cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
STATUS KESEHATAN IKAN SIDAT (Anguilla sp.) PADA PERAIRAN UMUM DAN WADAH PEMELIHARAAN SEMENTARA Agung Cahyo Setyawan; Sukenda Sukenda; Sri Nuryati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.567 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.69-77

Abstract

Status kesehatan ikan sidat (Anguilla sp.) telah dianalisis untuk menunjukkan terjadinya penurunan stok karena infeksi patogen dan penangkapan benih berlebihan untuk budidaya. Di Indonesia, ketiadaan standar penangkapan, pemeliharaan dan budidaya menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas produksi ikan sidat. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi status kesehatan ikan sidat di perairan Indonesia dengan sampel dari Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah. Sampling dilakukan pada awal musim penghujan, yaitu bulan September hingga November 2012. Sebanyak 113 ekor ikan sidat ditangkap dan dianalisis dalam penelitian ini, dengan perincian 57 ekor diamati langsung setelah ditangkap dan 56 ekor diamati setelah dipelihara selama 10 hari oleh pengepul. Pengamatan dilakukan dengan metode observasi langsung menggunakan mikroskop untuk parasit, kit API 20NE (Biomeureux®) untuk bakteri dan pewarnaan standar haematoxylin-eosin untuk histopatologi. Terdapat empat jenis parasit (Nematoda: Camallanidae dan Anguillicoloides; Platyhelminthes: Monogenea dan Digenea) dan lima bakteri (Aeromonas hydrophylla, Pseudomonas luteola, Vibrio fluvialis, Aeromonas sobria, dan Aeromonas caviae) dari sampel ikan sidat dalam penelitian ini. Tidak terdapat perbedaan dalam komposisi patogen, namun terjadi perubahan dalam kondisi histopatologi sehingga pemeliharaan sementara oleh pengepul sebelum ikan sidat dibudidayakan memiliki potensi menurunkan kualitas benih untuk budidaya. 
UJI IN VITRO BAKTERI ANTI QUORUM SENSING PENDEGRADASI ACYL HOMOSERINE LACTONE Aeromonas hydrophila Hessy Novita; Iman Rusmana; Munti Yuhana; Fachriyan Hasmi Pasaribu; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.921 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.291-296

Abstract

Anti quorum sensing (AQS) adalah proses inaktivasi atau degradasi molekul sinyal quorum sensing (QS) yaitu acyl homoserine lactone (AHL) tanpa memengaruhi pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji kultur bersama dan uji penghambatan faktor virulensi secara in vitro antara bakteri AQS dengan Aeromonas hydrophila sebagai patogen yang menyebabkan Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada ikan air tawar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji in vitro dengan kultur bersama antara bakteri AQS Bacillus sp. dan A. hydrophila tidak ada penghambatan pertumbuhan pada kedua bakteri, tetapi bakteri AQS dapat menghambat produksi faktor virulensi dari A. hydrophila yaitu protease dan hemolisin. AQS merupakan salah satu strategi yang potensial untuk diaplikasikan dalam pengendalian penyakit infeksius atau bakteri patogen resisten antibiotik pada budidaya ikan air tawar.Anti quorum sensing (AQS) was process of inactivation or degradation of Quorum sensing signal molecules of acyl homoserine lactone (AHL) without affecting growth of the bacteria. The aim of the reseach was to study in vitro assay of co-culture and inhibition of virulence factors between AQS bacteria which Aeromonas hydrophila as pathogen caused motile aeromonad septicaemia (MAS) in fresh water fish. The result showed that in vitro assay of co culture between AQS bacteria Bacillus sp. and A. hydrophila without inhibited of growth in both bacteria but bacteria AQS could suppressed production A. hydrophila virulence factors, protease, and hemolysin. The AQS is one of potential strategies to inhibit QS for application to control of infectious diseases or antibiotic resistant bacterial pathogens in fresh water aquaculture.
VALIDASI LUAS PERIODIK DAN PENENTUAN LUAS POTENSI TAMBAK DI KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Mudian Paena; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.051 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.137-146

Abstract

Wilayah pesisir merupakan daerah yang menerima beban terberat dalam pembangunan regional, sebagai konsekuensinya maka pengaturan pemanfaatan ruang pesisir harus berorientasi pada potensi dan daya dukung lahan yang berbasis Intergrated Coastal Zone Management (ICZM) yaitu suatu kesatuan sistem yang terintegrasi yang memiliki hubungan terhadap tujuan lokal, regional, nasional, dan internasional. Kedepan sangat diharapkan Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan dalam mengembangkan wilayah pesisirnya juga merujuk pada konsep pengelolaan terpadu dan terintegrasi sehingga tercipta pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan tanpa konflik sektoral. Oleh karena itu, dilakukan kajian untuk mendapatkan data aktual dari berbagai sektor termasuk perikanan dan kelautan, antara lain adalah validasi data luas periodik dan potensi lahan tambak. Kajian ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Citra satelit yang digunakan adalah Landsat-7 ETM+ akuisisi 2002 dan 2005. Hasil kajian menunjukkan bahwa luas tambak di Kabupaten Luwu Utara tahun 2002 dan 2005 masing-masing 4.938,84 ha dan 7.838,94 ha; sedangkan potensi lahan tambak sebesar 15.444,15 ha.Coastal zone is dumping area in regional development, it need regulation of utilization of coastal zone that oriented on the potential and carrying capacity based on Integrated Coastal Zone Management (ICZM). ICZM is an integration of unity system have relation to local goals, regional and international. In the future, North Luwu Regency, South Sulawesi Province will develop its coastal zone based on concept of ICZM to find sustainability management of coastal zone without sector conflict. Hence, it conduct a study to find actual data of some sectors including fisheries and marine, i.e. data of temporal area and potential area of brackish water ponds. Remote sensing technology and geographical information system were used in this study. Image satellite was used are Landsat-7 ETM+ acquisition 2002 and 2005. The result of study show that area of brackish water ponds in North Luwu Regency in 2002 and 2005 are 4,938.84 ha and 7,838.94 ha, respectively with potential area is 15,444.15 ha.
PENGARUH PERBEDAAN SUHU AIR PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr) DENGAN SISTEM RESIRKULASI Imam Taufik; Zafril Imran Azwar; Sutrisno Sutrisno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.629 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.319-325

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menentukan suhu air yang optimal pada pemeliharaan benih ikan betutu dengan sistem resirkulasi air. Wadah penelitian: 16 unit bak kayu berlapis plastik (1,5 m x 0,7 m x 0,5 m) diisi air 300 L yang masing-masing menggunakan bak filter, ditempatkan dalam ruang terlindung dan dilengkapi dengan aerasi. Hewan uji: benih ikan betutu ukuran fingerling (0,65±0,118 g/ekor), padat tebar 1 ekor/5 liter air, diberi makanan alami berupa cacing dan ikan seribu secara berlebih, dengan waktu pemeliharaan 12 minggu. Perlakuan berupa perbedaan suhu air, yaitu: (a) 26oC; (b) 29oC; (c) 32oC; dan (d) 24oC–28oC. Parameter yang diukur: sintasan, pertumbuhan, dan produktivitas benih ikan betutu serta sifat fisika-kimia air pemeliharaan. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa suhu air paling baik adalah 29oC dan 32oC dan secara nyata (P<0,05) berpengaruh terhadap sintasan, pertumbuhan, dan produktivitas ikan betutu.The objective of the research was know the optimum water temperature in rearing of sand goby fingerlings. Sixteen containers of 1.5 m x 0.7 m x 0.5 m in size were used in this experiment. Each container was stocked with 1 fish/5 L. Average fish weight of 0.65±0.118 gram. Four different water temperatures were applied i.e: (a) 26oC; (b) 29oC; (c) 32oC; and (d) 24oC-28oC. The result showed that the water temperature of 29oC and 32oC gave the best result on survival rate, growth rate, and productifity of sand goby.
PEMELIHARAAN IKAN BETUTU Oxyeleotris marmorata Blkr DENGAN PERIODE PENYINARAN YANG BERBEDA Imam Taufik; Zafril Imran Azwar; Sutrisno Sutrisno; Yosmaniar Yosmaniar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.417 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.431-436

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh periode penyinaran terhadap sintasan dan perkembangan larva ikan betutu
MANAJEMEN KULTUR ROTIFER DENGAN TANGKI VOLUME KECIL Philip Teguh Imanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.908 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.139-145

Abstract

Keberhasilan pembenihan ikan sangat dipengaruhi keberhasilan produksi jasad pakan rotifer secara tepat dan efisien. Penelitian kultur rotifer dengan tangki volume kecil bertujuan untuk mendapatkan efisiensi produksi yang paling optimal dan memenuhi prinsip dasar akuakultur low volume high density. Penelitian menggunakan tangki polyethylene dengan volume 500 L dan volume media awal 100 L, padat tebar awal 200 ind. rotifer per mL dengan sediaan pakan dasar fitoplankton Nannocloropsis occulata, ragi roti (0,05 g/mio.rot./feeding) dan suplemen Scott emulsion (0,005 g/mio.rot./feeding). Penelitian dilakukan secara bertahap; tahap pertama (I) tanpa penambahan air laut, peningkatan volume hanya dari penambahan 15 L Nannochloropsis tiap hari sampai hari kelima, tahap kedua (II) dengan penambahan alga 40 L dan air laut 40 L; serta tahap ketiga (III) dengan menggandakan pemberian ragi roti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada percobaan tahap I: total produksi rata-rata 122,37 x 106 ind. rotifer, pada tahap II: 97,67 x 106 ind. rotifer, dan pada tahap III: dicapai rata-rata total produksi tertinggi dengan 187,17 x 106 ind. rotifer per tanki kultur 500 L. Pengelolaan kultur pada tahap III memberikan hasil terbaik dengan simpangan terkecil antar tangki kultur ulangan, dan membuktikan sebagai pengelolaan terbaik untuk kultur rotifer dengan tangki volume kecil. Success of marine seed production is highly influenced by effective and efficient production performance of life food rotifer. Observation on rotifer culture using small volume tank was aimed to get the optimum production and efficiency, to fulfill the basic principle of aquaculture “low volume high density”. Polyethylene tanks of 500 L. were used as culture container, with initial 100 liter sea water as culture medium and initial density of 200 ind. rotifer per mL. N. occulata, baker yeast (0.05 g/mio.rotifer/feeding) and Scott emulsion (0.005 g/mio.rotifer/feeding) were used as basic feed, and applied differently among three trials. First trial without seawater addition, increasing volume of culture media was only from 15 L. of N. occulata within 5 days culture, second trial was done with addition of seawater of 40 L and 40 L of N. occulata every day; and the last trial with twice dosage of baker yeast from trial I and II. The result showed that the average total production from the first trial was 122.37 x 106 ind. rotifer and the second trial was decreased to 97.67 x 106 ind. rotifer. Highest average total production was achieved by the last trial with 187.17 x 106 ind. rotifer per culture tank 500 L. Culture management on the third trial gave the best result with the lowest deviation among replication tanks, and proved as the best management practice for small-scale culture container.
TINGKAT KEBERHASILAN TRANSPLANTASI KARANG BATU DI PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Ofri Johan; Dedi Soedharma; Suharsono Suharsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.127 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.289-300

Abstract

Penelitian transplantasi tiga jenis karang genus Acropora, yaitu: Acropora donei, Acropora acuminata, dan Acropora formosa menggunakan metode fragmentasi pada substrat buatan di daerah leeward, windward Pulau Pari dan di daerah lagoon Pulau Tikus. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan transplantasi dengan mengukur tingkat pertumbuhan, kematian, penempelan pada substrat dan tonggak pengikat dari substrat, serta penambahan jumlah axial corallites setelah beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan Anova dengan tiga faktor perlakuan yaitu spesies (tiga jenis), lokasi (leeward, windward, goba), dan jumlah cabang (tidak bercabang, dua cabang, tiga cabang). Data kualitas air dianalisis dengan menggunakan diskriminan analisis untuk mendapatkan parameter yang memberikan kontribusi dalam perbedaan lokasi yang diujicobakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karang A. acuminata dan A. formosa lebih baik tumbuh di daerah leeward, sementara karang A. donei baik tumbuh di daerah windward. Pada daerah goba memiliki tingkat kematian lebih tinggi terjadi pada karang A. acuminata dan A. formosa dibandingkan dengan dua lokasi lain. Penempelan pada substrat karang A. donei lebih cepat dibandingkan dengan karang A. acuminata dan A. formosa. Pertambahan jumlah axial corallite karang A. donei lebih cepat dibandingkan dengan kedua karang lain, A. acuminata dan A. formosa. Hasil analisis data kualitas air menunjukkan bahwa parameter arus, nitrat, dan fosfat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan karang.Three Acropora species, Acropora donei, A. acuminate, and A. Formosa, were transplanted on artificial substrates using fragmentation method and placed on the leeward and windward sides of Pari Island and in one lagoon of Tikus Island. The purpose of this study was to assess the successful rate of transplanted coral species by measuring growth and mortality rates, encrustation on the substrate and the pole of the substrate, and the increase of the amount of axial corralites after adaptation to a new environment. The data was analyzed using Annova test to get the required data. The treatments consisted of three components, coral species (three species), locations (windward, leeward and lagoon), and number of branches (one, two and three branches). In order to check if there was a significant difference in physical and chemical parameters among those locations, a discriminant analysis test was used. The research results showed that A. acuminata and A. formosa preferred the leeward location while A. donei preferred the windward. The lagoon site has higher mortality of A. acuminate and A. formosa than that of other locations. The encrustation of A. donei to various substrates was higher than that of A. acuminate and A. formosa. Water quality analysis showed that coral growth rates were strongly affected by water current and concentrations of nitrate and phosphate.
Front Matter & Back Matter Suprapti Suprapti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.859 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.1-7

Abstract

EVALUASI KERAGAMAN GENTIK IKAN KALUI (Osphronemus goramy) DARI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA, SUMATERA BARAT BERDASARKAN MARKA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD) Estu Nugroho; Azrita Azrita; Hafrizal Syandri; Refilza Refilza
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.325 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.4.2016.313-319

Abstract

Ikan kalui merupakan nama lokal dari ikan gurami di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat termasuk jenis ikan ekonomis tinggi. Terdapat lima strain ikan kalui yang tersebar di pembudidaya, yaitu Tambago, Palapah, Krista, Jepun, dan Merah. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati keragaman genetik strain ikan kalui atau gurami dengan menggunakan penanda RAPD. Sebanyak 50 sampel DNA ikan kalui diekstraksi dari sirip dan diamplifikasi secara random dengan menggunakan empat primer terbaik dari 20 primer OPA yaitu OPA-02, OPA-04, OPA-06, dan OPA-07. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan yang nyata secara genetik hanya terdapat antara strain ikan kalui Merah dengan Tambago dan Krista. Variasi genetik tertinggi diamati pada ikan kalui strain Krista dengan nilai heterogenitas 0,1756 kemudian diikuti berturut-turut oleh strain Merah (0,1735); Palapah (0,1480); Jepun (0,0594); dan Tambago (0,0203). Jarak rata-rata Nei genetik adalah 0,407, dengan nilai terendah yang teramati antara strain Tambago dan Palapah.Kalui is a local name of giant gouramy fish in West Sumatera Province that categorized as an high economically fish. Five strains of kalui are distributed to farmers i.e. Tambago, Palapah, Krista, Jepun and Merah. This research was conducted to observe the genetic variation of Kalui strains using RAPD marker. A total of 50 samples of whole DNA was extracted from kalui-giant gouramy finclip and randomly amplified using four of the best 20 primers (OPA i.e. OPA-02, OPA-04, OPA-06 and OPA-07). The results showed that Significant genetic differences were only observed between strain Merah-Tambago and Merah-Krista. The highest variability was observed in Krista with heterogeneity value of 0.1735 followed by Merah (0,1735), Palapah (0,1480), Jepun (0,0594) and Tambago (0,0203). The average Nei genetic distance was 0.407, with the lowest was observed between Tambago and Palapah.
RAGAM GENOTIPE IKAN TENGADAK, Barbonymus schwanenfeldii (Bleeker 1854) PERSILANGAN POPULASI JAWA DAN KALIMANTAN BERDASARKAN RAPD Deni Radona; Dinar Tri Soelistyowati; Rudhy Gustiano; Odang Carman; Irin Iriana Kusmini; Sri Sundari
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.663 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.99-105

Abstract

Dalam rangka pengelolaan sumber genetik untuk pengembangan budidaya ikan tengadak maka perlu dilakukan evaluasi sumber genetik ikan tengadak asal Jawa dan Kalimantan, serta progeni hibridanya. Analisis genetik dilakukan secara molekuler dengan metode RAPD. Jumlah sampel yang digunakan untuk analisis RAPD sebanyak 10 ekor setiap populasi. Spesimen yang digunakan untuk analisis RAPD adalah sirip untuk induk dan whole body untuk hibrida. Hasil menunjukkan polimorfisme (32,43%) dan heterozigositas (0,13) tertinggi terdapat pada ikan tengadak hasil persilangan betina Jawa x jantan Kalimantan, sedangkan yang terendah diperoleh pada persilangan betina Kalimantan x jantan Jawa (polimorfisme: 21,62% dan heterozigositas: 0,10). Berdasarkan dendrogram hubungan kekerabatan interpopulasi ikan tengadak hasil persilangan (betina Kalimantan x jantan Jawa) dengan induknya (populasi Jawa dan Kalimantan) menggunakan tiga primer RAPD (OPA-08, OPA-09, dan OPC-02) menunjukkan jarak genetik berkisar 0,48. Ikan tengadak betina asal Jawa dan jantan asal Kalimantan potensial meningkatkan keragaman genetik.In order to maintain the genetic sources of tinfoil barb for aquaculture development, it is necessary to evaluate the genetic diversity crossbred results of tinfoil barb from Java and Kalimantan. The genetic assessment was conducted by genotype trails using RAPD methods. The samples used for the analysis of RAPD was as much as 10 individuals. Specimens used for RAPD analysis was a fin for broodstock and whole body for the hybrid fish. The result showed that the highest polymorphism and heterozygosity were found 32.43% and 0.13 in population crossbred of female Java x male Kalimantan. While the lowest polymorphism and heterozygosity were detected on population of f Kalimantan x m  Java (21.62% and 0.10, respectively). Based on the relationship between tinfoil barb hybrid (female Kalimantan x male Java) with a both broodstock population using three RAPD primers (OPA-08, OPA-09, and OPC-02) resulted in genetic distance of 0.48. Females tinfoil barb from Kalimantan and males from Java potential could increase genetic diversity. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue