cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Hubungan Penggunaan dan Penggantian Masker dengan Kejadian Akne Vulgaris Pada Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Harlim, Ago; Setiawan, Indra; Harlim, Charity
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.66754

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris adalah suatu penyakit kulit yang sering ditemukan di masyarakat terutama pada usia remaja atau pubertas. Akne vulgaris dikenali dengan lesi komedo, papul, pustula, nodus dan kista di area di mana banyak terdapat kelenjar sebasea seperti pada wajah, dada dan di daerah atas punggung. Pada tahun 2020, terjadi pandemi COVID-19 dengan daya tular yang kuat dan tinggi baik secara kontak langsung maupun dengan perantara droplet dari penderita. Pemerintah mengharuskan penggunaaan masker untuk pencegahan penularan. Namun, penggunaan masker yang tidak tepat dapat menyebabkan munculnya akne di area muka yang tertutup masker sekitar dagu, pipi dan hidung atau disebut dengan maskne. Penelitian  ini bertujuan untuk memahami hubungan antara  penggunaan masker dengan timbulnya akne vulgaris di kalangan mahasiswa Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.Metode: Penelitian  ini sendiri bersifat analitik dengan memakai pendekatan crosss sectional yang dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2024.  Pengumpulan data berupa jenis dan penggunaan masker, jumlah pergantian masker, aktivitas responden menggunakan kuesioner dan pemeriksaan fisik untuk akne vulgaris. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dimana jumlah sampel adalah sebanyak 150 mahasiswa.Hasil: Hasil Uji Statistik Chi-Square memperlihatkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis masker (p= 0,906), durasi penggunaan masker (p=0,399), aktivitas luar ruangan (p=0.957) dengan akne vulgaris pada mahasiswa FK UKI, namun terdapat hubungan antara pergantian masker dengan akne vulgaris pada mahasiswa FK UKI dengan  (p=0,014).Simpulan:  Frekuensi penggantian masker sehari berhubungan dengan akne vulgaris dan timbulnya lesi akne baru di daerah masker. Jenis masker, durasi penggunaan masker, dan aktivitas luar ruangan tidak berhubungan dengan akne vulgaris. ABSTRACTTitle: The Relationship Between Mask Use and The Number of Mask Changes Towards Acne Vulgaris in Medical Students, Christian University of IndonesiaBackground: Acne vulgaris is a skin disease that is often found in society, especially in adolescence or puberty. Acne vulgaris is recognized by blackheads, papules, pustules, nodes and cysts in areas where there are many sebaceous glands such as the face, chest and upper back. In 2020, there was a COVID-19 pandemic with a strong and high transmission rate both through direct contact and through droplets from sufferers. The government requires the use of masks to prevent transmission. However, masks can cause acne to appear in the area of the face covered by the mask around the chin, cheeks and nose called ‘Maskne’. This research aims to understand the correlation between mask use and the emergence of acne vulgaris among medical students at Christian University of Indonesia.Method: This research is analytical using a cross-sectional approach conducted from January to March 2024.  Data collection on the type and how to use of masks, respondent activities using questionnaires and physical examinations for acne vulgaris. Sampling using simple random sampling, Result: Chi-Square Statistical Test result, there is no correlation between the type of mask (p= 0.906), and acne vulgaris, but there is a correlation between changing masks and acne vulgaris in UKI FK students (p= 0.014)Conclusion: The frequency of mask replacement per day is associated with acne vulgaris and the emergence of new acne lesions in the mask area. The type of mask, mask usage duration, and outdoor activities are not associated with acne vulgaris in UKI FK students
Peramalan Tonase Sampah TPST Bantargebang Sebagai Upaya Awal Penanganan Masalah Sampah Daerah Khusus Jakarta Zedha, Hazulil Fitriah; Anwar, Samsul; AR, Fitriana
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.67624

Abstract

Latar belakang: Salah satu masalah lingkungan yang timbul akibat semakin bertambahnya jumlah penduduk yang disertai dengan perubahan pola hidup di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) adalah pengelolaan sampah yang semakin kompleks dengan kuantitas yang mencapai 7.000 ton/harinya. Penelitian ini bertujuan untuk meramalkan tonase sampah yang mungkin dihasilkan pada masa yang akan datang sebagai salah satu upaya awal dalam membantu proses penyusunan rencana pengelolaan sampah yang lebih baik.Metode: Penelitian ini menganalisis data tonase sampah bulanan yang masuk ke TPST Bantargebang yang diperoleh dari website Jakarta Open Data. Data dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif dan inferensia dengan menggunakan metode Triple Exponential Smoothing (TES) dan Autoregressive Fractionally Integrated Moving Average (ARFIMA).Hasil: Peramalan dengan metode terbaik menunjukkan bahwa tonase sampah yang masuk ke TPST Batargebang diprediksi akan semakin tinggi setiap tahunnya terutama pada bulan Desember dan Januari. Tonase sampah pada bulan Desember tahun 2026 diprediksi mencapai 293.317,5 ton, jauh meningkat dari hasil prediksi pada bulan Desember tahun 2021 yang hanya mencapai 254.113,3 ton. Simpulan: Hasil peramalan tonase sampah pada penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan dalam upaya penanganan sampah di DKJ. Pemerintah DKJ bersama seluruh komponen masyarakat perlu bekerjasama dalam mengantisipasi lonjakan sampah tersebut dengan melakukan berbagai upaya yang dapat menekan laju peningkatan tonase sampah di Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah DKJ direkomendasikan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah, baik di tingkat masyarakat maupun di TPST Batargebang dengan mengeluarkan regulasi/aturan pengelolaan sampah yang lebih efektif, menambah anggaran pengelolaan sampah dan melakukan sosialisasi serta pembinaan terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah padat penduduk. ABSTRACT Forecasting Waste Tonnage at TPST Bantargebang as an Initial Effort to Handle Waste Problems in Special Region of JakartaBackground: One of the environmental problems arising from the increasing population accompanied by changes in lifestyle in the Special Region of Jakarta (DKJ) is increasingly complex waste management with quantities reaching 7,000 tons per day. This study aims to forecast the tonnage of waste that may be generated in the future as one of the initial efforts in helping the process of preparing a better waste management plan .Method: This study analyzes monthly waste tonnage data entering TPST Bantargebang obtained from the Jakarta Open Data website. The data was analyzed using descriptive and inferential statistics using the Triple Exponential Smoothing (TES) and Autoregressive Fractionally Integrated Moving Average (ARFIMA) methods..Result: Forecasting with the best method shows that the tonnage of waste entering TPST Batargebang is predicted to be higher every year, especially in December and January. The waste tonnage in December 2026 is predicted to reach 293,317.5 tons, a far increase from the prediction results in December 2021 which only reached 254,113.3 tons. Conclusion: The results of forecasting the tonnage of waste in this study can be one of the references in waste management efforts in DKJ. The DKJ government together with all components of society need to work together in anticipating the surge in waste by making various efforts that can reduce the rate of increase in waste tonnage in Jakarta and its surroundings. The DKJ government is recommended to improve the waste management system, both at the community level and at TPST Batargebang by issuing more effective waste management regulations, increasing the waste management budget and conducting socialization and guidance, especially for people living in densely populated areas. ABSTRACT Forecasting Waste Tonnage at TPST Bantargebang as an Initial Effort to Handle Waste Problems in Special Region of JakartaBackground: One of the environmental problems arising from the increasing population accompanied by changes in lifestyle in the Special Region of Jakarta (DKJ) is increasingly complex waste management with quantities reaching 6,500 to 7,000 tons per day. This study aims to forecast the tonnage of waste that may be generated in the future as one of the initial efforts in helping the process of preparing a better waste management plan .Method: This study analyzes monthly waste tonnage data entering TPST Bantargebang obtained from the Jakarta Open Data website. The data was analyzed using descriptive and inferential statistics using the Triple Exponential Smoothing (TES) and Autoregressive Fractionally Integrated Moving Average (ARFIMA) methods..Result: Forecasting with the best method shows that the tonnage of waste entering TPST Batargebang is predicted to be higher every year, especially in December and January. The waste tonnage in December 2026 is predicted to reach 293,317.5 tons, a far increase from the prediction results in the same month for 2021 which only reached 254,113.3 tons. Conclusion: The results of forecasting the tonnage of waste entering the TPST Batargebang in this study can be one of the references in waste management efforts in DKJ. The DKJ government together with all components of society need to work together in anticipating the surge in waste by making various efforts that can reduce the rate of increase in waste tonnage in Jakarta and its surroundings. The DKJ government is recommended to improve the waste management system, both at the community level and at TPST Batargebang by issuing more effective waste management regulations, increasing the waste management budget and conducting socialization and guidance, especially for people living in densely populated areas.
Faktor Risiko Sanitasi Lingkungan dan Strategi Pencegahan Terhadap Kejadian Hepatitis: Suatu Kajian Sistematik Sofia, Sofia; Sungkar, Angelie Nopfitrah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.71513

Abstract

Latar belakang: Penyakit hepatitis A dan hepatitis E menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara global. Indonesia berada di urutan ketiga daerah endemik hepatitis di dunia dengan prevalensi sebesar 0,6%. Jumlah ini terus meningkat sehingga diperlukan kajian sistematis untuk mengetahui faktor risiko, dan strategi pencegahan dari penyakit ini. Tujuan kajian sistematis ini adalah untuk menganalisis faktor risiko sanitasi lingkungan terhadap kejadian hepatitis A dan hepatitis E serta strategi pencegahan yang terjadi pada masyarakat.Metode: Studi ini dilakukan dengan pendekatan systematic review untuk mengevaluasi hubungan antara sanitasi lingkungan dan kejadian hepatitis. Pencarian literatur dilakukan melalui database elektronik seperti PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci sanitation, hepatitis, waterborne diseases, environmental health, dan developing countries didapatkan 146.709 artikel, setelah dilakukan screening penelitian yang dipublikasikan antara tahun 2016–2024, abstrak dan judul, open acces dan dapat diunduh diperoleh 500 artikel. Tahap selanjutnya didapatkan 100 artikel yang membahas hubungan sanitasi lingkungan seperti akses air bersih, pengelolaan limbah, kebiasaan higiene dengan kejadian hepatitis. Studi ini menggunakan desain observasional atau intervensi berbasis komunitas, dan ditulis dalam bahasa Inggris atau Indonesia.Hasil: Berdasarkan pencarian sistematic review didapatkan 30 dari 100 artikel yang memenuhi seleksi. Hasil menunjukkan bahwa sanitasi buruk, akses terbatas ke air bersih, dan kebiasaan higiene yang kurang menjadi faktor utama penyebaran hepatitis A dan E. Pengendalian penyakit ini memerlukan vaksinasi, peningkatan sanitasi, pendekatan One Health untuk hepatitis E, serta sistem surveilans yang kuat. Upaya pencegahan dengan infrastruktur sanitasi yang baik dan peningkatan edukasi masyarakat merupakan langkah strategis untuk mengendalikan hepatitis.Simpulan: Berdasarkan systematic review yang dilakukan, Hepatitis A dan E memiliki hubungan dengan kondisi sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, dan rendahnya higiene ABSTRACT Title: Environmental Sanitation Risk Factors and Prevention Strategies for Hepatitis Incidences: A Systematic ReviewBackground: Hepatitis, particularly hepatitis A and E, is a significant global public health concern. This systematic review analyzed various studies on the prevalence, risk factors, and prevention strategies for hepatitis. Studies have indicated that hepatitis viruses are found in various water matrices, highlighting the critical role of contaminated water in transmission. Other risk factors include poor sanitation, inadequate hygiene practices, high population density, and limited access to health care facilities. Vaccination and improved sanitation are effective in controlling the transmission of hepatitis A. Community education and empowerment are essential for its prevention. Hepatitis E, an emerging zoonotic pathogen, underscores the need for an integrated one-health approach.Method: This study was conducted using a systematic review approach to evaluate the relationship between environmental sanitation and hepatitis incidence. Literature searches were conducted using electronic databases such as PubMed, Scopus, and Google Scholar using keywords such as sanitation, hepatitis, waterborne diseases, environmental health, and developing countries obtained 146,709 articles, after screening studies published between 2016–2024, abstracts and titles, open access and downloadable 500 articles. The next stage obtained 100 articles that discuss the relationship between environmental sanitation (access to clean water, waste management, hygiene practices) and hepatitis incidence, using observational designs or community-based interventions and written in English or Indonesian.Results: Based on the systematic review search, 30 out of 100 articles met the selection criteria. The results showed that poor sanitation, limited access to clean water, and inadequate hygiene practices are major factors in the spread of hepatitis A and E. Effective disease control requires vaccination, improved sanitation, a One Health approach for hepatitis E, and a strong surveillance system. Prevention efforts with good sanitation infrastructure and increased public education are strategic steps to control hepatitis. Conclusion: Based on this systematic review, it can be concluded that hepatitis A and E are associated with poor sanitation, limited access to clean water, inadequate hygiene practices.
Tingkat Risiko Kesehatan Pajanan PM 2.5 Pada Masyarakat Di Sekitar Jalan Raya Daan Mogot Jakarta Barat Tahun 2023 Hartono, Budi; Fitria, Laila; B.M, Sulthan Alvin Faiz
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.71052

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan data yang dikeluarkan IQAir, dinyatakan bahwa udara wilayah sekitar Transjakarta Depo Pesing Jakarta Barat merupakan daerah paling tinggi tingkat polusinya di Provinsi DKI Jakarta per Juli 2023 dengan indeks kualitas udara mencapai angka 348 (berbahaya) dengan konsentrasi PM2.5 berada pada angka 298 µg/m3. Sehubungan dengan kondisi tersebut penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terkait besaran konsentrasi serta tingkat risiko akibat pajanan PM2.5 yang kemudian dapat dihubungkan dengan keluhan kesehatan khususnya gangguan saluran pernapasan pada masyarakat di sekitar daerah penelitian. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian dilakukan pada masyarakat sekitar Jalan Raya Daan Mogot-Pesing Kota Jakarta Barat yang dilaksanakan pada bulan Maret-April tahun 2024. Pengolahan dan analisis data dilakukan mengikuti tahapan ARKL yang meliputi penghitungan nilai intake, karakterisasi risiko dan pengelolaan risiko.Hasil: Pengukuran konsentrasi PM2.5 pada 4 titik lokasi diperoleh nilai rata-rata terendah 22,75 µg/m3  dan tertingi 72,71 µg/m3. Perhitungan pada tingkat risiko pajanan diperoleh bahwa pajanan PM2.5 pada sebagian besar titik sampling belum memiliki risiko kesehatan masyarakat kecuali pada titik 4 yaitu RQ sebesar 1,74Simpulan: Konsentrasi PM2.5 di lokasi penelitian dari 4 titik pengukuran terdapat 3 titik yang nilainya melebihi baku mutu dan penghitungan RQ realtime dan RQ lifetime tertinggi berada pada titik 4 yaitu 1,74 dan 2,61. ABSTRACT Title: Health Risk Level of PM 2.5 Exposure in Communities Around Daan Mogot Highway, West Jakarta in 2023. Background: Based on data released by IQAir, it is stated that the air around the Transjakarta Depo Pesing West Jakarta is the area with the highest level of pollution in DKI Jakarta Province as of July 2023 with an air quality index reaching 348 (hazardous) with a PM2.5 concentration of 298 µg/m3. In connection with these conditions, this study aims to provide an overview of the concentration and level of risk due to exposure to PM2.5 which can then be linked to health complaints, especially respiratory tract disorders in the community around the research area.Method: This study uses the Environmental Health Risk Analysis (ARKL) method. The study was conducted in the community around Jalan Raya Daan Mogot-Pesing, West Jakarta City, which was carried out in March-April 2024. Data processing and analysis were carried out following the ARKL stages which include calculating intake values, risk characterization and risk management.Result: Measurement of PM2.5 concentration at 4 location points obtained the lowest average value of 22.75 µg/m3 and the highest 72.71 µg/m3. Calculations at the level of exposure risk obtained that the risk of PM2.5 exposure at most sampling points did not yet have a risk to public health except at point 4, namely RQ of 1.74Conclusion: The concentration of PM2.5 at the research location from 4 measurement points, there were 3 points whose values exceeded the quality standards and the highest real-time RQ and lifetime RQ calculations were at point 4, namely 1.74 and 2.61.
Polusi Udara dan Dermatitis Atopik: Suatu Tinjauan Literatur Wikanto, Jessica Rosemary; Wijaya, Lorettha; Dewantara, Jason; Lopulalan, Anastasya Anjeli; Regina, Regina
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.65719

Abstract

Latar belakang: Polusi udara di Indonesia saat ini cukup tinggi seiring dengan meningkatnya urbanisasi dan industrialisasi. Paparan polusi udara dapat merusak fungsi perlindungan kulit dan diduga berhubungan dengan dermatitis atopik. Studi ini bertujuan untuk mengulas perkembangan studi pengaruh polusi udara terhadap dermatitis atopik.Metode: Studi ini merupakan tinjauan literatur dengan menggunakan basis data Pubmed, ClinicalKey, EBSCO, dan ProQuest yang terbit dalam 5 tahun terakhir dan berbahasa Inggris. Kata kunci yang digunakan adalah “particulate matter AND atopic dermatitis”.Hasil: Hasil studi menunjukkan bahwa polusi udara dapat merusak sawar kulit dan memicu respon peradangan, sehingga memicu dermatitis atopik. Paparan polusi udara pada masa prenatal dan usia dini berhubungan dengan peningkatan insidensi dermatitis atopik pada anak-anak. Paparan jangka pendek terhadap kadar polutan tinggi dapat meningkatkan risiko kekambuhan dermatitis atopik. Prevalensi dermatitis atopik juga terus mengalami peningkatan di negara-negara berkembang.Simpulan: Studi ini menyimpulkan bahwa polusi udara dapat menjadi pemicu ataupun memperparah gejala dermatitis atopik. ABSTRACT Title: Air pollution and atopic dermatitis: A literature reviewBackground: Currently, air pollution in Indonesia is quite high along with increasing urbanization and industrialization. Exposure to air pollution may cause damage to skin protective function and may be related to atopic dermatitis. This paper aims to review the progress of studies concerning the relationship between air pollution and atopic dermatitis. Method: Studies, which were published in English within the last 5 years, were obtained through databases (Pubmed, ClinicalKey, EBSCO, and ProQuest). The keywords used are“particulate matter AND atopic dermatitis”Result: Results show that air pollution may damage skin barrier and trigger inflammatory response, thereby inducing atopic dermatitis. Prenatal and early childhood exposure to air pollution were associated with increasing incidence of atopic dermatitis in children. Acute exposure to high pollutant causes the increase of atopic dermatitis relapse. The prevalence of atopic dermatitis is also increasing in developing countries. Conclusion: This study concluded that air pollution may trigger or worsen the symptoms of atopic dermatitis. 
Analisis Faktor Pengetahuan, Sikap, Persepsi Sarana Prasarana, dan Tokoh Masyarakat dengan Praktik Pemilahan Sampah pada Mahasiswa di Kecamatan Tembalang Zahra, Nabilah; Darundiati, Yusniar Hanani; Wahyuningsih, Nur Endah; Raharjo, Mursid; Sulistiyani, Sulistiyani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.71889

Abstract

Latar belakang: Kecamatan Tembalang, dengan populasi mahasiswa yang besar, merupakan penyumbang sampah terbanyak kedua di Kota Semarang pada tahun 2024 mencapai 49.367,454 ton/tahun. Peningkatan volume sampah ini sejalan dengan pertumbuhan populasi serta konsumsi masyarakat. Pemilahan sampah dari sumbernya menjadi langkah utama untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor pengetahuan, sikap, persepsi sarana prasarana dan persepsi tokoh masyarakat dengan praktik mahasiswa dalam pemilahan sampah.Metode: Penelitian ini mengadopsi pendekatan observasional analitik dengan rancangan studi cross-sectional, melibatkan 130 mahasiswa aktif jenjang D3, D4, dan S1 dari tiga universitas di Kecamatan Tembalang, 6 petugas pengangkut sampah, dan 6 tokoh masyarakat di wilayah Kecamatan Tembalang. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Google Forms pada November – Desember 2024, dengan teknik pengambilan sampel accidental dan purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, sikap, persepsi sarana prasarana dan dukungan tokoh masyarakat, serta praktik pemilahan sampah. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Responden yang memiliki pengetahuan kurang baik (50,8%), sikap negatif (63,1%), persepsi sarana prasarana kurang memadai (63,8%), persepsi dukungan tokoh masyarakat rendah (71,5%), dan praktik pemilahan sampah kurang baik (71,5%), sarana prasarana kurang memadai (66,7%), dan dukungan tokoh masyarakat rendah (50%). Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik (p=0,096), ada hubungan antara sikap (p=0,001), persepsi sarana prasarana (p=0,013), persepsi dukungan tokoh masyarakat (p=0,001) dengan praktik pemilahan sampah di Kecamatan Tembalang.Simpulan: Pengetahuan tidak berhubungan dengan praktik pemilahan sampah tetapi sikap, persepsi sarana prasarana dan persepsi dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan dengan praktik pemilahan sampah pada mahasiswa di Kecamatan Tembalang. ABSTRACT Title: Analysis Of Knowledge, Attitudes, Perceptions Of Infrastructure And Community Leaders With Student’s Waste Sorting Practices In TembalangBackground: Tembalang, with its large student population, is the second largest contributor of waste in Semarang City in 2024, reaching 49,367.454 tons/year. The increase in waste volume is in line with population growth and consumption. Waste sorting from the source is the primary step in overcoming this problem. This study analyzes the factors of knowledge, attitude, infrastructure perception, and community leader support on waste sorting practices among students.Method: Employing an analytical observational approach with a cross-sectional design, the study involved 130 active students at D3, D4, and S1 levels from three universities in Tembalang, 6 waste collectors, and 6 community leaders. Data were collected via direct interviews using Google Forms from November to December 2024. Sampling techniques included accidental and purposive sampling. Variables measured were knowledge, attitude, infrastructure perception, community leader support perception, and waste sorting practices. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test.Result: Respondents had poor knowledge (50.8%), negative attitudes (63.1%), perceptions of inadequate infrastructure (63.8%), perceptions of low community leader support (71.5%), inadequate infrastructure (66.7%), and low community leader support (50%). While knowledge showed no relationship with practices (p=0.096), attitude (p=0.001), infrastructure perception (p=0.013), and community leader support perception (p=0.001) were significantly associated with waste sorting practices. Conclusion: Knowledge does not correlate with waste sorting practices, but attitudes, infrastructure perception, and community leader support significantly influence waste sorting practices among university students in Tembalang.
Hubungan Faktor Lingkungan, Perilaku Patuh Minum Obat dengan Kejadian Filariasis di Kabupaten Sarmi Papua Wayangkau, Erich Christian; Budiyono, Budiyono; Raharjo, Mursid; Martini, Martini
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.68391

Abstract

Latar belakang: Data Kasus Filariasis (lama dan baru) di Kabupaten Sarmi Provinsi Papua 23,53% pada tahun 2023, Dua faktor besar yang mempengaruhi kejadian filariasis yaitu faktor lingkungan dan perilaku, Kabupaten Sarmi melaporkan Cakupan obat filariasis tahun 2023 sebanyak 96%, yang patuh minum obat sebesar 71,02%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keterkaitan antara faktor lingkungan dan kepatuhan minum obat terhadap kejadian filariasis.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan case control. Subjek terdiri atas 68 kasus dan 68 kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi langsung. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik untuk mengetahui prediktor kejadian dengan taraf signifikansi 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan genangan air di sekitar rumah (p= 0,001; OR 4,643), keberadaan semak semak (p= 0,008; OR= 3,073), keberadaaan rawa-rawa (p= 0,021; OR= 2,713); menggunakan pakaian panjang saat aktivitas malam hari (p= 0,0001; OR= 5,827), penggunaan kelambu (p= 0,0001; OR= 8,065) dan kepatuhan minum obat (p= 0,001; OR= 3,468) merupakan faktor lingkungan dan perilaku merupakan faktor risiko kejadian filariaris. Individu dengan kombinasi faktor tersebut berisiko 16,85 kali lebih besar mengalami filariasis dibandingkan mereka yang tidak terpapar faktor risiko.Simpulan: Faktor lingkungan dan perilaku yang berkaitan dengan kepatuhan minum obat memiliki kontribusi signifikan terhadap kejadian filariasis di Kabupaten Sarmi. ABSTRACTThe Relationship of Environmental Factors, Medication Adherence Behavior, and the Incidence of Filariasis in Sarmi Regency, Papua Background: The incidence of filariasis cases (both old and new) in Sarmi District, Papua Province, reached 23.53% in 2023. Two major factors influencing the occurrence of filariasis are environmental and behavioral factors. In 2023, Sarmi District reported a filariasis treatment coverage of 96%, with 71.02% of the population adhering to medication intake. This study aimed to examine the relationship between environmental conditions, medication adherence, and the incidence of filariasis.Method: This study applied an analytical observational approach with a case-control design. The participants included 68 individuals in the case group and 68 in the control group. Data collection was conducted through structured interviews and direct field observations. Statistical analysis was performed using Chi-square tests and logistic regression with a significance level set at 0.05 to determine risk predictors.Results: The study found that environmental factors such as water puddles around the house (p=0.001; OR=4.643), presence of bushes (p=0.008; OR=3.073), and swampy areas (p=0.021; OR=2.713), as well as behavioral factors such as not wearing long clothing during nighttime activities (p=0.0001; OR=5.827), not using bed nets (p=0.0001; OR=8.065), and poor medication adherence (p=0.001; OR=3.468) were significantly associated with filariasis incidence. Individuals exposed to a combination of these risk factors were 16.85 times more likely to develop filariasis than those not exposed.Conclusion: Environmental and behavioral factors, particularly those associated with medication adherence play an important role in the incidence of filariasis in Sarmi District. 
Evaluating Environmental and Public Health Risks of Medical Waste Incineration Using Air Dispersion Modeling in Indonesia Joyosemito, Ibnu Susanto; Meilani, Sophia Shanti; Azmi, Muhammad
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.68740

Abstract

Latar belakang: Pengembangan fasilitas pengolahan limbah medis tetap menjadi persoalan utama, terutama di wilayah yang memiliki infrastruktur yang belum memadai. Sebagai tanggapan atas masalah ini, pemerintah Indonesia telah merancang pembangunan insinerator limbah medis yang ditujukan untuk meningkatkan sistem penanganan limbah di dalam negeri. Meskipun proyek ini menjanjikan peningkatan dalam pengelolaan limbah, implikasi lingkungan dari insinerator perlu diperhatikan, khususnya yang berkaitan dengan penurunan kualitas udara ambien.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan dispersi udara Gaussian untuk menganalisis pola penyebaran dan besarnya konsentrasi polutan udara yang dihasilkan dari spesifikasi insinerator limbah medis yang diusulkan. Investigasi difokuskan pada area pemukiman yang ada di dekatnya, berjarak 100 meter dari lokasi instalasi cerobong insinerator yang diusulkan, guna mempelajari dampak langsung terhadap populasi sekitar. Penelitian ini mensimulasikan dua skenario stabilitas atmosfer: 'sangat tidak stabil' (A) dan 'tidak stabil' (B) berdasarkan kondisi meteorologi tahunan di lokasi.Hasil:  Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima parameter kualitas udara ambien utama—nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), partikel tersuspensi total (TSP), dan timbal (Pb)—masih memenuhi Baku Mutu Udara Ambien Nasional (BMUAN) Indonesia dalam kedua skenario stabilitas atmosfer yang disimulasikan. Meskipun konsentrasi Pb dan NO₂ masih berada dalam batas yang diperkenankan BMUAN yaitu 2 µg/m³ untuk Pb dan 200 µg/m³ untuk NO₂, nilainya mendekati ambang batas regulasi. Dalam skenario terburuk, konsentrasi maksimum yang tercatat adalah 1,459 µg/m³ untuk Pb (72,95% dari batas BMUAN) dan 128,840 µg/m³ untuk NO₂ (64,42% dari batas BMUAN), temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan kualitas udara secara berkala untuk memitigasi potensi risiko lingkungan.Simpulan:  Meskipun kelima parameter kualitas udara yang dianalisis masih berada dalam batas BMUAN, pemantauan berkala tetap diperlukan karena konsentrasi Pb dan NO₂ mendekati ambang batas regulasi. Studi ini menyoroti pentingnya strategi mitigasi, termasuk pemantauan kualitas udara jangka pendek dan panjang serta biomonitoring bagi populasi berisiko, untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan kumulatif. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi dampak polutan berdasarkan variasi musiman dan kondisi cuaca ekstrem perlu dipertimbangkan dalam model dispersi udara guna meningkatkan akurasi prediksi. Penguatan regulasi emisi insinerator dalam Peraturan Pemerintah RI No. 22/2021, serta eksplorasi teknologi alternatif pengolahan limbah medis, seperti autoclaving dan pyrolysis, direkomendasikan untuk mendukung praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. ABSTRACT Background: The development of medical waste processing facilities remains a major issue, especially in areas with inadequate infrastructure. In response to this issue, the Indonesian government has initiated plans for a medical waste incinerator aimed at improving waste management practices in the country. While the project promises improvements in waste management, the environmental implications of the incinerator need to be addressed, particularly in relation to ambient air quality degradation.Method: This study employs a Gaussian air dispersion modeling approach to analyze the dispersion patterns and magnitude of air pollutant concentrations emanating from the proposed medical waste incinerator specifications. Our investigation is focused on a nearby existing residential area located 100 meters from the proposed incinerator stack installation to study the immediate impact on nearby population. The study simulated two atmospheric stability scenarios: 'very unstable' (A) and 'unstable' (B) based on annual meteorological condition at site.Result:  The study revealed that concentrations of five key ambient air quality parameters—nitrogen dioxide (NO₂), sulfur dioxide (SO₂), carbon monoxide (CO), total suspended particulate (TSP), and lead (Pb)— comply with Indonesia's National Ambient Air Quality Standards (INAQS) under both tested atmospheric stability scenarios. Although the concentrations of Pb and NO₂ remain within the permissible limits set by INAQS, which are 2 µg/m³ for Pb and 200 µg/m³ for NO₂, their values are approaching the regulatory thresholds. Under the worst-case scenario, the maximum concentrations recorded were 1.459 µg/m³ for Pb (72.95% of the INAQS limit) and 128.840 µg/m³ for NO₂ (64.42% of the INAQS limit), these findings highlight the need for continuous air quality monitoring to mitigate potential environmental risks.Conclusion:  Although the five analyzed ambient air quality parameters remain within the INAQS limits, regular monitoring is still required as Pb and NO₂ concentrations are approaching regulatory thresholds. This study highlights the importance of mitigation strategies, including short- and long-term air quality monitoring and biomonitoring for at-risk populations, to anticipate the health impacts of cumulative exposure. Furthermore, the findings indicate that the evaluation of pollutant impacts based on seasonal variations and extreme weather conditions should be incorporated into air dispersion models to enhance predictive accuracy. Strengthening emission regulations for incinerators under Government Regulation No. 22/2021, along with exploring alternative medical waste treatment technologies, such as autoclaving and pyrolysis, is recommended to support more sustainable environmental management practices. 
The Risk of Sulfur Dioxide Exposure and Its Correlation with the Incidence of Hypertension in Street Sweepers In Samarinda City Rachmawati, Ayudhia; Safika, Erri Larene; Syamsir, Syamsir
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.68159

Abstract

Latar belakang: Emisi gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran udara yang paling signifikan, terutama di wilayah perkotaan. SO2 merupakan salah satu polutan yang dihasilkan oleh emisi gas buang kendaraan bermotor. Kota Samarinda terkenal dengan pesatnya peningkatan jumlah kendaraan pribadi, terutama kendaraan berbahan bakar fosil, yang berpotensi meningkatkan konsentrasi SO2 dan dapat berdampak pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko paparan konsentrasi SO2 pada penyapu jalan dan hubungan antara kejadian hipertensi dengan asupan SO2.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan penilaian risiko kesehatan lingkungan. Pendekatan EHRA akan memperkirakan risiko yang diterima oleh penyapu jalan akibat paparan SO2 di jalan raya Kota Samarinda. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh pekerja penyapu jalan yang bertugas pada empat lokasi jalan raya yang telah ditentukan. Sampel penelitian berjumlah 61 orang dan diperoleh melalui teknik total sampling. Teknik pengukuran konsentrasi SO2 menggunakan impinger dengan analisis spektrofotometer. Tekanan darah diukur secara real-time. Uji chi-square digunakan untuk menunjukkan perbedaan proporsi antara variabel asupan dan hipertensi.Hasil: Konsentrasi SO2 masih di bawah batas baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan (< 150 mg/Nm3) yakni 18,18 mg/Nm3. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian hipertensi dengan asupan SO2 (nilai p = 1.000). Akan tetapi, pekerja dengan asupan SO2 >0,0012 mg/kg/hari memiliki peluang lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan penyapu jalan dengan asupan >0,0012 mg/kg/hari (OR = 1,111).Simpulan: Kualitas udara di jalan raya Kota Samarinda masih tergolong aman dan sehat, terutama pada parameter sulfur dioksida. Petugas penyapu jalan tidak berisiko mengalami gangguan kesehatan khususnya kejadian hipertensi. ABSTRACT Background: Vehicle exhaust emissions are the most significant source of air pollution, especially in urban areas. SO2 is one of the pollutants produced by car exhaust emissions. The number of private vehicles, especially fossil fuel vehicles, is increasing rapidly in Samarinda City. These vehicles have the potential to increase SO2 concentrations and can have an adverse on health. This study aims to determine the risk of exposure to SO2 concentrations among street sweepers and the relationship between the incidence of hypertension and SO2 intake.Methods: This study used an environmental health risk assessment approach. The EHRA approach estimated the risk faced by street sweepers due to exposure to SO2 in Samarinda City highways.  This study’s population consisted of all street sweepers working at four specified roadways.  The sample, comprising 61 participants, was selected using a to tal sampling technique. The SO2 concentration measurement technique involved an impinger with spectrophotometer analysis. Blood pressure was measured in real-time. The chi-square test was used to show differences in proportions between intake and hypertension variables.Results: The SO2 concentration, measured at 18.18 mg/Nm3, was found to be below the required environmental quality standard limit (< 150 mg/Nm3). The results of the chi-square test showed no difference in the proportion of hypertension incidents with SO2 intake (p-value = 1,000). However, workers with SO2 intake of >0.0012 mg/kg/day showed a higher likelihood of developing hypertension than street sweepers with an intake of >0.0012 mg/kg/day (OR = 1.111).Conclusion: The air quality in the highways of Samarinda City is deemed safe, especially in terms of the sulfur dioxide parameter. Street sweepers are not at risk of experiencing health problems.
Bioremediasi Limbah Cair Rumah Tangga Menggunakan Eco Enzim Fermentasi Kulit Buah Zairinayati, Zairinayati; Maftukhah, Nur Afni; Sabrina, Sabrina; Anggraini, Rahma Dwi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.74082

Abstract

Latar belakang: Kasus pencemaran air di Indonesia khususnya air limbah domestik merupakan masalah utama. Kontributor utama dari 68,5 juta ton sampah nasional yang dihasilkan pada tahun 2021 adalah sampah organik, menurut data SIPSN (Scientific Data Collection and Data Collection) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun di seluruh dunia, dan telah diamati bahwa air limbah rumah tangga memiliki pH yang cenderung di bawah standar 6 hingga 9 dan kadar COD hingga >1.000 mg/L, yang secara signifikan lebih tinggi dari standar 100 mg/L. Penggunaan eco enzim yang terbuat dari kulit buah fermentasi sebagai agen bioremediasi merupakan salah satu metode ramah lingkungan. Menguji dampak eco enzim yang berasal dari campuran kulit jeruk, nanas, dan pisang terhadap kualitas air limbah khususnya, parameter COD, TSS, nitrat, dan pH merupakan tujuan dari penelitian ini.Metode Penelitian: adalah eksperimen dengan desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dosis eco enzim (5, 10, 15, dan 20 ml) dan lima kali ulangan berdasarkan pendekatan kuantitatif eksperimental yang fokus pada pengujian pengaruh dosis eco enzim terhadap parameter kualitas air limbah. Eco enzim dibuat dari bahan organik yaitu kulit jeruk, kulit nanas, dan kulit pisang dengan rasio perbandingan 10 air : 3 bahan organik :1 gula merah. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2025. Sampel limbah yang digunakan adalah limbah domestik yang diambil sebanyak 2 L. Jumlah total unit percobaan adalah 21 sampel, yang terdiri dari 20 perlakuan dan 1 kontrol. Fermentasi dilakukan selama tiga bulan, dan proses bioremediasi dilaksanakan selama delapan hari. Analisa data hasil penelitian disajikan dalam bentuk data univariat dan bivariat menggunakan uji Kruskal Wallis.Hasil: Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan pada COD (p=0,012), nitrat (p=0,017), dan pH (p=0,009), namun tidak signifikan pada TSS (p=0,115). Dosis optimal adalah 5 dan 10 ml, karena memberikan hasil terbaik tanpa menurunkan pH secara ekstrem, hal ini tidak hanya didasarkan pada pencapaian nilai BML saja akan tetapi dari aspek stabilitas kualitas air. Pada dosis tersebut, penurunan COD dan nitrat signifikan, sementara nilai pH tetap berada dalam kisaran netral (6-8), yang aman bagi biota perairan. Berbeda dengan dosis 15 ml dan 20 ml, meskipun terjadi penurunan sebagian parameter, kondisi pH turun drastis hingga kisaran 3-4 yang berpotensi menimbulkan efek toksik bagi organisme akuatik, selain itu, dosis 5-10 ml tidak menimbulkan peningkatan signifikan pada TSS, sehingga tidak menambah beban padatan tersuspensi.Simpulan: eco enzim terbukti efektif dan ramah lingkungan dalam mengurangi pencemaran limbah cair rumah tangga. Rekomendasi dari penelitian ini adalah masyarakat dapat menggunakan eco enzim sebagai solusi murah dan ramah lingkungan dan sebaiknya disaring sebelum digunakan agar tidak menambah kekeruhan air. ABSTRACT Title: Bioremediation of Domestic Wastewater using Fruit Peel Fermentation Eco EnzimeBackground: Water pollution in Indonesia, particularly domestic wastewater, is a major problem. According to the Ministry of Environment and Forestry (KLHK)'s Scientific Data Collection (SIPSN) data, organic waste is the primary contributor to the 68.5 million tons of national waste generated in 2021. Approximately 1.3 billion tons of food is wasted annually worldwide, and domestic wastewater has been observed to have a pH that tends to be below the standard of 6 to 9 and COD levels of up to >1,000 mg/L, significantly higher than the standard of 100 mg/L. The use of eco-enzimes made from fermented fruit peels as bioremediation agents is an environmentally friendly method. The aim of this study was to test the impact of eco-enzimes derived from a mixture of orange, pineapple, and banana peels on wastewater quality, specifically COD, TSS, nitrate, and pH parameters.Methode: is an experiment with a research design using a Completely Randomized Design (CRD) with four eco enzime dosage treatments (5, 10, 15, and 20 ml) and five replications based on an experimental quantitative approach that focuses on testing the effect of eco enzime dosage on wastewater quality parameters. Eco enzime is made from organic materials, namely orange peel, pineapple peel, and banana peel with a ratio of 10 water: 3 organic materials: 1 brown sugar. The study was conducted in January-April 2025. The waste sample used was domestic waste taken as much as 2 L. The total number of experimental units was 21 samples, consisting of 20 treatments and 1 control. Fermentation was carried out for three months, and the bioremediation process was carried out for eight days. Analysis of research data is presented in the form of univariate and bivariate data using the Kruskal Wallis test.Result: The Kruskal-Wallis test results showed significant differences in COD (p=0.012), nitrate (p=0.017), and pH (p=0.009), but not significant in TSS (p=0.115). The optimal doses were 5 and 10 ml, because they provided the best results without reducing the pH drastically, this was not only based on the achievement of the BML value but also from the aspect of water quality stability. At these doses, the reduction in COD and nitrate was significant, while the pH value remained in the neutral range (6-8), which is safe for aquatic biota. In contrast to the doses of 15 ml and 20 ml, although there was a decrease in some parameters, the pH condition dropped drastically to the range of 3-4 which has the potential to cause toxic effects for aquatic organisms, in addition, the dose of 5-10 ml did not cause a significant increase in TSS, so it did not increase the suspended solids load.Conclusion: Eco enzimes are proven to be effective and environmentally friendly in reducing household wastewater pollution. 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue