and verified by 14 tidal stations. The verifications show a good agreement between the model data and measurements, with an average root mean square (RMS) of 0.8 - 2.2 cm for tidal components and 7.6 cm for tidal range, and the conformity level for tidal types is 93%. The amplitude of the diurnal tidal components (K1 and O1) is approximately twice that of the semi-diurnal tidal components (S2 and M2). Regarding the phase, only the O1 wave propagates eastward, while the other waves propagate westward. Spatially, the tidal range in the Java Sea varies from 0.3 m in the central part at longitudes 108-110° E, increasing in height as it moves westward and eastward to reach 1 m. Information on the spatial variations in tide characteristics is crucial for studying tidal patterns, tidal datum, and engineering purposes like port management and offshore infrastructure.
Estimasi Total Simpanan Karbon Hutan Mangrove Teluk Gilimanuk, Bali Wulandari, Ni Komang Putri; Ernawati, Ni Made; Saraswati, Ni Luh Gede Rai Ayu
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.63104

Abstract

Hutan mangrove memiliki potensi yang sangat besar dalam carbon sequestration karena mampu menyerap emisi karbon 3-5 kali lebih banyak daripada hutan tropis daratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai simpanan karbon organik hutan mangrove Teluk Gilimanuk pada bulan September-November 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m yang dibuat pada zona vegetasi yang ditemukan. Data simpanan karbon pohon dianalisis menggunakan metode alometrik, sedangkan sampel sedimen dianalisis di laboratrium menggunakan metode gravimetri. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 6 zona vegetasi utama yaitu Sonneratia, Ceriops, Bruguiera, Avicennia, Rhizophora dan Lumnitzera. Nilai simpanan karbon atas hutan mangrove Teluk Gilimanuk tertinggi terdapat pada zona vegetasi Ceriops yaitu sebesar 66,03±17,66 ton/ha, sedangkan simpanan karbon atas terendah berada pada zona vegetasi Bruguiera sebesar 18,60±11,88 ton/ha. Nilai simpanan karbon bawah hutan mangrove Teluk Gilimanuk tertinggi terdapat pada zona vegetasi Rhizophora yaitu sebesar 44,00±32,57 ton/ha, sedangkan simpanan karbon bawah terendah berada pada zona vegetasi Lumnitzera sebesar 13,73±2,41 ton/ha. Nilai simpanan karbon organik sedimen hutan mangrove Teluk Gilimanuk tertinggi terdapat pada zona vegetasi Sonneratia sebesar 237,51±46,31 ton/ha, sedangkan simpanan karbon terendah terdapat pada zona vegetasi Avicennia sebesar 55,3678,28± ton/ha. Total simpanan karbon pada hutan mangrove Teluk Gilimanuk didapatkan sebesar 193,91 ton/ha.   Mangrove forests have immense potential for carbon sequestration as they can absorb carbon emissions 3-5 times more effectively than terrestrial tropical forests. This study aimed to determine the organic carbon storage value of the mangrove forest in Teluk Gilimanuk during September-November 2023. The research utilized a transect quadrat method with dimensions of 10 m x 10 m established in identified vegetation zones. Data on tree carbon storage were analyzed using allometric methods, while sediment samples were analyzed in the laboratory using gravimetric methods. Based on the research findings, six main vegetation zones were identified: Sonneratia, Ceriops, Bruguiera, Avicennia, Rhizophora, and Lumnitzera. The highest carbon storage value for the Teluk Gilimanuk mangrove above ground as found in the Ceriops vegetation zone at 66.03±17.66 tons/ha, whereas the lowest above ground storage was observed in the Bruguiera zone at 18.60±11.88 tons/ha. Regarding below ground carbon storage, the highest value was recorded in the Rhizophora vegetation zone at 44.00±32.57 tons/ha, while the lowest was in the Lumnitzera zone at 13.73±2.41 tons/ha. The Sonneratia vegetation zone exhibited the highest organic sediment carbon storage at 237.51±46.31 tons/ha, whereas the lowest was found in the Avicennia zone at 55,3678.28± tons/ha. The total carbon storage in the Teluk Gilimanuk mangrove forest was calculated at 193.91 tons/ha.
Laju Pertumbuhan dan Kandungan Fikosianin Spirulina sp. pada Konsentrasi Urea yang Berbeda Arrosyd, Muhammad Azam; Santosa, Gunawan Widi; Endrawati, Hadi
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.47667

