cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
EFEKTIVITAS PERBEDAAN LAMA PERENDAMAAN HORMON TIROKSIN TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN DEPIK (Rasbora tawarensis) Asrovonisa Tinendung; Siti Komariyah; Hanisah Hanisah; Iwan Hasri
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.9-14

Abstract

Ikan depik ialah ikan yang hanya terdapat di Danau Laut Tawar Aceh Tengah yang sedang dalam pengembangan untuk didomestikasikan. Namun dari hasil beberapa penelitian, pertumbuhan ikan depik tergolong lambat, sehingga perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan ikan depik adalah dengan induksi hormonal, melalui perendaman hormon tiroksin. Tujuan riset ini adalah mengevaluasi performa pertumbuhan dan sintasan ikan depik yang direndam hormon tiroksin dengan perbedaan lama perendaman. Riset ini dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI) Lukup Badak, Aceh Tengah menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali pengulangan. Perlakuan pada riset ini ialah perbedaan lama perendaman hormon tiroksin, yaitu: tanpa perendaman (P-1), 12 jam (P-2), 24 jam (P-3), dan 36 jam (P-4). Sementara dosis hormon tiroksin yang digunakan adalah 0,1 mg L-1. Perendaman dilakukan menggunakan stoples bervolume 16 L untuk 20 ekor benih ikan depik hasil pembenihan berukuran 3,17 ± 0,09 cm. Pemeliharaan benih ikan dilakukan menggunakan styrofoam berukuran 70 cm x 40 cm x 30 cm sesuai dengan perlakuan, selama 40 hari dengan padat penebaran 20 ekor/wadah. Parameter pengamatan yaitu pertumbuhan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi, dan intake pakan, serta sintasan. Data hasil pengamataan dianalisis menggunakan analisis varian dan Duncan. Hasil yang diperoleh memperlihatkan perendaman tiroksin pada benih ikan depik memberikan pertumbuhaan tertinggi pada perlakuan perendaman 24 jam, sementara pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan kontrol (0 jam perendaman). Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama perendaman hormon tiroksin terbaik pada ikan depik adalah 24 jam.Depik (Rasbora tawarensis) is an endemic fish in Lake Laut Tawar, Central Aceh currently undergone domestication programs. Results from several domestication studies showed that the growth of depik fish is relatively slow and therefore needs to be stimulated. Hormonal induction, through immersion of the thyroxine hormone could be used to speed up the growth of depik fish. The purpose of this study was to evaluate the growth and survival performance of depik immersed in thyroxine hormone with differences in immersion time. This research was conducted at the Balai Benih Ikan (BBI) Lukup Badak, Central Aceh using an experimental method arranged in a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications. The treatments in this study were different immersion times in 0.1 mg L-1 thyroxine hormone solution set as follows: no immersion-control (P-1), 12 hours (P-2), 24 hours (P-3), and 36 hours (P-4). The immersion method was carried out using transparent plastic jars with a volume of 16 L. Each jar was filled with 20 depik fish fries produced from a hatchery with an average total body length of 3.17 ± 0.09 cm. After submersion, the fish were stocked in styrofoam containers sized 70 cm x 40 cm x 30 cm based on their treatments groups and reared for 40 days. The parameters observed included absolute length growth, absolute weight growth, daily growth rate, amount of feed consumption, feed efficiency, and survival. The data obtained were analyzed using ANOVA test and continued with Duncan’s test. The results showed that thyroxine immersion in depik fish fry gave the highest growth was produced in the treatment of 24-hour immersion, while the lowest growth was found in the control treatment (0-hours immersion). So it can be concluded that the best thyroxine hormone immersion time in depik fish is 24 hours.
PERFORMA IKAN Belontia hasselti DENGAN BERBAGAI DENSITAS DAN PEMBERIAN JENIS PAKAN BERBEDA PASCA TRANSPORTASI Ferdinand Hukama Taqwa; Dade Jubaedah; Mochamad Syaifudin; Tanbiyaskur Tanbiyaskur; Gion Tanbao Suselin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.23-33

Abstract

Salah satu ikan konsumsi dari perairan rawa dengan nilai ekonomis cukup tinggi dan berpotensi sebagai komoditas ikan hias ialah dari jenis Belontia hasselti. Kegiatan budidaya ikan ini belum banyak dilakukan karena masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sehingga upaya domestikasi mulai dari tahapan penanganan pascatangkap, distribusi, dan pemulihan pascatransportasi perlu dilakukan. Tujuan penelitian ialah menentukan batas densitas tertinggi ikan B. hasselti selama transportasi sistem tertutup dan jenis pakan yang sesuai selama masa pemulihan pascatransportasi. Penelitian terdiri atas dua tahap dengan metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap pertama yaitu perbedaan densitas ikan B. hasselti selama 24 jam transportasi sistem tertutup, yaitu masing-masing sebanyak 38, 42, 46, dan 50 ekor L-1. Tahap kedua berupa pemulihan ikan selama 10 hari setelah proses transportasi dengan pemberian jenis pakan berbeda, yaitu Tubifex sp., Chironomus sp., dan pakan apung komersial dengan kadar protein 30%. Performa ikan B. hasselti yang diamati sesaat pascatransportasi dan selama masa pemulihan meliputi kelangsungan hidup (sintasan), kadar glukosa darah, tingkat konsumsi oksigen, pertumbuhan bobot mutlak, dan efisiensi pakan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa densitas ikan B. hasselti hingga 50 ekor L-1 selama transportasi 24 jam menghasilkan sintasan 100%, namun menyebabkan peningkatan kadar glukosa yang signifikan hingga mencapai 177,67 mg dL-1. Di akhir masa pemulihan, tingkat sintasan, pertumbuhan bobot mutlak, dan efisiensi pakan ikan B. hasselti tertinggi terdapat di perlakuan dengan pemberian pakan berupa Tubifex sp. dan signifikan berbeda dengan metode pemberian pakan lainnya, yaitu berturut-turut sebesar 100%; 1,07 g; dan 23,73%. Kadar glukosa darah dan tingkat konsumsi oksigen ikan di akhir masa pemulihan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Kisaran kualitas air yang terukur selama transportasi dan pemulihan masih layak untuk kehidupan ikan B. hasselti. Secara umum kepadatan ikan B. hasselti sebesar 50 ekor L-1 selama transportasi 24 jam dan proses pemulihan dengan pemberian pakan Tubifex sp. selama 10 hari menunjukkan performa budidaya yang lebih baik. Kajian mengenai sistem transportasi B. hasselti dengan kepadatan yang lebih tinggi dan durasi transportasi yang lebih lama, serta waktu pemulihan yang lebih singkat dengan pakan buatan yang sesuai masih dibutuhkan untuk pengembangan budidaya secara intensif di masa mendatang.Belotia hasselti is a high economic value fish and has the potential as an ornamental fish commodity. The cultivation of this fish has lagged due to the supply reliance on wild stock. Therefore, domestication efforts of this fish have to be developed, starting with post-catch handling, distribution, and post-transportation recovery. The purposes of this research were to determine the best stocking density for B. hasselti during closed system transportation and the appropriate feed type during the recovery period. The research was designed in two stages using a completely randomized design. The first experiment was different B. hasselti densities used for 24 hours transportation period, i.e., 38, 42, 46, and 50 fish L-1, respectively. The second experiment was different feeding types during the recovery period of 10 days post-transportation, i.e., Tubifex sp., Chironomus sp., and commercial floating feed (protein content of 30%), respectively. The performance observations on B. hasselti were done immediately after transportation consisting of survival, blood glucose levels, oxygen consumption levels, absolute weight growth, and feed efficiency. The result showed that the density of up to 50 fish L-1 during 24 hours of road transportation resulted in 100% survival despite a significant increase in glucose levels up to 177.67 mg dL-1 was recorded. At the end of the recovery period, the highest survival rate, absolute weight growth, and feed efficiency of B. hasselti were found in the treatment with Tubifex sp. and significantly different from the other treatment using Chironomus sp. and commercial floating feed, which were 100%, 1.07 g, and 23.73%, respectively. There were no significant differences in blood glucose and oxygen consumption in the fish after the recovery period. The water quality range measured during transportation and recovery in this study was still suitable for fish survival. In general, the density of B. hasselti during 24 hours transportation is 50 L-1, and the recovery process by feeding Tubifex sp. in 10 days resulted in better cultivation performance. For the future development of intensive aquaculture, more research on B. hasselti transportation systems with higher densities, longer transport durations, and shorter recovery times using suitable artificial feeds is required.
EVALUASI TIGA HIBRIDA IKAN MAS SEBAGAI KANDIDAT VARIETAS BUDIDAYA UNGGUL Didik Ariyanto; Suharyanto Suharyanto; Flandrianto S. Palimirmo; Yogi Himawan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.1-7

Abstract

Dalam rangka memperbaiki kualitas benih ikan mas, telah dilakukan kegiatan persilangan (hibridisasi) dua arah antar lima strain ikan mas, yaitu Majalaya (Mj), Rajadanu (Rj), Sutisna (St), Wildan (Wd) dan Sinyonya (Sy). Dari 25 populasi hasil persilangan, tiga kombinasi persilangan, yaitu St f >< Rj m (St x RJ), Mj f >< St m (Mj x St) dan St f >< Sy m (St x Sy) mempunyai nilai heterosis tertinggi pada karakter panjang dan bobot. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keragaan ketiga populasi hibrida tersebut untuk menentukan ikan mas hibrida terbaik sebagai kandidat strain unggul baru. Evaluasi keragaan populasi ikan mas hibrida dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu karakter fenotipik menggunakan uji pertumbuhan dan komposisi warna tubuh serta karakter genotipik menggunakan metode mikrosatelit. Hasil analisis fenotipik menunjukkan bahwa populasi hibrida St x Sy mempunyai laju pertumbuhan panjang dan bobot sebesar 1,03±0,06 %/hari dan 3,03±0,24 %/hari, berbeda nyata dengan populasi hibrida St x Rj sebesar 0,92±0,04 %/hari dan 2,65±0,06 %/hari. Keragaan populasi hibrida St x Sy tersebut tidak berbeda nyata dengan populasi hibrida Mj x St yang mempunyai laju pertumbuhan panjang dan bobot sebesar 0,98±0,03 %/hari dan 2,78±0,08 %/hari. Namun demikian, berdasarkan analisis komposisi warna populasi hibrida Mj x St mempunyai warna tubuh yang seragam sehingga lebih diterima oleh konsumen. Hasil analisis genotipik menunjukkan bahwa ketiga populasi hibrida mempunyai kulitas genetik tidak berbeda nyata. Kualitas genetik yang diindikasikan dengan nilai heterozigositas, polimorfisme dan indeks fiksasi ketiga populasi hibrida, masing-masing berkisar antara 0,21 – 0,22; 0,86 – 0,88 dan 0,75 – 0,8. In order to improve the quality of common carp, hybridization program was carried out through diallel crosses between five common carp strains, namely Majalaya (Mj), Rajadanu (Rj), Sutisna (St), Wildan (Wd) and Sinyonya (Sy). Of the 25 populations obtained from the crosses, the hybrid of St f >< Rj m (St x RJ), f >< St m (Mj x St) and St f >< Sy m (St x Sy) had the highest heterosis of the body length and weight. This study aims to evaluate the performance of these three hybrid populations to determine the best population as a candidate for a new superior strain for common carp culture. Evaluation of the hybrid population was carried out through two approaches. The first is phenotypic characters using growth rate and body color composition tests and the second is genotypic characters using microsatellite methods. The result of the phenotypic analysis showed that the St x Sy population had a growth rate of length and weight of 1.03±0.06%/day and 3.03±0.24%/day, significantly different from that of the St x Rj population of 0.92±0.04%/day and 2.65±0.06%/day. The performance of the St x Sy population was not significantly different from the Mj x St population which had a growth rate of length and weight of 0.98±0.03%/day and 2.78±0.08%/day. However, based on the body color composition, population of Mj x St has a uniform color so that it is more acceptable to both of farmers and consumers. Genotypic analysis result showed that the three hybrid populations had no significantly different in genetic quality. The genetic quality indicated by the heterozygosity, polymorphism and fixation index of the three hybrid populations ranged from 0.21 to 0.22; 0.86 – 0.88 and 0.75 – 0.8.
PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN NILA MERAH, Oreochromis niloticus PADA SISTEM BIOFLOK DENGAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA Iskandar Putra; Rusliadi Rusliadi; Niken Ayu Pamukas; Indra Suharman; Heri Masjudi; Novreta Ersyi Darfia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.15-21

Abstract

Ikan nila merupakan ikan budidaya yang disukai oleh masyarakat karena dagingnya yang gurih dan lezat. Untuk peningkatkan produksi ikan nila diperlukan pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. Pakan merupakan komponen biaya operasional utama pada budidaya ikan nila yang diperkirakan mencapai 40%-60%. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan teknologi yang dapat menekan biaya operasional dalam sistem budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi frekuensi pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan nila merah (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dengan sistem bioflok. Metode yang diterapkan adalah eksperimen dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah frekuensi pemberian pakan pelet yaitu (A) 1 kali/hari, (B) 2 kali/hari, 3 kali/hari, dan 4 kali/hari. Ikan nila ukuran 3,71 ± 0,11 cm dan bobot 4,49 ± 0,021 g dipelihara selama 56 hari dalam bak 100 L dengan padat tebar 16 ekor/bak. Ikan dipelihara dengan teknologi bioflok dan diberikan pakan setiap harinya sebanyak 5%/berat biomasa/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan ikan nila merah pada sistem bioflok dengan frekuensi pemberian pakan yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap performa pertumbuhan, sintasan, dan efisensi pakan. Perlakuan frekuensi pemberiaan pakan 2 kali/hari merupakan perlakuan terbaik menghasilkan pertumbuhan bobot mutlak 23,07 ± 0,89 g; laju pertumbuhan harian 3,23 ± 0,05%; sintasan 91,66 ± 3,60%; dan efisensi pakan 96,73 ± 6,70%.Tilapia (Oreochromis niloticus) is a cultured fish that is favored by the public, because of its delicious meat and high protein content. To increase production, quality, and quantity of feed is needed, feed is the main component in the cultivation system and it is estimated that 40%-60% of the costs incurred in maintaining tilapia are needed. To overcome this, technology is needed that can reduce operational costs in fish culture. The purpose of this study was to evaluate the growth and survival of red tilapia with different feeding frequencies reared with a biofloc system. The research method applied was experimental with four treatments and three replications. The treatment was the frequency of feeding, namely (A) 1 time/day, (B) 2 times/day, 3 times/day, and 4 times/day. Tilapia were reared for 56 days in a 100 L tank with a stocking density of 16 fish/tank. Initial size 3.71 ± 0.11 cm and weight 4.49 ± 0.021. Tilapia are reared with biofloc technology and given daily feed of 5%/weight of biomass/day. The results showed that rearing red tilapia with different feeding frequencies in the biofloc system had a significant effect (P<0.05) on growth performance, survival, and feed efficiency. Treatment B with a frequency of feeding 2 times/day was the best, with absolute growthof 23.07 ± 0.89 g, daily growth rate of 3.23 ± 0.05%, survival rate 91.66 ± 3.60%, and feed efficiency 96.73 ± 6.70%.
PROFIL FARMAKOKINETIK OKSITETRASIKLIN PADA IKAN LELE, Clarias gariepinus DENGAN INFEKSI ARTIFISIAL Aeromonas hydrophila Tatik Mufidah; Sukenda Sukenda; Widanarni Widanarni; Huda Shalahudin Darusman; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.702 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.47-57

Abstract

Oksitetrasiklin banyak digunakan dalam manajemen terapeutik maupun preventif infeksi penyakit bakterial pada akuakultur. Konsentrasi obat yang tepat dalam tubuh penting untuk kemanjuran terapi tidak hanya ditentukan oleh dosis obat tetapi juga farmakokinetik obat yang dapat diketahui dari parameter farmakokinetiknya. Parameter farmakokinetik meliputi waktu paruh, kadar puncak, waktu puncak, volume distribusi, area di bawah kurva (AUC), eliminasi, dan distribusi obat baik dalam keadaan fisiologi maupun patologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter farmakokinetik dan waktu henti obat (withdrawal time) oksitetrasiklin yang diberikan secara oral pada ikan lele yang diinfeksi dengan Aeromonas hydrophila. Kondisi patofisiologi yang memengaruhi mekanisme kerja obat akibat infeksi A. hydrophila diketahui dengan pengamatan histologi. Visualisasi keberadaan bakteri A. hydrophila pada organ ikan lele menggunakan imunohistokimia. Konsentrasi obat dalam plasma diukur dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Studi ini mengungkapkan farmakokinetik obat dan waktu henti obat yang berbeda pada ikan sehat/tidak diinfeksi dan sakit/diinfeksi A. hydrophila. Kadar oksitetrasiklin pada plasma ikan sehat 229,00 mg/L dan ikan terinfeksi A. hydrophila 99,16 mg/L yang dicapai pada 1,5 jam setelah pemberian. Area di bawah kurva yang menggambarkan jumlah obat dalam sirkulasi sistemik pada ikan sehat sebesar 943,6 mg.h/L; sedangkan pada ikan sakit sebesar 814,05 mg.h/L. Area di bawah kurva untuk waktu tak terhingga pada ikan sehat 1.586,42 mg.h/L dan 1.516,47 mg.h/L. Waktu paruh pada ikan sehat 9,36 jam dan ikan tidak terinfeksi 9,65 jam. Pengamatan histologi pada organ yang berperan dalam mekanisme obat yaitu hati, ginjal, dan usus mengalami kelainan patologi. Visualisasi A. hydrophila dengan imunohistokimia menunjukkan bakteri banyak terlokasilasi dalam lumen pembuluh darah. Waktu henti obat setelah 10 hari pemberian dengan dosis terapeutik pada ikan sehat yaitu 20 hari pada ikan sehat dan 30 hari pada ikan sakit. Sebagai kesimpulan kadar oksitetrasiklin pada plasma ikan sehat lebih besar daripada ikan sakit, dan diikuti dengan perbedaan pada parameter farmakokinetik lainnya dan waktu henti obat yang lebih lama pada ikan sakit.Oxytetracycline is widely used in the therapeutic and preventive management of bacterial infections in aquaculture. The accurate concentration of drug in the body is important for therapeutic efficacy not only determined by the dose but also the pharmacokinetics of the drug which can be known from its pharmacokinetic parameters. Pharmacokinetic parameters include half-life, maximum concentration, time of maximum concretation, volume distribution, area under the curve (AUC), elimination, and distribution of the drug in both physiological and pathological conditions. This study aimed to determine the pharmacokinetic parameters and withdrawal time of oxytetracycline administered orally to uninfected and infected catfish infected with Aeromonas hydrophila. Pathophysiological conditions that affect the drug’s mechanism of action due to infection with A. hydrophila by histological observations. Visualization of A. hydrophila bacteria in catfish organs using immunohistochemical assay. The plasma drug concentration was measured by high performance liquid chromatography (HPLC). This study revealed different drug pharmacokinetics parameters and withdrawl time of uninfected and infected fish with A. hydrophila. Oxytetracycline levels in the plasma of the uninfected fish were 229.00 mg/L and 99.16 mg/L in infected fish which were reached 1.5 hours after administration. The area under the curve that describes the amount of drug in the systemic circulation of uninfected fish is 943.6 mg.h/L, while in infected fish is 814.05 mg.h/L. The area under the curve for infinitive depicting the amount of drug in the systemic circulation in uninfected fish was 943.6 mg.h/L, while in infected fish was 814.05 mg.h/L. Histological observations on the organs that play a role in the drug mechanism, to be specific on the liver, kidney, and intestine showed pathological abnormalities. Visualization of A. hydrophila by immunohistochemistry showed that bacteria were located in the lumen of blood vessels. The withdrawal time of oxytetracycline after 10 days of administration in uninfected and infected fish were 20 and 30 days, repectively. In conclusion, plasma levels of oxytetracycline in uninfected fish were greater than in infected fish and were followed by differences in other pharmacokinetic parameters and longer drug withdrawal times in infected fish.
KESESUAIAN EKOLOGI BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA TAMBAK SEMI INTENSIF DI KECAMATAN GEROKGAK, BALI Sari, Putu Dewi Purnama; Arthana, I Wayan; Julyantoro, Pande Gde Sasmita
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.121-132

Abstract

Kecamatan Gerokgak menjadi salah satu pusat perikanan budidaya, khususnya budidaya udang vaname. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan parameter kesesuaian ekologi pada kegiatan budidaya udang vaname di Kecamatan Gerokgak, Bali. Penelitian dilaksanakan di enam petak tambak yang berada di tiga desa, yaitu Desa Gerokgak, Patas, dan Sanggalangit mulai bulan Oktober 2021 hingga Januari 2022. Parameter ekologi yang diamati adalah suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, alkalinitas, amonia, bahan organik total, nitrat, nitrit, fosfat, kelimpahan plankton, bakteri heterotrofik, dan Vibrio. Data dianalisis menggunakan matriks kesesuaian dan dihitung indeks kesesuaiannya. Hasil penelitian menunjukkan suhu pagi sebesar 24,0-26,8°C; suhu sore 27,0-30,4°C; pH 7,3-8,1; salinitas 6-33 ppt; oksigen terlarut 7,7-7,9 mg L-1; kecerahan 38,5-44,6 cm; alkalinitas 205,9-212,6 mg L-1; amonia 0,28-0,48 mg L-1; bahan organik total 30-33 mg L-1; nitrat 0,2-0,3 mg L-1; nitrit 0,01-0,02 mg L-1; fosfat 0,53-0,66 mg L-1; kelimpahan plankton 117.909-200.764 ind L-1; bakteri heterotrofik 1,8x105-2,4x105 CFU mL-1; dan Vibrio sebesar 2.776-3.620 CFU mL-1. Semua tambak menunjukkan tingkat sangat sesuai untuk budidaya udang vaname. Nilai indeks kesesuaian tertinggi terdapat pada petak Desa Sanggalangit 2 (95,9%), diikuti oleh Desa Sanggalangit 1 dan Desa Patas 1 (93,8%), sementara nilai Desa Patas 2, Desa Gerokgak 1dan Desa Gerokgak 2 mendapatkan nilai indeks kesesuaian yang terendah (91,8%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa seluruh petak yang diamati termasuk dalam tingkat kesesuaian ekologi Sangat Sesuai untuk budidaya udang vaname.Gerokgak area is the primary coastal aquaculture center in North Bali in which whiteleg shrimp farming has grown rapidly in the past decade. This study aimed to determine the ecological suitability of semi intensive whiteleg shrimp farming in the area. The research was carried out in six different ponds in three villages (Gerokgak, Patas, and Sanggalangit Villages) from October 2021 to January 2022. The evaluation parameters consist of temperature, pH, salinity, dissolved oxygen, transparency, alkalinity, ammonia, total organic matter, nitrate, nitrite, phosphate, plankton abundance, heterotroph bacteria count, and Vibrio count. The collected data were arranged into suitability matrix from which the suitability indexes were calculated. The morning temperature was 24.0-26.8°C; afternoon temperature 27.0-30.4°C; pH 7.3-8.1; salinity 26-33 ppt; dissolved oxygen 7.7-7.9 mg L-1; brightness 38.5-44.6 cm; alkalinity 205.9-212.6 mg L-1; ammonia 0.28-0.48 mg L-1; total organic matter 30-33 mg L-1; nitrate 0.2-0.3 mg L-1; nitrite 0.01-0.02 mg L-1; phosphate 0.53-0.66 mg L-1; plankton abundance 117,909-200,764 ind L-1; heterotrophic bacteria 1.8x105-2.4x105 CFU mL-1; and Vibrio 2,776–3,620 CFU mL-1. The highest suitability index value was scored by Sanggalangit Village pond 2 (95.9%), followed by Sanggalangit Village pond 1 and Patas Village pond 1 (93.8%), while Patas Village pond 2, Gerokgak Village pond 1, and Gerokgak Village pond 2 had the lowest suitability index (91.8%). This study concludes that all observed ponds are categorized as highly ecologically suitable for whiteleg shrimp culture.
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa) DAN DAUN PISANG (Musa paradisiaca) TERHADAP PENETASAN TELUR DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN CUPANG (Betta splendens) Yuniar, Pira; Subariyanto, Subariyanto; Rivai, Andi Alamsyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.71-84

Abstract

Kandungan senyawa bioaktif pada daun ketapang (Terminalia catappa) dan daun pisang (Musa paradisiaca) mampu mencegah serangan jamur pada telur ikan. Namun demikian, aplikasi kombinasi kedua bahan tersebut untuk mencegah serangan jamur pada telur ikan cupang (Betta splendens) belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman telur ikan cupang dengan kombinasi konsentrasi daun ketapang dan daun pisang yang berbeda terhadap daya tetas telur ikan dan daya hidup benih yang dihasilkan. Penelitian ini berupa eksperimen yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan terdiri dari perendaman telur ikan pada: perlakuan kontrol (tanpa ekstrak daun ketapang dan daun pisang), perlakuan A (100% ekstrak daun ketapang konsentrasi 20 mL L-1), perlakuan B (75% ekstrak daun ketapang pada 15 mL L-1 dan 25% daun pisang pada 5 mL L-1), perlakuan C (50% ekstrak daun ketapang pada 10 mL L-1 dan 50% daun pisang pada 10 mL L-1), perlakuan D (25% ekstrak daun ketapang pada 5 mL L-1 dan 75% daun pisang pada 15 mL L-1), dan perlakuan E (100% ekstrak daun pisang konsentrasi 20 mL L-1). Variabel yang diukur pada masing-masing perlakuan adalah daya pembuahan telur, daya tetas, kualitas, dan tingkat kelangsungan hidup benih yang dihasilkan. Parameter kualitas air diukur secara berkala selama penelitian, meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, dan nitrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman telur dalam konsentrasi ekstrak daun ketapang dan daun pisang yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap semua variabel. Perlakuan terbaik adalah perlakuan B dengan persentase daya pembuahan telur, penetasan telur, dan tingkat kelangsungan hidup benih yang dihasilkan masing-masing adalah 90%, 84%, dan 84,58%. Kombinasi ini dapat dijadikan sebagai dasar informasi dalam meningkatkan budidaya ikan cupang karena adanya kandungan flavonoid dan tanin pada daun ketapang dan daun pisang yang berfungsi dalam meningkatkan pembuahan telur, daya tetas telur dan kelangsungan hidup ikan.The bioactive compounds in ketapang (Terminalia catappa) and banana (Musa paradisiaca) leaves had the ability to prevent fungus infestation on fish eggs. Nevertheless, a combined application of these two ingredients to prevent fungus infestation in betta fish eggs (Betta splendens) has never been studied. This study aimed to determine the effect of soaking betta fish eggs in different combined concentrations of ketapang and banana leaves on the fish egg hatching rate and resulting seed survival rates. This research was set in an experimental trial consisting of six treatments with three replicates. The treatments consisted of soaking the fish egg in: control treatment (without ketapang and banana leaves extracts), treatment A (100% ketapang leaf extract at a concentration of 20 mL L-1), treatment B (75% ketapang leaf extract at 15 mL L-1 and 25% banana leaf extract at 5 mL L-1), treatment C (50% ketapang leaf extract at 10 mL L-1 and 50% banana leaf extract at 10 mL L-1), treatment D (25% ketapang leaf extract at 5 mL L-1 and 75% banana leaf extract at 15 mL L-1), treatment E (100% banana leaf extract at 20 mL L-1). The measured variables in each treatment were egg fertilization rate, hatching rate, and quality, as well as the resulting seed survival rate. Water quality parameters were measured regularly during the study, including temperature, pH, dissolved oxygen, ammonia, and nitrite. The results showed that the immersion of eggs in different concentrations of ketapang and banana leaf extracts had a significant effect (P<0.05) on all variables. The best treatment was treatment B, in which the percentages of egg fertilization, egg hatching, and the produced seed survival rates were 90%, 84%, and 84.58%. This study concludes that the combined use of ketapang and banana leaves extracts successfully increase egg fertilization, egg hatchability and survival rate of betta fish due to the presence of flavonoid and tanin compounds.
PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR Azolla sp. TERHADAP KEPADATAN SEL Chlorella sp. Taradifa, Shintia; Hasibuan, Saberina; Syafriadiman, Syafriadiman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.85-93

Abstract

Pupuk organik cair (POC) Azolla sp. mengandung nutrien yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Chlorella sp. sehingga pupuk ini dapat menggantikan pupuk anorganik yang biasa digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat POC Azolla sp. terhadap kepadatan sel Chlorella sp. dan mengetahui dosis terbaik yang dapat digunakan pada kultur mikroalga ini. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2021 sampai bulan Februari 2022 di Laboratorium Mutu Lingkungan Budidaya, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Penelitian.ini.menggunakan Rancangan.Acak.Lengkap (RAL) satu faktor.dengan empat.perlakuan dan tiga.kali.ulangan. Perlakukan yang ditetapkan yaitu menggunakan media walne pada P0 (1 mL L-1 sebagai kontrol), menggunakan POC Azolla sp. pada P1 (10 mL L-1), P2 (12 mL L-1), dan P3 (14 mL L-1). Hasil.penelitian menunjukkan bahwa ada manfaat dari POC Azolla sp. terhadap kepadatan sel Chlorella sp. dan perlakuan terbaik untuk kepadatan sel  Chlorella sp. adalah P2 dengan dosis POC Azolla sp. 12 mL L-1 dengan mendapatkan kepadatan tertinggi yaitu 904,33x104.sel mL-1 pada hari.ke-7 dan laju pertumbuhan spesifik tertinggi sebesar 0,8439 sel mL-1hari-1. Media kultur Chlorella sp. mengandung nutrien nitrat 1,780-19,384 mg L-1 dan fosfat 0,721-4,380 mg L-1, serta kualitas air pada penelitian termasuk pada kisaran optimal (suhu 28-300C, pH 8,0-8,8, dan oksigen terlarut 5,0-9,1 mg L-1) yang dapat mendukung pertumbuhan Chlorella sp.Liquid organic fertilizer (LOF) Azolla sp. contains nutrients required for the growth of Chlorella sp. This LOF fertilizer could be used replace the commonly used inorganic fertilizers. The objective of this study was to determine the effect of LOF Azolla sp. on Chlorella sp. cell density and its best dose usage in culturing the microalgae. The research.was.conducted from.December.2021 to. February .2022. at the Aquaculture Environmental Quality Laboratory, Fisheries and Marine Faculty, Riau University. The research design used was a one-factor Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and three replications. The treatments were the application of Walne media on P0 (1 mL L-1 as a control), and LOF Azolla sp. on P1(10.mL L-1), P2 (12.mL L-1), and P3 (14.mL L-1). The results showed that the use of LOF Azolla sp. had significant influences on the Chlorella sp. cell density of which the best treatment was P2. The P2 treatment (LOF Azolla sp. of 12 mL L-)1 produced the highest density of Chlorella sp. (904.33x104 cells mL-1)on the 7th day with the highest specific growth rate of 0.8439 cells mL-1day-1. Nitrate and phosphate concentrations measured in the Chlorella sp. culture media ranged between 1.780-19.384 mg L-1 and 0.721-4.380 mg L-1, respectively. Water quality of the media was optimal throughout the experimental period where the temperature, pH, and dissolved oyxgen varied between 28-300C, 8.0-9.0, and 6.0-9.1 mg L-1, respectively. This study concludes that LOF Azolla sp. combined with the optimal culture condition improves the growth of Chlorella sp.
KETAHANAN IKAN MAS HIBRIDA MAJALAYA >< SUTISNA TERHADAP INFEKSI Aeromonas hydrophila DAN CEKAMAN LINGKUNGAN ABIOTIK Ariyanto, Didik; Haryadi, Joni; Palimirmo, Flandrianto S.; Suharyanto, Suharyanto; Himawan, Yogi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.95-107

Abstract

Keunggulan pertumbuhan dan produktivitas ikan mas hibrida kandidat rilis, yaitu hibrida Majalaya betina >< Sutisna jantan (Mj >< St), perlu didukung dengan ketahanan terhadap penyakit serta toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya tahan ikan mas hibrida Mj >< St terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila serta toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik, yaitu suhu, pH, salinitas, dan amonia. Pengujian ketahanan penyakit dan toleransi lingkungan ikan mas hibrida kandidat rilis dilakukan secara terbatas di laboratorium. Sebagai pembanding, digunakan ikan mas unggul Marwana yang diperoleh dari unit pembenihan rakyat. Hasil uji tantang dengan bakteri A. hydrophila menunjukkan bahwa ikan mas hibrida Mj >< St mempunyai sintasan yang secara nyata lebih baik (P < 0,05) dibandingkan strain pembanding, yaitu 96,7 ± 2,9% berbanding 83,3 ± 5,8%. Ikan mas hibrida Mj >< St juga mempunyai toleransi yang berbeda nyata lebih baik (P < 0,05) dibandingkan ikan mas Marwana, khususnya terhadap suhu, pH, dan salinitas. Hal ini ditunjukkan dengan nilai LT50 ikan mas hibrida yang lebih baik dibandingkan strain pembanding, masing-masing sebesar 3,6 ± 0,6 menit berbanding 2,0 ± 0,6 menit pada suhu rendah (10,0-12,0°C) dan 7,5 menit berbanding 4,1 menit pada suhu tinggi (38,0-40,0°C); 38,2 ± 1,7 menit berbanding 21,6 ± 0,9 menit pada pH rendah (3,0) dan 12,3 ± 2,4 menit berbanding 6,0 ± 1,6 menit pada pH tinggi (12,0); dan 85,6 ± 11,1 menit berbanding 34,0 ± 12,1 menit pada salinitas sedang (20 g L-1). Daya toleransi ikan mas hibrida Mj >< St terhadap kandungan amonia perairan sebesar 3,0 mg L-1 tidak berbeda nyata (P > 0,05) dengan strain Marwana, masing-masing dengan LT50 sebesar 95,7 ± 74,4 menit berbanding 71,0 ± 48,1 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan mas hibrida Mj >< St mempunyai ketahanan terhadap penyakit dan cekaman lingkungan abiotik lebih baik dibandingkan ikan mas Marwana yang sudah berkembang di pembudidaya.The superiority of growth and productivity of a hybrid carp candidate, the female Majalaya >< the male Sutisna (Mj >< St) could be a game changer if the hybrid carp also has disease resistance and high tolerance to abiotic environmental stressors. This study aimed to evaluate the resistance of the hybrid carp Mj >< St to Aeromonas hydrophila infection and its tolerance to abiotic environmental stressors, such as temperature, pH, salinity, and ammonia. The resistance and tolerance testing of the hybrid fish was carried out in a limited lab-scale experiment. A superior carp, namely Marwana, obtained from a private hatchery, was used as the comparison. Results of the challenge test to A. hydrophila showed that the Mj >< St hybrid carp had a significantly better (P < 0.05) survival rate of 96.7 ± 2.9% than the compared strain survival rate of 83.3 ± 5,8%. The Mj >< St hybrid carp also has significantly better (P < 0.05) tolerance than the Marwana carp, especially to the temperature, pH, and salinity changes. This was indicated by better LT50 values of the hybrid carp against the compared strain of 3.6 ± 0.6 minutes compared to 2.0 ± 0.6 minutes at low temperature (10.0-12.0°C), and 7.5 minutes versus 4.1 minutes at high temperature (38.0-40.0°C); 38.2 ± 1.7 minutes versus 21.6 ± 0.9 minutes at low pH (3.0), and 12.3 ± 2.4 minutes versus 6.0 ± 1.6 minutes at high pH (12.0); and 85.6 ± 11.1 minutes versus 34.0 ± 12.1 minutes at medium salinity (20 g L-1). The tolerance of hybrid carp Mj >< St to the ammonia level of 3.0 mg L-1 was not significantly different (P > 0.05) from that of the Marwana strain, in which the LT50 is 95.7 ± 74.4 minutes compared to 71.0 ± 48.1 minutes. These results indicate that the hybrid carp Mj >< St has better resistance to disease and abiotic environmental stressors than the Marwana carp that has been cultured by farmers.
PENGARUH EKSTRAK KASAR JAGUNG (Zea mays) SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Caulerpa racemosa Rahmawati, Winda; Harwanto, Dicky; Windarto, Seto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.109-120

Abstract

Caulerpa racemosa atau dikenal dengan nama latoh adalah salah satu komoditas perikanan yang digemari karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Namun, dalam budidaya C. racemosa masih terdapat kendala yaitu produksi yang belum maksimal dan pertumbuhan yang belum optimal. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhannya yaitu dengan melakukan perendaman bibit rumput laut menggunakan hormon pertumbuhan dari ekstrak bahan alami. Jagung merupakan salah satu bahan alami yang mengandung hormon pertumbuhan giberelin, sitokinin, dan auksin. Hormon tersebut dapat merangsang pertumbuhan batang dan akar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penambahan hormon dengan menggunakan ekstrak kasar jagung terhadap pertumbuhan dan morfologi C. racemosa dan mengetahui lama waktu perendaman terbaik ekstrak kasar jagung terhadap pertumbuhan C. racemosa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang dilakukan yaitu perendaman selama 0 menit (sebagai kontrol) (A), 30 menit (B), 40 menit (C), dan 50 menit (D). Data yang diperoleh selama penelitian meliputi morfologi, pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan kualitas air. Lama waktu perendaman C. racemosa dalam media ekstrak kasar jagung berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan. Perlakuan B menunjukkan hasil terbaik terhadap pertumbuhan bobot mutlak (123,63 ± 6,55 g) dan laju pertumbuhan spesifik (4,15 ± 0,21% per hari). Perlakuan B memiliki morfologi thalus dan ramulli yang besar serta rimbun. Parameter kualitas air dalam kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan C. racemosa.Caulerpa racemosa, known as latoh, is a popular edible green alga due to its high nutritional content and medicinal benefits. However, low quality and slow growth of seed prevented the aquaculture development C. racemosa. Soaking the seaweed seed with growth hormone immersion from extracts of natural ingredients could potentially improve its growth rate. Corn contains growth hormone gibberellins, cytokinins, and auxins. These hormones can stimulate the growth of stems and roots. This study aimed to determine the effectiveness of growth hormones in corn crude extract and the best soaking time of the extract on the growth development and morphology of C. racemosa. This research was conducted using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments with three replicates. The treatments were soaking the seed in corn extract for 0 minutes (as a control) (A), 30 minutes (B), 40 minutes (C), and 50 minutes (D). The data obtained during the study included morphology, absolute weight growth, specific growth rate, and water quality. The duration of immersion of C. racemosa in maize extract media had a significant effect (P<0.05) on growth. Treatment B showed the best results with absolute weight growth and growth rate values of 123.63 ± 6.55 g and 4.15 ± 0.21% per day, respectively. This research successfully determines that corn extract improves the growth of C. racemosa seeds indicated by the large thallus and ramuli of the cultured seaweed.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue