cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
APLIKASI ASIA & AFRICA HD BERBASIS ANDROID PADA PENANGKAPAN CUMI-CUMI (Loligo chinensis, Gray 1849) DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR Irsandi Irsandi; Wayan Kantun; Indra Cahyono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.2.2022.%p

Abstract

Penangkapan cumi-cumi dapat dilakukan pada malam dan siang hari. Penangkapan yang intensif diduga telah menyebabkan terjadinya perubahan biologi cumi-cumi. Sehubungan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biologi cumi-cumi yang meliputi distribusi ukuran, pola pertumbuhan, nisbah kelamin, kematangan gonad dan ukuran kali pertama matang gonad. Penelitian dilakukan dengan metode survei melalui keterlibatan langsung pada operasi penangkapan dengan nelayan yang memakai dan tidak memakai aplikasi Asia&Africa HD berbasis Android. Penelitian dilakukan mulai Maret sampai Mei 2022. Hasil penelitian menunjukkan distribusi ukuran panjang mantel cumi-cumi yang tertangkap dengan memakai aplikasi berkisar 0,9-14,6 cm (11,42 ±1,73 cm) dan tidak memakai aplikasi berkisar 0,9-14,6 cm (11,19 ± 1,81 cm) baik untuk jantan maupun betina, pola pertumbuhan allometrik negatif (b < 3) baik jantan maupun betina, nisbah kelamin jantan betina dengan memakai aplikasi sebesar 30,25 : 69,75% (1,0 : 2,3) dan tidak memakai aplikasi sebesar 38,95 : 61,05% (1,0 : 1,5), kematangan gonad cumi-cumi jantan hanya pada tahapan belum matang gonad (tahapan I-II) baik tertangkap memakai dan tanpa memakai aplikasi, sedangkan cumi-cumi betina ditemukan mulai tahapan belum matang gonad, matang gonad dan memijah (tahapan I-V) baik tertangkap memakai dan tanpa memakai aplikasi. Ukuran kali pertama matang gonad cumi-cumi betina dicapai pada ukuran 9,187 cm untuk yang memakai aplikasi sedangkan pada ukuran 10,942 cm yang tidak memakai aplikasi. Dampak dari penggunaan aplikasi ini adalah cumi-cumi yang tertangkap lebih banyak dengan ukuran matang gonad lebih kecil, nisbah kelamin tidak seimbang, dan tidak terjadi keselarasan tahapan kematangan gonad jenis kelamin jantan dengan betina.Squid fishing can be done at night and during the day. Intensive fishing is thought to have caused a change in the biology of the squid. In this regard, this study aims to analyze squid’s biology, including size distribution, growth pattern, sex ratio, gonad maturity and the size of the first gonad maturity. The research was conducted using a survey method through direct involvement in fishing operations with fishermen who use and do not use the Android-based Asia & Africa HD application. The study was conducted from March to May 2022. The results showed that the distribution of the mantle length of squid caught using the application ranged from 0.9 to 14.6 cm (11.42 ± 1.73 cm) and not using the application ranged from 0, 9-14.6 cm (11.19 ± 1.81 cm) for both males and females, negative allometric growth pattern (b < 3) for both males and females, male to female sex ratio using the application of 30.25: 69, 75% (1.0 : 2.3) and did not use the application of 38.95 : 61.05% (1.0 : 1.5), male squid gonad maturity is only at the immature stage of gonads (stages I- II) both caught using and without using the application, while female squid were found from the immature, gonadal and spawning stages (stages I-V) both caught using and without using the application. The size of the female squid's first gonad maturity was reached at 9.187 cm for those who used the application, while the size of 10,942 cm for those who did not use the application. The impact of using this application is that more squid are caught with have smaller gonad maturity sizes, unbalanced sex ratio, and there is no alignment of the stages of male and female gonad maturity.
ASPEK EKOLOGI PERAIRAN UNTUK PENERAPAN PERIKANAN TANGKAP BERBASIS BUDIDAYA DI WADUK PENJALIN Agus Arifin Sentosa; Amula Nurfiarini; Andika Luky Setiyo Hendrawan; Andri Warsa; Astri Suryandari; Danu Wijaya
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.1.2022.%p

Abstract

Waduk Penjalin adalah salah satu waduk di Kabupaten Brebes yang potensial untuk program perikanan tangkap berbasis budidaya (Culture Based Fisheries/CBF) setelah program tersebut sukses dilakukan di Waduk Malahayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan penebaran ikan untuk pengembangan CBF di Waduk Penjalin dari beberapa aspek ekologi perairan. Survei lapangan dilakukan di Waduk Penjalin, Kabupaten Brebes pada bulan Mei, September dan Desember 2021 pada tujuh stasiun pengamatan. Kualitas air dukur secara in situ dan ex situ. Komunitas ikan diamati dengan percobaan penangkapan dan hasil tangkapan nelayan. Analisis data kualitas air dilakukan secara deskriptif. Indeks STORET digunakan untuk mengetahui status perairan. Komunitas ikan dianalisis dengan indeks relatif penting, kebiasaan makanan, luas relung dan tumpang tindih relung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kualitas air di Waduk Penjalin masih mendukung terhadap kehidupan ikan. Luas waduk yang relatif kecil, kualitas air yang berstatus sedang dan tingkat kesuburan eutrofik berpotensi mendukung terhadap implementasi CBF. Komunitas ikan di waduk tersebut terdiri atas sembilan jenis ikan yang didominasi oleh jenis ikan introduksi (55,56%). Luas relung makanan beberapa jenis ikan dominan cenderung menunjukkan karakter spesialis. Secara ekologi, Waduk Penjalin berpotensi untuk dilakukan penebaran ikan, terutama untuk jenis ikan-ikan herbivora/planktivora mengingat status perairan yang subur.Penjalin Reservoir is one of the reservoirs in Brebes Regency that has the potential for a culture-based fisheries (CBF) program after being successfully implemented in Malahayu Reservoir. This study aimed to examine the feasibility of stocking fish for CBF implementation in the Penjalin Reservoir from several aspects of aquatic ecology. The field survey was conducted at seven observation stations in Penjalin Reservoir, Brebes Regency in May, September and December 2021. Water quality was examined in-situ and ex-situ. The fish community was observed by catch-experimenting and from fishers’ catch. Water quality data analysis was carried out descriptively. The STORET index was used to determine the status of the waters. Fish communities were analyzed by relative importance index, food habits, niche breadth, and niche overlap. The results showed that the water quality in the Penjalin Reservoir was still supported for fish living. The relatively small reservoir area, moderate water quality, and eutrophic status had the potential to support the implementation of CBF. The fish community in the reservoir consists of nine species of fish which were dominated by introduced fish species (55.56%). The food niche breadth of several dominant fish species tended to the specialist character. Ecologically, the Penjalin Reservoir had the potential for stocking fish, especially for herbivore/planktivore fish species considering the status of eutrophic waters.
PEMETAAN SPASIAL ALAT PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN CODE OF CONDUCT FOR RESPONSIBLE FISHERIES (CCRF) DI PERAIRAN TELUK BANTEN Mario Limbong; Khairul Amri; Dela Selamat Larosa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.2.2022.%p