Abstract

Spirulina sp. adalah mikroorganisme autotrof dari kelas Cyanophyta yang berbentuk filamen terpilin menyerupai spiral (helix), dan merupakan salah satu sumber pangan dan pakan yang potensial. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan serta kandungan pigmen salah satunya adalah nutrien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi urea yang berbeda terhadap laju pertumbuhan dan kandungan pigmen fikosianin pada Spirulina sp. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Mikroalga Spirulina sp dikultur dengan 4 taraf perlakuan yang berbeda yaitu pemberian urea 90 mg/L, 105 mg/L, 120 mg/L, 135 mg/L dan 1ml/L pupuk Walne sebagai kontrol dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi pada perlakuan kontrol walne sebesar 0,697 dan terendah pada perlakuan 90 mg/L sebesar 0,447. Kandungan pigmen fikosianin tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol walne sebesar 0,272 mg/mL disusul dengan perlakuan 120 mg/L, 105 mg/L dan 135 mg/L dengan masing-masing 0,095 mg/mL; 0,068 mg/mL dan 0,046 mg/mL. Berdasarkan hasil penelitian diproleh hasil bahwa perbedaan konsentrasi urea memiliki pengaruh terhadap laju pertumbuhan Spirulina sp. P< 0.05, namun tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan pigmen fikosianin mikroalga Spirulina sp. P> 0.05.   Spirulina sp. is an autotrophic microorganism from the Cyanophyta class which is in the form of a spiral-like twisted filament (helix), and is a potential source of food and feed. One of the factors that affect growth and pigment content is nutrients. This study aims to determine the effect of different urea concentrations on the growth rate and content of phycocyanin pigments in Spirulina sp. The research method used was experimental laboratory using the Completely Randomized Design. Spirulina sp microalgae were cultured with 4 different levels of treatment, namely urea 90 mg/L, 105 mg/L, 120 mg/L, 135 mg/L, and 1ml/L Walne fertilizer as a control with three replications. The results showed that the highest growth rate was in the Walne control of 0.697 and the lowest was in the 90 mg/L treatment of 0.447. The highest phycocyanin pigment content was found in the Walne control of 0.272 mg/mL, followed by the 120 mg/L, 105 mg/L, and 135 mg/L treatments with 0.095 mg/mL, 0.068 mg/mL and 0.046 mg/mL,respectively. Based on the results of the study, it was found that the difference in urea concentration had effect to the growth rate of Spirulina sp.(P < 0.05), but did not have an effect on the phycocyanin content of microalgae Spirulina sp. P≥ 0.05.  
Variasi Temporal Dinamika Upwelling di Selat Makassar Periode 2007-2021 Siahaan, Jane E V; Kunarso, Kunarso; Wijaya, Yusuf Jati
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.55838

Abstract

Selat Makassar merupakan lintasan utama dari Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Letak geografis ini menyebabkan Selat Makassar memiliki variabilitas upwelling yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji variabilitas musiman upwelling secara spasial dan temporal di Selat Makassar berdasarkan indeks upwelling, klorofil-a, nilai Rrs 443 dan 555, SPL (Suhu Permukaan Laut), SSHA (Sea Surface Height Anomalies) dan EMT (Ekman Mass Transport). Data yang digunakan pada penelitian ini adalah klorofil-a dari OC-CCI (Ocean Colour Climate Change Initiative), SPL dari OISST (Optimum Interpolation Sea Surface Temperature), angin dari ASCAT (Advanced Scatterometer), serta SSHA, Rrs 443, dan Rrs 555 dari situs marine Copernicus yang diolah dengan dengan metode komposit menggunakan software IDL (Interactive Data Language) dan NCL (NCAR Command Language). Puncak upwelling terjadi pada bulan Agustus (musim timur) yang ditandai dengan penurunan SPL (26.66 °C) dan SSHA (-2.27cm), EMT (5.27 ), serta peningkatan klorofil-a hingga 0.80 mg/ , dan indeks upwelling yang bernilai positif (0.948 °C). Hasil Rrs 443 dan Rrs 555 yang tergolong rendah mengindikasikan bahwa terdapat kelimpahan fitoplankton pada Selat Makassar. Musim timur (JJA) EOF1 dan PC1 sebesar 40.0 % serta EOF2 dan PC2 sebesar 10.9%. Hasil EOF1 memiliki pola yang mirip dengan peta spasial klimatologi klorofil-a. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor fisik seperti angin. Nilai anomali positif maupun negatif dipengaruhi fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina yang terjadi pada tiap tahunnya. Pada hasil EOF juga didapatkan variabilitas tinggi pada daerah di sekitar 4  – 6  LS.  The Makassar Strait is the main route of the Indonesian Cross Flow (ARLINDO). This geographical location causes the Makassar Strait to have high upwelling variability. The aim of this research is to examine the seasonal variability of upwelling spatially and temporally in the Makassar Strait based on the upwelling index, chlorophyll-a, Rrs 443 and 555 values, SST (Sea Surface Temprature), SSHA (Sea Surface Height Anomalies) and EMT (Ekman Mass Transport). The data used in this research are chlorophyll-a from OC-CCI (Ocean Colour Climate Change Initiative), SST from OISST (Optimum Interpolation Sea Surface Temperature), wind from ASCAT (Advanced Scatterometer), and SSHA, Rrs 443, and Rrs 555 from the Copernicus marine site which were processed using the composite method using IDL (Interactive Data Language) and NCL (NCAR Command Language) software. The peak of upwelling occurred in August (eastern season) which was marked by a decrease in SST (26.66 °C) and SSHA (-2.27cm), EMT (5.27 ), as well as an increase in chlorophyll-a up to 0.80 mg/ , and the upwelling index is positive (0.948 °C). The results of Rrs 443 and Rrs 555 which are relatively low indicate that there is an abundance of phytoplankton in the Makassar Strait. East monsoon (JJA) EOF1 and PC1 is 40.0% and EOF2 and PC2 is 10.9%. The EOF1 results have a similar pattern to the spatial map of chlorophyll-a climatology. This is influenced by physical factors such as wind. Positive and negative anomaly values are influenced by climate phenomena such as El Nino and La Nina which occur every year. The EOF results also show high variability in the area around 4° – 6° South Latitude.
Mikroplastik pada Kerang Darah (Tegillarca granosa) Berbagai Ukuran dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang Khoerunnisa, Rizka Nabila; Hartati, Retno; Nuraini, Ria Azizah Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.62376

Abstract

Mikroplastik di perairan dapat tertelan dan terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dengan melalui proses rantai makanan. Kerang darah adalah organisme sesil yang hidupnya berada di substrat dasar perairan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yakni mengidentifikasi mikroplastik di dalam kerang darah (Tegillarca granosa) dan korelasi ukuran cangkang kerang darah terhadap kelimpahan mikroplastik pada kerang darah dari TPI Bungo, Demak, dan TPI Tambaklorok, Semarang. Sampel kerang darah diperoleh dari hasil penangkapan ikan oleh nelayan TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang pada bulan September 2023. Sampel dipisahkan antara daging kerang dan jaringan lunak. Sampel jaringan lunak didestruksi menggunakan 100 ml KOH 10% selama 24 jam, ditambahkan 10 ml ZnCl2 30% dan didiamkan selama 24 jam untuk memisahkan nathan dan supernathannya, kemudian disaring dengan kertas Whatman No. 42 dengan bantuan vacuum pump. Hasil penelitian ini menemukan mikroplastik dalam kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang, yang berbentuk fiber, film, fragment, serta pellet. Kelimpahan mikroplastik pada kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang berturut-turut pada ukuran kecil 9,63±0,98 partikel/gr dan 5,95±0,98 partikel/gr, ukuran sedang 5,66±1,16 partikel/gr dan 5,18±1,15 partikel/gr, serta ukuran besar 6,32±1,47 partikel/gr dan 5,08±1,41 partikel/gr. Sehingga disimpulkan kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang sudah terkontaminasi mikroplastik dan terdapat hubungan antara ukuran cangkang kerang darah yang berbeda terhadap kelimpahan mikroplastik pada kerang darah.  Microplastics in waters can be ingested and accumulated in the body of biota throughout the food chain cycle. Blood cockles (Tegillarca granosa) are sessile organisms that live in the bottom substrate of water. This study aims to determine the microplastics in blood cockles (Tegillarca granosa) from Fish Auction Place (FAP) of Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang and its relationship with the shell size. The samples were taken in September 2023. The soft tissue of samples was destructed using 100 ml of 10% KOH for 24 hours, was added with ten molliliters of 30% ZnCl2 and allow it to settle for 24 hours for separation of natant and supernatant. The samples were then filtered using Whatman paper no. 42 with a vacuum system. The microplastics were examined under microscope. The results showed the presence of microplastic in all blood cockles samples in form of fiber, film, fragment, and pellet. The density of microplastics in blood cookles from FAP of  Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang according to their size as follows: small 9.63±0.98 and 5.95±0.98 particles/gr, medium 5.66±1.16 and 5.18±1.15 particles/gr, and large 6.32±1.47 and 5.08±1.41 particles/gr, respectivelly. The blood cockles from FAP Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang have been contaminated with microplastics and there is relationship between the shell sizes and the abundance of microplastics.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue