cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Kinetika Degradasi Air Limbah Menggunakan Media Tutup Botol Plastik PET dengan Reaktor Aerobik MBBR Muliyadi, Muliyadi; Purwanto, Purwanto; Sumiyati, Sri; Budiyono, Budiyono; Sudarno, Sudarno; Warsito, Budi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.59-67

Abstract

Latar belakang: Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis laju kinetika degradasi pengolahan air limbah biologi menggunakan model Michaelis-Menten dan regresi linier.Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Sampel diambil dengan teknik grab sample dan diambil pada 4 titik dengan jumlah 70 liter yang dibagi sama rata pada tiap titik. Penentuan model dilakukan dengan menggunakan persamaan Michaelis-Menten dan regresi linier. Reaktor terbuat dari fiberglass, berukuran panjang 40 cm, lebar 40 cm, tinggi 50 cm, dan tebal 4 mm. Reaktor memiliki kapasitas 80 L. Inlet dan Outlet air limbah dirancang dengan menggunakan pipa PVC. Percobaan dijalankan selama 30 hari. Total luas permukaan semua media adalah 14.130 cm2. Analisis data menggunakan uji regresi linear dan persamaan michaelis-menten.Hasil: Hasil pemodelan persamaan Michaelis-Menten menunjukkan nilai R2 mendekati sempurna, yang menunjukkan kedekatan dengan kondisi lapangan sebenarnya. Kondisi aerobik berlangsung lebih lama dan memungkinkan terjadinya degradasi BOD, COD, dan TSS. Konstanta Menten untuk menghilangkan BOD, COD, dan TSS masing-masing adalah 17,7, 80,5, dan 135. Nilai R2 yang diperoleh dengan menggunakan model regresi linier mendekati angka sempurna, yaitu untuk parameter BOD (0,995), COD (0, 9934), dan TSS (0,9665). dengan nilai y masing-masing -0,0613, -0,0467, -0,042. Persamaan yang diperoleh dari hasil pemodelan regresi adalah Y = 31,245-0,030X1 + 0,015X2 + 0,044X3 + e.Simpulan: Model yang digunakan mampu memprediksi secara akurat degradasi BOD, COD, dan TSS dalam kondisi aerobik. Studi ini menyarankan pengoptimalan kondisi aerobik dalam praktik pengolahan air limbah untuk meningkatkan efisiensi penghilangan BOD, COD, dan TSS, menggunakan model Michaelis-Menten untuk pengurangan polutan yang efektif. Besarnya gelembung udara yang dihasilkan aerator tidak dikontrol sehingga tidak dapat dimaksimalkan laju aliran udara yang masuk pada reaktor yang mungkin akan berpengaruh pada hasil kerja reaktor. Penelitian ini meningkatkan pengetahuan pengolahan air limbah dengan menunjukkan efektivitas model Michaelis-Menten dalam menganalisis laju degradasi dan menekankan penggunaan media plastik, sehingga menawarkan wawasan berharga untuk penelitian masa depan. Title:  Wastewater Degradation Kinetics Using PET Plastic Bottle Capping Media with MBBR Aerobic ReactorBackground: The purpose of this study was to analyze the rate of degradation kinetics of biological wastewater treatment using the Michaelis-Menten model and linear regression.Method: This type of research is experimental. Samples were taken using the grab sample technique and taken at 4 points with a total of 70 liters divided equally at each point. Model determination was carried out using the Michaelis-Menten equation and linear regression. The reactor was made of fiberglass, measuring 40 cm long, 40 cm wide, 50 cm high, and 4 mm thick. The reactor has a capacity of 80 L. The wastewater inlet and outlet were designed using PVC pipes. The experiment was run for 30 days. The total surface area of all media was 14,130 cm2. Data analysis used linear regression tests and the Michaelis-Menten equation.Results: The results of the Michaelis-Menten equation modeling showed an R2 value close to perfect, which indicated closeness to actual field conditions. Aerobic conditions lasted longer and allowed for degradation of BOD, COD, and TSS. Menten's constants for removing BOD, COD, and TSS were 17.7, 80.5, and 135, respectively. The R2 value obtained using the linear regression model approached the perfect number, namely for the parameters BOD (0.995), COD (0.9934), and TSS (0.9665). with y values of -0.0613, -0.0467, -0.042, respectively. The equation obtained from the results of the regression modeling is Y = 31.245-0.030X1 + 0.015X2 + 0.044X3 + e. Conclusion: The model used is able to accurately predict the degradation of BOD, COD, and TSS under aerobic conditions. This study suggests optimizing aerobic conditions in wastewater treatment practices to improve the efficiency of BOD, COD, and TSS removal, using the Michaelis-Menten model for effective pollutant reduction. The size of the air bubbles produced by the aerator is not controlled so that the rate of air flow entering the reactor cannot be maximized, which may affect the results which could minimize the reactor's working time. This study enhances the knowledge of wastewater treatment by demonstrating the effectiveness of the Michaelis-Menten model in analyzing degradation rates and emphasizing the use of plastic media, thus offering valuable insights for future research.
Analisis Eco Enzyme Berbahan Baku Kulit Jeruk Nipis dan Kulit Pisang Sebagai Antimikroba Hidayah, Nurul; Irianto, Redi Yudha; Mulyati, Sri Slamet
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.21-27

Abstract

Latar belakang: Produksi sampah di Indonesia sebanyak 60% berasal dari sampah rumah tangga yaitu sampah organik. Timbulan sampah organik di kota Bandung tahun 2021 sebanyak 1735,99 m3/hari atau 44,51%. Sampah organik yang mudah membusuk jika tidak dikelola secara tepat akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan dapat menimbulkan pencemaran tanah, air maupun udara, sehingga diperlukan pengelolaan sampah organik secara tepat. Pengelolaan sampah ogranik diutamakan dilakukan pada sumbernya. Salah satunya dengan cara memanfaatkan sampah organik kulit buah-buahan menjadi Eco Enzyme. Eco Enzyme merupakan larutan yang dihasilkan  melalui proses fermentasi secara anaerob yang berbahan dasar kulit buah. Manfaat larutan eco enzyme salah satunya sebagai antimikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik larutan eco enzyme berbahan kulit jeruk nipis dan kulit pisang sebagai antimikroba dalam bentuk sabun cuci alat makan.Metode: Penelitian eksperimen, desain Pre-Post Test. Varibel independen yaitu eco enzyme kulit jeruk nipis, dan eco enzyme kulit pisang. Variabel dependen yaitu angka kuman pada piring. Sampel yaitu alat makan berupa piring yang diambil secara purposive sampling yaitu sampel piring berdiameter 25 cm. Tahapan penelitian melalui pembuatan eco enzyme, pencucian sampel piring menggunakan eco enzyme, dan menghitung angka kuman pada piring. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium untuk data angka kuman. Data deskriptif untuk karakteristik eco enzyme.Hasil: Karakteristik larutan eco enzyme kulit jeruk nipis mempunyai aroma asam segar buah jeruk nipis, warna cokelat keruh oren dan mempunyai pH 3,2. Karakteristik larutan eco enzyme kulit pisang mempunyai aroma asam buah pisang, warna cokelat kekuningan dan mempunyai pH 3,8. Hasil uji larutan eco enzyme sebagai antimikroba menunjukan presentase penurunan angka kuman menggunakan sabun cuci berbahan eco enzyme kulit jeruk tertinggi yaitu 100%, terendah 40%, sedangkan presentase penurunan angka kuman menggunakan sabun cuci berbahan eco enzyme kulit pisang tertinggi yaitu 100%, terendah 28%. Hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p-value 0,028 yang berarti ada perbedaan eco enzyme kulit jeruk dan eco enzyme kulit pisang dalam menurunkan angka kuman sebagai antimikroba pada sampel piring.Simpulan: Pengukuran pH yang lebih asam pada eco enzyme kulit jeruk nipis. Hasil uji larutan eco enzyme sebagai antimikroba menunjukan 100% adanya penurunan angka mikroba pada sampel menggunakan sabun cuci piring eco enzyme kulit jeruk maupun kulit pisang. Hasil uji Mann Whitney ada perbedaan eco enzyme kulit jeruk dan eco enzyme kulit pisang dalam menurunkan angka kuman pada sampel piring. Larutan eco enzyme dapat digunakan oleh masyarakat sebagai larutan antimikroba. ABSTRACT Title:  Analysis of Eco enzyme Made from Lime Peel and Banana Peel as an AntimicrobialBackground:  In Indoensia, 60% of waste comes from households, with organic waste accounting for a significant portion. The generation of organic waste in the city of Bandung in 2021 was 1735,99 m3/day or 44,51%. Organic waste that decomposes easily if not managed properly will have an impact on public health and can cause soil, water and air pollution, so proper management of organic waste is necessary. Organic waste management is prioritized at the source. One way is to utilize organic fruit peel waste into Eco Enzyme. Eco Enzyme is a solution produced through an anaerobic fermentation process using fruit peels as the main ingredient. One of the benefits of eco enzyme solution is as an antimicrobial. The purpose of this study is to determine the characteristics of eco enzyme solution made from lime and banana peels as an antimicrobial in the form of dishwashing soap. Method: This research employs an experimental design with a pre-post test. Independent variables are lime peel eco enzyme, and banana peel eco enzyme. Dependent variable is the number of germs in the plate. Samples are cutlery in the form of plates taken by purposive sampling, namely plate samples with a diameter 25 cm. The stages of study were through making eco enzyme, washing plate samples using eco enzyme, and calculating the number of germs on the plate. Data were collected through laboratory examination for germ count data. Descriptive data for eco enzyme characteristics.Results: The characteristics of the lime peel eco enzyme solution have a fresh sour lime aroma, a cloudy orange brown color and a pH of 3.2. The characteristics of the banana peel eco enzyme solution have a sour banana aroma, yellowish brown color and have a pH of 3.8. The results of the eco enzyme solution test as an antimicrobial showed that the highest percentage reduction in germ numbers using washing soap made from orange peel eco enzyme was 100%, the lowest was 40%, while the percentage reduction in germ numbers using washing soap made from banana peel eco enzyme was the highest, namely 100%, the lowest was 28% . The results of the Mann Whitney test obtained a p-value of 0.028, which means there is a difference between lime  peel eco enzyme and banana peel eco enzyme in reducing the number of germs as antimicrobials on plate samples.Conclusion: The pH measurement of lime peel eco-enzyme is more acidic. The results of the antimicrobial test of the eco-enzyme solution showed a 100% decrease in the number of microbes in the samples using both lime peel and banana peel eco-enzyme dishwashing soap. The results of the Mann Whitney test showed differences between lime peel eco enzyme and banana peel eco enzyme in reducing the number of germs on plate samples. Eco-enzyme solution can be used by the public as an antimicrobial solution 
Association between Air Pollutants and Levels of Macrophage Inflammatory Protein-2 in Purwokerto Informal Workers Rosy, Freshyama Daniar; Roestijawati, Nendyah; Mulyanto, Joko
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.1-8

Abstract

Judul : Hubungan Pencemaran Udara dengan Kadar Protein Inflamasi Makrofag-2 pada Pekerja Informal PurwokertoLatar belakang: Tingkat polusi udara di Indonesia telah meningkat secara signifikan dalam dekade terakhir, yang sejalan dengan peningkatan insidensi gangguan pada sistem pernapasan, termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Deteksi dini gangguan sistem pernapasan akibat polusi udara menggunakan penanda biologis berpotensi mencegah keparahan penyakit meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan polutan udara dengan kadar Macrophage Inflammatory Protein-2 (MIP-2) pada pekerja sektor informal di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.Metode: Studi belah lintang dilakukan pada 35 pekerja parkir luar ruang dan 35 pekerja informal dalam ruang di Purwokerto pada Maret 2021. Kadar particulate matter (PM) diukur menggunakan particle counter sebagai parameter tingkat polusi udara. Kadar. MIP-2 diukur dari sampel darah partisipan dengan menggunakan metode ELISA. Data dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney, Korelasi Spearman, dan analisis multivariat dengan Generalized Linear Model untuk mengevaluasi hubungan antara paparan polutan udara dan kadar MIP-2.Hasil: Kadar polutan udara di luar ruangan lebih tinggi dibandingkan di dalam ruangan (p=0,00), dan kadar MIP-2 lebih tinggi pada pekerja di luar ruangan dibandingkan pekerja di dalam ruangan (p=0,00). Kadar debu tidak berkorelasi dengan kadar MIP-2, baik pada pekerja di dalam ruangan (r=0,03; p=0,85), pekerja di luar ruangan (r=-0,31; p=0,07), maupun secara keseluruhan (r=0,20; p=0,09). Lama kerja total dan per hari juga tidak memiliki korelasi dengan kadar MIP-2 pada pekerja. Analisis multivariat menunjukkan tidak adanya hubungan antara durasi paparan dan kadar MIP-2 setelah dikendalikan oleh variabel usia dan kadar polusi udara.Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara kadar debu dan kadar MIP-2 di lokasi luar ruangan dibandingkan dengan dalam ruangan. Pajanan polutan udara, baik dari segi tingkat maupun durasi, secara konsisten tidak berkorelasi dengan kadar MIP-2 pada pekerja. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami interaksi antara paparan polutan udara, kadar MIP-2, dan kondisi klinis gangguan pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara. ABSTRACTBackground: Air pollution level has significantly increased in Indonesia followed by the increase in respirational disorders such as Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) in the last decade. Early detection of air pollution-related respiratory disorders using biological markers potentially reduces the severity of these diseases, but further studies are still required. This research seeks to evaluate the relationship between exposure to air pollutants and Macrophage Inflammatory Protein-2 (MIP-2) levels among informal workers in Purwokerto, Banyumas District, Central Java Province. Method:  A cross-sectional study was carried out in March 2021 involving 35 informal outdoor workers and 35 indoor workers in Purwokerto. Particulate matter (PM) concentration was assessed using a particle counter, serving as an indicator of air pollution level. MIP-2 serum level was measured from participants' blood samples using the ELISA method. The Mann-Whitney test, Spearman correlation test, and multivariate analysis using the Generalized Linear Model were employed to assess the relationship between air pollutant exposure and MIP-2 serum levels.Result: The levels of air pollution (p=0.00) and MIP-2 serum (p=0.00) were significantly elevated in outdoor environments compared to indoor environment.  Exposure to air pollutants did not show a significant correlation with MIP-2 serum levels in outdoor workers (r=-0.31; p=0.07), indoor workers (r=0.03; p=0.85), or overall (r=0.20; p=0.09). The overall and daily working duration did not show a correlation with the MIP-2 serum levels in the workers. Multivariate analysis indicated that there was no association between the duration of exposure and MIP-2 levels when adjusted for age and air pollution level.Conclusions:  There were notable differences in air pollutant levels and MIP-2 serum levels between indoor and outdoor environments. Air pollutant exposure, both in duration and level, consistently did not correlate with the MIP-2 serum level of workers. Further studies are required to understand the interactions among air pollutant exposure, MIP-2 serum level, and clinical conditions of air pollution-related respiratory disorders.
Kualitas Air dan Hubungannya dengan Balita Stunting di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia Nurjazuli, Nurjazuli; Budiyono, Budiyono; Arso, Septo Pawelas
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.75-83

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kurang gizi, kondisi sanitasi yang jelek serta stimulus psikososial yang tidak cukup dengan indikator lebih dari minus 2 nilai Z Score menurut standar WHO. Kota Salatiga merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang masih terdapat permasalahan stunting, khususnya pada bayi baru lahir. Pada tahun 2018 telah lahir 251 bayi yang dianyatakan stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dampak pemakaian air dan analisis spasial sebaran balita stunting di Kota Salatiga.Matode: Penelitian ini merupakan penelitian obervasioanl dengan desain cross-sectional study. Data balita stunting ini diambil dari 150 balita stunting pada penelitian sebelumnya. Sampel penelitian sebanyak 46 balita yang masih berstatus stunting setelah mengalami masa perumbuhan selama 3-4 tahun. Variabel yang dikaji melipiuti jenis air dan pemanfaatan air, kualitas air, dan titik koordinat geografis. Pengumpulan data dilakukan melalui observsi, wawancara, pemeriksaan laboratorium, dan pengukuran titik koordinat geografis dengan menggunakan aplikasi GPS TEST pada android. Data dianalisis secara deskriptif, analitik, dan analisis spasial.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga balita stunting menggunakan jenis air PDAM (63,04%). Hasil pemeriksaan laboratorium mengindikasikan terjadi peningkatan proporsi kualitas air yang negatif bakteri coloform dari 44,7% menjadi 56,5%. Sebagian besar bayi stunting tahun 2018 telah tumbuh dan berkembang menjadi normal (69,33%), sisanya 30,67% masih berstatus sebagai balita stunting. Hasil analisis Chi-square menunjukan terjadi peningkatan secara signifikan kualitas air yang digunakan oleh keluarga balita dengan p-value 0,03. Analisis spasial menunjukkan bahwa 46 balita yang masih berstatus stunting menyebar merata di seluruh wilayah Puskesmas Kota Salatiga. Ada 4 kelurahan yang semua balita stuntingnya telah tumbuh dan berkembang menjadi normal pada tahun 2022 yaitu: Kelurahan Kalibening, Gendongan, Sirorejo Lor, dan Bugel.Simpulan: Peningkatan kualitas air yang lebih baik, yang digunakan keluarga balita stunting diikuti dengan penurunan proporsi balita stunting di Kota Salatiga. Balita yang masih berstatus stunting menyebar merata di seluruh wilayah Puskesmas di kota Salatiga. ABSTRACTTitle: Water Quality and Its Relation with Stunted Children Under Five in Salatiga City, Central Java, IndonesiaBackground: Stunting is a disorder of growth and development in children due to malnutrition, poor sanitary conditions and insufficient psychosocial stimulus with an indicator of more than minus 2 Z Score values according to WHO standards. Salatiga City is one of the cities in Central Java that still has stunting problems, especially in newborns. In 2018, 251 babies were born who were declared stunted. The purpose of this study is to analyze the impact of water use and spatial analysis of the distribution of stunting toddlers in Salatiga City.Mathods: This study is an obervasioanl study with a cross-sectional design. This stunting toddler data was taken from 150 stunting toddlers in a previous study. The study sample was 46 toddlers who were still stunted after experiencing a growth period of 3-4 years. The variables studied include water type and water utilization, water quality, and geographic coordinates. Data collection is carried out through observation, interviews, laboratory examinations, and measurement of geographic coordinate points. Data is analyzed in descriptive, analytical, and spatial analysis.Results: The results of this study show that most families who has stunting use PDAM water (63.04%). The results of laboratory tests indicated an increase in the proportion of water quality negative coloform bacteria from 44.7% to 56.5%. Most stunted babies in 2018 have grown and developed to normal (69.33%), the remaining 30.67% are still stunted toddlers. The results of the Chi-square analysis showed a significant improvement in the quality of water used by families under five with a p-value of 0.03. Spatial analysis showed that 46 toddlers who were still stunted were evenly distributed throughout the Salatiga City Health Center. There are 4 villages where all stunted toddlers have grown and developed to normal in 2022, namely: Kalibening, Gendongan, Sirorejo Lor, and Bugel Villages.Conclusion: Improvement in water quality used by stunted toddler families followed by a decrease in the proportion of stunted toddlers in Salatiga City. Toddlers who are still stunted spread evenly throughout the Puskesmas area in the city of Salatiga. 
Perubahan Karakteristik Fisika-Kimia Blotong dari Industri Gula Rafinasi Selama di Penimbunan Terbuka Putri, Annysa Arientika; Soesilo, Tri Edhi Budhi; Agustina, Haruki
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.9-20

Abstract

Latar belakang: Industri gula di Indonesia menghasilkan sekitar 120.218-190.440 ton blotong/tahun sebagai produk samping, yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca (NO dan CO2), air lindi, dan bau yang tidak sedap. Hingga kini, belum ada regulasi khusus terkait pengelolaan blotong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan karakteristik fisika-kimia blotong selama 2 bulan ditimbun di tempat penimbunan terbuka.Metode: Sampel blotong diambil dari salah satu Industri Gula Rafinasi di Banten dalam dua kondisi: fresh blotong (Bl-01) dan blotong yang ditimbun selama 2 bulan (Bl-02). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan analisis laboratorium. Sebanyak 13 parameter blotong (temperatur, warna, bau, konsistensi, kadar air, pH, kadar C-organik, kadar nitrogen, rasio C/N, kandungan sukrosa, kandungan kalium sebagai K2O, kandungan fosfor sebagai P2O5, dan kandungan kalsium sebagai CaO), dianalisis dan dibandingkan untuk melihat perubahan signifikan selama periode penimbunan. Data kemudian dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif, melalui grafik, tabel, diagram, dan perhitungan persentase.Hasil: Setelah 2 bulan penimbunan, analisis sampel Bl-01 dan Bl-02 menunjukkan adanya perubahan kimia-fisika, yaitu penurunan temperatur, intensitas warna, kadar air, kandungan sukrosa, dan pH blotong; meningkatnya kadar C-organik, rasio C/N, kandungan kalium, kandungan fosfor, dan kandungan kalsium pada blotong; bau blotong menjadi lebih masam, dengan tekstur blotong yang mengeras dan berpori, serta kadar nitrogen yang nilainya relatif stabil dari waktu ke waktu.Simpulan: Penimbunan blotong di tempat terbuka selama periode waktu tertentu mengakibatkan perubahan sifat kimia-fisika limbah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti potensi blotong untuk dimanfaatkan melalui komposting. ABSTRACT Title: Changes in Physico-Chemical Characteristics of Blotong (Filter Cake) from Refined Sugar Industry in Open Dumping FieldBackground: The sugar industry in Indonesia generates approximately 120,218-190,440 tons of filter cake (FC) per year as byproduct, which has the potential to release greenhouse gases (NO and CO2), leachate, and unpleasant odors. A key challenge in managing FC is the lack of regulations governing its disposal. This study aims to analyze the physical and chemical characteristic changes of FC over a 2-month period in an openddumpingffield.Method: FC samples were collected from a Refining Sugar Industry in Banten in two conditions: fresh FC (Bl-01) and FC stored in an open dumping field for 2 months (Bl-02). Data were collected through field observations and laboratory analysis. Thirteen parameters of FC (temperature, color, odor, consistency, moisture content, pH, organic C-content, nitrogen content, C/N ratio, sucrose content, potassium content as K2O, phosphorus content as P2O5, and calcium content as CaO) were analyzed and compared to observe significant changes during the dumping period. Data were analyzed using descriptive statistics, presented through graphs, tables, diagrams, and percentage calculations.Result: After 2 months, significant changes were observed, including a decrease in temperature, color intensity, moisture content, sucrose content, and pH of FC; an increase in organic carbon content, C/N ratio, potassium content, phosphorus content, and calcium content in FC; the odor became more acidic, the texture hardened and became porous, while nitrogen content remained stable over time.Conclusion: Open dumping of FC over time causes significant changes in its physical-chemical characteristics. Additionally, this research also highlights the potential of FC to be utilized through composting.
Evaluasi Peran Kepemilikan Jamban dalam Kejadian Stunting: Temuan dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan Saleh, Muh.; Yudianti, Anita; Damayati, Dwi Santy; Basri, Syahrul; Munawir Amansyah, Munawir Amanah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.101-108

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran kepemilikan jamban dan factor sanitasi lainnya terhadap kejadian stunting pada balita.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel 348 balita usia 6-59 bulan. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dan pengukuran fisik, dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Sebagian besar balita (81,6%) mengalami stunting, dan mayoritas rumah tangga memiliki jamban sehat (94,5%). Namun, hanya 33,3% responden memiliki kebiasaan cuci tangan yang baik, dan 78,7% rumah tangga melaporkan praktik pengolahan makanan yang buruk. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kepemilikan jamban dengan kejadian stunting (p=0,545). Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara sumber air minum (p=0,002), kebiasaan cuci tangan (p=0,003), dan pengolahan makanan (p=0,000) dengan kejadian stunting.Simpulan: Sumber air minum, kebiasaan cuci tangan, dan pengolahan makanan adalah faktor sensitif yang berhubungan dengan kejadian stunting, sedangkan kepemilikan jamban tidak berpengaruh signifikan. ABSTRACT Title: Evaluation of the Role of Toilet Ownership in Stunting Events: Findings from Jeneponto Regency, South SulawesiBackground: Stunting is a significant health issue in Indonesia, particularly in Jeneponto Regency, South Sulawesi. This study aims to evaluate the role of latrine ownership and other sanitation factors in the prevalence of stunting among children under five.Methods: This study employed a cross-sectional design with a sample of 348 toddlers aged 6-59 months. Data were collected through direct interviews and physical measurements and analyzed using the chi-square test.Results: The majority of children (81.6%) were found to be stunted, and most households had access to healthy latrines (94.5%). However, only 33.3% of respondents reported having good handwashing practices, and 78.7% of households reported poor food handling practices. There was no significant association between latrine ownership and stunting (p=0.545). Conversely, there were significant associations between drinking water sources (p=0.002), handwashing practices (p=0.003), and food handling practices (p=0.000) and stunting.Conclusion: Drinking water sources, handwashing habits, and food handling practices are sensitive factors associated with the incidence of stunting, whereas latrine ownership does not have a significant effect.
Hubungan Antara Indikator Rumah Sehat dan Status Gizi Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Balita di Kecamatan Sawahan, Surabaya Putri, Fayza Kirana; Putri, Novela Dwi Cahyani; Hendrati, Lucia Yovita
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.109-115

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis serta dapat ditularkan melalui droplet udara. Penyakit ini dapat diderita oleh semua kelompok umur, terutama kelompok balita. Salah satu faktor yang berisiko untuk meningkatkan kasus tuberkulosis paru pada balita adalah indikator rumah sehat dan status gizi balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara indikator rumah sehat dan status gizi dengan kejadian tuberkulosis paru pada balita di Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain case-control. Sampel terdiri dari 18 balita dalam kelompok kasus dan 54 balita dalam kelompok kontrol. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner serta observasi. Data penelitian akan dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square.Hasil: Hasil analisis uji statistik chi-square menujukkan bahwa jendela kamar tidur (p=0,000), keberadaan ventilasi (p=0,002), lubang asap dapur (p=0,000), pencahayaan (p=0,000), kebiasaan membuka jendela kamar tidur (p=0,005), kebiasaan membuka jendela ruang keluarga (p=0,010), dan status gizi (p=0,000) memiliki hubungan dengan kejadian tuberkulosis paru pada balita di Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya.Simpulan: Variabel jendela kamar tidur, ventilasi, lubang asap dapur, pencahayaan, kebiasaan membuka jendela di kamar tidur dan ruang keluarga, serta status gizi memiliki keterkaitan yang signifikan dengan insiden tuberkulosis paru pada balita di Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya promosi kesehatan dan pencegahan untuk menurunkan kasus tuberkulosis paru pada balita berdasarkan faktor risiko yang telah dianalisis sebelumnya. ABSTRACTTitle: Relationship Between Healthy House Indicators and Nutritional Status With Pulmonary Tuberculosis Among Toddlers In Sawahan District, Surabaya Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis which is transmitted through droplets. Tuberculosis can be suffered by all age groups, escpecially toddlers. Risk factors of tuberculosis such as health house indicators and nutritional status  This study aims to evaluate the relationship between healty house indicators and nutritional status with pulmonary tuberculosis among toddlers in Sawahan District, Surabaya.Method: This research was an observational analytic study with a case-control design. The sample consisted of 18 toddlers as the case group and 54 toddlers as the control group. Primary data was collected by observations and interviews using questinnaire and observation sheets. Data analysis technique used was chi-square statistical test.Result: The statistical anaylysis showed that bedroom windows (p=0,000), ventilation (p=0,002), kitchen smoke holes (p=0.000), lighting (p=0.000), the habit of opening bedroom windows (p=0.005), the habit of opening living room windows (p=0.010)  and nutritional status (p=0,000) have a significant relationship with pulmonary tuberculosis among toddlers in Sawahan District, Surabaya.Conclusion: Bedroom windows, ventilation, kitchen smoke holes, lighting, opening bedroom windows, opening living room windows, and nutritional status have a significant relationship with pulmonary tuberculosis among toddlers in Sawahan District, Surabaya. Therefore, promotive and preventive efforts are needed to prevent the incidence of pulmonary tubeculosis among toddlers based on risk factors that have been analyzed previously
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Pajanan PM2.5 dan PM10 Pada Pekerja PT. Beton Elemenindo Perkasa Tahun 2024 Fikri, Elanda; Dewi, Davina Rheina; Juariah, Lela
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.116-123

Abstract

Latar Belakang: Particulate matter memiliki sifat yang berbahaya karena dapat menembus hingga bagian paru paling dalam dan mengalir di dalam darah. Kematian akibat pekerjaan disebabkan 24% oleh penyakit paru obstruktif. PT. Beton Elemenindo Perkasa pada tahun 2024 melakukan pemeriksaan kepada 175 orang pekerja, didapatkan hasil bahwa terdapat 3 (1,7%) pekerja dengan kapasitas vital paru normal, 164 (93,7%) pekerja dengan kapasitas vital paru restriksi, dan 8 (4,6%) pekerja dengan kapasitas vital paru kombinasi. Tujuan penelitian ini menghitung atau memprediksi risiko kesehatan yang ditimbulkan dari pencemar.Metode: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang bersifat deskriptif, menggunakan pendekatan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL), yang dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2024 dengan melibatkan 89 responden yang tersebar di 4 lokasi berbeda. Estimasi risiko kesehatan lingkungan dihitung menggunakan nilai Risk Quotient (RQ).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata PM 2.5 sebesar 71,25 µg/m3 dan rata-rata konsentrasi  PM 10 sebesar 217,25 µg/m3. Nilai intake dan RQ tertinggi terdapat pada pekerja Hall B dengan nilai 0,01870 mg/kg/hari dan 2,07779.Simpulan: Pajanan PM 2.5 konsentrasi maksimal dinilai berisiko terhadap 39 (43,3%) pekerja, meliputi 14 (46,7%) pekerja Hall A dan 25 (69,4%) pekerja Hall B. Dibutuhkan manajemen risiko untuk mengendalikan konsentrasi pajanan PM 2.5 hingga batas konsentrasi aman dengan menggunakan dust net dan dust suspression system.ABSTRACTTitle: Environmental Health Risk Analysis (EHRA)) of PM2.5 and PM10 Exposure to Workers of PT. Concrete Element Perkasa in 2024Background: Particulate matter has dangerous properties because it can penetrate to the deepest part of the lungs and flow in the blood. Occupational deaths are caused by 24% of obstructive pulmonary disease. PT. Beton Elemenindo Perkasa in 2024 conducted an examination of 175 workers, the results showed that there were 3 (1.7%) workers with normal lung vital capacity, 164 (93.7%) workers with restricted lung vital capacity, and 8 (4.6%) workers with combined lung vital capacity. The purpose of this study is to calculate or predict the health risks caused by pollutants. Method: This research is a cross-sectional study with a descriptive design, employing the Environmental Health Risk Analysis (ARKL) approach. It was conducted between June and July 2024, involving 89 respondents across 4 different locations. The estimated environmental health risk is represented by the Risk Quotient (RQ) value.Result: The results showed that the average concentration of PM 2.5 was 71.25 µg/m3 and the average concentration of PM 10 was 217.25 µg/m3. The highest intake and RQ values were found in Hall B workers with values of 0.01870 mg/kg/day and 2.07779. Conclusion: Exposure to maximum concentrations of PM 2.5 was considered risky for 39 (43.3%) workers, including 14 (46.7%) Hall A workers and 25 (69.4%) Hall B workers. Risk management is needed to control the concentration of PM 2.5 exposure to safe concentration limits using dust nets and dust suspension systems. 
Review Eutrofikasi: Risiko dalam Kesuburan Lingkungan Perairan dan Upaya Penanggulangannya Yusal, Muh. Sri; Hasyim, Ahmad; Hastuti, Hastuti; Arif, Arwin; Pratomo, Ryan Humardani Syam
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.124-135

Abstract

Latar Belakang: Eutrofikasi merupakan pengayaan unsur hara perairan yang berdampak buruk terhadap kualitas air. Keberadaan unsur nutrisi dan beberapa senyawa di badan perairan disebabkan oleh keberagaman aktivitas manusia yang disebut sebagai aktivitas antropogenik yang mengancam eksistensi ekosistem perairan. Literatur review ini mengkaji tentang resiko eutrofikasi dalam kesuburan perairan, penyebab terjadinya eutrofikasi, dampak, serta solusi penanganannya.Metode: Studi literatur ini merupakan hasil review dari 25 artikel ilmiah dan selebihnya berasal dari buku, monograf dan Research report. Penelusuran database artikel melalui Science Direct, Geogle Scholar, dan Mendeley. Beberapa artikel ilmiah yang relevan dari hasil  penelusuran dipilih berdasarkan tema yang berkorelasi dengan eutrofikasi ataupun berhubungan dengan kata kunci pada literatur review. Beberapa kata kuncinya yaitu Eutrofikasi, Status tropik, Unsur hara organik, Limbah, Kualitas perairan, Parameter Fisika-Kimia lingkungan, Kajian ekologis, Fosfor dan Nitrat, dan Blooming alga. Literasi artikel ilmiah merupakan hasil pencarian dari jurnal internasional, jurnal internasional bereputasi, dan jurnal nasional bereputasi. Pada umumnya artikel tersebut diperoleh dari berbagai penerbit, seperti Springer, Elsevier, MDPI, Taylor and Francis, serta ATMOS.Hasil: Pencetus utama eutrofikasi adalah keberagaman aktivitas manusia yang menghasilkan limbah antrophogenik, seperti pemakaian pupuk dan pestisida, kotoran ternak, budidaya ikan, dan limbah domestik. Dampak utama eutrofikasi adalah penurunan tingkat biodiversitas atau kepunahan biota perairan akibat perubahan lingkungan, penurunan kualitas perairan dan keterpurukan estetika lingkungan, penurunan kandungan DO perairan dan kondisi anoxia. Hasil metabolisme bakteri anaerob juga menghasilkan bau yang tidak menyenangkan. Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan adalah langkah efektif pencegahan eutrofikasi.Simpulan: Limbah antropogenik merupakan penyebab utama terjadinya eutrofikasi yang membawa dampak buruk bagi perairan. Upaya efektif dalam penanggulangan etrofikasi adalah penggunaan teknologi pengolahan limbah yang efisien dan ramah lingkungan (artificial wetland), mengontrol dan mereduksi kandungan senyawa limbah organik dari sumbernya secara ekonomis dan berkelanjutan. Langkah strategis lainnya adalah pengurangan konsentrasi bahan pencemar limbah cair berdasarkan peraturan pemerintah dan pendekatan sosio-ekologis melalui partisipasi masyarakat.  ABSTRACTTitle: Review of Eutrophication: Risks in Aquatic Environmental Fertility and Mitigation EffortsBackground: Eutrophication is enrichment of aquatic nutrients adversely affects water quality. The presence of nutrients and compounds in water bodies is caused by variety of human activities referred to as anthropogenic activities threaten the existence of aquatic ecosystems. This literature review examines the risks of eutrophication in aquatic fertility, eutrophication causes, impacts, and solutions.Methods: This literature study is a review of 25 scientific articles and rest come from books, monographs and research reports. The article database was searched through Science Direct, Google Scholar, and Mendeley. Several relevant scientific articles from search results were selected based on themes correlated with eutrophication or related keywords in review. Some of keywords are Eutrophication, Tropic status, Organic nutrients, Waste, Water quality, physico-chemical parameters, Ecological studies, Phosphorus and Nitrate, and Algal blooms. Scientific articles is Searches from international journals, reputable international journals, and reputable national journals. In general, the articles were obtained from various publishers, such as Springer, Elsevier, MDPI, Taylor and Francis, and ATMOS.Results: Eutrophication main driver is diversity of human activities generate anthrophogenic waste, such as fertilisers and pesticides use, livestock manure, fish farming, and domestic waste. Eutrophication main impacts are decreased biodiversity levels or extinction of aquatic biota due to environmental changes, decreased water quality and environmental aesthetics deterioration, decreased DO of waters and anoxia conditions. Metabolic products of anaerobic bacteria produce unpleasant odours. Environmentally friendly technology use an effective measure to prevent eutrophication.Conclusion: Anthropogenic effluents are main cause of eutrophication which has adverse effects on water bodies. Effective efforts in eutrophication prevention are the use of efficient and environmentally friendly sewage treatment technology (artificial wetland), controlling and reducing organic waste compounds content from source in an economical and sustainable manner. Another strategic is reduce concentration of effluent pollutants based on government regulations and socio-ecological approach through community participation.  
Analisis Spasio-Temporal Kondisi Iklim dan Jumlah Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Tahun 2012-2021 di Bengkulu Khairinnisa, Khairinnisa; Fauzi, Yulian; Nugraheni, Enny
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.67945

Abstract

Latar belakang: Infeksi virus dengue dapat menyebabkan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus tersebut ditransmisikan melalui gigitan nyamuk Aedes sebagai vektor penting. Faktor perubahan cuaca, seperti curah hujan dan temperatur, memiliki dampak padapenyebaran DBD. Studi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika DBD di Provinsi Bengkulu serta hubungannya dengan kondisi iklim, sehingga dapat mendukung pengembangan strategi terkait pencegahan dan pengendalian yang adaptif terhadap perubahan iklim.Metode: Pendekatan observasional analitik dan desain studi ekologi time series study digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel kondisi iklim dengan persebaran jumlah kasus DBD di Provinsi Bengkulu dengan uji korelasi Pearson.Hasil: Hasil uji menunjukkan bahwa variabel curah hujan, kelembapan udara, temperatur udara, dan kecepatan angin tidak ada hubungan yang signifikan terhadap jumlah kasus DBD di Provinsi Bengkulu tahun 2012-2021. Semua variabel menunjukkan koefisien korelasi (r) mendekati nol, dan nilai probabilitas (p) melebihi tingkat signifikansi (p=0,05). Namun, di beberapa kabupaten menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara curah hujan, suhu udara dan kecepatan angin dengan jumlah kasus DBD.Simpulan: variabel kondisi iklim pada studi ini yaitu curah hujan, kelembapan udara, temperatur udara, dan kecepatan angin, menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan jumlah kasus DBD. Meskipun demikian, beberapa wilayah menunjukkan ada hubungan signifikan dengan curah hujan dan temperatur udara. ABSTRACT Title:  Spatial-Temporal Analysis of Relationship Between Climate Conditions and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in 2012-2021 in BengkuluBackground: Dengue Hemorrhagic Fever or DHF is caused by Dengue virus (DENV) infection transmitted through the bite of Aedes mosquitoes, main vector. Climate change factors, like rainfall and temperature, impact the spread of infeksi dengue.Method: This research aims to provide a comprehensive study of DHF dynamics in Bengkulu Province and its correlation with climate conditions, supporting the development of adaptive prevention and control strategies against climate change. This study employs an observational analytical approach and a time series ecological study design to explore the relationship between climate variables and the distribution of DHF cases in Bengkulu Province, using Pearson correlation analysis.Result: The results indicate that rainfall, air humidity, air temperature, and wind speed variables do not significantly correlate with the number of DHF cases in Bengkulu Province from 2012 to 2021. All variables show correlation coefficients (r) close to zero, and the probability values (p) exceed the significance level (p=0.05). However, in some districts, there is a significant relationship between rainfall, air temperature, and wind speed with the number of DHF cases.Conclusion: Several areas show that the incidence of dengue hemorrhagic fever is related to rainfall and air temperature

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue