cover
Contact Name
Maria Tuntun Siregar
Contact Email
Maria Tuntun Siregar
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_ak@poltekkes.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. lampung selatan,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Analis Kesehatan
ISSN : 22523553     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Analis Kesehatan particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of medical areas. It covers the parasitology, bacteriology, virology, haematology, clinical chemistry, toxicology, food and drink chemistry.
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
Hubungan Kadar Feritin Dengan Aktivitas Enzim SGOT Dan SGPT Pasien Thalasemia Di RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2017 Sri Ujiani; Dini Marifa Anggraini
Jurnal Analis Kesehatan Vol 6, No 2 (2017): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v6i2.789

Abstract

Pasien thalasemia dengan transfusi reguler dapat terjadi penimbunan besi, yang dimonitor dengan pemeriksaan kadar feritin, dan dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi organ-organ vital, termasuk organ hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dengan fungsi hati yang dipantau melalui aktivitas enzim SGOT dan SGPT pada pasien thalasemia di RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jenis penelitian merupakan analitik dengan desain cross sectional  yang dilaksanakan pada bulan April-Mei 2017 di RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Subjek penelitian ini adalah pasien thalasemia yang mendapatkan transfusi darah secara rutin dan memiliki kadar feritin tinggi (>1000 ng/l). Kadar feritin sebagai variabel bebas diketahui melalui rekam medis pasien, aktivitas enzim SGOT dan SGPT diperiksa dengan metode IFCC. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Spearman, Odds Ratio, dan dituliskan dalam bentuk persamaan menggunakan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 32 pasien dengan kadar feritin di atas 1000 ng/l dan 11 pasien (34,4%) diantaranya memiliki kadar feritin >1500 ng/ml. Sebanyak 18 pasien (56,2%) memiliki aktivitas enzim SGOT tinggi dan 21 pasien (65,6%) memiliki aktivitas enzim SGPT tinggi pula. Uji korelasi Spearman  menunjukkan adanya hubungan positif kuat antara kadar feritin dengan aktivitas enzim SGOT (p = 0,000), dengan nilai OR= 6,000 dan antara kadar feritin dengan aktivitas enzim SGPT (P = 0,001), dengan nilai OR= 6,002.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Ratna Sari Dyah P; Lies Elina P
Jurnal Analis Kesehatan Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.177 KB) | DOI: 10.26630/jak.v4i2.263

Abstract

Karies gigi dapat dicegah dengan menggunakan antimikroba, yaitu bunga rosella (Hibiscus sabdariffa) pada kelopak bunga, mengandung bahan aktif antara lain flafonoid, fenol atau polifenol, asam sitrat, saponin, tanin. Flavonoid berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme, karena mampu membentuk senyawa kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen. Tujuan penelitian untuk mengetahui  daya hambat minimum terhadap bakteri Streptococcus mutans dan  mengetahui daya hambat berbagai konsentrasi ekstrak kelopak rosella terhadap bakteri Streptococcus mutan.  Jenis penelitian ini adalah  true eksperimental dengan rancangan posttes only desaign, dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan, kemudian dilakukan pengukuran. Populasi dalam penelitian ini adalah ekstrak kelopak bunga rosella. Dengan sampel ekstrak kelopak bunga rosella dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%. Analisis Data Uji One Way ANOVA. Data diolah dengan pogram Statistical Product and Service Solution (SPSS) 16.0 for windows . Uji Multiple Comparisons Bonferroni.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, daya hambat bakteri Streptococcus mutans terbentuk pada konsentrasi 70% sebesar 10,98 mm. Pada kosentrasi 10% sebesar 6,79 mm, konsentrasi 20%  sebesar 7,34 mm, konsentrasi 30% sebesar 8,11 mm, konsentrasi 40% sebesar 8,27 mm, konsentrasi 50% sebesar  8,95mm, konsentrasi 60% sebesar 9,40 mm, konsentrasi 70% sebesar  10,98 mm, konsentrasi 80% sebesar 11,31 mm, konsentrasi 90% sebesar  12,90 mm, konsentrasi 100% sebesar 14,74 mm.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian IMS di Pantai Harapan Panjang Bandar Lampung MARIA TUNTUN SIREGAR; RIRIN HANDAYANI; MISBAHUL HUDA
Jurnal Analis Kesehatan Vol 2, No 1 (2013): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.15 KB) | DOI: 10.26630/jak.v2i1.430

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit menular yang menyerang alat kelamin, yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kejadian IMS pada pekerja seks komersil dan  faktor-faktor  yang  berhubungan dengan  kejadian  IMS  di    lokalisasi  Pantai  Harapan  Panjang  Bandar Lampung. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilakukan   di Puskesmas Perawatan Panjang pada bulan April-Juni 2012. Sampel diambil dari wanita pekerja seks komersil yang bekerja di  Lokalisasi Pantai Harapan Panjang Bandar Lampung berjumlah 61 orang. Data diambil dengan melakukan pemeriksaan gonoroe, sifilis dan bacterial vaginosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita pekerja seks komersil yang menderita IMS sebanyak 53 orang (86,9%), dan yang tidak menderita IMS sebanyak 8 orang (13,1%). Dari 53 orang yang positif  terinfeksi IMS diantaranya 4 orang positif terinfeksi gonoroe, dan 49 orang positif terinfeksi bakterial vaginosis tetapi tidak ada yang terinfeksi sifilis. Faktor pendidikan, penggunaan kondom dan penyuluhan kesehatan oleh petugas kesehatan   tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian IMS karena hasil uji statistik menunjukkan bahwa hasil p value lebih besar dari alpha ( 0,05).
Gambaran Hasil Pemeriksaan HIV di RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2015 MISBAHUL HUDA; Desi Zuliana; Nurminha Nurminha
Jurnal Analis Kesehatan Vol 6, No 1 (2017): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v6i1.795

Abstract

RSUD Dr. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung merupakan rumah sakit umum daerah tipe B yang menjadi rumah sakit rujukan di provinsi Lampung. Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit yang memiliki fasilitas pengobatan HIV. Tercatat bulan Januari-Desember 2015 terdapat 1165 pasien yang memeriksakan HIV di laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. H Abdul Moeloek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase hasil pemeriksaan HIV reaktif berdasarkan umur dan jenis kelamin di RSUD Dr. H Abdul Moeloek pada tahun 2015. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Variabel penelitian adalah data rekam medik hasil pemeriksaan HIV reaktif berdasarkan umur dan jenis kelamin  di RSUD Dr. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung bulan Januari-Desember 2015. Hasil penelitian didapatkan 22,5%  paien HIV reaktif. Hasil pemeriksaan HIV di dapatkan persentase jenis kelamin laki-laki yaitu 59,2% pasien HIV Reaktif dan jenis kelamin perempuan yaitu 40,8% pasien HIV reaktif. Hasil pemeriksaan HIV berdasarkan umur didapatkan pasien HIV reaktif yaitu pada kelompok umur <15 tahun sebanyak 8 pasien (3,1%), kelompok umur 15-19 tahun sebanyak 10 pasien (3,8%), kelompok umur 20-24 Tahun sebanyak 35 pasien (13,4%), umur 25-49 tahun, sebanyak 191 pasien (72,9%), kelompok umur >50 tahun sebanyak 18 pasien (6,8%).
Gambaran Kadar Asam Mefenamat Dalam Obat Antinyeri Yang Beredar Pada Warung-Warung Di Kecamatan Kedamaian Kota Bandar Lampung SRI PUJIWATI
Jurnal Analis Kesehatan Vol 4, No 1 (2015): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v4i1.421

Abstract

Asam Mefenamat adalah derifat antranilat dengan khasiat analgetis, antipiretis, dan anti radang yang cukup baik. Asam mefenamat yang terdapat dalam tablet antinyeri merupakan obat keras. Menurut SK Menkes tanggal 16 Januari 1964 No. 809/Ph/64/b obat keras hanya boleh dijual di apotik, Pedagang Besar Farmasi, dan dokter yang mempunyai surat ijin  menyimpan obat,  tetapi dari penelitian ini  tablet antinyeri yang  mengandung Asam mefenamat dapat dibeli di warung-warung di kecamatan Kedamaian Kota Bandar Lampung. Kecamatan Kedamaian Kota Bandar Lampung terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. Warung-warung diseluruh kecamatan Kedamaian berjumlah 30, dan yang menjual obat antinyeri berjumlah 12. Sampel yang diambil berjumlah 12, yang mewakili masing-masing kelurahan, terdiri dari obat antinyeri A dan B. Hasil uji kualitatip terhadap terhadap semua tablet antinyeri A dan B positip mengandung zat aktif asam mefenamat, hasil uji kualitatip terhadap semua tablet antinyeri A dan B memenuhi syarat kadar menurut British Pharmacopoea Vol II, yaitu tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0%. Kadar tertinggi 101,98% dan kadar terendah 98,30%.
Prevalensi Hasil Uji Saring HbsAg dan Anti HCV pada Darah Donor Di Unit Darah Donor (UDD) RSUD Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun 2012-2014 NURMINHA NURMINHA
Jurnal Analis Kesehatan Vol 5, No 1 (2016): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v5i1.457

Abstract

Pendonor darah adalah orang yang menyumbangkan darah atau komponennya kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Untuk mendapatkan darah yang siap ditransfusikan diperlukan upaya-upaya, mulai dari penggalangan masyarakat agar rela menyumbangkan sebagian darahnya, Masyarakat yang menjadi pendonor perlu dilakukan pemeriksaan uji saring untuk menghindari resiko bagi pendonor atau penerima. Salah satu cara yang dilakukan untuk menghindari resiko bagi pendonor darah atau penerima adalah  melalui pemeriksaan screening darah terhadap Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) adalah uji screening terhadap penyakit Hepatitis B untuk mendeteksi antigen permukaan Hepatitis B (HBsAg) untuk meminimalkan penyebaran terhadap Hepatitis B dan anti-HCV untuk meminimalkan penyebaran terhadap Hepatitis C.  Penelitian ini bersifat deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat HBsAg dan anti-HCV reaktif pada darah donor di Unit Donor Darah (UDD) RSUD Pringsewu Kabupaten Pringsewu. Analisa data menggunakan univariat. Hasil penelitian didapatkan calon pendonor darah di UDD RSUD Pringsewu uji saring HBsAg reaktif yaitu pada tahun 2012 didapatkan persentase 1,00%, ditahun 2013 dengan persentase 1,08 %, dan ditahun 2014 dengan persentase 1,05 %. Dan didapatkan pula uji saring anti-HCV reaktif yaitu pada tahun 2012 didapatkan persentase 0,19 %, ditahun 2013 dengan persentase 0,20 %, dan ditahun 2014 dengan persentase 0,10 %.
Resistensi Bakteri Gram Positif Terhadap Antibiotik Di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Lampung Tahun 2012-2014 MARHAMAH MARHAMAH
Jurnal Analis Kesehatan Vol 5, No 1 (2016): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v5i1.448

Abstract

Antibiotik seharusnya merupakan  obat yang kuat untuk membunuh bakteri. namun penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat  menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik. Sifat resistensi bakteri terhadap antibiotik sangat penting untuk disampaikan hasilnya secara berkala, karena tiap wilayah  pola resistensi kuman berbeda-beda, dimana resistensi kuman terhadap antibiotik dipengaruhi oleh intensitas paparan antibiotik, dimana di suatu wilayah yang tidak terkendalinya penggunaan antibiotik cenderung akan meningkatkan resistensi kuman yang tadinya sensitive. Tujuan penelitian ini mengetahui resistensi bakteri Gram Positif terhadap antibiotik  dan mengetahui sensitifitas bakteri Gram Positif terhadap antibiotik di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Lampung tahun 2012 sampai 2014. Jenis penelitian ini adalah deskriftif, yaitu mengumpulkan data di Laboratorium Mikrobiologi UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung, dengan variabel penelitian bakteri Gram Positif dan antibiotik. Populasi adalah data tes sensitivitas bakteri Gram Positif terhadap antibiotik. Analisa data univariat yaitu untuk memperoleh persentase resistensi dan sensitifitas bakteri Gram Positif terhadap antibiotik. Di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Lampung tahun 2012, bakteri Gram Positif yang resisten tertinggi terhadap antibiotik Ampisilin, Erytromycine,  Cefrazidime dan Cefadroxil, tahun 2013 Cefotaxime, Cefrazidime dan Cefadroxil, tahun 2014 Ampisilin, Cefrazidime dan Amocksisilin. Tahun 2012, bakteri Gram    Positif yang sensitif tertinggi terhadap antibiotik Amikasin, Ceproflocaxine, dan Co-trimoxazol, tahun 2013 dan tahun 2014 sensitif terhadap  Nitrofurantoine dan Netilmicin. Jenis kuman yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus sp.
Formulasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Sebagai Pewarna Alami Dalam Sediaan Lipstik Yulyuswarni Yulyuswarni
Jurnal Analis Kesehatan Vol 7, No 1 (2018): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v7i1.917

Abstract

Hasil pengawasan yang dilakukan oleh BPOM selama bulan Januari-Juni tahun 2016 menemukan 43 item kosmetika mengandung bahan berbahayaantara lain merkuri, hidrokuinon, asam retinoat, deksametason, klindamisin, serta bahan pewarna merah K3 dan merah K10. Kosmetika yang mengandung bahan pewarna berbahaya beberapa diantaranya adalah lipstik. Penggunaan zat warna berbahaya dalam sediaan lipstik sendiri dapat menjadi pemicu masalah kesehatan khususnya pada kulit. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan pearna alami dalam sediaan lipstik. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan tanaman yang mengandung pigmen warna betalain yang bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam formulasi sediaan lipstik). Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lipstik menggunakan ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai pewarna alami dengan konsentrasi 17.5 %, 20%, 22,5% dan 25%, dan mengetahui mutu sediaan lipstik berupa organoleptis, homogenitas, pH, titik lebur, daya lekat, iritasi serta kesukaan panelis. Penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental kualitatif dengan menganalisis hasil evaluasi sediaan lipstik dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan persyaratan sediaan lipstik dan ANAVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan lipstik ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan variasi konsentrasi memiliki peningkatan warna yaitu dari cokelat muda menjadi cokelat tua, berbau khas, dan memiliki konsistensi setengah padat cenderung keras. Seluruh formula tidak homogen, memiliki pH antara 5.3-6,1. Titik lebur  530C-55.30C, perbedaan titik lebur berbeda secara bermakna antara F0 dengan F3 dan F4, kemudian F1 dengan F2, F3, dan F4. Seluruh formula memiliki daya lekat yang kurang baik dan tidak menyebabkan iritasi. Uji kesukaan tidak dilakukan karena tidak ada formula yang memenuhi semua syarat mutu sediaan lipstik
HIV Reaktif pada Calon Donor Darah di Unit Donor Darah (UDD) Pembina Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Lampung dan Unit Transfusi Darah PMI RSUD Pringsewu tahun 2010 – 2014 Siti Aminah
Jurnal Analis Kesehatan Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v4i2.279

Abstract

Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2011, pada pasal 11, skrining tes/uji saring darah wajib dilakukan, untuk mencegah penularan infeksi yang ditularkan lewat darah dari pendonor darah kepada pasien, mencegah penyakit menular, meliputi pencegahan penularan penyakit Human Immunodefisiensi Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome (AIDS), Hepatitis B, Hepatitis C dan sifilis. Tujuan penelitian mengetahui  HIV reaktif dan Persentase HIV reaktif pada Calon  Donor Darah di UDD Pembina PMI Provinsi Lampung dan UTD PMI RSUD Pringsewu tahun 2010-2014. Jenis penelitian deskriptif, desain studi retrospektif. Variabel penelitian darah calon donor di UDD  Pembina PMI Provinsi Lampung dan UTD PMI RSUD Pringsewu dan hasil pemeriksaan uji saring terhadap HIV tahun 2010-2014. Hasil Penelitian, jumlah HIV reaktif tahun 2010 sampai dengan 2014 di UDD  Pembina PMI Provinsi Lampung mengalami penurunan yaitu dari 0,44 % turun menjadi 0,19 %  dan di UTD PMI RSUD Pringsewu terjadi fluktuasi mulai dari 0,09 % sampai dengan 1,39 %, dengan jumlah terendah 0,09 pada tahun 2010 dan jumlah tertinggi sebesar 1,39 % pada tahun 2013.
Perbandingan Uji Efektivitas Air Perasan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) Dengan Air Perasan Lengkuas Putih (Alpinia galnga L. Wild) Terhadap Pertumbuhan Jamur Malassezia furfur Penyebab Panu SRI WANTINI; YESSIKA VIOLITA; EKA SULISTIANINGSIH
Jurnal Analis Kesehatan Vol 2, No 2 (2013): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.031 KB) | DOI: 10.26630/jak.v2i2.435

Abstract

Pitiriasis versikolor  nama  lain  dari  penyakit  panu.  Penyebab  panu  adalah  jamur  Malassezia furfur.  Obat tradisional yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit panu adalah lengkuas. Ada dua jenis lengkuas yaitu lengkuas merah dan lengkuas putih. Kandungan zat aktif lengkuas merah dan lengkuas putih dapat digunakan sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efektivitas air perasan lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) dengan air perasan lengkuas putih (Alpinia galnga L. Wild) terhadap pertumbuhan jamur Malassezia furfur.  Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan meggunakan air perasan lengkuas merah dan air perasan lengkuas putih pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% dilakukan pengulangan masing-masing dua kali. Hasil penelitian  menunjukan zona hambat air perasan lengkuas merah lebih baik dari pada lengkuas putih. Ukuran rerata diameter zona hambat lengkuas merah :  11,25 mm; 12,5 mm; 14,5 mm; 15 mm; 17,5 mm lebih besar dari lengkuas putih : 10 mm; 10,75 mm; 11,5 mm; 12,25 mm; 12,75 mm. Hasil uji statistik one way  Anova menunjukkan perbedaan zona hambat yang signifikan. Air perasan lengkuas merah dan air perasan lengkuas putih tidak efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif dalam menghambat pertumbuhan jamur Malassezia furfur penyebab panu.

Page 3 of 18 | Total Record : 179