cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA DAN LAMA PERENDAMAN BAGAN APUNG TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) Ayyub Nadhif Atthallah; Bogi Budi Jayanto; Kukuh Eko Prihantoko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.3.2022.147-155

Abstract

Bagan apung merupakan alat tangkap yang banyak dioperasiakan oleh nelayan di Kabupaten Sukabumi untuk menangkap ikan tembang dan tergolong kedalam jenis alat tangkap light fishing karena menggunakan cahaya pada operasi penangkapannya. Informasi penggunaan intensitas cahaya dan lama perendaman jaring merupakan faktor penting untuk mengetahui efisiensi operasi penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil tangkapan ikan tembang pada bagan apung berdasarkan intensitas cahaya dan lama perendaman jaring. Metode yang digunakan adalah metode uji coba penangkapan dengan menggunakan 2 variabel yaitu intensitas cahaya dan lama perendaman jaring dalam air dengan 5 kali pengulangan. Lampu yang digunakan yaitu lampu berjenis LED dengan daya penyinaran masing-masing sebesar 20 watt, 60 watt, 120 watt dan menggunakan perlakuan kontrol lampu CFL 96 watt dengan dikombinasi lama perendaman jaring selama 4 jam dan 5 jam. Hasil tangkapan pada bagan apung didapatkan 5 jenis ikan yaitu tembang, eteman, pepetek, cumi-cumi, dan layur. Lampu berkekuatan 120 watt dengan lama perendaman 4 jam memiliki hasil tangkapan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Berdasarkan pengujian uji anova dua arah diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga terdapat pengaruh interaksi dari perbedaan intensitas cahaya dan lama perendaman jaring terhadap hasil tangkapan ikan tembang. Demikian juga dengan pengaruh perbedaan intensitas cahaya terhadap hasil tangkapan terdapat perbedaan sangat signifikan (p= 0,000 < 0,05), namun pada perlakuan lama peredaman memberikan hasil tidak berbeda nyata ( p=0,160 > 0,05) terhadap hasil tangkapan.A floating lift net is one of the fishing gears that are mainly used by the fisherman to catch fringlescale sardines in the Sukabumi Regency. Floating lift nets are categorized as light fishing gears because use light as an attractor to attract fish into the fishing area. The information on using the optimal light intensity and immersing time is important to find out the fishing operation’s efficiency. The research aims to analyze the catch of fringlescale sardine on a floating lift net by using a different light intensity and immersion. This research used the experimental fishing method with 2 variables, light intensity and time immersing with 5 repetitions. The type of lamp that used in this research are LED with total power of 20 watt, 60 watt, and 120 watt and control data 96-watt CFL lamp with 4 and 5 hours immersing time. The catch composition of lift net was fringe scale, moonfish, ponyfish, squid, and hairtail fish. Lamps with 120 watt power gained the most catches compared to other treatments. Based on the two-way ANOVA test, the significant number on corrected model is 0,000 < 0,05 means there is a very significant effect on the interaction of light intensity and immersing time on the lift net operation. The effect of using different light intensity affected catch of fringlescale with a significant number (p= 0,000 < 0,05), however, the effect of using time immersing on lift net operation don’t have a significant result on the fish catch ( p=0,160 > 0,05).
PROYEKSI KETERSEDIAAN PRODUKSI IKAN TUNA, CAKALANG DAN TONGKOL DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SIBOLGA Salmarika Salmarika; Alvi Rahmah; Nabila Khairiyah Sitompul
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.3.2022.157-165

Abstract

Proyeksi di sektor perikanan sangat bermanfaat untuk memprediksi ketersediaan produksi ikan pada masa yang akan datang. Volume produksi ikan yang selalu fluktuatif di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga khususnya ikan tuna, cakalang dan tongkol (TCT) menyebabkan proyeksi menjadi suatu kajian yang penting, mengingat ikan TCT merupakan komoditas penting yang paling banyak didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi umum perikanan TCT serta mengestimasi ketersediaan ikan TCT di PPN Sibolga hingga tahun 2025. Data yang dikumpulkan berupa data produksi bulanan ikan TCT tahun 2016-2021. Analisis yang digunakan untuk menghasilkan nilai estimasi adalah dekomposisi multiplikatif dan untuk perhitungan nilai kesalahan menggunakan perhitungan MAPE (Mean Absolute Percent Error). Hasil estimasi produksi ikan TCT hingga tahun 2025 diperkirakan akan terjadi kenaikan pada ikan cakalang dengan kecenderungan kenaikan sebesar 2% pertahun dan tongkol krai sebesar 5%, sementara itu pada madidihang dan tongkol komo diprediksi akan mengalami penurunan dengan kecendrungan penurunan sebesar 26% pertahun pada madidihang dan sebanyak 37% per tahun pada tongkol komo.Projection in the fisheries sector is useful to predict the availability of fish production in the future. The volume of fish production that always fluctuates at the Sibolga Fishing Port especially tuna, skipjack and little tunas (TCT) causes projection turn to be an important research, considering that TCT species are an important commodity that are mostly landed at Sibolga Fishing Port. This research objective are to describe the general condition of TCT fisheries and estimate the availability of TCT at Sibolga fishing port until 2025. The data collected in the form of monthly production of TCT species in 2016-2021. The analysis used to generate the estimated value is multiplicative decomposition and for calculating the error value using the MAPE (Mean Absolute Percent Error) calculation. The estimated result of TCT production until 2025 is that there will be an increase in skipjack with a tendency to increase by 2% per year and frigate tuna by 5%, while in yellowfin tuna and kawakawa are predicted to decrease with a decrease of 26% per year for yellowfin tuna and as much as 37% for kawakawa.
INDEKS KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DEMERSAL DI LAUT ARAFURA Nurulludin, Nurulludin; Prihatiningsih, Prihatiningsih; Panggabean, Anthony Sisco; Taufik, Muhammad; Kembaren, Duranta Diandria; Mahulette, Ralph Thomas; Saimroh, Saimroh; Nurdin, Erpind
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.209-215

Abstract

Ikan demersal merupakan salah satu sumber daya yang memiliki potensi sangat tinggi di Laut Arafura. Informasi indeks keanekaragaman ikan demersal diperlukan setelah adanya moratorium pukat tarik di Laut Arafura. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober sampai 20 November 2018 dengan mengikuti survei sumber daya ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 Laut Aru dan Arafura. Analisis data menggunakan beberapa nilai indeks biodiversitas meliputi keanekaragaman jenis (species diversity), kemerataan (species evenness),  kekayaan jenis (species richness), dan dominansi jenis (species dominant). Keanekaragaman jenis dibagi dalam 3 (tiga) wilayah penelitian yaitu Timur, Barat dan  Utara Laut Arafura. Indeks Keanekaragaman Shannon Wiener (H’) ikan demersal bervariasi antara 1,26 – 2,89. Nilai indeks kekayaan jenis ikan 9,37—16,8, indeks dominansi (D) antara 0,09-0,51. Indeks kemerataan jenis dari Pielou (E) Arafura bagian timur 0,13 dan utara dengan nilai 0,24 dan perairan Arafura bagian barat nilai indeks sebesar 0,27. Nilai indeks kemerataan jenis antara 0,26-0,50. Kondisi tersebut menunjukkan adanya keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya ikan demersal yang ada baik dari segi pemangsaan maupun secara spasial di Laut Arafura.Demersal fish is a resource that has very high potential in the Arafura Sea. Information on the diversity index of demersal fish is needed after the moratorium on trawling in the Arafura Sea. The research activity was carried out from 20 October to 20 November 2018 by participating in a survey of fish resources in the 718 Aru and Arafura Sea Fisheries Management Area (WPP). Data analysis used several biodiversity index values including species diversity, species evenness, species richness, and species dominance. Species diversity is divided into 3 (three) research areas, namely East, West and North Arafura Sea. The Shannon Wiener Diversity Index (H') of demersal fish varies between 1.26 – 2.89. Fish species richness index value is 9.37-16.8, dominance index (D) is between 0.09-0.51. The evenness index of Pielou (E) eastern Arafura is 0.13 and north is 0.24 and the Arafura waters is 0.27. The value of the species evenness index is between 0.26-0.50. This condition shows that there is a balance in the utilization of existing demersal fish resources, both feeding habits and  spatial in the Arafura Sea.
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN BUBU SEKITAR BIOREEFTEK DI PERAIRAN GALESONG UTARA, SELAT MAKASSAR Dananjaya, Wayan Kantun; Cahyono, Indra; Rapi, Nuraeni Lewa; Mansur, Harianti; Fathuddin, Fathuddin; Salim, Surya
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.167-175