Abstract

Perubahan daerah penangkapan ikan karena rusaknya habitat akan berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan yang cenderung menurun. Rusaknya habitat dapat terjadi karena menurunnya mutu air laut serta pengaruh aktivitas penangkapan ikan. Penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan akan merusak habitat sehingga berdampak terhadap ekosistem dan stok sumber daya ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan, dan memetakan pengoperasian alat penangkapan ikan secara spasial di perairan Teluk Banten. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan analisis deskriptif melalui skoring 9 kriteria berdasarkan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Analisis sistem informasi geografis kelautan dilakukan untuk memetakan sebaran spasial. Alat penangkapan ikan yang ditemukan di Teluk Banten yaitu jaring insang, payang, bagan tancap, bagan perahu, bubu, jaring arad, sero, pancing ulur, dan jaring rajungan. Alat penangkapan ikan yang tergolong tidak ramah lingkungan yaitu jaring arad. Alat penangkapan ikan yang tergolong ramah lingkungan adalah payang, bagan tancap, sero, dan jaring rajungan. Alat penangkapan ikan yang tergolong sangat ramah lingkungan yaitu jaring insang, bagan perahu, bubu, dan pancing ulur. Luas perairan Teluk Banten sekitar 221 km2, di mana 98 km2 (44,3%) masih berada status sangat baik jika dilihat dari aspek pengoperasian alat penangkapan ikan yang sangat ramah lingkungan, kemudian 78 km2 (35,3%) termasuk kategori ramah lingkungan. Wilayah perairan yang sudah rusak karena penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan sekitar 45 km2 atau 20,4% dari luas perairan Teluk Banten.Changes in fishing areas due to habitat destruction will reduce fishermen's catches. Habitat destruction occurs due to declining sea water quality and the influence of fishing activities. The use of fishing gear that is not environmentally friendly will damage the habitat, ecosystem and stock of fish resources. The purpose of this study is to analyze environmentally friendly fishing gear, and map the operation of fishing gear spatially in the waters of Banten Bay. The method used in this research is a survey method with descriptive analysis based on the Code of Conduct for Responsible Fisheries, and a marine geographic information system is used to map the spatial distribution. Fishing gear found in Banten Bay are gillnet, seine net, lift net, boat lift net, trap, mini bottom trawl, set net, hand line, and crab net. Fishing gear classified as not-environmentally friendly is mini bottom trawl; those classified as environmentally friendly are seine net, lift net, set net, and crab nets; which are classified as very environmentally friendly, namely gillnets, boat lift nets, traps, and handlines. The area of Banten Bay waters is about 221 km2 of which 98 km2 (44.3%) are still in very good status when viewed from the aspect of operating fishing gear which is very environmentally friendly, then 78 km2 (35.3%) are included in the environmentally friendly category. The water area that has been damaged due to the use of non-environmentally friendly fishing gear is around 45 km2 or 20.4% of the total waters of Banten Bay.
UNREPORTED HASIL TANGKAPAN PADA PERIKANAN PANCING TONDA DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU Regi Fiji Anggawangsa; Eko Sri Wiyono; Vita Rumanti Kurniawati; Wudianto Wudianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.2.2022.51-60

Abstract

Data hasil tangkapan di hampir semua perikanan di dunia terindikasi tidak tepat atau salah dalam pelaporan, misreported, termasuk di Indonesia. Penelitian identifikasi dan kuantifikasi besaran serta faktor-faktor penyebab ketidaktepatan pelaporan pada perikanan pancing tonda dilakukan melalui analisis data pendaratan selama 10 tahun terakhir dan dengan melakukan sampling kepada 30 kapten kapal pancing tonda di PPN Palabuhanratu. Hasil studi menunjukkan bahwa potensi misreported terjadi dari hasil tangkapan yang tidak dilaporkan karena digunakan sebagai umpan, dikonsumsi di atas kapal, sebagai jatah ABK, upah pada saat bongkar muatan serta hasil tangkapan lain yang tidak terlaporkan. Hasil rekonstruksi data menunjukkan bahwa data hasil tangkapan armada pancing tonda di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terindikasi misreported sebesar 46,52 – 228,02 ton/tahun atau mencapai 11,7 – 28,8% per tahun pada periode tahun 2012-2022 di bawah tangkapan yang sebenarnya. Secara tidak langsung, ketidaktepatan dalam pelaporan hasil tangkapan dapat berimplikasi pada tidak akuratnya data statistik perikanan, sehingga merubah pendekatan pengelolaan serta penilaian terhadap perikanan tersebut, baik secara ekonomi maupun sosial. Diperlukan perbaikan sistem pendataan dengan melakukan identifikasi dan kuantifikasi adanya potensi misreported khususnya pada data produksi hasil tangkapan.The catch data in almost all fisheries in the world is indicated to be inaccurate or misreported, including in Indonesia, one of which is the troll line fishery in Palabuhanratu Fishing Port. To identify and quantify the magnitude and factors causing misreport in troll line fishery, a study was conducted by analyzing landing data for the last ten years and sampling 30 troll line skippers. The study's results have identified several factors that cause misreported catch data: unreported catch, fish used as bait, consumed on board, crew share, and unloading fee. The analysis results show that the catch data of the troll line in Palabuhanratu Fishing Port are indicated to be misreported at 46.52 - 228.02 tons/year o, reaching 11.7 - 28.8% in the period 2012-2022 below the actual catch. Indirectly, inaccuracy in reporting catch data can have implications for inaccurate fisheries statistics, thus changing the management approach and assessment of the fishery both economically and socially. Therefore, it is necessary to improve the data collection system by identifying and quantifying the potential for misreported, especially in catch production data.
DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN IKAN PELAGIS DI LAUT FLORES BAGIAN BARAT Donwill Panggabean; Rauzatul Nazzla
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.2.2022.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi distribusi dan kelimpahan ikan pelagis di Laut Flores bagian barat dengan metode akustik. Metode yang digunakan dalam penelitian dikategorikan sebagai bagian dari exploratory survey. Terdapat dua bentuk hasil analisis data: 1) analisis akustik di stasiun-stasiun sampling dengan teknik stationery; dan 2) analisis data akustik sepanjang transek antar stasiun. Hasil deteksi cercah gema pada stasiun stationery 1 menunjukkan kelimpahan ikan pelagis sangat rendah, terdistribusi pada layer 3 di malam hari dan diduga adalah jenis pelagis besar dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Kejadian ini diketahui dengan melakukan justifikasi terhadap ukuran target strength (TS) ikan pelagis yang terdeteksi,dan diketahui target tersebut adalah ikan ukuran besar (TS = -30 dB), identik ikan pelagis besar, dengan jumlah sedikit. Hasil deteksi pada stasiun stationery 2 dan stasiun stationery 3 relatif sama, menunjukkan kelimpahan yang relatif lebih tinggi dibanding stasiun stationery 1. Sejalan dengan hasil analisis pada 3 stasiun stationary, hasil analisis pada transek antar stasiun menunjukkan kondisi yang hampir sama, dimana pada transek antar stasiun 1-2, 2-3, 3-4, dan 4-5 yaitu mulai dari perairan Dewakang hingga perairan bagian timur Takarewataya. Hasil analisis memperlihatkan kelimpahan ikan pelagis yang terdeksi sangat rendah, di sepanjang transek hanya terdeteksi target ikan tunggal saja dan tidak terdeteksi schooling ikan. Pada transek antar stasiun 5-6, kelimpahan sangat rendah dan tidak signifikan dengan nilai rata-rata kelimpahan sebesar 0,5 ekor/1000 m3 dan terdeteksi pada layer 4 (150-200 m). Pada transek antar stasiun 6-7, kelimpahan tidak terlalu tinggi, kelompok ikan (schooling) cenderung berada di bawah layer 1 (di bawah kedalaman 50 m). Nilai rata-rata kelimpahan paling tinggi terdeteksi pada layer 3 sebesar 10,8 ekor/1000 m3 dan pada layer 4 sebesar 7 ekor/1000 m3. Pada transek antar stasiun 7-8, merupakan kelimpahan yang paling tinggi dari semua transek, schooling terdeteksi cenderung di bawah layer 1 (di bawah kedalaman 50 m), nilai rata-rata kelimpahan paling tinggi terdeteksi pada layer 3 sebesar 20,3 ekor/1000 m3 dan pada layer 2 sebesar 17,8 ekor/1000 m3. Pada transek antar stasiun 8-9, kelimpahan terdeteksi tidak terlalu tinggi, schooling terdeteksi cenderung berada pada seluruh layer, nilai rata-rata kelimpahan paling tinggi yang terdeteksi pada layer 4 sebesar 1,3 ekor/1000 m3This study aims to estimate the distribution and abundance of pelagic fish in the western Flores Sea with acoustic analysis. The method used in this study was an exploratory survey. There are two forms of data analysis results: 1) acoustic analysis at sampling stations with stationery techniques; and 2) analysis of acoustic data along transects between stations. The echo traces in station 1 showed that the abundance of pelagic fish was very low, distributed at layer 3 at night, which was suspected to be a big pelagic with not too much. The dynamics of echo traces in stations 2 and 3 are relatively the same, indicating a higher abundance than in station 1. In line with the echo traces dynamic of 3 stations, the analysis of the transects between stations shows almost the same conditions. The transects between stations 1-2, 2-3, 3-4, and 4-5, starting from the sub-area of Dewakang to the eastern part of Takarewataya, show the abundance of pelagic fish is very low. Only a single fish target was detected along the transect, and no schooling fish was detected. In inter-station transects 5-6, abundance is very low and insignificant. The average abundance value of only 0.5 fish/1000 m3 is detected at layer 4 (150-200 m). In inter-station transects 6-7, the abundance is low. Schooling tends to be below layer 1 (below a depth of 50 m), in which the highest average value of abundance is detected at layer 3 by 10.8 fish/1000 m3 and layer 4 by 7 fish/1000 m3. In inter-station transects 7-8, it is the highest abundance of all transects, schooling is detected tending to be below layer 1 (below a depth of 50 m), the highest average value of abundance is detected at layer 3 by 20.3 fish/1000 m3 and layer 2 by 17.8 fish/1000 m3. In inter-station transects 8-9, abundance is detected relatively not too high, schooling tends to be on the entire layer, and the highest average value of abundance detected at layer 4 is 1.3 fish/1000 m3. 
SELEKTIVITAS JARING INSANG DALAM UPAYA PENGENDALIAN TEKNIS TERHADAP POPULASI IKAN OSKAR (Amphilophus citrinellus, GÜNTHER, 1864) DI DANAU BATUR, BALI I Nyoman Yoga Parawangsa; Prawira Atmaja Tampubolon
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.2.2022.%p

Abstract

 Ikan oskar (Amphilophus citrinellus, Günther, 1864) merupakan salah satu jenis ikan asing yang hidup di perairan Danau Batur, Bali. Spesies ikan ini telah diketahui memiliki potensi invasif di beberapa ekosistem perairan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui selektivitas jaring insang dalam rangka melakukan tindakan pengendalian populasi ikan oskar di Danau Batur. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada bulan Oktober 2017-Juni 2018 dengan rentang waktu pengambilan contoh ikan selama 3 bulan. menggunakan jaring insang dengan berbagai ukuran mata jaring: 0,5, 1,0, 1,5, 2,0, 2,5, dan 3,0 inci. Contoh ikan oskar yang berhasil tertangkap sebanyak 307 ekor. berukuran panjang total berkisar antara 65-199 mm dengan bobot antara 4,8-143,3 gram. Pola pertumbuhan ikan oskar yang tertangkap di Danau Batur adalah alometrik positif dengan kondisi ikan dalam kondisi yang baik (Kn= 0,79-1,39). Jaring insang yang paling banyak menangkap ikan oskar berukuran mata jaring 1,5 dan 2,0 inci. Ukuran panjang total ikan oskar di Danau Batur dengan kemungkinan berhasil tertangkap hingga 100% pada ukuran mata jaring 1,5 dan 2,0 inci adalah 10.58 mm dan 14.11 mm. Faktor selektifitas untuk ukuran mata jaring tersebut adalah 2,78.Midas cichlid (Amphilophus citrinellus, Günther, 1864) is one of the alien fish that lives in Batur Lake, Bali. This species has been known to have invasive potential in several aquatic ecosystems in Indonesia. The aim of this research was to determine the selectivity of gill nets to control the population of midas cichlid in Batur Lake. Fish sampling was carried out during October 2017-June 2018 with a span of 3 months. Experimental gillnet with mesh size 0.5, 1.0, 1.5, 2.0, 2.5, and 3.0 inches were used to catch midas cichlid. The total midas cichlid caught were 307 fish individuals. The results of this research found that the total length of midas cichlid ranged from 65-199 mm with a weight between 4.8-143.3 gram. The growth pattern was allometric positive and the condition factor of this species was in good condition (Kn= 0.79-1.39). The mesh sizes that catch the most midas cichlid are 1.5 and 2 inches. The total length of the midas cichlid in Lake Batur with a 100% probability of being caught in 1.5 and 2.0 inches are 10.58 mm and 14.11 mm, respectively. The selectivity factor for that mesh size was 2.78.
KEPADATAN STOK, KOMPOSISI JENIS IKAN DEMERSAL DAN UDANG DI SELAT TIWORO, SULAWESI TENGGARA Rudy Masuswo Purwoko; Nurulludin Nurulludin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.1.2022.%p

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan kapal pukat tarik di Selat Tiworo, pada bulan Desember 2015. Kapal yang digunakan berukuran 10 GT yang berbasis di Pangkalan Pendaratan Ikan, Bombana. Estimasi kepadatan stok dilakukan dengan menggunakan metode sapuan dengan pengambilan contoh acak bertingkat. Hasil penelitian diperoleh rata-rata laju tangkap ikan demersal 46,171 kg/jam dengan  kepadatan stok rata-rata sebesar 3,6 ton/km2, sedangkan udang 1,537 kg/jam dengan kepadatan stok 0,18 ton/km2. Kepadatan stok ikan demersal tertinggi 4.588,55 kg/km2 terdapat pada strata kedalaman 30-40 m dan terendah 2.925 kg/km2 pada strata kedalaman 20-30 m. Komoditas udang diperoleh kepadatan stok udang tertinggi pada kedalaman 10-20 m (380,91 kg/km2) dan terendah 1,85 kg/km2 pada kedalaman 30-40 m. Komposisi 10 (sepuluh) besar hasil tangkapan didominasi family Leiognathidae 17,78%, Nemipteridae 8,66 %, Serranidae 6,87%, Myxinidae 6,33%, Trichiuridae 5,66%, Psettodidae 5,21%, Tetraodontidae 4,54%, Scianidae 4,13% dan Apogonidae 3,77%. Sumberdaya udang didominasi dari jenis Trachipenaeus asver 35,59%, Metapenaeus ensis 22,73%, Penaeus semisulcatus 13,43%, Penaaeus longistilus 12,47%, Penaeus merguensis 4,27%, Penaeus monodon 1,71%, dan Penaeus indicus 0,07%.
KARAKTERISTIK TEKNIS ALAT BANTU PENANGKAPAN BUBU RAJUNGAN DI PESISIR KABUPATEN KARAWANG Hadi Saputra, Rahmad Surya; Iskandar, Budhi Hascaryo; Kurniawati, Vita Rumanti; Desrial, Desrial; Purbayanto, Ari
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.3.2022.111-122

Abstract

Rajungan merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam perdagangan internasional. Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas unggulan Kabupaten Karawang. Bubu lipat sangat populer digunakan oleh nelayan dan dioperasikan dengan sistem longline sehingga memerlukan alat bantu penarik untuk mempermudah dan mempercepat dalam operasi penangkapan. Informasi karakteristik teknis alat bantu penangkapannya masih sangat minim oleh karena itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik teknis alat bantu penarik bubu rajungan terutama terkait desain, kebisingan dan konsumsi bahan bakar. Karakteristik teknis alat bantu penarik bubu rajungan dideskripsikan sesuai kondisi saat ini, sedangkan untuk kebisingan dan konsumsi bahan bakar dilakukan analisis deskripsi komparatif. Alat bantu penarik bubu pada nelayan pesisir Karawang terdapat perbedaan pada pereduksi putaran (gear box). Tenaga penggerak menggunakan mesin diesel dengan daya 8 – 12 PK, roda piringan penarik (line spool plate) terbuat dari bahan besi plat dan kayu serta karet ban bekas sebagai pelapis dengan diameter 17 – 50 cm. Gear box menggunakan gardan bekas dan roda gigi cacing (worm gear set). Kebisingan yang dihasilkan mesin penggerak pada area nelayan bekerja melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan yaitu 91 dB dengan lama paparan lebih dari 2 jam. Dalam jangka panjang hal ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran yaitu ketulian. Besaran nilai konsumsi bahan bakar mesin penggerak alat bantu dengan daya 8 dan 12 PK mesin penggerak pabrikan Jepang lebih unggul. Konsumsi bahan bakar pada kondisi putaran minimum dan maksimum untuk mesin berdaya 8 PK adalah 1,48 dan 5,93 liter, sedangkan mesin berdaya 12 PK adalah 2,35 dan 10,35 liter.Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a fishery resource that has the potential to utilize because it has high economic value in international trade. Portunus pelagicus is a leading export fisheries commodity in Karawang Regency; collapsible pots are very popular fishing gear fishermen use. The fishing is operated with a longline system that requires auxiliary hauling equipment to simplify and speed up the fishing operation. Information on auxiliary fishing equipment's technical characteristics is still minimal; therefore, further studies are needed. This study analyzes the pot hauler's technical characteristics, especially regarding design, noise, and fuel consumption. The technical characteristics of the pot hauler are described following the existing conditions, while a comparative descriptive analysis was carried out for noise and fuel consumption. There are differences in the gearbox for the fishing traps for fishermen in the coastal area of Karawang. The driving force uses a diesel engine with a power of 8-12 HP, the towing wheel (line spool plate) is made of iron plate and wood, and used rubber tires as a coating with a diameter of 17-50 cm. The gearbox uses a used axle and a worm gear set. The noise generated by the auxiliary equipment engines in the fishermen's working area exceeds the set noise limit value of 91 dB with an exposure period of more than 2 hours. In the long term, this could cause deafness to the fishermen. Theoretically, the fuel consumption value of the auxiliary equipment engines, with a power of 8 and 12 HP of the Japanese manufacturer, is superior. The fuel consumption at the minimum and maximum rotation conditions for the 8 HP engine is 1.48 and 5.93 liters, while the 12 HP engine is 2.35 and 10.35 liters, respectively.
PRODUKTIVITAS TANGKAPAN BENIH BENING LOBSTER (Panulirus spp.) MENGGUNAKAN ALAT KOLEKTOR ‘POCONG’ DI PERAIRAN PRIGI TRENGGALEK Hari Subagio; Mochamad Arief Sofijanto; Aniek Sulestiani; Nurul Rosana; Supriyatno Widagdo; Gatut Bintoro; I Made Kawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.3.2022.%p

Abstract

Indonesia memiliki peluang bagus guna pengembangan usaha industri budidaya lobster (Panulirus spp.) terbesar di dunia, karena memiliki modal utama ketersediaan sumber daya benih alami stadia puerulus atau Benih Bening Lobster (BBL) yang sangat melimpah. Untuk mengantisipasi perkembangan budidaya lobster di Indonesia, maka kebutuhan akan benih lobster alami di masa mendatang diprediksi akan meningkat secara signifikan, karena teknologi pembenihan lobster belum berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produktivitas dan fluktuasi hasil tangkapan BBL pada bulan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2022 dengan ditunjang data yang dicatat oleh kelompok nelayan. Lokasi penelitian di perairan pesisir Prigi Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Responden dalam penelitian adalah para nelayan penangkap BBL anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Gurita Jaya. Hasil tangkapan BBL dalam satuan ekor per trip per lembar alat kolektor pocong pada bulan berbeda menunjukkan hasil tangkapan yang berbeda sangat nyata. Puncak hasil tangkapan BBL terjadi pada dua kelompok bulan yaitu pada Maret-April dan Agustus-September. Dalam melakukan penangkapan BBL nelayan Prigi menggunakan kolektor yang dikenal sebagai alat kolektor pocong. Berfluktuasinya tangkapan BBL pada bulan berbeda diduga disebabkan adanya pengaruh fenomena arus, upwelling dan kesuburan perairan di Samudera Indonesia khususnya wilayah perairan pesisir Prigi.Indonesia has the opportunity to develop the world's largest lobster (Panulirus spp.) cultivation industry, because it has the main capital for the availability of abundant natural seed resources at the puerulus stage or Lobster Transparent Seed (LTS). In order to anticipate the development of lobster cultivation in Indonesia, the need for natural lobster seeds in the future is predicted to increase significantly, because lobster hatchery technology has not yet developed. This study aims to examine the productivity and fluctuations in the catch of LTS in different months. The research was conducted in March-August 2022. The research location is in the coastal waters of Prigi, Trenggalek Regency. The research uses descriptive analytical method which is survei. Respondents in the study were fishermen who caught BBL members of the Gurita Jaya Joint Business Group (JBG). LTS catches in units of tails per trip per piece of pocong equipment in different months showed very significant different catches. The peak of LTS catches occurred in two groups of months, namely in March-April and August-September. In catching LTS, Prigi fishermen use a collector known as a pocong fishing gear. The fluctuation of LTS catches in different months is due to the influence of current phenomena, upwelling and water fertility in the Indonesian Ocean and the Prigi coastal waters.
PARAMETER POPULASI DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis, Cantor 1849) DI LAUT JAWA SEBELAH UTARA JAWA TIMUR Ahyar Pulungan; Mohammad Mukhlis Kamal; Zairion Zairion
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.3.2022.%p

Abstract

Ikan tongkol komo (Euthynnus affinis) merupakan salah satu komoditas ekonomis penting yang tertangkap di perairan Laut Jawa sebelah utara Jawa Timur. Tingkat pemanfaatan ikan tongkol komo terus meningkat sehingga perlu dikelola dengan baik untuk keberlanjutannya agar tidak mengalami penurunan stok. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi status sumberdaya ikan tongkol komo dengan mengestimasi parameter populasi dan rasio potensi pemijahan dengan pendekatan ukuran panjang ikan, digunakan sebagai titik acuan biologis dalam menentukan kondisi stok ikan. Sebanyak 1995 data ukuran panjang ikan yang dikumpulkan secara acak selama bulan Februari hingga Juni 2021 di Pasongsongan, Jawa Timur. Metode ELEFAN digunakan untuk menentukan parameter populasi yaitu pertumbuhan, kematian, dan laju pemanfaatan. Analisis rasio potensi pemijahan dilakukan dengan menggunakan parameter populasi, dan parameter biologi yang didapatkan dari hasil penelitian sebelummnya dengan paket LB-SPR. Hasil analisis pertumbuhan von Bertalanffy ikan tongkol komo dari penelitian ini diperoleh persamaan Lt= 60,9 (1-e-0,41(t-0,19)). Rata-rata tongkol komo yang tertangkap belum matang gonad (Lc<Lm), tekanan penangkapan dalam kategori tinggi dan rekrutmen dalam stok terganggu. Hal ini terlihat bahwa rasio mortalitas penangkapan relatif (F/M) = 2,51, laju eksploitasi (E) = 0,71, dan SPR = 20%. Oleh sebab itu diperlukan penyusunan pengelolaan yang efektif untuk keberlanjutan stok ikan tongkol komo.Kawakawa (Euthynnus affinis) is one of the important economic commodities caught in the sea waters north of East Java. The utilization rate of kawakawa is quite high, so it is necessary to regulate the sustainability of kawakawa stock to maintain it. This study aimed to evaluate the status of kawakawa fish resources by estimating population parameters and spawning potential ratio (SPR) with a fish length approach, used as a biological reference point in determining fish stock conditions. 1995 data on the length of fish were collected randomly from February to June 2021 in Pasongsongan, East Java. The ELEFFAN method was used to determine population parameters: growth, mortality, and utilization rate. SPR analysis was carried out using population and biological parameters obtained from previous studies with the LB-SPR package. The results of von Bertalanffy's growth analysis for kawakawa from this study were written with the equation Lt= 60.9 (1-e-0.41(t-0.19)). The average kawakawa caught was immature gonads (Lc<Lm), fishing pressure was also still high, and recruitment in stock was disrupted. It can be seen that the relative fishing mortality ratio (F/M) = 2.51, exploitation rate (E) = 0.71, and SPR = 20%. Therefore, it is necessary to develop effective management for the sustainability of kawakawa stocks.

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue