cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Logam Berat Cd di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Diansyah, Gusti; Rozirwan, Rozirwan; Fauziyah, Fauziyah; Agustriani, Fitri; Haryati, Ani; Gusri, Ariqoh Athallah
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.56751

Abstract

Pemanfaatan daerah aliran sungai seringkali memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak terhadap keamanan pangan yang berasal dari wilayah tersebut. Salah satu komponen bahan pencemar yang umum ditemukan di perairan dan menjadi ancaman bagi keamanan pangan adalah logam berat Cd. Penelitian bertujuan mengetahui konsentrasi logam berat Cd pada beberapa komponen ekosistem yang ada di Sungai Musi bagian hilir meliputi air, sedimen dan tiga organ ikan (insang, hati dan daging). Ikan yang menjadi objek penelitian adalah empat jenis ikan yang umum tertangkap meliputi ikan Juaro (Pangasius polyuranodon), ikan Sembilang (Paraplotosus albilabris), ikan Seluang (Rasbora sp) dan ikan Belanak (Mugil chepalus). Sampel air dan sedimen diambil dari sekitar Sungai Musi bagian hilir yang dibagi menjadi delapan (8) stasiun penelitian selama periode Maret, Mei dan November 2018. Adapun sampel ikan diambil dari nelayan sekitar yang menangkap ikan di kawasan tersebut. Sampel dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata logam berat Cd pada sampel air kecil dari 0,001 mg/l dan pada sedimen berkisar antara 0,223-0,419 mg/kg. Konsentrasi rata-rata Cd pada organ hati, insang dan daging ikan Seluang adalah 0,117, 0,034 dan 0,021 mg/kg, ikan Juaro 0,059, 0,051 dan 0,027 mg/kg, ikan Belanak 0,096, 0,031 dan 0,025 mg/kg, ikan Sembilang 0,102, 0,046 dan 0,032 mg/kg. Konsentrasi logam berat Cd pada sampel air, sedimen dan daging ikan Seluang, ikan Juaro, ikan Belanak dan ikan Sembilang masih dibawah baku mutu dan ambang batas yang ditetapkan.   Utilization of river often has a negative impact on water quality. This condition will influence on the security of food originating from this area. One component of pollutants that is commonly found in waters and poses a threat to food safety is heavy metal such as Cd. The research aims to determine the concentration of the heavy metal Cd in several ecosystem components in the Musi River Estuary, including water, sediment and three fish organs (gills, liver and meat). Object of this research are four types of fish that are commonly caught, such as Juaro fish (Pangasius polyuranodon), Sembilang fish (Paraplotosus albilabris), Seluang fish (Rasbora sp) and Belanak fish (Mugil chepalus). Water and sediment samples were taken from around the Musi River downstream, divided into eight (8) research stations during March, May and November 2018. Fish samples were taken from local fishermen who caught fish in the area. Samples were analyzed using the USEPA 30050B and AAS (atomic absorption spectrophotometer). The results showed that the average concentration of the heavy metal Cd in water samples was less than 0.001 mg/l, in sediments ranging from 0.223 to 0.419 mg/kg. The average concentration of Cd in the liver, gills and muscle of Seluang fish was 0.117, 0.034 and 0.021 mg/kg, Juaro fish 0.059, 0.051 and 0.027 mg/kg, Belanak fish 0.096, 0.031 and 0.025 mg/kg, Sembilang fish 0.102, 0.046 and 0.032 mg/kg. The concentration of the heavy metal Cd in samples of water, sediment and muscles of Seluang, Juaro, Belanak and Sembilang fish was still below some specified quality standards.
Sebaran Bahan Organik dan Total Padatan Suspensi di Muara Sungai Loji, Kota Pekalongan Hanjaya, Rayen; Wulandari, Sri Yulina; Yusuf, Muh; Zainuri, Muhammad
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.60171

Abstract

Kota Pekalongan merupakan salah satu kota yang identik dengan wilayah pesisirnya karena terletak di bagian utara Pulau Jawa. Penduduk dan aktivitas yang padat membuat saluran irigasi dan sungai menjadi tempat pembuangan limbah, seperti limbah domestik, industri, dan limbah berbahaya (B3). Salah satu tempat yang terdampak adalah Sungai Loji, Kota Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran konsentrasi bahan organik dan padatan tersuspensi total (TSS) serta mengkaji keterkaitan bahan organik dengan TSS pada saat pasang menuju surut. Pengambilan sampel dilapangan dilaksanakan pada 19 Juni 2022 di 11 satsiun. Sampel TSS  dianalisis menggunakan metode gravimetri dan bahan organik melalui metode titrasi. Pola sebaran TSS dan bahan organik divisualisasikan menggunakan software ArGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi bahan organik bervariasi, mulai dari 5,40 – 9,60 mg/L dan konsentrasi TSS berkisar antara 57,73 – 70,26 mg/L. Sebaran konsentrasi bahan organik dan TSS tersebut dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik, pasang surut, arus, dan musim muson timur. Analisis koefisien korelasi (r) terkait bahan organik dengan TSS pada saat menuju surut menunjukkan nilai sebesar r = -0.223. TSS tidak secara signifikan berkontribusi terhadap keberadaan bahan organik.  Pekalongan city is known for its coastal area as it is located in the northern part of Java Island. The dense population and various activities have led to the disposal of waste, including domestic and hazardous waste, into irrigation channels and rivers. One of the affected areas is the Loji River in Pekalongan. This study aims to identify the distribution of organic matter and total suspended solids (TSS) concentrations and assess their relationship at low tide. Field sampling was carried out on 19 June 2022 at 11 stations. TSS samples were analysed using the gravimetric method and organic matter by titration method. TSS and organic matter values were visualised using ArGIS software. The results showed that the concentration of organic matter varied, ranging from 5.40 - 9.60 mg/L and the TSS concentration ranged from 57.73 - 70.26 mg/L. The distribution of organic matter and TSS concentrations was influenced by anthropogenic activities, tides, currents, and the east monsoon season. Analysis of the correlation coefficient (r) of organic matter to TSS at low tide showed a negative relationship with a value of 0.223. This illustrates that TSS does not significantly contribute to the presence of organic matter. TSS in this study is dominated by inorganic material carried by river flow from the inland areas. 
Pengaruh Sirkulasi Arus Geostropik dan Ageostropik Terhadap Upwelling di Perairan Selatan Jawa Radjawane, Ivonne Milichristi; Yusarita, Alvi; Kuswardani, Anastasia Rita Tisiana Dwi; Napitupulu, Gandhi
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.62368

Abstract

Perairan selatan Jawa merupakan lokasi dengan fenomena upwelling yang signifikan. Penelitian bertujuan untuk memahami kecepatan dan pola arus geostropik serta ageostropik orde dua musiman dari permukaan hingga kedalaman 600 m. Nilai Ekman pumping velocity (EPV) yang dibangkitkan oleh angin menunjukkan upwelling mulai bulan Juni, mencapai puncaknya dari Juli hingga September, dan menurun mulai Oktober, hampir menghilang pada November. Nilai EPV antara perairan Jawa Barat dan Timur menunjukkan tingkat upwelling yang lebih tinggi di sebelah barat. Data CTD menegaskan bahwa upwelling terjadi selama musim Timur (Juni-Agustus), ditandai dengan penurunan suhu air, dangkalnya termoklin, dan peningkatan salinitas terhadap kedalaman. Pada musim barat (Desember-Februari), arus geostropik cenderung ke timur di sepanjang pantai Jawa Barat karena arus selatan Jawa (ASJ), sementara di selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, arah arus ke barat disebabkan oleh arus lintas Indonesia (Arlindo) dan arus ekuator selatan (AES). Pada musim timur, ASJ melemah, dan arah arus geostropik berubah ke barat, memperkuat ASJ dan Arlindo. Sirkulasi Sekunder Ageostropik, diperkirakan melalui metode C-Vektor, memainkan peran dalam pergerakan massa air vertikal, meningkatkan intensitas upwelling di perairan selatan Jawa. Wilayah sekitar Jawa Timur memiliki komponen C-Vektor positif yang berdampak pada peningkatan intensitas upwelling di daerah tersebut.   The southern waters of Java are a location with significant upwelling phenomena. The study aimed to understand the velocity and pattern of seasonal second-order geostropic and ageostropic currents from the surface to 600 m depth. Wind-generated Ekman pumping velocity (EPV) values show upwelling starting in June, peaking from July to September, and decreasing from October, almost disappearing in November.. The EPV values between western and eastern Java waters show higher levels of upwelling in the west. CTD data confirms that upwelling occurs during the East season (June-August), characterized by decreasing water temperature, shallow thermocline, and increasing salinity with depth. In the West season (December-February), geostropic currents tend to be eastward along the West Java coast due to the South Java Current (SJC), while south of Central Java and East Java, the current direction is westward due to the Indonesian Throughflow ( ITF ) and the South Equatorial Current (SEC). In the eastern season, the SJC weakens, and the direction of the geostropic current changes to the west, strengthening the SJC and ITF. The Ageostropic Secondary Circulation, estimated through the C-Vector method, plays a role in the vertical movement of water masses, increasing the intensity of upwelling in the waters south of Java. The region around East Java has a positive C-Vector component which has an impact on increasing the intensity of upwelling in that area.
Struktur Komunitas Bivalvia pada Ekosistem Lamun dengan Tutupan Berbeda di Perairan Pulau Bintan Annisa, Annisa; Febrianto, Try; Nugraha, Aditya Hikmat
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.52048

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kaitan yang erat dengan keberadaan bivalvia. Kondisi struktur ekosistem lamun yang berbeda-beda di Perairan Pulau Bintan diduga dapat berpengaruh terhadap asosiasi bivalvia pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur ekosistem lamun dan mempelajari struktur asosiasi bivalvia pada beberapa ekosistem lamun di Pesisir Pulau Bintan. Terdapat 4 stasiun pengamatan yang diamati pada penelitian ini. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan keterwakilan sebaran ekosistem lamun di Pulau Bintan, dengan kondisi tutupan lamun yang berbeda, yaitu meliputi: Dompak, Pengudang, Teluk Bakau dan Pengujan. Metode sampling menggunakan transek kuadrat yang dipadukan dengan 3 buah transek garis sepanjang 100 m ke arah laut. Diperoleh 7 jenis lamun yang tersebar di 4 lokasi penelitian. Tutupan lamun tertinggi terdapat di Pesisir Pengudang dengan nilai tutupan sebesar 66.1%.  Ditemukan 28 spesies bivalvia dengan  nilai kepadatan tertinggi yaitu Gafrarium pectinatum. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa tutupan lamun memiliki keterikatan dengan kepadatan bivalvia. Beberapa bivalvia memiliki kecenderungan untuk hidup pada vegetasi lamun tertentu.  Seagrass ecosystems have a close relationship with the existence of bivalves. The different structural conditions of the seagrass ecosystem in the waters of Bintan Island are thought to influence the association of bivalves in the seagrass ecosystem. This study aims to describe the structure of seagrass ecosystems and study the structure of bivalve associations in several seagrass ecosystems on the coast of Bintan Island. There are four observation stations observed in this study. The determination of the research location was based on the representation of the distribution of seagrass ecosystems on Bintan Island, with different seagrass cover conditions, including: Dompak, Pengudang, Bakau Bay and Pengujan. The sampling method uses a quadratic transect combined with 3 line transects along 100 m seaward, obtaining 7 types of seagrasses scattered in 4 research locations. The highest seagrass cover was found in Pengudang Coastal Area, with a cover value of 66.1%. Found 28 species of bivalves with the highest density value, namely Gafrium pectinatum. PCA analysis results show that seagrass cover has an attachment to the density of bivalves. Some bivalves tend to live on specific seagrass vegetation.
Pendugaan Kerentanan Airtanah Dangkal Terhadap Intrusi Airlaut Menggunakan Metode GALDIT di Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya Masitoh, Ferryati; Saifanto, Basofi Andri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.53625

Abstract

Airtanah dangkal memiliki kerentanan yang tinggi terhadap intrusi air laut. Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya berada di pesisir Selat Madura, sehingga menjadikan pentingnya pendugaan kerentaan airtanah terhadap intrusi air laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode GALDIT dengan variabel: Keterdapatan airtanah (G), Konduktivitas hidrolik akuifer (A), Tinggi muka airtanah terhadap air laut (L), Jarak tegak lurus muka air tanah dari garis pantai (D), Intrusi air laut (I) dan Ketebalan Akuifer (T). Pada variabel G, daerah penelitian didominasi akuifer dangkal. Variabel A menunjukkan bahwa sebagian besar daerah penelitian memiliki konduktivitas hidrolik sebesar 22 m/hari yang cukup rentan terhadap intrusi air laut. Variabel L menunjukkan bahwa elevasi muka airtanah cukup kecil sebesar 1,5 m. Variabel D menunjukkan kerentanan airtanah cukup tinggi di sepanjang garis pantai. Variabel I merupakan variabel yang berkaitan dengan kualitas airtanah. Daerah yang dekat dengan pantai memiliki Daya Hantar Listrik dan Cl- yang lebih tinggi. Variabel T merupakan ketebalan akufer dangkal kurang dari 10 m. Hasil penelitian berdasarkan metode GALDIT menunjukkan bahwa 30,30% daerah penelitian berkategori Kerentanan Airtanah yang tinggi terhadap Intrusi Air laut. Kerentanan Airtanah tinggi tersebar di sepanjang garis pantai, atau sebagian besar kelurahan Keputih.  Shallow groundwater is highly vulnerable to seawater intrusion. Sukolilo District, Surabaya City, is on the coast of the Madura Strait, making it important to estimate groundwater vulnerability to seawater intrusion. The method used in this research is the GALDIT method with variables: Groundwater availability (G), Hydraulic conductivity of the aquifer (A), Groundwater level relative to seawater (L), Perpendicular distance of the groundwater level from the coastline (D), Water intrusion sea (I) and Aquifer Thickness (T). In variable of G, the research area is dominated by shallow aquifers. The variable of A shows that most of the study area has a hydraulic conductivity of 22 m/day, which is quite vulnerable to seawater intrusion. The variable of L shows that the groundwater level is relatively small at 1.5 m. The variable of D shows that groundwater vulnerability is relatively high along the coastline. Variable I is a variable related to groundwater quality. Areas close to the coast have higher electrical conductivity and Cl-. The variable of T is the thickness of a shallow aquifer of less than 10 m. The research results based on the GALDIT method show that 30.30% of the research areas are in the category of high groundwater vulnerability to seawater intrusion, while the others are in the medium to low category. There is high groundwater vulnerability along the coastline and most of the Keputih sub-district.
Distribusi Klorofil-A Menggunakan Citra Satelit Landsat 8 Di Muara Sungai Banyuasin, Sumatera Selatan Isnaini, Isnaini; Diansyah, Gusti; Ulqodry, Tengku Zia; Surbakti, Heron; Arsyei, Laksamana Fachryzal; Aryawati, Riris
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.61216

Abstract

Perairan Muara Sungai Banyuasin merupakan daerah yang sangat dinamis dan biasa  dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat sekitar, sehingga mempengaruhi perubahan kondisi perairan. Klorofil-a merupakan salah satu parameter produktivitas primer yang dapat mengetahui kualitas perairan. Teknologi penginderaan jauh dapat mempermudah dalam mendapatkan distribusi dan konsentrasi klorofil-a di perairan. Tujuan penelitian ini untuk menguji akurasi citra Landsat-8 yang sesuai dalam mengekstraksi konsentrasi klorofil-a di perairan Muara Sungai Banyuasin menggunakan algoritma Wibowo et al. (1994) dan Pentury (1997), mengetahui pola sebaran secara spasial klorofil-a pada data lapangan dan data citra di Muara Sungai Banyuasin, serta menganalisis distribusi klorofil-a pada tiap musim tahun 2022 di Muara Sungai Banyuasin. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2022. Hasil penelitian ini menunjukkan uji validasi antara kedua algoritma didapatkan algortima Wibowo et al. (1994) dari persamaan regresi linear (y = 1,4691x - 1,2669) yang lebih sesuai dengan R2 0,918 dan RMSE terendah yaitu 0,0924. Pola sebaran konsentrasi klorofil-a di Muara Sungai Banyuasin antara data lapangan dengan data citra menunjukkan nilai yang tidak jauh berbeda, dengan nilai pada insitu berkisar 2,22–3,35 mg/m3 sedangkan data citra 1,68–3,79 mg/m3. Rata-rata konsentrasi pada musim barat, peralihan I, timur, dan peralihan II pada tahun 2022 sebesar 2,41–3,71 mg/m3.  The Banyuasin River Estuary are very dynamic area and usually used for the activities of the surrounding community, thereby affecting changes in water conditions. Chlorophyll-a is one of the primary productivity parameters that can determine water quality. Remote sensing technology can make it easier to get the distribution and concentration of chlorophyll-a in waters. The purpose of this study was to test the accuracy of Landsat-8 imagery that is suitable for extracting chlorophyll-a concentrations in the Banyuasin River Estuary waters using the Wibowo et al. algorithm. (1994) and Pentury (1997), determined the spatial distribution pattern of chlorophyll-a in field data and image data in the Banyuasin River Estuary, and analyzed the distribution of chlorophyll-a in each season in 2022 in the Banyuasin River Estuary. This research was held in October to November 2022. The results of this study showed that the validation test between the two algorithms was obtained by the Wibowo et al. (1994) from the linear regression equation (y = 1,4691x-1,2669) which is more suitable with the R2 of 0.918 and the lowest RMSE of 0,0924. The distribution pattern of chlorophyll-a concentrations in the Banyuasin River Estuary between field data and image data shows values that are not much different, with insitu values ranging from 2.22–3.35 mg/m3 while image data is 1,68–3,79 mg/m3 . The average concentration in the west season, transition I, east, and transition II in 2022 is 2,41–3,71 mg/m3.
Kitosan sebagai Bioadsorben Logam Besi (Fe) pada Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) Pramastuti, Fransisca Ria; Supriyantini, Endang; Pramesti, Rini; Sedjati, Sri; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.41095

Abstract

Logam besi (Fe) merupakan logam berat essensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia dalam jumlah sedikit.  Jika jumlahnya melebihi batas ambang dapat menimbulkan efek racun karena bersifat karsinogenik. Salah satu upaya mengurangi kadar logam Fe pada daging kerang tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan kitosan atau turunan kitosan yaitu karboksimetil kitosan (KMK) sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi KMK dan kitosan terhadap kapasitas dan daya adsorpsi, serta konsentrasi terbaik dalam menurunkan kandungan logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Metode penelitian secara eksperimental laboratoris. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu sumber kitosan yang digunakan yaitu kitosan dan karboksimetil kitosan (KMK) dan faktor kedua yaitu variasi konsentrasi yaitu kontrol (0%); 0,5%; 1%; 1,5% dan masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Konsentrasi logam berat Fe awal pada kerang hijau sebesar 13,17 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi kitosan dan KMK terhadap kapasitas dan daya adsorpsi logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Konsentrasi terbaik pada kitosan 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 2,43 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,72 mg/g dan daya serap 81,56%, sedangkan KMK 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 3,68 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi 0,63 mg/g dan daya serap sebesar 72,04%.  Fe is an essential heavy metal needed by humans in small amounts, if the amount exceeds the threshold, it can cause toxic effects because it is carcinogenic. To reduce the metal content of Fe in mussel meat, it can be done by utilizing chitosan or chitosan derivatives, namely carboxymethyl chitosan (KMK) as an adsorbent. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of KMK and chitosan on the adsorption capacity and power as well as the best concentration in reducing the heavy metal content of Fe in the soft tissue of green mussels. The research method is experimental laboratory. The research design used a completely randomized design (CRD) with 2 factors. The first factor is the source of chitosan used, namely chitosan and carboxymethyl chitosan (KMK) and the second factor is the variation in concentration used, namely control (0%), 0.5%, 1%, and 1.5% and each treatment 3 repetition. The initial heavy metal concentration of Fe in green mussels was 13.17 mg/kg. The results showed that there was an effect of variations in the concentration of chitosan and KMK on the capacity and adsorption ability of heavy metal Fe in green mussel meat. The best concentration of 1.5% chitosan can reduce heavy metal Fe to 2,43 mg/kg with adsorption capacity of 0.72 mg/g and absorption ability of 81.56%. Meanwhile, KMK 1.5% can reduce heavy metal Fe to 3.68 mg/kg with adsorption capacity of 0.63 mg/g and absorption ability of 72.04%. 
Pola Pertumbuhan Dan Mortalitas Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) di PPI Ujong Baroh Burhanis, Burhanis; Alaudin, Alaudin; Fadhillah, Radhi; Zulfadhli, Zulfadhli; Edwarsyah, Edwarsyah; Munandar, Roni Arif
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.58680

Abstract

Beberapa spesies ikan tuna mulai terancam ketersediaannya. Upaya untuk mewujudkan pemanfaatan yang optimal dan berkelanjutan sangat dibutuhkan, sehingga perlu dilakukan monitoring, evaluasi dan perbandingan terhadap pemanfaatan tuna sirip kuning. Tujuan penelitian untuk mengkaji dan meganalisis pola pertumbuhan dan mortalitas tuna sirip kuning di PPI Ujong Baroh. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengamatan dan pengukuran sampel tuna sirip kuning dilakukan secara langsung dari hasil tangkapan nelayan. Selanjutnya pengumpulan data tuna sirip kuning meliputi jumlah hasil tangkapan serta pengukuran karakter morfometrik yaitu panjang cagak (FL). Hasil penelitian menunjukkan koefision ukuran panjang maksimum (L∞) yaitu sebesar 97,65 cm, dengan pendugaan panjang tuna sirip kuning pertama kali tertangkap (LC) pada ukuran panjang cagak (FL) 56,43 cm.  Nilai laju pertumbuhan (K) sebesar 0,80 pertahun, laju mortalitas total (Z) sebesar 0,26 pertahun, mortalitas alami (M) sebesar 0,76 pertahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar -0,50 pertahun. Rata-rata ikan tuna sirip kuning yang tertangkap berukuran kecil dan belum matang gonad (Lc<Lm) dengan tingkat pertumbuhan lebih cepat serta kematian alami lebih besar dari pada penangkapan. Kegiatan penangkapan tuna sirip kuning yang di daratkan di PPI Ujong Baroh merupakan perikanan skala kecil dengan nilai eksploitasi (E) sebesar -1,94 pertahun yang tegolong under fishing berdasarkan dari nilai M (F<M).  Several species of tuna fish are starting to face threats to their availability. Efforts to achieve optimal and sustainable utilization are crucial, requiring monitoring, evaluation, and comparison of the utilization of yellowfin tuna. The research aim is to examine and analyze the growth and mortality patterns of yellowfin tuna in Ujong Baroh Fish Landing Base (PPI). The method in this research uses a descriptive method with a quantitative approach. The observation and measurement of yellowfin tuna samples are directly conducted from the fishermen's catch. Data collection of yellowfin tuna includes the quantity of catches and measurements of morphometric characteristics, specifically fork length (FL). The research results show that the maximum length coefficient (L∞) is 97,65 cm, with an estimated length at first capture at a fork length (FL) of 56,43 cm. The value of growth rate (K) of 0,80 per year, total mortality rate (Z) of 0,26 per year, natural mortality (M) of 0,76 per year, fishing mortality (F) is -0,50 per year. On average, the yellowfin tuna caught are small and immature gonads (Lc<Lm) with a faster growth rate and greater natural mortality than those caught in the fishery. The fishing activity of yellowfin tuna landed at PPI Ujong Baroh are small-scale fishery with an exploitation value (E) of -1.94 per year which is classified as under fishing based on the M value (F<M).
Pemanfaatan Citra Satelit Dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) Untuk Mitigasi Bencana Abrasi Desa Urai, Bengkulu Rahmawati, Nur Shafira; Farid, Muchammad; Refrizon, Refizon; Al Ansory, Andre Rahmat
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.63278

Abstract

Desa Urai merupakan salah satu desa yang terkena dampak abrasi parah di Kabupaten Bengkulu Utara. Abrasi yang terjadi menyebabkan perubahan garis pantai sehingga mengakibatkan kerusakan sarana dan prasarana yang ada di pantai. Pada riset ini memperoleh data primer menggunakan metode MASW dan data sekunder berupa data garis pantai pesisir Desa Urai selama 16 tahun (2006-2022) dengan menggunakan citra satelit. Analisis perubahan garis pantai Desa Urai, Kabupaten Bengkulu Utara dari 2006 hingga 2022 menunjukkan adanya abrasi signifikan. Titik-titik utama mengalami abrasi sekitar ±8 meter/tahun, sedangkan titik dengan perlindungan pantai memiliki abrasi minimal, hanya sekitar 0,1-0,5 meter/tahun. Ini menunjukkan keberhasilan infrastruktur perlindungan pantai dalam mengurangi dampak abrasi. Penelitian menemukan perubahan garis pantai rata-rata ±8 meter/tahun. Analisis menggunakan MASW dan citra satelit menunjukkan abrasi terparah di titik 1, 2, 4, 6, dan 8 (±3,4-8 meter/tahun), sedangkan titik 3 dan 7 mengalami abrasi paling rendah (±0,1-0,5 meter/tahun). Struktur batuan pada kedalaman ±30 meter terdiri dari 3 lapisan. Penelitian bertujuan untuk mitigasi bencana abrasi demi pembangunan berkelanjutan dari pemerintah provinsi hingga desa di Desa Urai, Kabupaten Bengkulu Utara. Urai Village is one of the villages affected by severe abrasion in North Bengkulu Regency. The abrasion that occurs causes changes in the coastline, causing damage to the facilities and infrastructure on the beach. In this research, primary data was obtained using the MASW method and secondary data in the form of coastal coastal data of Urai Village for 16 years (2006-2022) using satellite imagery. Analysis of changes in the coastline of Urai Village, North Bengkulu Regency from 2006 to 2022 showed significant abrasion. The main points experience abrasion of about ±8 meters/year, while the points with coastal protection have minimal abrasion, only about 0.1-0.5 meters/year. This shows the success of coastal protection infrastructure in reducing the impact of abrasion. Research found an average change in the coastline of ±8 meters/year. Analysis using MASW and satellite imagery showed the worst abrasion at points 1, 2, 4, 6, and 8 (±3.4-8 meters/year), while points 3 and 7 experienced the lowest abrasion (±0.1-0.5 meters/year). The rock structure at a depth of ±30 meters consists of 3 layers. The research aims to mitigate abrasion disasters for sustainable development from the provincial government to the village in Urai Village, North Bengkulu Regency.
Kondisi dan Status Kesehatan Ekosistem Padang Lamun di Pulau Bangka Bagian Selatan, Kepulauan Bangka Belitung Supratman, Okto; Adi, Wahyu; Muftiadi, M. Rizza; Henri, Henri; Pamungkas, Aditya
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.56615

Abstract

Ekosistem lamun di Bangka Selatan terjadinya gangguan dan ancaman dari beberapa aktivitas antropogenik. Akan tetapi data tentang kondisi dan kesehatan padang lamun sangat terbatas. Tujuan penelitian adalah menganalisis kekayaan jenis, persentase tutupan dan kesehatan ekosistem padang lamun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2022 hingga Desember 2022 di Kabupaten Bangka Selatan yang meliputi pesisir Tanjung Kerasak, Pantai Tukak, Pantai Penutuk, Pulau Anak Air dan Pantai Puding. Tahapan penelitian terdiri dari 1) Pengumpulan data lamun, makroalga, dan epifit, 2) Pengukuran parameter lingkungan, 3) Analisis data meliputi analisis kesehatan lamun dengan metode Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL). Hasil penelitian  terdapat 8 jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Oceana serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila minor, Halophila ovalis, dan Halodule pinifolia. Nilai tutupan lamun berkisar antara antara 2,04% hingga 41,93%  dengan rata-rata tutupan lamun yaitu 26,8 % yang dikategorikan miskin. Indek kesehatan ekosistem lamun (IKEL) di Bangka Selatan berkisar antara 0,60 sampai dengan 0,70 atau dikategorikan sedang sampai dengan baik. Kondisi kesehatan ekosistem lamun dikategorikan baik ditemukan di Pentuk (0,70), sedangkan dikategorikan sedang ditemukan di Tanjung Kerasak (0,68), Pantai Tukak (0,62), Pantai Puding (0,60), dan Pulau Anak Air (0,61).   The seagrass ecosystem in South Bangka is experiencing disturbance and threats from several anthropogenic activities. However, data on the condition and health of seagrass beds is very limited. The aim of the research is to analyze species richness, percentage cover and health of the seagrass ecosystem. The research was carried out from February 2022 to December 2022 in South Bangka Regency which includes the coast of Tanjung Kerasak, Tukak Beach, Penutuk Beach, Anak Air Island and Puding Beach. The research stages consisted of 1) collecting data on seagrass, macroalgae and epiphytes, 2) measuring environmental parameters, 3) data analysis including analysis of seagrass health using the Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) method. The research results showed that there were 8 spesies of seagrass found at the research location. Spesies founded is Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Oceana serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila minor, Halophila ovalis, and Halodule pinifolia. The seagrass cover value ranges from 2.04% to 41.93% with average seagrass cover is 26.8% which is categorized as poor. The seagrass ecology quality index in South Bangka ranges from 0.60 to 0.70 which categorized  as moderate to good. The health condition of the seagrass ecosystem was assessed as good in Pentuk (0.70), while moderate was found in Tanjung Kerasak (0.68), Tukak Beach (0.62), Puding Beach (0.60), and Anak Air Island (0. .60).

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue