cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 333 Documents
INFESTASI PARASIT LINTAH LAUT (Zeylanicobdella arugamensis) DAN PROFIL DARAH IKAN KERAPU HIBRIDA (Epinephelus sp.) DAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) Ketut Mahardika; Indah Mastuti; Ketut M. Arya Sudewa; Ahmad Muzaki; Slamet Haryanto; Muhammad Ansari; Ahmad Zailani; Zafran Zafran
Media Akuakultur Vol 18, No 1 (2023): Juni, 2023
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.1.2023.21-30

Abstract

Lintah laut (hirudinea: Zeylanicobdella arugamensis) merupakan ektoparasit jenis yang dapat menginfeksi dan menghambat pertumbuhan ikan budidaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat infeksi lintah laut serta gambaran darah ikan kerapu hibrida (Epinephelus sp.) dan ikan kakap putih (Lates calcarifer) melalui metode kohabitasi. Penelitian ini menggunakan 94 ekor ikan kerapu hibrida (61 ekor ukuran kecil: 14,48±1,14 cm dan 33 ekor ukuran besar: 37,18±18,46 cm ) dan 76 ekor ikan kakap putih (46 ekor ukuran kecil: 13,7±1,04 cm dan 30 ekor ukuran besar: 31,87±5,78 cm). Uji kohabitasi dilakukan dengan menempatkan Z. arugamensis ukuran 1-2,5 cm (206-392 individu/perlakuan) ke dalam bak fiber volume 100 L yang telah diisi ikan kakap putih, kerapu hibrida cantik dan kombinasi kedua ikan tersebut. Perlakuan kontrol menggunakan ikan kakap putih dan kerapu hibrida cantik tanpa penambahan Z. arugamensis. Intensitas Z. arugamensis per ikan dihitung setelah 2 minggu kohabitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas dan prevalensi lintah laut pada ikan kerapu cantik (intensitas: 18-59  lintah/ikan ukuran kecil dan 50-313 lintah/ikan ukuran besar, dengan prevalensi 90-100%) lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kakap putih (intensitas: 1-8  lintah/ikan ukuran kecil dan 3-12 lintah/ikan ukuran besar, dengan prevalensi 41-100%). Profil darah ikan kerapu hibrida yang terinfeksi Z. arugamensis menunjukkan jumlah sel darah putih, ukuran rata-rata sel darah merah (MCV) dan jumlah rata-rata hemoglobin di dalam sel darah merah (MCH) lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah sel yang sama pada ikan kerapu hibrida yang tidak terinfeksi Z. arugamensis. Namun profil darah ikan kakap putih hasil kohabitasi dengan Z. arugamensis dengan kakap putih dari kelompok kontrol hampir sama. Hasil tersebut menunjukkan ikan kerapu hibrida lebih rentan terhadap infeksi Z. arugamensis dibandingkan dengan ikan kakap putih.Sea leech (Hirudinea: Zeylanicobdella arugamensis) is a type of ectoparasites that can infect and inhibit the growth of cultivated fish. The purpose of this study was to determine the infection rate of marine leeches and the blood profile of hybrid grouper (Epinephelus sp.) and barramundi (Lates calcarifer) through the cohabitation method. This study used 94 hybrid groupers (61 small size with TL: 14.48±1.14 cm and 33 large size with TL: 37.18±18.46 cm) and 76 barramundi (46 small size with TL: 13 .7±1.04 cm and 30 large size with TL: 31.87±5.78 cm). The cohabitation test was carried out by placing Z. arugamensis with total  length of 1-2.5 cm (206-392 individuals/treatment) into a 100 L volume fiber tank filled with barramundi, hybrid grouper and a combination of the two fish. The control treatment used barramundi and hybrid grouper without the addition of Z. arugamensis. The intensity and prevalence of Z. arugamensis per fish was calculated after 2 weeks of cohabitation. The results showed that the intensity and prevalence of marine leeches in hybrid grouper (intensity: 18-59 leeches/small size fish and 50-313 leeches/large size fish, with a prevalence of 90-100%) were higher than the barramundi (intensity : 1-8 leeches/small size fish and 3-12 leeches/large size fish, with a prevalence of 41-100%). The blood profile of hybrid grouper infected with Z. arugamensis showed that the number of white blood cells (WBC), the mean corpuscular volume (MCV) and the mean corpuscular hemoglobin (MCH) were higher than the same number of cells in hybrid grouper that was not infected with Z. arugamensis. However, the blood profile of barramundi from cohabitation with Z. arugamensis and barramundi from the control group were almost the same. These results indicated that hybrid grouper was more susceptible to Z. arugamensis infection compared to barramundi.
PEMANFAATAN KAPUR ALTERNATIF BERBAHAN CANGKANG KEONG MAS PADA AIR RAWA MEDIA BUDIDAYA IKAN PATIN Tanbiyaskur, Tanbiyaskur; Jubaedah, Dade; Cahyono, Inka Kris Dwi
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.17-24

Abstract

Perairan rawa di Indonesia belum termanfaatkan secara optimal khususnya untuk budidaya ikan patin, terutama karena  terkendala rendahnya pH air rawa berkisar 3-4, sedangkan kolam dengan memanfaatkan air rawa sebagai media budidaya memerlukan pH optimal 6,5-8,5. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengoptimalkan atau meningkatkan pH air rawa dengan menggunakan kapur alternatif, yaitu kapur dari cangkang keong mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik kapur cangkang keong mas dalam upaya meningkatkan pH air rawa lebak untuk media pemeliharaan ikan patin. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu perbedaan dosis kapur cangkang keong mas yang disetarakan dengan CaO  dalam satuan mg L-1 yaitu 0 (P0), 5 (P1), 10 (P2), (P3), dan 20 (P4). Parameter yang diamati meliputi parameter kualitas air (pH, Ca, Mg, suhu dan oksigen terlarut),  kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan efisiensi pakan ikan . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis terbaik pada pemberian kapur cangkang keong mas yaitu dosis 10 mg L-1 yang mampu mengoptimalkan pH air rawa lebak 4,8 menjadi 7,4, kelangsungan hidup ikan patin sebesar  98%, pertumbuhan bobot mutlak ikan patin sebesar 18,36 g, pertumbuhan panjang mutlak ikan patin sebesar 6,20 cm dan efisiensi pakan ikan  patin sebesar 95,54%. Dengan demikian, kapur cangkang keong mas dengan dosis 10 mg L-1 dapat diaplikasikan pada air rawa sebagai media budidaya ikan patin.Aquatic swamp in Indonesia has not been utilized optimally mainly for fish culture. It is constrained by the low pH of water in swamps (ranged 3-4). Catfish potential to be developed in swamps, but to culture of catfish on ponds using swamp water as rearing media is needed a neutral pH between 6.5-8.5. Therefore, it is necessary to increase pH by alternative liming using lime of golden apple snail shells.This study purpose to determine the best (optimal) dosage of golden apple snail shell lime to increase the pH of swamp water for catfish rearing media. This research applied a completely randomized design with six treatments and three replications. The dosages of golden snail shells lime that was equivalent to CaO as treatment consist of 0 mg L-1 (P0), 5 mg L-1 (P1), 10 mg L-1 (P2), 15 mg L-1 (P3) and 20 mg L-1 (P4). The results of this study showed that the best dose of golden snail shell lime is 10 mg L-1 equivalent to CaO which can optimize the swamp water pH from 4.8 to 7.4, survival rate 98%, absolute weight growth of 18.36 g, absolute length growth of 6.20 cm and feed efficiency of Pangasius catfish 95.54%.
PENGARUH PEMBERIAN USUS AYAM DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) Wamnebo, Muhammad Ikhsan; Hasnidar, Hasnidar; Azizah, Nurul; Rauf, Abdul
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.83-89

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian usus ayam dengan dosis berbeda terhadap pertumbuhan kepiting bakau (Scylla olivacea). Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2022 di Tambak Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia yang terletak di Desa Kalibone Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep. Wadah yang digunakan berupa keranjang plastik dengan ukuran diameter atas 24 cm, diameter bawah 16 cm, dan tinggi 26 cm berjumlah 60 unit. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (Scylla olivacea) dengan bobot 200±2,21 g dan lebar karapas 8±0,08 cm. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yakni: Perlakuan A= 5% dari bobot tubuh, B= 10%, C= 15% dan, D= 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan kepiting bakau untuk semua perlakuan adalah 100%, sedangkan pertumbuhan bobot mutlak dan Survival Growth Rate (SGR) tertinggi diperoleh pada perlakuan D (20%), disusul berturut-turut oleh perlakuan C, B dan A.This study aimed to determine the effect of giving chicken intestines with different doses on the growth of mangrove crabs (Scylla olivacea). This research was conducted from February to April 2022 at the Pond of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences at the Indonesian Muslim University which is located in Kalibone Village, Minasatene District, Pangkep Regency. The containers used were plastic baskets with a top diameter of 24 cm, a bottom diameter of 16 cm, and a height of 26 cm totaling 60 units. The test animal used was mud crab (Scylla olivacea) with a weight of 200±2.21 g and a carapace width of 8 ± 0.08 cm. This study was designed using a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications, namely: Treatment A = 5% of body weight, B = 10%, C = 15%, D = 20%. The results showed that the survival of mud crabs for all treatments was 100%, while the highest absolute weight growth and SGR were obtained in treatment D (20%), followed by treatments C, B, and A.
Back Matter Vol. 19 No. 1 Akuakultur, Media
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.47-59

Abstract

Front Matter Vol. 18 No. 2 Akuakultur, Media
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.i-vi

Abstract

APLIKASI IMUNOGLOBULIN Y-ANTI WSSV UNTUK IMUNISASI PASIF PENYAKIT WSSV PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Senggagau, Betutu; Bond, Manja Meyky; Subhan, Subhan
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.25-33

Abstract

Infeksi penyakit WSSV pada udang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar hingga mencapai US$ 1 milyar per tahunnya. Pengendalian penyakit WSSV dapat dilakukan melalui pendekatan imunisasi pasif menggunakan imunoglobulin Y anti-WSSV. Tujuan kegiatan ini adalah mengetahui manfaat imunoglobulin Y (IgY) spesifik anti-WSSV dalam pencegahan dan pengobatan penyakit WSSV pada udang. Metode yang digunakan terdiri dari dua yaitu metode uji pencegahan (T) dan metode uji pengobatan (P) penyakit WSSV. IgY anti-WSSV dari kuning telur ayam dicampurkan ke dalam pakan pelet komersial dengan dosis 20%. Pada uji pencegahan, udang ukuran 5-6 g diadaptasikan dengan pakan IgY anti-WSSV selama 7 hari lalu diuji tantang dengan pakan berupa udang vaname positif WSSV selama 2 hari, dan diamati sintasannya selama 7 hari. Sedangkan untuk uji pengobatan, udang diuji tantang dengan pakan berupa udang vaname positif WSSV yang dihaluskan selama 2 hari lalu diberi pakan udang yang mengandung IgY anti-WSSV selama 7 hari pengamatan. Penggunaan IgY anti-WSSV dalam pakan memberikan hasil yang signifikan pada nilai sintasan udang vaname baik pada uji pencegahan maupun pengobatan penyakit WSSV dan metode imunisasi pasif ini memiliki prospek yang baik dalam pengendalian penyakit WSSV pada udang budidaya.WSSV infection in shrimp can cause large economic losses up to US$ 1 billion per year. WSSV disease can be controlled through a passive immunization approach using anti-WSSV IgY. The study aimed to determine the benefits of specific anti-WSSV immunoglobulin Y (IgY) in preventing and treating WSSV disease in shrimp. The methods used consist of two methods, the prevention test method (T) and the treatment test method (P) for WSSV disease. Anti-WSSV IgY from chicken egg yolk was mixed into commercial pelleted feed at a dose of 20%. In the prevention test, the shrimp sized 5-6 g were adapted to anti-WSSV IgY feed for 7 days and then challenged with feed in the form of crushed WSSV positive vannamei shrimp for 2 days, and survival was observed for 7 days. Meanwhile, for the treatment test, the shrimp were challenged with feed in the form of crushed WSSV positive vannamei shrimp for 2 days and then given shrimp feed containing anti-WSSV IgY for 7 days observation. Using anti-WSSV IgY in feed provided significant results on the survival value of vannamei shrimp both in prevention and treatment tests for WSSV disease and this passive immunization method has good prospects in controlling WSSV disease in shrimp culture.
PEMANFAATAN HASIL FERMENTASI LINDI DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KEPADATAN SEL Chlorella sp. Rosyadi, Rosyadi; Agusnimar, Agusnimar; Hadi, Khairul
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.47-53

Abstract

Lindi merupakan limbah cair yang kaya akan nutrisi, yang dapat digunakan sebagai sumber bahan organik untuk kultur mikroalga seperti jenis Chlorella sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan hasil fermentasi lindi tanpa disaring dengan konsentrasi berbeda terhadap kelimpahan sel Chlorella sp. Penelitian dilakukan di laboratorium Mikroalga dan Nutrisi Ikan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 1 taraf dan 5 perlakuan serta 3 ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi lindi meliputi, P1=5%, P2=10%, P3=15%, P4=20% dan P5=25%/L air. Organisme uji dalam penelitian ini adalah mikroalga jenis Chlorella sp. dan wadah kultur yang digunakan galon dengan kapasitas 20 L dengan volume air 16 L, sedangkan lindi yang digunakan sebagai bahan uji diambil dari TPA Muara Fajar Pekanbaru. Parameter yang diukur adalah kelimpahan sel Chlorella sp, laju pertumbuhan spesifik, biomassa dan kualitas air. Hasil yang diperoleh menunjukkan kelimpahan Chlorella sp. tertinggi pada konsentrasi 10% sebesar 3.077.778 sel/ml, dan puncak pada hari ke-6, konsentrasi terendah konsentrasi 25%, sebesar 2.016.667 sel/ml puncak hari ke-8, laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada konsentrasi 10% sebesar 0,197/hr serta biomassa tertinggi sebesar 0,28 g/L.Leachate is a liquid waste the result of the decomposition of organic waste originating from landfills that is rich in nutrients, which can be used as a source of organic matter for cultures Chlorella sp. This study aims to determine utilization of fermented leachate with different concentrations on the growth and cell density of Chlorella cells. The method used was an experimental design, Completely Randomized Design (CRD), with 5 treatments and 3 replication. The treatment were the concentration of leachate, mainly: P1=5%, P2=10%, P3=15%, P4=20% and P5=25%. The test organism in this study was Chlorella sp. The culture container used were gallons with a capacity of 20 L, leachate obtained from Muara Fajar landfill in Pekanbaru. The parameters measured were the cell density of Chlorella sp. cells, specific growth rate, and water quality. The results showed that cell density of Chlorella sp. was the highest at treatment P2 (10% concentration) of 307,78 cells mL, lowest treatment P2 (25% concentration) of 201,67 cells ml-1. The highest specific growth rate was 10% concentration of 0.197 cells mL day, and the lowest was at a 25% leachate concentration of 0.144 cells ml-1 day-1. From this research, it can be concluded that the best utilization of leachate fermentation results was obtained in the P2 treatment (10% concentration). Therefore, the recommended concentration for culturing Chlorella sp. namely a concentration of 10% in treatment P2.
Back Matter Vol. 18 No. 2 Akuakultur, Media
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.%p

Abstract

PENDEDERAN JUVENIL TERIPANG GAMAT (Sticopus horrens) DENGAN KEPADATAN BERBEDA Gunawan, Gunawan; Setiadi, Ananto; Sujaryani, Siyam; Buda, Made; Suprapta, I Nengah Gede; Rusmana, Dadang; Rifai, Ahmad; Muhdiat, Muhdiat
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.35-40

Abstract

Peningkatan pemanfaatan teripang sebagai bahan baku untuk farmasi telah menyebabkan peningkatan eksploitasi hingga terjadinya tangkap lebih. Alternatif pemenuhan kebutuhan pasar melalui usaha budidaya belum dapat memberikan hasil secara optimal karena ketersediaan benih dari hatcheri belum kontinu. Penelitian ini bertujuan mendapatkan padat tebar yang optimum dalam pendederan juvenil teripang gamat. Wadah penelitian menggunakan hapa ukuran 1,0 m x 0,8 m x 0,5 m sebanyak 12 buah. Perlakuan terdiri dari empat padat tebar, yaitu padat penebaran 100, 150, 200 dan 250 ekor/hapadengan masing-masing tiga ulangan. Rata-rata awal panjang total dan bobot tubuh juvenil: 0,50±0,06 cm dan 0,03±0,01 g.  Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, sintasan, persentase variasi ukuran juvenil pada akhir penelitian, serta kualitas air meliputi temperatur, salinitas dan pH. Analisis statistik menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan post hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan padat tebar yang berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan juvenil teripang gamat. Laju pertumbuhan benih pada perlakuan padat penebaran 100 ekor/hapa (108 – 128%) lebih tinggi dan  berbeda nyata dengan ke-tiga perlakuan padat tebar lainnya (P<0,05). Demikian juga dengan nilai sintasan tertinggi (79,00%) pada padat tebar 100 ekor/hapa dan terendah pada perlakuan padat tebar 250 ekor/hapa (34,27%) (P<0,05). Pada akhir penelitian, persentase juvenil yang berukuran besar pada perlakuan padat tebar 100 ekor/hapa mencapai 59,8% sedangkan pada ketiga perlakuan lainnya hanya mencapai 29,5–44,9% (P<0,05). Dengan demikian, pemeliharaan juvenil teripang gamat ukuran <0,05 g dengan kepadatan 100 ekor/hapa merupakan padat tebar optimum yang dapat diaplikasikan dalam dalam kegiatan pendederan.The increased use of sea cucumber as a pharmaceutical raw material has led to increased exploitation and has even reached overfishing. The alternative of fulfilling market needs through aquaculture has not been able to provide optimal results because the availability of seeds from hatcheries has yet to be continuous. This study aimed to determine the optimal stocking density for sea cucumber juveniles. As many as 12 mesh cages with a dimension of 1.0 m x 0.8 m x 0.5 m were used for the experiment. The juveniles were stocked at densities of 100, 150, 200, and 250 individuals/cage, in triplicate. The average initial total length and juvenile body weight were 0.50 ± 0.06 cm and 0.03 ± 0.01 g, respectively. The parameters observed were growth, survival, percentage variation in juvenile size at the end of the study, and water quality including temperature, salinity, and pH. One-way ANOVA with post hoc Tukey HSD was used to determine the differences among treatments. The results showed that different stocking densities affected the growth and survival of sea cucumber juveniles. The growth rate of sea cucumber juveniles at the density of 100 individuals/cage (108– 28%) was higher, and significantly different from the other stocking densities (P<0.05). The highest survival rate (79.0%) was at 100 individuals/cage and the lowest was at the density of 250 individuals/cage (34.27%) (P<0.05). At the end of the study, the percentage of large-sized juveniles at 100 individuals/cage density reached 59.8%, while at three other treatments was only 29.5 – 44.9% (P<0.05). Thus, it is concluded that the optimum stocking density for the nursery of sea cucumber juveniles sized <0.05 g is 100 individuals/cage.
PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN LIPID MIKROALGA Tetraselmis chuii (Butcher, 1959) PADA pH YANG BERBEDA Akbar, Muhammad; Iba, Wa; Muskita, Wellem H.; Kurniaji, Ardana
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.65-73

Abstract

Mikroalga telah menjadi pakan alami yang penting dalam pembenihan komoditas akuakultur dan pertumbuhannya dipengaruhi kualitas air seperti suhu, salinitas dan pH. Penurunan pH air laut mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan lipid mikroalga. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pH yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kandungan lipid mikroalga T. chuii. Desain penelitian yaitu rancangan acak lengkap menggunakan empat perlakuan dengan tiga ulangan. Empat jenis perlakuan berdasarkan variasi PH (6.5, 7, 7.5, 8 dan pH alami 7.8) selama 7 hari kultivasi. Kepadatan awal dari bibit mikroalga T. chuii adalah 5x104 sel.ml-1 dikultur dalam 15 erlenmeyer dengan volume 250 ml. Pengontrolan pH selama penelitian dilakukan setiap dua kali sehari mulai hari ke-0 sampai hari ke-7 menggunakan pH meter. Variabel yang diamati adalah kepadatan sel, laju pertumbuhan spesifik, produktivitas biomassa dan kandungan lipid. Ekstraksi dan analisis lipid mengacu pada metode Bligh dan Dyer dengan modifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi pH mempengaruhi kepadatan sel. Kepadatan sel akhir tertinggi didapatkan pada T. chuii yang dikultur pada pH 7 dan 6.5. variasi pH juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, produktivitas biomassa dan kandungan lipid mikroalga T. chui. Penurunan pH sampai 6.5 dan 7 melambatkan onset fase eksponsial pada T. chuii. Penelitian ini menunjukkan bahwa pH 7 dan 8 merupakan pH yang optimal untuk pertumbuhan T. chuii. Produksi lipid T. chuii dalam berbagai variasi pH masih rendah berkisar 0.8-1.1%.Microalgae is an important live feed in aquaculture hatchery and their growth and nutritional content depend on water quality such as temperature, salinity, and pH. Decreasing pH as a result of ocean acidification has been affected growth and lipid content of microalgae. This study aimed to determine the effect of decreasing pH on the growth and lipid content of microalgae T. chuii. This study was designed in a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications. Four treatments were given based on variations in pH (6.5, 7, 7.5, 8 and pH Control 7.8) for 7 days of cultivation. The initial density of T. chuii used was 5 x 104 cells.ml-1 cultured in 15 of 250 ml Erlenmeyer flasks. Measurement of pH during the study was done twice a day using a pH meter. The variables observed in this study were cells density, specific growth rate, biomass productivity and lipid. Extraction and analysis of lipids using modified Bligh and Dyer method. The study showed that pH variation affected final cells density of T. chuii. The highest final cell density was found in T. chuii cultured at pH 7 and 6.5. Also, variations in pH significantly affected specific growth rate, biomass productivity and lipid content of T. chuii. Lowering the pH to 6.5 and 7 slowed the onset of the exponential phase in T. chuii. This study showed that pH 7 and 8 were optimal for the growth of T. chuii cultured in 12 media. The production of lipids in T. chuii at various pH variations was still low, ranging from 0.8-1.1%.