cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
KELAYAKAN REKAYASA TAMBAK SILVOFISHERY DI KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG PROVINSI JAWA BARAT Tarunamulia Tarunamulia; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Kamariah Kamariah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.463 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.579-592

Abstract

Di Indonesia, silvofishery diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif terbaik untuk mencapai pengelolaan ekosistem mangrove dan tambak ekstensif secara optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status kelayakan rekayasa tambak silvofishery di Desa Jayamukti Kecamatan BlanakanKabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Evaluasi dilakukan dengan menerapkan metode survai tingkat detail yang berbasis sistem informasi geografis (SIG) dan memanfaatkan citra satelit worldview-2. Survai lapang meliputi pengambilan contoh tanah, pengukuran elevasi lahan tambak, pengukuran pasang surut,dan pengukuran kualitas air secara insitu. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kondisi rekayasa tambak eksisting dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada produktivitas dan keberlanjutan tambak silvofishery di lokasi studi. Ketidaksesuaian lebar dan kedalaman saluran dengan kondisi tunggangpasut lokal (< 1 m) menyebabkan tidak efektifnya fungsi saluran dalam menyediakan kuantitas dan kualitas air yang optimal untuk kegiatan budidaya. Selanjutnya penelitian ini juga menemukan ketinggian pematang primer dan sekunder eksisting umumnya lebih rendah dibandingkan ketinggian pematang ideal dengan selisih rata-rata masing-masing -0,68 m hingga -0,56 m. Nilai salinitas air dengan kisaran 7-65 ppt juga merupakan faktor pembatas utama produktivitas lahan. Nilai salinitas air tambak yang tinggi berkaitan erat dengan variasi spasial elevasi dasar tambak dan penurunan efektivitas fungsi saluran tambak akibat sedimentasi. Jika faktor pembatas lingkungan dan ketidaksesuaian rekayasa tambak tersebut tidak ditangani dengan baik tentunya akan mengancam keberlanjutan kegiatan budidaya berbasis silvofishery di lokasipenelitian. 
PEMANFAATAN MADU UNTUK MENINGKATKAN RESPONS IMUN DAN RESISTANSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP INFEKSI White Spot Syndrome Virus Widanarni Widanarni; Muhamad Gustilatov; Sukenda Sukenda; Diah Ayu Satyari Utami
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.59-69

Abstract

Wabah penyakit white spot diseases (WSD) akibat infeksi white spot syndrome virus (WSSV) menyebabkan penurunan produksi udang global. Alternatif pencegahan infeksi WSSV dapat dilakukan melalui peningkatan respons imun udang dengan aplikasi madu sebagai prebiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian madu dalam meningkatkan respons imun dan resistansi udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap infeksi WSSV. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan yang meliputi perlakuan kontrol positif (tanpa pemberian madu dan diuji tantang dengan WSSV), kontrol negatif (tanpa pemberian madu dan tanpa uji tantang dengan WSSV), pemberian madu pada dosis 0,2%; 0,4%; dan 0,6%; serta diuji tantang dengan WSSV. Udang vaname berukuran 0,4 ± 0,11 g diberi pakan komersial dengan penambahan madu selama 10 minggu sebelum diuji tantang dengan WSSV, kemudian udang diuji tantang dengan WSSV dan diamati sintasan, serta parameter respons imunnya selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter respons imun udang yang diberi perlakuan madu meliputi total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory burst (RB), dan phenoloxidase (PO), baik sebelum maupun setelah uji tantang dengan WSSV lebih baik (P<0,05) dibanding kontrol. Pada akhir uji tantang, sintasan udang yang diberi perlakuan madu pada dosis 0,4% dan 0,6% masing-masing mencapai 66,67%; sedangkan pada perlakuan kontrol positif hanya mencapai 36,67%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian madu pada dosis 0,4% efektif meningkatkan respons imun dan resistansi udang vaname terhadap infeksi WSSV.White spot disease (WSD) outbreaks due to white spot syndrome virus (WSSV) infection cause the decline of the global shrimp production. The alternative prevention method against WSSV infection can be done by the improvement of immune responses through the application of honey as a prebiotic. This study aimed to evaluate the effectiveness of the administration of honey in improving immune responses and resistance of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) against WSSV infection. This study consisted of five treatments and triplicates including positive control (without the administration of honey and challenged by WSSV); negative control (without the administration of honey and without the challenge test with WSSV); the administration of honey at doses of 0.2%, 0.4%, and 0,6% and challenged by WSSV. Pacific white shrimp sized 0.4 ± 0.11 g were fed commercial feed with the addition of honey for 10 weeks before challenged by WSSV, then the shrimp were challenged by WSSV and were observed their survival and immune responses parameters for seven days. The results of the study showed that immune responses parameters of the shrimp treated by honey treatments including total haemocyte count (THC), phagocytic activity (PA), respiratory burst (RB), and phenoloxidase (PO), both before and after the challenge test with WSSV were better (P<0.05) compared to control. At the end of the challenge test, the survival of the shrimp treated with honey treatments at doses of 0.4% and 0.6% reached 66.67%, while that of positive control treatment only reached 36.67%. These results indicated that the administration of honey at a dose of 0.4% was effective to improve immune responses and resistance of Pacific white shrimp against WSSV infection.
PERFORMANSI FISIOLOGIS UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei YANG DIPELIHARA PADA MEDIA AIR TAWAR DENGAN APLIKASI KALIUM Aan Fibro Widodo; Brata Pantjara; Noor Bimo Adhiyudanto; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.08 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.225-241

Abstract

Kalium sangat penting bagi udang terutama yang dipelihara pada media air tawar. Kalium merupakan mineral mikro yang penting bagi udang terutama dalam menjaga keseimbangan elektrolit cairan tubuh, penghantaran impuls saraf, serta pembebasan tenaga yang berasal dari protein, lemak, dan karbohidrat pada proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performansi udang vaname, Litopenaeus vannamei, yang dipelihara pada media air tawar dengan aplikasi kalium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros. Hewan uji yang digunakan adalah udang vaname umur 62 hari dengan bobot awal rata-rata 5,80±0,02 g. Penelitian dirancang dengan pola rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah aplikasi KCl sebagai sumber kalium pada air tawar pengencer media bersalinitas 1-0 ppt, masingmasing konsentrasi kalium pada perlakuan A, B, C, dan D secara berurutan adalah 25, 50, 75, dan 0 mg/L (kontrol). Sebelum penelitian berlangsung, udang diadaptasikan di air payau dengan salinitas 25 ppt selama 10 hari. Selanjutnya salinitas diturunkan sampai 1 ppt selama 3 hari, dilanjutkan pemeliharaan pada salinitas 0 ppt sampai akhir penelitian (30 hari). Peubah yang diamati adalah tingkat kerja osmotik, laju konsumsi oksigen, konsentrasi glukosa darah, sintasan, laju pertumbuhan bobot, dan panjang spesifik harian serta peubah kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kalium 25-75 mg/L pada media pemeliharaan air tawar dapat meningkatkan kemampuan osmoregulasi dan mengurangi tingkat stres udang vaname sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasannya. Uji statistik terhadap tingkat kerja osmotik, tingkat konsumsi oksigen, dan konsentrasi glukosa darah berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan, namun performansi fisiologis udang vaname terbaik dengan tingkat osmotik, laju konsumsi oksigen, dan konsentrasi glukosa darah terendah diperoleh pada perlakuan aplikasi kalium konsentrasi 50 mg/L (optimum 55,05–56,43 mg/L).
KARAKTER GENETIK POPULASI IKAN MAS, C yprinus carpio HASIL PERSILANGAN Didik Ariyanto; Estu Nugroho; Subagyo Subagyo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.295 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.227-233

Abstract

Evaluasi karakter genetik populasi ikan mas hasil persilangan telah dilakukan dengan menggunakan metode elektroforesis protein secara horisontal. Sampel ikan sebanyak 120 ekor yang mewakili 6 populasi ikan mas adalah hasil persilangan resiprokal antara 3 strain ikan mas unggul yaitu strain majalaya, rajadanu dan sutisna.  Bagian tubuh yang diambil untuk pengamatan karakter genetik adalah jaringan otot sedangkan sebagai media elektroforesis digunakan gel pati.  Pada penelitian ini digunakan 12 sistem enzim untuk analisis.  Hasil analisis menunjukkan bahwa 3 lokus polimorfik dari 7 lokus yang teridentifikasi, yaitu Ldh-1, Mdh-1 dan Me. Heterozigositas rata-rata sebesar 0,23 (kategori rendah). Nilai jarak genetik paling dekat sebesar 0 diperoleh antara populasi rajadanu dengan sutisna dan nilai terjauh sebesar 0,0018 antara populasi rajadanu dan sutisna dengan majalaya. Populasi rajadanu dan sutisna mempunyai pengaruh kuat terhadap struktur genetik populasi keturunan hasil persilangan dibandingkan dengan populasi majalaya.Evaluation of genetic characterization of the hybrid populations of common carp using protein electrophoresis method was conducted.  The samples of 120 fishes were taken from Research Institute for Fish-breeding and Aquaculture Technology, Sukamandi.  The samples has been extracted from muscle and potato starch gel was used to assess the level of genetic characters.  Twelve enzymes were examined in this experiment.  The result showed that 7 loci were identified that 3 of loci were polymorphs i.e. : Ldh-1, Mdh-1 and Me.  An average of heterozigosity : 0.23 (low category). Genetic distance value between rajadanu and sutisna population was 0. Genetic distance value between both of rajadanu and sutisna populations from majalaya population was 0.0018. Rajadanu and sutisna strains have stronger influence to genetic structure of its offspring compared than majalaya strain.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C (Ascorbic Acid) PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP KETAHANAN BENIH LELE DUMBO (Clarias sp. Burchell) TERHADAP INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Stainer Taukhid Taukhid; Hambali Supriyadi; Nenden Dalis Asmaeni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.361 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.203-209

Abstract

Riset ini bertujuan untuk mengetahui jumlah optimal penambahan vitamin C ke dalam pakan ikan lele dumbo yang dapat memberikan ketahanan tubuh maksimal terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Perlakuan yang diterapkan terdiri atas (A) pakan komersial tanpa penambahan vitamin C sebagai kontrol, (B) penambahan vitamin C sebanyak 250 mg/kg pakan, (C) penambahan vitamin C sebanyak 500 mg/kg pakan, (D) penambahan vitamin C sebanyak 750 mg/kg pakan, dan (E) penambahan vitamin C sebanyak 1.000 mg/kg pakan. Pakan diberikan selama 62 hari, dan pada hari ke-56 dilakukan uji tantang terhadap bakteri A. hydrophila konsentrasi 1,0 x 106 cfu/mL yang diberikan melalui penyuntikan intra muskular (IM) sebanyak 0,1 mL/ekor ikan uji. Pengamatan dilakukan terhadap kadar titer antibodi spesifik, gejala klinis, dan sintasan setelah uji tantang serta kadar vitamin C dalam hati ikan. Hasil riset menunjukkan bahwa penambahan vitamin C pada pakan dapat meningkatkan ketahanan tubuh ikan uji terhadap infeksi bakteri A. hydrophila, dan nilai titer antibodi spesifik mengalami peningkatan yang mulai terlihat pada minggu ke-IV. Pada akhir pengamatan diperoleh sintasan ikan uji sebesar 68%, 78%, 92%, 96%, dan 92% masing-masing untuk kelompok kontrol, perlakuan B, perlakukan C, perlakuan D, dan perlakuan E. Berdasarkan analisis regresi dapat didekati bahwa jumlah optimal vitamin C untuk memperoleh level proteksi yang cukup tinggi dengan sintasan 98,86% adalah sebesar 893 mg/kg pakan.The experiment with the aim to know the amount of vitamin C added to commercial diet that could improved a maximum resistance of African catfish against Aeromonas hydrophila infection has been conducted. The treatments were (A) commercial diet without vitamin C as a control, (B) commercial diet with 250 mg/kg vitamin C, (C) 500 mg/kg, (D) 750 mg/kg, and (E) 1,000 mg/kg. The diet was given for 62 days, and at the 56th day the fish was challenged against A. hydrophila infection through intra muscular injection at the dose of 0.1 mL of 1.0 x 106 cfu bacterial suspensions. Specific antibody titer, clinical signs, survival rate, and vitamin C level on the liver of the fish were observed. The results indicated that addition of vitamin C to the diet was effective to increase the resistance of African catfish against A. hydrophila infection. Survival rates of fish test at the end of the experiment were 68%, 78%, 92%, 96%, and92% for the group of A, B, C, D, and E respectively. Based on regression analysis, the optimum amount of vitamin C add
DAYA ADAPTASI TIGA SPESIES IKAN PATIN PADA LINGKUNGAN YANG BERBEDA Evi Tahapari; Jadmiko Darmawan; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.511 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.253-261

Abstract

 Penampilan fenotipe suatu organisme ditentukan oleh faktor genotipe dan faktor lingkungan tempat organisme tersebut hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya adaptasi tiga spesies ikan patin yang dipelihara di lokasi berbeda. Ikan patin siam, patin jambal, dan patin pasupati dengan rataan bobot 20 g dipelihara di tiga lokasi yang berbeda, yaitu: kolam air tenang, tambak, dan keramba jaring apung. Pemeliharaan ikan dilakukan selama empat bulan. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan berupa pelet komersial dengan kadar protein 30%–32%. Jumlah pakan yang diberikan pada bulan kesatu sampai keempat secara berturut-turut adalah sebanyak 5%, 4%, dan 3% dari biomassa ikan per hari. Pakan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang signifikan antara genotipe ikan patin dengan lingkungan ekosistem yang berbeda dan daya adaptasi yang spesifik dari ketiga spesies ikan patin. Ketiga spesies ikan patin memiliki pertumbuhan sama bila dipelihara di kolam air tenang. Ikan patin jambal tumbuh dengan baik (P<0,05) jika dipelihara di keramba jaring apung (KJA) dan tambak, masing-masing dengan laju pertumbuhan spesifik (LPS) 2,51±0,15%/hari, dan LPS 2,39±0,04%/hari. Pertumbuhan ikan patin siam dan pasupati adalah sama pada ketiga lokasi penelitian (P>0,05). Ketiga spesies ikan patin mempunyai daya adaptasi lingkungan yang sempit sehingga budidayanya akan optimal jika dilakukan di lokasi tertentu saja.The phenotypic appearance of an organism is determined by genotypes and environmental factors in which the organism lives. This study aims to study the adaptability of three species of pangasiids reared in three different environments. Three species of catfish (Siamese pangasiid, jambal pangasiid, and pasupati) with an average weight of 20 gwere kept in stagnant water pond, brackishwater pond, and floating net cage). Fishes were reared for four months. During the rearing, fish were fed by commercial pellets with 30%-32% protein content. The amount of feed given in the first month to the fourth month was 5%, 4%, and 3% of the biomass per day. Feed was given three times a day. The results showed the significant interaction between pangasiid genotype and environment, and specific adaptability on three species of pangasiid. Jambal pangasiid grew better in floating net cage (SGR 2.51±0.15%/day). Pasupati pangasiid grew better in stagnant water pond (SGR 2.05±0.03%/day). Siamese pangasiid grew better in stagnant water pond (SGR 2.02±0.05%/day) and brackishwater pond (SGR 2.31±0.09%/day). The three species of catfish have a narrow environmental adaptability so that the cultured will be optimal if done in a particular location. 
APLIKASI ANALISIS KLASTER DAN INDEKS TRIX UNTUK MENGKAJI VARIABILITAS STATUS TROFIK DI TELUK PEGAMETAN, SINGARAJA, BALI Turmuzi Tammi; Niken T.M. Pratiwi; I Nyoman Radiarta
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2648.778 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.271-281

Abstract

Tren variabilitas status trofik adalah informasi dasar pengelolaan ekosistem perairan dalam kaitannya dengan tingkat eutrofikasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tren variabilitas status trofik baik secara spasial dan temporal sehingga dapat diterapkan dalam konsep pengelolaan perairan. Selama tiga bulan penelitian (Agustus-Oktober 2014), penelitian ini telah berhasil mengumpulkan data dari 48 titik pengamatan baik saat pasang maupun surut yang bertepatan saat bulan purnama maupun gelap. Data yang dikumpulkan lalu dianalisis secara statistik (analisis klaster) dan penentuan indeks TRIX. Hasil analisis secara spasial menunjukkan bahwa lokasi penelitian terbagi menjadi dua wilayah yakni: K1 untuk kawasan pesisir teluk, K2 untuk tengah, dan ujung teluk dengan nilai masing-masing adalah 4,97±0,92 dan 5,51±0,90. Analisis secara temporal menghasilkan dua kelompok yakni pada bulan Agustus (A1) dan September-Oktober (A2) dengan nilai indeks TRIX masing-masing 4,28±0,99 dan 5,78±0,27. Berdasarkan analisisklaster dan indeks TRIX telah menunjukkan secara jelas bahwa kondisi kawasan klaster K1 lebih baik dibandingkan kawasan klaster K2. Kawasan K1 masih dapat dikembangkan untuk budidaya laut keramba jaring apung (KJA), namun dalam perkembangannya, budidaya laut secara terintegrasi berbasis integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) dapat diterapkan guna menjaga daya dukung lingkungan perairan Teluk Pegametan. Tren secara temporal menunjukkan pola yang mengikuti fluktuasi air atau pasang surut, serta jadwal kematian massal ikan setiap tahunnya dan berbeda nyata pada saat Agustus hingga September-Oktober. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang kondisi perairan Teluk Pegametan sehingga dapat dilakukan pengelolaan kawasan yang lebih baik untuk kegiatan budidaya laut yang berkelanjutan.
PERFORMA PERTUMBUHAN KRABLET KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) DENGAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN BERBEDA PADA STADIA PENDEDERAN Kamaruddin Kamaruddin; Usman Usman; Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.235 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.163-170

Abstract

Salah satu upaya untuk menekan tingkat kanibalisme dan memicu pertumbuhan krablet kepiting bakau adalah dengan pemberian pakan yang cukup, baik jumlah maupun mutu. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan sintasan krablet kepiting bakau dengan frekuensi pemberian pakan berbeda pada stadia pendederan. Hewan uji berupa krablet kepiting bakau dengan bobot awal 0,037 ± 0,005 g dan lebar karapas awal 3,43 ± 0,42 mm; menggunakan sembilan unit fiber gelas dengan ukuran masing-masing 1 m x 1 m x 0,5 m. Hewan uji ditebar dengan kepadatan 50 ekor/m2. Perlakuan yang diujicobakan adalah frekuensi pemberian pakan per hari, yaitu: (A) dua kali (pukul 08.00 dan 18.00), (B) tiga kali (pukul 08.00, 13.00, dan 18.00), dan (C) empat kali (pukul 08.00, 13.00, 18.00, dan 23.00). Pakan yang digunakan berupa pelet dengan kandungan protein kasar 46,5%; lemak 8,8%; dan energi total 18,8 MJ/kg. Dosis pakan harian sebanyak 30%-15% bobot badan secara menurun hingga akhir penelitian. Setelah lima minggu pemeliharaan didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa pertumbuhan, sintasan, konsumsi pakan harian, rasio konversi pakan, dan rasio efisiensi protein tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) di antara perlakuan. Namun demikian, pemberian pakan empat kali sehari cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan dengan ukuran krablet yang lebih seragam.One of technique to reduce cannibalism and to stimulate the growth of mud crab is by providing an adequate feed that meet the requirement level of the crablet. The objecive of this study was to evaluate the growth and survival of crablet fed artificial diet with different feeding frequencies during nursery stage. The treatments were different feeding frequencies namely (A) 2 times (08:00 and 18:00), (B) 3 times (08:00, 13:00, and 18:00 ) and (C) 4 times (08:00, 13:00, 18:00 and 23:00). Feeding rate was from 30 to 15 % of biomass/day. Feed used in the feeding trial was a dry pellet (1.2 mm size) containing 46.5 % crude protein, 8.8 % lipid and gross energy 18.8MJ / kg. Mud crab crablet with initial body weight of 0.037 ± 0.005 g with carapace width of 3.43 ± 0.042 mm were stocked into nine fiber tanks (1 m x 1 m x 0.5 m) with density of 50 crablets / tank. After 5 weeks of feeding trial, results of the experiment showed that growth rate, survival, feed intake, feed conversion ratio and protein efficiency ratio were not significantly difference (P> 0.05) among the treatments. However, growth performance of crablet fed 4 times/day increased and resulted uniformsize of crablet.
SEBARAN TEMPORAL PARAMETER KIMIA DAN FISIKA PERAIRAN PANTAI YANG BERDEKATAN DENGAN BEBERAPA LOKASI BUDIDAYA LAUT DI BALI UTARA Afifah Nasukha; Reagan Septory; Sudewi Sudewi; Ananto Setiadi; Ketut Mahardika
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.164 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.17-27

Abstract

Air limbah budidaya diketahui mengandung berbagai senyawa organik dan anorganik yang dapat memberikan pengaruh langsung terhadap penurunan kualitas perairan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran nilai amonia secara temporal sebagai dampak aktivitas budidaya di wilayah Bali Utara. Kegiatan pengambilan sampel air dilakukan per bulan dari Februari hingga November 2018 di empat lokasi perairan, yakni dua lokasi buangan air hatcheri (Desa Gerokgak, Desa Penyabangan), satu perairan lokasi budidaya pembesaran (Teluk Kaping di Desa Sumberkima), dan satu lokasi kontrol (Desa Pemuteran). Dari setiap lokasi dipilih daerah budidaya terpadat di darat dan ditentukan tiga titik sampling di perairan dengan jarak 50 m, 100 m, dan 300 m dari bibir pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amonia pada ketiga lokasi budidaya terlihat pada besaran yang relatif sama (0,1-1,9 mg/L), sedangkan kontrol terlihat mempunyai nilai yang cenderung sedikit lebih rendah (< 0,01-1,8 mg/L). Amonia berada pada kisaran yang cukup tinggi (> 0,5 mg/L) pada bulan Februari hingga April 2018 di keempat lokasi sampling. Tren nilai amonia yang relatif tidak berbeda di antara titik sampling (50 m, 100 m, dan 300 m) mengindikasikan bahwa kualitas air di perairan Bali Utara cukup merata, dengan input N dan cenderung tinggi dan cukup konsisten hingga jarak 300 m dari bibir pantai.Aquaculture wastewater contains organic and inorganic materials which, in many cases, contribute directly in the degradation of water quality of the neighboring area. This study aimed to determine the temporal distribution of chemical and physical parameters of water quality in Northern Bali coastal waters adjacent to mariculture sites with emphasize in ammonia distribution. Water samplings were carried out from February to November 2018 in three locations near three mariculture sites (Gerokgak, Penyabangan, Kaping Bay) and one control location (Pemuteran). The densest mariculture activity in the three sites was selected as the sampling area in which three sampling locations were determined at a distance of 50 m, 100 m, and 300 m perpendicularly from the sites. The results showed that ammonia levels in waters adjacent to the three mariculture sites have relatively similar variation between 0.1 and 1.9 ppm. However, the control area has lower ammonia levels (between 0.01 and 1.8 ppm). The level of ammonia concentration increased considerably from February to April in all sampling stations reaching more than 5 ppm which is above the maximum threshold for mariculture activity. The other parameters (DO, pH, salinity, and TSS) were found to be consistent and within the standard required for mariculture activity. This study recommends that reduced stocking density, stocking time outside of the months when ammonia content is high, and improvement of mariculture waste treatment could effectively improve water quality and subsequently increase fish production in the area.
PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA DAN BENIH IKAN KERAPU SUNU Plectropomus leopardus TURUNAN KETIGA (F-3) DARI INDUK HASIL SELEKSI Ahmad Muzaki; Sari Budi Moria Sembiring; Ida Komang Wardana; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.364 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.131-137

Abstract

Pertumbuhan dan sintasan larva dan benih kerapu sunu turunan ketiga (F-3) dari induk turunan kedua (F-2) hasil seleksi telah diamati di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol. Induk F-2 diseleksi menggunakan marka indikator tumbuh cepat PL-03 (alel tunggal berukuran 370 bp). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan pertumbuhan dan sintasan larva dan benih kerapu sunu F-3 serta pewarisan sifat tumbuh cepat dari induk kerapu sunu (F-2) kepada benih kerapu sunu F-3. Pembenihan menggunakan induk kerapu sunu F-2 dengan sifat tumbuh cepat (membawa marka PL-03) dan tanpa sifat tumbuh cepat. Telur dan larva yang dihasilkan dipelihara sebagai turunan F-3 hingga berukuran benih dan dibesarkan selama 10 bulan pemeliharaan. Hasil pengamatan sintasan larva kerapu sunu F-3 dari induk membawa marka PL-03 adalah sebesar 10,6% ± 9,1%; sedangkan larva F-3 dari induk yang tidak membawa sifat tumbuh cepat hanya sebesar 2,7% ± 1,7%. Benih F-3 dari induk membawa marka PL-03 dapat dipanen saat mencapai ukuran 2,5-3,0 cm pada umur 38 ± 2 hari, sedangkan benih F-3 dari induk tanpa marka PL-03 pada umur 40 ± 1 hari. Selanjutnya benih kerapu sunu F-3 dari induk yang mempunyai marka PL-03 yang dipelihara selama 10 bulan memiliki laju pertumbuhan harian lebih baik (3,11%) dibandingkan benih kerapu sunu F-3 tanpa marka PL-03 (3,01%). Sintasan benih kerapu sunu F-3 dengan marka PL-03 tidak berbeda nyata dengan yang tidak mempunyai marka PL-03. Persentase benih F-3 turunan dari induk F-2 dengan sifat tumbuh cepat yang membawa marka PL-03 sebesar 45%.The growth and survival rate of the third generation (F-3) of coral trout grouper larvae and fry from the genetically selected broodstock were observed at the Institute for Mariculture Research and Development, Gondol. The F-2 broodstock were selected using the fast-growing marker indicator, PL-03 (single allele of 370 bp in size). The aim of this study was to determine the growth performance and survival rate of larvae and fry of F-3 coral trout groupers, as well as inheritance of fast growth trait from the F-2 broodstock to the F-3. The eggs and larvae of F-3 produced from F-2 broodstock with fast growth trait (having PL-03 marker) and without fast growth trait were reared to reach fry stage for 10 months. The results showed that the survival rate of the F-3 larvae from broodstock with PL-03 marker was 10.6% ± 9.1%, while F-3 larvae from the broodstock without fast growth trait only reached 2.7% ± 1.7%. Fry (F-3) with PL-03 marker reached the optimum harvest size of 2.5-3.0 cm at 38 ± 2 days old, while the F-3 fry of broodstock without PL-03 marker took relatively longer to reach that size (40 ± 1 days age). The F-3 from the broodstock with PL-03 marker reared for 10 months had better growth rate (3.11%) compared to F-3 fry without PL-03 marker (3.01%). The survival rate of F-3 fry with PL-03 marker was not significantly different to F-3 fry without PL-03 marker. The percentage of F-3 fry from the broodstock of F-2 with fast growth trait was 45%.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue