cover
Contact Name
Hendra Stevani
Contact Email
Hendra Stevani
Phone
-
Journal Mail Official
mediafarmasipoltekkesmks@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Farmasi
ISSN : 02162083     EISSN : 26220962     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Kadar Vitamin C dan Aktivitas Antioksidan Kulit Buah Naga Segar (Hylocereus S) Ida Adhayanti; Tahir Ahmad
Media Farmasi XXX Vol 17, No 2 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2273

Abstract

Dragon fruit is  originated from South America and began to be popular in Indonesia in 2010. Various studies on the pharmacological activity of dragon fruit have been widely done. The pharmacological activity of dragon fruit certainly can't be apart  from its bioactive contents. Some studies show that bioactive compounds such as vitamin C are higher in the peel than in the flesh of the fruit, as well as the antioxidant activity in the peel is better than in the flesh. This study aims to determine the antioxidant activity and vitamin C content of fresh dragon fruit peel. The method used in determining the antioxidant activity is by using 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DDPH) reagent, the absorbance of the reactan was then measured by the UV-Vis spectrophotometer to determined the IC50 value. Determining vitamin C contents was also done using a UV-Vis spectrophotometer. The results indicated that the antioxidant activity of fresh dragon fruit peel was  140.12 ± 5.76  mg / ml and vitamin C levels were  252 mg in 100 grams of dragon fruit peel. Differences in the content of bioactive compounds in fruits depend on a number of elements such as genotypes, environmental conditions, ripeness and the place of cultivation. Keywords : Dragon Fruit, Antioxidant, Vitamin C, PeelPenelitian mengenai aktivitas farmakologi buah naga telah banyak dilakukan, aktivitasnya tentunya tidak lepas dari kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Beberapa data penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktif seperti vitamin C kadanya lebih tinggi pada kulit buah naga bila dibandingkan dengan kadar vitamin C pada daging buahnya, demikian pula dengan aktivitas antioksidannya, beberapa penelitian menunjukkan aktivitas yang lebih baik  pada kulit buah naga. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kandungan vitamin C dan aktivitas antioksidan kulit buah naga segar. Dalam penentuan aktivitas antioksidan digunakan pereaksi DPPH, hasil reaksi dengan pereaksi ini kemudian diukur absorbansinya dengan menggunakan alat  spektrofotometer UV-Vis kemudian ditentukan nilai IC50nya. Penentun kadar vitamin C juga dilakukan dengan menggunakan alat Spektrofofometer UV-Vis pada panjang gelombang 261 nm.. Aktivitas antioksidan dari kulit buah naga segar adalah sebesar 140,12 ± 5,76 mg/ml dan kadar vitamin C adalah sebesar 252 mg dalam 100 gram kulit buah naga.  Perbedaan dalam kandungan dan jumlah senyawa bioaktif dalam buah-buahan tergantung pada sejumlah elemen seperti genotipe, kondisi lingkungan, kematangan serta tempat panen.Kata kunci : Kulit buah naga, antioksidan, vitamin C
Formulasi Dan Stabilitas Mutu Fisik Sediaan Gel Wajah Yang Mengandung Ekstrak Daun Afrika Dengan Variasi Konsentrasi Carbopol Dwi Rachmawaty Daswi; Arisanty Arisanty; St Mutmainnah Dewi Reski; Alfrida Monica Salasa; St Ratnah
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2299

Abstract

Formulation And Physical Quality Stability Of Facial Gel Preparations Containing African Leaf Extract (Vernonia amygdalina dell.) With Variations In Carbopol Concentrationcontain phenolic compounds including flavonoids that can wardoff free radicals. This study aims to formulate facial gel preparations from African leaf extracts to determine the stability of the physical quality of the preparations. African leaves are extracted using the maceratio method and then formulated into a facial gel made in three variations of the formula. Three gel formulas made with different carbopol concentrations are 0.5%, 1%, 2%. Physical quality testing of facial gel preparations is performed before and after the accelerated stability test (freeze thaw), including organoleptics, homogeneity tests, syneresis tests, pH tests, scatterpower tests and viscosity tests. Based on the results, formula II with 1 % carbopol concentration fulfilled almost all the requirement of the physical quality test carried out before and after the accelerated stability test excep for pH testing, for formula I with 0,5 % carbopol concentration and formula III with 2 % carbopol concentration only met homogenity,synerisis and viscosity test requirement.The result of statistical test showed the result of P>0,05 which means there is no significant difference from the test results before and after accelerateds storage.Keywords : Physical quality test, facial gel, African leaf extract, carbopolDaun Afrika (Vernonia amygdalina Del.) merupakan tanaman yang memiliki manfaat sebagai antioksidan alami karena memiliki kandungan senyawa fenolik termasuk flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Memformulasikan sediaan gel wajah dari ekstrak daun afrika dan untuk mengetahui kestabilan mutu fisik sediaan merupakan tujuan dari penelitian ini. Daun Afrika diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi kemudian di formulasikan kedalam gel wajah yang di buat dalam 3 variasi formula. Tiga formula gel yang dibuat dengan konsentrasi carbopol yang berbeda yaitu 0,5%, 1%, 2%. Pengujian mutu fisik sediaan gel wajah dilakukan sebelum dan setelah uji stabilitas dipercepat (freeze thaw), meliputi organoleptik,  uji homogenitas, uji sineresis, uji pH, uji daya sebar serta uji viskositas. Berdasarkan hasil yang diperoleh formula II dengan konsentrasi carbopol 1% memenuhi hampir semua persyaratan uji mutu fisik yang dilakukan sebelum dan sesudah uji stabilitas dipercepat kecuali pengujian PH , untuk formula I dengan konsentrasi carbopol 0,5 %  dan formula III dengan konsentrasi carbopol 2% hanya memenuhi persyaratan uji homogenitas, sinerisis dan viskositas. Hasil uji statistik menunjukkan hasil P> 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil pengujian sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat.Kata Kunci: Uji mutu fisik, gel wajah, ekstrak daun Afrika, carbopol
Penurunan Glukosa Darah dan Peningkatan Jumlah Sel Beta Pankreas Dengan Pemberian Ekstrak Etanol Pleurotus Ostreatus Asmarani Dira; Lia Puspitasari
Media Farmasi XXX Vol 17, No 2 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2285

Abstract

Herbal medicine has been widely used for generations, one of which is oyster mushrooms. Therefore, a study was conducted to determine the decrease in blood glucose and the increase in the number of pancreatic beta cells. Modeling diabetes mellitus using alloxan-induced wistar rats. Rats were divided into 3 treatment groups, namely negative control group (Aquades), treatment group (Pleurotus ostreatus ethanol extract 1000 mg/kgbw) and positive control (glibenclamide 5 mg/kgbbw). Blood glucose levels were taken on day 0 and 15 and pancreatic beta cells were observed. The results showed that the average blood glucose level when induced by alloxan and after the 15th day, the ethanol extract of Pleurotus ostreatus decreased significantly (p˂0.05) compared to the negative control. Hispathological results showed the average number of beta cells in rats induced by ethanol extract of Pleurotus ostreatus was higher than the negative control (p<0.05). Keywords: Pleurotus ostreatus, blood glucose, beta cellsObat herbal telah banyak digunakan secara turun-temurun salah satunya jamur tiram. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui penurunan glukosa darah dan peningkatan jumlah sel beta pankreas. Pemodelan diabetes melitus menggunakan tikus wistar yang diinduksi aloksan. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif (Aquades), kelompok perlakuan (ekstrak etanol Pleurotus ostreatus 1000 mg/kgbb) dan kontrol positif (glibenklamide 5 mg/kgbb). Kadar glukosa darah diambil saat hari ke-0 dan ke-15 dan dilakukan pengamatan sel beta pankreas. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar glukosa darah saat diinduksi aloksan dan setelah hari ke-15, ekstrak etanol Pleurotus ostreatus mengalami penurunan secara signifikan (p˂0,05) dibandingkan dengan kontrol negatif. Hasil hispatologi menunjukkan jumlah rata-rata sel beta pada tikus yang diinduksi ekstrak etanol Pleurotus ostreatus lebih banyak dibandingkan dengan kontrol negatif (p<0,05). Kata kunci: Pleurotus ostreatus, glukosa darah, sel beta
Efek Proteksi Madu Trigona Sp Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Atorvastatin Dengan Parameter Histopatologi Hati Mirnawati Salampe; Mutiara Mutiara; Sukamto S Mamada
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2388

Abstract

Trigona sp honey has been reported to have high antioxidant activity associated with its phenolic content. Statin antihyperlipidemia (atorvastatin) has many pleiotropic effects, but inappropriate use in terms of duration and high doses has been shown to trigger hepatotoxicity. The purpose of this study was to determine the protective effect of trigona honey in rats (Rattus norvegicus) induced by high doses of atorvastatin with liver histopathological parameters. The test animals used were 21 which were divided into 7 treatment groups. Each group was given different treatment for 5 weeks. Group 1 administration of 0.5% NaCMC; group 2 (negative control) induced atorvastatin; group 3 (positive control) given CoQ10 100 mg/kgBW orally 2 hours before atorvastatin induction; group 4 (honey control) was given 4.5 mL/kgBW of honey; groups 5, 6, and 7 were given honey (1.5; 3; 4.5) mL/kgBW 2 hours before induction of atorvastatin. Observation of histopathological picture was carried out after 5 weeks of administration of the test preparation. The hepatocyte damage score data were statistically analyzed. Histopathological observations in the group given Trigona honey at a dose of 4.5 mL/KgBW showed normal cells and statistical analysis showed significant results (p<0.05) with negative control. The conclusion of this study was that trigona honey at a dose of 4.5 mL/KgBW gave a protective effect against rat hepatocyte cells induced by atorvastatin.Keywords: Atorvastatin, Hepatotoxicity, Honey, TrigonaMadu Trigona sp telah dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dikaitkan dengan kandungan fenoliknya. Antihiperlipidemia golongan statin (atorvastatin) memiliki banyak efek pleiotropik, akan tetapi penggunaan yang tidak tepat dalam hal durasi dan dosis yang tinggi terbukti memicu efek samping hepatotoksisitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek proteksi madu trigona pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi atorvastatin dosis tinggi dengan parameter histopatologi hati. Hewan uji yang digunakan sebanyak dua puluh satu ekor yang dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan. Setiap kelompok diberi perlakuan yang berbeda selama 5 minggu. Kelompok 1 pemberian NaCMC 0,5%; kelompok 2 (kontrol negatif) diinduksi atorvastatin; kelompok 3 (kontrol positif) pemberian CoQ10 100 mg/kgBB secara oral 2 jam sebelum induksi atorvastatin; kelompok 4 (kontrol madu) pemberian madu 4,5 mL/kgBB; kelompok 5, 6, dan 7 diberikan madu (1,5; 3; 4,5) mL/kgBB berturut turut 2 jam sebelum induksi atorvastatin. Pengamatan gambaran histopatologi dilakukan setelah 5 minggu pemberiaan sediaan uji. Data skor kerusakan hepatosit dianalisis secara statistik. Hasil pengamatan histopatologi pada kelompok yang diberikan madu trigona dosis 4,5 mL/KgBB memperlihatkan sel normal dan analisis statistik menunjukkan hasil signifikan (p<0,05) dengan kontrol negatif. Kesimpulan penelitian ini adalah madu trigona dengan dosis 4,5 mL/KgBB memberikan efek proteksi terhadap sel hepatosit tikus yang diinduksi atorvastatin.Kata Kunci: Atorvastatin, Hepatotoksistas, Madu, Trigona.
Efektifitas Penyembuhan Luka Sayat Spray Gel Minyak Nilam Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Junvidya Heroweti; M Fatchur Rochman; Danang Novianto Wibowo; Isnina Rokhmatun Khasanah; Safira Salma
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2397

Abstract

The Effectiveness Of Wounds Healing Of Patchouli Oil Spray Gel On Rabbit (Oryctolagus cuniculus)Patchouli plant (Pogostemon cablin Benth) produces essential oil- plants containing sesquiterpenes and patchouli alcohol compounds that function as anti-inflammatory. In addition, patchouli oil also contains terpenoid compounds that have antibacterial and antifungal activity. This study aims to determine the effect of wound healing in patchouli oil spray gel on rabbits. The spray gel formulation used in this study was to add the active substance of pure patchouli oil with concentrations of 5%, 7.5%, and 10%. The resulting spray gel formulation was tested on rabbit cuts with six treatments, namely positive control (bioplacenton), negative control (base), control without treatment, patchouli oil spray gel with concentrations of 5%, 7.5%, and 10%. The test was carried out for 14 days, giving the ointment two times a day (every 12 hours) with three replication. The analysis was carried out by calculating the average percentage of wound healing time and analyzed using the one-way ANOVA test. The results of the three formulations of patchouli oil spray gel showed that the preparation with a concentration of 10% had no significantly different results (P>0.05) compared to the positive control. Statistical results on the three spray gel formulation showed that there was a significant difference (p < 0.05) between the treatment groups. It can be said that the spray gel preparation at a concentration of 5% was significantly different from the preparation with a concentration of 10%. Where increasing the concentration of patchouli oil will accelerate the percentage of wound healing on the rabbit's back.Keywords : Spray gel; patchouli oil; patchouli alcohol; Wounds healingTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan satu dari tumbuhan penghasil minyak atsiri, mengandung senyawa sesquiterpen dan patchouli alcohol yang berfungsi sebagai antiinflamasi. Selain itu, minyak nilam juga mengandung senyawa terpenoid yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan antijamur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya efek terhadap penyembuhan luka sayat dalam sediaan spray gel minyak nilam terhadap kelinci. Formulasi spray gel yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menambahkan zat aktif  minyak nilam murni dengan berbagai konsentrasi yaitu 5%, 7,5%, dan 10%. Formulasi spray gel yang dihasilkan diujikan pada luka sayat kelinci dengan 6 perlakuan, yaitu kontrol positif (bioplacenton), kontrol negatif (basis), kontrol tanpa perlakuan, spray gel minyak nilam konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10%. Pengujian dilakukan selama 14 hari dengan durasi pemberian salep sebanyak 2 kali sehari (setiap 12 jam) dengan replikasi sebanyak tiga kali. Analisis dilakukan dengan menghitung rata-rata persentase waktu penyembuhan luka sayat dan dianalisis menggunakan uji one way anova. Hasil dari ketiga formula sediaan spray gel minyak nilam menunjjukan, sediaan dengan konsentrasi 10 % memiliki hasil tidak berbeda secara signifikan (P>0,05) jika dibandingkan dengan kontrol positif. Hasil statistik pada ketiga formula spray gel menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p <0,05) antara kelompok perlakuan. Dapat dikatakan bahwa sediaan spray gel pada konsentrasi 5 % berbeda signifikan dengan sediaan dengan konsentrasi 10%. Dimana peningkatan pemberian konsentrasi minyak nilam akan mempercepat persentase penyembuhan luka pada punggung kelinci.Kata kunci : Spray gel; Minyak nilam; patchouli alcohol; Luka sayat
Suhu Dan Waktu Optimum Penyeduhan Simplisia Bunga Telang (Clitoria Ternatea L) Terhadap Kandungan Antioksidan Luluk - Anisyah; Ida Ayu Preharsini Kusuma; Lela Veronika Tindaon
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2586

Abstract

OPTIMUM TEMPERATURE AND TIME BREWING OF SIMPLICIA TELANG FLOWER (Clitoria ternatea L) ON ANTIOXIDANT CONTENTFor a long time, the telang plant has been used in traditional medicine for the treatment of various diseases, because the telang flower contains antioxidants. It is known that antioxidant activity can be affected by the interaction between temperature and drying time. Based on this, a research was carried out in selecting the best temperature and length of time for stirring telang flower simplicia containing antioxidants with the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) method using UV-vis spectrophotometry. This research uses laboratory experimental methods. There are 2 groups of variables consisting of the brewing temperature of 70ºC, 85ºC, and 100ºC and the stirring time of 5, 10, and 15 minutes. Replication was carried out 3 times so that 18 replications were obtained. The purpose of this study was to be able to see the best temperature and time for stirring telang flower on antioxidants with UV-vis spectrophotometry. The results for the antioxidant content of telang flower brewing (IC50) at a temperature of 70°C 85°C 100°C within 5 minutes were 13.72 ppm; 16.13 ppm ; 18.55 ppm ; within 10 minutes 26.57 ppm; 28.98 ppm ; 31.40 ppm ; within 15 minutes 39.42 ppm ; 41.83 ppm ; 44.25 ppm. The conclusion from the overall research results obtained for the optimum antioxidant content is brewing at a temperature of 70°C stirred for 5 minutes, which is 13.72 ppm.Key words : Telang flower (Clitoria ternatea L); Antioxidant; Degenerative DiseaseSudah sejak lama tanaman telang telah digunakan dalam pengobatan secara tradisional untuk penyembuhan berbagai penyakit, karena didalam kembang telang tersebut mengandung zat antioksidan. Telah diketahui bahwa aktivitas antioksidan dapat dipengaruhi oleh interaksi antara suhu dan lama pengeringan. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian dalam pemilihan temperatur dan lamanya waktu terbaik pada pengadukan simplisia bunga telang yang mengandung antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil ) yang memakai spektrofotometri uv-vis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium. Terdapat 2 Kelompok variabel yang terdiri atas suhu penyeduhan yaitu 70ºC, 85ºC, dan 100ºC dan lama pengadukan yaitu 5, 10, dan 15 menit. Replikasi dilakukan 3 kali sehingga didapat 18 replikasi.Tujuan dilakukan penelitian ini agar dapat melihat temperature dan waktu yang terbaik  pada pengadukan bunga telang pada bahan berkhasiat antioksidan dengan spektrofotometri uv-vis. Hasil nya untuk kadar antioksidan pada penyeduhan bunga telang (IC50) di temperatur 70°C 85°C 100°C dalam waktu 5 menit adalah 13,72 ppm ; 16,13 ppm ; 18,55 ppm ; dalam waktu 10 menit 26,57 ppm ; 28,98 ppm ; 31,40 ppm ; dalam waktu 15 menit 39,42 ppm ; 41,83 ppm ; 44,25 ppm. Kesimpulan dari hasil penelitian keseluruhan yang didapat untuk kadar antioksidan yang optimum adalah penyeduhan pada suhu 70°C diaduk dalam waktu 5 menit, yaitu 13,72 ppm.Kata kunci : Bunga Telang (Clitoria ternatea L); Antioksidan; Penyakit Degenerative
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Seduhan Buas-Buas (Premna serratifolia Linn.), Meniran (Phyllanthus niruri L.), Secang (Caesalpinia sappan Linn.) Dan Rosela (Hibiscus sabdarifa) dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) isnindar . isnindar; Sri Luliana
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2570

Abstract

Antioxidant Activities Combination Of Brewing Buas-Buas (Premna serratifolia Linn.), Meniran (Phyllanthus niruri L.), Secang (Caesalpinia sappan Linn.) And Rosela (Hibiscus sabdarifa) with DPPH (2,2-Diphenyl-1-1) MethodBuas-buas leaves, meniran herbs, sappan wood, and roselle flowers are rich in phenols and flavonoids. The purpose of this study was to determine the IC50 value of the combination of wild-savage leaves, meniran herbs, sappan wood, and roselle flowers brewed in warm air using the DPPH method. The infusion is obtained from the simplicia of wild-savage leaves, meniran herbs, sappan wood, and roselle flowers which are powdered in a ratio of 1:1:0,5:0,5, 2:1: 0,5: 0,5, and 1:2: 0,5: 0,5. The results of the data show the IC50 values for each comparison, namely 119.4 µg/mL, 100.9 µg/mL, and 131 µg/mLKeywords:  DPPH; Antioxidant; Buas-Buas; Meniran; Secang; RoselaDaun buas-buas, herba meniran, kayu secang dan bunga rosela kaya akan fenol dan flavonoid. Daun buas-buas, meniran, kayu secang, dan bunga rosela sudah terkenal di masyarakat dan sudah banyak digunakan, akan tetapi belum banyak ditelusuri mengenai kombinasi  antara tanaman serta pemanfaatan tanaman sebagai antioksidan dan diolah menjadi minuman seduhan, oleh karena itu dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui nilai IC50 dari kombinasi daun buas-buas, herba meniran, kayu secang dan bunga rosela yang diseduh dalam air hangat menggunakan metode DPPH. Kombinasi seduhan pada penilitan ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai seduhan yang kaya antioksidan. Seduhan diperoleh dari simplisia daun buas-buas, herba  meniran, kayu secang dan bunga rosela yang diserbukkan dengan perbandingan 1:1: 0,5: 0,5, 2:1: 0,5: 0,5 dan 1:2: 0,5: 0,5. Hasil data menunjukkan nilai IC50 masing-masing perbandingan yaitu 119,4 µg/mL, 100,9 µg/mL , dan 131,7 µg/mL.Kata kunci : DPPH; Antioksidan; Buas-Buas; Meniran; Secang; Rosela
Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Semangka (Citrullus Lanatus Linn) Dalam Sediaan Sirup Sebagai Imunostimulan Ermawati Ermawati; Ananda Ramadani
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2536

Abstract

Utilization of waste watermelon fruit (Citrullus lanatus Linn)  in syrup as imunostimulantWatermelon is a fruit that can increase endurance and is rich in antioxidants because it contains a source of lycopene carotenoids, rich in phenolic antioxidants, cucurbitacin E, triterpene, and amino acids in unusual amounts such as L-arginine and citrulline. To facilitate its use, it is made in the form of syrup preparations that are expected to have an effect as an immunostimulant. The purpose of this study is to find out the immunostimulant effect of watermelon peel. This study was conducted by formulating watermelon peel extract in three concentration variations, namely FI (5%) FII (10% extract) and FIII (15% extract). Preparation of watermelon peel extract syrup obtained next is carried out accelerated stability test. Phagocytosis testing is carried out by calculating the activity phagocytosis of macrophage cells. Data analysis using the Graphad Prism® app. The results obtained are that the syrup formula of watermelon peel extract is stable after storage and can have an effect as an immunostimulant.Keywords : Syrup; watermelon peel extract; immunostimulant; phagocytosis testSemangka merupakan buah yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kaya akan antioksidan karena mengandung  sumber likopen karotenoid, kaya akan antioksidan fenolik, cucurbitacin E, triterpene, dan asam amino dalam jumlah yang tidak biasa seperti L-arginine dan citrulline. Untuk memudahkan dalam pemanfaatannya, maka dibuat dalam bentuk sediaan sirup yang diharapkan dapat memiliki efek sebagai imunostimulan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek imunostimulan kulit buah semangka. Penelitian ini dilakukan dengan memformulasikan ekstrak kulit buah semangka dalam tiga variasi konsentrasi yaitu FI (ekstrak 5%)  FII (ekstrak 10%) dan FIII (ekstrak 15%). Sediaan sirup ekstrak kulit buah semangka yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji stabilitas dipercepat. Pengujian fagositosis dilakukan dengan  menghitung aktivitas fagositosis sel makrofag. Analisis data menggunakan aplikasi Graphad Prism®. Hasil yang diperoleh yaitu formula sirup ekstrak kulit buah semangka stabil setelah penyimpanan dan dapat berefek sebagai imunostimulan.Kata kunci : Sirup; ekstrak kulit buah semangka; imunostimulan; uji fagositosis
Perbandingan Karakteristik Potensi Antibakteri Ekstrak Daun Dan Bunga Kemangi (Ocimum sanctum L) Terhadap Propionibacterium acnes Sesilia Rante Pakadang; Muhammad Anugerah Alam Waris; Kiki Arnalia Sari; Djuniasti Karim
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2652

Abstract

Comparison Of Potential Antibacterial Characteristics of Basil (Ocimum sanctum L) Leaf And Flower Extract on Propionibacterium acnesBasil leaves and basil seeds have been shown to contain secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, tannins, polyphenols, essential oils that have the potential as antibacterial. Basil seeds are produced from the seeds of the basil flower. The aim of the study was to identify the chemical constituents and compare the antibacterial potential of basil leaves and flowers (Ocimum sanctum L.) against Propionibacterium acnes. Antibacterial testing method with agar diffusion disk using blank paper disc and Nutrien Agar media. Basil leaves and flowers were macerated with ethanol, then prepared as test materials for concentrations of 10, 20 and 40 mg/ml.  The results showed that basil leaf extract contains alkaloids, tannins, flavonoids and polyphenols. It was concluded that basil leaves and flowers may act as antibacterial Propionibacterium acnes at concentrations of 10 mg/ml, 20 mg/ml and 40 mg ml.  Basil leaves are more potent than basil flowers as an antibacterial Propionibacterium acnes with an optimal concentration of 20 mg/ml, but the amount of chemical compounds in the basil flower extract is higher.Keywords: Leaf; Flower;  Ocimum sanctum L.; Antibacterial; Propionibacterium acnesDaun kemangi dan biji selasih telah dibuktikan   mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tannin, polifenol, minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri. Biji selasih dihasilkan dari niji bunga kemangi. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kandungan kimia dan membandingkan potensi antibakteri dari daun dan bunga kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap Propionibacterium acnes. Metode pengujian antibakteri dengan disk difusi agar menggunakan blank paper disc dan media Nutrien Agar. Daun dan bunga kemangi dimaserasi dengan etanol, kemudian disiapkan sebagai bahan uji konsentrasi 10, 20 dan 40 mg/ml. Hasil penelitian membuktikan Ekstrak daun kemangi mengandung senyawa alkaloid, tannin, flavonoid dan polifenol. Ekstrak bunga kemangi  mengandung senyawa alkaloid, saponin, tannin, flavonoid dan polifenol. Disimpulkan bahwa daun dan bunga kemangi berpotensi sebagai antibakteri Propionibacterium acnes pada konsentrasi 10 mg/ml, 20 mg/ml dan 40 mg ml. Daun  kemangi lebih potensial dibanding  bunga kemangi sebagai antibakteri  Propionibacterium acnes dengan konsentrasi optimal pada 20 mg/ml, namun jumlah senyawa kimia dalam ekstrak bunga kemangi lebih banyak.Kata kunci : Daun; Bunga; Ocimum sanctum L.; Antibakteri; Propionibacterium
Perbandingan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol Daun Ungu (Graptophyllum pictum l. Griff) Berdasarkan Perbedaan Metode Pengeringan Dyah Ratna Ayu Puspita Sari; Putu Ayu Ratih Listiani
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2525

Abstract

Comparison Of Total Flavonoid Content Of Purple Leaves Extract (Graptophyllum pictum l. Griff) By Different Drying MethodsPurple leaf (Graptophyllum pictum L. Griff) is a plants used in traditional medicine. The pharmacological activity of purple leaves is caused by the presence of chemical compounds it has. One of the important compounds contained in purple leaves is flavonoids. The aimed of this study was to determine the ratio of total flavonoid content of purple leaf ethanol extract based on different drying methods. The extraction method used is the maceration method. The flavonoid test was carried out qualitatively and quantitatively with a UV-Vis spectrophotometer instrument. This study shows the total flavonoid content of purple leaves  that were dried by aerating (28.68 mg) was greater than that of the oven (24.30 mg). However, there was no significant difference between the two drying methods (p >0.05).Keywords : Graptophyllum pictum ,Total Flavonoid, Drying MethodsDaun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) adalah tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional. Aktivitas farmakologi daun ungu disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang dimilikinya. Salah satu senyawa penting yang terkandung dalam daun ungu adalah flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun ungu berdasarkan perbedaan metode pengeringan. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi. Pengujian flavonoid dilakukan secara kualitatit dan kuantitatif dengan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Penelitian ini menunjukkan kadar flavonoid total daun ungu yang dikeringkan dengan cara diangin-anginkan (28,68 mg) lebih besar dibandingkan dengan oven (24,30 mg). Namun tidak ditemukan perbedaan yang signifikan diantara kedua metode pengeringan tersebut (p >0.05)Kata kunci : Graptophyllum pictum, Flavonoid Total, Metode Pengeringan