Abstract

Penangkapan ikan demersal telah berlangsung secara intensif sehingga berdampak pada perubahan populasi dan dinamika ekosistem. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi jenis, keanekaragaman jenis, keseragaman jenis, dan dominansi jenis ikan yang tertangkap di sekitar  bioreeftek. Penelitian ini dilakukan di perairan Pantai Desa Sampulungan, Galesong Utara Kabupaten Takalar pada bulan September sampai November 2022. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan memasang bioreeftek pada kedalaman perairan berbeda. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei melalui pengamatan bawah air dan melakukan penangkapan langsung pada bioreeftek dengan menggunakan alat tangkap bubu. Pengamatan ini dilakukan dua kali seminggu  selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel ikan yang tertangkap pada lokasi penelitian sebanyak 358 individu yang dikelompokkan ke dalam 11 spesies. Komposisi spesies ikan yang paling sedikit tertangkap adalah  spesies  Nemipterus theodorei sebesar 4,75% dan tertinggi dari spesies Lutjanus malabaricus sebesar 17,04%, keanekaragaman berkisar 2,460-18,394 dengan kategori sedang dan tinggi, keseragaman 0,134-1,00 dengan kategori rendah, sedang dan tinggi serta dominansi rendah (0,002-0,029). Komposisi hasil tangkapan pada bioreeftek didominasi oleh ikan kakap merah, keanekaragaman dan keseragaman yang bervariasi dengan dominansi yang rendahDemersal fishing has taken place intensively so that it has an impact on changes in population and ecosystem dynamics. Based on this, the research was conducted to determine the composition of fish species, species diversity, species uniformity, and the dominance of fish species caught around the bioreeftech. This research was conducted in the coastal waters of Sampulungan Village, North Galesong, Takalar Regency from September to November 2022. This study used an experimental method by installing fish apartments at different water depths. Data collection was carried out using a survey method through underwater observations and direct capture of bioreeftek using fishing traps. These observations were made twice a week for two months. The results showed that the samples of fish caught at the study site were 358 individuals which were grouped into 11 species. The composition of fish species caught the least was the species Nemipterus theodorei at 4.75% and the highest was the species Lutjanus malabaricus at 17.04%, diversity ranged from 2,460-18,394 with medium and high categories, uniformity 0.194-2.896 with low, medium and high categories and low dominance range of 0,002-0,029. The composition of catches in fish apartments is dominated by red snapper, varied and uniformity of diversity with low dominance.
DINAMIKA POPULASI IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus malabaricus) di PERAIRAN PINRANG Rapi, Nuraeni L; Djumanto, Djumanto; Murwantoko, Murwantoko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.177-185

Abstract

Ikan kakap merah merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai tinggi sebagai ikan konsumsi. Pengetahuan sebaran panjang, umur, pertumbuhan, dan mortalitas digunakan untuk mengetahui kondisi stok ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan, mortalitas, laju eksploitasi dan pola rekrutmen ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus). Sampling dilakukan tiap bulan sekali dari April 2019 sampai Maret 2020 di perairan Kabupaten Pinrang. Contoh ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan gill net,rawai dasar dan bubu. Tiap contoh ikan dilakukan pengukuran panjang menggunakan penggaris dengan ketelitian 0,1 mm. Data frekuensi panjang dianalisis menggunakan paket program FiSAT II untuk mengetahui sebaran panjang, laju pertumbuhan, mortalitas,tingkat eksploitasi dan pola rekrutmen. Total sampel ikan yang dikumpulkan selama penelitian sebanyak 916 ekor. Nilai L∞ sebesar 72,95 cm, nilai K sebesar 0,41/tahun dan nilai t0 sebesar-0,28. Laju mortalitas total sebesar 1,21, mortalitas alami (M) sebesar 0,5, mortalitas penangkapan (F) sebesar 0,71, dan Tingkat eksploitasi (E) sebesar0,59. Rekrutmen berlangsung tiap bulan dengan persentase tertinggi pada akhir musim hujan, puncak musim kemarau dan awal musim hujan. Perlu pengaturan penangkapan tentang ukuran mata pancing dan mata jaring agar tingkat eksploitasi sumberdaya ikan kakap merah berkesinambungan Red snapper is a fisheries commodity with high value as a potential export. Knowledge of the distribution of length, age, growth, and mortality is used to determine fish stocks' condition. This study analyzes the growth, mortality, exploitation rate, and recruitment pattern of red snapper (Lutjanus malabaricus). Sampling has been carried out every month from April 2019 to March 2020 in Pinrang Regency waters. Fish samples were obtained from the catch of gill net fishermen, bottom longlines, and traps. Each fish sample is measured using a ruler to a length of 0.1 mm. Long frequency data were analyzed using the FiSAT II program package to determine the length distribution, growth rate, mortality, exploitation rate, and recruitment patterns. The total fish samples collected during the study were 916 individuals. The L∞ value is 72.95 cm, the K value is 0.41 / year, and the t0 value is -0.28. The total mortality rate is 1.21, natural mortality (M) is 0.5, fishing mortality (F) is 0.71, and the exploitation rate (E) is 0.59. Recruitment occurs every month with the highest percentage at the end of the rainy season, the dry season's peak, and the beginning of the rainy season. Fishing arrangements are needed about size hook and mesh size  so that the level of exploitation of red snapper resources is sustainable.
Persebaran spasial dan temporal ikan endemik pirik (Lagusia micracanthus) Di Das Maros Dan Das Wallanae Cenrana, Sulawesi Selatan Nur, Muhammad; Fadjar Rahardjo, M.; P.H Simanjuntak, Charles; Djumanto, Djumanto; Krismono, Krismono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.187-198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan persebaran ikan pirik secara spasial dan temporal serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya pada sungai-sungai di DAS Maros dan di DAS Walanae Cenranae. Pengambilan sampel dilakukan dari bulan Mei 2018 hingga April 2019. Penelitian dilakukan di 19 stasiun pengambilan sampel, terdiri atas 6 stasiun di DAS Maros dan 13 Stasiun di DAS Walanae Cenranae, Provinsi Sulawesi Selatan. Penangkapan ikan pirik menggunakan electric shocker (12 V, 9 A) dan jaring lempar. Ikan contoh diawetkan dalam larutan formalin 10% dan alkohol 70 %.  Pengukuran parameter fisik kimiawi perairan meliputi kedalaman, arus, suhu, pH, oksigen terlarut, padatan tersuspensi total (TSS), padatan terlarut total (TDS) dan konduktivitas. Hasil penelitian menujukkan persebaran spasial ikan pirik pada sungai-sungai di DAS Maros terdiri atas empat stasiun yaitu M1 (S. Pattunuang), M2 (S. Bantimurung), M3 (S. Pucak), M4 (S. Batu Bassi) dan pada sungai-sungai di DAS Walanae Cenranae terdiri atas  delapan stasiun yaitu W1 (S. Camba), W2 (S. Sanrego), W4 (S. Batu-Batu), W5 (S. Sawae), W6 (S. Pising), W7 (S. Mutiara), W8 (S. Assanae) dan W10 (S. Ompo). Persebaran temporal ikan pirik terdiri atas tiga kategori persebaran yaitu ikan pirik yang ditemukan pada semua musim, ikan pirik hanya ditemukan ketika musim tertentu, dan ikan pirik yang tidak ditemukan pada semua musim. Jumlah ikan pirik ditemukan terbanyak pada musim penghujan, diikuti awal musim penghujan, kemudian awal musim kemarau dan terendah pada musim kemarau.  Jumlah ikan pirik yang tertangkap dipengaruhi oleh karakteristik fisik kimiawi perairan yaitu kecerahan, oksigen terlarut dan arus.
PEMETAAN ZONASI DAERAH PENANGKAPAN HIU DILINDUNGI DI PERAIRAN BARAT ACEH DIDARATKAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN UJONG BAROH ACEH BARAT Fuadi, Afdhal; Rizal, Muhammad; Akbardiansyah, Akbardiansyah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.4.2022.199-208

Abstract

Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang memberikan kontribusi produksi hiu di Indonesia. Saat ini perikanan hiu di Indonesia termasuk di Provinsi Aceh sedang menghadapi tantangan yang cukup besar, dimana populasi sumber daya hiu terus mengalami penurunan sementara permintaan akan produk hiu baik dari dalam negeri maupun luar negeri terus meningkat. Kondisi tersebut pastinya memerlukan upaya pengelolaan perikanan hiu secara terpadu agar pemanfaatan hiu di perairan Provinsi Aceh tetap lestari dan keberkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah hasil tangkapan hiu yang didaratkan di PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) Ujong Baroh dan juga membuat peta zonasi daerah penangkapan hiu yang dilindungi di perairan Barat Daya Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan melalui 2 tahap, yaitu tahap pertama melakukan survey lapangan dengan mengikuti kapal nelayan penangkap hiu ke laut, dan tahap kedua dengan cara pengambilan data hasil tangkapan hiu di PPI Ujong Baroh kemudian membuat peta zonasi daerah penangkapan hiu dilindungi yang di daratkan di PPI Baroh Aceh Barat. Jumlah hasil tangkapan hiu yang didaratkan di PPI Ujong Baroh selama penelitian dari bulan Agustus-Oktober 2022 sebanyak 618 ekor. Hasil tangkapan hiu paling banyak didaratkan pada bulan September sebanyak 319 ekor dan paling sedikit tercatat pada bulan Oktober sebanyak 96 ekor. Persentase jenis hasil tangkapan hiu tertangkap pada bulan Agustus-Oktober 2022 yaitu Sphyrna lewini sebesar 56%, Carcharhinus sorrah 24%, Loxodon macrorhinus 9%, Chiloscyllium punctatum 5%, Carcharhinus falciformis 4%, dan Alopias superciliosus 2%. Hasil analisis zonasi daerah penangkapan hiu yang tergolong kedalam kategori Terancam/Endangered (EN) dan Rawan/Vulnerable (VU) tersebar dalam 3 lokasi di perairan Barat Daya Provinsi Aceh.Aceh Province is one of the regions that contributes to shark production in Indonesia. Currently, shark fisheries in Indonesia, including in Aceh Province, are facing considerable challenges, where the population of shark resources continues to decline while the demand for shark products both from within the country and abroad continues to increase. This condition certainly requires integrated shark fisheries management efforts so that the use of sharks in the waters of Aceh Province remains sustainable and sustainable. This study aims to determine the number of shark catches landed at PPI (Fish Landing Base) Ujong Baroh and also make a zoning map of protected shark fishing areas in the southwestern waters of Aceh Province. The method used in this study was carried out through 2 stages, namely the first stage of conducting a field survey by following a shark-catching fishing boat into the sea, and the second stage by taking shark catch data at PPI Ujong Baroh then making a zoning map of protected shark fishing areas landed in PPI Baroh West Aceh. The number of shark catches landed at PPI Ujong Baroh during the study from August-October 2022 was 618. The most shark catches were landed in September at 319 and the fewest recorded in October at 96. The percentage of shark catches caught in August-October 2022 is Sphyrna lewini at 56%, Carcharhinus sorrah at 24%, Loxodon macrorhinus at 9%, Chiloscyllium punctatum at 5%, Carcharhinus falciformis at 4%, and Alopias superciliosus at 2%. The results of the zoning analysis of shark fishing areas classified as Threatened/Endangered (EN) and Vulnerable/Vulnerable (VU) categories are spread in 3 locations in the waters of Southwest Aceh Province.
INVENTARISASI GASTROPODA YANG BERASOSIASI PADA EKOSISTEM MANGROVE DI TAPAK SEMARANG JAWA TENGAH Ghazali, Faiq Mevlana; Suryanti, Suryanti; Ain, Churun
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.3.2024.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi gastropoda yang berasosiasi pada ekosistem mangrove di Tapak Semarang, Jawa Tengah. Mangrove merupakan ekosistem yang memiliki peran penting, dan gastropoda sebagai salah satu komponen biotiknya memegang peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem ini. Metode penelitian yang digunakan, yaitu metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data distribusi gastropoda pada lingkungan ekosistem mangrove. Sampel gastropoda diidentifikasi hingga tingkat spesies, dan parameter lingkungan (salinitas, suhu air, pH, DO dan substrat). Analisis statistik regresi linear dan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengevaluasi keragaman spesies dan hubungan ekologi antara gastropoda dan ekosistem mangrove. Ditemukan beberapa spesies gastropoda yaitu Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Pirenella microptera, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria scabra, Melampus globulus, dan Cerithidea cingulate memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove. Struktur komunitas pada Ekosistem Mangrove Tapak Semarang didominasi oleh gastropoda T. Telescopium dan C. cingulate. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui rentang Indeks Keanekaragaman 0,20 – 1,47 (keanekaragaman rendah), Indeks Keseragaman 0,09 – 0,47 (keseragaman rendah – sedang), Indeks Dominasi 0,26 – 0,85 (dominasi rendah – tinggi). Jumlah mangrove mempengaruhi kepadatan gastropoda sebesar 57%, sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kepadatan gastropoda sebanyak 43%.Title: Inventory Of Gastropods Associated With Mangrove Ecosystem In Tapak Semarang, Central JavaThis research aims to carry out an inventory of gastropods associated with the mangrove ecosystem in Tapak Semarang, Central Java. Mangroves are an ecosystem that has an important role, and gastropods as one of its biotic components play a key role in maintaining the balance of this ecosystem. The research method used is an exploratory descriptive method with a quantitative approach. This research was carried out by collecting data on the distribution of gastropods in the mangrove ecosystem. Gastropod samples were identified to species level and environmental parameters (salinity, air temperature, pH, DO and substrate). Statistical analysis of linear regression and Principal Component Analysis (PCA) to trigger species diversity and ecological relationships between gastropods and mangrove ecosystems. Several species of gastropods were found, namely Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Pirenella microptera, Cassidula aurisfelis, Cassidula Nucleus, Littoraria scabra, Melampus globulus, and Cerithidea cingulate which have an important role in maintaining the balance of the mangrove ecosystem. The community structure in the Tapak Semarang Mangrove Ecosystem is dominated by the gastropods T. Telescopium and C. cingulate. Based on the research conducted, it can be seen that the Diversity Index range is 0.20 – 1.47 (low diversity), the Uniformity Index is 0.09 – 0.47 (low – medium diversity), the Dominance Index is 0.26 – 0.85 (low – tall). The number of mangroves influenced gastropod density by 57%, while other factors influenced gastropod density by 43%.
Kondisi Terumbu Karang Pasca Bleaching Tahun 2016 di Perairan Pulau Liukang Loe, Kabupaten Bulukumba Faizal, Ahmad; Rani, Chair; Haris, Abdul; Yasir, Inayah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.29.1.2023.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang pasca fenomena pemutihan tahun 2016 di Pulau Liukang Loe dengan menganlasis komponen persen tutupan karang baik unsur biotik maupun abiotik. Persen tutupan diukur dengan menggunakan transek garis sepanjang 20 m yang ditempatkan sejajar dengan garis pantai. Pengambilan sampel pada dua kedalaman; 3-5 m dan 8-10 m, masing-masing tiga ulangan dan jarak antar ulangan 5 m. Analisis komponen tutupan dasar perairan mengacu pada English et al. (1987). Terdapat 17 jenis karang batu, dengan persen tutupan berkisar antara 1,5 hingga 63,55% pada kedalaman 3 meter, dan 2,66 hingga 73,36% pada kedalaman 10 meter. Tutupan karang mati (DCA = Dead Coral with Algae) berkisar antara 0 hingga 59,15% untuk kedalaman 3 meter, dan 3,96 hingga 52,40% untuk kedalaman 10 meter. Hasil analisis variansi antar stasiun menunjukkan perbedaan yang nyata baik untuk tutupan karang hidup maupun tutupan DCA untuk masing-masing kedalaman (p<0,05). Berdasarkan nilai DCA sebagai dampak peristiwa bleaching  tertinggi terdapat di Stasiun I, IV dan V untuk kedalaman 3 meter, sedangkan pada kedalaman 10 m dampak terbesar terjadi di Stasiun VI. Dari enam stasiun penelitian, dua stasiun kondisi terumbu karang dalam kondisi buruk (Stasiun I dan VI), dua lainnya dalam kondisi sedang (Stasiun IV dan V), dan hanya dua kawasan yang dalam kondisi baik (Stasiun II dan III).
PRODUKTIVITAS DAN POLA MUSIM PENANGKAPAN CAKALANG DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN 572 Simbolon, Domu; Wahju, Ronny Irawan; Purwangka, Fis
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.99-109

Abstract

Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan ekonomis penting di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572. Informasi mengenai produktivitas ikan cakalang penting sebagai dasar untuk meningkatkan efektivitas operasi penangkapan serta memperoleh keuntungan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung produktivitas tangkapan atau catch per unit effort (CPUE) perikanan cakalang berdasarkan unit penangkapan ikan yang ada di Wilayah Pengelolaan Perikanan 572 yaitu handline, rawai tuna, purse seine, dan mini purse seine;  menghitung produktivitas penangkapan secara temporal; dan menghitung indeks musim penangkapan (IMP) perikanan cakalang di WPP 572. Jenis data yang digunakan yaitu data sekunder dengan menggunakan metode analisis CPUE. Hasil penelitian produktivitas hasil tangkapan ikan cakalang unit penangkapan handline, rawai tuna, purse seine, dan mini purse seine tiap bulannya yaitu 6,89 ton/trip, 5,81 ton/trip, 5,91 ton/trip, 4,85 ton/trip, 6,93 ton/trip, 6,52 ton/trip, 7,29 ton/trip, 6,41 ton/trip, 5,29 ton/trip, 6,50 ton/trip, 5,92 ton/trip,  dan 5,59 ton/trip. Produktivitas secara temporal 811,0563 ton pada musim barat; 665,75 ton pada musim peralihan bulan April-Mei; 885,3938 ton pada musim timur; dan 960,75 ton pada musim peralihan bulan Oktober-November. Nilai Indeks Musim Penangkapan (IMP) ikan cakalang di WPP 572 Musim penangkapan puncak terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, Oktober, Desember. Musim sedang terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Agustus, September, November.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue