cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
EVALUASI MASKULINISASI PLATI PEDANG, Xiphophorus helleri MENGGUNAKAN KOMBINASI EKSTRAK BUAH PINUS, Pinus merkusii DENGAN AROMATASE INHIBITOR Akbar, Muhamad Saepul; Sudrajat, Agus Oman; Arfah, Harton; Soelistyowati, Dinar Tri
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.9-15

Abstract

Hormon 17α-methyltestostrone sudah banyak digunakan untuk maskulinisasi pada kegiatan budidaya namun, bahan tersebut bersifat karsinogenik sehingga diperlukan alternatif pengganti bahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek kombinasi ekstrak buah pinus (Pinus merkusii) dan aromatase inhibitor pada ikan plati pedang. Sebanyak 5 perlakuan menggunakan bahan berbeda, yaitu 17α-methyltestostrone, ekstrak buah pinus, aromatase inhibitor, kombinasi ekstrak buah pinus dan aromatase inhibitor, serta kontrol dengan masing-masing 3 ulangan.  Perendaman dilakukan selama 6 jam, kemudian ikan dipelihara selama 60 hari. Rasio induk jantan dan betina yang digunakan untuk pemijahan ikan pada penelitian ini adalah 1:3. Penelitian ini berfokus pada tiga parameter, yakni Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH), Nisbah Kelamin Jantan (NKJ) dan jumlah ikan jantan yang dihasilkan pada tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan ikan yang direndam pada bahan berbeda menghasilkan nilai nisbah kelamin jantan yang lebih tinggi. Dosis terbaik pada penelitian ini adalah perendaman dengan ekstrak buah pinus dengan dosis 0,02 mL L-1.The hormone 17α-methyltestostrone has been widely used for masculinization in aquaculture, however, this material is carcinogenic and it is required to find its alternative substitutions. The aim of this research to evaluate the effects of combination of pine cone (Pinus merkusii) extract and aromatase inhibitor on swordtail fish. A total of 5 treatments using different materials, namely: 17-α methyltestosterone, pine cone extract, aromatase inhibitor, pine cone extract mixed with aromatase inhibitor, and control with 3 replications. Immersion was conducted for 6 hour and the the fish were kept for 60 days. The ratio of male to female parents used for fish spawning was 1:3. The study focused on three parameters, i.e. survival rate, male fish percentage, and number male fish produced. The results revealed fish immersed with different materials exhibited higher male fish percentage compared to the control group (not immersed). The best treatment in this research was immersion using pine cone extract with dosage of 0.02 mL L-1.
EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa balbisiana) DALAM PAKAN UNTUK PENGOBATAN INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE Rudi, Mad; Sasongko, Agung Setyo; Alpina, Alpina; Nuraulia, Resti Eka
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.91-98

Abstract

Penyakit Motile Aeromonad Septicemia merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila yang sering menyerang pembudidayaan ikan lele. Pengobatan melalui antibiotik sudah dilarang oleh pemerintah karena dapat merusak lingkungan dan tidak aman bagi ikan. Alternatif penggunaan bahan-bahan herbal sebagai bahan pengobatan merupakan solusi bagi ikan lele. Tujuan penelitian untuk menguji bahan-bahan herbal sebagai pengobatan merupakan solusi ekstrak kulit pisang kepok dalam pakan untuk pengobatan penyakit Motile Aeromonad Septicemia. Penelitian terdiri dari perlakuan 3 dosis ekstrak (A; 1.0 gkg pakan, B; 2.0 g/kg pakan, C; 4.0 g/kg pakan) serta 2 kontrol (positif dan negatif) dengan masing-masing ulangan. Bobot benih ikan lele yang digunakan adalah 11±0,59 g/ekor dan kepadatan bakteri yang digunakan 105 CFU/ml untuk uji antagonis. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit pisang kepok berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan lele (p<0.05). Hasil penelitian gambaran darah ikan lele menunjukkan ekstrak kulit pisang kepok berpengaruh terhadap peningkatan status kesehatan ikan ele dan perlakuan dosis B (2.0 g/kg pakan) merupakan dosis yang terbaik. Ekstrak kulit pisang kepok dapat meningkatkan taraf kelangsungan hidup ikan lele dan status kesehatan ikan Pasca infeksi bakteri A. hydrophila.Motile Aeromonad Septicemia is a disease caused by infection with Aeromonas hydrophila bacteria that often attacks catfish farming. Treatment through antibiotics has been banned by the government because it can damage the environment and is not safe for fish. Alternative use of herbal ingredients as treatment aimed to test the use of kepok banana peel extract for the treatment of disease is a solution for catfish. This study consisted of 3 doses of extract treatment (A; 1.0 g/g feed, B; 2.0 g/kg feed, G4.0 gkg feed) and 2 controls (positive and negative) with 3 replications each. The weight of catfish fry used was 11±0,59 g/fish and the density of bacteria used was 105 CFU/ml for the antagonistic test. The results showed that kepok banana peel extract had an effect on catfish survival (p<0.05). The results of the study showed that kepok banana peel extract had an effect on improving the health status of catfish and treatment dose B (2.0 g/kg feed) was the best dose. Kepok banana peel extract can improve catfish survival and health status of fish after A. hydrophila bacterial infection.
SINTASAN, PERTUMBUHAN DAN PROKSIMAT TUBUH IKAN OPUDI, Telmatherina bonti (Weber and De Beaufort, 1922) SELAMA DOMESTIKASI Nursyahran, Nursyahran; Heriansah, Heriansah; Jayadi, Jayadi; Ilmiah, Ilmiah; Yusuf, Andi
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.41-46

Abstract

Ikan opudi, Telmatherina bonti, termasuk ikan endemik di Danau Towuti. Ikan opudi sudah menurun populasinya, sehingga perlu dilestarikan dengan domestikasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian pakan alami yang berbeda terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kandungan proksimat tubuh ikan opudi dengan masa pemeliharaan selama 60 hari.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu pemberian Daphnia sp., Artemia salina dan  Chironomus sp dengan 3 kali ulangan. Sintasan dan pertumbuhan mutlak dan kandungan protein tubuh ikan yang tertinggi diperoleh pada pemberian Chironomus sp. Sintasan, pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, dan kandungan protein tubuh ikan yang diperoleh berturut-turut adalah 83,33±6,67%, 3,53±0,36 g, 4,98±0,50 cm, dan 64,85%. Kualitas air selama pemeliharaan adalah sebagai berikut suhu 27,2 - 28,60C, pH 7,4 - 8,3, oksigen terlarut 6,0 -  8,7 mg/l dan amoniak 0,044 - 0,074 mg/l. Ikan opudi sudah dapat dipelihara secara ex-situ.Opudi fish, Telmatherina bonti is an endemic fish in Lake Towuti. Opudi fish population has decreased, so it needs to be preserved through domestication. The aim of the study was to analyze the effect of different natural feeds on survival, growth and proximate body content of opudi fish during 60 days of rearing. The study was used a completely randomized design with the treatment of Daphnia sp, Artemia salina and Chironomus sp with 3 replications. The highest natural food for survival and absolute growth as well as protein content of fish body was Chironomus sp. The survival, absolute weight growth, absolute length growth, and body protein content of fish obtained were 83.33 ± 6.67 %, 3.53 ± 0.36 g, 4.98 ± 0.50 cm, and 64 .85%, respectively. Water quality during maintenance was as follows: temperature 27.2 - 28.60C, pH 7.4 - 8.3, dissolved oxygen 6.0 - 8.7 mg/l and ammonia 0.044 - 0.074 mg/l. Opudi fish was reared ex-situ.
POLA PERTUMBUHAN DAN KUALITAS KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii HASIL BUDIDAYA DI PERAIRAN MAMUJU, SULAWESI BARAT Perdana Sari, Wiwin Kusuma; Muslimin, Muslimin
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.75-82

Abstract

Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas utama dari budidaya rumput laut yang menjadi pemasok utama kebutuhan karaginan kappa untuk berbagai bidang industri. Budidaya K. alvarezii masih menjadi sumber pendapatan yang diandalkan masyarakat pesisir Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan di Perairan Mamuju, Sulawesi Barat. Penelitian dilakukan di Perairan Mamuju, Sulawesi Barat pada Januari hingga Agustus 2021. Rumput laut K. alvarezii dipelihara dengan menggunakan metode tali panjang (longline ) selama lima periode tanam (45 hari/periode). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kualitas karaginan K. alvarezii adalah berfluktuasi. Laju pertumbuhan terbaik pada periode tanam pertama antara Januari dan Februari dengan nilai 2,73±0,05%/hari. Serangan epifit Neosiphonia apiculata pada periode kedua dan serangan hama penyu pada akhir periode tanam ke-empat dan ke-lima berakibat fatal terhadap budidaya K. alvarezii. Rendemen karaginan K. alvarezii tergolong tinggi dengan kadar tertinggi mencapai 48,22±0,87%, Kadar viskositas berkisar 3,58±0,51 cP - 10,44±0,57 cP. Secara kuantitas rendemen yang dihasilkan tinggi tetapi kualitasnya kurang baik.Kappaphycus alvarezii is the main commodity in seaweed cultivation and serves as a major supplier for kappa carrageenan needs in various industrial sectors. The cultivation of K. alvarezii remains a reliable source of income for coastal communities in West Sulawesi. This research aimed to analyse the growth patterns and carrageenan quality of K. alvarezii cultivated in the waters of Mamuju, West Sulawesi. The study was carried out in the Mamuju waters from January to August 2021. K. alvarezii was cultivated using the long line method for five planting periods (45 days per period). The research results indicated that the growth and carrageenan quality of K. alvarezii fluctuate. The highest growth rate occurred in the first planting period between January and February, with value of 2.73 ± 0.05%/day. Epiphyte attack by Neosiphonia apiculata during the second period and turtles attack at the end of the fourth and fifth planting periods had fatal consequences for K. alvarezii cultivation. The carrageenan yield of K. alvarezii is relatively high, with the highest content reaching 48.22 ± 0.87%. Viscocity levels ranged from 3.58 ± 0.51 cP to 10.44 ± 0.57 cP. While the quatity of the carrageenan yield was high, the quality was somewhat lacking.
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH SAYURAN DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP KEPADATAN SEL Chlorella sp. Rosyadi, Rosyadi; Hasibuan, Afap; Setiaji, Jarod; Hadi, Khairul
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.1-7

Abstract

Limbah sayuran, meskipun potensial mencemari lingkungan, dapat diubah menjadi sumber nutrisi yang bernilai dengan mengolahnya menjadi pupuk organik cair (POC) yang dapat mendukung pertumbuhan mikroalga Chlorella sp. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi POC limbah sayuran terhadap kepadatan sel Chlorella sp. Melalui rancangan acak lengkap dengan lima variasi konsentrasi (4 mL L-1, 5 mL L-1, 6 mL L-1, 7 mL L-1 dan 8 mL L-1) dan tiga ulangan, kami mengevaluasi efeknya selama 20 hari terhadap parameter seperti kepadatan sel, laju pertumbuhan spesifik, biomassa, serta penyerapan nutrien dan kualitas air. Hasilnya mengungkapkan bahwa konsentrasi POC limbah sayuran secara signifikan memengaruhi kepadatan sel Chlorella sp., dengan perlakuan terbaik tercapai pada konsentrasi 5 mL L-1. Pada hari ke-14, kepadatan sel mencapai 893,33 ± 5,78 ×104 sel mL-1, dengan biomassa sebesar 0,38 ± 0,00 g L-1 dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,09 hari-1. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa konsentrasi POC limbah sayuran 5 mL L-1 optimal untuk kultur Chlorella sp., memberikan kontribusi penting dalam pengembangan solusi berkelanjutan untuk pengelolaan limbah dan produksi biomassa mikroalga.Vegetable waste, despite its potential environmental pollution, can be transformed into a valuable nutrient source by processing it into liquid organic fertilizer (LOF) that can support the growth of the microalga Chlorella sp. This study aims to analyze the effect of vegetable waste LOF concentration on the cell density of Chlorella sp. Through a completely randomized design with five concentration variations (4 mL L-1, 5 mL L-1, 6 mL L-1, 7 mL L-1, and 8 mL L-1) and three replicates, we evaluated its effects over a period of 20 days on parameters such as cell density, specific growth rate, biomass, nutrient uptake, and water quality. The results revealed that the concentration of vegetable waste LOF significantly influenced the cell density of Chlorella sp., with the best treatment achieved at a concentration of 5 mL L-1. On day 14, the cell density reached 893.33 ± 5.78 ×104 cells mL-1, with a biomass of 0.38 ± 0.00 g L-1, and a specific growth rate of 0.09 day-1. The conclusion of this research confirms that a concentration of 5 mL L-1 of vegetable waste LOF is optimal for Chlorella sp. culture, providing a significant contribution to the development of sustainable solutions for waste management and microalgae biomass production.
PENGARUH PENAMBAHAN DAUN KELOR SEGAR (Moringa oleifera Lamk.) DALAM PAKAN TERHADAP PERTUBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN LELE (Clarias gariepinus) STRAIN SANGKURIANG Farid, Akhmad; Sugianti, Elfira Puspa; Arisandi, Apri; Triajie, Haryo
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.39-46

Abstract

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki tingkat adaptasi cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan selama 35 hari pemeliharaan dengan tujuan mengetahui pengaruh pemberian daun kelor segar pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan lele strain sangkuriang. Pemberian daun kelor segar sebagai tambahan pakan ditujukan sebagai bahan baku alternatif dikarenakan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga mampu memenuhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini ada 4 perlakuan dengan 3 ulangan yaitu 100% pelet, 90% pelet+10% daun kelor segar, 85% pelet+15% daun kelor segar, dan perlakuan 80% pelet+20% daun kelor segar. Pemberian daun kelor segar memberikan pengaruh nyata terhadap bobot ikan lele sangkuriang dimana nilai tertinggi yaitu pada pemberian 80% pelet+20% daun kelor segar sebesar 6,65±2,42 gram. Pemberian daun kelor segar tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan panjang ikan lele sangkuriang. Penambahan panjang paling tinggi yaitu pada perlakuan 85% pelet+15% daun kelor segar yaitu 2,79±0,99 cm. Pemberian daun kelor segar memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang. Nilai SR paling tinggi yaitu pada perlakuan 80% pelet+20% daun kelor segar yaitu sebesar 91,36%. Penambahan daun kelor segar memberikan pengaruh nyata terhadap nilai FCR ikan lele sangkuriang. Nilai FCR paling rendah yaitu pada perlakuan 100% pelet yaitu 0,61%. Kadar amonia yang dihasilkan selama penelitian berkisar antara 0,17-0,19 mg/L. Kadar terendah pada perlakuan 80% pelet+20% daun kelor segar sedangkan tertinggi pada perlakuan 100% pelet.Catfish is freshwater fish species that has a fairly high level of adaptation. This research was conducted for 35 days of maintenance with the aim of knowing the effect of fresh moringa leaves on the growth and survival of sangkuriang catfish. Giving fresh moringa leaves as a feed additive is intended as an alternative raw material because it has a high enough protein content so that it can meet the growth and survival rate. The treatment used in this study was 4 treatments and 3 repetitions namely 100% pellets, 90% pellets+10% fresh moringa leaves, 85% pellets+15% fresh moringa leaves, and 80% pellets+20% fresh moringa leaves. Giving fresh moringa leaves had a significant effect on the weight of sangkuriang catfish where the hightest value was the administration of 80% pellets+20% fresh moringa leaves of 6.65±2.42 grams. Giving fresh moringa leaves did not have a significant effect on the increase in length of the sangkuriang catfish. The highest increase in 85% pellets+15% fresh moringa leaves of 2.79±0.99 cm. Giving fresh moringa leaves had a significant effect on survival of sangkuriang catfish. The highest SR value was in treatment 80% pellets+20% fresh moringa leaves, which was 91.36%. The addition of fresh moringa leaves had a significant effect on the FCR value of sangkuriang catfish. The lowest FCR value in treatment 100% pellets which was 0.61%. The ammonia levels produced during the study ranged from 0.17-0.19 mg/L. The lowest level was in treatment with 80% pellets+20% fresh moringa leaves while the highest was in the control treatment.
Front Matter Vol. 19 No. 1 Akuakultur, Media
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.i-vi

Abstract

PEMANFAATAN SERBUK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa) UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN GABUS (Channa striata) Nugraha, Firman Pra Setia; Murniasih, Siti; Wadjdy, Edy Farid; Sirodiana, Sirodiana; Sudarmaji, Sudarmaji; Rahardjo, Sinung; Saputra, Adang
Media Akuakultur Vol 18, No 2 (2023): Desember, 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.18.2.2023.55-64

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan serbuk daun ketapang dalam memperbaiki media kualitas air benih ikan gabus (Channa striata). Efek dari perbaikan media ini adalah meningkatkan sintasan dan pertumbuhan benih ikan gabus. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan, yaitu frekuensi pemberian serbuk daun ketapang setiap 3, 5, 7 dan 9 hari sekali. Masingmasing perlakukan dilakukan ulangan sebanyak tiga ulangan. Ikan uji adalah benih ikan gabus dengan rata-rata panjang total dan bobot rata-rata individu berkisar 5,67 ± 0,01 cm3 dan 1,69 ± 0,01 g ekor-1 . Wadah pemeliharaan adalah akuarium kaca berdimensi 70 × 40 × 55 cm dengan volume air 28 L. Sebelum digunakan sebagai perlakuan, daun ketapang dihaluskan hingga mencapai ukuran 42,5 mikron kemudian dimasukan ke dalam kantung teh celup sebanyak 4,67 g. Dosis serbuk daun ketapang yang digunakan yaitu 0,5 g L-1 pada setiap akuarium (6 kantung per akuarium). Selama penelitian, ikan diberikan pakan komersial dengan protein sekitar 40% sebanyak 2 kali sehari secara at satiation. Parameter uji yang diamati antara lain kualitas air, sintasan, pertumbuhan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan dan retensi protein. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa frekuensi pemberian serbuk daun ketapang setiap 7 hari memberikan tingkat efektifitas terbaik dari segi sintasan mencapai (90,67 ± 2,89%), laju pertumbuhan spesifik (8,92±0,10% hari-1), rasio konversi pakan (0,94 ± 0,01%), rata-rata bobot mutlak (3,57±0,04 g ekor-1), panjang mutlak (2,46±0,06 cm) dan rasio protein (1,05±0,01) pada pemeliharaan benih ikan gabus.The objective of this study was to determine the effectiveness of Terminalia catappa leaf powder on the survival and growth of snakehead juveniles. The study was designed using a completely randomized design. The treatment given was frequency of soaking time for Terminalia catappa leaves powder, namely 3, 5, 7, and 9 days, each treatment consisting of three replications. The test fish were snakehead juveniles with an absolute length and avaradge body weight of 5.67 ± 0.01 cm and 1.69 ± 0.01 g fish-1 which were reared in a glass aquarium with dimensions of 70 × 40 × 55 cm 3 3 with a water volume of 28 L. Before use, the ketapang leaves were mashed until they reach a size of 42.5 microns then put into a 5 g bag. The dose of ketapang leaf powder used was 0.5 g L-1 in each aquarium (6 bag per aquarium). During the research, the fish were given commercial feed with a protein content of ±40% twice daily at satiation. The parameters observed were water quality, survival, absolute weight and length, specific growth rate, feed conversion ratio, and protein retention. The results of statistical analysis showed that the frequency of soaking time for Terminalia catappa leaves powder every 7 days gave the best effectiveness rate of survival (90.67±2.89%), absolute weight growth (3.57±0.04 g fish -1), absolute length (2.46 ± 0.06 cm), specific growth rate (8.92±0.10% day -1) and protein retention (1,05±0,01) of snakehead juvenile rearing.
KEBERADAAN Vibrio spp. PADA IKAN KERAPU CANTANG Epinephelus sp. DI KJA PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Borut, Ruku Ratu; Pattipeiluhu, Shelly Mieke; Rijoly, Stefanno Markus Anthony; Sahetapy, Jacqueline Marleen F.
Media Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.2.2024.47-54

Abstract

Analisis keberadaan Vibrio spp. pada lingkungan budidaya sangat penting diketahui. Hal tersebut berkaitan dengan prinsip-prinsip biosecurity yang ketat untuk memastikan kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Vibrio spp. ikan kerapu cantang di Keramba Jaring Apung (KJA) perairan Pulau Kelapa Dua. Jumlah ikan sampel sebanyak 10 ekor terdiri dari 5 ekor ikan kerapu cantang dan 5 ekor ikan liar. Media agar Sea Water complete (SWC) digunakan sebagai media pengamatan total bacteria count, sedangkan media agar Tiosulfat Citrate Bile-Salt Sucrose (TCBS) digunakan sebagai media pengamatan parameter total Vibrio count, sampel organ hati dan ginjal diinkubasi pada suhu 28ºC selama 24 jam. Identifikasi jenis Vibrio spp. dengan uji biokimia dan uji KIT API 20 NE secara deskriptif. Jenis-jenis bakteri Vibrio spp. yang ditemukan terdeteksi tiga jenis bakteri, yaitu Vibrio vulnificus, V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus. Histopatologi organ hati mengalami perubahan pada sel necrosis dan vacuolasi sedangkan ginjal mengalami kongesti pada leukocyte infiltration; necrosis; tubular cells. Simpulan penelitian ini adalah keberadaan bakteri Vibrio spp. terdapat pada ikan liar dan kerapu cantang yang mengindikasikan terjadinya transmisi patogen dari ikan liar ke ikan budidaya atau sebaliknya, sedangkan histologi pada organ hati terjadi perubahan pada sel necrosis dan vacuolasi sedangkan ginjal mengalami kongesti pada leukocyte infiltration; necrosis; tubular cells.Analysis of the presence of Vibrio spp. in the cultivation environment is very important to know. This is related to strict biosecurity principles to ensure fish health. This study aims to identify Vibrio spp.—bacteria in hybrid groups in KJA in the waters of Kelapa Dua Island. The number of sample fish was 10, consisting of 5 hybrid groupers and 5 wild fish. Sea Water Complete (SWC) agar media was used as a medium for observing total bacteria count, while Thiosulfate Citrate Bile-Salt Sucrose (TCBS) agar media was used as a medium for observing total Vibrio count parameters. Liver and kidney organ samples were incubated at 28 C for 24 hours. Identification of Vibrio spp. types with biochemical tests and KIT API 20 NE tests descriptively. Vibrio spp. bacteria were detected as three types of bacteria, namely Vibrio vulnificus, V. alginolyticus, and V. parahaemolyticus. Histopathology of the liver organ experienced changes in necrosis and vacuolation cells while the kidneys experienced congestion in leukocyte infiltration, necrosis, and tubular cells. The conclusion of this study is the presence of Vibrio spp. bacteria in wild fish and hybrid grouper, which indicates the transmission of pathogens from wild fish to farmed fish or vice versa, while histology of the liver organ experienced changes in necrosis and vacuolation cells, while the kidneys experienced congestion in leukocyte infiltration, necrosis, and tubular cells.
EFEKTIVITAS EKSTRAK SEDUHAN BATANG POHON PISANG AMBON DALAM MENCEGAH INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA LARVA IKAN NILA Nuryati, Sri; Wahjuningrum, Dinamella; Zulhelmi, Arif; Kurniaji, Ardana
Media Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.2.2024.55-62

Abstract

Salah satu kendala dalam produksi ikan nila adalah serangan penyakit Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Alternatif pengendalian MAS adalah dengan menggunakan antibakterial dari bahan herbal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dosis optimal ekstrak batang pisang ambon dalam mencegah infeksi A. hydrophila pada larva ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap tiga perlakuan dan 3 ulangan meliputi 0,1%, 0,25%, dan 0,5% dosis ekstrak. Aplikasi ekstrak pada larva ikan melalui imersi selama 30 menit. Larva dipelihara 7 hari dan diuji tantang dengan bakteri A. hydropphila 10t CFU/mL selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak batang pisang ambon menghasilkan kelangsungan hidup larva ikan nila lebih tinggi pasca uji tantang. Dosis ekstrak batang pisang 0,25% dan 0,5% mempertahankan kelangsungan hidup lebih baik yakni 90,01±1,81%, dengan RPS 84,54%. Aktivitas lisozim pada perlakuan 0,25% dan 0,5% menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak seduh batang pisang dapat mencegah infeksi bakteri A. hydrophila.One of the challenges in tilapia production is the outbreak of Motile Aeromonad Septicemia (MAS) during the larval stage, caused by the bacterium Aeromonas hydrophila. An alternative method for controlling MAS is the use of antibacterial agents derived from herbal materials. The aim of this study was to analyze the optimal dosage of ambon banana stem extract in preventing A. hydrophila infection in tilapia larvae. The study used a completely randomized design with three treatments and three replicates, including 0.1%, 0.25%, and 0.5% extract dosages. The extract was applied to the larvae by immersion for 30 minutes. The larvae were reared for 7 days and then challenged with A. hydrophila bacteria at 10t CFU/mL for 7 days. The results showed that the ambon banana stem extract treatment resulted in higher survival rates of tilapia larvae after the challenge test. Dosages of 0.25% and 0.5% extract maintained better survival rates at 90.01±1.81%, with an RPS of 84.54%. Lysozyme activity in the 0.25% and 0.5% treatments showed higher results. This study demonstrates that banana stem extract can prevent A. hydrophila bacterial infections